


Makanan selesai dimasak pukul 05.00 WIB, tetapi baru disantap pukul 13.00 WIB. Jeda tujuh jam ini bukan sekadar urusan waktu, melainkan taruhan suhu, distribusi, dan risiko keamanan pangan.
Di tengah masifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), kasus keracunan terus berulang. Problem keterlambatan distribusi di Sidoarjo hingga masalah higiene dapur di daerah lain, membongkar celah fatal dalam rantai pasok.
Saat satu dapur melayani ribuan porsi, kelalaian kecil berdampak sistemik. Lantas, di mana titik krusial kegagalan MBG: dapur, distribusi, atau lemahnya regulasi?
Makanan selesai dimasak pukul 05.00 WIB, tetapi baru disantap pukul 13.00 WIB. Jeda tujuh jam ini bukan sekadar urusan waktu, melainkan taruhan suhu, distribusi, dan risiko keamanan pangan.
Di tengah masifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), kasus keracunan terus berulang. Problem keterlambatan distribusi di Sidoarjo hingga masalah higiene dapur di daerah lain, membongkar celah fatal dalam rantai pasok.
Saat satu dapur melayani ribuan porsi, kelalaian kecil berdampak sistemik. Lantas, di mana titik krusial kegagalan MBG: dapur, distribusi, atau lemahnya regulasi?
Makanan selesai dimasak pukul 05.00 WIB, tetapi baru disantap pukul 13.00 WIB. Jeda tujuh jam ini bukan sekadar urusan waktu, melainkan taruhan suhu, distribusi, dan risiko keamanan pangan.
Di tengah masifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), kasus keracunan terus berulang. Problem keterlambatan distribusi di Sidoarjo hingga masalah higiene dapur di daerah lain, membongkar celah fatal dalam rantai pasok.
Saat satu dapur melayani ribuan porsi, kelalaian kecil berdampak sistemik. Lantas, di mana titik krusial kegagalan MBG: dapur, distribusi, atau lemahnya regulasi?
Dua Jam Setelah Suapan Terakhir
Dua Jam Setelah Suapan Terakhir
Dua Jam Setelah Suapan Terakhir



Halaman Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo. (IDN Times/Khusnul Hasana)
Mobil boks berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) berhenti di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (1/9/2026).
Petugas turun membawa susunan ompreng berisi nasi, lauk, dan buah. Beberapa saat kemudian, makanan berpindah ke tangan para santri.
Di ruang kelas IX MTs Manbaul Hikam, M Fajri Alfaq (15) melahap habis isi omprengnya. Nasi, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, dan tumis buncis tak tersisa.
Mobil boks berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) berhenti di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (1/9/2026).
Petugas turun membawa susunan ompreng berisi nasi, lauk, dan buah. Beberapa saat kemudian, makanan berpindah ke tangan para santri.
Di ruang kelas IX MTs Manbaul Hikam, M Fajri Alfaq (15) melahap habis isi omprengnya. Nasi, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, dan tumis buncis tak tersisa.
Mobil boks berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) berhenti di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (1/9/2026).
Petugas turun membawa susunan ompreng berisi nasi, lauk, dan buah. Beberapa saat kemudian, makanan berpindah ke tangan para santri.
Di ruang kelas IX MTs Manbaul Hikam, M Fajri Alfaq (15) melahap habis isi omprengnya. Nasi, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, dan tumis buncis tak tersisa.
Seperti hari sebelumnya, Fajri menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat jam istirahat, sekitar pukul 13.00 WIB. Walau makanan yang disantap siswa berusia 15 tahun tersebut sudah dingin, ia tidak merasakan sesuatu yang aneh.
Namun dua jam kemudian, tubuhnya mulai bereaksi.
Menjelang Asar, ketika hendak berwudu, perutnya melilit hebat. Dadanya sesak hingga hampir kesulitan bernapas.
Seperti hari sebelumnya, Fajri menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat jam istirahat, sekitar pukul 13.00 WIB. Walau makanan yang disantap siswa berusia 15 tahun tersebut sudah dingin, ia tidak merasakan sesuatu yang aneh.
Namun dua jam kemudian, tubuhnya mulai bereaksi.
Menjelang Asar, ketika hendak berwudu, perutnya melilit hebat. Dadanya sesak hingga hampir kesulitan bernapas.
Seperti hari sebelumnya, Fajri menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat jam istirahat, sekitar pukul 13.00 WIB. Walau makanan yang disantap siswa berusia 15 tahun tersebut sudah dingin, ia tidak merasakan sesuatu yang aneh.
Namun dua jam kemudian, tubuhnya mulai bereaksi.
Menjelang Asar, ketika hendak berwudu, perutnya melilit hebat. Dadanya sesak hingga hampir kesulitan bernapas.
Fajri segera melapor kepada pengurus pondok.
Saat itulah ia mengetahui bahwa dirinya bukan satu-satunya. Banyak santri lain mengalami keluhan serupa.
Selepas Magrib, suasana Pondok Pesantren Manbaul Hikam berubah riuh. Ambulans datang silih berganti. Satu per satu santri dan santriwati dibawa ke sejumlah rumah sakit, antara lain menuju RSUD Notopuro, RSIA Siti Hajar, dan RS Delta Surya Sidoarjo.
Fajri segera melapor kepada pengurus pondok.
Saat itulah ia mengetahui bahwa dirinya bukan satu-satunya. Banyak santri lain mengalami keluhan serupa.
Selepas Magrib, suasana Pondok Pesantren Manbaul Hikam berubah riuh. Ambulans datang silih berganti. Satu per satu santri dan santriwati dibawa ke sejumlah rumah sakit, antara lain menuju RSUD Notopuro, RSIA Siti Hajar, dan RS Delta Surya Sidoarjo.
Fajri segera melapor kepada pengurus pondok.
Saat itulah ia mengetahui bahwa dirinya bukan satu-satunya. Banyak santri lain mengalami keluhan serupa.
Selepas Magrib, suasana Pondok Pesantren Manbaul Hikam berubah riuh. Ambulans datang silih berganti. Satu per satu santri dan santriwati dibawa ke sejumlah rumah sakit, antara lain menuju RSUD Notopuro, RSIA Siti Hajar, dan RS Delta Surya Sidoarjo.

Perawatan pasien keracunan MBG di RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo. (IDN Times/Abidin).
Fajri dilarikan ke RSUD Notopuro dengan sepeda motor, diantar seorang guru. Tubuhnya sudah lemas. Tangannya terus memegangi perut.
Sesampainya di rumah sakit, ia dibopong menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Di sana sudah banyak temannya. Sebagian terbaring lemas, ada juga yang sudah dipasang infus.
Fajri mendapat penanganan dan ikut diinfus. Tak lama berselang, ibunya, Siti Aminah (50) tiba di rumah sakit. Ia panik melihat anaknya terkapar lemas di IGD.
Dokter memutuskan bahwa Fajri harus menjalani rawat inap. Sementara sejumlah temannya diperbolehkan pulang.
Fajri dilarikan ke RSUD Notopuro dengan sepeda motor, diantar seorang guru. Tubuhnya sudah lemas. Tangannya terus memegangi perut.
Sesampainya di rumah sakit, ia dibopong menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Di sana sudah banyak temannya. Sebagian terbaring lemas, ada juga yang sudah dipasang infus.
Fajri mendapat penanganan dan ikut diinfus. Tak lama berselang, ibunya, Siti Aminah (50) tiba di rumah sakit. Ia panik melihat anaknya terkapar lemas di IGD.
Dokter memutuskan bahwa Fajri harus menjalani rawat inap. Sementara sejumlah temannya diperbolehkan pulang.
Fajri dilarikan ke RSUD Notopuro dengan sepeda motor, diantar seorang guru. Tubuhnya sudah lemas. Tangannya terus memegangi perut.
Sesampainya di rumah sakit, ia dibopong menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Di sana sudah banyak temannya. Sebagian terbaring lemas, ada juga yang sudah dipasang infus.
Fajri mendapat penanganan dan ikut diinfus. Tak lama berselang, ibunya, Siti Aminah (50) tiba di rumah sakit. Ia panik melihat anaknya terkapar lemas di IGD.
Dokter memutuskan bahwa Fajri harus menjalani rawat inap. Sementara sejumlah temannya diperbolehkan pulang.
Empat hari setelah kejadian, kondisinya mulai membaik. Namun, pengalaman itu meninggalkan trauma pada makanan yang sebelumnya ia tunggu setiap siang.
“Kalau dibilang trauma ya trauma,” ujar Fajri saat ditemui di kamar rawat inapnya.
Di samping tempat tidurnya, Siti Aminah setia menemani. Selama tiga tahun tinggal di pondok, Fajri menerima makanan dua kali sehari. Tidak pernah sebelumnya dirawat di rumah sakit karena makanan.
Empat hari setelah kejadian, kondisinya mulai membaik. Namun, pengalaman itu meninggalkan trauma pada makanan yang sebelumnya ia tunggu setiap siang.
