Susana di dalam Toko Abadi Jaya Roastery, Makassar, ketika seorang Roaster bernama Putra mengecek hasil panggangan biji kopinya (IDN Times/Darsil Yahya)

Susana di dalam Toko Abadi Jaya Roastery, Makassar, ketika seorang Roaster bernama Putra mengecek hasil panggangan biji kopinya (IDN Times/Darsil Yahya)

IDN Times - Udara pagi di Kota Bandung masih menyisakan dingin yang khas ketika Irhas Fii Ramadhan mendorong pintu sebuah coffee shop di sudut kota. Di luar, lalu lintas belum sepenuhnya ramai. Kabut tipis masih menggantung di antara deretan bangunan dan pepohonan yang membingkai jalanan ibu kota Jawa Barat itu.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Irhas yang merupakan pekerja kreatif itu langsung memesan segelas Americano hangat. Tak ada tambahan gula atau susu yang diminta pada barista. Baginya, secangkir kopi hitam menjadi cara sederhana untuk memulai hari sekaligus memberi jeda sejenak sebelum tenggelam dalam berbagai aktivitas dan pekerjaan yang menanti.

Sambil menyesap kopi perlahan, Irhas membakar rokoknya, dan membuka laptopnya. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan suara mesin espresso dan percakapan pelan para pengunjung lain yang mulai berdatangan. Coffee shop yang dulu identik sebagai tempat bersantai kini berubah menjadi ruang kerja, tempat bertukar ide, sekaligus bagian dari rutinitas harian masyarakat perkotaan seperti Irhas.

IDN Times - Udara pagi di Kota Bandung masih menyisakan dingin yang khas ketika Irhas Fii Ramadhan mendorong pintu sebuah coffee shop di sudut kota. Di luar, lalu lintas belum sepenuhnya ramai. Kabut tipis masih menggantung di antara deretan bangunan dan pepohonan yang membingkai jalanan ibu kota Jawa Barat itu.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Irhas yang merupakan pekerja kreatif itu langsung memesan segelas Americano hangat. Tak ada tambahan gula atau susu yang diminta pada barista. Baginya, secangkir kopi hitam menjadi cara sederhana untuk memulai hari sekaligus memberi jeda sejenak sebelum tenggelam dalam berbagai aktivitas dan pekerjaan yang menanti.

Sambil menyesap kopi perlahan, Irhas membakar rokoknya, dan membuka laptopnya. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan suara mesin espresso dan percakapan pelan para pengunjung lain yang mulai berdatangan. Coffee shop yang dulu identik sebagai tempat bersantai kini berubah menjadi ruang kerja, tempat bertukar ide, sekaligus bagian dari rutinitas harian masyarakat perkotaan seperti Irhas.

IDN Times - Udara pagi di Kota Bandung masih menyisakan dingin yang khas ketika Irhas Fii Ramadhan mendorong pintu sebuah coffee shop di sudut kota. Di luar, lalu lintas belum sepenuhnya ramai. Kabut tipis masih menggantung di antara deretan bangunan dan pepohonan yang membingkai jalanan ibu kota Jawa Barat itu.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Irhas yang merupakan pekerja kreatif itu langsung memesan segelas Americano hangat. Tak ada tambahan gula atau susu yang diminta pada barista. Baginya, secangkir kopi hitam menjadi cara sederhana untuk memulai hari sekaligus memberi jeda sejenak sebelum tenggelam dalam berbagai aktivitas dan pekerjaan yang menanti.

Sambil menyesap kopi perlahan, Irhas membakar rokoknya, dan membuka laptopnya. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan suara mesin espresso dan percakapan pelan para pengunjung lain yang mulai berdatangan. Coffee shop yang dulu identik sebagai tempat bersantai kini berubah menjadi ruang kerja, tempat bertukar ide, sekaligus bagian dari rutinitas harian masyarakat perkotaan seperti Irhas.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Rutinitas mengunjungi coffee shop tidak hanya dilakukan Irhas di Kota Bandung. Di banyak kota, meja-meja kedai kopi dipenuhi pekerja yang membuka laptop, mahasiswa yang mengerjakan tugas, hingga komunitas yang berdiskusi tentang berbagai hal.

Fenomena tersebut menunjukkan satu hal penting yakni budaya mengonsumsi kopi telah berubah. Minuman yang dulu identik dengan kebutuhan untuk mengusir kantuk kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban.

Perubahan itu turut mengubah wajah industri kopi Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, kopi tak lagi diposisikan semata-mata sebagai komoditas perkebunan, melainkan berkembang menjadi industri yang menghubungkan petani, prosesor, eksportir, roaster, barista, hingga perusahaan kopi berskala nasional dan internasional.
Di saat konsumsi kopi terus meningkat dan kedai kopi tumbuh di berbagai daerah, Indonesia juga semakin dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem kopi dunia. Namun pertumbuhan tersebut menghadirkan pertanyaan baru: apakah seluruh pelaku dalam rantai industri ikut merasakan manfaat yang sama?

Rutinitas mengunjungi coffee shop tidak hanya dilakukan Irhas di Kota Bandung. Di banyak kota, meja-meja kedai kopi dipenuhi pekerja yang membuka laptop, mahasiswa yang mengerjakan tugas, hingga komunitas yang berdiskusi tentang berbagai hal.

Fenomena tersebut menunjukkan satu hal penting yakni budaya mengonsumsi kopi telah berubah. Minuman yang dulu identik dengan kebutuhan untuk mengusir kantuk kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban.

Perubahan itu turut mengubah wajah industri kopi Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, kopi tak lagi diposisikan semata-mata sebagai komoditas perkebunan, melainkan berkembang menjadi industri yang menghubungkan petani, prosesor, eksportir, roaster, barista, hingga perusahaan kopi berskala nasional dan internasional.
Di saat konsumsi kopi terus meningkat dan kedai kopi tumbuh di berbagai daerah, Indonesia juga semakin dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem kopi dunia. Namun pertumbuhan tersebut menghadirkan pertanyaan baru: apakah seluruh pelaku dalam rantai industri ikut merasakan manfaat yang sama?

Rutinitas mengunjungi coffee shop tidak hanya dilakukan Irhas di Kota Bandung. Di banyak kota, meja-meja kedai kopi dipenuhi pekerja yang membuka laptop, mahasiswa yang mengerjakan tugas, hingga komunitas yang berdiskusi tentang berbagai hal.

Fenomena tersebut menunjukkan satu hal penting yakni budaya mengonsumsi kopi telah berubah. Minuman yang dulu identik dengan kebutuhan untuk mengusir kantuk kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban.

Perubahan itu turut mengubah wajah industri kopi Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, kopi tak lagi diposisikan semata-mata sebagai komoditas perkebunan, melainkan berkembang menjadi industri yang menghubungkan petani, prosesor, eksportir, roaster, barista, hingga perusahaan kopi berskala nasional dan internasional.
Di saat konsumsi kopi terus meningkat dan kedai kopi tumbuh di berbagai daerah, Indonesia juga semakin dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem kopi dunia. Namun pertumbuhan tersebut menghadirkan pertanyaan baru: apakah seluruh pelaku dalam rantai industri ikut merasakan manfaat yang sama?

