
Setelah FOMO Berlalu, Mampukah Padel Bertahan?
Setelah FOMO Berlalu, Mampukah Padel Bertahan?
Setelah FOMO Berlalu, Mampukah Padel Bertahan?
Aktris penghobi padel, Sintya Marisca bertanding padel di Durian Padel, Kota Semarang, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Berawal dari sekadar tren pamer lifestyle kaum urban dan luapan rasa takut ketinggalan zaman (FOMO), olahraga padel kini bergerak cepat menjelma menjadi fenomena sosial dan ekonomi baru di Indonesia. Dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Bali, Surabaya hingga Yogyakarta, lapangan-lapangan padel berstandar internasional terus bermunculan, menyedot perhatian selebritas, mahasiswa, hingga investor bermodal ratusan juta rupiah.
Awalnya hanya rasa penasaran. Bagi sebagian orang, padel hadir sebagai olahraga baru yang lekat dengan gaya hidup urban dan tren media sosial. Lapangan kaca, perlengkapan premium, hingga komunitas yang aktif membuat olahraga ini dengan cepat menarik perhatian.
Namun, setelah mencoba, sebagian pemain justru menemukan alasan lain untuk bertahan. Aktris Sintya Marisca (27) salah satunya. Ia mengaku sudah ketagihan sejak pertama kali bermain. "Saya justru sudah ketagihan sejak pertama kali mencobanya." katanya.
Berawal dari sekadar tren pamer lifestyle kaum urban dan luapan rasa takut ketinggalan zaman (FOMO), olahraga padel kini bergerak cepat menjelma menjadi fenomena sosial dan ekonomi baru di Indonesia. Dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Bali, Surabaya hingga Yogyakarta, lapangan-lapangan padel berstandar internasional terus bermunculan, menyedot perhatian selebritas, mahasiswa, hingga investor bermodal ratusan juta rupiah.
Awalnya hanya rasa penasaran. Bagi sebagian orang, padel hadir sebagai olahraga baru yang lekat dengan gaya hidup urban dan tren media sosial. Lapangan kaca, perlengkapan premium, hingga komunitas yang aktif membuat olahraga ini dengan cepat menarik perhatian.
Namun, setelah mencoba, sebagian pemain justru menemukan alasan lain untuk bertahan. Aktris Sintya Marisca (27) salah satunya. Ia mengaku sudah ketagihan sejak pertama kali bermain. "Saya justru sudah ketagihan sejak pertama kali mencobanya." katanya.
Berawal dari sekadar tren pamer lifestyle kaum urban dan luapan rasa takut ketinggalan zaman (FOMO), olahraga padel kini bergerak cepat menjelma menjadi fenomena sosial dan ekonomi baru di Indonesia. Dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Bali, Surabaya hingga Yogyakarta, lapangan-lapangan padel berstandar internasional terus bermunculan, menyedot perhatian selebritas, mahasiswa, hingga investor bermodal ratusan juta rupiah.
Awalnya hanya rasa penasaran. Bagi sebagian orang, padel hadir sebagai olahraga baru yang lekat dengan gaya hidup urban dan tren media sosial. Lapangan kaca, perlengkapan premium, hingga komunitas yang aktif membuat olahraga ini dengan cepat menarik perhatian.
Namun, setelah mencoba, sebagian pemain justru menemukan alasan lain untuk bertahan. Aktris Sintya Marisca (27) salah satunya. Ia mengaku sudah ketagihan sejak pertama kali bermain. "Saya justru sudah ketagihan sejak pertama kali mencobanya." katanya.
Sintya bahkan telah mencoba sejumlah lapangan padel di berbagai tempat. Dari sana, ia melihat akses terhadap olahraga ini semakin terbuka, terutama karena pilihan lapangan dan harga yang makin beragam. Padahal, kesan awalnya berbeda."Awalnya juga aku ngerasa padel tuh overpriced." ujarnya.
Padel juga relatif mudah dimainkan oleh pemula. Sintya, misalnya, tidak memiliki dasar olahraga raket. Latar belakang basket justru membantunya beradaptasi, terutama dalam hal pergerakan kaki.
"Aku walaupun enggak ada basic racket sport tapi punya basic basket, aku ngerasa mudah untuk adaptasi sama olahraga ini. Tinggal menyesuaikan tangannya, tapi footwork-nya dari basket." ucapnya.
Sintya bahkan telah mencoba sejumlah lapangan padel di berbagai tempat. Dari sana, ia melihat akses terhadap olahraga ini semakin terbuka, terutama karena pilihan lapangan dan harga yang makin beragam. Padahal, kesan awalnya berbeda."Awalnya juga aku ngerasa padel tuh overpriced." ujarnya.
Padel juga relatif mudah dimainkan oleh pemula. Sintya, misalnya, tidak memiliki dasar olahraga raket. Latar belakang basket justru membantunya beradaptasi, terutama dalam hal pergerakan kaki.
"Aku walaupun enggak ada basic racket sport tapi punya basic basket, aku ngerasa mudah untuk adaptasi sama olahraga ini. Tinggal menyesuaikan tangannya, tapi footwork-nya dari basket." ucapnya.
Sintya bahkan telah mencoba sejumlah lapangan padel di berbagai tempat. Dari sana, ia melihat akses terhadap olahraga ini semakin terbuka, terutama karena pilihan lapangan dan harga yang makin beragam. Padahal, kesan awalnya berbeda."Awalnya juga aku ngerasa padel tuh overpriced." ujarnya.
Padel juga relatif mudah dimainkan oleh pemula. Sintya, misalnya, tidak memiliki dasar olahraga raket. Latar belakang basket justru membantunya beradaptasi, terutama dalam hal pergerakan kaki.
"Aku walaupun enggak ada basic racket sport tapi punya basic basket, aku ngerasa mudah untuk adaptasi sama olahraga ini. Tinggal menyesuaikan tangannya, tapi footwork-nya dari basket." ucapnya.

Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Kemudahan tersebut, ditambah unsur kompetisi dan kesenangan bermain bersama teman, membuat padel memiliki daya tarik yang berbeda. "Padel ini bisa jadi olahraga yang sangat adiktif dan bikin kamu ketagihan." katanya.
Pengalaman Sintya memperlihatkan bahwa FOMO mungkin menjadi pintu masuk. Tetapi, apakah orang bertahan hanya karena tren? Jawabannya mulai terlihat dari para pemain yang mengeluarkan uang dan waktu secara rutin untuk bermain.
Kemudahan tersebut, ditambah unsur kompetisi dan kesenangan bermain bersama teman, membuat padel memiliki daya tarik yang berbeda. "Padel ini bisa jadi olahraga yang sangat adiktif dan bikin kamu ketagihan." katanya.
Pengalaman Sintya memperlihatkan bahwa FOMO mungkin menjadi pintu masuk. Tetapi, apakah orang bertahan hanya karena tren? Jawabannya mulai terlihat dari para pemain yang mengeluarkan uang dan waktu secara rutin untuk bermain.
Kemudahan tersebut, ditambah unsur kompetisi dan kesenangan bermain bersama teman, membuat padel memiliki daya tarik yang berbeda. "Padel ini bisa jadi olahraga yang sangat adiktif dan bikin kamu ketagihan." katanya.
Pengalaman Sintya memperlihatkan bahwa FOMO mungkin menjadi pintu masuk. Tetapi, apakah orang bertahan hanya karena tren? Jawabannya mulai terlihat dari para pemain yang mengeluarkan uang dan waktu secara rutin untuk bermain.

Salah satu penghobi padel dari Tangerang Jeihan Nurhakim tengah bermain padel. (IDN Times/Muhammad Iqbal)
Jeihan Nurhakim (28), warga Tangerang, awalnya juga bermain karena penasaran. Ia tertarik karena padel memiliki kemiripan dengan tenis, tetapi menuntut pemain lebih cepat membaca arah bola dan menentukan posisi.
Namun, setelah rutin bermain, ia menemukan fungsi lain: padel menjadi ruang sosial. "Interaksi sosial di dalamnya menyenangkan. Relasi di olahraga itu cukup bagus, karena rata-rata orang-orang menengah ke atas." katanya.
Jeihan menghabiskan sekitar Rp3 juta setiap bulan untuk bermain. Sewa lapangan berkisar Rp200 ribu-Rp600 ribu per sesi. Biaya tersebut menurutnya sepadan karena yang diperoleh bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman dan relasi.
Jeihan Nurhakim (28), warga Tangerang, awalnya juga bermain karena penasaran. Ia tertarik karena padel memiliki kemiripan dengan tenis, tetapi menuntut pemain lebih cepat membaca arah bola dan menentukan posisi.
Namun, setelah rutin bermain, ia menemukan fungsi lain: padel menjadi ruang sosial. "Interaksi sosial di dalamnya menyenangkan. Relasi di olahraga itu cukup bagus, karena rata-rata orang-orang menengah ke atas." katanya.
Jeihan menghabiskan sekitar Rp3 juta setiap bulan untuk bermain. Sewa lapangan berkisar Rp200 ribu-Rp600 ribu per sesi. Biaya tersebut menurutnya sepadan karena yang diperoleh bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman dan relasi.
Jeihan Nurhakim (28), warga Tangerang, awalnya juga bermain karena penasaran. Ia tertarik karena padel memiliki kemiripan dengan tenis, tetapi menuntut pemain lebih cepat membaca arah bola dan menentukan posisi.
Namun, setelah rutin bermain, ia menemukan fungsi lain: padel menjadi ruang sosial. "Interaksi sosial di dalamnya menyenangkan. Relasi di olahraga itu cukup bagus, karena rata-rata orang-orang menengah ke atas." katanya.
Jeihan menghabiskan sekitar Rp3 juta setiap bulan untuk bermain. Sewa lapangan berkisar Rp200 ribu-Rp600 ribu per sesi. Biaya tersebut menurutnya sepadan karena yang diperoleh bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman dan relasi.
Hal serupa dirasakan Andra (34), pemain asal Yogyakarta yang memiliki latar belakang basket. Lapangan yang lebih kecil membuat olahraga ini terasa lebih ringan dibanding basket. Namun, interaksi antarpemain menjadi alasan lain yang membuatnya bertahan.
Menariknya, Andra tidak terlalu mempersoalkan citra padel sebagai olahraga gaya hidup. "Gak begitu berpikir soal style, pakai sepatu olahraga dan jersey biasa aja, gak neko-neko." katanya. Ia menghabiskan sekitar Rp500 ribu-Rp1 juta per bulan. Kesan eksklusif memang sempat muncul. Lapangan yang mewah dan peralatan yang relatif mahal membuat Andra awalnya merasa segan. Namun setelah masuk ke komunitas, ia justru menemukan pemain yang ramah dan mau mengajari pemula.
