

Ancaman Tersembunyi Natrium dalam Semangkuk Mi Instan
Ancaman Tersembunyi Natrium dalam Semangkuk Mi Instan
Ancaman Tersembunyi Natrium dalam Semangkuk Mi Instan
Mi instan menjadi bagian dari budaya makan modern, meski berisiko bagi kesehatan
Mi instan menjadi bagian dari budaya makan modern, meski berisiko bagi kesehatan
IDN Times/Ayu Afria Ulita Ermalia
IDN Times/Ayu Afria Ulita Ermalia
“Biasa, Bu. Dua Indomie goreng,” katanya.
“Biasa, Bu. Dua Indomie goreng,” katanya.
IDN Times - Di salah satu warung mi instan (warmindo) di Makassar, pukul 00.47 WITA, seorang pengemudi ojek online datang dengan wajah lelah. “Biasa, Bu. Dua Indomie goreng,” katanya. Pemilik warung, Lena (66), tersenyum, lalu mengambil dua bungkus mi dari rak dan menambahkan segenggam sayur ke dalam wajan.
Pemandangan ini bukan penggalan kecil dari sebuah fenomena kuliner, tapi realitas Indonesia di mana mi instan jadi makanan darurat, pilihan murah, penunda lapar, hingga pengganti nasi yang bisa dikonsumsi kapan saja, oleh siapa saja, dengan cara apa saja. Fakta itu seturut dengan data World Instant Noodles Association yang menempatkan Indonesia sebagai konsumen mi instan terbanyak kedua di dunia dengan konsumsi 14,680 miliar porsi pada 2024. Jika dibagi rata, setiap orang Indonesia makan 50 bungkus mi instan per tahun.
IDN Times - Di salah satu warung mi instan (warmindo) di Makassar, pukul 00.47 WITA, seorang pengemudi ojek online datang dengan wajah lelah. “Biasa, Bu. Dua Indomie goreng,” katanya. Pemilik warung, Lena (66), tersenyum, lalu mengambil dua bungkus mi dari rak dan menambahkan segenggam sayur ke dalam wajan.
Pemandangan ini bukan penggalan kecil dari sebuah fenomena kuliner, tapi realitas Indonesia di mana mi instan jadi makanan darurat, pilihan murah, penunda lapar, hingga pengganti nasi yang bisa dikonsumsi kapan saja, oleh siapa saja, dengan cara apa saja. Fakta itu seturut dengan data World Instant Noodles Association yang menempatkan Indonesia sebagai konsumen mi instan terbanyak kedua di dunia dengan konsumsi 14,680 miliar porsi pada 2024. Jika dibagi rata, setiap orang Indonesia makan 50 bungkus mi instan per tahun.
IDN Times - Di salah satu warung mi instan (warmindo) di Makassar, pukul 00.47 WITA, seorang pengemudi ojek online datang dengan wajah lelah. “Biasa, Bu. Dua Indomie goreng,” katanya. Pemilik warung, Lena (66), tersenyum, lalu mengambil dua bungkus mi dari rak dan menambahkan segenggam sayur ke dalam wajan.
Pemandangan ini bukan penggalan kecil dari sebuah fenomena kuliner, tapi realitas Indonesia di mana mi instan jadi makanan darurat, pilihan murah, penunda lapar, hingga pengganti nasi yang bisa dikonsumsi kapan saja, oleh siapa saja, dengan cara apa saja. Fakta itu seturut dengan data World Instant Noodles Association yang menempatkan Indonesia sebagai konsumen mi instan terbanyak kedua di dunia dengan konsumsi 14,680 miliar porsi pada 2024. Jika dibagi rata, setiap orang Indonesia makan 50 bungkus mi instan per tahun.
Di balik itu, ada angka lain yang lebih mengkhawatirkan: 30,8% orang Indonesia berusia 18 tahun ke atas hidup dengan hipertensi, penyakit yang banyak tersembunyi tanpa gejala, namun berdampak pada ginjal, jantung, dan otak. Salah satu pemicunya ialah konsumsi natrium berlebih. Fakta itu terungkap melalui Survei Kesehatan Indoensia (SKI) 2023, dari hasil pengukuran tekanan darah.
Natrium bukan istilah yang akrab di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka lebih paham “garam”, bahkan tidak sadar bahwa garam dapur hanya bagian dari persoalan natrium yang lebih besar. Padahal, natrium hadir dalam segala produk ultra-proses: bumbu, saus, kecap, makanan beku, dan tentu saja, mi instan.
Di balik itu, ada angka lain yang lebih mengkhawatirkan: 30,8% orang Indonesia berusia 18 tahun ke atas hidup dengan hipertensi, penyakit yang banyak tersembunyi tanpa gejala, namun berdampak pada ginjal, jantung, dan otak. Salah satu pemicunya ialah konsumsi natrium berlebih. Fakta itu terungkap melalui Survei Kesehatan Indoensia (SKI) 2023, dari hasil pengukuran tekanan darah.
Natrium bukan istilah yang akrab di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka lebih paham “garam”, bahkan tidak sadar bahwa garam dapur hanya bagian dari persoalan natrium yang lebih besar. Padahal, natrium hadir dalam segala produk ultra-proses: bumbu, saus, kecap, makanan beku, dan tentu saja, mi instan.
Di balik itu, ada angka lain yang lebih mengkhawatirkan: 30,8% orang Indonesia berusia 18 tahun ke atas hidup dengan hipertensi, penyakit yang banyak tersembunyi tanpa gejala, namun berdampak pada ginjal, jantung, dan otak. Salah satu pemicunya ialah konsumsi natrium berlebih. Fakta itu terungkap melalui Survei Kesehatan Indoensia (SKI) 2023, dari hasil pengukuran tekanan darah.
Natrium bukan istilah yang akrab di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka lebih paham “garam”, bahkan tidak sadar bahwa garam dapur hanya bagian dari persoalan natrium yang lebih besar. Padahal, natrium hadir dalam segala produk ultra-proses: bumbu, saus, kecap, makanan beku, dan tentu saja, mi instan.
Di Indonesia, produsen mi instan umumnya menampilkan nilai natrium dalam dua format: Mg per 100 gram dan Mg per porsi. Tetapi, sebagian besar konsumen tidak membaca label. Yang lebih berbahaya, beberapa produk mencantumkan angka yang tidak proporsional dengan berat porsi. Kemasan 70 gram dan 85 gram bisa sama-sama memiliki natrium per 100 gram rendah, namun total natrium per satu porsi melonjak signifikan.
Sebagian ahli bahkan menemukan produk yang menulis angka natrium lebih rendah dari perhitungan teoretis. Ahli gizi Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang, Ditia Fitri Arinda, mengatakan:
“Satu porsi mi instan yang kuahnya dihabiskan bisa menghabiskan setengah jatah garam harian. Tapi masyarakat tidak pernah hitung. Tidak pernah baca. Tidak pernah tahu risiko.”
Di Indonesia, produsen mi instan umumnya menampilkan nilai natrium dalam dua format: Mg per 100 gram dan Mg per porsi. Tetapi, sebagian besar konsumen tidak membaca label. Yang lebih berbahaya, beberapa produk mencantumkan angka yang tidak proporsional dengan berat porsi. Kemasan 70 gram dan 85 gram bisa sama-sama memiliki natrium per 100 gram rendah, namun total natrium per satu porsi melonjak signifikan.
Sebagian ahli bahkan menemukan produk yang menulis angka natrium lebih rendah dari perhitungan teoretis. Ahli gizi Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang, Ditia Fitri Arinda, mengatakan:
“Satu porsi mi instan yang kuahnya dihabiskan bisa menghabiskan setengah jatah garam harian. Tapi masyarakat tidak pernah hitung. Tidak pernah baca. Tidak pernah tahu risiko.”
Di Indonesia, produsen mi instan umumnya menampilkan nilai natrium dalam dua format: Mg per 100 gram dan Mg per porsi. Tetapi, sebagian besar konsumen tidak membaca label. Yang lebih berbahaya, beberapa produk mencantumkan angka yang tidak proporsional dengan berat porsi. Kemasan 70 gram dan 85 gram bisa sama-sama memiliki natrium per 100 gram rendah, namun total natrium per satu porsi melonjak signifikan.
Sebagian ahli bahkan menemukan produk yang menulis angka natrium lebih rendah dari perhitungan teoretis. Ahli gizi Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang, Ditia Fitri Arinda, mengatakan:
“Satu porsi mi instan yang kuahnya dihabiskan bisa menghabiskan setengah jatah garam harian. Tapi masyarakat tidak pernah hitung. Tidak pernah baca. Tidak pernah tahu risiko.”
Tubuh yang Terdesak Natrium
Tubuh yang Terdesak Natrium
Tubuh yang Terdesak Natrium



IDN Times/Ayu Afria
"Saya dengar juga kalau banyak makan mi itu tidak bagus. Tapi pelanggan tetap tiap malam datang. Mau hujan, mau malam, tetap makan Indomie. Saya juga tidak sangka," ucapnya.
"Saya dengar juga kalau banyak makan mi itu tidak bagus. Tapi pelanggan tetap tiap malam datang. Mau hujan, mau malam, tetap makan Indomie. Saya juga tidak sangka," ucapnya.
Di warmindo tempat Lena berjualan di Makassar, pengemudi ojek online bukan satu-satunya pelanggan tetap. Ada mahasiswa, anak muda, hingga pekerja kantoran yang pulang larut malam. Lena mengatakan para pelanggan tetap berdatangan tanpa mempersoalkan isu kandungan natrium. Dia menilai pembeli lebih memprioritaskan rasa, harga terjangkau, dan kemudahan sajian.
"Saya sering dengar orang bilang Indomie itu garamnya banyak. Tapi ini orang-orang, tidak siang, tidak malam, ini orang makan Indomie," kata Lena saat ditemui Minggu (16/11/2025).
Di warmindo tempat Lena berjualan di Makassar, pengemudi ojek online bukan satu-satunya pelanggan tetap. Ada mahasiswa, anak muda, hingga pekerja kantoran yang pulang larut malam. Lena mengatakan para pelanggan tetap berdatangan tanpa mempersoalkan isu kandungan natrium. Dia menilai pembeli lebih memprioritaskan rasa, harga terjangkau, dan kemudahan sajian.
"Saya sering dengar orang bilang Indomie itu garamnya banyak. Tapi ini orang-orang, tidak siang, tidak malam, ini orang makan Indomie," kata Lena saat ditemui Minggu (16/11/2025).
Di warmindo tempat Lena berjualan di Makassar, pengemudi ojek online bukan satu-satunya pelanggan tetap. Ada mahasiswa, anak muda, hingga pekerja kantoran yang pulang larut malam. Lena mengatakan para pelanggan tetap berdatangan tanpa mempersoalkan isu kandungan natrium. Dia menilai pembeli lebih memprioritaskan rasa, harga terjangkau, dan kemudahan sajian.
"Saya sering dengar orang bilang Indomie itu garamnya banyak. Tapi ini orang-orang, tidak siang, tidak malam, ini orang makan Indomie," kata Lena saat ditemui Minggu (16/11/2025).
Lena sudah membuka warmindo ini selama kurang lebih satu dekade. Jam operasional warung tidak menentu, menyesuaikan jadwal sekolah cucu yang ikut membantu. Warung buka hingga larut malam, bahkan lewat pukul 01.00 WITA bila kondisi ramai.
"Pokoknya, ini pelanggan tiap hari. Malam paling ramai, apalagi kalau hujan-hujan itu tambah ramai. Ada yang bahkan hampir tiap malam datang makan," kata Lena.
