


Ribuan pelari mengikuti ajang Pocari Sweat Run 2026 di Sirkuit Mandalika. (IDN Times/Muhammad Nasir)
“Preferensi wisatawan sekarang bergeser dari wisata konvensional menuju wisata berbasis pengalaman. Sport tourism menjadi salah satu yang paling diminati karena wisatawan terlibat langsung dalam aktivitasnya.”
“Preferensi wisatawan sekarang bergeser dari wisata konvensional menuju wisata berbasis pengalaman. Sport tourism menjadi salah satu yang paling diminati karena wisatawan terlibat langsung dalam aktivitasnya.”
Suatu petang di kawasan Center Point Of Indonesia (CPI), salah satu pusat aktivitas warga di Makassar, Erpan Junaidi melihat orang-orang berlari. Beragam kalangan, tua-muda, tumpah-ruah di jalanan. Ia kemudian ikut, awalnya karena enggan ketinggalan tren alias FOMO.
Dari jarak dua hingga lima kilometer, kebiasaan itu pelan-pelan jadi bagian hidupnya. Tiga tahun berselang, dia sudah menjajal berbagai ajang lari, dari dalam hingga luar negeri, hingga ke level full marathon. Salah satu pencapaiannya adalah finis di Berlin Marathon 2025.
Pria 47 tahun itu kini telah mengoleksi sekitar 25 medali. Lari juga membuatnya merasa hidup lebih sehat. Namun, yang paling ia cari dari maraton bukan semata catatan waktu atau medali. Ada perjalanan, kota yang baru, waktu untuk diri sendiri, juga kesempatan merenungkan hidup.
Suatu petang di kawasan Center Point Of Indonesia (CPI), salah satu pusat aktivitas warga di Makassar, Erpan Junaidi melihat orang-orang berlari. Beragam kalangan, tua-muda, tumpah-ruah di jalanan. Ia kemudian ikut, awalnya karena enggan ketinggalan tren alias FOMO.
Dari jarak dua hingga lima kilometer, kebiasaan itu pelan-pelan jadi bagian hidupnya. Tiga tahun berselang, dia sudah menjajal berbagai ajang lari, dari dalam hingga luar negeri, hingga ke level full marathon. Salah satu pencapaiannya adalah finis di Berlin Marathon 2025.
Pria 47 tahun itu kini telah mengoleksi sekitar 25 medali. Lari juga membuatnya merasa hidup lebih sehat. Namun, yang paling ia cari dari maraton bukan semata catatan waktu atau medali. Ada perjalanan, kota yang baru, waktu untuk diri sendiri, juga kesempatan merenungkan hidup.
Suatu petang di kawasan Center Point Of Indonesia (CPI), salah satu pusat aktivitas warga di Makassar, Erpan Junaidi melihat orang-orang berlari. Beragam kalangan, tua-muda, tumpah-ruah di jalanan. Ia kemudian ikut, awalnya karena enggan ketinggalan tren alias FOMO.
Dari jarak dua hingga lima kilometer, kebiasaan itu pelan-pelan jadi bagian hidupnya. Tiga tahun berselang, dia sudah menjajal berbagai ajang lari, dari dalam hingga luar negeri, hingga ke level full marathon. Salah satu pencapaiannya adalah finis di Berlin Marathon 2025.
Pria 47 tahun itu kini telah mengoleksi sekitar 25 medali. Lari juga membuatnya merasa hidup lebih sehat. Namun, yang paling ia cari dari maraton bukan semata catatan waktu atau medali. Ada perjalanan, kota yang baru, waktu untuk diri sendiri, juga kesempatan merenungkan hidup.

