

Seorang pencari kerja tengah menyusun surat lamaran demi mendapatkan pekerjaan (IDN Times/Rangga Erfizal)
Seorang pencari kerja tengah menyusun surat lamaran demi mendapatkan pekerjaan (IDN Times/Rangga Erfizal)
IDN Times - Sinta Yuliana, seorang jurnalis muda di Lampung, masih ingat betul masa-masa awalnya memasuki dunia kerja. Lulus sebagai sarjana Administrasi Bisnis dari Universitas Bandar Lampung pada tahun 2021 di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi, ia harus banting setir menjadi reporter.
Tanpa dasar ilmu jurnalistik, bulan-bulan pertamanya diisi dengan air mata.
Demi bertahan hidup, ia mengesampingkan ilmu yang didapatkannya di bangku kuliah dan mengambil peluang sebagai reporter di media Lampung Geh—sebuah profesi yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam peta kariernya.
IDN Times - Sinta Yuliana, seorang jurnalis muda di Lampung, masih ingat betul masa-masa awalnya memasuki dunia kerja. Lulus sebagai sarjana Administrasi Bisnis dari Universitas Bandar Lampung pada tahun 2021 di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi, ia harus banting setir menjadi reporter.
Tanpa dasar ilmu jurnalistik, bulan-bulan pertamanya diisi dengan air mata.
Demi bertahan hidup, ia mengesampingkan ilmu yang didapatkannya di bangku kuliah dan mengambil peluang sebagai reporter di media Lampung Geh—sebuah profesi yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam peta kariernya.
IDN Times - Sinta Yuliana, seorang jurnalis muda di Lampung, masih ingat betul masa-masa awalnya memasuki dunia kerja. Lulus sebagai sarjana Administrasi Bisnis dari Universitas Bandar Lampung pada tahun 2021 di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi, ia harus banting setir menjadi reporter.
Tanpa dasar ilmu jurnalistik, bulan-bulan pertamanya diisi dengan air mata.
Demi bertahan hidup, ia mengesampingkan ilmu yang didapatkannya di bangku kuliah dan mengambil peluang sebagai reporter di media Lampung Geh—sebuah profesi yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam peta kariernya.

Sebanyak 33,5 persen lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja di bidang tak relevan dengan jurusannya, data IMGR 2026 (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Sebanyak 33,5 persen lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja di bidang tak relevan dengan jurusannya, data IMGR 2026 (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Perjuangan Sinta adalah manifestasi nyata dari fenomena "Educated Precariat" atau pekerja terdidik yang berada dalam situasi rentan karena ketidakpastian pasar kerja. Data Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mengungkap bahwa 33,5 persen lulusan pendidikan tinggi di Indonesia bekerja di bidang yang tidak relevan dengan jurusan kuliahnya.
Krisis ini paling tajam menghantam rumpun ilmu sosial dan humaniora, yang menyumbang 60 persen dari total pengangguran sarjana karena jumlah lulusan yang jauh melampaui ketersediaan lapangan kerja formal yang spesifik.
Seperti yang dialami Bagus Rizki Satria Wijaya, lulusan Sosiologi Universitas Sriwijaya dengan konsentrasi pemberdayaan masyarakat, dan Wawan Saputra, lulusan Sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung.
Perjuangan Sinta adalah manifestasi nyata dari fenomena "Educated Precariat" atau pekerja terdidik yang berada dalam situasi rentan karena ketidakpastian pasar kerja. Data Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mengungkap bahwa 33,5 persen lulusan pendidikan tinggi di Indonesia bekerja di bidang yang tidak relevan dengan jurusan kuliahnya.
Krisis ini paling tajam menghantam rumpun ilmu sosial dan humaniora, yang menyumbang 60 persen dari total pengangguran sarjana karena jumlah lulusan yang jauh melampaui ketersediaan lapangan kerja formal yang spesifik.
Seperti yang dialami Bagus Rizki Satria Wijaya, lulusan Sosiologi Universitas Sriwijaya dengan konsentrasi pemberdayaan masyarakat, dan Wawan Saputra, lulusan Sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung.
Perjuangan Sinta adalah manifestasi nyata dari fenomena "Educated Precariat" atau pekerja terdidik yang berada dalam situasi rentan karena ketidakpastian pasar kerja. Data Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mengungkap bahwa 33,5 persen lulusan pendidikan tinggi di Indonesia bekerja di bidang yang tidak relevan dengan jurusan kuliahnya.
Krisis ini paling tajam menghantam rumpun ilmu sosial dan humaniora, yang menyumbang 60 persen dari total pengangguran sarjana karena jumlah lulusan yang jauh melampaui ketersediaan lapangan kerja formal yang spesifik.
Seperti yang dialami Bagus Rizki Satria Wijaya, lulusan Sosiologi Universitas Sriwijaya dengan konsentrasi pemberdayaan masyarakat, dan Wawan Saputra, lulusan Sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung.



"Sebulan pertama kerja saya sering nangis. Belajar nulis, belajar ke lokasi kejadian, ketemu banyak orang, wawancara. Semua harus dimulai dari nol"
Sinta Yuliana, Jurnalis lulusan Administrasi Bisnis
(IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
(IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Melampaui Teori Sosiologi Lewat Algoritma dan Marketing
Melampaui Teori Sosiologi Lewat Algoritma dan Marketing
Melampaui Teori Sosiologi Lewat Algoritma dan Marketing

Bagus sekarang justru sibuk sebagai kreator konten video di sebuah perusahaan media, profesi yang jauh berbeda dari latar belakang pendidikan formalnya. Bagus mengaku, sejak lulus kuliah ia memang tidak pernah bekerja sesuai bidang akademik. Menurutnya, peluang kerja di sektor industri untuk jurusan yang ia pelajari cukup terbatas. Efeknya, Bagus mulai mencari peluang dan mempelajari keterampilan lain sejak masih duduk di bangku mahasiswa.
"Saya tertarik belajar digital marketing, ikut kelas online dan sempat mengelola media sosial organisasi mahasiswa. Dari situ saya mendapatkan pengalaman yang akhirnya bisa digunakan dalam pekerjaan sekarang," ujarnya.
Bagus bercerita, kemampuan yang paling dibutuhkan pada era serba sulit seperti sekarang bukan hanya keahlian spesifik, tetapi juga kemampuan menjadi seorang generalis yang mampu menggabungkan keterampilan teknologi sejalan dengan kemampuan adaptasi.
Menurut dia, penguasaan digital marketing, pengelolaan media sosial, pemahaman SEO, hingga kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja modern. Bahkan, kata Bagus, sebagian besar keterampilan yang relevan dengan industri saat ini diperoleh secara mandiri di luar ruang kuliah.
Bagus sekarang justru sibuk sebagai kreator konten video di sebuah perusahaan media, profesi yang jauh berbeda dari latar belakang pendidikan formalnya. Bagus mengaku, sejak lulus kuliah ia memang tidak pernah bekerja sesuai bidang akademik. Menurutnya, peluang kerja di sektor industri untuk jurusan yang ia pelajari cukup terbatas. Efeknya, Bagus mulai mencari peluang dan mempelajari keterampilan lain sejak masih duduk di bangku mahasiswa.
"Saya tertarik belajar digital marketing, ikut kelas online dan sempat mengelola media sosial organisasi mahasiswa. Dari situ saya mendapatkan pengalaman yang akhirnya bisa digunakan dalam pekerjaan sekarang," ujarnya.
Bagus bercerita, kemampuan yang paling dibutuhkan pada era serba sulit seperti sekarang bukan hanya keahlian spesifik, tetapi juga kemampuan menjadi seorang generalis yang mampu menggabungkan keterampilan teknologi sejalan dengan kemampuan adaptasi.
Menurut dia, penguasaan digital marketing, pengelolaan media sosial, pemahaman SEO, hingga kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja modern. Bahkan, kata Bagus, sebagian besar keterampilan yang relevan dengan industri saat ini diperoleh secara mandiri di luar ruang kuliah.
Bagus sekarang justru sibuk sebagai kreator konten video di sebuah perusahaan media, profesi yang jauh berbeda dari latar belakang pendidikan formalnya. Bagus mengaku, sejak lulus kuliah ia memang tidak pernah bekerja sesuai bidang akademik. Menurutnya, peluang kerja di sektor industri untuk jurusan yang ia pelajari cukup terbatas. Efeknya, Bagus mulai mencari peluang dan mempelajari keterampilan lain sejak masih duduk di bangku mahasiswa.
"Saya tertarik belajar digital marketing, ikut kelas online dan sempat mengelola media sosial organisasi mahasiswa. Dari situ saya mendapatkan pengalaman yang akhirnya bisa digunakan dalam pekerjaan sekarang," ujarnya.
Bagus bercerita, kemampuan yang paling dibutuhkan pada era serba sulit seperti sekarang bukan hanya keahlian spesifik, tetapi juga kemampuan menjadi seorang generalis yang mampu menggabungkan keterampilan teknologi sejalan dengan kemampuan adaptasi.
Menurut dia, penguasaan digital marketing, pengelolaan media sosial, pemahaman SEO, hingga kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja modern. Bahkan, kata Bagus, sebagian besar keterampilan yang relevan dengan industri saat ini diperoleh secara mandiri di luar ruang kuliah.