Lena sudah membuka warmindo ini selama kurang lebih satu dekade. Jam operasional warung tidak menentu, menyesuaikan jadwal sekolah cucu yang ikut membantu. Warung buka hingga larut malam, bahkan lewat pukul 01.00 WITA bila kondisi ramai.
"Pokoknya, ini pelanggan tiap hari. Malam paling ramai, apalagi kalau hujan-hujan itu tambah ramai. Ada yang bahkan hampir tiap malam datang makan," kata Lena.
Lena sudah membuka warmindo ini selama kurang lebih satu dekade. Jam operasional warung tidak menentu, menyesuaikan jadwal sekolah cucu yang ikut membantu. Warung buka hingga larut malam, bahkan lewat pukul 01.00 WITA bila kondisi ramai.
"Pokoknya, ini pelanggan tiap hari. Malam paling ramai, apalagi kalau hujan-hujan itu tambah ramai. Ada yang bahkan hampir tiap malam datang makan," kata Lena.
Menu yang paling sering dipesan ialah Indomie Goreng Original dan Indomie Goreng Rendang. Lena mengaku dua varian itu paling cepat habis. "Indomie goreng biasa yang paling laku sama Indomie goreng rendang. Cepat sekali. Biasa itu, dalam satu malam, bisa habis satu sampai dua setengah karton," ucapnya.
Harga menu di warung ini relatif murah yakni Rp5.000 untuk satu porsi mi instan tanpa telur dan Rp10.000 bila ditambah telur. Ini menjadi alasan banyak pelanggan memilih warungnya dibanding tempat lain.
Menu yang paling sering dipesan ialah Indomie Goreng Original dan Indomie Goreng Rendang. Lena mengaku dua varian itu paling cepat habis. "Indomie goreng biasa yang paling laku sama Indomie goreng rendang. Cepat sekali. Biasa itu, dalam satu malam, bisa habis satu sampai dua setengah karton," ucapnya.
Harga menu di warung ini relatif murah yakni Rp5.000 untuk satu porsi mi instan tanpa telur dan Rp10.000 bila ditambah telur. Ini menjadi alasan banyak pelanggan memilih warungnya dibanding tempat lain.
Menu yang paling sering dipesan ialah Indomie Goreng Original dan Indomie Goreng Rendang. Lena mengaku dua varian itu paling cepat habis. "Indomie goreng biasa yang paling laku sama Indomie goreng rendang. Cepat sekali. Biasa itu, dalam satu malam, bisa habis satu sampai dua setengah karton," ucapnya.
Harga menu di warung ini relatif murah yakni Rp5.000 untuk satu porsi mi instan tanpa telur dan Rp10.000 bila ditambah telur. Ini menjadi alasan banyak pelanggan memilih warungnya dibanding tempat lain.
Kuah mi instan kerap memang disebut sebagai bagian dengan kandungan natrium paling tinggi, namun peminatnya tetap ramai. Beberapa pelanggan, menurut dia, justru meminta tambahan garam ketika memesan. Sebagai pedagang, Lena hanya bisa menyediakan apa yang diminta konsumennya.
"Tidak pernah ada komplain keasinan. Justru malah minta garam. Saya bilang, sudah dobel ini minya, tambah lagi garam, padahal bumbunya turun semua. Tapi kita sediakan garam, terserah mereka kalau mau masih sendiri," katanya.
Kuah mi instan kerap memang disebut sebagai bagian dengan kandungan natrium paling tinggi, namun peminatnya tetap ramai. Beberapa pelanggan, menurut dia, justru meminta tambahan garam ketika memesan. Sebagai pedagang, Lena hanya bisa menyediakan apa yang diminta konsumennya.
"Tidak pernah ada komplain keasinan. Justru malah minta garam. Saya bilang, sudah dobel ini minya, tambah lagi garam, padahal bumbunya turun semua. Tapi kita sediakan garam, terserah mereka kalau mau masih sendiri," katanya.
Kuah mi instan kerap memang disebut sebagai bagian dengan kandungan natrium paling tinggi, namun peminatnya tetap ramai. Beberapa pelanggan, menurut dia, justru meminta tambahan garam ketika memesan. Sebagai pedagang, Lena hanya bisa menyediakan apa yang diminta konsumennya.
"Tidak pernah ada komplain keasinan. Justru malah minta garam. Saya bilang, sudah dobel ini minya, tambah lagi garam, padahal bumbunya turun semua. Tapi kita sediakan garam, terserah mereka kalau mau masih sendiri," katanya.
Isu kesehatan terkait mi instan, termasuk kandungan garam tinggi dan risiko hipertensi, sebenarnya sering didengar Lena. Meski demikian, dia tidak melihat perubahan perilaku pada pelanggannya.
"Saya dengar juga kalau banyak makan mi itu tidak bagus. Tapi pelanggan tetap tiap malam datang. Mau hujan, mau malam, tetap makan Indomie. Saya juga tidak sangka," ucapnya.
Isu kesehatan terkait mi instan, termasuk kandungan garam tinggi dan risiko hipertensi, sebenarnya sering didengar Lena. Meski demikian, dia tidak melihat perubahan perilaku pada pelanggannya.
"Saya dengar juga kalau banyak makan mi itu tidak bagus. Tapi pelanggan tetap tiap malam datang. Mau hujan, mau malam, tetap makan Indomie. Saya juga tidak sangka," ucapnya.
Isu kesehatan terkait mi instan, termasuk kandungan garam tinggi dan risiko hipertensi, sebenarnya sering didengar Lena. Meski demikian, dia tidak melihat perubahan perilaku pada pelanggannya.
"Saya dengar juga kalau banyak makan mi itu tidak bagus. Tapi pelanggan tetap tiap malam datang. Mau hujan, mau malam, tetap makan Indomie. Saya juga tidak sangka," ucapnya.
Jalan Pintas Menumpuk Natrium
Jalan Pintas Menumpuk Natrium
Jalan Pintas Menumpuk Natrium



IDN Times/Ayu Afria
"Tapi karena pernah sakit, jadi sama dokter disuruh ngurangin. Keseringan makan mi katanya," kata Orin.
"Tapi karena pernah sakit, jadi sama dokter disuruh ngurangin. Keseringan makan mi katanya," kata Orin.
"Saya itu tidak suka mi instan saat kecil. Baru suka pas SMP sampai sekarang. Seminggu bisa empat kali, bahkan bisa itu setiap hari. Tapi karena pernah sakit, jadi sama dokter disuruh ngurangin. Keseringan makan mi katanya," ucap Orin Fajitan (30), usai menyantap seporsi mi instan Indomie Cabe Ijo di Warmindo Chili Oil, Denpasar, Bali, Kamis (20/11/2025).
Beberapa waktu lalu Orin sempat sakit. Badannya lemas dan mual hingga ia memeriksakan diri di dokter yang akhirnya menyarankan untuk berhenti sementara mengonsumsi mi instan. "Pernah kepikiran, sih, untuk berhenti mengonsumsi (mi instan). Tapi enak itu, lho. Praktis juga dan harganya terjangkau," akunya.
"Saya itu tidak suka mi instan saat kecil. Baru suka pas SMP sampai sekarang. Seminggu bisa empat kali, bahkan bisa itu setiap hari. Tapi karena pernah sakit, jadi sama dokter disuruh ngurangin. Keseringan makan mi katanya," ucap Orin Fajitan (30), usai menyantap seporsi mi instan Indomie Cabe Ijo di Warmindo Chili Oil, Denpasar, Bali, Kamis (20/11/2025).
Beberapa waktu lalu Orin sempat sakit. Badannya lemas dan mual hingga ia memeriksakan diri di dokter yang akhirnya menyarankan untuk berhenti sementara mengonsumsi mi instan. "Pernah kepikiran, sih, untuk berhenti mengonsumsi (mi instan). Tapi enak itu, lho. Praktis juga dan harganya terjangkau," akunya.
"Saya itu tidak suka mi instan saat kecil. Baru suka pas SMP sampai sekarang. Seminggu bisa empat kali, bahkan bisa itu setiap hari. Tapi karena pernah sakit, jadi sama dokter disuruh ngurangin. Keseringan makan mi katanya," ucap Orin Fajitan (30), usai menyantap seporsi mi instan Indomie Cabe Ijo di Warmindo Chili Oil, Denpasar, Bali, Kamis (20/11/2025).
Beberapa waktu lalu Orin sempat sakit. Badannya lemas dan mual hingga ia memeriksakan diri di dokter yang akhirnya menyarankan untuk berhenti sementara mengonsumsi mi instan. "Pernah kepikiran, sih, untuk berhenti mengonsumsi (mi instan). Tapi enak itu, lho. Praktis juga dan harganya terjangkau," akunya.

IDN Times/Mardya Shakti
Keinginan untuk selalu mengonsumsi mi instan juga dirasakan oleh Ayu, perempuan muda asal Badung, Bali, meski dokter telah menyarankannya untuk tidak lagi menyantap produk makanan instan. Namun, ia punya cara tersendiri dengan membuat omelet berbahan mi instan agar sensasi rasa dan komposisi gizi lebih variatif, sebab jika ia menyantap mi instan dalam sajian pada umumnya maka lambungnya akan begah dan memicu rasa mual.
"Gak bisa sebetulnya makan mi instan. Emang dari kecil gak bisa. Gak boleh juga sama dokter makan yang pakai pengawet karena saya, kan, ada riwayat hepatitis, liver. Jadi demi menuruti kemauan lidah ini, aku coba sajikan dengan cara berrbeda.," ungkapnya.
Keinginan untuk selalu mengonsumsi mi instan juga dirasakan oleh Ayu, perempuan muda asal Badung, Bali, meski dokter telah menyarankannya untuk tidak lagi menyantap produk makanan instan. Namun, ia punya cara tersendiri dengan membuat omelet berbahan mi instan agar sensasi rasa dan komposisi gizi lebih variatif, sebab jika ia menyantap mi instan dalam sajian pada umumnya maka lambungnya akan begah dan memicu rasa mual.
"Gak bisa sebetulnya makan mi instan. Emang dari kecil gak bisa. Gak boleh juga sama dokter makan yang pakai pengawet karena saya, kan, ada riwayat hepatitis, liver. Jadi demi menuruti kemauan lidah ini, aku coba sajikan dengan cara berrbeda.," ungkapnya.
Keinginan untuk selalu mengonsumsi mi instan juga dirasakan oleh Ayu, perempuan muda asal Badung, Bali, meski dokter telah menyarankannya untuk tidak lagi menyantap produk makanan instan. Namun, ia punya cara tersendiri dengan membuat omelet berbahan mi instan agar sensasi rasa dan komposisi gizi lebih variatif, sebab jika ia menyantap mi instan dalam sajian pada umumnya maka lambungnya akan begah dan memicu rasa mual.
"Gak bisa sebetulnya makan mi instan. Emang dari kecil gak bisa. Gak boleh juga sama dokter makan yang pakai pengawet karena saya, kan, ada riwayat hepatitis, liver. Jadi demi menuruti kemauan lidah ini, aku coba sajikan dengan cara berrbeda.," ungkapnya.
Selain godaan adiktif dari rasa gurih yang sulit ditolak konsumen seperti Orin dan Ayu, mi instan juga jadi opsi yang selalu hadir dalam pilihan makanan harian bagi anak kost karena harganya yang relatif lebih murah. Bagi Nur Laila, perempuan asal Jawa Barat yang merantau di Bali, konsumsi mi instan dapat membantu menekan biaya makan. Dalam sebulan, ia rata-rata menyantap mi instan sepuluh kali dengan tambahan dimsum dan pangsit.
