
Anak Muda dan Kerja Sunyi Kerelawanan
Anak Muda dan Kerja Sunyi Kerelawanan
Anak Muda dan Kerja Sunyi Kerelawanan
Komunitas Benah Palembang Saat Menggelar Acara di Rumah Susun (Dokumentasi Komunitas Benah Palembang)
“Kak, aku cita-citanya mau jadi guru, biar bisa mengajar anak-anak supaya tidak jadi seperti aku.”
“Kak, aku cita-citanya mau jadi guru, biar bisa mengajar anak-anak supaya tidak jadi seperti aku.”
Kalimat itu keluar dari salah satu anak dampingan Akhid Haefani Hilal di Komunitas Sekolah Marjinal (KSM): “Kak, aku cita-citanya mau jadi guru, biar bisa mengajar anak-anak supaya tidak jadi seperti aku.”
Haefan, sapaan akrabnya, mengaku tidak mempercayai kalimat itu berasal dari seorang anak dampingannya. Anak-anak yang belajar di tempatnya menjadi relawan berasal dari keluarga tidak mampu di sekitar Babarsari, Caturtunggal, Sleman, dan kesulitan mengakses pendidikan formal lantaran tidak memiliki dokumen kependudukan.
Haefan hanyalah satu dari banyak anak muda yang memilih turun ke tempat yang jarang dilirik. Dari Sleman, Bali, Probolinggo, Sumbawa, Palembang, hingga Sulawesi Selatan, bentuk kerja mereka beragam. Pertanyaannya sama: apa yang membuat mereka bertahan, dan apa harga yang harus dibayar?
Kalimat itu keluar dari salah satu anak dampingan Akhid Haefani Hilal di Komunitas Sekolah Marjinal (KSM): “Kak, aku cita-citanya mau jadi guru, biar bisa mengajar anak-anak supaya tidak jadi seperti aku.”
Haefan, sapaan akrabnya, mengaku tidak mempercayai kalimat itu berasal dari seorang anak dampingannya. Anak-anak yang belajar di tempatnya menjadi relawan berasal dari keluarga tidak mampu di sekitar Babarsari, Caturtunggal, Sleman, dan kesulitan mengakses pendidikan formal lantaran tidak memiliki dokumen kependudukan.
Haefan hanyalah satu dari banyak anak muda yang memilih turun ke tempat yang jarang dilirik. Dari Sleman, Bali, Probolinggo, Sumbawa, Palembang, hingga Sulawesi Selatan, bentuk kerja mereka beragam. Pertanyaannya sama: apa yang membuat mereka bertahan, dan apa harga yang harus dibayar?
Kalimat itu keluar dari salah satu anak dampingan Akhid Haefani Hilal di Komunitas Sekolah Marjinal (KSM): “Kak, aku cita-citanya mau jadi guru, biar bisa mengajar anak-anak supaya tidak jadi seperti aku.”
Haefan, sapaan akrabnya, mengaku tidak mempercayai kalimat itu berasal dari seorang anak dampingannya. Anak-anak yang belajar di tempatnya menjadi relawan berasal dari keluarga tidak mampu di sekitar Babarsari, Caturtunggal, Sleman, dan kesulitan mengakses pendidikan formal lantaran tidak memiliki dokumen kependudukan.
Haefan hanyalah satu dari banyak anak muda yang memilih turun ke tempat yang jarang dilirik. Dari Sleman, Bali, Probolinggo, Sumbawa, Palembang, hingga Sulawesi Selatan, bentuk kerja mereka beragam. Pertanyaannya sama: apa yang membuat mereka bertahan, dan apa harga yang harus dibayar?

Kegiatan di Komunitas Sekolah Marjinal (KSM) Jogja. (IDN Times/Paulus Risang)
Kegiatan di Komunitas Sekolah Marjinal (KSM) Jogja. (IDN Times/Paulus Risang)
Sekolah Sore untuk Anak Tanpa Dokumen
Sekolah Sore untuk Anak Tanpa Dokumen
Sekolah Sore untuk Anak Tanpa Dokumen
“Dulu kalau kami terlambat datang mengajar, orangtua sudah mengajak anak-anak bekerja memulung,”
“Dulu kalau kami terlambat datang mengajar, orangtua sudah mengajak anak-anak bekerja memulung,”
Sebagai relawan, Haefan memberikan pendampingan pendidikan alternatif bersama 90-an relawan berumur 18 sampai 30 tahun. Kegiatan belajar berlangsung sore hari sekitar pukul 16.00–17.30 WIB, dengan materi bervariasi, mulai pembelajaran di kelas hingga bermain atau menonton film. Para relawan menyesuaikan proses belajar dengan kemampuan setiap anak.
Hasilnya mulai terlihat. Tiga anak dampingan KSM berhasil masuk kembali ke sekolah formal negeri, masing-masing di jenjang SMP, SD, dan TK persiapan masuk SD.
Sebagai relawan, Haefan memberikan pendampingan pendidikan alternatif bersama 90-an relawan berumur 18 sampai 30 tahun. Kegiatan belajar berlangsung sore hari sekitar pukul 16.00–17.30 WIB, dengan materi bervariasi, mulai pembelajaran di kelas hingga bermain atau menonton film. Para relawan menyesuaikan proses belajar dengan kemampuan setiap anak.
Hasilnya mulai terlihat. Tiga anak dampingan KSM berhasil masuk kembali ke sekolah formal negeri, masing-masing di jenjang SMP, SD, dan TK persiapan masuk SD.
Sebagai relawan, Haefan memberikan pendampingan pendidikan alternatif bersama 90-an relawan berumur 18 sampai 30 tahun. Kegiatan belajar berlangsung sore hari sekitar pukul 16.00–17.30 WIB, dengan materi bervariasi, mulai pembelajaran di kelas hingga bermain atau menonton film. Para relawan menyesuaikan proses belajar dengan kemampuan setiap anak.
Hasilnya mulai terlihat. Tiga anak dampingan KSM berhasil masuk kembali ke sekolah formal negeri, masing-masing di jenjang SMP, SD, dan TK persiapan masuk SD.

Humas Komunitas Sekolah Marjinal (KSM), Akhid Haefani Hilal (Dokumentasi Pribadi)
Humas Komunitas Sekolah Marjinal (KSM), Akhid Haefani Hilal (Dokumentasi Pribadi)
Tantangan lain datang dari keluarga. Ketika komunitas berdiri pada 2019, tidak semua warga langsung menerima kehadiran relawan.
“Awal berdiri tahun 2019, kami sempat mendapat penolakan dari warga. Untuk meyakinkan mereka, kami membutuhkan waktu hampir satu tahun dengan rutin mengadakan pertemuan dan edukasi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak,” ujar Haefan.
Membangun kepercayaan itu membutuhkan konsistensi. Relawan terkadang harus datang lebih awal agar anak-anak bisa belajar sebelum diajak orangtuanya bekerja memulung. “Dulu kalau kami terlambat datang mengajar, orangtua sudah mengajak anak-anak bekerja memulung,” katanya.
Kerja di Babarsari ini berlangsung di tengah angka yang besar. Dashboard Anak Tidak Sekolah (ATS) Kemendikdasmen per 5 April 2026 mencatat 16.010 anak tidak sekolah di DIY. Setelah diverifikasi Disdikpora DIY, data menyebutkan ada 8.066 anak berstatus tidak sekolah.
Tantangan lain datang dari keluarga. Ketika komunitas berdiri pada 2019, tidak semua warga langsung menerima kehadiran relawan.
“Awal berdiri tahun 2019, kami sempat mendapat penolakan dari warga. Untuk meyakinkan mereka, kami membutuhkan waktu hampir satu tahun dengan rutin mengadakan pertemuan dan edukasi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak,” ujar Haefan.
Membangun kepercayaan itu membutuhkan konsistensi. Relawan terkadang harus datang lebih awal agar anak-anak bisa belajar sebelum diajak orangtuanya bekerja memulung. “Dulu kalau kami terlambat datang mengajar, orangtua sudah mengajak anak-anak bekerja memulung,” katanya.
Kerja di Babarsari ini berlangsung di tengah angka yang besar. Dashboard Anak Tidak Sekolah (ATS) Kemendikdasmen per 5 April 2026 mencatat 16.010 anak tidak sekolah di DIY. Setelah diverifikasi Disdikpora DIY, data menyebutkan ada 8.066 anak berstatus tidak sekolah.
Tantangan lain datang dari keluarga. Ketika komunitas berdiri pada 2019, tidak semua warga langsung menerima kehadiran relawan.