“Kalau dibilang trauma ya trauma,” ujar Fajri saat ditemui di kamar rawat inapnya.
Di samping tempat tidurnya, Siti Aminah setia menemani. Selama tiga tahun tinggal di pondok, Fajri menerima makanan dua kali sehari. Tidak pernah sebelumnya dirawat di rumah sakit karena makanan.
Empat hari setelah kejadian, kondisinya mulai membaik. Namun, pengalaman itu meninggalkan trauma pada makanan yang sebelumnya ia tunggu setiap siang.
“Kalau dibilang trauma ya trauma,” ujar Fajri saat ditemui di kamar rawat inapnya.
Di samping tempat tidurnya, Siti Aminah setia menemani. Selama tiga tahun tinggal di pondok, Fajri menerima makanan dua kali sehari. Tidak pernah sebelumnya dirawat di rumah sakit karena makanan.
Sejak April 2026, ketika MBG mulai masuk ke pondok, jatah makan Fajri bertambah menjadi tiga kali sehari.
Setiap kali berbicara melalui telepon, Aminah kerap menanyakan makanan yang diterima anaknya.
“Makanannya apa?” tanya Aminah.
“Ya, itu, Bu, enak,” jawab Fajri.
Jawaban sederhana itu sebelumnya selalu membuat Aminah tenang. Makan gratis dari pemerintah justru menjadi kabar baik bagi keluarga.
Sejak April 2026, ketika MBG mulai masuk ke pondok, jatah makan Fajri bertambah menjadi tiga kali sehari.
Setiap kali berbicara melalui telepon, Aminah kerap menanyakan makanan yang diterima anaknya.
“Makanannya apa?” tanya Aminah.
“Ya, itu, Bu, enak,” jawab Fajri.
Jawaban sederhana itu sebelumnya selalu membuat Aminah tenang. Makan gratis dari pemerintah justru menjadi kabar baik bagi keluarga.
Sejak April 2026, ketika MBG mulai masuk ke pondok, jatah makan Fajri bertambah menjadi tiga kali sehari.
Setiap kali berbicara melalui telepon, Aminah kerap menanyakan makanan yang diterima anaknya.
“Makanannya apa?” tanya Aminah.
“Ya, itu, Bu, enak,” jawab Fajri.
Jawaban sederhana itu sebelumnya selalu membuat Aminah tenang. Makan gratis dari pemerintah justru menjadi kabar baik bagi keluarga.
Kini situasinya berbeda. Aminah merasa khawatir jika anaknya menyantap kembali makanan dalam kotak stainless tersebut.
Ia menginginkan program MBG diganti dengan biaya pendidikan gratis. Untuk makan siang sang anak, Aminah mengaku masih sanggup memberi.
“Ya, gimana, ya? Ini kan dari Presiden. Kalau bisa ya uang diganti sekolah gratis itu saja. Sekolah gratis, terus wes sembarang (semua) gratis,” kata Aminah.
Menurutnya, hal itu jauh lebih baik. Anaknya aman dari ancaman keracunan dan dia terbantu membiayai biaya sekolah.
Kini situasinya berbeda. Aminah merasa khawatir jika anaknya menyantap kembali makanan dalam kotak stainless tersebut.
Ia menginginkan program MBG diganti dengan biaya pendidikan gratis. Untuk makan siang sang anak, Aminah mengaku masih sanggup memberi.
“Ya, gimana, ya? Ini kan dari Presiden. Kalau bisa ya uang diganti sekolah gratis itu saja. Sekolah gratis, terus wes sembarang (semua) gratis,” kata Aminah.
Menurutnya, hal itu jauh lebih baik. Anaknya aman dari ancaman keracunan dan dia terbantu membiayai biaya sekolah.
Kini situasinya berbeda. Aminah merasa khawatir jika anaknya menyantap kembali makanan dalam kotak stainless tersebut.
Ia menginginkan program MBG diganti dengan biaya pendidikan gratis. Untuk makan siang sang anak, Aminah mengaku masih sanggup memberi.
“Ya, gimana, ya? Ini kan dari Presiden. Kalau bisa ya uang diganti sekolah gratis itu saja. Sekolah gratis, terus wes sembarang (semua) gratis,” kata Aminah.
Menurutnya, hal itu jauh lebih baik. Anaknya aman dari ancaman keracunan dan dia terbantu membiayai biaya sekolah.
Di Balik Menu Indah dari Dapur Kalitengah
Di Balik Menu Indah dari Dapur Kalitengah
Di Balik Menu Indah dari Dapur Kalitengah

Menu MBG dari SPPG Kalitengah pada 1 September 2026. (Instagram SPPG Kalitengah)
Nasi itu dibentuk seperti bunga. Sebagian lainnya menyerupai boneka. Potongan wortel menjadi pemanis. Di dalam kotak-kotak ompreng makan terdapat tumis buncis dan baby corn, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, serta sebuah apel Fuji.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah menyiapkan menu untuk 1 September itu, sudah sejak malam sebelumnya.
Nasi itu dibentuk seperti bunga. Sebagian lainnya menyerupai boneka. Potongan wortel menjadi pemanis. Di dalam kotak-kotak ompreng makan terdapat tumis buncis dan baby corn, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, serta sebuah apel Fuji.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah menyiapkan menu untuk 1 September itu, sudah sejak malam sebelumnya.
Nasi itu dibentuk seperti bunga. Sebagian lainnya menyerupai boneka. Potongan wortel menjadi pemanis. Di dalam kotak-kotak ompreng makan terdapat tumis buncis dan baby corn, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, serta sebuah apel Fuji.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah menyiapkan menu untuk 1 September itu, sudah sejak malam sebelumnya.
(IDN Times/Shakti)
(IDN Times/Shakti)
Berdasarkan informasi yang dihimpun IDN Times dari seorang anggota tim auditor mutu pangan yang identitasnya dirahasiakan, proses persiapan makanan telah dimulai sejak pukul 22.00 WIB.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sebanyak 190 kilogram telur dipecahkan. Telur yang telah dikeluarkan dari cangkang tidak disimpan di ruang pendingin, melainkan berada di dapur hingga sekitar pukul 01.30 WIB.
Proses memasak dimulai sekitar pukul 01.30 dan berlangsung hingga 02.30 WIB.
Berdasarkan informasi yang dihimpun IDN Times dari seorang anggota tim auditor mutu pangan yang identitasnya dirahasiakan, proses persiapan makanan telah dimulai sejak pukul 22.00 WIB.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sebanyak 190 kilogram telur dipecahkan. Telur yang telah dikeluarkan dari cangkang tidak disimpan di ruang pendingin, melainkan berada di dapur hingga sekitar pukul 01.30 WIB.
Proses memasak dimulai sekitar pukul 01.30 dan berlangsung hingga 02.30 WIB.
Berdasarkan informasi yang dihimpun IDN Times dari seorang anggota tim auditor mutu pangan yang identitasnya dirahasiakan, proses persiapan makanan telah dimulai sejak pukul 22.00 WIB.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sebanyak 190 kilogram telur dipecahkan. Telur yang telah dikeluarkan dari cangkang tidak disimpan di ruang pendingin, melainkan berada di dapur hingga sekitar pukul 01.30 WIB.
Proses memasak dimulai sekitar pukul 01.30 dan berlangsung hingga 02.30 WIB.
Sebelum dimasak, telur dicampur dengan susu bubuk yang telah dicairkan. Setelah telur orak-arik selesai, dapur melanjutkan pengolahan tumis buncis, tempe bumbu Bali, dan nasi hingga sekitar pukul 05.00 WIB.
SPPG Kalitengah memproduksi 2.800 porsi untuk penerima manfaat di 19 lembaga pendidikan. Karena itu, sebagian makanan mulai dikirim ke lembaga lain begitu proses permorsian selesai.
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, mengaku distribusi MBG ke Pesantren Manbaul Hikam baru dilakukan pukul 11.00 WIB. Ia bahkan menyebut satu sampel menu MBG telah dicicipi salah seorang guru dan dinyatakan aman.
Sebelum dimasak, telur dicampur dengan susu bubuk yang telah dicairkan. Setelah telur orak-arik selesai, dapur melanjutkan pengolahan tumis buncis, tempe bumbu Bali, dan nasi hingga sekitar pukul 05.00 WIB.
SPPG Kalitengah memproduksi 2.800 porsi untuk penerima manfaat di 19 lembaga pendidikan. Karena itu, sebagian makanan mulai dikirim ke lembaga lain begitu proses permorsian selesai.
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, mengaku distribusi MBG ke Pesantren Manbaul Hikam baru dilakukan pukul 11.00 WIB. Ia bahkan menyebut satu sampel menu MBG telah dicicipi salah seorang guru dan dinyatakan aman.
Sebelum dimasak, telur dicampur dengan susu bubuk yang telah dicairkan. Setelah telur orak-arik selesai, dapur melanjutkan pengolahan tumis buncis, tempe bumbu Bali, dan nasi hingga sekitar pukul 05.00 WIB.