"Mi instan adalah alternatif untuk berhemat, kadang-kadang juga alternatif jika kita tidak punya banyak uang," terangnya.
Selain godaan adiktif dari rasa gurih yang sulit ditolak konsumen seperti Orin dan Ayu, mi instan juga jadi opsi yang selalu hadir dalam pilihan makanan harian bagi anak kost karena harganya yang relatif lebih murah. Bagi Nur Laila, perempuan asal Jawa Barat yang merantau di Bali, konsumsi mi instan dapat membantu menekan biaya makan. Dalam sebulan, ia rata-rata menyantap mi instan sepuluh kali dengan tambahan dimsum dan pangsit.
"Mi instan adalah alternatif untuk berhemat, kadang-kadang juga alternatif jika kita tidak punya banyak uang," terangnya.
Selain godaan adiktif dari rasa gurih yang sulit ditolak konsumen seperti Orin dan Ayu, mi instan juga jadi opsi yang selalu hadir dalam pilihan makanan harian bagi anak kost karena harganya yang relatif lebih murah. Bagi Nur Laila, perempuan asal Jawa Barat yang merantau di Bali, konsumsi mi instan dapat membantu menekan biaya makan. Dalam sebulan, ia rata-rata menyantap mi instan sepuluh kali dengan tambahan dimsum dan pangsit.
"Mi instan adalah alternatif untuk berhemat, kadang-kadang juga alternatif jika kita tidak punya banyak uang," terangnya.
Pun demikian bagi sebagian mahasiswa yang terjepit jadwal kuliah, uang bulanan terbatas, dan tenaga yang terkuras untuk belajar. Ghefira Najla, mahasiswi semester satu di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jatinangor, Jawa Barat, merasa mi instan satu-satunya makanan yang cepat untuk meredam rasa lapar dengan harga murah. "Kalau lagi kuliahnya hectic banget sih bisa dua kali seminggu, apalagi kalau lagi di kost-an, tapi kalau lagi rajin masak cukup mengonsumsi satu kali dalam seminggu," ujarnya kepada IDN Times, Kamis (21/11/2025).
Mahasiswi asal Bandung ini lebih sering membuat mi instan berkuah dibanding goreng. Menurutnya, mi kuah sangat pas dengan kondisi cuaca Jatinangor yang cukup dingin. "Aku hampir selalu tambah telur kalau makan mi kuah, soalnya selain bikin lebih enak, telur juga punya protein yang bikin tambah kenyang. Kalau sayur, kadang aja kalau lagi ada," jelasnya.
Pun demikian bagi sebagian mahasiswa yang terjepit jadwal kuliah, uang bulanan terbatas, dan tenaga yang terkuras untuk belajar. Ghefira Najla, mahasiswi semester satu di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jatinangor, Jawa Barat, merasa mi instan satu-satunya makanan yang cepat untuk meredam rasa lapar dengan harga murah. "Kalau lagi kuliahnya hectic banget sih bisa dua kali seminggu, apalagi kalau lagi di kost-an, tapi kalau lagi rajin masak cukup mengonsumsi satu kali dalam seminggu," ujarnya kepada IDN Times, Kamis (21/11/2025).
Mahasiswi asal Bandung ini lebih sering membuat mi instan berkuah dibanding goreng. Menurutnya, mi kuah sangat pas dengan kondisi cuaca Jatinangor yang cukup dingin. "Aku hampir selalu tambah telur kalau makan mi kuah, soalnya selain bikin lebih enak, telur juga punya protein yang bikin tambah kenyang. Kalau sayur, kadang aja kalau lagi ada," jelasnya.
Pun demikian bagi sebagian mahasiswa yang terjepit jadwal kuliah, uang bulanan terbatas, dan tenaga yang terkuras untuk belajar. Ghefira Najla, mahasiswi semester satu di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jatinangor, Jawa Barat, merasa mi instan satu-satunya makanan yang cepat untuk meredam rasa lapar dengan harga murah. "Kalau lagi kuliahnya hectic banget sih bisa dua kali seminggu, apalagi kalau lagi di kost-an, tapi kalau lagi rajin masak cukup mengonsumsi satu kali dalam seminggu," ujarnya kepada IDN Times, Kamis (21/11/2025).
Mahasiswi asal Bandung ini lebih sering membuat mi instan berkuah dibanding goreng. Menurutnya, mi kuah sangat pas dengan kondisi cuaca Jatinangor yang cukup dingin. "Aku hampir selalu tambah telur kalau makan mi kuah, soalnya selain bikin lebih enak, telur juga punya protein yang bikin tambah kenyang. Kalau sayur, kadang aja kalau lagi ada," jelasnya.
Ghefira mengaku menyadari tingginya kadar natrium dalam mi instan kuah yang ia konsumsi. Hanya saja, sebagai mahasiswa baru yang tinggal di kost, ia tidak punya pilihan selain rutin menyantap makanan instan. "Soalnya mi instan tuh sat-set dibikinnya, nggak ribet, dan paling gampang kalau lagi butuh makan cepat," tuturnya.
Kondisi serupa dihadapi Keyla Meyna, teman Ghefira. Konsumsi mi instan menjadi hal rutin di kamar kost atau di kantin-kantin kampus. Soal kandungan natrium dalam semangkuk mi instan, ia sadar betul. Hanya saja, tidak ada alternatif makanan pengganjal perut di tengah sibuknya kegiatan kampus.
Ghefira mengaku menyadari tingginya kadar natrium dalam mi instan kuah yang ia konsumsi. Hanya saja, sebagai mahasiswa baru yang tinggal di kost, ia tidak punya pilihan selain rutin menyantap makanan instan. "Soalnya mi instan tuh sat-set dibikinnya, nggak ribet, dan paling gampang kalau lagi butuh makan cepat," tuturnya.
Kondisi serupa dihadapi Keyla Meyna, teman Ghefira. Konsumsi mi instan menjadi hal rutin di kamar kost atau di kantin-kantin kampus. Soal kandungan natrium dalam semangkuk mi instan, ia sadar betul. Hanya saja, tidak ada alternatif makanan pengganjal perut di tengah sibuknya kegiatan kampus.
Ghefira mengaku menyadari tingginya kadar natrium dalam mi instan kuah yang ia konsumsi. Hanya saja, sebagai mahasiswa baru yang tinggal di kost, ia tidak punya pilihan selain rutin menyantap makanan instan. "Soalnya mi instan tuh sat-set dibikinnya, nggak ribet, dan paling gampang kalau lagi butuh makan cepat," tuturnya.
Kondisi serupa dihadapi Keyla Meyna, teman Ghefira. Konsumsi mi instan menjadi hal rutin di kamar kost atau di kantin-kantin kampus. Soal kandungan natrium dalam semangkuk mi instan, ia sadar betul. Hanya saja, tidak ada alternatif makanan pengganjal perut di tengah sibuknya kegiatan kampus.
Di sudut lain kehidupan mahasiswa di Kota Jogjakarta, Muhammad Fatikhan Lutfi mengaku konsumsi mi instannya bahkan lebih sering, nyaris setiap hari. Di titik ini, alasan “praktis” bertemu langsung dengan persoalan yang lebih keras: uang. “Sering, lumayan sering, hampir setiap hari juga mengingat dana. Lebih terjangkau, karena kalau makan lainnya relatif tinggi. Mi cuma Rp3.500. Lebih praktis, simpel,” tuturnya.
Situasi Ghefira, Keyla hingga Lutfi, memiliki benang merah yang sama: mereka tahu mi instan bukan pilihan ideal, tetapi dalam ritme kuliah yang padat dan kondisi finansial yang ketat, yang paling menentukan bukan sekadar pengetahuan melainkan ketersediaan pilihan. Mi instan, pada akhirnya, hadir bukan karena paling sehat, melainkan karena paling mungkin.
Di sudut lain kehidupan mahasiswa di Kota Jogjakarta, Muhammad Fatikhan Lutfi mengaku konsumsi mi instannya bahkan lebih sering, nyaris setiap hari. Di titik ini, alasan “praktis” bertemu langsung dengan persoalan yang lebih keras: uang. “Sering, lumayan sering, hampir setiap hari juga mengingat dana. Lebih terjangkau, karena kalau makan lainnya relatif tinggi. Mi cuma Rp3.500. Lebih praktis, simpel,” tuturnya.
Situasi Ghefira, Keyla hingga Lutfi, memiliki benang merah yang sama: mereka tahu mi instan bukan pilihan ideal, tetapi dalam ritme kuliah yang padat dan kondisi finansial yang ketat, yang paling menentukan bukan sekadar pengetahuan melainkan ketersediaan pilihan. Mi instan, pada akhirnya, hadir bukan karena paling sehat, melainkan karena paling mungkin.
Di sudut lain kehidupan mahasiswa di Kota Jogjakarta, Muhammad Fatikhan Lutfi mengaku konsumsi mi instannya bahkan lebih sering, nyaris setiap hari. Di titik ini, alasan “praktis” bertemu langsung dengan persoalan yang lebih keras: uang. “Sering, lumayan sering, hampir setiap hari juga mengingat dana. Lebih terjangkau, karena kalau makan lainnya relatif tinggi. Mi cuma Rp3.500. Lebih praktis, simpel,” tuturnya.
Situasi Ghefira, Keyla hingga Lutfi, memiliki benang merah yang sama: mereka tahu mi instan bukan pilihan ideal, tetapi dalam ritme kuliah yang padat dan kondisi finansial yang ketat, yang paling menentukan bukan sekadar pengetahuan melainkan ketersediaan pilihan. Mi instan, pada akhirnya, hadir bukan karena paling sehat, melainkan karena paling mungkin.
"Karena medis tidak merekomendasikan konsumsi mie instan"
"Karena medis tidak merekomendasikan konsumsi mie instan"
"Karena medis tidak merekomendasikan konsumsi mie instan"



IDN Times/Ayu Afriau Afria
"Sebagai perbandingan, bila kita sudah makan mi instan, ya sudah, kita tidak punya jatah lain untuk makanan lainnya. Kalau itu terjadi setiap hari maka muncul hipertensi," tegasnya.
"Sebagai perbandingan, bila kita sudah makan mi instan, ya sudah, kita tidak punya jatah lain untuk makanan lainnya. Kalau itu terjadi setiap hari maka muncul hipertensi," tegasnya.
Dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Santo Elisabeth Semarang, dr Putri Dwi Astuti, menyarankan anak-anak muda untuk kembali pada pola makan bergizi seimbang. Ia menyebut, konsusmi mi instan berlebihan perlu disikapi dengan bijak. Secara medis, katanya, mi instan bukan makanan yang otomatis “berbahaya”, tetapi produk tersebut tidak memberikan kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh bila dijadikan kebiasaan.
"Mie instan terkenal emang kalori tinggi tapi nutrisi tidak ada, proteinnya tidak ada. Idealnya kita kalau makan, ya, harus ada protein, serat, vitamin, nutrisi, tapi di mi instan hanya ada karbohidrat dan memang banyak natrium," tutur Putri.
Dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Santo Elisabeth Semarang, dr Putri Dwi Astuti, menyarankan anak-anak muda untuk kembali pada pola makan bergizi seimbang. Ia menyebut, konsusmi mi instan berlebihan perlu disikapi dengan bijak. Secara medis, katanya, mi instan bukan makanan yang otomatis “berbahaya”, tetapi produk tersebut tidak memberikan kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh bila dijadikan kebiasaan.