“Awal berdiri tahun 2019, kami sempat mendapat penolakan dari warga. Untuk meyakinkan mereka, kami membutuhkan waktu hampir satu tahun dengan rutin mengadakan pertemuan dan edukasi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak,” ujar Haefan.
Membangun kepercayaan itu membutuhkan konsistensi. Relawan terkadang harus datang lebih awal agar anak-anak bisa belajar sebelum diajak orangtuanya bekerja memulung. “Dulu kalau kami terlambat datang mengajar, orangtua sudah mengajak anak-anak bekerja memulung,” katanya.
Kerja di Babarsari ini berlangsung di tengah angka yang besar. Dashboard Anak Tidak Sekolah (ATS) Kemendikdasmen per 5 April 2026 mencatat 16.010 anak tidak sekolah di DIY. Setelah diverifikasi Disdikpora DIY, data menyebutkan ada 8.066 anak berstatus tidak sekolah.
Menembus Tabu, Menjaga Napas Gerakan
Menembus Tabu, Menjaga Napas Gerakan
Menembus Tabu, Menjaga Napas Gerakan
“Kesehatan seksual dan reproduksi sering dianggap hal yang tabu.”
“Kesehatan seksual dan reproduksi sering dianggap hal yang tabu.”
Haefan tidak sendirian. Mengutip laporan tahunan Indorelawan pada 2025, platform kerelawanan terbesar di Indonesia ini mencatat ada 8.329 relawan aktif dari total 300.000 relawan yang terhubung dengan 6.467 komunitas dan organisasi nirlaba. Fenomena ini menandai sebuah perubahan arah gerakan sosial, menjadi konsisten digerakkan anak muda.
Haefan tidak sendirian. Mengutip laporan tahunan Indorelawan pada 2025, platform kerelawanan terbesar di Indonesia ini mencatat ada 8.329 relawan aktif dari total 300.000 relawan yang terhubung dengan 6.467 komunitas dan organisasi nirlaba. Fenomena ini menandai sebuah perubahan arah gerakan sosial, menjadi konsisten digerakkan anak muda.
Haefan tidak sendirian. Mengutip laporan tahunan Indorelawan pada 2025, platform kerelawanan terbesar di Indonesia ini mencatat ada 8.329 relawan aktif dari total 300.000 relawan yang terhubung dengan 6.467 komunitas dan organisasi nirlaba. Fenomena ini menandai sebuah perubahan arah gerakan sosial, menjadi konsisten digerakkan anak muda.
Ni Komang Ari Budiani menjadi salah satunya. Koordinator Kisara Bali ini bercerita bagaimana relawan muda di Bali berusaha memberikan edukasi kesehatan reproduksi menembus tabu.
“Kesehatan seksual dan reproduksi sering dianggap hal yang tabu. Tak jarang maknanya dipersempit sebagai ‘perilaku seksual’ semata,” kata Ari.
Hambatan itu pernah ditemui di sebuah sekolah. Saat diundang memberi edukasi, pihak sekolah meminta gambar organ reproduksi tidak ditampilkan. Ari mengakui ruang diskusi soal kespro di sekolah masih terbatas, dan tidak semua sekolah memiliki kurikulum pendidikan kespro yang komprehensif. Kisara mencoba masuk ke celah itu dengan mendorong agar isu kespro tidak hanya menjadi urusan remaja, tetapi seluruh masyarakat sekolah.
Ni Komang Ari Budiani menjadi salah satunya. Koordinator Kisara Bali ini bercerita bagaimana relawan muda di Bali berusaha memberikan edukasi kesehatan reproduksi menembus tabu.
“Kesehatan seksual dan reproduksi sering dianggap hal yang tabu. Tak jarang maknanya dipersempit sebagai ‘perilaku seksual’ semata,” kata Ari.
Hambatan itu pernah ditemui di sebuah sekolah. Saat diundang memberi edukasi, pihak sekolah meminta gambar organ reproduksi tidak ditampilkan. Ari mengakui ruang diskusi soal kespro di sekolah masih terbatas, dan tidak semua sekolah memiliki kurikulum pendidikan kespro yang komprehensif. Kisara mencoba masuk ke celah itu dengan mendorong agar isu kespro tidak hanya menjadi urusan remaja, tetapi seluruh masyarakat sekolah.
Ni Komang Ari Budiani menjadi salah satunya. Koordinator Kisara Bali ini bercerita bagaimana relawan muda di Bali berusaha memberikan edukasi kesehatan reproduksi menembus tabu.
“Kesehatan seksual dan reproduksi sering dianggap hal yang tabu. Tak jarang maknanya dipersempit sebagai ‘perilaku seksual’ semata,” kata Ari.
Hambatan itu pernah ditemui di sebuah sekolah. Saat diundang memberi edukasi, pihak sekolah meminta gambar organ reproduksi tidak ditampilkan. Ari mengakui ruang diskusi soal kespro di sekolah masih terbatas, dan tidak semua sekolah memiliki kurikulum pendidikan kespro yang komprehensif. Kisara mencoba masuk ke celah itu dengan mendorong agar isu kespro tidak hanya menjadi urusan remaja, tetapi seluruh masyarakat sekolah.

Koordinator Kisara Bali, Ni Komang Ari Budiani (Pakaian biru). (Dok.Kisara Bali)
Kisara Bali merupakan gerakan Kita Sayang Remaja dengan 150 relawan berusia belasan hingga 24 tahun, yang membuka ruang diskusi dan konseling bagi remaja di Bali. Tantangan seksual di Bali tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial dan budaya yang berkembang seiring keterbukaan industri pariwisata.
“Sikap Kisara bukan menghakimi gaya hidup remaja. Melainkan mendampingi mereka agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan ruang yang aman untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang utuh tentang diri mereka, hak-haknya, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil,” terangnya.
Kisara Bali merupakan gerakan Kita Sayang Remaja dengan 150 relawan berusia belasan hingga 24 tahun, yang membuka ruang diskusi dan konseling bagi remaja di Bali. Tantangan seksual di Bali tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial dan budaya yang berkembang seiring keterbukaan industri pariwisata.
“Sikap Kisara bukan menghakimi gaya hidup remaja. Melainkan mendampingi mereka agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan ruang yang aman untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang utuh tentang diri mereka, hak-haknya, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil,” terangnya.
Kisara Bali merupakan gerakan Kita Sayang Remaja dengan 150 relawan berusia belasan hingga 24 tahun, yang membuka ruang diskusi dan konseling bagi remaja di Bali. Tantangan seksual di Bali tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial dan budaya yang berkembang seiring keterbukaan industri pariwisata.
“Sikap Kisara bukan menghakimi gaya hidup remaja. Melainkan mendampingi mereka agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan ruang yang aman untuk mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang utuh tentang diri mereka, hak-haknya, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil,” terangnya.
Ari menghadapi kenyataan bahwa relawan akan berganti seiring pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau prioritas baru. Namun, ia tidak melihat itu sebagai ancaman. Baginya keberlanjutan gerakan tidak selalu berarti mempertahankan orang yang sama, melainkan memastikan wadah untuk belajar, berkontribusi, dan bertumbuh tetap terbuka bagi generasi berikutnya.
“Tugas kita mengupayakan agar ‘napas’ ruang belajar itu tetap tumbuh,” lanjutnya.
Ari menghadapi kenyataan bahwa relawan akan berganti seiring pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau prioritas baru. Namun, ia tidak melihat itu sebagai ancaman. Baginya keberlanjutan gerakan tidak selalu berarti mempertahankan orang yang sama, melainkan memastikan wadah untuk belajar, berkontribusi, dan bertumbuh tetap terbuka bagi generasi berikutnya.
“Tugas kita mengupayakan agar ‘napas’ ruang belajar itu tetap tumbuh,” lanjutnya.
Ari menghadapi kenyataan bahwa relawan akan berganti seiring pendidikan lanjutan, pekerjaan, atau prioritas baru. Namun, ia tidak melihat itu sebagai ancaman. Baginya keberlanjutan gerakan tidak selalu berarti mempertahankan orang yang sama, melainkan memastikan wadah untuk belajar, berkontribusi, dan bertumbuh tetap terbuka bagi generasi berikutnya.
“Tugas kita mengupayakan agar ‘napas’ ruang belajar itu tetap tumbuh,” lanjutnya.