SPPG Kalitengah memproduksi 2.800 porsi untuk penerima manfaat di 19 lembaga pendidikan. Karena itu, sebagian makanan mulai dikirim ke lembaga lain begitu proses permorsian selesai.
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, mengaku distribusi MBG ke Pesantren Manbaul Hikam baru dilakukan pukul 11.00 WIB. Ia bahkan menyebut satu sampel menu MBG telah dicicipi salah seorang guru dan dinyatakan aman.
Namun, menurut sumber IDN Times, pengiriman ke Pesantren Manbaul Hikam baru dilakukan sekitar pukul 11.56 WIB karena ada kendala kendaraan.
Makanan mulai dibagikan kepada santri sekitar pukul 13.00 WIB. Dengan demikian, terdapat jeda sekitar tujuh jam dari selesainya proses memasak hingga makanan mulai dikonsumsi.
Bagi sebagian santri, jeda itu bisa lebih panjang karena makanan tidak langsung dimakan. Sebagian baru mengonsumsinya beberapa jam kemudian. Rentang waktu inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam investigasi.
Namun, menurut sumber IDN Times, pengiriman ke Pesantren Manbaul Hikam baru dilakukan sekitar pukul 11.56 WIB karena ada kendala kendaraan.
Makanan mulai dibagikan kepada santri sekitar pukul 13.00 WIB. Dengan demikian, terdapat jeda sekitar tujuh jam dari selesainya proses memasak hingga makanan mulai dikonsumsi.
Bagi sebagian santri, jeda itu bisa lebih panjang karena makanan tidak langsung dimakan. Sebagian baru mengonsumsinya beberapa jam kemudian. Rentang waktu inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam investigasi.
Namun, menurut sumber IDN Times, pengiriman ke Pesantren Manbaul Hikam baru dilakukan sekitar pukul 11.56 WIB karena ada kendala kendaraan.
Makanan mulai dibagikan kepada santri sekitar pukul 13.00 WIB. Dengan demikian, terdapat jeda sekitar tujuh jam dari selesainya proses memasak hingga makanan mulai dikonsumsi.
Bagi sebagian santri, jeda itu bisa lebih panjang karena makanan tidak langsung dimakan. Sebagian baru mengonsumsinya beberapa jam kemudian. Rentang waktu inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam investigasi.

Pasien keracunan MBG SMAN 1 Lasem, Rembang saat dirawat di RSUD dr Soetrasno. (IDN Times/Dinkes Rembang).
Hasil pemeriksaan laboratorium terkait gangguan kesehatan yang dialami para santri telah keluar. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati, mengatakan bahwa dari pemeriksaan sampel muntahan dan makanan dalam program MBG, ditemukan tiga jenis bakteri, yakni Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
“Pada umumnya, kasus keracunan pangan ditemukan bakteri E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Bakteri tersebut ditemukan dari sampel makanan dan muntahan yang diperiksa,” ujar Lakhsmie kepada IDN Times, Jumat (11/9/2026).
Temuan tersebut memperkuat hasil investigasi terkait keamanan pangan. Pemeriksaan dilakukan dengan menelusuri berbagai tahapan, mulai dari waktu makanan dimasak, suhu saat pengolahan, cara penyimpanan, hingga bagaimana makanan diperlakukan selama menunggu dan dalam perjalanan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah menu yang dikonsumsi para santri, yakni telur orak-arik yang dicampur dengan susu. Menu tersebut dinilai memiliki potensi risiko jika proses pengolahannya tidak dilakukan dengan tepat, terutama karena telur dapat disajikan dalam kondisi kurang matang dan mengandung campuran susu.
“Selama ini tidak terjadi KLB, karena mungkin memang potensi masakannya tidak basi. Nah, telur orak-arik ini kan jenis makanan yang kurang matang, resepnya juga ada susunya,” ujar sumber tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium terkait gangguan kesehatan yang dialami para santri telah keluar. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati, mengatakan bahwa dari pemeriksaan sampel muntahan dan makanan dalam program MBG, ditemukan tiga jenis bakteri, yakni Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
“Pada umumnya, kasus keracunan pangan ditemukan bakteri E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Bakteri tersebut ditemukan dari sampel makanan dan muntahan yang diperiksa,” ujar Lakhsmie kepada IDN Times, Jumat (11/9/2026).
Temuan tersebut memperkuat hasil investigasi terkait keamanan pangan. Pemeriksaan dilakukan dengan menelusuri berbagai tahapan, mulai dari waktu makanan dimasak, suhu saat pengolahan, cara penyimpanan, hingga bagaimana makanan diperlakukan selama menunggu dan dalam perjalanan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah menu yang dikonsumsi para santri, yakni telur orak-arik yang dicampur dengan susu. Menu tersebut dinilai memiliki potensi risiko jika proses pengolahannya tidak dilakukan dengan tepat, terutama karena telur dapat disajikan dalam kondisi kurang matang dan mengandung campuran susu.
“Selama ini tidak terjadi KLB, karena mungkin memang potensi masakannya tidak basi. Nah, telur orak-arik ini kan jenis makanan yang kurang matang, resepnya juga ada susunya,” ujar sumber tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium terkait gangguan kesehatan yang dialami para santri telah keluar. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati, mengatakan bahwa dari pemeriksaan sampel muntahan dan makanan dalam program MBG, ditemukan tiga jenis bakteri, yakni Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
“Pada umumnya, kasus keracunan pangan ditemukan bakteri E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Bakteri tersebut ditemukan dari sampel makanan dan muntahan yang diperiksa,” ujar Lakhsmie kepada IDN Times, Jumat (11/9/2026).
Temuan tersebut memperkuat hasil investigasi terkait keamanan pangan. Pemeriksaan dilakukan dengan menelusuri berbagai tahapan, mulai dari waktu makanan dimasak, suhu saat pengolahan, cara penyimpanan, hingga bagaimana makanan diperlakukan selama menunggu dan dalam perjalanan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah menu yang dikonsumsi para santri, yakni telur orak-arik yang dicampur dengan susu. Menu tersebut dinilai memiliki potensi risiko jika proses pengolahannya tidak dilakukan dengan tepat, terutama karena telur dapat disajikan dalam kondisi kurang matang dan mengandung campuran susu.
“Selama ini tidak terjadi KLB, karena mungkin memang potensi masakannya tidak basi. Nah, telur orak-arik ini kan jenis makanan yang kurang matang, resepnya juga ada susunya,” ujar sumber tersebut.
Waktu Menjadi Titik Kritis
Waktu Menjadi Titik Kritis
Waktu Menjadi Titik Kritis
Keterangan mengenai waktu distribusi tersebut sejalan dengan penjelasan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono.
Khofifah menjelaskan pada sejumlah titik, makanan yang selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB dikirim sekitar pukul 07.00 WIB dan dikonsumsi sekitar pukul 10.00 WIB.
Pada titik tersebut, menurut penjelasannya tidak ditemukan persoalan. Sebaliknya, masalah muncul pada penerima manfaat yang memperoleh makanan lebih terlambat, setelah pukul 11.00 WIB dan mengonsumsinya sekitar pukul 12.30-13.00 WIB.
Keterangan mengenai waktu distribusi tersebut sejalan dengan penjelasan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono.
Khofifah menjelaskan pada sejumlah titik, makanan yang selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB dikirim sekitar pukul 07.00 WIB dan dikonsumsi sekitar pukul 10.00 WIB.
Pada titik tersebut, menurut penjelasannya tidak ditemukan persoalan. Sebaliknya, masalah muncul pada penerima manfaat yang memperoleh makanan lebih terlambat, setelah pukul 11.00 WIB dan mengonsumsinya sekitar pukul 12.30-13.00 WIB.
Keterangan mengenai waktu distribusi tersebut sejalan dengan penjelasan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono.
Khofifah menjelaskan pada sejumlah titik, makanan yang selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB dikirim sekitar pukul 07.00 WIB dan dikonsumsi sekitar pukul 10.00 WIB.
Pada titik tersebut, menurut penjelasannya tidak ditemukan persoalan. Sebaliknya, masalah muncul pada penerima manfaat yang memperoleh makanan lebih terlambat, setelah pukul 11.00 WIB dan mengonsumsinya sekitar pukul 12.30-13.00 WIB.

Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho saat memberikan keterangan ke media usai kejadian keracunan massal. (IDN Times/Khusnul Hasana).
Sudaryono juga menyebut investigasi sementara BGN menemukan makanan yang dimasak sekitar pukul 05.00 WIB memiliki batas konsumsi hingga pukul 10.00 WIB.
Persoalannya, penanda waktu atau label tersebut tidak ditempel pada seluruh wadah.
“Fakta labelnya itu ternyata ada satu ini saja, sisanya gak dikasih label,” ungkapnya.
BGN kemudian memberikan sanksi pencopotan kepada Kepala SPPG Kalitengah yang dianggap tidak patuh terhadap prosedur.