"Mie instan terkenal emang kalori tinggi tapi nutrisi tidak ada, proteinnya tidak ada. Idealnya kita kalau makan, ya, harus ada protein, serat, vitamin, nutrisi, tapi di mi instan hanya ada karbohidrat dan memang banyak natrium," tutur Putri.
Dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Santo Elisabeth Semarang, dr Putri Dwi Astuti, menyarankan anak-anak muda untuk kembali pada pola makan bergizi seimbang. Ia menyebut, konsusmi mi instan berlebihan perlu disikapi dengan bijak. Secara medis, katanya, mi instan bukan makanan yang otomatis “berbahaya”, tetapi produk tersebut tidak memberikan kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh bila dijadikan kebiasaan.
"Mie instan terkenal emang kalori tinggi tapi nutrisi tidak ada, proteinnya tidak ada. Idealnya kita kalau makan, ya, harus ada protein, serat, vitamin, nutrisi, tapi di mi instan hanya ada karbohidrat dan memang banyak natrium," tutur Putri.
Putri menekankan, hal identik pada mi instan bukan hanya “cepat dan murah”, melainkan kandungan natriumnya yang tinggi. Ia menyebut pada label beberapa mi instan, kadar natrium berkisar 1.000–1.500. Baginya, ini berarti satu porsi saja dapat menghabiskan jatah natrium harian, sehingga ruang untuk konsumsi makanan lain menjadi sangat terbatas.
"Sebagai perbandingan, bila kita sudah makan mi instan, ya sudah, kita tidak punya jatah lain untuk makanan lainnya. Kalau itu terjadi setiap hari maka muncul hipertensi," tegasnya.
Putri menekankan, hal identik pada mi instan bukan hanya “cepat dan murah”, melainkan kandungan natriumnya yang tinggi. Ia menyebut pada label beberapa mi instan, kadar natrium berkisar 1.000–1.500. Baginya, ini berarti satu porsi saja dapat menghabiskan jatah natrium harian, sehingga ruang untuk konsumsi makanan lain menjadi sangat terbatas.
"Sebagai perbandingan, bila kita sudah makan mi instan, ya sudah, kita tidak punya jatah lain untuk makanan lainnya. Kalau itu terjadi setiap hari maka muncul hipertensi," tegasnya.
Putri menekankan, hal identik pada mi instan bukan hanya “cepat dan murah”, melainkan kandungan natriumnya yang tinggi. Ia menyebut pada label beberapa mi instan, kadar natrium berkisar 1.000–1.500. Baginya, ini berarti satu porsi saja dapat menghabiskan jatah natrium harian, sehingga ruang untuk konsumsi makanan lain menjadi sangat terbatas.
"Sebagai perbandingan, bila kita sudah makan mi instan, ya sudah, kita tidak punya jatah lain untuk makanan lainnya. Kalau itu terjadi setiap hari maka muncul hipertensi," tegasnya.
Karena itu, ia mengimbau agar mi instan tidak dikonsumsi terlalu sering. Jika tetap mengonsumsi, Putri menyarankan strategi sederhana untuk menekan asupan natrium dan memperbaiki kualitas gizi, yaitu dengan mengurangi porsi dan bumbu, lalu lengkapi dengan sayur serta sumber protein seperti telur atau daging agar lebih seimbang.
"Atau bisa juga dibatasi saja. Bisa dimakan saat seremonial saja. Karena medis tidak merekomendasikan konsumsi mie instan," kata Putri.
Karena itu, ia mengimbau agar mi instan tidak dikonsumsi terlalu sering. Jika tetap mengonsumsi, Putri menyarankan strategi sederhana untuk menekan asupan natrium dan memperbaiki kualitas gizi, yaitu dengan mengurangi porsi dan bumbu, lalu lengkapi dengan sayur serta sumber protein seperti telur atau daging agar lebih seimbang.
"Atau bisa juga dibatasi saja. Bisa dimakan saat seremonial saja. Karena medis tidak merekomendasikan konsumsi mie instan," kata Putri.
Karena itu, ia mengimbau agar mi instan tidak dikonsumsi terlalu sering. Jika tetap mengonsumsi, Putri menyarankan strategi sederhana untuk menekan asupan natrium dan memperbaiki kualitas gizi, yaitu dengan mengurangi porsi dan bumbu, lalu lengkapi dengan sayur serta sumber protein seperti telur atau daging agar lebih seimbang.
"Atau bisa juga dibatasi saja. Bisa dimakan saat seremonial saja. Karena medis tidak merekomendasikan konsumsi mie instan," kata Putri.

Konsumsi makanan dengan natirum tinggi, papar Putri, berkontribusi besar memicu penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang kini kian sering muncul pada anak muda. Jika dulu tekanan darah tinggi umumnya diidentikkan dengan angka di atas 140/90, kini ambang kewaspadaan semakin rendah karena banyak kasus ditemukan pada level sekitar 135/85.
Tekanan darah tinggi yang dibiarkan bukan sekadar angka di alat ukur, kata Putri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi hipertensi kronis. Ketika hipertensi kronis tidak terkendali, dampaknya perlahan merusak organ-organ penting, antara lain jantung, ginjal, hingga otak, dan berujung komplikasi yang jauh lebih serius.
Konsumsi makanan dengan natirum tinggi, papar Putri, berkontribusi besar memicu penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang kini kian sering muncul pada anak muda. Jika dulu tekanan darah tinggi umumnya diidentikkan dengan angka di atas 140/90, kini ambang kewaspadaan semakin rendah karena banyak kasus ditemukan pada level sekitar 135/85.
Tekanan darah tinggi yang dibiarkan bukan sekadar angka di alat ukur, kata Putri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi hipertensi kronis. Ketika hipertensi kronis tidak terkendali, dampaknya perlahan merusak organ-organ penting, antara lain jantung, ginjal, hingga otak, dan berujung komplikasi yang jauh lebih serius.
Konsumsi makanan dengan natirum tinggi, papar Putri, berkontribusi besar memicu penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang kini kian sering muncul pada anak muda. Jika dulu tekanan darah tinggi umumnya diidentikkan dengan angka di atas 140/90, kini ambang kewaspadaan semakin rendah karena banyak kasus ditemukan pada level sekitar 135/85.
Tekanan darah tinggi yang dibiarkan bukan sekadar angka di alat ukur, kata Putri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi hipertensi kronis. Ketika hipertensi kronis tidak terkendali, dampaknya perlahan merusak organ-organ penting, antara lain jantung, ginjal, hingga otak, dan berujung komplikasi yang jauh lebih serius.
Kerentanan anak muda usia 18 tahun ke atas mengidap darah tinggi, lanjut Putri, diperparah oleh gaya hidup masa kini. Ia menyoroti kecenderungan anak muda yang enggan minum obat, mengalami stres sejak kecil, serta pola makan yang keliru. Masalahnya, hipertensi sering tidak menimbulkan keluhan berarti di awal, sehingga banyak orang merasa baik-baik saja dan menunda perubahan gaya hidup.
"Padahal komplikasi hipertensi itu niscaya akan terjadi tidak terkendali dalam waktu 10-15 tahun kemudian. Di usia segitu kan seseorang baru menginjak 35 tahun. Maka mulai muncul komplikasi jantung, gagal ginjal," kata ahli hipertensi tersebut.
Kerentanan anak muda usia 18 tahun ke atas mengidap darah tinggi, lanjut Putri, diperparah oleh gaya hidup masa kini. Ia menyoroti kecenderungan anak muda yang enggan minum obat, mengalami stres sejak kecil, serta pola makan yang keliru. Masalahnya, hipertensi sering tidak menimbulkan keluhan berarti di awal, sehingga banyak orang merasa baik-baik saja dan menunda perubahan gaya hidup.
"Padahal komplikasi hipertensi itu niscaya akan terjadi tidak terkendali dalam waktu 10-15 tahun kemudian. Di usia segitu kan seseorang baru menginjak 35 tahun. Maka mulai muncul komplikasi jantung, gagal ginjal," kata ahli hipertensi tersebut.
Kerentanan anak muda usia 18 tahun ke atas mengidap darah tinggi, lanjut Putri, diperparah oleh gaya hidup masa kini. Ia menyoroti kecenderungan anak muda yang enggan minum obat, mengalami stres sejak kecil, serta pola makan yang keliru. Masalahnya, hipertensi sering tidak menimbulkan keluhan berarti di awal, sehingga banyak orang merasa baik-baik saja dan menunda perubahan gaya hidup.
"Padahal komplikasi hipertensi itu niscaya akan terjadi tidak terkendali dalam waktu 10-15 tahun kemudian. Di usia segitu kan seseorang baru menginjak 35 tahun. Maka mulai muncul komplikasi jantung, gagal ginjal," kata ahli hipertensi tersebut.
Memikirkan Ulang Pola Konsumsi Mi Instan
Memikirkan Ulang Pola Konsumsi Mi Instan
Memikirkan Ulang Pola Konsumsi Mi Instan



IDN Times/Rangga Erfizal
"Kalau khawatir dengan bumbunya (mi instan) bisa saja dipakai sebagian atau tidak dipakai sama sekali,"
"Kalau khawatir dengan bumbunya (mi instan) bisa saja dipakai sebagian atau tidak dipakai sama sekali,"
Mi instan hadir di meja makan masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Produk ini kemudian melekat dalam kebiasaan makan harian berbagai kelompok, mulai keluarga muda hingga mahasiswa. Mi instan tidak lagi dipandang sebagai makanan pelengkap. Bagi banyak keluarga, mi instan sudah menempati posisi seperti makanan pokok.
Dosen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Veni Hadju, menyebut dominasi mi instan sebagai hasil pemasaran panjang industri selama 30-40 tahun terakhir. Produk itu mudah ditemukan di berbagai negara dengan populasi pekerja atau mahasiswa asal Indonesia.
Mi instan hadir di meja makan masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Produk ini kemudian melekat dalam kebiasaan makan harian berbagai kelompok, mulai keluarga muda hingga mahasiswa. Mi instan tidak lagi dipandang sebagai makanan pelengkap. Bagi banyak keluarga, mi instan sudah menempati posisi seperti makanan pokok.
Dosen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Veni Hadju, menyebut dominasi mi instan sebagai hasil pemasaran panjang industri selama 30-40 tahun terakhir. Produk itu mudah ditemukan di berbagai negara dengan populasi pekerja atau mahasiswa asal Indonesia.
Mi instan hadir di meja makan masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Produk ini kemudian melekat dalam kebiasaan makan harian berbagai kelompok, mulai keluarga muda hingga mahasiswa. Mi instan tidak lagi dipandang sebagai makanan pelengkap. Bagi banyak keluarga, mi instan sudah menempati posisi seperti makanan pokok.
Dosen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Veni Hadju, menyebut dominasi mi instan sebagai hasil pemasaran panjang industri selama 30-40 tahun terakhir. Produk itu mudah ditemukan di berbagai negara dengan populasi pekerja atau mahasiswa asal Indonesia.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami komposisi gizi dari mi instan sebelum menempatkannya sebagai pilihan harian. Mi instan, utamanya, hanya menyediakan sumber karbohidrat. Kandungan proteinnya bersumber dari bahan nabati dalam jumlah terbatas.