Bagus Rizki Satria Wijaya, lulusan Sosiologi Universitas Sriwijaya kini bekerja sebagai kreator konten video di media massa yang berbasis di Palembang. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Bagus Rizki Satria Wijaya, lulusan Sosiologi Universitas Sriwijaya kini bekerja sebagai kreator konten video di media massa yang berbasis di Palembang. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Kisah serupa dialami oleh Wawan Saputra (30), alumni Sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung. Kariernya berbelok tajam saat ia memutuskan untuk masuk ke dunia perbankan sebagai Relationship Manager di Bank Raya Indonesia.
Wawan mengakui bahwa disiplin ilmunya tidak memberikan bekal teknis soal penjualan atau pemasaran produk bank, sehingga ia terpaksa belajar dari nol secara mandiri. Namun, cara Wawan bertahan hidup adalah dengan menemukan "benang merah" antara ilmu sosiologi dan perbankan.
Ia menggunakan kemampuan memahami karakter masyarakat yang dipelajarinya di kampus sebagai modal berharga saat harus berinteraksi dan melakukan pendampingan kepada nasabah UMKM. Baginya, kenyamanan dalam profesi baru akan muncul seiring dengan kemauan belajar yang terus dipupuk.
Kisah serupa dialami oleh Wawan Saputra (30), alumni Sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung. Kariernya berbelok tajam saat ia memutuskan untuk masuk ke dunia perbankan sebagai Relationship Manager di Bank Raya Indonesia.
Wawan mengakui bahwa disiplin ilmunya tidak memberikan bekal teknis soal penjualan atau pemasaran produk bank, sehingga ia terpaksa belajar dari nol secara mandiri. Namun, cara Wawan bertahan hidup adalah dengan menemukan "benang merah" antara ilmu sosiologi dan perbankan.
Ia menggunakan kemampuan memahami karakter masyarakat yang dipelajarinya di kampus sebagai modal berharga saat harus berinteraksi dan melakukan pendampingan kepada nasabah UMKM. Baginya, kenyamanan dalam profesi baru akan muncul seiring dengan kemauan belajar yang terus dipupuk.
Kisah serupa dialami oleh Wawan Saputra (30), alumni Sosiologi Agama UIN Raden Intan Lampung. Kariernya berbelok tajam saat ia memutuskan untuk masuk ke dunia perbankan sebagai Relationship Manager di Bank Raya Indonesia.
Wawan mengakui bahwa disiplin ilmunya tidak memberikan bekal teknis soal penjualan atau pemasaran produk bank, sehingga ia terpaksa belajar dari nol secara mandiri. Namun, cara Wawan bertahan hidup adalah dengan menemukan "benang merah" antara ilmu sosiologi dan perbankan.
Ia menggunakan kemampuan memahami karakter masyarakat yang dipelajarinya di kampus sebagai modal berharga saat harus berinteraksi dan melakukan pendampingan kepada nasabah UMKM. Baginya, kenyamanan dalam profesi baru akan muncul seiring dengan kemauan belajar yang terus dipupuk.



"Ya intinya harus banyak-banyak belajar saja. Apalagi kalau marketing, nanti ide dan solusi akan muncul sendiri. Lama-lama nyaman sendiri menjalaninya"
Wawan Saputra, Relationship Manager Bank Raya Indonesia lulusan Sosiologi Agama
(IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
(IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Dari Lab Geosains ke Kebun Kopi: Keberanian Menjemput Takdir Baru
Dari Lab Geosains ke Kebun Kopi: Keberanian Menjemput Takdir Baru
Dari Lab Geosains ke Kebun Kopi: Keberanian Menjemput Takdir Baru

M Syah Raffiudin saat sedang memproses kopi yang akan diekspor (Dok Pribadi)
M Syah Raffiudin saat sedang memproses kopi yang akan diekspor (Dok Pribadi)
Jika ijazah adalah peta, maka Muhammad Syah Raffiuddin seharusnya hari ini berada di lokasi pertambangan atau laboratorium riset. Sebagai lulusan Fisika peminatan geosains, Raffi—begitu ia akrab disapa—sempat mencicipi nyamannya kursi empuk dunia korporasi yang linear dengan latar belakang akademiknya.
Namun, panggilan untuk pulang ke tanah kelahirannya di Palembang dan berbagai pertimbangan pribadi memaksanya melipat peta karier lama dan menggantinya dengan kanvas kosong di dunia usaha.
Keputusan Raffi untuk banting setir menjadi eksportir kopi melalui PT Asya Syila Nusantara dan PT Agri Ekspor Indonesia bukanlah sebuah keajaiban yang terjadi dalam semalam. Ia harus melewati fase "pasang surut" yang melelahkan sebelum akhirnya berhasil rutin mengirim komoditas kopi Sumatera Selatan ke berbagai negara.
Jika ijazah adalah peta, maka Muhammad Syah Raffiuddin seharusnya hari ini berada di lokasi pertambangan atau laboratorium riset. Sebagai lulusan Fisika peminatan geosains, Raffi—begitu ia akrab disapa—sempat mencicipi nyamannya kursi empuk dunia korporasi yang linear dengan latar belakang akademiknya.
Namun, panggilan untuk pulang ke tanah kelahirannya di Palembang dan berbagai pertimbangan pribadi memaksanya melipat peta karier lama dan menggantinya dengan kanvas kosong di dunia usaha.
Keputusan Raffi untuk banting setir menjadi eksportir kopi melalui PT Asya Syila Nusantara dan PT Agri Ekspor Indonesia bukanlah sebuah keajaiban yang terjadi dalam semalam. Ia harus melewati fase "pasang surut" yang melelahkan sebelum akhirnya berhasil rutin mengirim komoditas kopi Sumatera Selatan ke berbagai negara.
Jika ijazah adalah peta, maka Muhammad Syah Raffiuddin seharusnya hari ini berada di lokasi pertambangan atau laboratorium riset. Sebagai lulusan Fisika peminatan geosains, Raffi—begitu ia akrab disapa—sempat mencicipi nyamannya kursi empuk dunia korporasi yang linear dengan latar belakang akademiknya.
Namun, panggilan untuk pulang ke tanah kelahirannya di Palembang dan berbagai pertimbangan pribadi memaksanya melipat peta karier lama dan menggantinya dengan kanvas kosong di dunia usaha.
Keputusan Raffi untuk banting setir menjadi eksportir kopi melalui PT Asya Syila Nusantara dan PT Agri Ekspor Indonesia bukanlah sebuah keajaiban yang terjadi dalam semalam. Ia harus melewati fase "pasang surut" yang melelahkan sebelum akhirnya berhasil rutin mengirim komoditas kopi Sumatera Selatan ke berbagai negara.