Relawan di Garis Api
Relawan di Garis Api
Relawan di Garis Api
“Saya sampai saat ini masih butuh penjelasan kenapa anak saya bisa ada di sana (Karhutla Gunung Bromo), saya ingin mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya.”
“Saya sampai saat ini masih butuh penjelasan kenapa anak saya bisa ada di sana (Karhutla Gunung Bromo), saya ingin mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya.”
Menjadi relawan tak hanya sekadar mendapatkan teman dan pengalaman baru. Bahkan nyawa menjadi taruhannya. Di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), relawan berada di garda terdepan untuk membantu memadamkan api hingga korban terdampak. Sebanyak 10 relawan dan petugas menghembuskan napas terakhir saat berjuang. Sefriel Ardiansyah, pemuda 19 tahun, menjadi salah satu korbannya.
Menjadi relawan tak hanya sekadar mendapatkan teman dan pengalaman baru. Bahkan nyawa menjadi taruhannya. Di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), relawan berada di garda terdepan untuk membantu memadamkan api hingga korban terdampak. Sebanyak 10 relawan dan petugas menghembuskan napas terakhir saat berjuang. Sefriel Ardiansyah, pemuda 19 tahun, menjadi salah satu korbannya.
Menjadi relawan tak hanya sekadar mendapatkan teman dan pengalaman baru. Bahkan nyawa menjadi taruhannya. Di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), relawan berada di garda terdepan untuk membantu memadamkan api hingga korban terdampak. Sebanyak 10 relawan dan petugas menghembuskan napas terakhir saat berjuang. Sefriel Ardiansyah, pemuda 19 tahun, menjadi salah satu korbannya.

Sefriel Ardiansyah meninggal saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bromo. (Dokumentasi Keluarga)
Sefriel, asal Kelurahan Jrebeg Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, menjadi korban kebakaran di Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan kawasan TNBTS, wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Ayahnya, Lutfi Zulkifli, tidak pernah menyangka putranya yang baru enam bulan bekerja sebagai engineer di Hotel Artotel Bromo bisa berada di sana.
“Saya sampai saat ini masih butuh penjelasan kenapa anak saya bisa ada di sana (Karhutla Gunung Bromo), saya ingin mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Karena saya benar-benar tidak tahu apakah anak saya ikut memadamkan api,” ujarnya.
Lutfi menceritakan putranya terakhir berkomunikasi dengan keluarga pada Rabu (14/10/2026) pukul 22.30 WIB lewat WhatsApp. Sefriel mengatakan tengah memantau kondisi karhutla dan membagikan video kondisi di sekitar Blok Pusung Dawa kepada ibunya.
“Keesokan harinya (15/10/2026), anak saya sudah tidak bisa dihubungi. Tapi kata pihak manajemen (Hotel Artotel Bromo), anaknya sempat kelihatan kerja bakti jam 09.00 WIB, kemudian jam 11.00 WIB itu kelihatan ada api,” terangnya saat dikonfirmasi pada Rabu (28/10/2026).
Sefriel, asal Kelurahan Jrebeg Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, menjadi korban kebakaran di Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan kawasan TNBTS, wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Ayahnya, Lutfi Zulkifli, tidak pernah menyangka putranya yang baru enam bulan bekerja sebagai engineer di Hotel Artotel Bromo bisa berada di sana.
“Saya sampai saat ini masih butuh penjelasan kenapa anak saya bisa ada di sana (Karhutla Gunung Bromo), saya ingin mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Karena saya benar-benar tidak tahu apakah anak saya ikut memadamkan api,” ujarnya.
Lutfi menceritakan putranya terakhir berkomunikasi dengan keluarga pada Rabu (14/10/2026) pukul 22.30 WIB lewat WhatsApp. Sefriel mengatakan tengah memantau kondisi karhutla dan membagikan video kondisi di sekitar Blok Pusung Dawa kepada ibunya.
“Keesokan harinya (15/10/2026), anak saya sudah tidak bisa dihubungi. Tapi kata pihak manajemen (Hotel Artotel Bromo), anaknya sempat kelihatan kerja bakti jam 09.00 WIB, kemudian jam 11.00 WIB itu kelihatan ada api,” terangnya saat dikonfirmasi pada Rabu (28/10/2026).
Sefriel, asal Kelurahan Jrebeg Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, menjadi korban kebakaran di Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan kawasan TNBTS, wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Ayahnya, Lutfi Zulkifli, tidak pernah menyangka putranya yang baru enam bulan bekerja sebagai engineer di Hotel Artotel Bromo bisa berada di sana.
“Saya sampai saat ini masih butuh penjelasan kenapa anak saya bisa ada di sana (Karhutla Gunung Bromo), saya ingin mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Karena saya benar-benar tidak tahu apakah anak saya ikut memadamkan api,” ujarnya.
Lutfi menceritakan putranya terakhir berkomunikasi dengan keluarga pada Rabu (14/10/2026) pukul 22.30 WIB lewat WhatsApp. Sefriel mengatakan tengah memantau kondisi karhutla dan membagikan video kondisi di sekitar Blok Pusung Dawa kepada ibunya.
“Keesokan harinya (15/10/2026), anak saya sudah tidak bisa dihubungi. Tapi kata pihak manajemen (Hotel Artotel Bromo), anaknya sempat kelihatan kerja bakti jam 09.00 WIB, kemudian jam 11.00 WIB itu kelihatan ada api,” terangnya saat dikonfirmasi pada Rabu (28/10/2026).

Sefriel Ardiansyah meninggal saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bromo. (Dokumentasi Keluarga)
Kabar duka akhirnya datang dari pelatih panjat tebing Sefriel, Iwan Rosidi. Lutfi bahkan sempat tidak mempercayainya. Keluarga lalu mendatangi RSUD Tongas untuk memastikan jasad yang ditemukan adalah Sefriel.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyampaikan dalam siaran pers bahwa pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, kondisi kebakaran tiba-tiba disertai angin kencang yang membuat 6 personel terjebak di tengah api. Lima personel lainnya selamat karena lokasinya berlawanan dengan arah api.
Pada pukul 13.30 WIB, tiga personel ditemukan meninggal dunia: Sukaris, PNS BB TNBTS Kemenhut; Wisnu Yuda Pratama, staf PT Mitra Indo Permai (Hotel Artotel Bromo); dan Sefriel Ardiansyah, staf perusahaan yang sama. Hendra Rony Wagiyanata, Manggala Agni TNBTS, ditemukan luka parah dan dinyatakan meninggal dunia setelah dirawat sekitar tiga jam. Dua personel lain, Munawi dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Suraji, security PT Mitra Indo Permai, mengalami luka bakar berat. Keduanya sempat dikabarkan membaik usai cangkok kulit, tetapi Munawi meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) dan Suraji pada Jumat (23/10/2026).
Kabar duka akhirnya datang dari pelatih panjat tebing Sefriel, Iwan Rosidi. Lutfi bahkan sempat tidak mempercayainya. Keluarga lalu mendatangi RSUD Tongas untuk memastikan jasad yang ditemukan adalah Sefriel.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyampaikan dalam siaran pers bahwa pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, kondisi kebakaran tiba-tiba disertai angin kencang yang membuat 6 personel terjebak di tengah api. Lima personel lainnya selamat karena lokasinya berlawanan dengan arah api.
Pada pukul 13.30 WIB, tiga personel ditemukan meninggal dunia: Sukaris, PNS BB TNBTS Kemenhut; Wisnu Yuda Pratama, staf PT Mitra Indo Permai (Hotel Artotel Bromo); dan Sefriel Ardiansyah, staf perusahaan yang sama. Hendra Rony Wagiyanata, Manggala Agni TNBTS, ditemukan luka parah dan dinyatakan meninggal dunia setelah dirawat sekitar tiga jam. Dua personel lain, Munawi dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Suraji, security PT Mitra Indo Permai, mengalami luka bakar berat. Keduanya sempat dikabarkan membaik usai cangkok kulit, tetapi Munawi meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) dan Suraji pada Jumat (23/10/2026).
Kabar duka akhirnya datang dari pelatih panjat tebing Sefriel, Iwan Rosidi. Lutfi bahkan sempat tidak mempercayainya. Keluarga lalu mendatangi RSUD Tongas untuk memastikan jasad yang ditemukan adalah Sefriel.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyampaikan dalam siaran pers bahwa pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, kondisi kebakaran tiba-tiba disertai angin kencang yang membuat 6 personel terjebak di tengah api. Lima personel lainnya selamat karena lokasinya berlawanan dengan arah api.