Di titik ini, padel mulai menunjukkan wajah yang berbeda. Ia memang lahir sebagai tren gaya hidup, tetapi kemudian berkembang menjadi aktivitas olahraga sekaligus ruang pertemanan. Dan ketika jumlah pemain bertambah, bisnis pun ikut bergerak.
Hal serupa dirasakan Andra (34), pemain asal Yogyakarta yang memiliki latar belakang basket. Lapangan yang lebih kecil membuat olahraga ini terasa lebih ringan dibanding basket. Namun, interaksi antarpemain menjadi alasan lain yang membuatnya bertahan.
Menariknya, Andra tidak terlalu mempersoalkan citra padel sebagai olahraga gaya hidup. "Gak begitu berpikir soal style, pakai sepatu olahraga dan jersey biasa aja, gak neko-neko." katanya. Ia menghabiskan sekitar Rp500 ribu-Rp1 juta per bulan. Kesan eksklusif memang sempat muncul. Lapangan yang mewah dan peralatan yang relatif mahal membuat Andra awalnya merasa segan. Namun setelah masuk ke komunitas, ia justru menemukan pemain yang ramah dan mau mengajari pemula.
Di titik ini, padel mulai menunjukkan wajah yang berbeda. Ia memang lahir sebagai tren gaya hidup, tetapi kemudian berkembang menjadi aktivitas olahraga sekaligus ruang pertemanan. Dan ketika jumlah pemain bertambah, bisnis pun ikut bergerak.
Hal serupa dirasakan Andra (34), pemain asal Yogyakarta yang memiliki latar belakang basket. Lapangan yang lebih kecil membuat olahraga ini terasa lebih ringan dibanding basket. Namun, interaksi antarpemain menjadi alasan lain yang membuatnya bertahan.
Menariknya, Andra tidak terlalu mempersoalkan citra padel sebagai olahraga gaya hidup. "Gak begitu berpikir soal style, pakai sepatu olahraga dan jersey biasa aja, gak neko-neko." katanya. Ia menghabiskan sekitar Rp500 ribu-Rp1 juta per bulan. Kesan eksklusif memang sempat muncul. Lapangan yang mewah dan peralatan yang relatif mahal membuat Andra awalnya merasa segan. Namun setelah masuk ke komunitas, ia justru menemukan pemain yang ramah dan mau mengajari pemula.
Di titik ini, padel mulai menunjukkan wajah yang berbeda. Ia memang lahir sebagai tren gaya hidup, tetapi kemudian berkembang menjadi aktivitas olahraga sekaligus ruang pertemanan. Dan ketika jumlah pemain bertambah, bisnis pun ikut bergerak.
Ketika Bisnis Lapangan Ikut Semarak
Ketika Bisnis Lapangan Ikut Semarak
Ketika Bisnis Lapangan Ikut Semarak



Portres Padel Arena, salah satu lapangan padel yang ada di Kota Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
"Padel itu bisnis jasa. Jadi servisnya harus nomor satu. Mereka harus puas." Wanda Wardaniah, Humas PBPI Jawa Barat
"Padel itu bisnis jasa. Jadi servisnya harus nomor satu. Mereka harus puas." Wanda Wardaniah, Humas PBPI Jawa Barat
Pertumbuhan padel di Indonesia berjalan seiring dengan ekspansi bisnis lapangan. Berdasarkan Indonesia Padel Report 2025 dari Core & Court–Growell, jumlah lapangan meningkat dari 15 unit pada 2021, menjadi 23 pada 2022, 40 pada 2023, 240 pada 2024, dan 947 lapangan pada 2025. Artinya, hanya dalam empat tahun jumlah lapangan bertambah lebih dari 60 kali lipat.
Berdasarkan data dari IDN Research Agustus 2026 lalu Ledakan terbesar terjadi pada 2025. Dari 240 lapangan pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi 947 atau sekitar 295 persen dalam setahun. Laporan tersebut juga mencatat 293 klub pada 2025. Bahkan, laporan Core & Court–Growell memproyeksikan penambahan sekitar 1.580 lapangan sepanjang 2026. Angka ini merupakan proyeksi, bukan jumlah lapangan yang sudah terealisasi.
Pertumbuhan padel di Indonesia berjalan seiring dengan ekspansi bisnis lapangan. Berdasarkan Indonesia Padel Report 2025 dari Core & Court–Growell, jumlah lapangan meningkat dari 15 unit pada 2021, menjadi 23 pada 2022, 40 pada 2023, 240 pada 2024, dan 947 lapangan pada 2025. Artinya, hanya dalam empat tahun jumlah lapangan bertambah lebih dari 60 kali lipat.
Berdasarkan data dari IDN Research Agustus 2026 lalu Ledakan terbesar terjadi pada 2025. Dari 240 lapangan pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi 947 atau sekitar 295 persen dalam setahun. Laporan tersebut juga mencatat 293 klub pada 2025. Bahkan, laporan Core & Court–Growell memproyeksikan penambahan sekitar 1.580 lapangan sepanjang 2026. Angka ini merupakan proyeksi, bukan jumlah lapangan yang sudah terealisasi.
Pertumbuhan padel di Indonesia berjalan seiring dengan ekspansi bisnis lapangan. Berdasarkan Indonesia Padel Report 2025 dari Core & Court–Growell, jumlah lapangan meningkat dari 15 unit pada 2021, menjadi 23 pada 2022, 40 pada 2023, 240 pada 2024, dan 947 lapangan pada 2025. Artinya, hanya dalam empat tahun jumlah lapangan bertambah lebih dari 60 kali lipat.
Berdasarkan data dari IDN Research Agustus 2026 lalu Ledakan terbesar terjadi pada 2025. Dari 240 lapangan pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi 947 atau sekitar 295 persen dalam setahun. Laporan tersebut juga mencatat 293 klub pada 2025. Bahkan, laporan Core & Court–Growell memproyeksikan penambahan sekitar 1.580 lapangan sepanjang 2026. Angka ini merupakan proyeksi, bukan jumlah lapangan yang sudah terealisasi.
Bisnis padel masih terkonsentrasi di sejumlah pusat ekonomi dan pariwisata. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah lapangan terbanyak, 326 unit pada akhir 2025, sementara lima provinsi terbesar—DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Banten, dan Jawa Timur—menguasai 802 lapangan atau sekitar 85 persen dari total nasional.
Di tingkat kota, Bandung menjadi salah satu pusat pertumbuhan paling agresif. Penelitian berbasis pemetaan lapangan dan verifikasi lapangan pada April 2026 menemukan 72 titik persewaan padel di Kota Bandung, terutama terkonsentrasi di wilayah utara, barat, dan pusat kota. Sementara di Semarang, PBPI Jawa Tengah mencatat proyeksi 44 lapangan hingga akhir 2025, dengan total sekitar 80 lapangan di seluruh Jawa Tengah.
Bisnis padel masih terkonsentrasi di sejumlah pusat ekonomi dan pariwisata. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah lapangan terbanyak, 326 unit pada akhir 2025, sementara lima provinsi terbesar—DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Banten, dan Jawa Timur—menguasai 802 lapangan atau sekitar 85 persen dari total nasional.
Di tingkat kota, Bandung menjadi salah satu pusat pertumbuhan paling agresif. Penelitian berbasis pemetaan lapangan dan verifikasi lapangan pada April 2026 menemukan 72 titik persewaan padel di Kota Bandung, terutama terkonsentrasi di wilayah utara, barat, dan pusat kota. Sementara di Semarang, PBPI Jawa Tengah mencatat proyeksi 44 lapangan hingga akhir 2025, dengan total sekitar 80 lapangan di seluruh Jawa Tengah.
Bisnis padel masih terkonsentrasi di sejumlah pusat ekonomi dan pariwisata. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah lapangan terbanyak, 326 unit pada akhir 2025, sementara lima provinsi terbesar—DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Banten, dan Jawa Timur—menguasai 802 lapangan atau sekitar 85 persen dari total nasional.
Di tingkat kota, Bandung menjadi salah satu pusat pertumbuhan paling agresif. Penelitian berbasis pemetaan lapangan dan verifikasi lapangan pada April 2026 menemukan 72 titik persewaan padel di Kota Bandung, terutama terkonsentrasi di wilayah utara, barat, dan pusat kota. Sementara di Semarang, PBPI Jawa Tengah mencatat proyeksi 44 lapangan hingga akhir 2025, dengan total sekitar 80 lapangan di seluruh Jawa Tengah.

Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Di Bandung, jumlah tempat bermain diperkirakan telah mencapai lebih dari 120. Di Semarang, jumlahnya diperkirakan sekitar 30 lapangan. Namun membangun lapangan bukan investasi kecil.
Rully Kharisma, Direktur B3 Padel Bandung, menyebut investasi satu court masih di bawah Rp1 miliar. Ia sengaja menggunakan spesifikasi standar untuk membuka akses dari tingkat akar rumput.Tarif sewanya Rp225 ribu-Rp295 ribu per jam.
Rully melihat pasar padel masih memiliki ruang untuk tumbuh. Baginya, olahraga ini sudah mulai bergerak melampaui FOMO. "Padel itu saya rasa bakal masuk ke PON. Makanya kita membuka padel ini, semoga di B3 Padel ini kita bisa menciptakan atlet-atlet yang tercipta dari sini." katanya.
Di Bandung, jumlah tempat bermain diperkirakan telah mencapai lebih dari 120. Di Semarang, jumlahnya diperkirakan sekitar 30 lapangan. Namun membangun lapangan bukan investasi kecil.
Rully Kharisma, Direktur B3 Padel Bandung, menyebut investasi satu court masih di bawah Rp1 miliar. Ia sengaja menggunakan spesifikasi standar untuk membuka akses dari tingkat akar rumput.Tarif sewanya Rp225 ribu-Rp295 ribu per jam.
Rully melihat pasar padel masih memiliki ruang untuk tumbuh. Baginya, olahraga ini sudah mulai bergerak melampaui FOMO. "Padel itu saya rasa bakal masuk ke PON. Makanya kita membuka padel ini, semoga di B3 Padel ini kita bisa menciptakan atlet-atlet yang tercipta dari sini." katanya.
Di Bandung, jumlah tempat bermain diperkirakan telah mencapai lebih dari 120. Di Semarang, jumlahnya diperkirakan sekitar 30 lapangan. Namun membangun lapangan bukan investasi kecil.
Rully Kharisma, Direktur B3 Padel Bandung, menyebut investasi satu court masih di bawah Rp1 miliar. Ia sengaja menggunakan spesifikasi standar untuk membuka akses dari tingkat akar rumput.Tarif sewanya Rp225 ribu-Rp295 ribu per jam.