"Di dalamnya, kan, hanya protein nabati saja, itu pun tidak cukup. Jadi kalau dia hanya dimakan begitu saja, berarti konsumsi atau asupan protein hewani, kan, tidak ada sama sekali ya, kalau tidak diiringi dengan mencampur telur atau protein hewani yang lain," kata Prof Veni, Minggu (16/11/2025).
Menurutnya, masyarakat perlu memahami komposisi gizi dari mi instan sebelum menempatkannya sebagai pilihan harian. Mi instan, utamanya, hanya menyediakan sumber karbohidrat. Kandungan proteinnya bersumber dari bahan nabati dalam jumlah terbatas.
"Di dalamnya, kan, hanya protein nabati saja, itu pun tidak cukup. Jadi kalau dia hanya dimakan begitu saja, berarti konsumsi atau asupan protein hewani, kan, tidak ada sama sekali ya, kalau tidak diiringi dengan mencampur telur atau protein hewani yang lain," kata Prof Veni, Minggu (16/11/2025).
Menurutnya, masyarakat perlu memahami komposisi gizi dari mi instan sebelum menempatkannya sebagai pilihan harian. Mi instan, utamanya, hanya menyediakan sumber karbohidrat. Kandungan proteinnya bersumber dari bahan nabati dalam jumlah terbatas.
"Di dalamnya, kan, hanya protein nabati saja, itu pun tidak cukup. Jadi kalau dia hanya dimakan begitu saja, berarti konsumsi atau asupan protein hewani, kan, tidak ada sama sekali ya, kalau tidak diiringi dengan mencampur telur atau protein hewani yang lain," kata Prof Veni, Minggu (16/11/2025).
Prof Veni menegaskan mi instan merupakan produk industri yang menggunakan bahan pengawet dan penyedap. Konsumsi berlebihan dapat berdampak tidak baik bagi tubuh.
"Itu, kan, kalau dikonsumsi berlebihan tentu tidak aman buat tubuh kita ya, sehingga ini harus diantisipasi dengan edukasi yang baik. Otomatis masyarakat juga akan merasa bahwa bisa dimakan tapi bukan konsumsi tiap hari begitu, ya," katanya.
Prof Veni menegaskan mi instan merupakan produk industri yang menggunakan bahan pengawet dan penyedap. Konsumsi berlebihan dapat berdampak tidak baik bagi tubuh.
"Itu, kan, kalau dikonsumsi berlebihan tentu tidak aman buat tubuh kita ya, sehingga ini harus diantisipasi dengan edukasi yang baik. Otomatis masyarakat juga akan merasa bahwa bisa dimakan tapi bukan konsumsi tiap hari begitu, ya," katanya.
Prof Veni menegaskan mi instan merupakan produk industri yang menggunakan bahan pengawet dan penyedap. Konsumsi berlebihan dapat berdampak tidak baik bagi tubuh.
"Itu, kan, kalau dikonsumsi berlebihan tentu tidak aman buat tubuh kita ya, sehingga ini harus diantisipasi dengan edukasi yang baik. Otomatis masyarakat juga akan merasa bahwa bisa dimakan tapi bukan konsumsi tiap hari begitu, ya," katanya.
Edukasi dianggap masih lemah di tengah tingginya konsumsi mi instan. Kondisi itu membuat masyarakat perlu mendapat dorongan agar tidak mengandalkan produk tersebut sebagai pilihan harian.
"Ini harus dipahami bahwa ini, kan, suatu produk industri yang notabene pasti lengkap dengan bahan pengawetnya, bahan penyedapnya," kata Veni.
Edukasi dianggap masih lemah di tengah tingginya konsumsi mi instan. Kondisi itu membuat masyarakat perlu mendapat dorongan agar tidak mengandalkan produk tersebut sebagai pilihan harian.
"Ini harus dipahami bahwa ini, kan, suatu produk industri yang notabene pasti lengkap dengan bahan pengawetnya, bahan penyedapnya," kata Veni.
Edukasi dianggap masih lemah di tengah tingginya konsumsi mi instan. Kondisi itu membuat masyarakat perlu mendapat dorongan agar tidak mengandalkan produk tersebut sebagai pilihan harian.
"Ini harus dipahami bahwa ini, kan, suatu produk industri yang notabene pasti lengkap dengan bahan pengawetnya, bahan penyedapnya," kata Veni.
Veni menanggapi kekhawatiran publik mengenai tingginya kandungan garam pada mi instan yang kerap dikaitkan dengan hipertensi. Menurutnya, respons tubuh terhadap natrium berbeda pada setiap individu. Ada kelompok yang sangat sensitif terhadap natrium, termasuk penderita hipertensi, obesitas, ibu hamil, atau individu dengan faktor genetik tertentu. Pada kelompok sensitif, satu porsi mi instan dapat memberikan dampak signifikan pada tekanan darah.
"Setiap orang itu berbeda-beda sensitivitas terhadap natrium, itu di situ poinnya. Ada orang kan cuma satu bungkusnya sudah pusing kepalanya. Kalau sudah seperti itu ya janganlah, berarti Anda tidak cocok dengan produk ini," tutur Veni.
Veni menanggapi kekhawatiran publik mengenai tingginya kandungan garam pada mi instan yang kerap dikaitkan dengan hipertensi. Menurutnya, respons tubuh terhadap natrium berbeda pada setiap individu. Ada kelompok yang sangat sensitif terhadap natrium, termasuk penderita hipertensi, obesitas, ibu hamil, atau individu dengan faktor genetik tertentu. Pada kelompok sensitif, satu porsi mi instan dapat memberikan dampak signifikan pada tekanan darah.
"Setiap orang itu berbeda-beda sensitivitas terhadap natrium, itu di situ poinnya. Ada orang kan cuma satu bungkusnya sudah pusing kepalanya. Kalau sudah seperti itu ya janganlah, berarti Anda tidak cocok dengan produk ini," tutur Veni.
Veni menanggapi kekhawatiran publik mengenai tingginya kandungan garam pada mi instan yang kerap dikaitkan dengan hipertensi. Menurutnya, respons tubuh terhadap natrium berbeda pada setiap individu. Ada kelompok yang sangat sensitif terhadap natrium, termasuk penderita hipertensi, obesitas, ibu hamil, atau individu dengan faktor genetik tertentu. Pada kelompok sensitif, satu porsi mi instan dapat memberikan dampak signifikan pada tekanan darah.
"Setiap orang itu berbeda-beda sensitivitas terhadap natrium, itu di situ poinnya. Ada orang kan cuma satu bungkusnya sudah pusing kepalanya. Kalau sudah seperti itu ya janganlah, berarti Anda tidak cocok dengan produk ini," tutur Veni.
Guru besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Budi Setiawan menambahkan, memang diperlukan pengaturan frekuensi mengkonsumsi mi instan dan cara penyajiannya, misal dengan penambahan protein hewani dan serat dari sayur.
"Kalau khawatir dengan bumbunya (mi instan) bisa saja dipakai sebagian atau tidak dipakai sama sekali, diganti dengan bumbu yang ada di dapur secukupnya, atau sesuaikan dengan kondisi kesehatan," tuturnya.
Guru besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Budi Setiawan menambahkan, memang diperlukan pengaturan frekuensi mengkonsumsi mi instan dan cara penyajiannya, misal dengan penambahan protein hewani dan serat dari sayur.
"Kalau khawatir dengan bumbunya (mi instan) bisa saja dipakai sebagian atau tidak dipakai sama sekali, diganti dengan bumbu yang ada di dapur secukupnya, atau sesuaikan dengan kondisi kesehatan," tuturnya.
Guru besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Budi Setiawan menambahkan, memang diperlukan pengaturan frekuensi mengkonsumsi mi instan dan cara penyajiannya, misal dengan penambahan protein hewani dan serat dari sayur.
"Kalau khawatir dengan bumbunya (mi instan) bisa saja dipakai sebagian atau tidak dipakai sama sekali, diganti dengan bumbu yang ada di dapur secukupnya, atau sesuaikan dengan kondisi kesehatan," tuturnya.
Dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Toto Sudargo, berpendapat serupa. Katanya, masyarakat kerap lupa bahwa karbohidrat yang dominan terkandung pada mi instan hanya mengisi satu bagian kecil dari kebutuhan gizi harian. “(Mi instan) itu hanya mengandung karbohidrat. Padahal kita butuh protein, lemak, vitamin. Misalnya kekurangan vitamin B12 bisa anemia, kurang vitamin A ke matanya macam-macam,” jelasnya.
Toto pun menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering mengandalkan mi instan karena murah dan praktis. “Celakanya mie instan dimakan tanpa lauk enak, dengan nasi enak. Gak usah pakai sayur enak, gak ribet,” katanya.
Dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Toto Sudargo, berpendapat serupa. Katanya, masyarakat kerap lupa bahwa karbohidrat yang dominan terkandung pada mi instan hanya mengisi satu bagian kecil dari kebutuhan gizi harian. “(Mi instan) itu hanya mengandung karbohidrat. Padahal kita butuh protein, lemak, vitamin. Misalnya kekurangan vitamin B12 bisa anemia, kurang vitamin A ke matanya macam-macam,” jelasnya.
Toto pun menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering mengandalkan mi instan karena murah dan praktis. “Celakanya mie instan dimakan tanpa lauk enak, dengan nasi enak. Gak usah pakai sayur enak, gak ribet,” katanya.
Dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Toto Sudargo, berpendapat serupa. Katanya, masyarakat kerap lupa bahwa karbohidrat yang dominan terkandung pada mi instan hanya mengisi satu bagian kecil dari kebutuhan gizi harian. “(Mi instan) itu hanya mengandung karbohidrat. Padahal kita butuh protein, lemak, vitamin. Misalnya kekurangan vitamin B12 bisa anemia, kurang vitamin A ke matanya macam-macam,” jelasnya.
Toto pun menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering mengandalkan mi instan karena murah dan praktis. “Celakanya mie instan dimakan tanpa lauk enak, dengan nasi enak. Gak usah pakai sayur enak, gak ribet,” katanya.
Uji Sampel Mi Instan di Indonesia
Uji Sampel Mi Instan di Indonesia
Uji Sampel Mi Instan di Indonesia



IDN Times/Rangga Efrizal
"Asumsinya, misal 18 persen kandungan natrium pada bumbu dengan bobot 10 gram, berarti kadar natriumnya sebesar 1.800 miligram."
"Asumsinya, misal 18 persen kandungan natrium pada bumbu dengan bobot 10 gram, berarti kadar natriumnya sebesar 1.800 miligram."
Hasil uji laboratorium dengan metode AAS-Flame (Atomic Absorption Spectrophotometry) terhadap 44 varian mi instan dari delapan merek yang beredar di Indonesia, menunjukkan satu temuan penting bahwa sumber utama natrium dalam mi instan bukan terletak pada mi, melainkan pada bumbu yang menyertainya.
Ditemukan, kandungan natrium pada mi kering tanpa bumbu relatif rendah dan berada pada rentang 0,04 hingga 0,57 persen berat per berat (% b/b). Angka ini tergolong moderat dan masih sebanding dengan produk pangan olahan lainnya. Namun, situasi berubah drastis ketika melihat bumbu mi instan. Kandungan natrium pada bumbu tercatat jauh lebih tinggi, dengan rentang 1,85 hingga 21,54 persen. Artinya, dalam beberapa produk, lebih dari seperlima kandungan bumbu adalah natrium.
Hasil uji laboratorium dengan metode AAS-Flame (Atomic Absorption Spectrophotometry) terhadap 44 varian mi instan dari delapan merek yang beredar di Indonesia, menunjukkan satu temuan penting bahwa sumber utama natrium dalam mi instan bukan terletak pada mi, melainkan pada bumbu yang menyertainya.