Sudaryono juga menyebut investigasi sementara BGN menemukan makanan yang dimasak sekitar pukul 05.00 WIB memiliki batas konsumsi hingga pukul 10.00 WIB.
Persoalannya, penanda waktu atau label tersebut tidak ditempel pada seluruh wadah.
“Fakta labelnya itu ternyata ada satu ini saja, sisanya gak dikasih label,” ungkapnya.
BGN kemudian memberikan sanksi pencopotan kepada Kepala SPPG Kalitengah yang dianggap tidak patuh terhadap prosedur.
Sudaryono juga menyebut investigasi sementara BGN menemukan makanan yang dimasak sekitar pukul 05.00 WIB memiliki batas konsumsi hingga pukul 10.00 WIB.
Persoalannya, penanda waktu atau label tersebut tidak ditempel pada seluruh wadah.
“Fakta labelnya itu ternyata ada satu ini saja, sisanya gak dikasih label,” ungkapnya.
BGN kemudian memberikan sanksi pencopotan kepada Kepala SPPG Kalitengah yang dianggap tidak patuh terhadap prosedur.
Kasus di Sidoarjo memiliki kemiripan dengan persoalan yang muncul dalam kejadian keracunan massal di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
Kepala BGN menyebut investigasi sementara menemukan adanya kelalaian dalam pengelolaan bahan baku. Sekitar 200-300 ekor ikan tidak dimasukkan ke freezer dan diletakkan pada suhu ruang selama lebih dari 12 jam.
“Ikan basah diletakkan di luar suhu. Itu mohon maaf, suatu kebodohan bagi saya,” ujarnya.
Kasus di Sidoarjo memiliki kemiripan dengan persoalan yang muncul dalam kejadian keracunan massal di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
Kepala BGN menyebut investigasi sementara menemukan adanya kelalaian dalam pengelolaan bahan baku. Sekitar 200-300 ekor ikan tidak dimasukkan ke freezer dan diletakkan pada suhu ruang selama lebih dari 12 jam.
“Ikan basah diletakkan di luar suhu. Itu mohon maaf, suatu kebodohan bagi saya,” ujarnya.
Kasus di Sidoarjo memiliki kemiripan dengan persoalan yang muncul dalam kejadian keracunan massal di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
Kepala BGN menyebut investigasi sementara menemukan adanya kelalaian dalam pengelolaan bahan baku. Sekitar 200-300 ekor ikan tidak dimasukkan ke freezer dan diletakkan pada suhu ruang selama lebih dari 12 jam.
“Ikan basah diletakkan di luar suhu. Itu mohon maaf, suatu kebodohan bagi saya,” ujarnya.
Dalam dokumen hasil pemeriksaan laboratorium yang beredar di media sosial, sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa di Karo menunjukkan kontaminasi bakteri pada sejumlah makanan.
Sampel nasi disebut positif Bacillus Cereus. Sampel ikan dencis dengan saus terdeteksi positif Staphylococcus Aureus. Sementara sampel buah melon positif Escherichia Coli (E. coli).
Pola serupa juga terlihat dalam hasil investigasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada kasus keracunan MBG di SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
BPOM menemukan sejumlah prosedur yang dilanggar pengelola SPPG Soditan.
Dalam dokumen hasil pemeriksaan laboratorium yang beredar di media sosial, sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa di Karo menunjukkan kontaminasi bakteri pada sejumlah makanan.
Sampel nasi disebut positif Bacillus Cereus. Sampel ikan dencis dengan saus terdeteksi positif Staphylococcus Aureus. Sementara sampel buah melon positif Escherichia Coli (E. coli).
Pola serupa juga terlihat dalam hasil investigasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada kasus keracunan MBG di SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
BPOM menemukan sejumlah prosedur yang dilanggar pengelola SPPG Soditan.
Dalam dokumen hasil pemeriksaan laboratorium yang beredar di media sosial, sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa di Karo menunjukkan kontaminasi bakteri pada sejumlah makanan.
Sampel nasi disebut positif Bacillus Cereus. Sampel ikan dencis dengan saus terdeteksi positif Staphylococcus Aureus. Sementara sampel buah melon positif Escherichia Coli (E. coli).
Pola serupa juga terlihat dalam hasil investigasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada kasus keracunan MBG di SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
BPOM menemukan sejumlah prosedur yang dilanggar pengelola SPPG Soditan.
Kepala Loka POM Grobogan, Ronald Hatoguan Manik, mengatakan sejumlah SOP tidak dijalankan SPPG berkaitan kebersihan bahan baku dan sanitasi dapur ketika kegiatan memasak berlangsung.
“Kami melihat ada SOP yang belum dilaksanakan oleh SPPG dengan baik. Kita akan jadikan bahan report ke pusat dengan memperkuat hasil investigasi ini. Ini akan jadi bahan edukasi bagi kepala-kepala SPPG,” ujar Ronald, Selasa malam (8/9/2026).
Dalam investigasi di SMAN 1 Lasem, pihaknya mengambil lima sampel makanan MBG yang disantap 777 siswa. Sampel tersebut berupa nasi, daging ayam bakar, lalapan, semangka, dan mendoan.
“Hasil sampel keluar lima hari ke depan. Kami tidak bisa menyampaikan secara medis ya, tapi ada indikasi semangka kecut dan lauknya basi. Maka musti diuji laboratorium,” tuturnya.
Kepala Loka POM Grobogan, Ronald Hatoguan Manik, mengatakan sejumlah SOP tidak dijalankan SPPG berkaitan kebersihan bahan baku dan sanitasi dapur ketika kegiatan memasak berlangsung.
“Kami melihat ada SOP yang belum dilaksanakan oleh SPPG dengan baik. Kita akan jadikan bahan report ke pusat dengan memperkuat hasil investigasi ini. Ini akan jadi bahan edukasi bagi kepala-kepala SPPG,” ujar Ronald, Selasa malam (8/9/2026).
Dalam investigasi di SMAN 1 Lasem, pihaknya mengambil lima sampel makanan MBG yang disantap 777 siswa. Sampel tersebut berupa nasi, daging ayam bakar, lalapan, semangka, dan mendoan.
“Hasil sampel keluar lima hari ke depan. Kami tidak bisa menyampaikan secara medis ya, tapi ada indikasi semangka kecut dan lauknya basi. Maka musti diuji laboratorium,” tuturnya.
Kepala Loka POM Grobogan, Ronald Hatoguan Manik, mengatakan sejumlah SOP tidak dijalankan SPPG berkaitan kebersihan bahan baku dan sanitasi dapur ketika kegiatan memasak berlangsung.
“Kami melihat ada SOP yang belum dilaksanakan oleh SPPG dengan baik. Kita akan jadikan bahan report ke pusat dengan memperkuat hasil investigasi ini. Ini akan jadi bahan edukasi bagi kepala-kepala SPPG,” ujar Ronald, Selasa malam (8/9/2026).
Dalam investigasi di SMAN 1 Lasem, pihaknya mengambil lima sampel makanan MBG yang disantap 777 siswa. Sampel tersebut berupa nasi, daging ayam bakar, lalapan, semangka, dan mendoan.
“Hasil sampel keluar lima hari ke depan. Kami tidak bisa menyampaikan secara medis ya, tapi ada indikasi semangka kecut dan lauknya basi. Maka musti diuji laboratorium,” tuturnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, menilai investigasi tidak boleh berhenti pada hasil laboratorium.
“Saya sudah mengatakan berkali-kali, nanti pada akhirnya mungkin akan ditemukan berbagai jenis bakteri. Namun, yang lebih penting saat ini bukan hanya menunggu hasil mengenai bakterinya, melainkan mencari tahu apa penyebab utamanya,” kata Emil.
Menurut Emil, distribusi yang melewati batas konsumsi dan ketiadaan label perlu dievaluasi bersama penerapan standar higiene dan sanitasi, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, menilai investigasi tidak boleh berhenti pada hasil laboratorium.
“Saya sudah mengatakan berkali-kali, nanti pada akhirnya mungkin akan ditemukan berbagai jenis bakteri. Namun, yang lebih penting saat ini bukan hanya menunggu hasil mengenai bakterinya, melainkan mencari tahu apa penyebab utamanya,” kata Emil.
Menurut Emil, distribusi yang melewati batas konsumsi dan ketiadaan label perlu dievaluasi bersama penerapan standar higiene dan sanitasi, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, menilai investigasi tidak boleh berhenti pada hasil laboratorium.
“Saya sudah mengatakan berkali-kali, nanti pada akhirnya mungkin akan ditemukan berbagai jenis bakteri. Namun, yang lebih penting saat ini bukan hanya menunggu hasil mengenai bakterinya, melainkan mencari tahu apa penyebab utamanya,” kata Emil.
Menurut Emil, distribusi yang melewati batas konsumsi dan ketiadaan label perlu dievaluasi bersama penerapan standar higiene dan sanitasi, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).