Rully melihat pasar padel masih memiliki ruang untuk tumbuh. Baginya, olahraga ini sudah mulai bergerak melampaui FOMO. "Padel itu saya rasa bakal masuk ke PON. Makanya kita membuka padel ini, semoga di B3 Padel ini kita bisa menciptakan atlet-atlet yang tercipta dari sini." katanya.

Para penghobi padel sedang memainkan pertandingan padel. (IDN Times/Bandot Arywono)
Tetapi optimisme itu datang bersama risiko. Freddy Sirait, pemilik Padela Bandung, memperkirakan modal membangun satu lapangan berkisar Rp1 miliar-Rp2 miliar, tergantung spesifikasi dan fasilitas pendukung.
Awalnya, ia memperkirakan titik impas atau break-even point (BEP) bisa dicapai dalam dua tahun. Namun, menjamurnya lapangan membuat harga sewa ikut turun.
"Perkiraan awal BEP kita itu dua tahun. Tahu-tahunya seiring lapangan padel yang menjamur, harganya jadi turun. Namanya usaha kan gambling." katanya.
Persaingan bahkan membuat sebagian pengelola kesulitan mempertahankan okupansi. Tarif yang sebelumnya tinggi kini dapat ditemukan di kisaran Rp99 ribu-Rp175 ribu per jam, termasuk berbagai promo untuk komunitas dan pelajar. Menurut Freddy, sejumlah lapangan di Bandung bahkan telah tutup.
Tetapi optimisme itu datang bersama risiko. Freddy Sirait, pemilik Padela Bandung, memperkirakan modal membangun satu lapangan berkisar Rp1 miliar-Rp2 miliar, tergantung spesifikasi dan fasilitas pendukung.
Awalnya, ia memperkirakan titik impas atau break-even point (BEP) bisa dicapai dalam dua tahun. Namun, menjamurnya lapangan membuat harga sewa ikut turun.
"Perkiraan awal BEP kita itu dua tahun. Tahu-tahunya seiring lapangan padel yang menjamur, harganya jadi turun. Namanya usaha kan gambling." katanya.
Persaingan bahkan membuat sebagian pengelola kesulitan mempertahankan okupansi. Tarif yang sebelumnya tinggi kini dapat ditemukan di kisaran Rp99 ribu-Rp175 ribu per jam, termasuk berbagai promo untuk komunitas dan pelajar. Menurut Freddy, sejumlah lapangan di Bandung bahkan telah tutup.
Tetapi optimisme itu datang bersama risiko. Freddy Sirait, pemilik Padela Bandung, memperkirakan modal membangun satu lapangan berkisar Rp1 miliar-Rp2 miliar, tergantung spesifikasi dan fasilitas pendukung.
Awalnya, ia memperkirakan titik impas atau break-even point (BEP) bisa dicapai dalam dua tahun. Namun, menjamurnya lapangan membuat harga sewa ikut turun.
"Perkiraan awal BEP kita itu dua tahun. Tahu-tahunya seiring lapangan padel yang menjamur, harganya jadi turun. Namanya usaha kan gambling." katanya.
Persaingan bahkan membuat sebagian pengelola kesulitan mempertahankan okupansi. Tarif yang sebelumnya tinggi kini dapat ditemukan di kisaran Rp99 ribu-Rp175 ribu per jam, termasuk berbagai promo untuk komunitas dan pelajar. Menurut Freddy, sejumlah lapangan di Bandung bahkan telah tutup.
"Kalau fasilitasnya tidak bagus, pasti gulung tikar. Sudah banyak yang tutup karena okupansinya drop dan terlampau banyak persaingan. Ini hukum ekonomi yang berjalan." ujarnya.
Karena itu, lapangan tak lagi cukup hanya menyediakan court. Pengelola mulai mengubah arena menjadi tempat berkumpul, lengkap dengan kafe dan fasilitas pendukung. "Sekarang orang dipacu buat muter otak. Makanya bisnis ini ditunjang sama kafe-kafe biar awet. Sambil meeting, sambil olahraga. Jadi ajang tempat nongkrong." katanya.
"Kalau fasilitasnya tidak bagus, pasti gulung tikar. Sudah banyak yang tutup karena okupansinya drop dan terlampau banyak persaingan. Ini hukum ekonomi yang berjalan." ujarnya.
Karena itu, lapangan tak lagi cukup hanya menyediakan court. Pengelola mulai mengubah arena menjadi tempat berkumpul, lengkap dengan kafe dan fasilitas pendukung. "Sekarang orang dipacu buat muter otak. Makanya bisnis ini ditunjang sama kafe-kafe biar awet. Sambil meeting, sambil olahraga. Jadi ajang tempat nongkrong." katanya.
"Kalau fasilitasnya tidak bagus, pasti gulung tikar. Sudah banyak yang tutup karena okupansinya drop dan terlampau banyak persaingan. Ini hukum ekonomi yang berjalan." ujarnya.
Karena itu, lapangan tak lagi cukup hanya menyediakan court. Pengelola mulai mengubah arena menjadi tempat berkumpul, lengkap dengan kafe dan fasilitas pendukung. "Sekarang orang dipacu buat muter otak. Makanya bisnis ini ditunjang sama kafe-kafe biar awet. Sambil meeting, sambil olahraga. Jadi ajang tempat nongkrong." katanya.
Humas PBPI Jawa Barat, Wanda Wardaniah, memperkirakan pembangunan satu court membutuhkan modal sekitar Rp300 juta ke atas, belum termasuk bangunan.
Ia mengingatkan investor agar tidak berasumsi lapangan akan selalu penuh.
"Jadi bukan artinya pesimis, tapi harus realistislah. Dia harus punya target realistis yang mungkin tercapai." ucapnya. Persaingan harga, menurut Wanda, juga bukan satu-satunya jalan. Setiap venue harus memiliki keunggulan.
"Harus sekreatif mungkin para pengelola itu memanage lapangannya biar mereka semua bisa main di lapang itu." katanya. Sebab, pada akhirnya padel bukan hanya bisnis lapangan.
Humas PBPI Jawa Barat, Wanda Wardaniah, memperkirakan pembangunan satu court membutuhkan modal sekitar Rp300 juta ke atas, belum termasuk bangunan.
Ia mengingatkan investor agar tidak berasumsi lapangan akan selalu penuh.
"Jadi bukan artinya pesimis, tapi harus realistislah. Dia harus punya target realistis yang mungkin tercapai." ucapnya. Persaingan harga, menurut Wanda, juga bukan satu-satunya jalan. Setiap venue harus memiliki keunggulan.
"Harus sekreatif mungkin para pengelola itu memanage lapangannya biar mereka semua bisa main di lapang itu." katanya. Sebab, pada akhirnya padel bukan hanya bisnis lapangan.
Humas PBPI Jawa Barat, Wanda Wardaniah, memperkirakan pembangunan satu court membutuhkan modal sekitar Rp300 juta ke atas, belum termasuk bangunan.
Ia mengingatkan investor agar tidak berasumsi lapangan akan selalu penuh.
"Jadi bukan artinya pesimis, tapi harus realistislah. Dia harus punya target realistis yang mungkin tercapai." ucapnya. Persaingan harga, menurut Wanda, juga bukan satu-satunya jalan. Setiap venue harus memiliki keunggulan.
"Harus sekreatif mungkin para pengelola itu memanage lapangannya biar mereka semua bisa main di lapang itu." katanya. Sebab, pada akhirnya padel bukan hanya bisnis lapangan.
"Padel itu bisnis jasa. Jadi servisnya harus nomor satu. Mereka harus puas." tambahnya.
Persaingan tersebut menjadi tanda bahwa industri padel mulai memasuki fase baru. Pertanyaannya kemudian bukan lagi berapa banyak lapangan yang bisa dibangun, melainkan bagaimana lapangan-lapangan itu tetap hidup.
"Padel itu bisnis jasa. Jadi servisnya harus nomor satu. Mereka harus puas." tambahnya.
Persaingan tersebut menjadi tanda bahwa industri padel mulai memasuki fase baru. Pertanyaannya kemudian bukan lagi berapa banyak lapangan yang bisa dibangun, melainkan bagaimana lapangan-lapangan itu tetap hidup.
"Padel itu bisnis jasa. Jadi servisnya harus nomor satu. Mereka harus puas." tambahnya.
Persaingan tersebut menjadi tanda bahwa industri padel mulai memasuki fase baru. Pertanyaannya kemudian bukan lagi berapa banyak lapangan yang bisa dibangun, melainkan bagaimana lapangan-lapangan itu tetap hidup.
Berlomba-lomba lakukan inovasi
Berlomba-lomba lakukan inovasi
Berlomba-lomba lakukan inovasi

Mustica Padel di Yogyakarta menggabungkan tiga unsur yakni, lapangan olahraga padel, kedai kopi, dan toko buku. (IDN Times/Bandot Arywono)
Pertumbuhan pasar padel masih menunjukkan tanda positif di beberapa kota. Di Jawa Tengah misalnya, pemain dari berbagai daerah mulai bepergian ke kota lain hanya untuk bermain.Pemain dari Pekalongan dan Tegal, misalnya, datang ke Semarang.
Tetapi ada persoalan lain, sebagian besar pemain datang bukan untuk menjadi atlet. Mereka datang untuk bersosialisasi. Untuk itu perlu adanya inovasi dan kreatifitas dari pengelola lapangan untuk menarik para pemain.
Herrias Yusmawan, pemilik Durian Padel Semarang, melihat komunitas sebagai kunci."Kalau cuma datang bermain dan pulang itu cepat bosan. Kalau sudah tergabung di komunitas, mereka akan sering berkumpul. Yang dicari bukan hanya padelnya, tetapi bagaimana bertemu lagi dengan kelompok teman yang cocok." ucapnya.
Pertumbuhan pasar padel masih menunjukkan tanda positif di beberapa kota. Di Jawa Tengah misalnya, pemain dari berbagai daerah mulai bepergian ke kota lain hanya untuk bermain.Pemain dari Pekalongan dan Tegal, misalnya, datang ke Semarang.
Tetapi ada persoalan lain, sebagian besar pemain datang bukan untuk menjadi atlet. Mereka datang untuk bersosialisasi. Untuk itu perlu adanya inovasi dan kreatifitas dari pengelola lapangan untuk menarik para pemain.
Herrias Yusmawan, pemilik Durian Padel Semarang, melihat komunitas sebagai kunci."Kalau cuma datang bermain dan pulang itu cepat bosan. Kalau sudah tergabung di komunitas, mereka akan sering berkumpul. Yang dicari bukan hanya padelnya, tetapi bagaimana bertemu lagi dengan kelompok teman yang cocok." ucapnya.