Transisi yang dilakukan Raffi, yang merupakan lulusan Fisika Geosains, kini malah 'mengolah' kopi untuk ekspor, banyak dilakukan Gen Z dan Milenial lain. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Transisi yang dilakukan Raffi, yang merupakan lulusan Fisika Geosains, kini malah 'mengolah' kopi untuk ekspor, banyak dilakukan Gen Z dan Milenial lain. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
"Background saya sebenarnya geoscientist, jurusan fisika. Sebelumnya saya juga bekerja di perusahaan. Kemudian karena berbagai pertimbangan saya kembali ke Palembang dan memilih terjun ke dunia usaha," jelas Raffi dengan nada tenang.
Ia tak menampik bahwa tantangan industri kopi sangat berbeda dengan rumus fisika; ia harus belajar memahami karakter kopi yang berbeda tiap daerah, fluktuasi harga komoditas, hingga kerumitan prosedur ekspor.
Perjalanan Raffi mencerminkan pergeseran besar dalam cara generasi muda Indonesia memandang karier. Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat bahwa kewirausahaan kini telah bergeser dari sekadar aspirasi menjadi kebutuhan (necessity) akibat terbatasnya lapangan kerja formal yang stabil. Data menunjukkan bahwa 84 persen responden kini menempuh jalur freelance, side hustle, atau bisnis mandiri bukan hanya untuk menambah penghasilan, tetapi untuk menguji jalur karier baru (testing paths) sebelum melakukan transisi penuh.
"Background saya sebenarnya geoscientist, jurusan fisika. Sebelumnya saya juga bekerja di perusahaan. Kemudian karena berbagai pertimbangan saya kembali ke Palembang dan memilih terjun ke dunia usaha," jelas Raffi dengan nada tenang.
Ia tak menampik bahwa tantangan industri kopi sangat berbeda dengan rumus fisika; ia harus belajar memahami karakter kopi yang berbeda tiap daerah, fluktuasi harga komoditas, hingga kerumitan prosedur ekspor.
Perjalanan Raffi mencerminkan pergeseran besar dalam cara generasi muda Indonesia memandang karier. Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat bahwa kewirausahaan kini telah bergeser dari sekadar aspirasi menjadi kebutuhan (necessity) akibat terbatasnya lapangan kerja formal yang stabil. Data menunjukkan bahwa 84 persen responden kini menempuh jalur freelance, side hustle, atau bisnis mandiri bukan hanya untuk menambah penghasilan, tetapi untuk menguji jalur karier baru (testing paths) sebelum melakukan transisi penuh.
"Background saya sebenarnya geoscientist, jurusan fisika. Sebelumnya saya juga bekerja di perusahaan. Kemudian karena berbagai pertimbangan saya kembali ke Palembang dan memilih terjun ke dunia usaha," jelas Raffi dengan nada tenang.
Ia tak menampik bahwa tantangan industri kopi sangat berbeda dengan rumus fisika; ia harus belajar memahami karakter kopi yang berbeda tiap daerah, fluktuasi harga komoditas, hingga kerumitan prosedur ekspor.
Perjalanan Raffi mencerminkan pergeseran besar dalam cara generasi muda Indonesia memandang karier. Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat bahwa kewirausahaan kini telah bergeser dari sekadar aspirasi menjadi kebutuhan (necessity) akibat terbatasnya lapangan kerja formal yang stabil. Data menunjukkan bahwa 84 persen responden kini menempuh jalur freelance, side hustle, atau bisnis mandiri bukan hanya untuk menambah penghasilan, tetapi untuk menguji jalur karier baru (testing paths) sebelum melakukan transisi penuh.
Benturan Tembok "Pengalaman Kerja" dan Batasan Usia
Benturan Tembok "Pengalaman Kerja" dan Batasan Usia
Benturan Tembok "Pengalaman Kerja" dan Batasan Usia

Apa yang dirasakan para Gen Z dan Milenial saat ditanya ketidaksiapan mereka masuk ke dunia kerja (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Apa yang dirasakan para Gen Z dan Milenial saat ditanya ketidaksiapan mereka masuk ke dunia kerja (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
"Untuk sekarang lowongan kerja justru terasa lebih berat. Kita harus siap kerja, bukan belajar bekerja," - Aris, lulusan Fakultas Hukum UMP 2023
"Untuk sekarang lowongan kerja justru terasa lebih berat. Kita harus siap kerja, bukan belajar bekerja," - Aris, lulusan Fakultas Hukum UMP 2023
Bagi Aris, seorang lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), tantangan terbesar setelah lulus bukanlah memahami pasal-pasal hukum, melainkan memenuhi kualifikasi yang diminta perusahaan. Meskipun memegang gelar hukum yang prestisius, Aris menemukan bahwa pintu gerbang dunia profesional tidak terbuka hanya dengan ijazah.
Aris lulus kuliah pada 2023, sebelumnya pernah bekerja di perusahaan leasing sebagai mata elang alias debt collector. Setelah berhenti dari perusahaan lamanya, kini dia sudah dua bulan menganggur.
Ia merasakan adanya pergeseran pola rekrutmen; jika dahulu perusahaan bersedia memberikan ruang pembelajaran, kini industri lebih menginginkan tenaga kerja yang "langsung pakai" sejak hari pertama.
Situasi ini memaksa Aris untuk tidak bersikap idealis.
"Tantangan terbesar saat mencari kerja biasanya perusahaan mencari orang yang sudah berpengalaman. Sekarang juga ada batas umur untuk fresh graduate," keluhnya.
Bagi Aris, seorang lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), tantangan terbesar setelah lulus bukanlah memahami pasal-pasal hukum, melainkan memenuhi kualifikasi yang diminta perusahaan. Meskipun memegang gelar hukum yang prestisius, Aris menemukan bahwa pintu gerbang dunia profesional tidak terbuka hanya dengan ijazah.
Aris lulus kuliah pada 2023, sebelumnya pernah bekerja di perusahaan leasing sebagai mata elang alias debt collector. Setelah berhenti dari perusahaan lamanya, kini dia sudah dua bulan menganggur.
Ia merasakan adanya pergeseran pola rekrutmen; jika dahulu perusahaan bersedia memberikan ruang pembelajaran, kini industri lebih menginginkan tenaga kerja yang "langsung pakai" sejak hari pertama.
Situasi ini memaksa Aris untuk tidak bersikap idealis.
"Tantangan terbesar saat mencari kerja biasanya perusahaan mencari orang yang sudah berpengalaman. Sekarang juga ada batas umur untuk fresh graduate," keluhnya.
Bagi Aris, seorang lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), tantangan terbesar setelah lulus bukanlah memahami pasal-pasal hukum, melainkan memenuhi kualifikasi yang diminta perusahaan. Meskipun memegang gelar hukum yang prestisius, Aris menemukan bahwa pintu gerbang dunia profesional tidak terbuka hanya dengan ijazah.
Aris lulus kuliah pada 2023, sebelumnya pernah bekerja di perusahaan leasing sebagai mata elang alias debt collector. Setelah berhenti dari perusahaan lamanya, kini dia sudah dua bulan menganggur.
Ia merasakan adanya pergeseran pola rekrutmen; jika dahulu perusahaan bersedia memberikan ruang pembelajaran, kini industri lebih menginginkan tenaga kerja yang "langsung pakai" sejak hari pertama.
Situasi ini memaksa Aris untuk tidak bersikap idealis.
"Tantangan terbesar saat mencari kerja biasanya perusahaan mencari orang yang sudah berpengalaman. Sekarang juga ada batas umur untuk fresh graduate," keluhnya.