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Kopi Tak Lagi Sekadar Minuman, Melainkan Gaya Hidup

Kopi Tak Lagi Sekadar Minuman, Melainkan Gaya Hidup

Kopi Tak Lagi Sekadar Minuman, Melainkan Gaya Hidup




Video: IDN Times/Rangga Erfizal

Pertumbuhan industri kopi Indonesia tidak terjadi begitu saja. Di baliknya, ada perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dan mengonsumsi kopi.

Corporate Affairs Manager Kenangan Brands, Ruth Davina, mengatakan perkembangan industri kopi dalam satu dekade terakhir berlangsung sangat pesat. Menurutnya, peningkatan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah gerai kopi yang terus bertambah, tetapi juga dari perubahan perilaku konsumen.

"Kalau dari sisi perkembangan industri kopi, dari tahun 2016 kita lihat perkembangannya pesat banget. Bukan hanya konsumsi kopi yang meningkat, tapi juga perubahan gaya hidup. Sekarang kopi sudah jadi lifestyle," ujarnya.

Perubahan itu didorong oleh berbagai inovasi produk yang membuat kopi semakin mudah diterima oleh masyarakat luas. Jika dahulu kopi identik dengan minuman pahit yang hanya dinikmati kalangan tertentu, kini berbagai varian minuman berbasis kopi berhasil menjangkau konsumen yang lebih beragam.

Pertumbuhan industri kopi Indonesia tidak terjadi begitu saja. Di baliknya, ada perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dan mengonsumsi kopi.

Corporate Affairs Manager Kenangan Brands, Ruth Davina, mengatakan perkembangan industri kopi dalam satu dekade terakhir berlangsung sangat pesat. Menurutnya, peningkatan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah gerai kopi yang terus bertambah, tetapi juga dari perubahan perilaku konsumen.

"Kalau dari sisi perkembangan industri kopi, dari tahun 2016 kita lihat perkembangannya pesat banget. Bukan hanya konsumsi kopi yang meningkat, tapi juga perubahan gaya hidup. Sekarang kopi sudah jadi lifestyle," ujarnya.

Perubahan itu didorong oleh berbagai inovasi produk yang membuat kopi semakin mudah diterima oleh masyarakat luas. Jika dahulu kopi identik dengan minuman pahit yang hanya dinikmati kalangan tertentu, kini berbagai varian minuman berbasis kopi berhasil menjangkau konsumen yang lebih beragam.

Pertumbuhan industri kopi Indonesia tidak terjadi begitu saja. Di baliknya, ada perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dan mengonsumsi kopi.

Corporate Affairs Manager Kenangan Brands, Ruth Davina, mengatakan perkembangan industri kopi dalam satu dekade terakhir berlangsung sangat pesat. Menurutnya, peningkatan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah gerai kopi yang terus bertambah, tetapi juga dari perubahan perilaku konsumen.

"Kalau dari sisi perkembangan industri kopi, dari tahun 2016 kita lihat perkembangannya pesat banget. Bukan hanya konsumsi kopi yang meningkat, tapi juga perubahan gaya hidup. Sekarang kopi sudah jadi lifestyle," ujarnya.

Perubahan itu didorong oleh berbagai inovasi produk yang membuat kopi semakin mudah diterima oleh masyarakat luas. Jika dahulu kopi identik dengan minuman pahit yang hanya dinikmati kalangan tertentu, kini berbagai varian minuman berbasis kopi berhasil menjangkau konsumen yang lebih beragam.

"Bukan hanya konsumsi kopi yang meningkat, tapi juga perubahan gaya hidup. Sekarang kopi sudah jadi lifestyle."


Corporate Affairs Manager Kenangan Coffee

Ruth Davina

Fenomena serupa terlihat dari menjamurnya coffee shop di berbagai kota. Di Makassar, misalnya, coffee shop kini menjadi ruang berkumpul bagi anak muda. Sementara di sejumlah kota lain, termasuk Palembang dan Yogyakarta, kedai kopi mulai bertransformasi menjadi ruang kerja alternatif bagi pekerja kreatif dan freelancer.

COO Sangkar Coffee, Romadon, mengatakan tren work from anywhere (WFA) membuat pola kunjungan pelanggan berubah signifikan. Jika sebelumnya coffee shop ramai pada malam hari, kini pelanggan mulai berdatangan sejak pagi untuk bekerja.

Hal yang sama diakui oleh pemilik Salbeans Park, sebuah coffe shop yang berdiri di jantung kota Purwakarta, Jawa Barat. Ridla ‘Ririd’ Rifki Fajri, sang pemilik, mengatakan jika perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh signifikan dalam meningkatnya permintaan kopi saban tahun.

“Ketika awal buka usaha ini, orang yang datang memang hanya untuk nongkrong dan ngopi. Sekarang jauh berkembang, dari pagi orang datang sering kali untuk work from coffee shop, bahkan untuk menggelar meeting,” ujar Ririd.

Bagi Fajar, seorang pekerja kreatif yang ditemui di Sangkar Coffee, kedai kopi telah menawarkan suasana yang tidak ditemukan di rumah maupun kantor.

"Kalau di coffee shop bisa lihat orang lalu lalang, jadi ide kreatif muncul dari situ," katanya. Kopi kini bukan hanya soal minuman. Ia telah menjadi bagian dari ruang sosial baru yang mempertemukan berbagai aktivitas dalam satu tempat.

Fenomena serupa terlihat dari menjamurnya coffee shop di berbagai kota. Di Makassar, misalnya, coffee shop kini menjadi ruang berkumpul bagi anak muda. Sementara di sejumlah kota lain, termasuk Palembang dan Yogyakarta, kedai kopi mulai bertransformasi menjadi ruang kerja alternatif bagi pekerja kreatif dan freelancer.

COO Sangkar Coffee, Romadon, mengatakan tren work from anywhere (WFA) membuat pola kunjungan pelanggan berubah signifikan. Jika sebelumnya coffee shop ramai pada malam hari, kini pelanggan mulai berdatangan sejak pagi untuk bekerja.

Hal yang sama diakui oleh pemilik Salbeans Park, sebuah coffe shop yang berdiri di jantung kota Purwakarta, Jawa Barat. Ridla ‘Ririd’ Rifki Fajri, sang pemilik, mengatakan jika perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh signifikan dalam meningkatnya permintaan kopi saban tahun.

“Ketika awal buka usaha ini, orang yang datang memang hanya untuk nongkrong dan ngopi. Sekarang jauh berkembang, dari pagi orang datang sering kali untuk work from coffee shop, bahkan untuk menggelar meeting,” ujar Ririd.

Bagi Fajar, seorang pekerja kreatif yang ditemui di Sangkar Coffee, kedai kopi telah menawarkan suasana yang tidak ditemukan di rumah maupun kantor.