"Saya sudah mengatakan berkali-kali, nanti pada akhirnya mungkin akan ditemukan berbagai jenis bakteri. Namun, yang lebih penting saat ini bukan hanya menunggu hasil mengenai bakterinya, melainkan mencari tahu apa penyebab utamanya"
Emil Elestianto Dardak,
Wakil Gubernur Jawa Timur
IDN Times/Hafidz Trijatnika
Sertifikat tersebut, menurutnya, bukan sekadar dokumen administratif. Ia harus menjadi bagian dari sistem pengendalian keamanan pangan yang diterapkan secara konsisten setiap hari.
Di Sidoarjo, persoalan administratif juga muncul. Bupati Sidoarjo Subandi menemukan setidaknya 31 dari 170 SPPG yang beroperasi belum mengantongi izin.
Menurutnya, SPPG yang belum memiliki izin seharusnya tidak boleh beroperasi sebelum seluruh persyaratan terpenuhi, termasuk SLHS.
Sertifikat tersebut, menurutnya, bukan sekadar dokumen administratif. Ia harus menjadi bagian dari sistem pengendalian keamanan pangan yang diterapkan secara konsisten setiap hari.
Di Sidoarjo, persoalan administratif juga muncul. Bupati Sidoarjo Subandi menemukan setidaknya 31 dari 170 SPPG yang beroperasi belum mengantongi izin.
Menurutnya, SPPG yang belum memiliki izin seharusnya tidak boleh beroperasi sebelum seluruh persyaratan terpenuhi, termasuk SLHS.
Sertifikat tersebut, menurutnya, bukan sekadar dokumen administratif. Ia harus menjadi bagian dari sistem pengendalian keamanan pangan yang diterapkan secara konsisten setiap hari.
Di Sidoarjo, persoalan administratif juga muncul. Bupati Sidoarjo Subandi menemukan setidaknya 31 dari 170 SPPG yang beroperasi belum mengantongi izin.
Menurutnya, SPPG yang belum memiliki izin seharusnya tidak boleh beroperasi sebelum seluruh persyaratan terpenuhi, termasuk SLHS.



"Setidaknya ada 31 dari 170 SPPG yang beroperasi belum mengantongi izin. SPPG yang belum memiliki izin seharusnya tidak boleh beroperasi sebelum seluruh persyaratan terpenuhi, termasuk SLHS"
Subandi
Bupati Sidoarjo
IDN Times/Hafidz Trijatnika
Temuan ini menambah satu lapisan persoalan: seberapa siap infrastruktur pengawasan ketika jumlah dapur MBG terus bertambah? Sebab, semakin besar skala program, semakin panjang pula rantai yang harus diawasi.
Kesalahan yang terjadi di satu dapur tidak lagi berdampak pada puluhan orang. Dalam sistem penyediaan makanan massal, kesalahan yang sama dapat menjangkau ratusan penerima manfaat dalam waktu bersamaan.
Temuan ini menambah satu lapisan persoalan: seberapa siap infrastruktur pengawasan ketika jumlah dapur MBG terus bertambah? Sebab, semakin besar skala program, semakin panjang pula rantai yang harus diawasi.
Kesalahan yang terjadi di satu dapur tidak lagi berdampak pada puluhan orang. Dalam sistem penyediaan makanan massal, kesalahan yang sama dapat menjangkau ratusan penerima manfaat dalam waktu bersamaan.
Temuan ini menambah satu lapisan persoalan: seberapa siap infrastruktur pengawasan ketika jumlah dapur MBG terus bertambah? Sebab, semakin besar skala program, semakin panjang pula rantai yang harus diawasi.
Kesalahan yang terjadi di satu dapur tidak lagi berdampak pada puluhan orang. Dalam sistem penyediaan makanan massal, kesalahan yang sama dapat menjangkau ratusan penerima manfaat dalam waktu bersamaan.
Dapur Mengendalikan Setiap Tahapan
Dapur Mengendalikan Setiap Tahapan
Dapur Mengendalikan Setiap Tahapan

Proses pemorsian menu MBG di SPPG Cakranegara Utara, Kota Mataram. (Dok. Istimewa)
Gambaran berbeda terlihat di SPPG Cakranegara Utara, Kota Mataram. Ahli Gizi SPPG tersebut, Anggi Susanti mengatakan pengendalian dimulai sejak bahan baku diterima.
Bahan yang berbau atau tidak segar ditolak dan dikembalikan kepada pemasok. Ayam, seafood, dan daging datang dalam kondisi berpendingin dan langsung dimasukkan ke chiller. Proses pembersihan dimulai sekitar pukul 19.00 WITA.
Pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung diri. Mereka yang sakit, terutama yang batuk, dilarang masuk.
Gambaran berbeda terlihat di SPPG Cakranegara Utara, Kota Mataram. Ahli Gizi SPPG tersebut, Anggi Susanti mengatakan pengendalian dimulai sejak bahan baku diterima.
Bahan yang berbau atau tidak segar ditolak dan dikembalikan kepada pemasok. Ayam, seafood, dan daging datang dalam kondisi berpendingin dan langsung dimasukkan ke chiller. Proses pembersihan dimulai sekitar pukul 19.00 WITA.
Pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung diri. Mereka yang sakit, terutama yang batuk, dilarang masuk.
Gambaran berbeda terlihat di SPPG Cakranegara Utara, Kota Mataram. Ahli Gizi SPPG tersebut, Anggi Susanti mengatakan pengendalian dimulai sejak bahan baku diterima.
Bahan yang berbau atau tidak segar ditolak dan dikembalikan kepada pemasok. Ayam, seafood, dan daging datang dalam kondisi berpendingin dan langsung dimasukkan ke chiller. Proses pembersihan dimulai sekitar pukul 19.00 WITA.
Pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung diri. Mereka yang sakit, terutama yang batuk, dilarang masuk.
Peralatan pun dipisahkan. Pisau dan talenan untuk daging tidak digunakan untuk sayuran atau buah guna mencegah kontaminasi silang.
Setelah memasak sekitar pukul 02.00 hingga subuh, makanan diporsikan sekitar pukul 04.00-08.00 WITA.
"Suhu menjadi salah satu perhatian utama. Makanan yang terlalu panas ketika dikemas dapat menghasilkan embun dalam wadah dan mempercepat kerusakan. Buah potong disimpan dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat Celsius," kata Anggi.
Peralatan pun dipisahkan. Pisau dan talenan untuk daging tidak digunakan untuk sayuran atau buah guna mencegah kontaminasi silang.
Setelah memasak sekitar pukul 02.00 hingga subuh, makanan diporsikan sekitar pukul 04.00-08.00 WITA.
"Suhu menjadi salah satu perhatian utama. Makanan yang terlalu panas ketika dikemas dapat menghasilkan embun dalam wadah dan mempercepat kerusakan. Buah potong disimpan dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat Celsius," kata Anggi.
Peralatan pun dipisahkan. Pisau dan talenan untuk daging tidak digunakan untuk sayuran atau buah guna mencegah kontaminasi silang.
Setelah memasak sekitar pukul 02.00 hingga subuh, makanan diporsikan sekitar pukul 04.00-08.00 WITA.
"Suhu menjadi salah satu perhatian utama. Makanan yang terlalu panas ketika dikemas dapat menghasilkan embun dalam wadah dan mempercepat kerusakan. Buah potong disimpan dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat Celsius," kata Anggi.
Makanan yang tiba di sekolah, kata Anggi, sebaiknya dikonsumsi dalam waktu sekitar satu hingga 1,5 jam. Karena itu, makanan MBG tidak dianjurkan dibawa pulang untuk dimakan berjam-jam kemudian.
Setiap wadah juga diberi stiker yang memuat kandungan gizi, batas konsumsi, larangan, serta imbauan mencuci tangan.
Praktik tersebut menunjukkan persoalan keamanan makanan bukan hanya soal apakah makanan telah dimasak sampai matang. Ada prosedur panjang setelah kompor dimatikan.
Koordinator BGN Regional NTB Eko Prasetyo mengatakan beberapa jenis menu, seperti makanan yang menggunakan sambal dan santan, lebih rentan rusak sehingga sebaiknya dihindari.
Makanan yang tiba di sekolah, kata Anggi, sebaiknya dikonsumsi dalam waktu sekitar satu hingga 1,5 jam. Karena itu, makanan MBG tidak dianjurkan dibawa pulang untuk dimakan berjam-jam kemudian.
Setiap wadah juga diberi stiker yang memuat kandungan gizi, batas konsumsi, larangan, serta imbauan mencuci tangan.
Praktik tersebut menunjukkan persoalan keamanan makanan bukan hanya soal apakah makanan telah dimasak sampai matang. Ada prosedur panjang setelah kompor dimatikan.
Koordinator BGN Regional NTB Eko Prasetyo mengatakan beberapa jenis menu, seperti makanan yang menggunakan sambal dan santan, lebih rentan rusak sehingga sebaiknya dihindari.
Makanan yang tiba di sekolah, kata Anggi, sebaiknya dikonsumsi dalam waktu sekitar satu hingga 1,5 jam. Karena itu, makanan MBG tidak dianjurkan dibawa pulang untuk dimakan berjam-jam kemudian.