Pada pukul 13.30 WIB, tiga personel ditemukan meninggal dunia: Sukaris, PNS BB TNBTS Kemenhut; Wisnu Yuda Pratama, staf PT Mitra Indo Permai (Hotel Artotel Bromo); dan Sefriel Ardiansyah, staf perusahaan yang sama. Hendra Rony Wagiyanata, Manggala Agni TNBTS, ditemukan luka parah dan dinyatakan meninggal dunia setelah dirawat sekitar tiga jam. Dua personel lain, Munawi dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Suraji, security PT Mitra Indo Permai, mengalami luka bakar berat. Keduanya sempat dikabarkan membaik usai cangkok kulit, tetapi Munawi meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) dan Suraji pada Jumat (23/10/2026).

Sefriel Ardiansyah meninggal saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bromo. (Instagram/official_pasemkada)
Lutfi mengenang Sefriel sebagai sosok humoris dan religius. Sejak kelas 2 SD ia menekuni panjat tebing, berlatih di GOR Ahmad Yani, dan mengoleksi tiga medali emas, lima perak, dan lima perunggu dari kejuaraan lokal sampai regional.
“Anaknya bahkan masuk 10 besar siswa berprestasi non-akademis. Setelah lulus dari SMKN 2 Kota Probolinggo, sempat ditawari masuk Unesa (Universitas Negeri Surabaya) karena prestasinya. Tapi terpaksa gak diambil karena ingin segera kerja membantu perekonomian keluarga,” jelasnya.
Meski disibukkan sebagai engineer di Hotel Artotel Bromo, Sefriel masih aktif menjadi pelatih panjat tebing di sela waktunya.
Lutfi mengenang Sefriel sebagai sosok humoris dan religius. Sejak kelas 2 SD ia menekuni panjat tebing, berlatih di GOR Ahmad Yani, dan mengoleksi tiga medali emas, lima perak, dan lima perunggu dari kejuaraan lokal sampai regional.
“Anaknya bahkan masuk 10 besar siswa berprestasi non-akademis. Setelah lulus dari SMKN 2 Kota Probolinggo, sempat ditawari masuk Unesa (Universitas Negeri Surabaya) karena prestasinya. Tapi terpaksa gak diambil karena ingin segera kerja membantu perekonomian keluarga,” jelasnya.
Meski disibukkan sebagai engineer di Hotel Artotel Bromo, Sefriel masih aktif menjadi pelatih panjat tebing di sela waktunya.
Lutfi mengenang Sefriel sebagai sosok humoris dan religius. Sejak kelas 2 SD ia menekuni panjat tebing, berlatih di GOR Ahmad Yani, dan mengoleksi tiga medali emas, lima perak, dan lima perunggu dari kejuaraan lokal sampai regional.
“Anaknya bahkan masuk 10 besar siswa berprestasi non-akademis. Setelah lulus dari SMKN 2 Kota Probolinggo, sempat ditawari masuk Unesa (Universitas Negeri Surabaya) karena prestasinya. Tapi terpaksa gak diambil karena ingin segera kerja membantu perekonomian keluarga,” jelasnya.
Meski disibukkan sebagai engineer di Hotel Artotel Bromo, Sefriel masih aktif menjadi pelatih panjat tebing di sela waktunya.
Akustik Amal dan Kepercayaan Donatur
Akustik Amal dan Kepercayaan Donatur
Akustik Amal dan Kepercayaan Donatur
“Kita ngasih beberapa video, kita perlihatkan secara langsung bagaimana kegiatan yang kita lakukan,”
“Kita ngasih beberapa video, kita perlihatkan secara langsung bagaimana kegiatan yang kita lakukan,”
Di Nusa Tenggara Barat, empati atas musibah juga memantik gerakan. Berawal dari kebakaran permukiman penduduk di Kabupaten Sumbawa, yang menurut Yusril Juana menghanguskan sekitar 30 sampai 40 rumah warga, belasan anak muda menggalang donasi di jalanan dan menginisiasi Komunitas Berkah Berbagi pada 2022.
Kini komunitas yang digawangi Juana itu merangkul sekitar 70 relawan, dari pelajar SMA, mahasiswa, hingga pekerja muda. Mereka bergerak di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok dengan fokus pada pendidikan dan kesehatan di daerah pelosok NTB.
Di Nusa Tenggara Barat, empati atas musibah juga memantik gerakan. Berawal dari kebakaran permukiman penduduk di Kabupaten Sumbawa, yang menurut Yusril Juana menghanguskan sekitar 30 sampai 40 rumah warga, belasan anak muda menggalang donasi di jalanan dan menginisiasi Komunitas Berkah Berbagi pada 2022.
Kini komunitas yang digawangi Juana itu merangkul sekitar 70 relawan, dari pelajar SMA, mahasiswa, hingga pekerja muda. Mereka bergerak di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok dengan fokus pada pendidikan dan kesehatan di daerah pelosok NTB.
Di Nusa Tenggara Barat, empati atas musibah juga memantik gerakan. Berawal dari kebakaran permukiman penduduk di Kabupaten Sumbawa, yang menurut Yusril Juana menghanguskan sekitar 30 sampai 40 rumah warga, belasan anak muda menggalang donasi di jalanan dan menginisiasi Komunitas Berkah Berbagi pada 2022.
Kini komunitas yang digawangi Juana itu merangkul sekitar 70 relawan, dari pelajar SMA, mahasiswa, hingga pekerja muda. Mereka bergerak di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok dengan fokus pada pendidikan dan kesehatan di daerah pelosok NTB.

Yusril Juana, inisiator Komunitas Berkah Berbagi di Nusa Tenggara Barat.(Dokumentasi Pribadi)
“Kegiatan yang sudah kita laksanakan beberapa tahun terakhir itu mulai dari panti-panti asuhan, terus juga di sekolah nonformal, sekolah yang ada di pinggir pantai. Jadi, tujuannya memang ngasih edukasi kepada anak-anak terkait kesehatan dan pendidikan,” kata Juana saat berbincang dengan IDN Times, Jumat (30/10/2026).
Selain menggalang donasi di jalanan, Juana mencoba mengemas cara berdonasi yang lebih asyik.
“Jadi saat itu kita menggandeng beberapa influencer yang ada di Lombok dan Sumbawa. Kebetulan kita mengajak mereka itu untuk semisal, kan, ada influencer yang pandai menyanyi. Kita membuat kegiatan akustik amal,” tuturnya.
Mereka juga menggandeng tokoh publik seperti anggota DPRD untuk menggelar akustik amal di kedai kopi. Pengunjung tidak hanya dihibur musik, tetapi juga tergerak mendonasikan sebagian rezekinya.
Kepercayaan donatur, dari kalangan wirausaha, politisi, hingga masyarakat, dijaga dengan transparansi. Seluruh kegiatan didokumentasikan secara visual di media sosial.
“Ketika kita menyakurkan bantuan, bisa saja suatu waktu orang berpikir mungkin uang ini enggak sesuai arahnya atau tujuannya karena ada beberapa yang tidak memantau media sosial kita. Kita ngasih beberapa video, kita perlihatkan secara langsung bagaimana kegiatan yang kita lakukan,” kata dia.
“Kegiatan yang sudah kita laksanakan beberapa tahun terakhir itu mulai dari panti-panti asuhan, terus juga di sekolah nonformal, sekolah yang ada di pinggir pantai. Jadi, tujuannya memang ngasih edukasi kepada anak-anak terkait kesehatan dan pendidikan,” kata Juana saat berbincang dengan IDN Times, Jumat (30/10/2026).
Selain menggalang donasi di jalanan, Juana mencoba mengemas cara berdonasi yang lebih asyik.
“Jadi saat itu kita menggandeng beberapa influencer yang ada di Lombok dan Sumbawa. Kebetulan kita mengajak mereka itu untuk semisal, kan, ada influencer yang pandai menyanyi. Kita membuat kegiatan akustik amal,” tuturnya.
Mereka juga menggandeng tokoh publik seperti anggota DPRD untuk menggelar akustik amal di kedai kopi. Pengunjung tidak hanya dihibur musik, tetapi juga tergerak mendonasikan sebagian rezekinya.
Kepercayaan donatur, dari kalangan wirausaha, politisi, hingga masyarakat, dijaga dengan transparansi. Seluruh kegiatan didokumentasikan secara visual di media sosial.