"Kalau di coffee shop bisa lihat orang lalu lalang, jadi ide kreatif muncul dari situ," katanya. Kopi kini bukan hanya soal minuman. Ia telah menjadi bagian dari ruang sosial baru yang mempertemukan berbagai aktivitas dalam satu tempat.

Fenomena serupa terlihat dari menjamurnya coffee shop di berbagai kota. Di Makassar, misalnya, coffee shop kini menjadi ruang berkumpul bagi anak muda. Sementara di sejumlah kota lain, termasuk Palembang dan Yogyakarta, kedai kopi mulai bertransformasi menjadi ruang kerja alternatif bagi pekerja kreatif dan freelancer.

COO Sangkar Coffee, Romadon, mengatakan tren work from anywhere (WFA) membuat pola kunjungan pelanggan berubah signifikan. Jika sebelumnya coffee shop ramai pada malam hari, kini pelanggan mulai berdatangan sejak pagi untuk bekerja.

Hal yang sama diakui oleh pemilik Salbeans Park, sebuah coffe shop yang berdiri di jantung kota Purwakarta, Jawa Barat. Ridla ‘Ririd’ Rifki Fajri, sang pemilik, mengatakan jika perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh signifikan dalam meningkatnya permintaan kopi saban tahun.

“Ketika awal buka usaha ini, orang yang datang memang hanya untuk nongkrong dan ngopi. Sekarang jauh berkembang, dari pagi orang datang sering kali untuk work from coffee shop, bahkan untuk menggelar meeting,” ujar Ririd.

Bagi Fajar, seorang pekerja kreatif yang ditemui di Sangkar Coffee, kedai kopi telah menawarkan suasana yang tidak ditemukan di rumah maupun kantor.

"Kalau di coffee shop bisa lihat orang lalu lalang, jadi ide kreatif muncul dari situ," katanya. Kopi kini bukan hanya soal minuman. Ia telah menjadi bagian dari ruang sosial baru yang mempertemukan berbagai aktivitas dalam satu tempat.

"Ketika awal buka usaha ini, orang yang datang memang hanya untuk nongkrong dan ngopi. Sekarang jauh berkembang, dari pagi orang datang sering kali untuk work from coffee shop, bahkan untuk menggelar meeting."


Pemilik Salbeans Park

Ridla 'Ririd' Rifki Fajri

Konsumen Makin Cerdas, Industri Kian Berubah

Konsumen Makin Cerdas, Industri Kian Berubah

Konsumen Makin Cerdas, Industri Kian Berubah

Video: IDN Times/Rangga Erfizal

Video: IDN Times/Rangga Erfizal

Meningkatnya konsumsi kopi diikuti oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin signifikan. Beverage Developer Agas Goestyra menilai masyarakat saat ini jauh lebih memahami kopi dibanding satu dekade lalu.

Konsumen tidak lagi sekadar memesan minuman, tetapi mulai tertarik mengetahui jenis biji kopi yang digunakan, metode seduh, hingga asal-usul kopi yang mereka konsumsi.

"Misalnya ada pelanggan yang memesan iced black coffee atau Americano, lalu bertanya, 'Di sini pakai beans apa?' Pertanyaan seperti itu sekarang sangat sering muncul," ujarnya.

Menurut Agas, peningkatan literasi konsumen menjadi salah satu faktor yang mendorong industri kopi berkembang semakin dinamis. Pelaku usaha dituntut terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Meningkatnya konsumsi kopi diikuti oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin signifikan. Beverage Developer Agas Goestyra menilai masyarakat saat ini jauh lebih memahami kopi dibanding satu dekade lalu.

Konsumen tidak lagi sekadar memesan minuman, tetapi mulai tertarik mengetahui jenis biji kopi yang digunakan, metode seduh, hingga asal-usul kopi yang mereka konsumsi.

"Misalnya ada pelanggan yang memesan iced black coffee atau Americano, lalu bertanya, 'Di sini pakai beans apa?' Pertanyaan seperti itu sekarang sangat sering muncul," ujarnya.

Menurut Agas, peningkatan literasi konsumen menjadi salah satu faktor yang mendorong industri kopi berkembang semakin dinamis. Pelaku usaha dituntut terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Meningkatnya konsumsi kopi diikuti oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin signifikan. Beverage Developer Agas Goestyra menilai masyarakat saat ini jauh lebih memahami kopi dibanding satu dekade lalu.

Konsumen tidak lagi sekadar memesan minuman, tetapi mulai tertarik mengetahui jenis biji kopi yang digunakan, metode seduh, hingga asal-usul kopi yang mereka konsumsi.

"Misalnya ada pelanggan yang memesan iced black coffee atau Americano, lalu bertanya, 'Di sini pakai beans apa?' Pertanyaan seperti itu sekarang sangat sering muncul," ujarnya.

Menurut Agas, peningkatan literasi konsumen menjadi salah satu faktor yang mendorong industri kopi berkembang semakin dinamis. Pelaku usaha dituntut terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan coding

Salah satu contohnya adalah munculnya berbagai menu baru yang sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang sudah ada sebelumnya. Minuman seperti magic coffee, misalnya, kini semakin populer di berbagai coffee shop.

Di sisi lain, masyarakat juga semakin tertarik mempelajari berbagai metode penyeduhan seperti V60, moka pot, hingga manual brew. Mereka mulai mengenal kopi berdasarkan daerah asalnya, mulai dari Java Preanger, Flores, Kintamani, hingga Toraja.

Ruth, mewakili Kenangan Brands, melihat tren tersebut sebagai sinyal positif bagi industri kopi nasional. Menurutnya, konsumen kini tidak hanya membeli minuman, tetapi juga ingin memahami cerita di balik kopi yang mereka konsumsi.

"Kesadaran orang tentang asal-usul dan proses kopi makin meningkat. Mereka tidak asal tahu, tetapi lebih concern," katanya.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi kopi Indonesia yang memiliki keragaman rasa dan karakter dari berbagai daerah penghasil kopi.

Salah satu contohnya adalah munculnya berbagai menu baru yang sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang sudah ada sebelumnya. Minuman seperti magic coffee, misalnya, kini semakin populer di berbagai coffee shop.

Di sisi lain, masyarakat juga semakin tertarik mempelajari berbagai metode penyeduhan seperti V60, moka pot, hingga manual brew. Mereka mulai mengenal kopi berdasarkan daerah asalnya, mulai dari Java Preanger, Flores, Kintamani, hingga Toraja.

Ruth, mewakili Kenangan Brands, melihat tren tersebut sebagai sinyal positif bagi industri kopi nasional. Menurutnya, konsumen kini tidak hanya membeli minuman, tetapi juga ingin memahami cerita di balik kopi yang mereka konsumsi.

"Kesadaran orang tentang asal-usul dan proses kopi makin meningkat. Mereka tidak asal tahu, tetapi lebih concern," katanya.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi kopi Indonesia yang memiliki keragaman rasa dan karakter dari berbagai daerah penghasil kopi.