Pertumbuhan pasar padel masih menunjukkan tanda positif di beberapa kota. Di Jawa Tengah misalnya, pemain dari berbagai daerah mulai bepergian ke kota lain hanya untuk bermain.Pemain dari Pekalongan dan Tegal, misalnya, datang ke Semarang.
Tetapi ada persoalan lain, sebagian besar pemain datang bukan untuk menjadi atlet. Mereka datang untuk bersosialisasi. Untuk itu perlu adanya inovasi dan kreatifitas dari pengelola lapangan untuk menarik para pemain.
Herrias Yusmawan, pemilik Durian Padel Semarang, melihat komunitas sebagai kunci."Kalau cuma datang bermain dan pulang itu cepat bosan. Kalau sudah tergabung di komunitas, mereka akan sering berkumpul. Yang dicari bukan hanya padelnya, tetapi bagaimana bertemu lagi dengan kelompok teman yang cocok." ucapnya.
Durian Padel memiliki tiga lapangan dengan tarif di bawah Rp150 ribu per jam. Target utamanya mahasiswa, terutama dari kawasan Tembalang dan Banyumanik.
Fasilitasnya tidak berhenti pada lapangan. Ada kafe dua lantai dan tribun kecil yang dapat digunakan untuk bekerja, berkumpul, hingga menggelar acara.
"Kita ingin tempat ini menjadi homey. Bukan hanya bermain padel, tetapi menjadi basecamp, tempat berkumpul, tempat teman-teman merasa betah." katanya.
Durian Padel memiliki tiga lapangan dengan tarif di bawah Rp150 ribu per jam. Target utamanya mahasiswa, terutama dari kawasan Tembalang dan Banyumanik.
Fasilitasnya tidak berhenti pada lapangan. Ada kafe dua lantai dan tribun kecil yang dapat digunakan untuk bekerja, berkumpul, hingga menggelar acara.
"Kita ingin tempat ini menjadi homey. Bukan hanya bermain padel, tetapi menjadi basecamp, tempat berkumpul, tempat teman-teman merasa betah." katanya.
Durian Padel memiliki tiga lapangan dengan tarif di bawah Rp150 ribu per jam. Target utamanya mahasiswa, terutama dari kawasan Tembalang dan Banyumanik.
Fasilitasnya tidak berhenti pada lapangan. Ada kafe dua lantai dan tribun kecil yang dapat digunakan untuk bekerja, berkumpul, hingga menggelar acara.
"Kita ingin tempat ini menjadi homey. Bukan hanya bermain padel, tetapi menjadi basecamp, tempat berkumpul, tempat teman-teman merasa betah." katanya.

Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Konsep serupa muncul di Yogyakarta. Mustica Padel menggabungkan tiga unsur: lapangan olahraga, kedai kopi, dan toko buku.Pemilik Mustica, Cahyo Satrio, menyebut konsep tersebut menjadi pembeda di tengah banyaknya lapangan baru.
"Satu-satunya yang ada di Jogja, di mana selain lapangan padel kita juga ada cafe dan toko buku." ucapnya.
Artinya, industri padel mulai mencari cara untuk menjual lebih dari sekadar satu jam bermain. Namun, semakin banyak lapangan juga membawa persoalan baru.
Konsep serupa muncul di Yogyakarta. Mustica Padel menggabungkan tiga unsur: lapangan olahraga, kedai kopi, dan toko buku.Pemilik Mustica, Cahyo Satrio, menyebut konsep tersebut menjadi pembeda di tengah banyaknya lapangan baru.
"Satu-satunya yang ada di Jogja, di mana selain lapangan padel kita juga ada cafe dan toko buku." ucapnya.
Artinya, industri padel mulai mencari cara untuk menjual lebih dari sekadar satu jam bermain. Namun, semakin banyak lapangan juga membawa persoalan baru.
Konsep serupa muncul di Yogyakarta. Mustica Padel menggabungkan tiga unsur: lapangan olahraga, kedai kopi, dan toko buku.Pemilik Mustica, Cahyo Satrio, menyebut konsep tersebut menjadi pembeda di tengah banyaknya lapangan baru.
"Satu-satunya yang ada di Jogja, di mana selain lapangan padel kita juga ada cafe dan toko buku." ucapnya.
Artinya, industri padel mulai mencari cara untuk menjual lebih dari sekadar satu jam bermain. Namun, semakin banyak lapangan juga membawa persoalan baru.
B3 Padel Bandung, misalnya, menawarkan konsep yang menggabungkan olahraga dan pengalaman rekreasi. Selain lapangan, fasilitas yang tersedia meliputi VIP room dengan meeting room dan karaoke room, kamar mandi dengan shower air panas dan dingin, hair dryer, serta kafe lengkap dengan barista dan kitchen.
Direktur B3 Padel Rully Kharisma mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pemain. Salah satunya melalui desain lighting yang dibuat menarik dan instagrammable. Area lapangan juga menggunakan roster agar sirkulasi udara tetap berjalan.
“Padel itu semua sama lapangannya saja, cuma saya ingin memberikan experience yang berbeda.” ujar Rully. Tak hanya mengejar bisnis penyewaan lapangan, B3 Padel juga mencoba membangun ekosistem kompetisi. Mereka menggandeng PBPI dan menggelar turnamen khusus kategori beginner dan lower bronze, sebagai ruang bagi pemain pemula untuk mulai mengenal kompetisi dan berkembang menjadi atlet.
B3 Padel Bandung, misalnya, menawarkan konsep yang menggabungkan olahraga dan pengalaman rekreasi. Selain lapangan, fasilitas yang tersedia meliputi VIP room dengan meeting room dan karaoke room, kamar mandi dengan shower air panas dan dingin, hair dryer, serta kafe lengkap dengan barista dan kitchen.
Direktur B3 Padel Rully Kharisma mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pemain. Salah satunya melalui desain lighting yang dibuat menarik dan instagrammable. Area lapangan juga menggunakan roster agar sirkulasi udara tetap berjalan.
“Padel itu semua sama lapangannya saja, cuma saya ingin memberikan experience yang berbeda.” ujar Rully. Tak hanya mengejar bisnis penyewaan lapangan, B3 Padel juga mencoba membangun ekosistem kompetisi. Mereka menggandeng PBPI dan menggelar turnamen khusus kategori beginner dan lower bronze, sebagai ruang bagi pemain pemula untuk mulai mengenal kompetisi dan berkembang menjadi atlet.
B3 Padel Bandung, misalnya, menawarkan konsep yang menggabungkan olahraga dan pengalaman rekreasi. Selain lapangan, fasilitas yang tersedia meliputi VIP room dengan meeting room dan karaoke room, kamar mandi dengan shower air panas dan dingin, hair dryer, serta kafe lengkap dengan barista dan kitchen.
Direktur B3 Padel Rully Kharisma mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pemain. Salah satunya melalui desain lighting yang dibuat menarik dan instagrammable. Area lapangan juga menggunakan roster agar sirkulasi udara tetap berjalan.
“Padel itu semua sama lapangannya saja, cuma saya ingin memberikan experience yang berbeda.” ujar Rully. Tak hanya mengejar bisnis penyewaan lapangan, B3 Padel juga mencoba membangun ekosistem kompetisi. Mereka menggandeng PBPI dan menggelar turnamen khusus kategori beginner dan lower bronze, sebagai ruang bagi pemain pemula untuk mulai mengenal kompetisi dan berkembang menjadi atlet.
Ketika Pertumbuhan Mengusik Lingkungan
Ketika Pertumbuhan Mengusik Lingkungan
Ketika Pertumbuhan Mengusik Lingkungan

Salah satu aktivitas pertandingan padel di sebuah lapangan padel di Yogyakarta. (IDN Times/Bandot Arywono)
"Perlu aturan yang jelas untuk jadi kepastian investasi juga." Freddy Sirait, pemilik Padela Bandung
"Perlu aturan yang jelas untuk jadi kepastian investasi juga." Freddy Sirait, pemilik Padela Bandung
Pertumbuhan yang cepat tidak selalu berjalan mulus. Di Bandung, keberadaan lapangan padel di sekitar permukiman sempat memunculkan keluhan warga. Suara dentuman bola, teriakan pemain, dan aktivitas hingga malam hari menjadi sumber persoalan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui belum ada aturan khusus mengenai jam operasional lapangan padel."Jam operasional sampai sekarang aturannya belum ada. Tapi kami akan bikin aturan yang lebih ketat dan yang paling penting adalah peraturan tersebut kemudian bisa ditegakkan dan dipantau." tegasnya.
Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung Kurnia Solihat bahkan meminta tindakan tegas terhadap pengelola yang melanggar izin.
"Jika terbukti melanggar jangan hanya sampai didenda. Kalau perlu bongkar bila memang terbukti melanggar." katanya.
Pertumbuhan yang cepat tidak selalu berjalan mulus. Di Bandung, keberadaan lapangan padel di sekitar permukiman sempat memunculkan keluhan warga. Suara dentuman bola, teriakan pemain, dan aktivitas hingga malam hari menjadi sumber persoalan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui belum ada aturan khusus mengenai jam operasional lapangan padel."Jam operasional sampai sekarang aturannya belum ada. Tapi kami akan bikin aturan yang lebih ketat dan yang paling penting adalah peraturan tersebut kemudian bisa ditegakkan dan dipantau." tegasnya.
Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung Kurnia Solihat bahkan meminta tindakan tegas terhadap pengelola yang melanggar izin.
"Jika terbukti melanggar jangan hanya sampai didenda. Kalau perlu bongkar bila memang terbukti melanggar." katanya.
Pertumbuhan yang cepat tidak selalu berjalan mulus. Di Bandung, keberadaan lapangan padel di sekitar permukiman sempat memunculkan keluhan warga. Suara dentuman bola, teriakan pemain, dan aktivitas hingga malam hari menjadi sumber persoalan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui belum ada aturan khusus mengenai jam operasional lapangan padel."Jam operasional sampai sekarang aturannya belum ada. Tapi kami akan bikin aturan yang lebih ketat dan yang paling penting adalah peraturan tersebut kemudian bisa ditegakkan dan dipantau." tegasnya.
Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung Kurnia Solihat bahkan meminta tindakan tegas terhadap pengelola yang melanggar izin.
"Jika terbukti melanggar jangan hanya sampai didenda. Kalau perlu bongkar bila memang terbukti melanggar." katanya.
Bagi pengusaha, kepastian aturan juga dibutuhkan untuk menjaga investasi. Freddy berharap pemerintah daerah memiliki regulasi yang jelas, termasuk soal jam operasional, terutama bagi lapangan yang berbatasan dengan permukiman.