“Ketika kita menyakurkan bantuan, bisa saja suatu waktu orang berpikir mungkin uang ini enggak sesuai arahnya atau tujuannya karena ada beberapa yang tidak memantau media sosial kita. Kita ngasih beberapa video, kita perlihatkan secara langsung bagaimana kegiatan yang kita lakukan,” kata dia.
“Kegiatan yang sudah kita laksanakan beberapa tahun terakhir itu mulai dari panti-panti asuhan, terus juga di sekolah nonformal, sekolah yang ada di pinggir pantai. Jadi, tujuannya memang ngasih edukasi kepada anak-anak terkait kesehatan dan pendidikan,” kata Juana saat berbincang dengan IDN Times, Jumat (30/10/2026).
Selain menggalang donasi di jalanan, Juana mencoba mengemas cara berdonasi yang lebih asyik.
“Jadi saat itu kita menggandeng beberapa influencer yang ada di Lombok dan Sumbawa. Kebetulan kita mengajak mereka itu untuk semisal, kan, ada influencer yang pandai menyanyi. Kita membuat kegiatan akustik amal,” tuturnya.
Mereka juga menggandeng tokoh publik seperti anggota DPRD untuk menggelar akustik amal di kedai kopi. Pengunjung tidak hanya dihibur musik, tetapi juga tergerak mendonasikan sebagian rezekinya.
Kepercayaan donatur, dari kalangan wirausaha, politisi, hingga masyarakat, dijaga dengan transparansi. Seluruh kegiatan didokumentasikan secara visual di media sosial.
“Ketika kita menyakurkan bantuan, bisa saja suatu waktu orang berpikir mungkin uang ini enggak sesuai arahnya atau tujuannya karena ada beberapa yang tidak memantau media sosial kita. Kita ngasih beberapa video, kita perlihatkan secara langsung bagaimana kegiatan yang kita lakukan,” kata dia.
Tantangan terbesar berkaitan dengan birokrasi penyaluran bantuan ke wilayah terpencil, yang membutuhkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Karena akses menuju lokasi bencana cukup sulit dan nominal bantuan sedikit, mereka menyalurkan bantuan lewat BPBD setelah donasi terkumpul lebih banyak.
Pengalaman paling membekas bagi Juana lahir saat turun langsung menangani korban bencana alam, tidak sekadar mendistribusikan logistik, tetapi juga memberikan trauma healing bagi anak-anak korban.
“Ketika kita melihat orang tua kehilangan kendaraan dan bangunan mereka, tapi mereka masih bisa tersenyum saat itu, di situ saya melihat ternyata kebahagiaan itu bukan tentang harta. Ketika kita berbaur dan terjun bersama mereka, rasa kebahagiaan yang benar-benar hakiki itu dirasakan di sana,” ungkap Juana.
Dalam satu tahun terakhir, sebagian besar pengurus inti dan relawan mulai disibukkan penyelesaian studi, pekerjaan, hingga S2. Semangat kepedulian tetap diwariskan, kata Juana, yang berharap nilai-nilai itu terus dibawa para relawan di mana pun mereka berada.
Tantangan terbesar berkaitan dengan birokrasi penyaluran bantuan ke wilayah terpencil, yang membutuhkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Karena akses menuju lokasi bencana cukup sulit dan nominal bantuan sedikit, mereka menyalurkan bantuan lewat BPBD setelah donasi terkumpul lebih banyak.
Pengalaman paling membekas bagi Juana lahir saat turun langsung menangani korban bencana alam, tidak sekadar mendistribusikan logistik, tetapi juga memberikan trauma healing bagi anak-anak korban.
“Ketika kita melihat orang tua kehilangan kendaraan dan bangunan mereka, tapi mereka masih bisa tersenyum saat itu, di situ saya melihat ternyata kebahagiaan itu bukan tentang harta. Ketika kita berbaur dan terjun bersama mereka, rasa kebahagiaan yang benar-benar hakiki itu dirasakan di sana,” ungkap Juana.
Dalam satu tahun terakhir, sebagian besar pengurus inti dan relawan mulai disibukkan penyelesaian studi, pekerjaan, hingga S2. Semangat kepedulian tetap diwariskan, kata Juana, yang berharap nilai-nilai itu terus dibawa para relawan di mana pun mereka berada.
Tantangan terbesar berkaitan dengan birokrasi penyaluran bantuan ke wilayah terpencil, yang membutuhkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Karena akses menuju lokasi bencana cukup sulit dan nominal bantuan sedikit, mereka menyalurkan bantuan lewat BPBD setelah donasi terkumpul lebih banyak.
Pengalaman paling membekas bagi Juana lahir saat turun langsung menangani korban bencana alam, tidak sekadar mendistribusikan logistik, tetapi juga memberikan trauma healing bagi anak-anak korban.
“Ketika kita melihat orang tua kehilangan kendaraan dan bangunan mereka, tapi mereka masih bisa tersenyum saat itu, di situ saya melihat ternyata kebahagiaan itu bukan tentang harta. Ketika kita berbaur dan terjun bersama mereka, rasa kebahagiaan yang benar-benar hakiki itu dirasakan di sana,” ungkap Juana.
Dalam satu tahun terakhir, sebagian besar pengurus inti dan relawan mulai disibukkan penyelesaian studi, pekerjaan, hingga S2. Semangat kepedulian tetap diwariskan, kata Juana, yang berharap nilai-nilai itu terus dibawa para relawan di mana pun mereka berada.
Dari Rumah Susun hingga Ruang Dialog Kota
Dari Rumah Susun hingga Ruang Dialog Kota
Dari Rumah Susun hingga Ruang Dialog Kota
“Kami menyadari, bahwa perubahan tidak bisa terjadi hanya melalui satu kegiatan.”
“Kami menyadari, bahwa perubahan tidak bisa terjadi hanya melalui satu kegiatan.”
Di Palembang, sejumlah anak muda bergerak mengkritisi permasalahan lingkungan sekaligus membantu warga. Menurut Humas Benah Palembang, Muhammad Ryan Pratama, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya, komunitas ini dibentuk pada 2024 dari keresahan anak muda atas pembangunan kota yang dinilai melambat, baik infrastruktur maupun ruang kreatif.
“Kami memiliki keinginan untuk ikut terlibat dalam berbagai dinamika kota, mulai dari kebijakan dan tata kelola, ruang publik, industri kreatif, seni, budaya, hingga kehidupan masyarakat urban,” jelas Ryan.
Di Palembang, sejumlah anak muda bergerak mengkritisi permasalahan lingkungan sekaligus membantu warga. Menurut Humas Benah Palembang, Muhammad Ryan Pratama, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya, komunitas ini dibentuk pada 2024 dari keresahan anak muda atas pembangunan kota yang dinilai melambat, baik infrastruktur maupun ruang kreatif.
“Kami memiliki keinginan untuk ikut terlibat dalam berbagai dinamika kota, mulai dari kebijakan dan tata kelola, ruang publik, industri kreatif, seni, budaya, hingga kehidupan masyarakat urban,” jelas Ryan.
Di Palembang, sejumlah anak muda bergerak mengkritisi permasalahan lingkungan sekaligus membantu warga. Menurut Humas Benah Palembang, Muhammad Ryan Pratama, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya, komunitas ini dibentuk pada 2024 dari keresahan anak muda atas pembangunan kota yang dinilai melambat, baik infrastruktur maupun ruang kreatif.
“Kami memiliki keinginan untuk ikut terlibat dalam berbagai dinamika kota, mulai dari kebijakan dan tata kelola, ruang publik, industri kreatif, seni, budaya, hingga kehidupan masyarakat urban,” jelas Ryan.

Komunitas Benah Palembang Saat Menggelar Acara di Rumah Susun (Dokumentasi Komunitas Benah Palembang)
Benah membagikan pakaian layak dan makanan bagi warga, salah satunya di kawasan rumah susun 24-26 Ilir, mengadakan ruang ekspresi bagi musisi lokal, dan terbaru berkolaborasi dengan Warga Jaga Warga untuk membantu warga terdampak kabut asap karhutla.
Benah membagikan pakaian layak dan makanan bagi warga, salah satunya di kawasan rumah susun 24-26 Ilir, mengadakan ruang ekspresi bagi musisi lokal, dan terbaru berkolaborasi dengan Warga Jaga Warga untuk membantu warga terdampak kabut asap karhutla.

Kegiatan Lantun event kreatif Komunitas Benah Palembang (Dokunentasi Komunitas Benah Palembang)
Kegiatannya terbagi tiga. Ruang Bebas Rupiah menghadirkan pendidikan, tes kesehatan, dan pakaian gratis. Ruang Benah adalah dialog publik tentang tata kelola kota, lingkungan, dan sosial budaya Palembang bersama akademisi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Benah Jelajah mengenalkan tempat menarik yang belum banyak diketahui, mendokumentasikannya, dan berbincang dengan orang di baliknya.