Salah satu contohnya adalah munculnya berbagai menu baru yang sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang sudah ada sebelumnya. Minuman seperti magic coffee, misalnya, kini semakin populer di berbagai coffee shop.

Di sisi lain, masyarakat juga semakin tertarik mempelajari berbagai metode penyeduhan seperti V60, moka pot, hingga manual brew. Mereka mulai mengenal kopi berdasarkan daerah asalnya, mulai dari Java Preanger, Flores, Kintamani, hingga Toraja.

Ruth, mewakili Kenangan Brands, melihat tren tersebut sebagai sinyal positif bagi industri kopi nasional. Menurutnya, konsumen kini tidak hanya membeli minuman, tetapi juga ingin memahami cerita di balik kopi yang mereka konsumsi.

"Kesadaran orang tentang asal-usul dan proses kopi makin meningkat. Mereka tidak asal tahu, tetapi lebih concern," katanya.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi kopi Indonesia yang memiliki keragaman rasa dan karakter dari berbagai daerah penghasil kopi.

Berbagai teknik penyeduhan kopi (komersil)

PERENDAMAN

Teknik perendaman (immersion brewing) adalah metode menyeduh kopi dengan cara merendam bubuk kopi dalam air panas selama beberapa menit sebelum dipisahkan. Metode ini banyak digunakan pada alat seduh seperti French Press dan AeroPress.

PERENDAMAN

Teknik perendaman (immersion brewing) adalah metode menyeduh kopi dengan cara merendam bubuk kopi dalam air panas selama beberapa menit sebelum dipisahkan. Metode ini banyak digunakan pada alat seduh seperti French Press dan AeroPress.

PERENDAMAN

Teknik perendaman (immersion brewing) adalah metode menyeduh kopi dengan cara merendam bubuk kopi dalam air panas selama beberapa menit sebelum dipisahkan. Metode ini banyak digunakan pada alat seduh seperti French Press dan AeroPress.

PENETASAN

Dalam dunia kopi, teknik penetasan umumnya merujuk pada metode seduh tetes (drip brewing), yaitu proses menuangkan air panas secara perlahan ke atas bubuk kopi sehingga air menetes melewati kopi dan tersaring ke wadah di bawahnya. Metode ini banyak digunakan pada alat seduh seperti V60, Kalita Wave, dan Chemex.

PENETASAN

Dalam dunia kopi, teknik penetasan umumnya merujuk pada metode seduh tetes (drip brewing), yaitu proses menuangkan air panas secara perlahan ke atas bubuk kopi sehingga air menetes melewati kopi dan tersaring ke wadah di bawahnya. Metode ini banyak digunakan pada alat seduh seperti V60, Kalita Wave, dan Chemex.

PENETASAN

Dalam dunia kopi, teknik penetasan umumnya merujuk pada metode seduh tetes (drip brewing), yaitu proses menuangkan air panas secara perlahan ke atas bubuk kopi sehingga air menetes melewati kopi dan tersaring ke wadah di bawahnya. Metode ini banyak digunakan pada alat seduh seperti V60, Kalita Wave, dan Chemex.

KOMPRESI

Dalam dunia kopi, teknik kompresi merujuk pada metode penyeduhan yang menggunakan tekanan untuk mengekstraksi rasa dan aroma dari bubuk kopi. Teknik ini paling umum digunakan pada espresso, di mana air panas dipaksa melewati bubuk kopi yang telah dipadatkan (tamped) dengan tekanan tinggi.

KOMPRESI

Dalam dunia kopi, teknik kompresi merujuk pada metode penyeduhan yang menggunakan tekanan untuk mengekstraksi rasa dan aroma dari bubuk kopi. Teknik ini paling umum digunakan pada espresso, di mana air panas dipaksa melewati bubuk kopi yang telah dipadatkan (tamped) dengan tekanan tinggi.

KOMPRESI

Dalam dunia kopi, teknik kompresi merujuk pada metode penyeduhan yang menggunakan tekanan untuk mengekstraksi rasa dan aroma dari bubuk kopi. Teknik ini paling umum digunakan pada espresso, di mana air panas dipaksa melewati bubuk kopi yang telah dipadatkan (tamped) dengan tekanan tinggi.

Jabar dan Sumsel Tulang Punggung Kopi Arabika dan Robusta

Jabar dan Sumsel Tulang Punggung Kopi Arabika dan Robusta

Jabar dan Sumsel Tulang Punggung Kopi Arabika dan Robusta

Meski kopi kini menjadi bagian dari gaya hidup modern, perjalanan sebuah cangkir kopi tetap dimulai dari kebun.

Di Jawa Barat, luas lahan kopi Arabika terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi geografis berupa dataran tinggi membuat wilayah ini menjadi salah satu sentra penting produksi kopi berkualitas di Indonesia.

Produksi kopi jenis Arabika di Jawa Barat sangat mendominasi dibandingkan Robusta yang biasanya ditanam di daerah dengan ketinggian 400–800 mdpl. Selain itu pertumbuhan Arabika di Jabar juga jauh lebih cepat dibanding Robusta.

Tercatat pada 2025, produksi Arabika hampir 1,9 kali lebih besar dibanding Robusta, sementara luas arealnya mencapai sekitar dua kali lipat lebih luas. Adapun ekspansi lahan kopi Jabar paling besar terjadi pada 2024, dengan tambahan hampir 2.000 hektare dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Petani Kopi Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Rani Mayasari, industri kopi di Indonesia khususnya Jawa Barat ini hampir sama dengan industri teh yang mana dulunya menjadi komoditas unggulan hingga menjadi alasan penjajah datang untuk ikut menggarap lahan Nusantara

Sayangnya, kondisi di lapangan saat ini industri teh seperti matahari yang sedang tenggelam, dan salah satu penyebabnya, kata Rani yaitu komersialisasi yang terlalu berorientasi pada kuantitas.

"Pelaku industri memproduksi sebanyak mungkin dengan standar biasa-biasa saja, menggunakan pupuk kimia dan mengejar harga murah, tetapi tidak memikirkan dampak lingkungan maupun investasi untuk riset dan perbaikan ekosistem," ujar Rani.

Meski kopi kini menjadi bagian dari gaya hidup modern, perjalanan sebuah cangkir kopi tetap dimulai dari kebun.

Di Jawa Barat, luas lahan kopi Arabika terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi geografis berupa dataran tinggi membuat wilayah ini menjadi salah satu sentra penting produksi kopi berkualitas di Indonesia.

Produksi kopi jenis Arabika di Jawa Barat sangat mendominasi dibandingkan Robusta yang biasanya ditanam di daerah dengan ketinggian 400–800 mdpl. Selain itu pertumbuhan Arabika di Jabar juga jauh lebih cepat dibanding Robusta.