Ia juga mendorong pemerintah lebih sering menggelar kegiatan padel. "Perlu aturan yang jelas untuk jadi kepastian investasi juga. Selain itu, kalau pemerintah makin sering ngadain event, makin banyak orang yang bakal main." ucapnya.
Dengan demikian, keberlanjutan padel ternyata tidak hanya ditentukan oleh pemain dan pengusaha. Pemerintah dan lingkungan sekitar ikut menjadi bagian dari ekosistem. Ketika ekosistem mulai terbentuk, muncul pertanyaan apakah padel akan berhenti sebagai olahraga gaya hidup atau mulai masuk ke jalur prestasi?
Bagi pengusaha, kepastian aturan juga dibutuhkan untuk menjaga investasi. Freddy berharap pemerintah daerah memiliki regulasi yang jelas, termasuk soal jam operasional, terutama bagi lapangan yang berbatasan dengan permukiman.
Ia juga mendorong pemerintah lebih sering menggelar kegiatan padel. "Perlu aturan yang jelas untuk jadi kepastian investasi juga. Selain itu, kalau pemerintah makin sering ngadain event, makin banyak orang yang bakal main." ucapnya.
Dengan demikian, keberlanjutan padel ternyata tidak hanya ditentukan oleh pemain dan pengusaha. Pemerintah dan lingkungan sekitar ikut menjadi bagian dari ekosistem. Ketika ekosistem mulai terbentuk, muncul pertanyaan apakah padel akan berhenti sebagai olahraga gaya hidup atau mulai masuk ke jalur prestasi?
Bagi pengusaha, kepastian aturan juga dibutuhkan untuk menjaga investasi. Freddy berharap pemerintah daerah memiliki regulasi yang jelas, termasuk soal jam operasional, terutama bagi lapangan yang berbatasan dengan permukiman.
Ia juga mendorong pemerintah lebih sering menggelar kegiatan padel. "Perlu aturan yang jelas untuk jadi kepastian investasi juga. Selain itu, kalau pemerintah makin sering ngadain event, makin banyak orang yang bakal main." ucapnya.
Dengan demikian, keberlanjutan padel ternyata tidak hanya ditentukan oleh pemain dan pengusaha. Pemerintah dan lingkungan sekitar ikut menjadi bagian dari ekosistem. Ketika ekosistem mulai terbentuk, muncul pertanyaan apakah padel akan berhenti sebagai olahraga gaya hidup atau mulai masuk ke jalur prestasi?
Di Jakarta, Pesatnya pertumbuhan padel juga mulai memunculkan persoalan tata ruang dan lingkungan sekitar. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan lapangan padel yang tidak mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tidak boleh beroperasi. Penertiban akan dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap lapangan yang dikelola mantan ASN Balai Kota.
Salah satu kasus terjadi di Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Jakarta Barat melakukan penyegelan ulang bangunan lapangan padel yang berdiri di lahan milik Pemprov DKI Jakarta. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul sorotan di media sosial terkait keberadaan plang aset Pemprov DKI di lokasi pembangunan.
Bangunan tersebut berada di tengah kompleks permukiman warga. Selain persoalan perizinan dan penggunaan lahan, kasus ini menunjukkan bahwa ekspansi padel perlu berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap tata ruang serta mempertimbangkan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Di Jakarta, Pesatnya pertumbuhan padel juga mulai memunculkan persoalan tata ruang dan lingkungan sekitar. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan lapangan padel yang tidak mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tidak boleh beroperasi. Penertiban akan dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap lapangan yang dikelola mantan ASN Balai Kota.
Salah satu kasus terjadi di Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Jakarta Barat melakukan penyegelan ulang bangunan lapangan padel yang berdiri di lahan milik Pemprov DKI Jakarta. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul sorotan di media sosial terkait keberadaan plang aset Pemprov DKI di lokasi pembangunan.
Bangunan tersebut berada di tengah kompleks permukiman warga. Selain persoalan perizinan dan penggunaan lahan, kasus ini menunjukkan bahwa ekspansi padel perlu berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap tata ruang serta mempertimbangkan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Di Jakarta, Pesatnya pertumbuhan padel juga mulai memunculkan persoalan tata ruang dan lingkungan sekitar. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan lapangan padel yang tidak mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tidak boleh beroperasi. Penertiban akan dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap lapangan yang dikelola mantan ASN Balai Kota.
Salah satu kasus terjadi di Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Jakarta Barat melakukan penyegelan ulang bangunan lapangan padel yang berdiri di lahan milik Pemprov DKI Jakarta. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul sorotan di media sosial terkait keberadaan plang aset Pemprov DKI di lokasi pembangunan.
Bangunan tersebut berada di tengah kompleks permukiman warga. Selain persoalan perizinan dan penggunaan lahan, kasus ini menunjukkan bahwa ekspansi padel perlu berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap tata ruang serta mempertimbangkan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Dari Lifestyle Menuju Prestasi
Dari Lifestyle Menuju Prestasi
Dari Lifestyle Menuju Prestasi

Pertandingan padel yang dilakukan di Durian Padel, Kota Semarang, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
“Jika tiga tahun pertama diibaratkan sebagai fase membangun cerita, maka tahun ini merupakan awal babak sesungguhnya,”Galih Dimuntur Kartasasmita, Ketua PBPI
“Jika tiga tahun pertama diibaratkan sebagai fase membangun cerita, maka tahun ini merupakan awal babak sesungguhnya,”Galih Dimuntur Kartasasmita, Ketua PBPI
Setelah tiga tahun membangun fondasi, Persatuan Padel Indonesia (PBPI) mulai mengarahkan perkembangan padel dari olahraga rekreasional menuju cabang olahraga prestasi.
Ketua PBPI Galih Dimuntur Kartasasmita mengatakan Indonesia sejak awal mendapat kepercayaan dan harapan untuk menjadi salah satu kekuatan padel di Asia. Menurutnya, jika tiga tahun pertama merupakan fase membangun fondasi, maka 2026 menjadi awal babak baru. “Jika tiga tahun pertama diibaratkan sebagai fase membangun cerita, maka tahun ini merupakan awal babak sesungguhnya,” ujar Galih.
Tahun ini menjadi momentum penting karena padel Indonesia menghadapi sejumlah agenda bersejarah, mulai dari debut di Asian Games 2026, keikutsertaan perdana dalam kualifikasi Piala Dunia Padel, hingga menjadi tuan rumah Junior Asia Cup untuk pertama kalinya. Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan bahwa padel Indonesia mulai bergerak dari sekadar tren menuju olahraga yang memiliki jalur prestasi.
Setelah tiga tahun membangun fondasi, Persatuan Padel Indonesia (PBPI) mulai mengarahkan perkembangan padel dari olahraga rekreasional menuju cabang olahraga prestasi.
Ketua PBPI Galih Dimuntur Kartasasmita mengatakan Indonesia sejak awal mendapat kepercayaan dan harapan untuk menjadi salah satu kekuatan padel di Asia. Menurutnya, jika tiga tahun pertama merupakan fase membangun fondasi, maka 2026 menjadi awal babak baru. “Jika tiga tahun pertama diibaratkan sebagai fase membangun cerita, maka tahun ini merupakan awal babak sesungguhnya,” ujar Galih.
Tahun ini menjadi momentum penting karena padel Indonesia menghadapi sejumlah agenda bersejarah, mulai dari debut di Asian Games 2026, keikutsertaan perdana dalam kualifikasi Piala Dunia Padel, hingga menjadi tuan rumah Junior Asia Cup untuk pertama kalinya. Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan bahwa padel Indonesia mulai bergerak dari sekadar tren menuju olahraga yang memiliki jalur prestasi.
Setelah tiga tahun membangun fondasi, Persatuan Padel Indonesia (PBPI) mulai mengarahkan perkembangan padel dari olahraga rekreasional menuju cabang olahraga prestasi.
Ketua PBPI Galih Dimuntur Kartasasmita mengatakan Indonesia sejak awal mendapat kepercayaan dan harapan untuk menjadi salah satu kekuatan padel di Asia. Menurutnya, jika tiga tahun pertama merupakan fase membangun fondasi, maka 2026 menjadi awal babak baru. “Jika tiga tahun pertama diibaratkan sebagai fase membangun cerita, maka tahun ini merupakan awal babak sesungguhnya,” ujar Galih.
Tahun ini menjadi momentum penting karena padel Indonesia menghadapi sejumlah agenda bersejarah, mulai dari debut di Asian Games 2026, keikutsertaan perdana dalam kualifikasi Piala Dunia Padel, hingga menjadi tuan rumah Junior Asia Cup untuk pertama kalinya. Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan bahwa padel Indonesia mulai bergerak dari sekadar tren menuju olahraga yang memiliki jalur prestasi.
Untuk menghadapi Asian Games, PBPI mempersiapkan tim terbaik melalui seleksi nasional pada nomor ganda putra dan ganda putri. Persiapan atlet juga diperkuat dengan menghadirkan pelatih internasional Rimoya dan Denise Solfert. PBPI berharap pengalaman meraih medali perunggu Piala Asia di Qatar pada 2025 menjadi modal bagi atlet Indonesia menghadapi persaingan di level Asia.
Pembinaan juga mulai diarahkan ke usia dini dan daerah. PBPI mendorong pengurus provinsi memperkuat program pembibitan agar regenerasi atlet berjalan berkelanjutan. Di saat yang sama, pertumbuhan industri padel diarahkan untuk mendukung prestasi, termasuk rencana mendorong produksi perlengkapan padel di dalam negeri seperti bola, raket berlabel Made in Indonesia, hingga sepatu agar harga peralatan semakin terjangkau.
Untuk menghadapi Asian Games, PBPI mempersiapkan tim terbaik melalui seleksi nasional pada nomor ganda putra dan ganda putri. Persiapan atlet juga diperkuat dengan menghadirkan pelatih internasional Rimoya dan Denise Solfert. PBPI berharap pengalaman meraih medali perunggu Piala Asia di Qatar pada 2025 menjadi modal bagi atlet Indonesia menghadapi persaingan di level Asia.
Pembinaan juga mulai diarahkan ke usia dini dan daerah. PBPI mendorong pengurus provinsi memperkuat program pembibitan agar regenerasi atlet berjalan berkelanjutan. Di saat yang sama, pertumbuhan industri padel diarahkan untuk mendukung prestasi, termasuk rencana mendorong produksi perlengkapan padel di dalam negeri seperti bola, raket berlabel Made in Indonesia, hingga sepatu agar harga peralatan semakin terjangkau.