Tren jumlah pengangguran sarjana 10 tahun terakhir (2016-2025). (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Tren jumlah pengangguran sarjana 10 tahun terakhir (2016-2025). (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Perjuangan Aris divalidasi oleh data yang menunjukkan betapa sulitnya lulusan baru menembus sektor formal. Berdasarkan survei Populix, 63 persen pencari kerja menilai tuntutan pengalaman kerja yang terlalu tinggi menjadi hambatan utama dalam mendapatkan pekerjaan pertama. Hal ini selaras dengan pernyataan praktisi HRD bahwa 61 persen perusahaan memang kesulitan menemukan kandidat karena minimnya pengalaman praktis pelamar.
Keluhan Aris mengenai batasan umur didukung oleh data bahwa 53 persen pencari kerja merasa terkendala oleh syarat usia dalam lowongan pekerjaan. Hal ini memicu tuntutan masif dari generasi muda, di mana 70 persen Milenial dan Gen Z menuntut penghapusan batasan usia agar sistem rekrutmen menjadi lebih adil.
Aris juga menyadari bahwa di era digital, kemampuan hukumnya harus dibalut dengan literasi teknologi. Menurutnya, pencari kerja saat ini dituntut memiliki keterampilan tambahan seperti kemampuan memanfaatkan media sosial untuk promosi agar lebih mudah dilirik perusahaan.
Perjuangan Aris divalidasi oleh data yang menunjukkan betapa sulitnya lulusan baru menembus sektor formal. Berdasarkan survei Populix, 63 persen pencari kerja menilai tuntutan pengalaman kerja yang terlalu tinggi menjadi hambatan utama dalam mendapatkan pekerjaan pertama. Hal ini selaras dengan pernyataan praktisi HRD bahwa 61 persen perusahaan memang kesulitan menemukan kandidat karena minimnya pengalaman praktis pelamar.
Keluhan Aris mengenai batasan umur didukung oleh data bahwa 53 persen pencari kerja merasa terkendala oleh syarat usia dalam lowongan pekerjaan. Hal ini memicu tuntutan masif dari generasi muda, di mana 70 persen Milenial dan Gen Z menuntut penghapusan batasan usia agar sistem rekrutmen menjadi lebih adil.
Aris juga menyadari bahwa di era digital, kemampuan hukumnya harus dibalut dengan literasi teknologi. Menurutnya, pencari kerja saat ini dituntut memiliki keterampilan tambahan seperti kemampuan memanfaatkan media sosial untuk promosi agar lebih mudah dilirik perusahaan.
Perjuangan Aris divalidasi oleh data yang menunjukkan betapa sulitnya lulusan baru menembus sektor formal. Berdasarkan survei Populix, 63 persen pencari kerja menilai tuntutan pengalaman kerja yang terlalu tinggi menjadi hambatan utama dalam mendapatkan pekerjaan pertama. Hal ini selaras dengan pernyataan praktisi HRD bahwa 61 persen perusahaan memang kesulitan menemukan kandidat karena minimnya pengalaman praktis pelamar.
Keluhan Aris mengenai batasan umur didukung oleh data bahwa 53 persen pencari kerja merasa terkendala oleh syarat usia dalam lowongan pekerjaan. Hal ini memicu tuntutan masif dari generasi muda, di mana 70 persen Milenial dan Gen Z menuntut penghapusan batasan usia agar sistem rekrutmen menjadi lebih adil.
Aris juga menyadari bahwa di era digital, kemampuan hukumnya harus dibalut dengan literasi teknologi. Menurutnya, pencari kerja saat ini dituntut memiliki keterampilan tambahan seperti kemampuan memanfaatkan media sosial untuk promosi agar lebih mudah dilirik perusahaan.

Sinta Yuliana, jurnalis muda lulusan Administrasi Bisnis saat bekerja (Dok Pribadi)
Sinta Yuliana, jurnalis muda lulusan Administrasi Bisnis saat bekerja (Dok Pribadi)
Kisah lain datang dari Anggis, lulusan Teknik Geologi Universitas Sriwijaya angkatan 2017. Ia merasakan ketidakpastian pasar kerja. Warga Palembang ini sekarang menganggur. Padahal setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja selama tiga tahun di sektor pertambangan. Namun, pekerjaannya terhenti akibat kebijakan efisiensi perusahaan yang berkaitan dengan proses perizinan dan rencana kerja perusahaan tambang.
Sudah hampir dua tahun belakangan Anggis belum mendapatkan pekerjaan tetap lagi. Sekarang, untuk mengisi waktu sekaligus mencari penghasilan, ia aktif membuat konten digital dan menjadi afiliator di media sosial.
"Kalau dilihat potensi, jurusan saya banyak peluang sesuai kebutuhan industri. Tapi berkaca dari ekonomi sekarang, banyak sektor yang menghadapi risiko ketidakpastian. Termasuk sektor usaha mengalami perlambatan," jelas dia.
Kisah lain datang dari Anggis, lulusan Teknik Geologi Universitas Sriwijaya angkatan 2017. Ia merasakan ketidakpastian pasar kerja. Warga Palembang ini sekarang menganggur. Padahal setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja selama tiga tahun di sektor pertambangan. Namun, pekerjaannya terhenti akibat kebijakan efisiensi perusahaan yang berkaitan dengan proses perizinan dan rencana kerja perusahaan tambang.
Sudah hampir dua tahun belakangan Anggis belum mendapatkan pekerjaan tetap lagi. Sekarang, untuk mengisi waktu sekaligus mencari penghasilan, ia aktif membuat konten digital dan menjadi afiliator di media sosial.
"Kalau dilihat potensi, jurusan saya banyak peluang sesuai kebutuhan industri. Tapi berkaca dari ekonomi sekarang, banyak sektor yang menghadapi risiko ketidakpastian. Termasuk sektor usaha mengalami perlambatan," jelas dia.
Kisah lain datang dari Anggis, lulusan Teknik Geologi Universitas Sriwijaya angkatan 2017. Ia merasakan ketidakpastian pasar kerja. Warga Palembang ini sekarang menganggur. Padahal setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja selama tiga tahun di sektor pertambangan. Namun, pekerjaannya terhenti akibat kebijakan efisiensi perusahaan yang berkaitan dengan proses perizinan dan rencana kerja perusahaan tambang.
Sudah hampir dua tahun belakangan Anggis belum mendapatkan pekerjaan tetap lagi. Sekarang, untuk mengisi waktu sekaligus mencari penghasilan, ia aktif membuat konten digital dan menjadi afiliator di media sosial.
"Kalau dilihat potensi, jurusan saya banyak peluang sesuai kebutuhan industri. Tapi berkaca dari ekonomi sekarang, banyak sektor yang menghadapi risiko ketidakpastian. Termasuk sektor usaha mengalami perlambatan," jelas dia.
Jurang Lebar Kebutuhan Industri dan Kesiapan Kerja
Jurang Lebar Kebutuhan Industri dan Kesiapan Kerja
Jurang Lebar Kebutuhan Industri dan Kesiapan Kerja