Tercatat pada 2025, produksi Arabika hampir 1,9 kali lebih besar dibanding Robusta, sementara luas arealnya mencapai sekitar dua kali lipat lebih luas. Adapun ekspansi lahan kopi Jabar paling besar terjadi pada 2024, dengan tambahan hampir 2.000 hektare dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Petani Kopi Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Rani Mayasari, industri kopi di Indonesia khususnya Jawa Barat ini hampir sama dengan industri teh yang mana dulunya menjadi komoditas unggulan hingga menjadi alasan penjajah datang untuk ikut menggarap lahan Nusantara

Sayangnya, kondisi di lapangan saat ini industri teh seperti matahari yang sedang tenggelam, dan salah satu penyebabnya, kata Rani yaitu komersialisasi yang terlalu berorientasi pada kuantitas.

"Pelaku industri memproduksi sebanyak mungkin dengan standar biasa-biasa saja, menggunakan pupuk kimia dan mengejar harga murah, tetapi tidak memikirkan dampak lingkungan maupun investasi untuk riset dan perbaikan ekosistem," ujar Rani.

Meski kopi kini menjadi bagian dari gaya hidup modern, perjalanan sebuah cangkir kopi tetap dimulai dari kebun.

Di Jawa Barat, luas lahan kopi Arabika terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi geografis berupa dataran tinggi membuat wilayah ini menjadi salah satu sentra penting produksi kopi berkualitas di Indonesia.

Produksi kopi jenis Arabika di Jawa Barat sangat mendominasi dibandingkan Robusta yang biasanya ditanam di daerah dengan ketinggian 400–800 mdpl. Selain itu pertumbuhan Arabika di Jabar juga jauh lebih cepat dibanding Robusta.

Tercatat pada 2025, produksi Arabika hampir 1,9 kali lebih besar dibanding Robusta, sementara luas arealnya mencapai sekitar dua kali lipat lebih luas. Adapun ekspansi lahan kopi Jabar paling besar terjadi pada 2024, dengan tambahan hampir 2.000 hektare dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Petani Kopi Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Rani Mayasari, industri kopi di Indonesia khususnya Jawa Barat ini hampir sama dengan industri teh yang mana dulunya menjadi komoditas unggulan hingga menjadi alasan penjajah datang untuk ikut menggarap lahan Nusantara

Sayangnya, kondisi di lapangan saat ini industri teh seperti matahari yang sedang tenggelam, dan salah satu penyebabnya, kata Rani yaitu komersialisasi yang terlalu berorientasi pada kuantitas.

"Pelaku industri memproduksi sebanyak mungkin dengan standar biasa-biasa saja, menggunakan pupuk kimia dan mengejar harga murah, tetapi tidak memikirkan dampak lingkungan maupun investasi untuk riset dan perbaikan ekosistem," ujar Rani.

Seorang petani di Bandung, Jawa Barat mengolah tanah untuk penanaman bibit bunga

Perjalanan kopi tidak berhenti setelah panen. Di berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Makassar, hingga Yogyakarta, proses pascapanen menjadi tahap penting yang menentukan kualitas akhir kopi.

Mulai dari fermentasi, pencucian, penjemuran, hingga sortasi dilakukan untuk menghasilkan karakter rasa tertentu yang diinginkan pasar.

Muhammad Syah Raffiuddin, pelaku ekspor kopi dari Sumatera Selatan, mengatakan jika sekitar 27 persen produksi kopi Robusta nasional berasal dari Sumsel. Bahkan jika memperhitungkan aliran perdagangan kopi antar wilayah di Pulau Sumatra, kontribusi Sumsel berkisar hampir 30 persen dari total produksi Robusta Indonesia.

Sementara, sekitar 70-75 persen produksi kopi nasional berada di Pulau Sumatra, mulai dari Aceh hingga Lampung.

“Dengan kapasitas ini, Sumsel memiliki posisi strategis dalam rantai pasok kopi nasional maupun global,” ujarnya.

Raffi menegaskan, saat ini perusahaannya terus memperluas jaringan pembeli luar negeri dan meningkatkan kapasitas pengolahan bersama mitra-mitra lokal. Cara ini katanya, dilakukan sebagai langkah antisipasi permintaan yang terus meningkat, meski kondisi musim panen terkadang berlangsung tak menentu akibat perubahan cuaca yang tak terprediksi.

Perjalanan kopi tidak berhenti setelah panen. Di berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Makassar, hingga Yogyakarta, proses pascapanen menjadi tahap penting yang menentukan kualitas akhir kopi.

Mulai dari fermentasi, pencucian, penjemuran, hingga sortasi dilakukan untuk menghasilkan karakter rasa tertentu yang diinginkan pasar.

Muhammad Syah Raffiuddin, pelaku ekspor kopi dari Sumatera Selatan, mengatakan jika sekitar 27 persen produksi kopi Robusta nasional berasal dari Sumsel. Bahkan jika memperhitungkan aliran perdagangan kopi antar wilayah di Pulau Sumatra, kontribusi Sumsel berkisar hampir 30 persen dari total produksi Robusta Indonesia.

Sementara, sekitar 70-75 persen produksi kopi nasional berada di Pulau Sumatra, mulai dari Aceh hingga Lampung.

“Dengan kapasitas ini, Sumsel memiliki posisi strategis dalam rantai pasok kopi nasional maupun global,” ujarnya.

Raffi menegaskan, saat ini perusahaannya terus memperluas jaringan pembeli luar negeri dan meningkatkan kapasitas pengolahan bersama mitra-mitra lokal. Cara ini katanya, dilakukan sebagai langkah antisipasi permintaan yang terus meningkat, meski kondisi musim panen terkadang berlangsung tak menentu akibat perubahan cuaca yang tak terprediksi.

Perjalanan kopi tidak berhenti setelah panen. Di berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Makassar, hingga Yogyakarta, proses pascapanen menjadi tahap penting yang menentukan kualitas akhir kopi.

Mulai dari fermentasi, pencucian, penjemuran, hingga sortasi dilakukan untuk menghasilkan karakter rasa tertentu yang diinginkan pasar.

Muhammad Syah Raffiuddin, pelaku ekspor kopi dari Sumatera Selatan, mengatakan jika sekitar 27 persen produksi kopi Robusta nasional berasal dari Sumsel. Bahkan jika memperhitungkan aliran perdagangan kopi antar wilayah di Pulau Sumatra, kontribusi Sumsel berkisar hampir 30 persen dari total produksi Robusta Indonesia.

Sementara, sekitar 70-75 persen produksi kopi nasional berada di Pulau Sumatra, mulai dari Aceh hingga Lampung.

“Dengan kapasitas ini, Sumsel memiliki posisi strategis dalam rantai pasok kopi nasional maupun global,” ujarnya.

Raffi menegaskan, saat ini perusahaannya terus memperluas jaringan pembeli luar negeri dan meningkatkan kapasitas pengolahan bersama mitra-mitra lokal. Cara ini katanya, dilakukan sebagai langkah antisipasi permintaan yang terus meningkat, meski kondisi musim panen terkadang berlangsung tak menentu akibat perubahan cuaca yang tak terprediksi.