Untuk menghadapi Asian Games, PBPI mempersiapkan tim terbaik melalui seleksi nasional pada nomor ganda putra dan ganda putri. Persiapan atlet juga diperkuat dengan menghadirkan pelatih internasional Rimoya dan Denise Solfert. PBPI berharap pengalaman meraih medali perunggu Piala Asia di Qatar pada 2025 menjadi modal bagi atlet Indonesia menghadapi persaingan di level Asia.
Pembinaan juga mulai diarahkan ke usia dini dan daerah. PBPI mendorong pengurus provinsi memperkuat program pembibitan agar regenerasi atlet berjalan berkelanjutan. Di saat yang sama, pertumbuhan industri padel diarahkan untuk mendukung prestasi, termasuk rencana mendorong produksi perlengkapan padel di dalam negeri seperti bola, raket berlabel Made in Indonesia, hingga sepatu agar harga peralatan semakin terjangkau.

Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Di daerah, seperti di Kota Semarang misalnya, Pemkot Semarang mulai mendorong padel masuk ke pembinaan atlet.Kepala Dispora Kota Semarang Fravarta Sadman meminta pengelola menyediakan waktu khusus bagi anak-anak. Menurutnya, pertumbuhan minat anak muda perlu diarahkan menjadi bibit atlet."Kita nanti fasilitasi kalau ada lomba-lomba padel. Dari kecamatan bisa." katanya.
Sementara itu menurut PBPI Jateng upaya pembibitan mulai menunjukkan hasil. Ketua PBPI Jawa Tengah Arganto Cahyo Wibowo Pangarso (Arga) menyebut tiga atlet muda Jawa Tengah telah mencatat prestasi dalam kompetisi internasional di Bali. Satu atlet menjadi juara pertama kelompok usia 18 tahun, sementara dua lainnya menjadi runner-up kategori usia 12 tahun putra dan putri.
Bagi PBPI, hasil tersebut menunjukkan bahwa potensi atlet muda sudah mulai muncul. Karena itu, kompetisi dengan level lebih tinggi dibutuhkan agar pemain muda memiliki pengalaman dan motivasi. "Ketika mereka melihat permainan tingkat tinggi, mereka jadi semangat lagi." katanya. PBPI bahkan berharap Jawa Tengah dapat menjadi tuan rumah pertandingan internasional pada 2027.
Di daerah, seperti di Kota Semarang misalnya, Pemkot Semarang mulai mendorong padel masuk ke pembinaan atlet.Kepala Dispora Kota Semarang Fravarta Sadman meminta pengelola menyediakan waktu khusus bagi anak-anak. Menurutnya, pertumbuhan minat anak muda perlu diarahkan menjadi bibit atlet."Kita nanti fasilitasi kalau ada lomba-lomba padel. Dari kecamatan bisa." katanya.
Sementara itu menurut PBPI Jateng upaya pembibitan mulai menunjukkan hasil. Ketua PBPI Jawa Tengah Arganto Cahyo Wibowo Pangarso (Arga) menyebut tiga atlet muda Jawa Tengah telah mencatat prestasi dalam kompetisi internasional di Bali. Satu atlet menjadi juara pertama kelompok usia 18 tahun, sementara dua lainnya menjadi runner-up kategori usia 12 tahun putra dan putri.
Bagi PBPI, hasil tersebut menunjukkan bahwa potensi atlet muda sudah mulai muncul. Karena itu, kompetisi dengan level lebih tinggi dibutuhkan agar pemain muda memiliki pengalaman dan motivasi. "Ketika mereka melihat permainan tingkat tinggi, mereka jadi semangat lagi." katanya. PBPI bahkan berharap Jawa Tengah dapat menjadi tuan rumah pertandingan internasional pada 2027.
Di daerah, seperti di Kota Semarang misalnya, Pemkot Semarang mulai mendorong padel masuk ke pembinaan atlet.Kepala Dispora Kota Semarang Fravarta Sadman meminta pengelola menyediakan waktu khusus bagi anak-anak. Menurutnya, pertumbuhan minat anak muda perlu diarahkan menjadi bibit atlet."Kita nanti fasilitasi kalau ada lomba-lomba padel. Dari kecamatan bisa." katanya.
Sementara itu menurut PBPI Jateng upaya pembibitan mulai menunjukkan hasil. Ketua PBPI Jawa Tengah Arganto Cahyo Wibowo Pangarso (Arga) menyebut tiga atlet muda Jawa Tengah telah mencatat prestasi dalam kompetisi internasional di Bali. Satu atlet menjadi juara pertama kelompok usia 18 tahun, sementara dua lainnya menjadi runner-up kategori usia 12 tahun putra dan putri.
Bagi PBPI, hasil tersebut menunjukkan bahwa potensi atlet muda sudah mulai muncul. Karena itu, kompetisi dengan level lebih tinggi dibutuhkan agar pemain muda memiliki pengalaman dan motivasi. "Ketika mereka melihat permainan tingkat tinggi, mereka jadi semangat lagi." katanya. PBPI bahkan berharap Jawa Tengah dapat menjadi tuan rumah pertandingan internasional pada 2027.
Namun prestasi membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pertandingan. Pelatih dan wasit juga harus tersedia.Arga menyebut jumlah pelatih berkualitas belum sebanding dengan pertumbuhan pemain. "Olahraga ini umurnya belum cukup untuk menghasilkan coach yang bagus." katanya.
Sebagian pelatih bahkan masih berstatus atlet aktif sehingga aktivitas kepelatihan dapat terganggu ketika mereka bertanding ke luar kota atau luar negeri. Sejumlah klub masih mengandalkan pelatih asing untuk meningkatkan kualitas latihan.
Jika ingin bertahan, padel harus memperluas basis pemain sekaligus membangun jalur prestasi. Salah satu mesin yang dapat menghubungkan keduanya adalah turnamen.
Namun prestasi membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pertandingan. Pelatih dan wasit juga harus tersedia.Arga menyebut jumlah pelatih berkualitas belum sebanding dengan pertumbuhan pemain. "Olahraga ini umurnya belum cukup untuk menghasilkan coach yang bagus." katanya.
Sebagian pelatih bahkan masih berstatus atlet aktif sehingga aktivitas kepelatihan dapat terganggu ketika mereka bertanding ke luar kota atau luar negeri. Sejumlah klub masih mengandalkan pelatih asing untuk meningkatkan kualitas latihan.
Jika ingin bertahan, padel harus memperluas basis pemain sekaligus membangun jalur prestasi. Salah satu mesin yang dapat menghubungkan keduanya adalah turnamen.
Namun prestasi membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pertandingan. Pelatih dan wasit juga harus tersedia.Arga menyebut jumlah pelatih berkualitas belum sebanding dengan pertumbuhan pemain. "Olahraga ini umurnya belum cukup untuk menghasilkan coach yang bagus." katanya.
Sebagian pelatih bahkan masih berstatus atlet aktif sehingga aktivitas kepelatihan dapat terganggu ketika mereka bertanding ke luar kota atau luar negeri. Sejumlah klub masih mengandalkan pelatih asing untuk meningkatkan kualitas latihan.
Jika ingin bertahan, padel harus memperluas basis pemain sekaligus membangun jalur prestasi. Salah satu mesin yang dapat menghubungkan keduanya adalah turnamen.
Turnamen Menjadi Mesin Ekosistem
Turnamen Menjadi Mesin Ekosistem
Turnamen Menjadi Mesin Ekosistem

Turnamen Iris Serve & Smash yang dilangsungkan di Main Padel Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Semarang mulai menggunakan turnamen sebagai ruang bertemu antara pemain rekreasional, komunitas, dan calon atlet. Piala Wali Kota Semarang 2026, misalnya, tidak hanya mempertandingkan kategori dewasa, tetapi juga kelompok usia 14 tahun putra dan putri.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat kategori usia muda sebagai investasi jangka panjang. "Kelompok usia 14 putra dan putri inilah yang nantinya akan menjadi harapan untuk bisa berada di dalam posisi atlet berprestasi." katanya.
Saat ini sekitar 30 lapangan padel telah berdiri di Kota Semarang. Pemerintah ingin pertumbuhan fasilitas berjalan bersama kompetisi, pembinaan dan komunitas.
Semarang mulai menggunakan turnamen sebagai ruang bertemu antara pemain rekreasional, komunitas, dan calon atlet. Piala Wali Kota Semarang 2026, misalnya, tidak hanya mempertandingkan kategori dewasa, tetapi juga kelompok usia 14 tahun putra dan putri.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat kategori usia muda sebagai investasi jangka panjang. "Kelompok usia 14 putra dan putri inilah yang nantinya akan menjadi harapan untuk bisa berada di dalam posisi atlet berprestasi." katanya.
Saat ini sekitar 30 lapangan padel telah berdiri di Kota Semarang. Pemerintah ingin pertumbuhan fasilitas berjalan bersama kompetisi, pembinaan dan komunitas.
Semarang mulai menggunakan turnamen sebagai ruang bertemu antara pemain rekreasional, komunitas, dan calon atlet. Piala Wali Kota Semarang 2026, misalnya, tidak hanya mempertandingkan kategori dewasa, tetapi juga kelompok usia 14 tahun putra dan putri.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat kategori usia muda sebagai investasi jangka panjang. "Kelompok usia 14 putra dan putri inilah yang nantinya akan menjadi harapan untuk bisa berada di dalam posisi atlet berprestasi." katanya.
Saat ini sekitar 30 lapangan padel telah berdiri di Kota Semarang. Pemerintah ingin pertumbuhan fasilitas berjalan bersama kompetisi, pembinaan dan komunitas.
Antusiasme juga terlihat dalam turnamen Iris Serve & Smash di Main Padel Semarang. Sebanyak 192 peserta dari berbagai kota ikut ambil bagian.
Bagi Tya Indra, yang baru empat bulan bermain, turnamen tersebut menjadi pengalaman pertamanya.
"Senang sekali rasanya bisa menguji diri sendiri dan biar makin pede karena bisa tanding dengan peserta lain." ucapnya.
Tingginya jumlah peserta membuat penyelenggara ikut terkejut."Kami tidak menyangka jika pesertanya mencapai 192 orang. Bahkan, kami cukup kaget karena banyak yang datang dari luar kota," kata Michelle Soeryajaya, pemilik IRIS.
Antusiasme juga terlihat dalam turnamen Iris Serve & Smash di Main Padel Semarang. Sebanyak 192 peserta dari berbagai kota ikut ambil bagian.
Bagi Tya Indra, yang baru empat bulan bermain, turnamen tersebut menjadi pengalaman pertamanya.
"Senang sekali rasanya bisa menguji diri sendiri dan biar makin pede karena bisa tanding dengan peserta lain." ucapnya.