Seorang petugas livestream Torch sedang menjajakan produknya secara digital. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
"Gap antara yang melamar dengan ketersediaan posisinya itu cukup jauh. Bisa satu banding 200 sampai satu banding 300," - Geris Pradhana, People & Culture Manager Torch
"Gap antara yang melamar dengan ketersediaan posisinya itu cukup jauh. Bisa satu banding 200 sampai satu banding 300," - Geris Pradhana, People & Culture Manager Torch
Realita pahit kebutuhan tenaga kerja industri ekonomi digital Indonesia, terungkap dari meja kerja para Human Resources (HR). Torch, sebuah perusahaan retail berbasis digital di Bandung, menjadi saksi bisu betapa lebarnya jurang antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata industri saat ini.
People and Culture Manager Torch, Geris Pradhana, mengungkapkan sebuah statistik yang mencengangkan. Setiap tahunnya, total hampir 1.000 pelamar yang masuk ke Torch untuk posisi entry level atau staf.
Namun, dari angka fantastis tersebut, hanya sekitar 10 persen (atau 20 orang dari 200 pelamar) yang dinilai memenuhi kualifikasi untuk masuk ke tahapan seleksi berikutnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa tingginya jumlah sarjana yang lulus setiap tahun tidak otomatis menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di industri.
Realita pahit kebutuhan tenaga kerja industri ekonomi digital Indonesia, terungkap dari meja kerja para Human Resources (HR). Torch, sebuah perusahaan retail berbasis digital di Bandung, menjadi saksi bisu betapa lebarnya jurang antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata industri saat ini.
People and Culture Manager Torch, Geris Pradhana, mengungkapkan sebuah statistik yang mencengangkan. Setiap tahunnya, total hampir 1.000 pelamar yang masuk ke Torch untuk posisi entry level atau staf.
Namun, dari angka fantastis tersebut, hanya sekitar 10 persen (atau 20 orang dari 200 pelamar) yang dinilai memenuhi kualifikasi untuk masuk ke tahapan seleksi berikutnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa tingginya jumlah sarjana yang lulus setiap tahun tidak otomatis menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di industri.
Realita pahit kebutuhan tenaga kerja industri ekonomi digital Indonesia, terungkap dari meja kerja para Human Resources (HR). Torch, sebuah perusahaan retail berbasis digital di Bandung, menjadi saksi bisu betapa lebarnya jurang antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata industri saat ini.
People and Culture Manager Torch, Geris Pradhana, mengungkapkan sebuah statistik yang mencengangkan. Setiap tahunnya, total hampir 1.000 pelamar yang masuk ke Torch untuk posisi entry level atau staf.
Namun, dari angka fantastis tersebut, hanya sekitar 10 persen (atau 20 orang dari 200 pelamar) yang dinilai memenuhi kualifikasi untuk masuk ke tahapan seleksi berikutnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa tingginya jumlah sarjana yang lulus setiap tahun tidak otomatis menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di industri.

Suasana toko fisik Torch di Jalan Lembong, Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Suasana toko fisik Torch di Jalan Lembong, Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Geris mengidentifikasi bahwa problem utama terletak pada kecepatan adaptasi dunia pendidikan. Kurikulum perguruan tinggi umumnya dirancang berdasarkan kebutuhan industri beberapa tahun sebelumnya. Walhasil, saat mahasiswa lulus, kebutuhan industri sudah bergeser jauh.
Profesi-profesi "basah" yang sangat dibutuhkan saat ini seperti digital marketer, data analyst, hingga content creator justru belum banyak diajarkan secara spesifik di kampus. Bahkan, penguasaan terhadap Artificial Intelligence (AI) dan analisis data kini menjadi syarat mutlak yang sering kali tidak dimiliki lulusan baru.
"Background apapun jadi sangat tidak relevan ketika dia tidak berbicara berdasarkan data," tegas Geris.
Baginya, ijazah memang penting sebagai bukti dasar pengetahuan, namun pengalaman praktik dan keterampilan teknis terbaru jauh lebih menentukan.
Geris mengidentifikasi bahwa problem utama terletak pada kecepatan adaptasi dunia pendidikan. Kurikulum perguruan tinggi umumnya dirancang berdasarkan kebutuhan industri beberapa tahun sebelumnya. Walhasil, saat mahasiswa lulus, kebutuhan industri sudah bergeser jauh.
Profesi-profesi "basah" yang sangat dibutuhkan saat ini seperti digital marketer, data analyst, hingga content creator justru belum banyak diajarkan secara spesifik di kampus. Bahkan, penguasaan terhadap Artificial Intelligence (AI) dan analisis data kini menjadi syarat mutlak yang sering kali tidak dimiliki lulusan baru.
"Background apapun jadi sangat tidak relevan ketika dia tidak berbicara berdasarkan data," tegas Geris.
Baginya, ijazah memang penting sebagai bukti dasar pengetahuan, namun pengalaman praktik dan keterampilan teknis terbaru jauh lebih menentukan.
Geris mengidentifikasi bahwa problem utama terletak pada kecepatan adaptasi dunia pendidikan. Kurikulum perguruan tinggi umumnya dirancang berdasarkan kebutuhan industri beberapa tahun sebelumnya. Walhasil, saat mahasiswa lulus, kebutuhan industri sudah bergeser jauh.
Profesi-profesi "basah" yang sangat dibutuhkan saat ini seperti digital marketer, data analyst, hingga content creator justru belum banyak diajarkan secara spesifik di kampus. Bahkan, penguasaan terhadap Artificial Intelligence (AI) dan analisis data kini menjadi syarat mutlak yang sering kali tidak dimiliki lulusan baru.
"Background apapun jadi sangat tidak relevan ketika dia tidak berbicara berdasarkan data," tegas Geris.
Baginya, ijazah memang penting sebagai bukti dasar pengetahuan, namun pengalaman praktik dan keterampilan teknis terbaru jauh lebih menentukan.

(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya menunggu kampus berubah, Torch melakukan langkah radikal. Mereka membangun program pengembangan SDM internal yang dinamakan Daily Literatorch.
Program ini bukan sekadar pelatihan formal biasa. Setiap hari, seluruh karyawan diwajibkan mempelajari materi baru—baik dari artikel, buku, video, maupun podcast—yang relevan dengan bidangnya. Setelah itu, mereka harus membuat ringkasan dan mengunggahnya ke platform internal perusahaan.
Menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya menunggu kampus berubah, Torch melakukan langkah radikal. Mereka membangun program pengembangan SDM internal yang dinamakan Daily Literatorch.
Program ini bukan sekadar pelatihan formal biasa. Setiap hari, seluruh karyawan diwajibkan mempelajari materi baru—baik dari artikel, buku, video, maupun podcast—yang relevan dengan bidangnya. Setelah itu, mereka harus membuat ringkasan dan mengunggahnya ke platform internal perusahaan.
Menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya menunggu kampus berubah, Torch melakukan langkah radikal. Mereka membangun program pengembangan SDM internal yang dinamakan Daily Literatorch.
Program ini bukan sekadar pelatihan formal biasa. Setiap hari, seluruh karyawan diwajibkan mempelajari materi baru—baik dari artikel, buku, video, maupun podcast—yang relevan dengan bidangnya. Setelah itu, mereka harus membuat ringkasan dan mengunggahnya ke platform internal perusahaan.