Ditemukan, kandungan natrium pada mi kering tanpa bumbu relatif rendah dan berada pada rentang 0,04 hingga 0,57 persen berat per berat (% b/b). Angka ini tergolong moderat dan masih sebanding dengan produk pangan olahan lainnya. Namun, situasi berubah drastis ketika melihat bumbu mi instan. Kandungan natrium pada bumbu tercatat jauh lebih tinggi, dengan rentang 1,85 hingga 21,54 persen. Artinya, dalam beberapa produk, lebih dari seperlima kandungan bumbu adalah natrium.
Perbedaan ini bukan sekadar selisih kecil. Secara ilmiah, kepadatan natrium pada bumbu bisa mencapai ratusan kali lipat dibandingkan mi-nya sendiri. Dengan kata lain, hampir seluruh asupan natrium dari seporsi mi instan berasal dari bumbu.
Kepala Unit Laboratorium Terpadu dan Riset Unggulan IPB University, Mohammad Khotib, menjelaskan, hasil uji sampel mi instan tersebut memperlihatkan tingginya kadar natrium pada bumbu mi instan. Produk terkenal dengan rasa Soto Mie produksi salah salah satu produsen besar, kata dia, bahkan mencapai 18,86 persen kandungan natrium pada bumbunya dan 0.23 persen natrium pada mi. Kemudian, produk mi instan rasa Kaldu Ayam yang diproduksi di Kota Makassar, mengandung 20,40 persen natirum pada bumbu dan 0,25 persen pada mi. Sementara produk rasa Ayam Bawang yang diproduksi di Yogyakarta tercatat mengandung kadar natirum paling tinggi sebesar 21,54 persen pada bumbu dan 0,04 persen pada mi.
Perbedaan ini bukan sekadar selisih kecil. Secara ilmiah, kepadatan natrium pada bumbu bisa mencapai ratusan kali lipat dibandingkan mi-nya sendiri. Dengan kata lain, hampir seluruh asupan natrium dari seporsi mi instan berasal dari bumbu.
Kepala Unit Laboratorium Terpadu dan Riset Unggulan IPB University, Mohammad Khotib, menjelaskan, hasil uji sampel mi instan tersebut memperlihatkan tingginya kadar natrium pada bumbu mi instan. Produk terkenal dengan rasa Soto Mie produksi salah salah satu produsen besar, kata dia, bahkan mencapai 18,86 persen kandungan natrium pada bumbunya dan 0.23 persen natrium pada mi. Kemudian, produk mi instan rasa Kaldu Ayam yang diproduksi di Kota Makassar, mengandung 20,40 persen natirum pada bumbu dan 0,25 persen pada mi. Sementara produk rasa Ayam Bawang yang diproduksi di Yogyakarta tercatat mengandung kadar natirum paling tinggi sebesar 21,54 persen pada bumbu dan 0,04 persen pada mi.
"Asumsinya, misal 18 persen kandungan natrium pada bumbu dengan bobot 10 gram, berarti kadar natriumnya sebesar 1.800 miligram. Apabila batas yang disarankan 2.000 mg per hari, angka ini masih masuk. Masalahnya adalah ini saja sudah mendekati batas, belum lagi dari makanan yang lain," paparnya.
"Melihat data yang ada dan sudah dibahas oleh berbagai peneliti, sodium dalam mi itu hampir mendekati batas, sehingga pola makan kita dalam sehari jika sudah makan satu mi, maka harapannya, ya, kurangi makanan berikutnya yang mengandung sodium tinggi."
"Asumsinya, misal 18 persen kandungan natrium pada bumbu dengan bobot 10 gram, berarti kadar natriumnya sebesar 1.800 miligram. Apabila batas yang disarankan 2.000 mg per hari, angka ini masih masuk. Masalahnya adalah ini saja sudah mendekati batas, belum lagi dari makanan yang lain," paparnya.
"Melihat data yang ada dan sudah dibahas oleh berbagai peneliti, sodium dalam mi itu hampir mendekati batas, sehingga pola makan kita dalam sehari jika sudah makan satu mi, maka harapannya, ya, kurangi makanan berikutnya yang mengandung sodium tinggi."
Batasan Longgar, Hak Konsumen Diabaikan
Batasan Longgar, Hak Konsumen Diabaikan
Batasan Longgar, Hak Konsumen Diabaikan



IDN Times/Rangga Erfizal
"Dari sisi perlindungan konsumen, sebenarnya ada hak-hak konsumen yang perlu diperhatikan, terutama terkait konsumsi. Pertama dari sisi informasi, kemudian dari sisi keamanan pangan."
"Dari sisi perlindungan konsumen, sebenarnya ada hak-hak konsumen yang perlu diperhatikan, terutama terkait konsumsi. Pertama dari sisi informasi, kemudian dari sisi keamanan pangan."
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemekes) RI membatasi asupan natrium harian pada 2.000 mg. Namun rata-rata konsumsi masyarakat Indonesia bisa dua kali lipat lebih tinggi. Di sisi lalin, regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang batas natrium pada mi instan tergolong sangat longgar dibanding standar internasional. Tidak ada peringatan “tinggi natrium” di kemasan, kode warna merah-kuning-hijau seperti di Inggris, label depan kemasan seperti di Chile, atau kampanye pembatasan konsumsi seperti di Korea Selatan. Sistem pelabelan Indonesia membiarkan konsumen membaca panel panjang di sisi belakang kemasan, lalu mengharapkan mereka paham. Dan sebagai negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia, itu adalah masalah besar.
Di tengah kelonggaran itu, beban untuk melindungi kesehatan publik praktis jatuh ke pundak konsumen yang bahkan tidak pernah diajari cara membaca label. Pertanyaannya: seperti apa sesungguhnya peran negara dalam melindungi masyarakat dari potensi penyakit akibat konsumsi natrium berlebih?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemekes) RI membatasi asupan natrium harian pada 2.000 mg. Namun rata-rata konsumsi masyarakat Indonesia bisa dua kali lipat lebih tinggi. Di sisi lalin, regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang batas natrium pada mi instan tergolong sangat longgar dibanding standar internasional. Tidak ada peringatan “tinggi natrium” di kemasan, kode warna merah-kuning-hijau seperti di Inggris, label depan kemasan seperti di Chile, atau kampanye pembatasan konsumsi seperti di Korea Selatan. Sistem pelabelan Indonesia membiarkan konsumen membaca panel panjang di sisi belakang kemasan, lalu mengharapkan mereka paham. Dan sebagai negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia, itu adalah masalah besar.
Di tengah kelonggaran itu, beban untuk melindungi kesehatan publik praktis jatuh ke pundak konsumen yang bahkan tidak pernah diajari cara membaca label. Pertanyaannya: seperti apa sesungguhnya peran negara dalam melindungi masyarakat dari potensi penyakit akibat konsumsi natrium berlebih?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemekes) RI membatasi asupan natrium harian pada 2.000 mg. Namun rata-rata konsumsi masyarakat Indonesia bisa dua kali lipat lebih tinggi. Di sisi lalin, regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang batas natrium pada mi instan tergolong sangat longgar dibanding standar internasional. Tidak ada peringatan “tinggi natrium” di kemasan, kode warna merah-kuning-hijau seperti di Inggris, label depan kemasan seperti di Chile, atau kampanye pembatasan konsumsi seperti di Korea Selatan. Sistem pelabelan Indonesia membiarkan konsumen membaca panel panjang di sisi belakang kemasan, lalu mengharapkan mereka paham. Dan sebagai negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia, itu adalah masalah besar.
Di tengah kelonggaran itu, beban untuk melindungi kesehatan publik praktis jatuh ke pundak konsumen yang bahkan tidak pernah diajari cara membaca label. Pertanyaannya: seperti apa sesungguhnya peran negara dalam melindungi masyarakat dari potensi penyakit akibat konsumsi natrium berlebih?
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulsel, Ambo Masse, menekankan konsumen mi instan memiliki hak untuk mengetahui dengan sejujurnya kandungan gizi dan zat yang terkandung dalam setiap sajian.
"Dari sisi perlindungan konsumen, sebenarnya ada hak-hak konsumen yang perlu diperhatikan, terutama terkait konsumsi. Pertama dari sisi informasi, kemudian dari sisi keamanan pangan," kata Ambo Masse saat wawancara dengan IDN Times, Kamis (4/12/2025).
Ambo juga menyoroti ketidakseimbangan informasi yang diterima masyarakat. Banyak promosi produk instan yang menekankan praktis dan lezat, namun minim edukasi tentang pengaturan pola makan sehat dan cara mengombinasikan mi instan dengan bahan pangan lain yang menyehatkan, seperti sayur, telur, atau daging.
"Nah, ada ketidakseimbangan informasi yang diterima konsumen. Informasi tentang berbagai varian mi instan tidak diimbangi dengan edukasi mengenai menu makanan sehat dan cara mengombinasikannya dengan bahan-bahan bergizi," katanya.
Menurutnya, popularitas mi instan di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, harga yang murah membuatnya mudah dijangkau semua kalangan. Kedua, kemudahan dan kepraktisan, terutama bagi anak kost, mahasiswa perantau, atau pekerja dengan waktu terbatas. Ketiga, promosi masif yang menampilkan variasi rasa dan paduan lauk pendamping yang menarik.
"Biasanya dalam promosi ditampilkan mi instan yang dicampur dengan telur, ayam, atau sosis. Namun, saya tidak tahu apakah itu benar-benar mencerminkan pola konsumsi masyarakat," katanya.
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulsel, Ambo Masse, menekankan konsumen mi instan memiliki hak untuk mengetahui dengan sejujurnya kandungan gizi dan zat yang terkandung dalam setiap sajian.
"Dari sisi perlindungan konsumen, sebenarnya ada hak-hak konsumen yang perlu diperhatikan, terutama terkait konsumsi. Pertama dari sisi informasi, kemudian dari sisi keamanan pangan," kata Ambo Masse saat wawancara dengan IDN Times, Kamis (4/12/2025).
Ambo juga menyoroti ketidakseimbangan informasi yang diterima masyarakat. Banyak promosi produk instan yang menekankan praktis dan lezat, namun minim edukasi tentang pengaturan pola makan sehat dan cara mengombinasikan mi instan dengan bahan pangan lain yang menyehatkan, seperti sayur, telur, atau daging.
"Nah, ada ketidakseimbangan informasi yang diterima konsumen. Informasi tentang berbagai varian mi instan tidak diimbangi dengan edukasi mengenai menu makanan sehat dan cara mengombinasikannya dengan bahan-bahan bergizi," katanya.
Menurutnya, popularitas mi instan di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, harga yang murah membuatnya mudah dijangkau semua kalangan. Kedua, kemudahan dan kepraktisan, terutama bagi anak kost, mahasiswa perantau, atau pekerja dengan waktu terbatas. Ketiga, promosi masif yang menampilkan variasi rasa dan paduan lauk pendamping yang menarik.
"Biasanya dalam promosi ditampilkan mi instan yang dicampur dengan telur, ayam, atau sosis. Namun, saya tidak tahu apakah itu benar-benar mencerminkan pola konsumsi masyarakat," katanya.
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulsel, Ambo Masse, menekankan konsumen mi instan memiliki hak untuk mengetahui dengan sejujurnya kandungan gizi dan zat yang terkandung dalam setiap sajian.