Setiap wadah juga diberi stiker yang memuat kandungan gizi, batas konsumsi, larangan, serta imbauan mencuci tangan.
Praktik tersebut menunjukkan persoalan keamanan makanan bukan hanya soal apakah makanan telah dimasak sampai matang. Ada prosedur panjang setelah kompor dimatikan.
Koordinator BGN Regional NTB Eko Prasetyo mengatakan beberapa jenis menu, seperti makanan yang menggunakan sambal dan santan, lebih rentan rusak sehingga sebaiknya dihindari.
BGN juga menetapkan batas maksimal konsumsi MBG selama empat jam dan mewajibkan pencantuman batas waktu melalui label.
Namun, Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan keamanan pangan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan lamanya makanan berada di luar dapur.
Dalam perspektif Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), bahaya pangan dapat berasal dari faktor biologis, kimia, maupun fisik. Bakteri patogen bahkan dapat berkembang tanpa mengubah bau, rasa, atau tampilan makanan.
BGN juga menetapkan batas maksimal konsumsi MBG selama empat jam dan mewajibkan pencantuman batas waktu melalui label.
Namun, Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan keamanan pangan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan lamanya makanan berada di luar dapur.
Dalam perspektif Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), bahaya pangan dapat berasal dari faktor biologis, kimia, maupun fisik. Bakteri patogen bahkan dapat berkembang tanpa mengubah bau, rasa, atau tampilan makanan.
BGN juga menetapkan batas maksimal konsumsi MBG selama empat jam dan mewajibkan pencantuman batas waktu melalui label.
Namun, Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan keamanan pangan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan lamanya makanan berada di luar dapur.
Dalam perspektif Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), bahaya pangan dapat berasal dari faktor biologis, kimia, maupun fisik. Bakteri patogen bahkan dapat berkembang tanpa mengubah bau, rasa, atau tampilan makanan.
(IDN Times/Shakti)
(IDN Times/Shakti)
Artinya, makanan yang terlihat normal belum tentu bebas risiko. Karena itu, titik kritis tidak hanya berada setelah makanan selesai dimasak. "Pengawasan harus berlangsung sepanjang rantai produksi: penerimaan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemorsian, pengemasan, transportasi, hingga konsumsi," katanya.
Mahmud menyebut makanan matang idealnya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Jika belum segera dikonsumsi, makanan perlu dipertahankan panas di atas 60 derajat Celsius atau segera didinginkan, idealnya di bawah 5 derajat Celsius.
Ia mengapresiasi aturan empat jam dalam program MBG, tetapi menilai batas tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya patokan.
Artinya, makanan yang terlihat normal belum tentu bebas risiko. Karena itu, titik kritis tidak hanya berada setelah makanan selesai dimasak. "Pengawasan harus berlangsung sepanjang rantai produksi: penerimaan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemorsian, pengemasan, transportasi, hingga konsumsi," katanya.
Mahmud menyebut makanan matang idealnya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Jika belum segera dikonsumsi, makanan perlu dipertahankan panas di atas 60 derajat Celsius atau segera didinginkan, idealnya di bawah 5 derajat Celsius.
Ia mengapresiasi aturan empat jam dalam program MBG, tetapi menilai batas tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya patokan.
Artinya, makanan yang terlihat normal belum tentu bebas risiko. Karena itu, titik kritis tidak hanya berada setelah makanan selesai dimasak. "Pengawasan harus berlangsung sepanjang rantai produksi: penerimaan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemorsian, pengemasan, transportasi, hingga konsumsi," katanya.
Mahmud menyebut makanan matang idealnya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Jika belum segera dikonsumsi, makanan perlu dipertahankan panas di atas 60 derajat Celsius atau segera didinginkan, idealnya di bawah 5 derajat Celsius.
Ia mengapresiasi aturan empat jam dalam program MBG, tetapi menilai batas tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya patokan.



"Yang menentukan keamanan makanan bukan sekedar berapa jam, melainkan apakah waktu, suhu, higiene, dan pencegahan kontaminasi silang dikendalikan secara konsisten dari dapur sampai makanan dikonsumsi"
Mahmud Aditya Rifqi,
Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
IDN Times/Hafidz Trijatnika
“Yang menentukan keamanannya bukan sekadar berapa jam, melainkan apakah waktu, suhu, higiene, dan pencegahan kontaminasi silang dikendalikan secara konsisten dari dapur sampai makanan dikonsumsi.”
Dengan demikian, angka empat jam seharusnya tidak dipahami sebagai semacam garis aman mutlak.
Empat jam tanpa pengendalian suhu dan higiene bukan hal yang sama dengan empat jam dalam rantai distribusi yang terkendali.
“Yang menentukan keamanannya bukan sekadar berapa jam, melainkan apakah waktu, suhu, higiene, dan pencegahan kontaminasi silang dikendalikan secara konsisten dari dapur sampai makanan dikonsumsi.”
Dengan demikian, angka empat jam seharusnya tidak dipahami sebagai semacam garis aman mutlak.
Empat jam tanpa pengendalian suhu dan higiene bukan hal yang sama dengan empat jam dalam rantai distribusi yang terkendali.
“Yang menentukan keamanannya bukan sekadar berapa jam, melainkan apakah waktu, suhu, higiene, dan pencegahan kontaminasi silang dikendalikan secara konsisten dari dapur sampai makanan dikonsumsi.”
Dengan demikian, angka empat jam seharusnya tidak dipahami sebagai semacam garis aman mutlak.
Empat jam tanpa pengendalian suhu dan higiene bukan hal yang sama dengan empat jam dalam rantai distribusi yang terkendali.
Korban Bukan Sekadar Angka
Korban Bukan Sekadar Angka
Korban Bukan Sekadar Angka
Grafis Data. (IDN Times/Faiz Nashrillah)
Di atas kertas, keracunan massal dapat diringkas menjadi angka. Data yang dihimpun IDN Times dari pemberitaan media di seluruh Indonesia sejak Januari hingga September 2026 mencatat sedikitnya 9.790 korban keracunan setelah menyantap MBG. Jawa Timur dan Jawa Tengah termasuk wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Di periode Agustus-September, kasus keracunan yang muncul berurutan, dari Sumatra Utara, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Namun, angka tidak pernah sepenuhnya menggambarkan apa yang dialami korban.
Di atas kertas, keracunan massal dapat diringkas menjadi angka. Data yang dihimpun IDN Times dari pemberitaan media di seluruh Indonesia sejak Januari hingga September 2026 mencatat sedikitnya 9.790 korban keracunan setelah menyantap MBG. Jawa Timur dan Jawa Tengah termasuk wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Di periode Agustus-September, kasus keracunan yang muncul berurutan, dari Sumatra Utara, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Namun, angka tidak pernah sepenuhnya menggambarkan apa yang dialami korban.
Di atas kertas, keracunan massal dapat diringkas menjadi angka. Data yang dihimpun IDN Times dari pemberitaan media di seluruh Indonesia sejak Januari hingga September 2026 mencatat sedikitnya 9.790 korban keracunan setelah menyantap MBG. Jawa Timur dan Jawa Tengah termasuk wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Di periode Agustus-September, kasus keracunan yang muncul berurutan, dari Sumatra Utara, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Namun, angka tidak pernah sepenuhnya menggambarkan apa yang dialami korban.
Di Sidoarjo, empat hari setelah peristiwa keracunan, tercatat 748 santri dan siswa yang dirawat di rumah sakit berangsur pulang. Namun, pada hari keenam masih ada 115 korban yang harus kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Dari 115 orang korban, sembilan di antaranya masih menjalani rawat inap, sementara sisanya sudah dipulangkan.Hal ini dibenarkan Waka Kesiswaan Madrasah Aliyah (MA) Manbaul Hikam, Sidoarjo, Labiburrahman.
Di Sidoarjo, empat hari setelah peristiwa keracunan, tercatat 748 santri dan siswa yang dirawat di rumah sakit berangsur pulang. Namun, pada hari keenam masih ada 115 korban yang harus kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Dari 115 orang korban, sembilan di antaranya masih menjalani rawat inap, sementara sisanya sudah dipulangkan.Hal ini dibenarkan Waka Kesiswaan Madrasah Aliyah (MA) Manbaul Hikam, Sidoarjo, Labiburrahman.
Di Sidoarjo, empat hari setelah peristiwa keracunan, tercatat 748 santri dan siswa yang dirawat di rumah sakit berangsur pulang. Namun, pada hari keenam masih ada 115 korban yang harus kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Dari 115 orang korban, sembilan di antaranya masih menjalani rawat inap, sementara sisanya sudah dipulangkan.Hal ini dibenarkan Waka Kesiswaan Madrasah Aliyah (MA) Manbaul Hikam, Sidoarjo, Labiburrahman.