"Yang dibangun itu habit-nya dulu. Ketika mereka terbiasa menerima informasi baru, mereka tidak akan keberatan ketika harus berubah atau improve"
Geris Pradhana, People & Culture Manager Torch
(IDN Times/Debbie Sutrisno)
(IDN Times/Debbie Sutrisno)
Untuk memastikan konsistensi, Torch menerapkan sistem gamifikasi dengan poin, peringkat, dan winning streak. Menariknya, aktivitas belajar ini menjadi salah satu indikator utama dalam penilaian kinerja (performance review) karyawan.
Langkah ini diambil karena industri berubah dalam hitungan bulan, bukan tahun. Geris mencontohkan strategi pemasaran digital yang dua tahun lalu bergantung pada Facebook Ads, kini telah beralih ke fitur AI di marketplace. Tanpa budaya belajar harian, keterampilan pekerja akan usang dalam sekejap
Untuk memastikan konsistensi, Torch menerapkan sistem gamifikasi dengan poin, peringkat, dan winning streak. Menariknya, aktivitas belajar ini menjadi salah satu indikator utama dalam penilaian kinerja (performance review) karyawan.
Langkah ini diambil karena industri berubah dalam hitungan bulan, bukan tahun. Geris mencontohkan strategi pemasaran digital yang dua tahun lalu bergantung pada Facebook Ads, kini telah beralih ke fitur AI di marketplace. Tanpa budaya belajar harian, keterampilan pekerja akan usang dalam sekejap
Untuk memastikan konsistensi, Torch menerapkan sistem gamifikasi dengan poin, peringkat, dan winning streak. Menariknya, aktivitas belajar ini menjadi salah satu indikator utama dalam penilaian kinerja (performance review) karyawan.
Langkah ini diambil karena industri berubah dalam hitungan bulan, bukan tahun. Geris mencontohkan strategi pemasaran digital yang dua tahun lalu bergantung pada Facebook Ads, kini telah beralih ke fitur AI di marketplace. Tanpa budaya belajar harian, keterampilan pekerja akan usang dalam sekejap
Bukan Sekadar Ijazah: Realita Baru Rekrutmen
Bukan Sekadar Ijazah: Realita Baru Rekrutmen
Bukan Sekadar Ijazah: Realita Baru Rekrutmen

Wawan Saputra, lulusan Sosiologi Agama yang kini berkarier sebagai Relationship Manager di Bank Raya Indonesia (BRI Grup). (Dok Pribadi)
Wawan Saputra, lulusan Sosiologi Agama yang kini berkarier sebagai Relationship Manager di Bank Raya Indonesia (BRI Grup). (Dok Pribadi)
Di tengah ketatnya persaingan pasar kerja akhir-akhir ini, ijazah sarjana tidak lagi menjadi "tiket emas" otomatis untuk mendapatkan pekerjaan. Dua raksasa industri, Kalla Group dan PT Vale Indonesia Tbk, menegaskan bahwa dunia profesional kini telah bergeser dari sekadar melihat gelar akademik menuju sistem rekrutmen berbasis keterampilan (skill-based hiring).
Bagi Immanuel Lumbantobing, Head of Talent, Performance & Culture PT Vale Indonesia, gelar sarjana saat ini lebih berfungsi sebagai indikator formal kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan dan tolok ukur kompetensi akademis dasar. Namun secara strategis, gelar tersebut bukan lagi satu-satunya penentu kualitas talenta dalam proses seleksi.
Senada dengan hal itu, Human Capital Business Partner, General Affair, & Talent Management Department Head Kalla, Dewi Anggraeni, menyatakan bahwa meskipun perusahaan menerima pelamar dalam jumlah besar, mereka tidak lagi membeda-bedakan kandidat hanya berdasarkan status fresh graduate atau berpengalaman. Fokus utama perusahaan adalah pada kompetensi nyata yang dibawa kandidat.
Di tengah ketatnya persaingan pasar kerja akhir-akhir ini, ijazah sarjana tidak lagi menjadi "tiket emas" otomatis untuk mendapatkan pekerjaan. Dua raksasa industri, Kalla Group dan PT Vale Indonesia Tbk, menegaskan bahwa dunia profesional kini telah bergeser dari sekadar melihat gelar akademik menuju sistem rekrutmen berbasis keterampilan (skill-based hiring).
Bagi Immanuel Lumbantobing, Head of Talent, Performance & Culture PT Vale Indonesia, gelar sarjana saat ini lebih berfungsi sebagai indikator formal kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan dan tolok ukur kompetensi akademis dasar. Namun secara strategis, gelar tersebut bukan lagi satu-satunya penentu kualitas talenta dalam proses seleksi.
Senada dengan hal itu, Human Capital Business Partner, General Affair, & Talent Management Department Head Kalla, Dewi Anggraeni, menyatakan bahwa meskipun perusahaan menerima pelamar dalam jumlah besar, mereka tidak lagi membeda-bedakan kandidat hanya berdasarkan status fresh graduate atau berpengalaman. Fokus utama perusahaan adalah pada kompetensi nyata yang dibawa kandidat.
Di tengah ketatnya persaingan pasar kerja akhir-akhir ini, ijazah sarjana tidak lagi menjadi "tiket emas" otomatis untuk mendapatkan pekerjaan. Dua raksasa industri, Kalla Group dan PT Vale Indonesia Tbk, menegaskan bahwa dunia profesional kini telah bergeser dari sekadar melihat gelar akademik menuju sistem rekrutmen berbasis keterampilan (skill-based hiring).
Bagi Immanuel Lumbantobing, Head of Talent, Performance & Culture PT Vale Indonesia, gelar sarjana saat ini lebih berfungsi sebagai indikator formal kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan dan tolok ukur kompetensi akademis dasar. Namun secara strategis, gelar tersebut bukan lagi satu-satunya penentu kualitas talenta dalam proses seleksi.
Senada dengan hal itu, Human Capital Business Partner, General Affair, & Talent Management Department Head Kalla, Dewi Anggraeni, menyatakan bahwa meskipun perusahaan menerima pelamar dalam jumlah besar, mereka tidak lagi membeda-bedakan kandidat hanya berdasarkan status fresh graduate atau berpengalaman. Fokus utama perusahaan adalah pada kompetensi nyata yang dibawa kandidat.