"Dari sisi perlindungan konsumen, sebenarnya ada hak-hak konsumen yang perlu diperhatikan, terutama terkait konsumsi. Pertama dari sisi informasi, kemudian dari sisi keamanan pangan," kata Ambo Masse saat wawancara dengan IDN Times, Kamis (4/12/2025).
Ambo juga menyoroti ketidakseimbangan informasi yang diterima masyarakat. Banyak promosi produk instan yang menekankan praktis dan lezat, namun minim edukasi tentang pengaturan pola makan sehat dan cara mengombinasikan mi instan dengan bahan pangan lain yang menyehatkan, seperti sayur, telur, atau daging.
"Nah, ada ketidakseimbangan informasi yang diterima konsumen. Informasi tentang berbagai varian mi instan tidak diimbangi dengan edukasi mengenai menu makanan sehat dan cara mengombinasikannya dengan bahan-bahan bergizi," katanya.
Menurutnya, popularitas mi instan di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, harga yang murah membuatnya mudah dijangkau semua kalangan. Kedua, kemudahan dan kepraktisan, terutama bagi anak kost, mahasiswa perantau, atau pekerja dengan waktu terbatas. Ketiga, promosi masif yang menampilkan variasi rasa dan paduan lauk pendamping yang menarik.
"Biasanya dalam promosi ditampilkan mi instan yang dicampur dengan telur, ayam, atau sosis. Namun, saya tidak tahu apakah itu benar-benar mencerminkan pola konsumsi masyarakat," katanya.
Ia pun menekankan konsumsi mi instan yang terlalu sering bisa menjadi ancaman kesehatan. Kandungan garam atau natrium yang tinggi, gula berlebih, serta bahan tambahan lain bisa menimbulkan risiko jangka panjang jika tidak diimbangi pola makan sehat. Anak-anak dan keluarga muda menjadi kelompok yang paling rentan, karena kebiasaan makan instan yang mudah terbentuk.
"Itu juga menjadi ancaman kesehatan, apalagi kalau frekuensinya itu sangat banyak sekali. Itu menjadi peringatan kita juga," katanya.
YLKI, kata Ambo, terus mendorong konsumen lebih kritis dalam membaca kemasan produk dan memahami kandungan gizinya. Konsumen disarankan untuk tidak menjadikan mi instan sebagai menu utama, melainkan dikombinasikan dengan bahan lain agar asupan gizi lebih seimbang.
Selain itu, dia juga mengingatkan keluarga dan masyarakat agar selalu waspada terhadap risiko konsumsi produk instan berlebihan. Peringatan kesehatan kepada anak-anak, orang tua, dan tetangga dianggap penting untuk mencegah dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk risiko hipertensi dan penyakit metabolik lainnya.
"Dan juga kritis dalam membaca sebuah produk kemasan, kandungan gizinya seperti apa, apakah itu sudah memenuhi kebutuhan kita setiap hari dan bagaimana secara bijak menjadikan mi instan itu bukan sebagai menu utama," kata Ambo Masse.
Ia pun menekankan konsumsi mi instan yang terlalu sering bisa menjadi ancaman kesehatan. Kandungan garam atau natrium yang tinggi, gula berlebih, serta bahan tambahan lain bisa menimbulkan risiko jangka panjang jika tidak diimbangi pola makan sehat. Anak-anak dan keluarga muda menjadi kelompok yang paling rentan, karena kebiasaan makan instan yang mudah terbentuk.
"Itu juga menjadi ancaman kesehatan, apalagi kalau frekuensinya itu sangat banyak sekali. Itu menjadi peringatan kita juga," katanya.
YLKI, kata Ambo, terus mendorong konsumen lebih kritis dalam membaca kemasan produk dan memahami kandungan gizinya. Konsumen disarankan untuk tidak menjadikan mi instan sebagai menu utama, melainkan dikombinasikan dengan bahan lain agar asupan gizi lebih seimbang.
Selain itu, dia juga mengingatkan keluarga dan masyarakat agar selalu waspada terhadap risiko konsumsi produk instan berlebihan. Peringatan kesehatan kepada anak-anak, orang tua, dan tetangga dianggap penting untuk mencegah dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk risiko hipertensi dan penyakit metabolik lainnya.
"Dan juga kritis dalam membaca sebuah produk kemasan, kandungan gizinya seperti apa, apakah itu sudah memenuhi kebutuhan kita setiap hari dan bagaimana secara bijak menjadikan mi instan itu bukan sebagai menu utama," kata Ambo Masse.
Ia pun menekankan konsumsi mi instan yang terlalu sering bisa menjadi ancaman kesehatan. Kandungan garam atau natrium yang tinggi, gula berlebih, serta bahan tambahan lain bisa menimbulkan risiko jangka panjang jika tidak diimbangi pola makan sehat. Anak-anak dan keluarga muda menjadi kelompok yang paling rentan, karena kebiasaan makan instan yang mudah terbentuk.
"Itu juga menjadi ancaman kesehatan, apalagi kalau frekuensinya itu sangat banyak sekali. Itu menjadi peringatan kita juga," katanya.
YLKI, kata Ambo, terus mendorong konsumen lebih kritis dalam membaca kemasan produk dan memahami kandungan gizinya. Konsumen disarankan untuk tidak menjadikan mi instan sebagai menu utama, melainkan dikombinasikan dengan bahan lain agar asupan gizi lebih seimbang.
Selain itu, dia juga mengingatkan keluarga dan masyarakat agar selalu waspada terhadap risiko konsumsi produk instan berlebihan. Peringatan kesehatan kepada anak-anak, orang tua, dan tetangga dianggap penting untuk mencegah dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk risiko hipertensi dan penyakit metabolik lainnya.
"Dan juga kritis dalam membaca sebuah produk kemasan, kandungan gizinya seperti apa, apakah itu sudah memenuhi kebutuhan kita setiap hari dan bagaimana secara bijak menjadikan mi instan itu bukan sebagai menu utama," kata Ambo Masse.
Apa Peran BPOM?
Apa Peran BPOM?
Apa Peran BPOM?



IDN Times/Dini Suciatiningrum
“Intinya begini, kalau untuk mi instan, kami namanya scientific test berdasarkan sains. Semua yang kita sudah berikan izin edar itu berarti aman untuk dikonsumsi,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (28/11/2025).
“Intinya begini, kalau untuk mi instan, kami namanya scientific test berdasarkan sains. Semua yang kita sudah berikan izin edar itu berarti aman untuk dikonsumsi,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (28/11/2025).
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengatakan, bahwa konsumsi mi instan di Indonesia saat ini masih berada pada kategori aman selama dikonsumsi sesuai aturan. Ia menegaskan, seluruh produk mi instan yang beredar di Indonesia telah melalui uji ilmiah yang ketat sebelum mendapatkan izin edar dari BPOM.
“Intinya begini, kalau untuk mi instan, kami namanya scientific test berdasarkan sains. Semua yang kita sudah berikan izin edar itu berarti aman untuk dikonsumsi,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (28/11/2025).
Menurutnya, BPOM memiliki standar penilaian yang mengacu pada regulasi nasional yang selaras dengan standar internasional, termasuk WHO. Seluruh parameter keamanan, mulai dari kandungan bahan tambahan pangan hingga kadar natrium, telah diuji dan dipastikan memenuhi ketentuan.
“Jadi dengan demikian kita punya standar masing-masing dan standar di negara Republik Indonesia tentu sudah berlaku sesuai dengan standar WHO dan standar internasional yang telah ditetapkan,” kata Taruna.
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengatakan, bahwa konsumsi mi instan di Indonesia saat ini masih berada pada kategori aman selama dikonsumsi sesuai aturan. Ia menegaskan, seluruh produk mi instan yang beredar di Indonesia telah melalui uji ilmiah yang ketat sebelum mendapatkan izin edar dari BPOM.
“Intinya begini, kalau untuk mi instan, kami namanya scientific test berdasarkan sains. Semua yang kita sudah berikan izin edar itu berarti aman untuk dikonsumsi,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (28/11/2025).
Menurutnya, BPOM memiliki standar penilaian yang mengacu pada regulasi nasional yang selaras dengan standar internasional, termasuk WHO. Seluruh parameter keamanan, mulai dari kandungan bahan tambahan pangan hingga kadar natrium, telah diuji dan dipastikan memenuhi ketentuan.
“Jadi dengan demikian kita punya standar masing-masing dan standar di negara Republik Indonesia tentu sudah berlaku sesuai dengan standar WHO dan standar internasional yang telah ditetapkan,” kata Taruna.
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengatakan, bahwa konsumsi mi instan di Indonesia saat ini masih berada pada kategori aman selama dikonsumsi sesuai aturan. Ia menegaskan, seluruh produk mi instan yang beredar di Indonesia telah melalui uji ilmiah yang ketat sebelum mendapatkan izin edar dari BPOM.
“Intinya begini, kalau untuk mi instan, kami namanya scientific test berdasarkan sains. Semua yang kita sudah berikan izin edar itu berarti aman untuk dikonsumsi,” ujarnya kepada IDN Times, Jumat (28/11/2025).
Menurutnya, BPOM memiliki standar penilaian yang mengacu pada regulasi nasional yang selaras dengan standar internasional, termasuk WHO. Seluruh parameter keamanan, mulai dari kandungan bahan tambahan pangan hingga kadar natrium, telah diuji dan dipastikan memenuhi ketentuan.
“Jadi dengan demikian kita punya standar masing-masing dan standar di negara Republik Indonesia tentu sudah berlaku sesuai dengan standar WHO dan standar internasional yang telah ditetapkan,” kata Taruna.
Ia memastikan bahwa masyarakat tidak perlu meragukan keamanan mi instan yang beredar di pasaran. “Jadi intinya berbicara tentang mi instan, inshaallah semuanya aman,” tegasnya.
Namun, Taruna mengakui saat ini belum terdapat pengaturan batas maksimum natrium pada produk mi instan per porsinya. BPOM masih menyusun kajian batas maksimal kandungan natrium pada pangan olahan termasuk mi instan. "Penyusunan kajian tersebut berdasarkan bukti ilmiah, rekomendasi internasional dan kemampuan teknologi industri dalam melakukan reformulasi natrium."
Di sisi lain, menurut Taruna, produsen memang telah mencantumkan informasi kandungan natrium pada tabel informasi nilai gizi (ING) pada kemasan mi instan, untuk memudahkan konsumen mengetahuinya. Namun demikian, banyak konsumen belum memahami atau belum memperhatikannya dengan baik. Sehingga, menimbulkan kesalahan dalam memahami arti nilai kandungan natrium yang tercantum pada produk tersebut,
Ia memastikan bahwa masyarakat tidak perlu meragukan keamanan mi instan yang beredar di pasaran. “Jadi intinya berbicara tentang mi instan, inshaallah semuanya aman,” tegasnya.
Namun, Taruna mengakui saat ini belum terdapat pengaturan batas maksimum natrium pada produk mi instan per porsinya. BPOM masih menyusun kajian batas maksimal kandungan natrium pada pangan olahan termasuk mi instan. "Penyusunan kajian tersebut berdasarkan bukti ilmiah, rekomendasi internasional dan kemampuan teknologi industri dalam melakukan reformulasi natrium."
Di sisi lain, menurut Taruna, produsen memang telah mencantumkan informasi kandungan natrium pada tabel informasi nilai gizi (ING) pada kemasan mi instan, untuk memudahkan konsumen mengetahuinya. Namun demikian, banyak konsumen belum memahami atau belum memperhatikannya dengan baik. Sehingga, menimbulkan kesalahan dalam memahami arti nilai kandungan natrium yang tercantum pada produk tersebut,
Ia memastikan bahwa masyarakat tidak perlu meragukan keamanan mi instan yang beredar di pasaran. “Jadi intinya berbicara tentang mi instan, inshaallah semuanya aman,” tegasnya.