“Kami menyadari, bahwa perubahan tidak bisa terjadi hanya melalui satu kegiatan. Karena itu, bagi Benah, setiap program merupakan bagian dari proses membangun kesadaran, memperkuat kolaborasi, dan mendorong keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan,” kata dia.
Kegiatannya terbagi tiga. Ruang Bebas Rupiah menghadirkan pendidikan, tes kesehatan, dan pakaian gratis. Ruang Benah adalah dialog publik tentang tata kelola kota, lingkungan, dan sosial budaya Palembang bersama akademisi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Benah Jelajah mengenalkan tempat menarik yang belum banyak diketahui, mendokumentasikannya, dan berbincang dengan orang di baliknya.
“Kami menyadari, bahwa perubahan tidak bisa terjadi hanya melalui satu kegiatan. Karena itu, bagi Benah, setiap program merupakan bagian dari proses membangun kesadaran, memperkuat kolaborasi, dan mendorong keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan,” kata dia.
Kegiatannya terbagi tiga. Ruang Bebas Rupiah menghadirkan pendidikan, tes kesehatan, dan pakaian gratis. Ruang Benah adalah dialog publik tentang tata kelola kota, lingkungan, dan sosial budaya Palembang bersama akademisi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Benah Jelajah mengenalkan tempat menarik yang belum banyak diketahui, mendokumentasikannya, dan berbincang dengan orang di baliknya.
“Kami menyadari, bahwa perubahan tidak bisa terjadi hanya melalui satu kegiatan. Karena itu, bagi Benah, setiap program merupakan bagian dari proses membangun kesadaran, memperkuat kolaborasi, dan mendorong keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan,” kata dia.
Piring Makan sebagai Arsip Budaya
Piring Makan sebagai Arsip Budaya
Piring Makan sebagai Arsip Budaya
“Berbicara tentang makanan, kita berbicara tentang alam dan manusianya.”
“Berbicara tentang makanan, kita berbicara tentang alam dan manusianya.”
Bagi kebanyakan orang, sepiring makanan hanya pengisi perut. Namun, bagi Wilda Yanti Salam, perempuan asal Sulawesi Selatan berusia 27 tahun, beras, perasan sagu, hingga bumbu tradisional adalah arsip hidup yang merekam sejarah, ingatan kolektif, dan relasi manusia dengan tanah kelahirannya.
Lewat buku esai Kisah Kasih dari Dapur (Penerbit Partikular, 2024), serial dokumenter Pacukka (2024), dan kolektif Memodapur yang ia bidani, Wilda berupaya mengembalikan makanan ke dalam diskursus kebudayaan yang selama ini didominasi tari-tarian atau seni pertunjukan konvensional.
Bagi kebanyakan orang, sepiring makanan hanya pengisi perut. Namun, bagi Wilda Yanti Salam, perempuan asal Sulawesi Selatan berusia 27 tahun, beras, perasan sagu, hingga bumbu tradisional adalah arsip hidup yang merekam sejarah, ingatan kolektif, dan relasi manusia dengan tanah kelahirannya.
Lewat buku esai Kisah Kasih dari Dapur (Penerbit Partikular, 2024), serial dokumenter Pacukka (2024), dan kolektif Memodapur yang ia bidani, Wilda berupaya mengembalikan makanan ke dalam diskursus kebudayaan yang selama ini didominasi tari-tarian atau seni pertunjukan konvensional.
Bagi kebanyakan orang, sepiring makanan hanya pengisi perut. Namun, bagi Wilda Yanti Salam, perempuan asal Sulawesi Selatan berusia 27 tahun, beras, perasan sagu, hingga bumbu tradisional adalah arsip hidup yang merekam sejarah, ingatan kolektif, dan relasi manusia dengan tanah kelahirannya.
Lewat buku esai Kisah Kasih dari Dapur (Penerbit Partikular, 2024), serial dokumenter Pacukka (2024), dan kolektif Memodapur yang ia bidani, Wilda berupaya mengembalikan makanan ke dalam diskursus kebudayaan yang selama ini didominasi tari-tarian atau seni pertunjukan konvensional.

Penulis dan peneliti pangan Sulsel, Wilda Yanti Salam (paling kanan), saat menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini di Kabupaten Enrekang. (dok. Pribadi)
Keakraban Wilda dengan pangan tumbuh sejak kecil di Luwu Timur, bersama ibunya yang mengelola warung makan. Baru ketika merantau ke Makassar dan berinteraksi di ruang komunitas sosial-budaya, matanya terbuka bahwa piring makan menyimpan banyak isu yang jarang dibicarakan.
“Kalau bicara tentang kebudayaan, seringnya pasti yang konvensional seperti tarian atau musik. Makanan jarang sekali dilihat sebagai bagian dari kebudayaan dan susah sekali menemukan arsip atau bahan bacaannya. Itu menjadi titik awal saya memilih untuk meneliti isu ini,” kenang Wilda.
Penelitian itu membawanya pada krisis kedaulatan di akar rumput. Pangan lokal Sulawesi Selatan berkarakter slow food, dengan bahan baku yang butuh waktu berbulan-bulan untuk dipanen, sementara sistem ekonomi menuntut serba cepat. Petani kini bergantung pada bibit hibrida, pupuk kimia, dan pestisida yang dibeli.
“Sagu itu butuh waktu tiga hingga enam bulan lebih untuk dipanen, tidak seperti padi irigasi yang cuma butuh satu hingga tiga bulan. Sementara itu, petani dan komunitas dihadapkan kepada bahan pangan itu hanya dilihat dari nilainya yang bisa ditukar dengan uang atau nilai ekonomi,” jelas penulis yang pernah diundang sebagai pembicara di Makassar International Writers Festival 2025 dan Ubud Writers Readers Festival 2025 tersebut.
Keakraban Wilda dengan pangan tumbuh sejak kecil di Luwu Timur, bersama ibunya yang mengelola warung makan. Baru ketika merantau ke Makassar dan berinteraksi di ruang komunitas sosial-budaya, matanya terbuka bahwa piring makan menyimpan banyak isu yang jarang dibicarakan.
“Kalau bicara tentang kebudayaan, seringnya pasti yang konvensional seperti tarian atau musik. Makanan jarang sekali dilihat sebagai bagian dari kebudayaan dan susah sekali menemukan arsip atau bahan bacaannya. Itu menjadi titik awal saya memilih untuk meneliti isu ini,” kenang Wilda.
Penelitian itu membawanya pada krisis kedaulatan di akar rumput. Pangan lokal Sulawesi Selatan berkarakter slow food, dengan bahan baku yang butuh waktu berbulan-bulan untuk dipanen, sementara sistem ekonomi menuntut serba cepat. Petani kini bergantung pada bibit hibrida, pupuk kimia, dan pestisida yang dibeli.
“Sagu itu butuh waktu tiga hingga enam bulan lebih untuk dipanen, tidak seperti padi irigasi yang cuma butuh satu hingga tiga bulan. Sementara itu, petani dan komunitas dihadapkan kepada bahan pangan itu hanya dilihat dari nilainya yang bisa ditukar dengan uang atau nilai ekonomi,” jelas penulis yang pernah diundang sebagai pembicara di Makassar International Writers Festival 2025 dan Ubud Writers Readers Festival 2025 tersebut.
Keakraban Wilda dengan pangan tumbuh sejak kecil di Luwu Timur, bersama ibunya yang mengelola warung makan. Baru ketika merantau ke Makassar dan berinteraksi di ruang komunitas sosial-budaya, matanya terbuka bahwa piring makan menyimpan banyak isu yang jarang dibicarakan.
“Kalau bicara tentang kebudayaan, seringnya pasti yang konvensional seperti tarian atau musik. Makanan jarang sekali dilihat sebagai bagian dari kebudayaan dan susah sekali menemukan arsip atau bahan bacaannya. Itu menjadi titik awal saya memilih untuk meneliti isu ini,” kenang Wilda.
Penelitian itu membawanya pada krisis kedaulatan di akar rumput. Pangan lokal Sulawesi Selatan berkarakter slow food, dengan bahan baku yang butuh waktu berbulan-bulan untuk dipanen, sementara sistem ekonomi menuntut serba cepat. Petani kini bergantung pada bibit hibrida, pupuk kimia, dan pestisida yang dibeli.