Tingginya jumlah peserta membuat penyelenggara ikut terkejut."Kami tidak menyangka jika pesertanya mencapai 192 orang. Bahkan, kami cukup kaget karena banyak yang datang dari luar kota," kata Michelle Soeryajaya, pemilik IRIS.
Antusiasme juga terlihat dalam turnamen Iris Serve & Smash di Main Padel Semarang. Sebanyak 192 peserta dari berbagai kota ikut ambil bagian.
Bagi Tya Indra, yang baru empat bulan bermain, turnamen tersebut menjadi pengalaman pertamanya.
"Senang sekali rasanya bisa menguji diri sendiri dan biar makin pede karena bisa tanding dengan peserta lain." ucapnya.
Tingginya jumlah peserta membuat penyelenggara ikut terkejut."Kami tidak menyangka jika pesertanya mencapai 192 orang. Bahkan, kami cukup kaget karena banyak yang datang dari luar kota," kata Michelle Soeryajaya, pemilik IRIS.

Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Dari Main Bareng Menuju Jalur Kompetisi padel di Indonesia mulai bergerak melampaui aktivitas main bareng dan komunitas. Turnamen yang awalnya banyak digelar oleh klub, operator lapangan, maupun pihak swasta kini berkembang menjadi kompetisi yang semakin terstruktur, dari level amatir hingga profesional.
Salah satu contohnya Naven Padel Series 2026, yang digelar di empat kota—Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Bali. Kompetisi ini menyediakan kategori Lower Bronze, Bronze, Silver, hingga Gold, sekaligus membuka ruang bagi pemain pemula, komunitas, hingga pemain berpengalaman untuk naik level.
Di tingkat nasional, Sirkuit Indonesia Open menjadi salah satu jalur kompetisi resmi PBPI. Pada 2025, seri ini digelar di beberapa kota dengan kategori Open, sementara pada 2026 kompetisi berlanjut dengan format bertingkat.
Dari Main Bareng Menuju Jalur Kompetisi padel di Indonesia mulai bergerak melampaui aktivitas main bareng dan komunitas. Turnamen yang awalnya banyak digelar oleh klub, operator lapangan, maupun pihak swasta kini berkembang menjadi kompetisi yang semakin terstruktur, dari level amatir hingga profesional.
Salah satu contohnya Naven Padel Series 2026, yang digelar di empat kota—Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Bali. Kompetisi ini menyediakan kategori Lower Bronze, Bronze, Silver, hingga Gold, sekaligus membuka ruang bagi pemain pemula, komunitas, hingga pemain berpengalaman untuk naik level.
Di tingkat nasional, Sirkuit Indonesia Open menjadi salah satu jalur kompetisi resmi PBPI. Pada 2025, seri ini digelar di beberapa kota dengan kategori Open, sementara pada 2026 kompetisi berlanjut dengan format bertingkat.
Dari Main Bareng Menuju Jalur Kompetisi padel di Indonesia mulai bergerak melampaui aktivitas main bareng dan komunitas. Turnamen yang awalnya banyak digelar oleh klub, operator lapangan, maupun pihak swasta kini berkembang menjadi kompetisi yang semakin terstruktur, dari level amatir hingga profesional.
Salah satu contohnya Naven Padel Series 2026, yang digelar di empat kota—Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Bali. Kompetisi ini menyediakan kategori Lower Bronze, Bronze, Silver, hingga Gold, sekaligus membuka ruang bagi pemain pemula, komunitas, hingga pemain berpengalaman untuk naik level.
Di tingkat nasional, Sirkuit Indonesia Open menjadi salah satu jalur kompetisi resmi PBPI. Pada 2025, seri ini digelar di beberapa kota dengan kategori Open, sementara pada 2026 kompetisi berlanjut dengan format bertingkat.
Jalur berikutnya adalah kompetisi profesional. Pada 2026, PBPI bersama PT Liga Padel Indonesia meluncurkan Indonesian Padel League, yang dirancang menggunakan klub berbasis kota dan dijadwalkan berlangsung Agustus 2026 hingga Februari 2027.
Sementara di level internasional, Indonesia mulai menjadi tuan rumah turnamen FIP Tour. Setelah FIP Bronze Jakarta 2025 yang menjadi turnamen internasional FIP pertama di Indonesia, kalender 2026 semakin padat dengan FIP Bronze Yogyakarta, FIP Promises Jakarta, FIP Bronze Banten, serta FIP Promises Bandung yang dijadwalkan Oktober.
Bahkan, menurut PBPI, Indonesia mendapat kepercayaan menggelar enam turnamen FIP pada 2026, meningkat dari dua turnamen pada 2025.
Jalur berikutnya adalah kompetisi profesional. Pada 2026, PBPI bersama PT Liga Padel Indonesia meluncurkan Indonesian Padel League, yang dirancang menggunakan klub berbasis kota dan dijadwalkan berlangsung Agustus 2026 hingga Februari 2027.
Sementara di level internasional, Indonesia mulai menjadi tuan rumah turnamen FIP Tour. Setelah FIP Bronze Jakarta 2025 yang menjadi turnamen internasional FIP pertama di Indonesia, kalender 2026 semakin padat dengan FIP Bronze Yogyakarta, FIP Promises Jakarta, FIP Bronze Banten, serta FIP Promises Bandung yang dijadwalkan Oktober.
Bahkan, menurut PBPI, Indonesia mendapat kepercayaan menggelar enam turnamen FIP pada 2026, meningkat dari dua turnamen pada 2025.
Jalur berikutnya adalah kompetisi profesional. Pada 2026, PBPI bersama PT Liga Padel Indonesia meluncurkan Indonesian Padel League, yang dirancang menggunakan klub berbasis kota dan dijadwalkan berlangsung Agustus 2026 hingga Februari 2027.
Sementara di level internasional, Indonesia mulai menjadi tuan rumah turnamen FIP Tour. Setelah FIP Bronze Jakarta 2025 yang menjadi turnamen internasional FIP pertama di Indonesia, kalender 2026 semakin padat dengan FIP Bronze Yogyakarta, FIP Promises Jakarta, FIP Bronze Banten, serta FIP Promises Bandung yang dijadwalkan Oktober.
Bahkan, menurut PBPI, Indonesia mendapat kepercayaan menggelar enam turnamen FIP pada 2026, meningkat dari dua turnamen pada 2025.
Artinya, jalur padel Indonesia mulai terbentuk:
MAIN BARENG → KOMUNITAS → TURNAMEN SWASTA → NASIONAL → PROFESIONAL → INTERNASIONAL
Tantangannya kini bukan lagi sekadar membuat orang tertarik bermain padel, tetapi menciptakan ekosistem yang mampu mengubah pemain rekreasional menjadi pemain kompetitif dan atlet berprestasi.
Artinya, jalur padel Indonesia mulai terbentuk:
MAIN BARENG → KOMUNITAS → TURNAMEN SWASTA → NASIONAL → PROFESIONAL → INTERNASIONAL
Tantangannya kini bukan lagi sekadar membuat orang tertarik bermain padel, tetapi menciptakan ekosistem yang mampu mengubah pemain rekreasional menjadi pemain kompetitif dan atlet berprestasi.
Artinya, jalur padel Indonesia mulai terbentuk:
MAIN BARENG → KOMUNITAS → TURNAMEN SWASTA → NASIONAL → PROFESIONAL → INTERNASIONAL
Tantangannya kini bukan lagi sekadar membuat orang tertarik bermain padel, tetapi menciptakan ekosistem yang mampu mengubah pemain rekreasional menjadi pemain kompetitif dan atlet berprestasi.
Setelah FOMO Berlalu
Setelah FOMO Berlalu
Setelah FOMO Berlalu

Ketua PBPI Jawa Tengah Arganto Cahyo Wibowo Pangarso (Arga). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
"Kalau kami berbicara kondisi padel hari ini, sangat amat optimis. Padel ini bisa terus berkembang dan akan terus berkembang." Arganto Cahyo Wibowo Pangarso, Ketua PBPI Jateng
"Kalau kami berbicara kondisi padel hari ini, sangat amat optimis. Padel ini bisa terus berkembang dan akan terus berkembang." Arganto Cahyo Wibowo Pangarso, Ketua PBPI Jateng
Setelah tiga tahun tumbuh pesat, padel Indonesia mulai memasuki fase baru. FOMO sebagai pintu masuk mulai bergeser menuju pembentukan ekosistem olahraga prestasi. PBPI kini tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah pemain dan lapangan, tetapi juga menyiapkan atlet, kompetisi, hingga industri pendukung.
Momentum itu terlihat dari agenda besar 2026. Padel akan menjalani debut di Asian Games Aichi-Nagoya, mengikuti kualifikasi Piala Dunia Padel, serta menjadi tuan rumah Junior Asia Cup. PBPI juga mulai memperkuat pembinaan melalui pelatnas berkelanjutan dengan melibatkan pelatih internasional.
Untuk Asian Games, PBPI menyiapkan delapan atlet yang terdiri dari dua pasangan inti dan dua pasangan cadangan. Mereka menjalani pemusatan latihan di Spanyol dengan agenda uji coba melawan pemain Eropa. Sebelumnya, tim Indonesia juga dijadwalkan menjalani sparring melawan pemain Kazakhstan.
Setelah tiga tahun tumbuh pesat, padel Indonesia mulai memasuki fase baru. FOMO sebagai pintu masuk mulai bergeser menuju pembentukan ekosistem olahraga prestasi. PBPI kini tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah pemain dan lapangan, tetapi juga menyiapkan atlet, kompetisi, hingga industri pendukung.
Momentum itu terlihat dari agenda besar 2026. Padel akan menjalani debut di Asian Games Aichi-Nagoya, mengikuti kualifikasi Piala Dunia Padel, serta menjadi tuan rumah Junior Asia Cup. PBPI juga mulai memperkuat pembinaan melalui pelatnas berkelanjutan dengan melibatkan pelatih internasional.
Untuk Asian Games, PBPI menyiapkan delapan atlet yang terdiri dari dua pasangan inti dan dua pasangan cadangan. Mereka menjalani pemusatan latihan di Spanyol dengan agenda uji coba melawan pemain Eropa. Sebelumnya, tim Indonesia juga dijadwalkan menjalani sparring melawan pemain Kazakhstan.
Setelah tiga tahun tumbuh pesat, padel Indonesia mulai memasuki fase baru. FOMO sebagai pintu masuk mulai bergeser menuju pembentukan ekosistem olahraga prestasi. PBPI kini tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah pemain dan lapangan, tetapi juga menyiapkan atlet, kompetisi, hingga industri pendukung.