"Penerimaan karyawan bukan karena dia pintar, tetapi karena dia fit dengan jabatan yang dituju"
DEWI ANGGRAENI, HUMAN CAPITAL BUSINESS PARTNER, GENERAL AFFAIR, & TALENT MANAGEMENT DEPARTMENT HEAD KALLA
"Penerimaan karyawan bukan karena dia pintar, tetapi karena dia fit dengan jabatan yang dituju"
DEWI ANGGRAENI, HUMAN CAPITAL BUSINESS PARTNER, GENERAL AFFAIR, & TALENT MANAGEMENT DEPARTMENT HEAD KALLA
(IDN Times/Ashrawi Muin)
(IDN Times/Ashrawi Muin)
Kesenjangan utama yang ditemukan industri saat ini adalah ketidaksiapan lulusan baru dalam menghadapi ritme operasional nyata. Dewi Anggraeni menyoroti bahwa banyak lulusan baru merasa terkejut karena teori di kampus sering kali hanya sebatas tulisan yang tidak dipraktikkan.
Di sektor pertambangan yang berisiko tinggi, Immanuel mengidentifikasi celah besar pada aspek pengalaman praktis berbasis manajemen risiko, kemampuan komunikasi strategis, serta penyelesaian masalah secara terstruktur (analytical problem-solving),.
Oleh karena itu, Immanuel berkata, PT Vale tidak lagi menjadikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai syarat mutlak karena meyakini kemampuan seseorang tidak bisa diukur hanya dari nilai akademik. Bagi mereka, pengalaman magang industri jauh lebih berharga untuk menunjukkan bahwa kandidat sudah memiliki budaya keselamatan kerja (safety mindset).
Kesenjangan utama yang ditemukan industri saat ini adalah ketidaksiapan lulusan baru dalam menghadapi ritme operasional nyata. Dewi Anggraeni menyoroti bahwa banyak lulusan baru merasa terkejut karena teori di kampus sering kali hanya sebatas tulisan yang tidak dipraktikkan.
Di sektor pertambangan yang berisiko tinggi, Immanuel mengidentifikasi celah besar pada aspek pengalaman praktis berbasis manajemen risiko, kemampuan komunikasi strategis, serta penyelesaian masalah secara terstruktur (analytical problem-solving),.
Oleh karena itu, Immanuel berkata, PT Vale tidak lagi menjadikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai syarat mutlak karena meyakini kemampuan seseorang tidak bisa diukur hanya dari nilai akademik. Bagi mereka, pengalaman magang industri jauh lebih berharga untuk menunjukkan bahwa kandidat sudah memiliki budaya keselamatan kerja (safety mindset).
Kesenjangan utama yang ditemukan industri saat ini adalah ketidaksiapan lulusan baru dalam menghadapi ritme operasional nyata. Dewi Anggraeni menyoroti bahwa banyak lulusan baru merasa terkejut karena teori di kampus sering kali hanya sebatas tulisan yang tidak dipraktikkan.
Di sektor pertambangan yang berisiko tinggi, Immanuel mengidentifikasi celah besar pada aspek pengalaman praktis berbasis manajemen risiko, kemampuan komunikasi strategis, serta penyelesaian masalah secara terstruktur (analytical problem-solving),.
Oleh karena itu, Immanuel berkata, PT Vale tidak lagi menjadikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebagai syarat mutlak karena meyakini kemampuan seseorang tidak bisa diukur hanya dari nilai akademik. Bagi mereka, pengalaman magang industri jauh lebih berharga untuk menunjukkan bahwa kandidat sudah memiliki budaya keselamatan kerja (safety mindset).
Menariknya, industri kini jauh lebih terbuka terhadap fenomena pekerja lintas jurusan. Selama posisi tersebut tidak memerlukan sertifikasi keilmuan spesifik (seperti hukum atau teknik tertentu), perusahaan melihat kandidat lintas jurusan sebagai peluang untuk membawa keberagaman perspektif dan inovasi baru ke dalam organisasi.
Realita di gerbang rekrutmen saat ini jelas: perusahaan mencari individu yang siap bekerja secara nyata, bukan sekadar mereka yang dibekali "selembar kertas" ijazah. Kemauan untuk terus belajar, aktif berorganisasi, dan memiliki pengalaman magang profesional kini menjadi syarat mutlak untuk memenangkan persaingan di dunia kerja modern.
Menariknya, industri kini jauh lebih terbuka terhadap fenomena pekerja lintas jurusan. Selama posisi tersebut tidak memerlukan sertifikasi keilmuan spesifik (seperti hukum atau teknik tertentu), perusahaan melihat kandidat lintas jurusan sebagai peluang untuk membawa keberagaman perspektif dan inovasi baru ke dalam organisasi.
Realita di gerbang rekrutmen saat ini jelas: perusahaan mencari individu yang siap bekerja secara nyata, bukan sekadar mereka yang dibekali "selembar kertas" ijazah. Kemauan untuk terus belajar, aktif berorganisasi, dan memiliki pengalaman magang profesional kini menjadi syarat mutlak untuk memenangkan persaingan di dunia kerja modern.
Menariknya, industri kini jauh lebih terbuka terhadap fenomena pekerja lintas jurusan. Selama posisi tersebut tidak memerlukan sertifikasi keilmuan spesifik (seperti hukum atau teknik tertentu), perusahaan melihat kandidat lintas jurusan sebagai peluang untuk membawa keberagaman perspektif dan inovasi baru ke dalam organisasi.
Realita di gerbang rekrutmen saat ini jelas: perusahaan mencari individu yang siap bekerja secara nyata, bukan sekadar mereka yang dibekali "selembar kertas" ijazah. Kemauan untuk terus belajar, aktif berorganisasi, dan memiliki pengalaman magang profesional kini menjadi syarat mutlak untuk memenangkan persaingan di dunia kerja modern.
Tantangan Kampus di Tengah Ledakan Pengangguran Sarjana
Tantangan Kampus di Tengah Ledakan Pengangguran Sarjana
Tantangan Kampus di Tengah Ledakan Pengangguran Sarjana

Kampus Universitas Sriwijaya. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Kampus Universitas Sriwijaya. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Dunia pendidikan tinggi Indonesia saat ini berada di bawah sorotan tajam. Di satu sisi, kampus terus memproduksi ribuan lulusan setiap tahunnya, namun di sisi lain, pasar kerja menunjukkan gejala penolakan yang mengkhawatirkan.
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat pengangguran sarjana melonjak dua kali lipat menjadi 12,5 persen pada awal 2025. Fenomena ini memicu diskursus serius di kalangan akademisi tentang efektivitas kurikulum dan peran perguruan tinggi sebagai pencetak sumber daya manusia (SDM).
Marzuki Alie, Rektor Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) sekaligus mantan Ketua DPR RI, menilai tingginya angka pengangguran ini bukan sekadar masalah sempitnya lapangan kerja, melainkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) kompetensi yang fundamental. Ia melihat adanya pergeseran motivasi di masyarakat yang masih memandang kuliah hanya sebagai sarana berburu ijazah demi status sosial, bukan untuk membangun keahlian nyata.
Dunia pendidikan tinggi Indonesia saat ini berada di bawah sorotan tajam. Di satu sisi, kampus terus memproduksi ribuan lulusan setiap tahunnya, namun di sisi lain, pasar kerja menunjukkan gejala penolakan yang mengkhawatirkan.
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat pengangguran sarjana melonjak dua kali lipat menjadi 12,5 persen pada awal 2025. Fenomena ini memicu diskursus serius di kalangan akademisi tentang efektivitas kurikulum dan peran perguruan tinggi sebagai pencetak sumber daya manusia (SDM).
Marzuki Alie, Rektor Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) sekaligus mantan Ketua DPR RI, menilai tingginya angka pengangguran ini bukan sekadar masalah sempitnya lapangan kerja, melainkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) kompetensi yang fundamental. Ia melihat adanya pergeseran motivasi di masyarakat yang masih memandang kuliah hanya sebagai sarana berburu ijazah demi status sosial, bukan untuk membangun keahlian nyata.
Dunia pendidikan tinggi Indonesia saat ini berada di bawah sorotan tajam. Di satu sisi, kampus terus memproduksi ribuan lulusan setiap tahunnya, namun di sisi lain, pasar kerja menunjukkan gejala penolakan yang mengkhawatirkan.
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat pengangguran sarjana melonjak dua kali lipat menjadi 12,5 persen pada awal 2025. Fenomena ini memicu diskursus serius di kalangan akademisi tentang efektivitas kurikulum dan peran perguruan tinggi sebagai pencetak sumber daya manusia (SDM).
Marzuki Alie, Rektor Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) sekaligus mantan Ketua DPR RI, menilai tingginya angka pengangguran ini bukan sekadar masalah sempitnya lapangan kerja, melainkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) kompetensi yang fundamental. Ia melihat adanya pergeseran motivasi di masyarakat yang masih memandang kuliah hanya sebagai sarana berburu ijazah demi status sosial, bukan untuk membangun keahlian nyata.