“Sagu itu butuh waktu tiga hingga enam bulan lebih untuk dipanen, tidak seperti padi irigasi yang cuma butuh satu hingga tiga bulan. Sementara itu, petani dan komunitas dihadapkan kepada bahan pangan itu hanya dilihat dari nilainya yang bisa ditukar dengan uang atau nilai ekonomi,” jelas penulis yang pernah diundang sebagai pembicara di Makassar International Writers Festival 2025 dan Ubud Writers Readers Festival 2025 tersebut.

Wilda Yanti Salam, peneliti dan penulis esai bertema pangan tradisional Sulawesi Selatan. (dok. Pribadi)
Stigma bahwa beras lebih baik dari sagu dialami banyak keluarga passambe (pengolah sagu) di Luwu, karena beras dianggap simbol status sosial lebih tinggi, diperparah absennya kebijakan konkret pemerintah menjamin ketersediaan pangan lokal di pasar.
“Sekarang kita bisa membeli beras Rp13 ribu hingga Rp18 ribu per liter, sedangkan kita bisa membeli sagu dengan harga tiga kali lipat lebih murah. Pangan lokal memiliki potensi untuk dilestarikan dan dilihat memiliki nilai ekonomi. Tapi, jika dilihat lagi dari konteks budayanya, passambe sebagai orang yang bisa mengolah bahan baku sagu itu justru dianggap sebagai orang miskin dan beras justru dianggap lebih baik dari sagu. Jadi layer-layer ekonomi dan budayanya perlu dilihat,” ungkap Wilda.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan produk instan di perkotaan, Wilda menyimpan kecemasan mendalam. Menurutnya, penetrasi junk food tidak cuma mengubah apa yang dikonsumsi tubuh, melainkan memutus keterikatan emosional manusia dengan sumber pangannya. Ketika seseorang mengonsumsi makanan instan, ia tidak lagi tahu siapa yang menanam bahannya, bagaimana proses produksinya, dan dari tanah mana asalnya.
“Kita tidak berbicara tentang pangannya saja, tapi juga berbicara tentang relasi kita dengan alam, dengan orang-orang yang menanamnya. Contohnya kenapa kita tidak merasa tanaman sawit itu berbahaya dan merusak karena kita sudah hidup di era di mana makanan itu serba digoreng sehingga minyak goreng dibutuhkan. Padahal banyak sumber tanaman dan pohon yang menghasilkan bahan pangan lain yang lebih sehat, ramah lingkungan dan sama ramahnya untuk tubuh kita,” paparnya.
Stigma bahwa beras lebih baik dari sagu dialami banyak keluarga passambe (pengolah sagu) di Luwu, karena beras dianggap simbol status sosial lebih tinggi, diperparah absennya kebijakan konkret pemerintah menjamin ketersediaan pangan lokal di pasar.
“Sekarang kita bisa membeli beras Rp13 ribu hingga Rp18 ribu per liter, sedangkan kita bisa membeli sagu dengan harga tiga kali lipat lebih murah. Pangan lokal memiliki potensi untuk dilestarikan dan dilihat memiliki nilai ekonomi. Tapi, jika dilihat lagi dari konteks budayanya, passambe sebagai orang yang bisa mengolah bahan baku sagu itu justru dianggap sebagai orang miskin dan beras justru dianggap lebih baik dari sagu. Jadi layer-layer ekonomi dan budayanya perlu dilihat,” ungkap Wilda.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan produk instan di perkotaan, Wilda menyimpan kecemasan mendalam. Menurutnya, penetrasi junk food tidak cuma mengubah apa yang dikonsumsi tubuh, melainkan memutus keterikatan emosional manusia dengan sumber pangannya. Ketika seseorang mengonsumsi makanan instan, ia tidak lagi tahu siapa yang menanam bahannya, bagaimana proses produksinya, dan dari tanah mana asalnya.
“Kita tidak berbicara tentang pangannya saja, tapi juga berbicara tentang relasi kita dengan alam, dengan orang-orang yang menanamnya. Contohnya kenapa kita tidak merasa tanaman sawit itu berbahaya dan merusak karena kita sudah hidup di era di mana makanan itu serba digoreng sehingga minyak goreng dibutuhkan. Padahal banyak sumber tanaman dan pohon yang menghasilkan bahan pangan lain yang lebih sehat, ramah lingkungan dan sama ramahnya untuk tubuh kita,” paparnya.
Stigma bahwa beras lebih baik dari sagu dialami banyak keluarga passambe (pengolah sagu) di Luwu, karena beras dianggap simbol status sosial lebih tinggi, diperparah absennya kebijakan konkret pemerintah menjamin ketersediaan pangan lokal di pasar.
“Sekarang kita bisa membeli beras Rp13 ribu hingga Rp18 ribu per liter, sedangkan kita bisa membeli sagu dengan harga tiga kali lipat lebih murah. Pangan lokal memiliki potensi untuk dilestarikan dan dilihat memiliki nilai ekonomi. Tapi, jika dilihat lagi dari konteks budayanya, passambe sebagai orang yang bisa mengolah bahan baku sagu itu justru dianggap sebagai orang miskin dan beras justru dianggap lebih baik dari sagu. Jadi layer-layer ekonomi dan budayanya perlu dilihat,” ungkap Wilda.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan produk instan di perkotaan, Wilda menyimpan kecemasan mendalam. Menurutnya, penetrasi junk food tidak cuma mengubah apa yang dikonsumsi tubuh, melainkan memutus keterikatan emosional manusia dengan sumber pangannya. Ketika seseorang mengonsumsi makanan instan, ia tidak lagi tahu siapa yang menanam bahannya, bagaimana proses produksinya, dan dari tanah mana asalnya.
“Kita tidak berbicara tentang pangannya saja, tapi juga berbicara tentang relasi kita dengan alam, dengan orang-orang yang menanamnya. Contohnya kenapa kita tidak merasa tanaman sawit itu berbahaya dan merusak karena kita sudah hidup di era di mana makanan itu serba digoreng sehingga minyak goreng dibutuhkan. Padahal banyak sumber tanaman dan pohon yang menghasilkan bahan pangan lain yang lebih sehat, ramah lingkungan dan sama ramahnya untuk tubuh kita,” paparnya.

Salah satu kegiatan kelompok belajar Memodapur yang membahas isu-isu pangan Sulawesi Selatan. (dok. Pribadi)
Pada 2019, bersama rekan-rekannya, Wilda mendirikan kolektif Memodapur untuk mengajak anak muda memandang pangan bukan sekadar komoditas pariwisata, melainkan sumber pengetahuan dan ruang kritis.
“Waktu itu belum banyak komunitas di Sulawesi Selatan yang membahas tentang makanan. Tapi memang yang mendasari kami membentuknya karena belum ada ruang untuk belajar isu makanan dan pangan, serta melihatnya dari aspek kebudayaan. Banyak komunitas makanan, tapi pendekatannya lebih dari aspek tourism. Kita mau agar anak muda bisa belajar tentang isu pangan dan menganggapnya juga sebagai pengetahuan,” katanya.
Memodapur juga menjadi cara Wilda memutus stigma bahwa isu pangan lokal itu “kuno” dan berat. Ia mengeksplorasi medium yang relevan bagi Gen Z: buku esai tipis bersampul meriah, serial dokumenter Pacukka, serta lokakarya memasak dan pembuatan zine.
“Model belajar kita sekarang lebih playful. Kita harus berani mengeksplorasi metode yang cocok dengan cara anak muda agar mereka merasa terlibat dan tidak takut untuk belajar,” ujar penulis yang baru saja merilis buku kumpulan esai keduanya, Keliling Dapur Tujuh Kali (Penerbit Partikular).
Sejak 2024, Wilda menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini di Desa Adat Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang. Di sana ia belajar bagaimana warga memperlakukan alam dan menjaga keaslian bumbu tanpa zat aditif buatan.
“Di situ saja belajar bahwa jika belajar pangan dan budaya, kita tidak lagi meromantisasi kebudayaan atau cara-cara memasak itu. Saya belajar di sana bahwa makna makanan lebih dari itu. Kita berbicara tentang labor of love dari orang-orang yang memasak, tentang bagaimana kita memperlakukan alam di sekitar kita, tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang tua yang memasak untuk kita,” ungkap sosok yang pernah menjadi asisten kurator Makassar Biennale 2021 tersebut.