Suasana di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo saat penanganan pasien keracunan MBG. (IDN Times/Khusnul Hasana)
Di Kabupaten Karo, 13 Agustus 2026, sedikitnya 391 siswa terdampak menu yang disajikan SPPG Karo Berastagi Sempajaya. Bahkan, ada satu siswi yang mengalami keluhan hingga membutuhkan rujukan ke Medan.
Salah satu siswi yang mengalami kondisi tersebut adalah Febi Yona Purba (FP). Febi merupakan anak keempat dari enam bersaudara, putri pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang.
Saat kejadian, Febi menerima menu MBG yang terdiri dari nasi putih, ikan tongkol, buah melon, dan sayur.
Menurut ibunya, Febi menghabiskan seluruh makanan yang diberikan dalam omprengan. Setelah menyantap makanan, kondisi Febi mulai berubah. Sepulang sekolah, ia mengeluhkan kepalanya terasa pusing dan tubuhnya gatal.
Di Kabupaten Karo, 13 Agustus 2026, sedikitnya 391 siswa terdampak menu yang disajikan SPPG Karo Berastagi Sempajaya. Bahkan, ada satu siswi yang mengalami keluhan hingga membutuhkan rujukan ke Medan.
Salah satu siswi yang mengalami kondisi tersebut adalah Febi Yona Purba (FP). Febi merupakan anak keempat dari enam bersaudara, putri pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang.
Saat kejadian, Febi menerima menu MBG yang terdiri dari nasi putih, ikan tongkol, buah melon, dan sayur.
Menurut ibunya, Febi menghabiskan seluruh makanan yang diberikan dalam omprengan. Setelah menyantap makanan, kondisi Febi mulai berubah. Sepulang sekolah, ia mengeluhkan kepalanya terasa pusing dan tubuhnya gatal.
Di Kabupaten Karo, 13 Agustus 2026, sedikitnya 391 siswa terdampak menu yang disajikan SPPG Karo Berastagi Sempajaya. Bahkan, ada satu siswi yang mengalami keluhan hingga membutuhkan rujukan ke Medan.
Salah satu siswi yang mengalami kondisi tersebut adalah Febi Yona Purba (FP). Febi merupakan anak keempat dari enam bersaudara, putri pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang.
Saat kejadian, Febi menerima menu MBG yang terdiri dari nasi putih, ikan tongkol, buah melon, dan sayur.
Menurut ibunya, Febi menghabiskan seluruh makanan yang diberikan dalam omprengan. Setelah menyantap makanan, kondisi Febi mulai berubah. Sepulang sekolah, ia mengeluhkan kepalanya terasa pusing dan tubuhnya gatal.

Elvinus Lusiana Sitanggang ibu Febi saat memberi keterangan ke media. (IDN Times/Indah Permatasari).
Awalnya, Elvinus mengaku tidak langsung percaya dengan keluhan yang disampaikan anaknya. Namun, rasa cemas membuatnya mencoba memberikan susu steril kemasan kepada Febi. Susu tersebut baru diminum sedikit ketika Febi tiba-tiba merasa mual dan muntah.
Melihat kondisi anaknya, keluarga membawa ke RS Kabanjahe pada 13 Agustus 2026.
Di rumah sakit tersebut, Febi menjalani perawatan selama tiga hari. Menurut pengakuan Elvinus, Febi bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sekitar setengah jam.
Awalnya, Elvinus mengaku tidak langsung percaya dengan keluhan yang disampaikan anaknya. Namun, rasa cemas membuatnya mencoba memberikan susu steril kemasan kepada Febi. Susu tersebut baru diminum sedikit ketika Febi tiba-tiba merasa mual dan muntah.
Melihat kondisi anaknya, keluarga membawa ke RS Kabanjahe pada 13 Agustus 2026.
Di rumah sakit tersebut, Febi menjalani perawatan selama tiga hari. Menurut pengakuan Elvinus, Febi bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sekitar setengah jam.
Awalnya, Elvinus mengaku tidak langsung percaya dengan keluhan yang disampaikan anaknya. Namun, rasa cemas membuatnya mencoba memberikan susu steril kemasan kepada Febi. Susu tersebut baru diminum sedikit ketika Febi tiba-tiba merasa mual dan muntah.
Melihat kondisi anaknya, keluarga membawa ke RS Kabanjahe pada 13 Agustus 2026.
Di rumah sakit tersebut, Febi menjalani perawatan selama tiga hari. Menurut pengakuan Elvinus, Febi bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sekitar setengah jam.
Pada 15 Agustus 2026, Febi diperbolehkan pulang dari RS Kabanjahe.
Namun, kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Selama dua hari berada di rumah, ia justru mengalami kejang. Keluarga kembali membawanya ke rumah sakit.
Pada 17 Agustus 2026, Febi dibawa ke RS Efarina. Selain mengalami kejang, ia juga merasakan lidahnya seperti tertarik ke dalam.Kondisi tersebut membuat kemampuan bicaranya terganggu dan terdengar pelo.
Pada 15 Agustus 2026, Febi diperbolehkan pulang dari RS Kabanjahe.
Namun, kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Selama dua hari berada di rumah, ia justru mengalami kejang. Keluarga kembali membawanya ke rumah sakit.
Pada 17 Agustus 2026, Febi dibawa ke RS Efarina. Selain mengalami kejang, ia juga merasakan lidahnya seperti tertarik ke dalam.Kondisi tersebut membuat kemampuan bicaranya terganggu dan terdengar pelo.
Pada 15 Agustus 2026, Febi diperbolehkan pulang dari RS Kabanjahe.
Namun, kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Selama dua hari berada di rumah, ia justru mengalami kejang. Keluarga kembali membawanya ke rumah sakit.
Pada 17 Agustus 2026, Febi dibawa ke RS Efarina. Selain mengalami kejang, ia juga merasakan lidahnya seperti tertarik ke dalam.Kondisi tersebut membuat kemampuan bicaranya terganggu dan terdengar pelo.

Febi Yona Purba (FP) salah seorang pasien dugaan keracunan MBG saat di Rumah Sakit. (IDN Times/Indah Permata Sari)
Menurut keterangan orangtuanya, Dokter RS Efarina menyampaikan terdapat sesuatu pada bagian otak Febi yang perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, pemeriksaan belum dapat dilakukan secara maksimal karena keterbatasan peralatan. Keluarga kemudian disarankan membawa Febi ke RS Haji Medan.
Pada 18 Agustus 2026, Febi menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan. Ia dirawat selama sekitar satu pekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada 25 Agustus 2026.
Namun, kondisi Febi di rumah tak kunjung membaik. Keluarga kembali membawanya untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis.
Menurut keterangan orangtuanya, Dokter RS Efarina menyampaikan terdapat sesuatu pada bagian otak Febi yang perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, pemeriksaan belum dapat dilakukan secara maksimal karena keterbatasan peralatan. Keluarga kemudian disarankan membawa Febi ke RS Haji Medan.
Pada 18 Agustus 2026, Febi menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan. Ia dirawat selama sekitar satu pekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada 25 Agustus 2026.
Namun, kondisi Febi di rumah tak kunjung membaik. Keluarga kembali membawanya untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis.
Menurut keterangan orangtuanya, Dokter RS Efarina menyampaikan terdapat sesuatu pada bagian otak Febi yang perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, pemeriksaan belum dapat dilakukan secara maksimal karena keterbatasan peralatan. Keluarga kemudian disarankan membawa Febi ke RS Haji Medan.
Pada 18 Agustus 2026, Febi menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan. Ia dirawat selama sekitar satu pekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada 25 Agustus 2026.
Namun, kondisi Febi di rumah tak kunjung membaik. Keluarga kembali membawanya untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis.
Pada 31 Agustus 2026, Febi dibawa ke RSUP Adam Malik Medan untuk menjalani pemeriksaan secara rawat jalan.
Beberapa hari kemudian, pada 5 September 2026, Febi kembali mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kali ini, ia menjalani rawat inap di RS Amanda hingga 6 September 2026.
Perjalanan pengobatan Febi berlanjut pada 7 September 2026. Ia kembali ke RSUP Adam Malik untuk menjalani sejumlah pemeriksaan, antara lain EEG, neurologi, gastro, dan psikiatri.
Pada 31 Agustus 2026, Febi dibawa ke RSUP Adam Malik Medan untuk menjalani pemeriksaan secara rawat jalan.
Beberapa hari kemudian, pada 5 September 2026, Febi kembali mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kali ini, ia menjalani rawat inap di RS Amanda hingga 6 September 2026.
Perjalanan pengobatan Febi berlanjut pada 7 September 2026. Ia kembali ke RSUP Adam Malik untuk menjalani sejumlah pemeriksaan, antara lain EEG, neurologi, gastro, dan psikiatri.
Pada 31 Agustus 2026, Febi dibawa ke RSUP Adam Malik Medan untuk menjalani pemeriksaan secara rawat jalan.
Beberapa hari kemudian, pada 5 September 2026, Febi kembali mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kali ini, ia menjalani rawat inap di RS Amanda hingga 6 September 2026.