Momentum itu terlihat dari agenda besar 2026. Padel akan menjalani debut di Asian Games Aichi-Nagoya, mengikuti kualifikasi Piala Dunia Padel, serta menjadi tuan rumah Junior Asia Cup. PBPI juga mulai memperkuat pembinaan melalui pelatnas berkelanjutan dengan melibatkan pelatih internasional.
Untuk Asian Games, PBPI menyiapkan delapan atlet yang terdiri dari dua pasangan inti dan dua pasangan cadangan. Mereka menjalani pemusatan latihan di Spanyol dengan agenda uji coba melawan pemain Eropa. Sebelumnya, tim Indonesia juga dijadwalkan menjalani sparring melawan pemain Kazakhstan.
Jalur kompetisi pun semakin terbentuk. Setelah pada 2025 Indonesia dipercaya menggelar dua turnamen FIP, jumlahnya meningkat menjadi enam turnamen pada 2026 di Yogyakarta, Jakarta, Banten, dan Bali. FIP Bronze-Promises Jakarta 2026 bahkan diikuti 510 peserta dari 31 negara, termasuk kategori junior KU-14, KU-16, dan KU-18.
Bagi PBPI, kompetisi internasional bukan sekadar ajang pertandingan, tetapi juga sarana meningkatkan pengalaman atlet sekaligus membangun padel tourism. Di tingkat nasional, PBPI menargetkan tim Indonesia lolos ke FIP World Cup 2026, sementara dalam jangka panjang organisasi memasang ambisi menjadi salah satu kekuatan padel di Asia. “Targetnya adalah membawa Indonesia lolos ke FIP World Cup 2026,” kata Wakil Ketua Umum I PBPI Mochtar Sarman mengutip dari Kantor Berita ANTARA.
Jalur kompetisi pun semakin terbentuk. Setelah pada 2025 Indonesia dipercaya menggelar dua turnamen FIP, jumlahnya meningkat menjadi enam turnamen pada 2026 di Yogyakarta, Jakarta, Banten, dan Bali. FIP Bronze-Promises Jakarta 2026 bahkan diikuti 510 peserta dari 31 negara, termasuk kategori junior KU-14, KU-16, dan KU-18.
Bagi PBPI, kompetisi internasional bukan sekadar ajang pertandingan, tetapi juga sarana meningkatkan pengalaman atlet sekaligus membangun padel tourism. Di tingkat nasional, PBPI menargetkan tim Indonesia lolos ke FIP World Cup 2026, sementara dalam jangka panjang organisasi memasang ambisi menjadi salah satu kekuatan padel di Asia. “Targetnya adalah membawa Indonesia lolos ke FIP World Cup 2026,” kata Wakil Ketua Umum I PBPI Mochtar Sarman mengutip dari Kantor Berita ANTARA.
Jalur kompetisi pun semakin terbentuk. Setelah pada 2025 Indonesia dipercaya menggelar dua turnamen FIP, jumlahnya meningkat menjadi enam turnamen pada 2026 di Yogyakarta, Jakarta, Banten, dan Bali. FIP Bronze-Promises Jakarta 2026 bahkan diikuti 510 peserta dari 31 negara, termasuk kategori junior KU-14, KU-16, dan KU-18.
Bagi PBPI, kompetisi internasional bukan sekadar ajang pertandingan, tetapi juga sarana meningkatkan pengalaman atlet sekaligus membangun padel tourism. Di tingkat nasional, PBPI menargetkan tim Indonesia lolos ke FIP World Cup 2026, sementara dalam jangka panjang organisasi memasang ambisi menjadi salah satu kekuatan padel di Asia. “Targetnya adalah membawa Indonesia lolos ke FIP World Cup 2026,” kata Wakil Ketua Umum I PBPI Mochtar Sarman mengutip dari Kantor Berita ANTARA.

Kredit : IDN Times/Dhana Kencana
Senada Ketua PBPI Jateng, Arga FOMO memang berperan, tetapi bukan satu-satunya alasan.Padel memiliki low barrier entry. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, bisa dimainkan untuk rekreasi, sekaligus memberi ruang untuk kompetisi dan bersosialisasi.
"FOMO itu pintu masuk pertama saja. Namun, ketika olahraga ini akhirnya jadi sustain, itu sudah jadi dua hal berbeda. Untuk mempertahankan sustain ini sudah enggak bisa pakai cara FOMO." katanya.
Di sinilah masa depan padel ditentukan.Pemain padel tidak hanya atlet. Ada social player yang bermain untuk kesehatan, rekreasi, pertemanan hingga membangun jaringan bisnis.
Senada Ketua PBPI Jateng, Arga FOMO memang berperan, tetapi bukan satu-satunya alasan.Padel memiliki low barrier entry. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, bisa dimainkan untuk rekreasi, sekaligus memberi ruang untuk kompetisi dan bersosialisasi.
"FOMO itu pintu masuk pertama saja. Namun, ketika olahraga ini akhirnya jadi sustain, itu sudah jadi dua hal berbeda. Untuk mempertahankan sustain ini sudah enggak bisa pakai cara FOMO." katanya.
Di sinilah masa depan padel ditentukan.Pemain padel tidak hanya atlet. Ada social player yang bermain untuk kesehatan, rekreasi, pertemanan hingga membangun jaringan bisnis.
Senada Ketua PBPI Jateng, Arga FOMO memang berperan, tetapi bukan satu-satunya alasan.Padel memiliki low barrier entry. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, bisa dimainkan untuk rekreasi, sekaligus memberi ruang untuk kompetisi dan bersosialisasi.
"FOMO itu pintu masuk pertama saja. Namun, ketika olahraga ini akhirnya jadi sustain, itu sudah jadi dua hal berbeda. Untuk mempertahankan sustain ini sudah enggak bisa pakai cara FOMO." katanya.
Di sinilah masa depan padel ditentukan.Pemain padel tidak hanya atlet. Ada social player yang bermain untuk kesehatan, rekreasi, pertemanan hingga membangun jaringan bisnis.
Rentang usianya juga semakin luas, dari anak sekitar delapan tahun hingga pemain berusia 40-50 tahun. Mayoritas berada pada usia 20-30 tahun, dengan jumlah pemain laki-laki dan perempuan yang relatif berimbang.
Karena itu, klub membutuhkan akademi. Sekolah mulai dilirik sebagai ruang pembinaan. Turnamen dibutuhkan untuk menjaga kompetisi. Pelatih dan wasit harus bertambah.
Sementara pengelola harus terus menawarkan alasan bagi pemain untuk kembali. Arga melihat persaingan bisnis justru akan semakin berbasis kualitas.
Rentang usianya juga semakin luas, dari anak sekitar delapan tahun hingga pemain berusia 40-50 tahun. Mayoritas berada pada usia 20-30 tahun, dengan jumlah pemain laki-laki dan perempuan yang relatif berimbang.
Karena itu, klub membutuhkan akademi. Sekolah mulai dilirik sebagai ruang pembinaan. Turnamen dibutuhkan untuk menjaga kompetisi. Pelatih dan wasit harus bertambah.
Sementara pengelola harus terus menawarkan alasan bagi pemain untuk kembali. Arga melihat persaingan bisnis justru akan semakin berbasis kualitas.
Rentang usianya juga semakin luas, dari anak sekitar delapan tahun hingga pemain berusia 40-50 tahun. Mayoritas berada pada usia 20-30 tahun, dengan jumlah pemain laki-laki dan perempuan yang relatif berimbang.
Karena itu, klub membutuhkan akademi. Sekolah mulai dilirik sebagai ruang pembinaan. Turnamen dibutuhkan untuk menjaga kompetisi. Pelatih dan wasit harus bertambah.
Sementara pengelola harus terus menawarkan alasan bagi pemain untuk kembali. Arga melihat persaingan bisnis justru akan semakin berbasis kualitas.
Lapangan membutuhkan komunitas. Komunitas membutuhkan kompetisi. Kompetisi membutuhkan atlet, pelatih dan wasit. Sementara bisnis membutuhkan pengalaman yang membuat pemain mau kembali. Semua bagian itu harus tumbuh bersama.
Arga sendiri masih melihat masa depan padel secara positif. "Kalau kami berbicara kondisi padel hari ini, sangat amat optimis. Padel ini bisa terus berkembang dan akan terus berkembang." katanya.
Dengan demikian, setelah fase FOMO berlalu, pertanyaan terbesar bagi padel Indonesia bukan lagi seberapa cepat olahraga ini tumbuh, melainkan seberapa kuat fondasi yang dibangun untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut menjadi prestasi. Dari komunitas dan main bareng, padel kini mulai diarahkan menuju pembinaan, kompetisi, atlet profesional, dan panggung internasional.
Lapangan membutuhkan komunitas. Komunitas membutuhkan kompetisi. Kompetisi membutuhkan atlet, pelatih dan wasit. Sementara bisnis membutuhkan pengalaman yang membuat pemain mau kembali. Semua bagian itu harus tumbuh bersama.
Arga sendiri masih melihat masa depan padel secara positif. "Kalau kami berbicara kondisi padel hari ini, sangat amat optimis. Padel ini bisa terus berkembang dan akan terus berkembang." katanya.
Dengan demikian, setelah fase FOMO berlalu, pertanyaan terbesar bagi padel Indonesia bukan lagi seberapa cepat olahraga ini tumbuh, melainkan seberapa kuat fondasi yang dibangun untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut menjadi prestasi. Dari komunitas dan main bareng, padel kini mulai diarahkan menuju pembinaan, kompetisi, atlet profesional, dan panggung internasional.
Lapangan membutuhkan komunitas. Komunitas membutuhkan kompetisi. Kompetisi membutuhkan atlet, pelatih dan wasit. Sementara bisnis membutuhkan pengalaman yang membuat pemain mau kembali. Semua bagian itu harus tumbuh bersama.
Arga sendiri masih melihat masa depan padel secara positif. "Kalau kami berbicara kondisi padel hari ini, sangat amat optimis. Padel ini bisa terus berkembang dan akan terus berkembang." katanya.
Dengan demikian, setelah fase FOMO berlalu, pertanyaan terbesar bagi padel Indonesia bukan lagi seberapa cepat olahraga ini tumbuh, melainkan seberapa kuat fondasi yang dibangun untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut menjadi prestasi. Dari komunitas dan main bareng, padel kini mulai diarahkan menuju pembinaan, kompetisi, atlet profesional, dan panggung internasional.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Disusun oleh
Tim Editorial
Bandot Arywono – Project Lead/Editor
Anggun Puspitoningrum – Reporter
Azzis Zulkhairil – Reporter
Debbie Sutrisno – Reporter
Fariz Fardianto – Reporter
Muhamad Iqbal - Reporter
Infografis
Dhana Kencana
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.



