Bagi Wilda pribadi, setiap suapan adalah sikap politik, upaya merawat ingatan tentang kampung halaman dan melestarikan pengetahuan leluhur agar tidak lenyap ditelan zaman.
“Berbicara tentang makanan, kita berbicara tentang alam dan manusianya. Alam yang menyediakan dan menumbuhkan itu semua, dan tentang manusia yang berusaha mengolah apa yang disediakan,” pungkasnya.
Pada 2019, bersama rekan-rekannya, Wilda mendirikan kolektif Memodapur untuk mengajak anak muda memandang pangan bukan sekadar komoditas pariwisata, melainkan sumber pengetahuan dan ruang kritis.
“Waktu itu belum banyak komunitas di Sulawesi Selatan yang membahas tentang makanan. Tapi memang yang mendasari kami membentuknya karena belum ada ruang untuk belajar isu makanan dan pangan, serta melihatnya dari aspek kebudayaan. Banyak komunitas makanan, tapi pendekatannya lebih dari aspek tourism. Kita mau agar anak muda bisa belajar tentang isu pangan dan menganggapnya juga sebagai pengetahuan,” katanya.
Memodapur juga menjadi cara Wilda memutus stigma bahwa isu pangan lokal itu “kuno” dan berat. Ia mengeksplorasi medium yang relevan bagi Gen Z: buku esai tipis bersampul meriah, serial dokumenter Pacukka, serta lokakarya memasak dan pembuatan zine.
“Model belajar kita sekarang lebih playful. Kita harus berani mengeksplorasi metode yang cocok dengan cara anak muda agar mereka merasa terlibat dan tidak takut untuk belajar,” ujar penulis yang baru saja merilis buku kumpulan esai keduanya, Keliling Dapur Tujuh Kali (Penerbit Partikular).
Sejak 2024, Wilda menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini di Desa Adat Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang. Di sana ia belajar bagaimana warga memperlakukan alam dan menjaga keaslian bumbu tanpa zat aditif buatan.
“Di situ saja belajar bahwa jika belajar pangan dan budaya, kita tidak lagi meromantisasi kebudayaan atau cara-cara memasak itu. Saya belajar di sana bahwa makna makanan lebih dari itu. Kita berbicara tentang labor of love dari orang-orang yang memasak, tentang bagaimana kita memperlakukan alam di sekitar kita, tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang tua yang memasak untuk kita,” ungkap sosok yang pernah menjadi asisten kurator Makassar Biennale 2021 tersebut.
Bagi Wilda pribadi, setiap suapan adalah sikap politik, upaya merawat ingatan tentang kampung halaman dan melestarikan pengetahuan leluhur agar tidak lenyap ditelan zaman.
“Berbicara tentang makanan, kita berbicara tentang alam dan manusianya. Alam yang menyediakan dan menumbuhkan itu semua, dan tentang manusia yang berusaha mengolah apa yang disediakan,” pungkasnya.
Pada 2019, bersama rekan-rekannya, Wilda mendirikan kolektif Memodapur untuk mengajak anak muda memandang pangan bukan sekadar komoditas pariwisata, melainkan sumber pengetahuan dan ruang kritis.
“Waktu itu belum banyak komunitas di Sulawesi Selatan yang membahas tentang makanan. Tapi memang yang mendasari kami membentuknya karena belum ada ruang untuk belajar isu makanan dan pangan, serta melihatnya dari aspek kebudayaan. Banyak komunitas makanan, tapi pendekatannya lebih dari aspek tourism. Kita mau agar anak muda bisa belajar tentang isu pangan dan menganggapnya juga sebagai pengetahuan,” katanya.
Memodapur juga menjadi cara Wilda memutus stigma bahwa isu pangan lokal itu “kuno” dan berat. Ia mengeksplorasi medium yang relevan bagi Gen Z: buku esai tipis bersampul meriah, serial dokumenter Pacukka, serta lokakarya memasak dan pembuatan zine.
“Model belajar kita sekarang lebih playful. Kita harus berani mengeksplorasi metode yang cocok dengan cara anak muda agar mereka merasa terlibat dan tidak takut untuk belajar,” ujar penulis yang baru saja merilis buku kumpulan esai keduanya, Keliling Dapur Tujuh Kali (Penerbit Partikular).
Sejak 2024, Wilda menjadi bagian dari tim penyelenggara Festival Budaya Kaluppini di Desa Adat Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang. Di sana ia belajar bagaimana warga memperlakukan alam dan menjaga keaslian bumbu tanpa zat aditif buatan.
“Di situ saja belajar bahwa jika belajar pangan dan budaya, kita tidak lagi meromantisasi kebudayaan atau cara-cara memasak itu. Saya belajar di sana bahwa makna makanan lebih dari itu. Kita berbicara tentang labor of love dari orang-orang yang memasak, tentang bagaimana kita memperlakukan alam di sekitar kita, tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang tua yang memasak untuk kita,” ungkap sosok yang pernah menjadi asisten kurator Makassar Biennale 2021 tersebut.
Bagi Wilda pribadi, setiap suapan adalah sikap politik, upaya merawat ingatan tentang kampung halaman dan melestarikan pengetahuan leluhur agar tidak lenyap ditelan zaman.
“Berbicara tentang makanan, kita berbicara tentang alam dan manusianya. Alam yang menyediakan dan menumbuhkan itu semua, dan tentang manusia yang berusaha mengolah apa yang disediakan,” pungkasnya.
Harapan dari Tempat yang Gelap
Harapan dari Tempat yang Gelap
Harapan dari Tempat yang Gelap

Komunitas Benah Palembang Saat Menggelar Acara di Rumah Susun (Dokumentasi Komunitas Benah Palembang)
“Sebab jika tidak turun ke tempat yang gelap, kita tidak pernah tahu bahwa di sana sebenarnya ada bintang yang sedang redup.”
“Sebab jika tidak turun ke tempat yang gelap, kita tidak pernah tahu bahwa di sana sebenarnya ada bintang yang sedang redup.”
Dari Babarsari, harapan Haefan tidak berhenti pada kerja relawan. Baginya, upaya mendampingi anak-anak marjinal tidak bisa hanya mengandalkan komunitas dan relawan. Pemerintah serta perangkat di tingkat lokal juga perlu hadir untuk mendengarkan kebutuhan warga dan membantu mengatasi hambatan administratif yang mereka hadapi.
Ia berharap anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan memperoleh kesempatan dan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan potensinya.
“Sebab jika tidak turun ke tempat yang gelap, kita tidak pernah tahu bahwa di sana sebenarnya ada bintang yang sedang redup. Jika diberi kesempatan dan fasilitas, mereka bisa bersinar lebih terang,” pungkasnya.
Dari Babarsari, harapan Haefan tidak berhenti pada kerja relawan. Baginya, upaya mendampingi anak-anak marjinal tidak bisa hanya mengandalkan komunitas dan relawan. Pemerintah serta perangkat di tingkat lokal juga perlu hadir untuk mendengarkan kebutuhan warga dan membantu mengatasi hambatan administratif yang mereka hadapi.
Ia berharap anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan memperoleh kesempatan dan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan potensinya.
“Sebab jika tidak turun ke tempat yang gelap, kita tidak pernah tahu bahwa di sana sebenarnya ada bintang yang sedang redup. Jika diberi kesempatan dan fasilitas, mereka bisa bersinar lebih terang,” pungkasnya.
Dari Babarsari, harapan Haefan tidak berhenti pada kerja relawan. Baginya, upaya mendampingi anak-anak marjinal tidak bisa hanya mengandalkan komunitas dan relawan. Pemerintah serta perangkat di tingkat lokal juga perlu hadir untuk mendengarkan kebutuhan warga dan membantu mengatasi hambatan administratif yang mereka hadapi.
Ia berharap anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan memperoleh kesempatan dan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan potensinya.
“Sebab jika tidak turun ke tempat yang gelap, kita tidak pernah tahu bahwa di sana sebenarnya ada bintang yang sedang redup. Jika diberi kesempatan dan fasilitas, mereka bisa bersinar lebih terang,” pungkasnya.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Disusun oleh
Tim Editorial
Irwan Idris - Project Lead/Editor
Febriana Sinta - Project Lead/Editor
Yogie Fadila - Editor
Reporter
Fenny Maulia Agustin
Irma Yudhistira
Paulus Risang
Muhammad Nasir
Irwan Idris
Rizal Adhi Pratama (Kontributor)
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.






