Nilai Kopi yang Tercipta Setelah Panen

Nilai Kopi yang Tercipta Setelah Panen

Nilai Kopi yang Tercipta Setelah Panen

Video: IDN Times/Khusnul Hasana

Banyak orang mengira nilai kopi terbesar berada di tingkat petani. Padahal dalam praktiknya, nilai ekonomi kopi terus bertambah sepanjang rantai pasok.

Di Jawa Barat, harga buah kopi atau cherry dapat berkisar Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Setelah melalui proses pengolahan dan menjadi green bean berkualitas, nilainya dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat, menjadi Rp200-250 ribu.

Proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hilirisasi dinilai penting bagi masa depan industri kopi Indonesia.

Menurut Ruth, mewakili Kopi Kenangan, Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia. Terbukti dari penambahan gerai Kopi Kenangan, yang selalu menggunakan kopi dan gula aren dari Indonesia, di berbagai negara. Ia meyakini bahwa sebagian besar nilai ekonomi justru tercipta ketika kopi diolah menjadi produk siap konsumsi.

"Hilirisasi penting karena bisa meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas," ujarnya.

Banyak orang mengira nilai kopi terbesar berada di tingkat petani. Padahal dalam praktiknya, nilai ekonomi kopi terus bertambah sepanjang rantai pasok.

Di Jawa Barat, harga buah kopi atau cherry dapat berkisar Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Setelah melalui proses pengolahan dan menjadi green bean berkualitas, nilainya dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat, menjadi Rp200-250 ribu.

Proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hilirisasi dinilai penting bagi masa depan industri kopi Indonesia.

Menurut Ruth, mewakili Kopi Kenangan, Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia. Terbukti dari penambahan gerai Kopi Kenangan, yang selalu menggunakan kopi dan gula aren dari Indonesia, di berbagai negara. Ia meyakini bahwa sebagian besar nilai ekonomi justru tercipta ketika kopi diolah menjadi produk siap konsumsi.

"Hilirisasi penting karena bisa meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas," ujarnya.

Banyak orang mengira nilai kopi terbesar berada di tingkat petani. Padahal dalam praktiknya, nilai ekonomi kopi terus bertambah sepanjang rantai pasok.

Di Jawa Barat, harga buah kopi atau cherry dapat berkisar Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Setelah melalui proses pengolahan dan menjadi green bean berkualitas, nilainya dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat, menjadi Rp200-250 ribu.

Proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hilirisasi dinilai penting bagi masa depan industri kopi Indonesia.

Menurut Ruth, mewakili Kopi Kenangan, Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia. Terbukti dari penambahan gerai Kopi Kenangan, yang selalu menggunakan kopi dan gula aren dari Indonesia, di berbagai negara. Ia meyakini bahwa sebagian besar nilai ekonomi justru tercipta ketika kopi diolah menjadi produk siap konsumsi.

"Hilirisasi penting karena bisa meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas," ujarnya.

Di Makassar dan Surabaya, permintaan jasa roasting terus meningkat seiring bertambahnya jumlah coffee shop dan meningkatnya minat masyarakat terhadap specialty coffee.
Roaster Toko Abadi Jaya Roastery (Makassar), Putra, mengatakan kebutuhan kopi sangrai terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, baik dari pelaku usaha kopi maupun konsumen rumahan yang mulai menyeduh kopi sendiri alias home brewing.

Menurutnya, proses roasting tidak sekadar memanggang biji kopi. Setiap origin membutuhkan perlakuan berbeda agar karakter terbaiknya dapat muncul saat diseduh.
"Roasting itu seperti menerjemahkan potensi yang sudah ada di dalam biji kopi. Kalau salah perlakuan, karakter kopi bisa hilang," ujarnya.

Di Jawa Timur, tren serupa juga terlihat. Pemilik Calibre Coffee Surabaya, Jhon, mengatakan konsumen saat ini semakin tertarik mencoba kopi berdasarkan daerah asalnya. Mereka tidak hanya mencari rasa pahit atau tingkat kekuatan kopi, tetapi juga ingin mengenal karakter khas dari setiap origin.
Kopi dari Jawa Barat, Toraja, Flores, hingga Jawa Timur memiliki profil rasa yang berbeda. Perbedaan tersebut kemudian dipertajam melalui proses roasting yang tepat.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan penting dalam industri kopi Indonesia. Jika dahulu kopi lebih banyak diperdagangkan sebagai komoditas, kini kopi mulai diposisikan sebagai produk dengan identitas yang kuat. Bukan hanya soal asal daerahnya, tetapi juga bagaimana kopi tersebut diproses dan disangrai.

Di Makassar dan Surabaya, permintaan jasa roasting terus meningkat seiring bertambahnya jumlah coffee shop dan meningkatnya minat masyarakat terhadap specialty coffee.
Roaster Toko Abadi Jaya Roastery (Makassar), Putra, mengatakan kebutuhan kopi sangrai terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, baik dari pelaku usaha kopi maupun konsumen rumahan yang mulai menyeduh kopi sendiri alias home brewing.

Menurutnya, proses roasting tidak sekadar memanggang biji kopi. Setiap origin membutuhkan perlakuan berbeda agar karakter terbaiknya dapat muncul saat diseduh.
"Roasting itu seperti menerjemahkan potensi yang sudah ada di dalam biji kopi. Kalau salah perlakuan, karakter kopi bisa hilang," ujarnya.

Di Jawa Timur, tren serupa juga terlihat. Pemilik Calibre Coffee Surabaya, Jhon, mengatakan konsumen saat ini semakin tertarik mencoba kopi berdasarkan daerah asalnya. Mereka tidak hanya mencari rasa pahit atau tingkat kekuatan kopi, tetapi juga ingin mengenal karakter khas dari setiap origin.
Kopi dari Jawa Barat, Toraja, Flores, hingga Jawa Timur memiliki profil rasa yang berbeda. Perbedaan tersebut kemudian dipertajam melalui proses roasting yang tepat.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan penting dalam industri kopi Indonesia. Jika dahulu kopi lebih banyak diperdagangkan sebagai komoditas, kini kopi mulai diposisikan sebagai produk dengan identitas yang kuat. Bukan hanya soal asal daerahnya, tetapi juga bagaimana kopi tersebut diproses dan disangrai.

Di Makassar dan Surabaya, permintaan jasa roasting terus meningkat seiring bertambahnya jumlah coffee shop dan meningkatnya minat masyarakat terhadap specialty coffee.
Roaster Toko Abadi Jaya Roastery (Makassar), Putra, mengatakan kebutuhan kopi sangrai terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, baik dari pelaku usaha kopi maupun konsumen rumahan yang mulai menyeduh kopi sendiri alias home brewing.

Menurutnya, proses roasting tidak sekadar memanggang biji kopi. Setiap origin membutuhkan perlakuan berbeda agar karakter terbaiknya dapat muncul saat diseduh.
"Roasting itu seperti menerjemahkan potensi yang sudah ada di dalam biji kopi. Kalau salah perlakuan, karakter kopi bisa hilang," ujarnya.