"Lebih banyak yang kuliah itu yang mudah dan cepat dapat ijazah, walaupun ijazah itu tidak ada gunanya kalau tidak diikuti kompetensi yang dibutuhkan"
Marzuki Alie, Rektor UIGM/Mantan Ketua DPR RI
"Lebih banyak yang kuliah itu yang mudah dan cepat dapat ijazah, walaupun ijazah itu tidak ada gunanya kalau tidak diikuti kompetensi yang dibutuhkan"
Marzuki Alie, Rektor UIGM/Mantan Ketua DPR RI
(IDN Times/Rangga Erfizal)
(IDN Times/Rangga Erfizal)
Ia mencontohkan program studi manajemen yang selalu menjadi favorit, namun sering kali lulusannya justru bingung menentukan arah karier karena kurangnya pemahaman mendalam mengenai prospek industri pasca-kuliah.
Tak hanya faktor kampus, Marzuki juga menyoroti masalah dari hulu, yakni kualitas SDM yang dipengaruhi isu stunting dan kurang gizi pada masa pendidikan dasar, yang berdampak pada kemampuan belajar di tingkat lanjut.
Ia mencontohkan program studi manajemen yang selalu menjadi favorit, namun sering kali lulusannya justru bingung menentukan arah karier karena kurangnya pemahaman mendalam mengenai prospek industri pasca-kuliah.
Tak hanya faktor kampus, Marzuki juga menyoroti masalah dari hulu, yakni kualitas SDM yang dipengaruhi isu stunting dan kurang gizi pada masa pendidikan dasar, yang berdampak pada kemampuan belajar di tingkat lanjut.
Ia mencontohkan program studi manajemen yang selalu menjadi favorit, namun sering kali lulusannya justru bingung menentukan arah karier karena kurangnya pemahaman mendalam mengenai prospek industri pasca-kuliah.
Tak hanya faktor kampus, Marzuki juga menyoroti masalah dari hulu, yakni kualitas SDM yang dipengaruhi isu stunting dan kurang gizi pada masa pendidikan dasar, yang berdampak pada kemampuan belajar di tingkat lanjut.

Rektor Universitas Sriwijaya, Taufik Marwa. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Rektor Universitas Sriwijaya, Taufik Marwa. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Senada dengan tantangan tersebut, Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Taufik Marwa, mengakui bahwa perguruan tinggi memiliki mandat berat untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan program studi atau kurikulum tidak bisa dilakukan secara instan karena memerlukan evaluasi mendalam dan regulasi yang matang.
Bagi Taufik, gelar sarjana tidak boleh dianggap sebagai tiket otomatis menuju pekerjaan, melainkan sebagai fondasi pembentukan karakter (attitude) dan kemampuan berpikir kritis.
"Tujuan utama perguruan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan yang cepat terserap kerja, tetapi juga menciptakan SDM yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat dan dunia usaha," jelasnya.
Taufik juga menanggapi wacana pemerintah mengenai penutupan program studi yang tidak relevan dengan menyatakan bahwa Unsri memilih jalan evaluasi kurikulum berkala daripada penghapusan prodi secara gegabah, karena setiap bidang ilmu dianggap tetap memiliki kontribusi uniknya masing-masing.
Senada dengan tantangan tersebut, Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Taufik Marwa, mengakui bahwa perguruan tinggi memiliki mandat berat untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan program studi atau kurikulum tidak bisa dilakukan secara instan karena memerlukan evaluasi mendalam dan regulasi yang matang.
Bagi Taufik, gelar sarjana tidak boleh dianggap sebagai tiket otomatis menuju pekerjaan, melainkan sebagai fondasi pembentukan karakter (attitude) dan kemampuan berpikir kritis.
"Tujuan utama perguruan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan yang cepat terserap kerja, tetapi juga menciptakan SDM yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat dan dunia usaha," jelasnya.
Taufik juga menanggapi wacana pemerintah mengenai penutupan program studi yang tidak relevan dengan menyatakan bahwa Unsri memilih jalan evaluasi kurikulum berkala daripada penghapusan prodi secara gegabah, karena setiap bidang ilmu dianggap tetap memiliki kontribusi uniknya masing-masing.
Senada dengan tantangan tersebut, Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Taufik Marwa, mengakui bahwa perguruan tinggi memiliki mandat berat untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan program studi atau kurikulum tidak bisa dilakukan secara instan karena memerlukan evaluasi mendalam dan regulasi yang matang.
Bagi Taufik, gelar sarjana tidak boleh dianggap sebagai tiket otomatis menuju pekerjaan, melainkan sebagai fondasi pembentukan karakter (attitude) dan kemampuan berpikir kritis.
"Tujuan utama perguruan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan yang cepat terserap kerja, tetapi juga menciptakan SDM yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat dan dunia usaha," jelasnya.
Taufik juga menanggapi wacana pemerintah mengenai penutupan program studi yang tidak relevan dengan menyatakan bahwa Unsri memilih jalan evaluasi kurikulum berkala daripada penghapusan prodi secara gegabah, karena setiap bidang ilmu dianggap tetap memiliki kontribusi uniknya masing-masing.

(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Kedua petinggi institusi pendidikan ini sepakat, kampus perlu bersikap adaptif terhadap teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI). Marzuki Alie menekankan bahwa kampus harus mampu menyesuaikan diri, bahkan melampaui zaman agar tidak "digilas" oleh perubahan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki emosi dan karakter—dua hal yang tetap menjadi keunggulan mutlak manusia di dunia kerja.
Di sisi lain, data primer menunjukkan bahwa 49 persen generasi muda merasa kurikulum saat ini sudah tertinggal dari teknologi. Untuk menambal celah ini, kampus didorong untuk tidak hanya menyiapkan mahasiswa sebagai pekerja, tetapi juga sebagai periset dan inovator yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Sebagai solusi struktural, Marzuki Alie mendesak pemerintah untuk lebih optimal dalam memetakan kebutuhan tenaga kerja nasional agar pembukaan program studi di kampus memiliki landasan data yang kuat dan tidak menyebabkan kejenuhan lulusan di bidang tertentu.
Kedua petinggi institusi pendidikan ini sepakat, kampus perlu bersikap adaptif terhadap teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI). Marzuki Alie menekankan bahwa kampus harus mampu menyesuaikan diri, bahkan melampaui zaman agar tidak "digilas" oleh perubahan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki emosi dan karakter—dua hal yang tetap menjadi keunggulan mutlak manusia di dunia kerja.
Di sisi lain, data primer menunjukkan bahwa 49 persen generasi muda merasa kurikulum saat ini sudah tertinggal dari teknologi. Untuk menambal celah ini, kampus didorong untuk tidak hanya menyiapkan mahasiswa sebagai pekerja, tetapi juga sebagai periset dan inovator yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Sebagai solusi struktural, Marzuki Alie mendesak pemerintah untuk lebih optimal dalam memetakan kebutuhan tenaga kerja nasional agar pembukaan program studi di kampus memiliki landasan data yang kuat dan tidak menyebabkan kejenuhan lulusan di bidang tertentu.
Kedua petinggi institusi pendidikan ini sepakat, kampus perlu bersikap adaptif terhadap teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI). Marzuki Alie menekankan bahwa kampus harus mampu menyesuaikan diri, bahkan melampaui zaman agar tidak "digilas" oleh perubahan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki emosi dan karakter—dua hal yang tetap menjadi keunggulan mutlak manusia di dunia kerja.
Di sisi lain, data primer menunjukkan bahwa 49 persen generasi muda merasa kurikulum saat ini sudah tertinggal dari teknologi. Untuk menambal celah ini, kampus didorong untuk tidak hanya menyiapkan mahasiswa sebagai pekerja, tetapi juga sebagai periset dan inovator yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Sebagai solusi struktural, Marzuki Alie mendesak pemerintah untuk lebih optimal dalam memetakan kebutuhan tenaga kerja nasional agar pembukaan program studi di kampus memiliki landasan data yang kuat dan tidak menyebabkan kejenuhan lulusan di bidang tertentu.
Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!
Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!
Disusun oleh
Editor
Hafidz Trijatnika
Reporter
Tama Yudha Wiguna (Lampung)
Feny Maulia Agustin (Sumatra Selatan)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Debbie Sutrisno (Jawa Barat)
Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan)
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Editor
Hafidz Trijatnika
Reporter
Tama Yudha Wiguna (Lampung)
Feny Maulia Agustin (Sumatra Selatan)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Debbie Sutrisno (Jawa Barat)
Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan)
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Editor
Hafidz Trijatnika
Reporter
Tama Yudha Wiguna (Lampung)
Feny Maulia Agustin (Sumatra Selatan)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Debbie Sutrisno (Jawa Barat)
Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan)
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.




