Perjalanan pengobatan Febi berlanjut pada 7 September 2026. Ia kembali ke RSUP Adam Malik untuk menjalani sejumlah pemeriksaan, antara lain EEG, neurologi, gastro, dan psikiatri.
Sehari setelah pemeriksaan, pada 8 September 2026, keluarga menerima hasil pemeriksaan.
Menurut keterangan keluarga, dokter menyatakan hasil pemeriksaan Febi dalam kondisi normal. Hasil tersebut membuat keluarga kecewa dan bingung. Kondisi Febi membuatnya berulang kali harus mendapatkan perawatan di lima rumah sakit: RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik Medan, dan RS Amanda.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga akhirnya memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif tradisional.
Sehari setelah pemeriksaan, pada 8 September 2026, keluarga menerima hasil pemeriksaan.
Menurut keterangan keluarga, dokter menyatakan hasil pemeriksaan Febi dalam kondisi normal. Hasil tersebut membuat keluarga kecewa dan bingung. Kondisi Febi membuatnya berulang kali harus mendapatkan perawatan di lima rumah sakit: RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik Medan, dan RS Amanda.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga akhirnya memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif tradisional.
Sehari setelah pemeriksaan, pada 8 September 2026, keluarga menerima hasil pemeriksaan.
Menurut keterangan keluarga, dokter menyatakan hasil pemeriksaan Febi dalam kondisi normal. Hasil tersebut membuat keluarga kecewa dan bingung. Kondisi Febi membuatnya berulang kali harus mendapatkan perawatan di lima rumah sakit: RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik Medan, dan RS Amanda.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga akhirnya memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif tradisional.
Febi masih dijadwalkan menjalani kontrol kembali di RSUP Adam Malik pada 6 Oktober 2026.
Sekarang ini, keluarga masih berupaya mencari pengobatan yang dapat membantu memulihkan kondisi Febi setelah mengalami dugaan keracunan MBG pada 13 Agustus 2026.
Perjalanan Febi memperlihatkan dampak keracunan tidak selalu selesai ketika pasien keluar dari IGD atau rumah sakit. Bagi sebagian korban, persoalan berlanjut dalam bentuk pemeriksaan berulang, biaya, ketidakpastian diagnosis, dan kecemasan keluarga.
Febi masih dijadwalkan menjalani kontrol kembali di RSUP Adam Malik pada 6 Oktober 2026.
Sekarang ini, keluarga masih berupaya mencari pengobatan yang dapat membantu memulihkan kondisi Febi setelah mengalami dugaan keracunan MBG pada 13 Agustus 2026.
Perjalanan Febi memperlihatkan dampak keracunan tidak selalu selesai ketika pasien keluar dari IGD atau rumah sakit. Bagi sebagian korban, persoalan berlanjut dalam bentuk pemeriksaan berulang, biaya, ketidakpastian diagnosis, dan kecemasan keluarga.
Febi masih dijadwalkan menjalani kontrol kembali di RSUP Adam Malik pada 6 Oktober 2026.
Sekarang ini, keluarga masih berupaya mencari pengobatan yang dapat membantu memulihkan kondisi Febi setelah mengalami dugaan keracunan MBG pada 13 Agustus 2026.
Perjalanan Febi memperlihatkan dampak keracunan tidak selalu selesai ketika pasien keluar dari IGD atau rumah sakit. Bagi sebagian korban, persoalan berlanjut dalam bentuk pemeriksaan berulang, biaya, ketidakpastian diagnosis, dan kecemasan keluarga.
Jangan Cuma Sanksi SPPG
Jangan Cuma Sanksi SPPG
Jangan Cuma Sanksi SPPG
Rangkaian kejadian tersebut akhirnya membawa persoalan MBG pada pertanyaan yang lebih besar: siapa yang bertanggung jawab ketika sistem penyediaan makanan dalam skala besar gagal melindungi penerima manfaat?
Pakar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada, Oce Madril, menilai kejadian keracunan massal ini tidak boleh disikapi secara kasuistik dengan hanya memecat Kepala SPPG sebagai rantai di hilir program MBG.
“Program MBG butuh reformasi tata kelola biar gak compang-camping. Selama ini bisa dilihat, tata kelola buruk, perlu dievaluasi menyeluruh,” ujar Oce.
Rangkaian kejadian tersebut akhirnya membawa persoalan MBG pada pertanyaan yang lebih besar: siapa yang bertanggung jawab ketika sistem penyediaan makanan dalam skala besar gagal melindungi penerima manfaat?
Pakar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada, Oce Madril, menilai kejadian keracunan massal ini tidak boleh disikapi secara kasuistik dengan hanya memecat Kepala SPPG sebagai rantai di hilir program MBG.
“Program MBG butuh reformasi tata kelola biar gak compang-camping. Selama ini bisa dilihat, tata kelola buruk, perlu dievaluasi menyeluruh,” ujar Oce.
Rangkaian kejadian tersebut akhirnya membawa persoalan MBG pada pertanyaan yang lebih besar: siapa yang bertanggung jawab ketika sistem penyediaan makanan dalam skala besar gagal melindungi penerima manfaat?
Pakar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada, Oce Madril, menilai kejadian keracunan massal ini tidak boleh disikapi secara kasuistik dengan hanya memecat Kepala SPPG sebagai rantai di hilir program MBG.
“Program MBG butuh reformasi tata kelola biar gak compang-camping. Selama ini bisa dilihat, tata kelola buruk, perlu dievaluasi menyeluruh,” ujar Oce.

SPPG Kalitengah ditutup usai keracunan Massal di Sidoarjo. (IDN Times/Khusnul Hasana).
Menurut Oce, sejak awal program MBG memang lemah pada sisi akuntabilitas.
Ia menilai program tersebut hanya bertumpu pada Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 sehingga tidak ada payung hukum selevel undang-undang yang mengatur secara khusus penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya apabila terjadi pelanggaran.
“Regulasi dan kelembagaannya lemah, tidak sebanding dengan anggarannya yang besar,” katanya.
Meskipun begitu, bagi para korban yang merasa dirugikan, menurut Oce, masih terdapat jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban.
Menurut Oce, sejak awal program MBG memang lemah pada sisi akuntabilitas.
Ia menilai program tersebut hanya bertumpu pada Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 sehingga tidak ada payung hukum selevel undang-undang yang mengatur secara khusus penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya apabila terjadi pelanggaran.
“Regulasi dan kelembagaannya lemah, tidak sebanding dengan anggarannya yang besar,” katanya.
Meskipun begitu, bagi para korban yang merasa dirugikan, menurut Oce, masih terdapat jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban.
Menurut Oce, sejak awal program MBG memang lemah pada sisi akuntabilitas.
Ia menilai program tersebut hanya bertumpu pada Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 sehingga tidak ada payung hukum selevel undang-undang yang mengatur secara khusus penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya apabila terjadi pelanggaran.
“Regulasi dan kelembagaannya lemah, tidak sebanding dengan anggarannya yang besar,” katanya.
Meskipun begitu, bagi para korban yang merasa dirugikan, menurut Oce, masih terdapat jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban.
Mereka dapat menggugat pemerintah maupun BGN/SPPG melalui gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) yang dapat disertai tuntutan ganti rugi.
“Gugatan administrasi PMH terhadap pemerintah/BGN. Ini risiko hukum bagi BGN jika terjadi kesalahan, keracunan yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat. Gugatan administrasi PMH ini dapat diikuti dengan permintaan ganti rugi kepada pemerintah,” kata Direktur Pukat UGM tersebut.
Mereka dapat menggugat pemerintah maupun BGN/SPPG melalui gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) yang dapat disertai tuntutan ganti rugi.
“Gugatan administrasi PMH terhadap pemerintah/BGN. Ini risiko hukum bagi BGN jika terjadi kesalahan, keracunan yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat. Gugatan administrasi PMH ini dapat diikuti dengan permintaan ganti rugi kepada pemerintah,” kata Direktur Pukat UGM tersebut.
Mereka dapat menggugat pemerintah maupun BGN/SPPG melalui gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) yang dapat disertai tuntutan ganti rugi.
“Gugatan administrasi PMH terhadap pemerintah/BGN. Ini risiko hukum bagi BGN jika terjadi kesalahan, keracunan yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat. Gugatan administrasi PMH ini dapat diikuti dengan permintaan ganti rugi kepada pemerintah,” kata Direktur Pukat UGM tersebut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Disusun oleh
Tim Editorial
Zumrotul Abidin- Project Lead/Editor
Febriana Sinta - Editor
Irwan Idris - Editor
Yogie Fadila - Editor
Reporter
Khusnul Hasana - Reporter
Ardiansyah Fajar - Reporter
Indah Purnamasari - Reporter
M. Nasir – Reporter
Fariz Fardianto – Reporter
Infografis
Faiz Nashrillah
Hafidz Trijatnika
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.





