Namun, Taruna mengakui saat ini belum terdapat pengaturan batas maksimum natrium pada produk mi instan per porsinya. BPOM masih menyusun kajian batas maksimal kandungan natrium pada pangan olahan termasuk mi instan. "Penyusunan kajian tersebut berdasarkan bukti ilmiah, rekomendasi internasional dan kemampuan teknologi industri dalam melakukan reformulasi natrium."
Di sisi lain, menurut Taruna, produsen memang telah mencantumkan informasi kandungan natrium pada tabel informasi nilai gizi (ING) pada kemasan mi instan, untuk memudahkan konsumen mengetahuinya. Namun demikian, banyak konsumen belum memahami atau belum memperhatikannya dengan baik. Sehingga, menimbulkan kesalahan dalam memahami arti nilai kandungan natrium yang tercantum pada produk tersebut,
Kekeliruan memahami tabel nilai gizi pada label mi instan, pada akhirnya, dapat menyumbang secara signifikan asupan natrium harian, terutama jika dikombinasikan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan lain tinggi garam. Berdasarkan bukti ilmiah global, asupan natrium yang tinggi terutama jika melebihi rekomendasi 2.000 mg per hari telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
"Pola konsumsi mi instan di Indonesia memang dapat menimbulkan kekhawatiran terkait beban penyakit tidak menular, terutama apabila tidak diimbangi dengan pemenuhan gizi seimbang dan kontrol asupan garam secara keseluruhan," jelas Taruna.
Kekeliruan memahami tabel nilai gizi pada label mi instan, pada akhirnya, dapat menyumbang secara signifikan asupan natrium harian, terutama jika dikombinasikan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan lain tinggi garam. Berdasarkan bukti ilmiah global, asupan natrium yang tinggi terutama jika melebihi rekomendasi 2.000 mg per hari telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
"Pola konsumsi mi instan di Indonesia memang dapat menimbulkan kekhawatiran terkait beban penyakit tidak menular, terutama apabila tidak diimbangi dengan pemenuhan gizi seimbang dan kontrol asupan garam secara keseluruhan," jelas Taruna.
Kekeliruan memahami tabel nilai gizi pada label mi instan, pada akhirnya, dapat menyumbang secara signifikan asupan natrium harian, terutama jika dikombinasikan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan lain tinggi garam. Berdasarkan bukti ilmiah global, asupan natrium yang tinggi terutama jika melebihi rekomendasi 2.000 mg per hari telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
"Pola konsumsi mi instan di Indonesia memang dapat menimbulkan kekhawatiran terkait beban penyakit tidak menular, terutama apabila tidak diimbangi dengan pemenuhan gizi seimbang dan kontrol asupan garam secara keseluruhan," jelas Taruna.
Mendorong Konsumsi Pangan Lokal yang Variatif dan Berkelanjutan
Mendorong Konsumsi Pangan Lokal yang Variatif dan Berkelanjutan
Mendorong Konsumsi Pangan Lokal yang Variatif dan Berkelanjutan



IDN Times/Ayu Afria Ulita Ermalia
"Tantangannya adalah mengubah persepsi masyarakat agar pangan lokal tak hanya dianggap tradisi, tapi juga solusi masa depan."
"Tantangannya adalah mengubah persepsi masyarakat agar pangan lokal tak hanya dianggap tradisi, tapi juga solusi masa depan."
Di tengah mahalnya biaya hidup dan ritme kerja dan kuliah yang serba cepat, mi instan kerap jadi jawaban paling mungkin dengan keunggulan berupa harga murah, sat-set, dan mengenyangkan. Tetapi ketika natrium tinggi dan minimnya gizi mulai jadi harga yang harus dibayar tubuh, pertanyaan yang lebih penting ialah kalau bukan mi instan, apa pilihan paling realistis? Di Indonesia, jawabannya sebenarnya sudah ada di sekitar kita, dari dapur rumahan sampai warung kampus yang menyediakan pangan alternatif sederhana, familiar, dan bisa disiapkan dalam hitungan menit.
Prof Veni Hadju menjelaskan, pilihan terbaik tetap pada makanan yang minim proses pengolahan atau real food. Menurutnya, masyarakat memiliki banyak alternatif sumber karbohidrat selain mi instan dan nasi. Ubi jalar, singkong, jagung, hingga sagu dapat menjadi pilihan bahan pangan yang lebih beragam. Namun realitas di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Kesadaran masyarakat untuk memvariasikan makanan masih rendah.
"Ini, kan, sumber-sumber makanan pokok yang harusnya divariasikan dalam pola makan kita. Untuk edukasi ini masih sangat lemah, dan sehingga ini perlu diperketat atau ditingkatkan," kata Veni.
Di tengah mahalnya biaya hidup dan ritme kerja dan kuliah yang serba cepat, mi instan kerap jadi jawaban paling mungkin dengan keunggulan berupa harga murah, sat-set, dan mengenyangkan. Tetapi ketika natrium tinggi dan minimnya gizi mulai jadi harga yang harus dibayar tubuh, pertanyaan yang lebih penting ialah kalau bukan mi instan, apa pilihan paling realistis? Di Indonesia, jawabannya sebenarnya sudah ada di sekitar kita, dari dapur rumahan sampai warung kampus yang menyediakan pangan alternatif sederhana, familiar, dan bisa disiapkan dalam hitungan menit.
Prof Veni Hadju menjelaskan, pilihan terbaik tetap pada makanan yang minim proses pengolahan atau real food. Menurutnya, masyarakat memiliki banyak alternatif sumber karbohidrat selain mi instan dan nasi. Ubi jalar, singkong, jagung, hingga sagu dapat menjadi pilihan bahan pangan yang lebih beragam. Namun realitas di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Kesadaran masyarakat untuk memvariasikan makanan masih rendah.
"Ini, kan, sumber-sumber makanan pokok yang harusnya divariasikan dalam pola makan kita. Untuk edukasi ini masih sangat lemah, dan sehingga ini perlu diperketat atau ditingkatkan," kata Veni.
Di tengah mahalnya biaya hidup dan ritme kerja dan kuliah yang serba cepat, mi instan kerap jadi jawaban paling mungkin dengan keunggulan berupa harga murah, sat-set, dan mengenyangkan. Tetapi ketika natrium tinggi dan minimnya gizi mulai jadi harga yang harus dibayar tubuh, pertanyaan yang lebih penting ialah kalau bukan mi instan, apa pilihan paling realistis? Di Indonesia, jawabannya sebenarnya sudah ada di sekitar kita, dari dapur rumahan sampai warung kampus yang menyediakan pangan alternatif sederhana, familiar, dan bisa disiapkan dalam hitungan menit.
Prof Veni Hadju menjelaskan, pilihan terbaik tetap pada makanan yang minim proses pengolahan atau real food. Menurutnya, masyarakat memiliki banyak alternatif sumber karbohidrat selain mi instan dan nasi. Ubi jalar, singkong, jagung, hingga sagu dapat menjadi pilihan bahan pangan yang lebih beragam. Namun realitas di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Kesadaran masyarakat untuk memvariasikan makanan masih rendah.
"Ini, kan, sumber-sumber makanan pokok yang harusnya divariasikan dalam pola makan kita. Untuk edukasi ini masih sangat lemah, dan sehingga ini perlu diperketat atau ditingkatkan," kata Veni.
Dosen Prodi Sarjana Gizi Universitas Bali Dwipa, Kadek Dyah Swasni Prambandita, juga memandang pangan lokal di Indonesia begitu melimpah, namun edukasi gizi dan promosi masih perlu diperkuat. Padahal, ada peluang besar melalui inovasi pangan lokal untuk menggeser konsumsi ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Kadek Dyah pun mengakui bahwa mi instan telah menjadi bagian dari budaya makan modern, meski berisiko bagi kesehatan. Misalnya di Bali, mahasiswa dan masyarakat muda masih menjadikannya pilihan utama. Namun, peluang besar terbuka lewat inovasi pangan lokal seperti talas, ubi, singkong, beras merah, dan jagung bisa diolah menjadi mi sehat yang lebih bergizi dan berkelanjutan.
"Tantangannya adalah mengubah persepsi masyarakat agar pangan lokal tak hanya dianggap tradisi, tapi juga solusi masa depan."
Dosen Prodi Sarjana Gizi Universitas Bali Dwipa, Kadek Dyah Swasni Prambandita, juga memandang pangan lokal di Indonesia begitu melimpah, namun edukasi gizi dan promosi masih perlu diperkuat. Padahal, ada peluang besar melalui inovasi pangan lokal untuk menggeser konsumsi ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Kadek Dyah pun mengakui bahwa mi instan telah menjadi bagian dari budaya makan modern, meski berisiko bagi kesehatan. Misalnya di Bali, mahasiswa dan masyarakat muda masih menjadikannya pilihan utama. Namun, peluang besar terbuka lewat inovasi pangan lokal seperti talas, ubi, singkong, beras merah, dan jagung bisa diolah menjadi mi sehat yang lebih bergizi dan berkelanjutan.
"Tantangannya adalah mengubah persepsi masyarakat agar pangan lokal tak hanya dianggap tradisi, tapi juga solusi masa depan."
Dosen Prodi Sarjana Gizi Universitas Bali Dwipa, Kadek Dyah Swasni Prambandita, juga memandang pangan lokal di Indonesia begitu melimpah, namun edukasi gizi dan promosi masih perlu diperkuat. Padahal, ada peluang besar melalui inovasi pangan lokal untuk menggeser konsumsi ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Kadek Dyah pun mengakui bahwa mi instan telah menjadi bagian dari budaya makan modern, meski berisiko bagi kesehatan. Misalnya di Bali, mahasiswa dan masyarakat muda masih menjadikannya pilihan utama. Namun, peluang besar terbuka lewat inovasi pangan lokal seperti talas, ubi, singkong, beras merah, dan jagung bisa diolah menjadi mi sehat yang lebih bergizi dan berkelanjutan.
"Tantangannya adalah mengubah persepsi masyarakat agar pangan lokal tak hanya dianggap tradisi, tapi juga solusi masa depan."
Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!
Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!
Disusun oleh
Tim Editorial
Irwan Idris- Project Lead
Yogie Fadila - Editor
Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan)
Darsil Yahya Mustari (Sulawesi Selatan
Azzis Zulkhairil (Jawa Barat)
Fariz Fardianto (Jawa Tengah)
Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Herlambang Jati (DIY)
Dini Suciatiningrum (Jakarta)
Andi Aan Pranata - Infografis
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Irwan Idris- Project Lead
Yogie Fadila - Editor
Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan)
Darsil Yahya Mustari (Sulawesi Selatan
Azzis Zulkhairil (Jawa Barat)
Fariz Fardianto (Jawa Tengah)
Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Herlambang Jati (DIY)
Dini Suciatiningrum (Jakarta)
Andi Aan Pranata - Infografis
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Irwan Idris- Project Lead
Yogie Fadila - Editor
Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan)
Darsil Yahya Mustari (Sulawesi Selatan
Azzis Zulkhairil (Jawa Barat)
Fariz Fardianto (Jawa Tengah)
Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Herlambang Jati (DIY)
Dini Suciatiningrum (Jakarta)
Andi Aan Pranata - Infografis
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.