Di Jawa Timur, tren serupa juga terlihat. Pemilik Calibre Coffee Surabaya, Jhon, mengatakan konsumen saat ini semakin tertarik mencoba kopi berdasarkan daerah asalnya. Mereka tidak hanya mencari rasa pahit atau tingkat kekuatan kopi, tetapi juga ingin mengenal karakter khas dari setiap origin.
Kopi dari Jawa Barat, Toraja, Flores, hingga Jawa Timur memiliki profil rasa yang berbeda. Perbedaan tersebut kemudian dipertajam melalui proses roasting yang tepat.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan penting dalam industri kopi Indonesia. Jika dahulu kopi lebih banyak diperdagangkan sebagai komoditas, kini kopi mulai diposisikan sebagai produk dengan identitas yang kuat. Bukan hanya soal asal daerahnya, tetapi juga bagaimana kopi tersebut diproses dan disangrai.

Beverage Developer Agas Goestyra mengatakan inovasi roasting saat ini berkembang sangat cepat. Selain teknik roasting konvensional, sejumlah pelaku industri mulai menerapkan metode pengolahan lanjutan seperti carbonic maceration dan infusion process untuk menciptakan karakter rasa yang lebih kompleks.

"Kalau sekarang banyak eksperimen baru yang dilakukan pelaku industri. Tujuannya bukan sekadar membuat kopi berbeda, tapi juga memberikan pengalaman baru kepada konsumen," kata Agas.

Bagi pelaku industri, roasting menjadi salah satu titik penting dalam rantai nilai kopi. Di tahap inilah kualitas hasil budidaya dan pascapanen diterjemahkan menjadi pengalaman yang nantinya dinikmati konsumen lewat cangkir.

Beverage Developer Agas Goestyra mengatakan inovasi roasting saat ini berkembang sangat cepat. Selain teknik roasting konvensional, sejumlah pelaku industri mulai menerapkan metode pengolahan lanjutan seperti carbonic maceration dan infusion process untuk menciptakan karakter rasa yang lebih kompleks.

"Kalau sekarang banyak eksperimen baru yang dilakukan pelaku industri. Tujuannya bukan sekadar membuat kopi berbeda, tapi juga memberikan pengalaman baru kepada konsumen," kata Agas.

Bagi pelaku industri, roasting menjadi salah satu titik penting dalam rantai nilai kopi. Di tahap inilah kualitas hasil budidaya dan pascapanen diterjemahkan menjadi pengalaman yang nantinya dinikmati konsumen lewat cangkir.

Beverage Developer Agas Goestyra mengatakan inovasi roasting saat ini berkembang sangat cepat. Selain teknik roasting konvensional, sejumlah pelaku industri mulai menerapkan metode pengolahan lanjutan seperti carbonic maceration dan infusion process untuk menciptakan karakter rasa yang lebih kompleks.

"Kalau sekarang banyak eksperimen baru yang dilakukan pelaku industri. Tujuannya bukan sekadar membuat kopi berbeda, tapi juga memberikan pengalaman baru kepada konsumen," kata Agas.

Bagi pelaku industri, roasting menjadi salah satu titik penting dalam rantai nilai kopi. Di tahap inilah kualitas hasil budidaya dan pascapanen diterjemahkan menjadi pengalaman yang nantinya dinikmati konsumen lewat cangkir.

Masa Depan Kopi Indonesia Ditentukan Hari Ini

Masa Depan Kopi Indonesia Ditentukan Hari Ini

Masa Depan Kopi Indonesia Ditentukan Hari Ini

Foto: Java Halu Coffee

Foto: Java Halu Coffee

Di tengah pertumbuhan industri kopi nasional, para pelaku di sektor hulu justru melihat sejumlah tantangan yang tidak boleh diabaikan.

Founder Java Halu Coffee, Rani Mayasari, mengatakan ancaman terbesar saat ini bukan datang dari persaingan bisnis, melainkan perubahan iklim yang mulai memengaruhi budidaya kopi di berbagai daerah.

Menurutnya, kopi Arabika sangat bergantung pada kondisi lingkungan tertentu. Kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca berpotensi mengubah kualitas hingga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

"Kalau kita tidak peduli terhadap kondisi tanaman kopi hari ini, baik karena climate change maupun praktik budidaya yang kurang baik, saya khawatir 20 sampai 30 tahun lagi Arabika akan semakin sulit ditemukan di Indonesia," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, petani di sejumlah daerah mulai menghadapi musim yang semakin sulit diprediksi. Perubahan curah hujan hingga peningkatan serangan hama menjadi tantangan yang harus dihadapi di tingkat kebun.

Di tengah pertumbuhan industri kopi nasional, para pelaku di sektor hulu justru melihat sejumlah tantangan yang tidak boleh diabaikan.

Founder Java Halu Coffee, Rani Mayasari, mengatakan ancaman terbesar saat ini bukan datang dari persaingan bisnis, melainkan perubahan iklim yang mulai memengaruhi budidaya kopi di berbagai daerah.

Menurutnya, kopi Arabika sangat bergantung pada kondisi lingkungan tertentu. Kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca berpotensi mengubah kualitas hingga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

"Kalau kita tidak peduli terhadap kondisi tanaman kopi hari ini, baik karena climate change maupun praktik budidaya yang kurang baik, saya khawatir 20 sampai 30 tahun lagi Arabika akan semakin sulit ditemukan di Indonesia," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, petani di sejumlah daerah mulai menghadapi musim yang semakin sulit diprediksi. Perubahan curah hujan hingga peningkatan serangan hama menjadi tantangan yang harus dihadapi di tingkat kebun.

Di tengah pertumbuhan industri kopi nasional, para pelaku di sektor hulu justru melihat sejumlah tantangan yang tidak boleh diabaikan.

Founder Java Halu Coffee, Rani Mayasari, mengatakan ancaman terbesar saat ini bukan datang dari persaingan bisnis, melainkan perubahan iklim yang mulai memengaruhi budidaya kopi di berbagai daerah.

Menurutnya, kopi Arabika sangat bergantung pada kondisi lingkungan tertentu. Kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca berpotensi mengubah kualitas hingga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

"Kalau kita tidak peduli terhadap kondisi tanaman kopi hari ini, baik karena climate change maupun praktik budidaya yang kurang baik, saya khawatir 20 sampai 30 tahun lagi Arabika akan semakin sulit ditemukan di Indonesia," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, petani di sejumlah daerah mulai menghadapi musim yang semakin sulit diprediksi. Perubahan curah hujan hingga peningkatan serangan hama menjadi tantangan yang harus dihadapi di tingkat kebun.

"Kalau kita tidak peduli terhadap kondisi tanaman kopi hari ini, baik karena climate change maupun praktik budidaya yang kurang baik, saya khawatir 20 sampai 30 tahun lagi Arabika akan semakin sulit ditemukan di Indonesia."


Petani Kopi Gunung Halu

Rani Mayasari

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan untuk menjaga daya saing di pasar global.

Eksportir kopi asal Sumatera Selatan, Muhammad Syah Raffiuddin, mengatakan pasar internasional saat ini semakin menuntut kualitas yang konsisten. Negara-negara pembeli tidak hanya melihat volume produksi, tetapi juga memperhatikan mutu, keterlacakan produk, dan kemampuan pemasok memenuhi kebutuhan pasar.

Menurutnya, keunggulan kopi Indonesia harus terus diperkuat melalui peningkatan kualitas sejak tingkat budidaya hingga proses pascapanen.

"Kami tidak bisa memaksakan pasar harus membeli kopi dengan proses tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan buyer dengan kualitas yang konsisten," katanya.

Meski demikian, peluang Indonesia masih terbuka sangat besar. Sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, Indonesia memiliki kekayaan varietas dan karakter rasa yang sulit ditemukan di negara lain. Dari Robusta Sumatera Selatan hingga Arabika Java Preanger, setiap daerah memiliki identitas yang menjadi nilai jual tersendiri di pasar global.

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan untuk menjaga daya saing di pasar global.

Eksportir kopi asal Sumatera Selatan, Muhammad Syah Raffiuddin, mengatakan pasar internasional saat ini semakin menuntut kualitas yang konsisten. Negara-negara pembeli tidak hanya melihat volume produksi, tetapi juga memperhatikan mutu, keterlacakan produk, dan kemampuan pemasok memenuhi kebutuhan pasar.

Menurutnya, keunggulan kopi Indonesia harus terus diperkuat melalui peningkatan kualitas sejak tingkat budidaya hingga proses pascapanen.

"Kami tidak bisa memaksakan pasar harus membeli kopi dengan proses tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan buyer dengan kualitas yang konsisten," katanya.

Meski demikian, peluang Indonesia masih terbuka sangat besar. Sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, Indonesia memiliki kekayaan varietas dan karakter rasa yang sulit ditemukan di negara lain. Dari Robusta Sumatera Selatan hingga Arabika Java Preanger, setiap daerah memiliki identitas yang menjadi nilai jual tersendiri di pasar global.

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan untuk menjaga daya saing di pasar global.

Eksportir kopi asal Sumatera Selatan, Muhammad Syah Raffiuddin, mengatakan pasar internasional saat ini semakin menuntut kualitas yang konsisten. Negara-negara pembeli tidak hanya melihat volume produksi, tetapi juga memperhatikan mutu, keterlacakan produk, dan kemampuan pemasok memenuhi kebutuhan pasar.

Menurutnya, keunggulan kopi Indonesia harus terus diperkuat melalui peningkatan kualitas sejak tingkat budidaya hingga proses pascapanen.

"Kami tidak bisa memaksakan pasar harus membeli kopi dengan proses tertentu. Yang terpenting adalah bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan buyer dengan kualitas yang konsisten," katanya.

Meski demikian, peluang Indonesia masih terbuka sangat besar. Sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, Indonesia memiliki kekayaan varietas dan karakter rasa yang sulit ditemukan di negara lain. Dari Robusta Sumatera Selatan hingga Arabika Java Preanger, setiap daerah memiliki identitas yang menjadi nilai jual tersendiri di pasar global.

Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat, Ganjar Yudniarsa, menilai potensi tersebut harus diimbangi dengan upaya menjaga produktivitas kebun dan kualitas hasil panen.

Menurutnya, keberlanjutan industri kopi tidak hanya bergantung pada meningkatnya konsumsi atau bertambahnya jumlah coffee shop, tetapi juga pada kemampuan menjaga sektor hulu sebagai fondasi utama industri.

Pada akhirnya, masa depan kopi Indonesia tidak ditentukan di meja barista atau ruang rapat perusahaan kopi. Masa depan itu ditentukan jauh sebelumnya, di kebun-kebun kopi yang hari ini menghadapi tantangan perubahan iklim, regenerasi petani, dan tuntutan pasar yang semakin kompetitif.

Jika tantangan tersebut mampu dijawab, kebangkitan kopi Indonesia tidak hanya akan menjadi tren sesaat, melainkan fondasi bagi industri yang berkelanjutan dari kebun hingga cangkir.

Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat, Ganjar Yudniarsa, menilai potensi tersebut harus diimbangi dengan upaya menjaga produktivitas kebun dan kualitas hasil panen.

Menurutnya, keberlanjutan industri kopi tidak hanya bergantung pada meningkatnya konsumsi atau bertambahnya jumlah coffee shop, tetapi juga pada kemampuan menjaga sektor hulu sebagai fondasi utama industri.

Pada akhirnya, masa depan kopi Indonesia tidak ditentukan di meja barista atau ruang rapat perusahaan kopi. Masa depan itu ditentukan jauh sebelumnya, di kebun-kebun kopi yang hari ini menghadapi tantangan perubahan iklim, regenerasi petani, dan tuntutan pasar yang semakin kompetitif.

Jika tantangan tersebut mampu dijawab, kebangkitan kopi Indonesia tidak hanya akan menjadi tren sesaat, melainkan fondasi bagi industri yang berkelanjutan dari kebun hingga cangkir.

Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat, Ganjar Yudniarsa, menilai potensi tersebut harus diimbangi dengan upaya menjaga produktivitas kebun dan kualitas hasil panen.

Menurutnya, keberlanjutan industri kopi tidak hanya bergantung pada meningkatnya konsumsi atau bertambahnya jumlah coffee shop, tetapi juga pada kemampuan menjaga sektor hulu sebagai fondasi utama industri.

Pada akhirnya, masa depan kopi Indonesia tidak ditentukan di meja barista atau ruang rapat perusahaan kopi. Masa depan itu ditentukan jauh sebelumnya, di kebun-kebun kopi yang hari ini menghadapi tantangan perubahan iklim, regenerasi petani, dan tuntutan pasar yang semakin kompetitif.

Jika tantangan tersebut mampu dijawab, kebangkitan kopi Indonesia tidak hanya akan menjadi tren sesaat, melainkan fondasi bagi industri yang berkelanjutan dari kebun hingga cangkir.

Disusun oleh

Tim Penulis

Persiana Galih

Reporter

Azzis Zulkhairil (Bandung)

Persiana Galih (Bandung)

Rangga Erfizal (Palembang)

Feny Maulia (Palembang)

Darsil Yahya (Makassar)

Khusnul Hasana (Surabaya)

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Penulis

Persiana Galih

Reporter

Azzis Zulkhairil (Bandung)

Persiana Galih (Bandung)

Rangga Erfizal (Palembang)

Feny Maulia (Palembang)

Darsil Yahya (Makassar)

Khusnul Hasana (Surabaya)

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Penulis

Persiana Galih

Reporter

Azzis Zulkhairil (Bandung)

Persiana Galih (Bandung)

Rangga Erfizal (Palembang)

Feny Maulia (Palembang)

Darsil Yahya (Makassar)

Khusnul Hasana (Surabaya)

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com