Erpan Junaidi menunjukkan medali lari yang dia kumpulkan beberapa tahun terakhir. (IDN Times/Darsil Yahya)
Erpan Junaidi menunjukkan medali lari yang dia kumpulkan beberapa tahun terakhir. (IDN Times/Darsil Yahya)
“Maraton itu selain healing, liburan yang beda. Yang kedua proses me time. Saya banyak belajar merenungi hidup, flashback, berpikir. Itu biasanya saat maraton,” kata Erpan.
Cerita Erpan jadi satu Gambaran kecil dari perubahan yang sedang berlangsung. Lari yang dulu identik dengan olahraga kini turut mengubah cara berwisata. Ada orang yang datang ke sebuah kota untuk berlari, laru menginap, makan berbelanja, bertemu komunitas, serta menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat yang awalnya tidak ada dalam rencana perjalanan.
Garis finis tidak selalu jadi akhir perjalanan. Namun lari telah menjadi salah satu pintu masuknya.
“Maraton itu selain healing, liburan yang beda. Yang kedua proses me time. Saya banyak belajar merenungi hidup, flashback, berpikir. Itu biasanya saat maraton,” kata Erpan.
Cerita Erpan jadi satu Gambaran kecil dari perubahan yang sedang berlangsung. Lari yang dulu identik dengan olahraga kini turut mengubah cara berwisata. Ada orang yang datang ke sebuah kota untuk berlari, laru menginap, makan berbelanja, bertemu komunitas, serta menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat yang awalnya tidak ada dalam rencana perjalanan.
Garis finis tidak selalu jadi akhir perjalanan. Namun lari telah menjadi salah satu pintu masuknya.
“Maraton itu selain healing, liburan yang beda. Yang kedua proses me time. Saya banyak belajar merenungi hidup, flashback, berpikir. Itu biasanya saat maraton,” kata Erpan.
Cerita Erpan jadi satu Gambaran kecil dari perubahan yang sedang berlangsung. Lari yang dulu identik dengan olahraga kini turut mengubah cara berwisata. Ada orang yang datang ke sebuah kota untuk berlari, laru menginap, makan berbelanja, bertemu komunitas, serta menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat yang awalnya tidak ada dalam rencana perjalanan.
Garis finis tidak selalu jadi akhir perjalanan. Namun lari telah menjadi salah satu pintu masuknya.
Dari kebiasaan lari menjadi perjalanan wisata
Dari kebiasaan lari menjadi perjalanan wisata
Dari kebiasaan lari menjadi perjalanan wisata



Makassar Half Marathon 2026. (ANTARA FOTO/Arnas Padda
Data Statistik Wisatawan Nusantara yang dihimpun dari BPS dan Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara menembus lebih dari 1,2 miliar perjalanan di tahun 2025. Di dalam pergerakan tersebut, perjalanan yang berkaitan dengan olahraga juga terus meningkat.
Pada 2022, sebanyak 4,06 persen atau sekitar 29,8 juta perjalanan melibatkan aktivitas sports tourism. Porsinya meningkat menjadi sekitar 4,85 persen pada 2023.
Setahun kemudian, ketika total perjalanan wisnus sudah menembus lebih dari 1 miliar, porsinya mencapai 5,93 persen atau sekitar 60,55 juta perjalanan. Dalam dua tahun, volume perjalanan wisata olahraga meningkat lebih dari dua kali lipat.
Data Statistik Wisatawan Nusantara yang dihimpun dari BPS dan Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara menembus lebih dari 1,2 miliar perjalanan di tahun 2025. Di dalam pergerakan tersebut, perjalanan yang berkaitan dengan olahraga juga terus meningkat.
Pada 2022, sebanyak 4,06 persen atau sekitar 29,8 juta perjalanan melibatkan aktivitas sports tourism. Porsinya meningkat menjadi sekitar 4,85 persen pada 2023.
Setahun kemudian, ketika total perjalanan wisnus sudah menembus lebih dari 1 miliar, porsinya mencapai 5,93 persen atau sekitar 60,55 juta perjalanan. Dalam dua tahun, volume perjalanan wisata olahraga meningkat lebih dari dua kali lipat.
Data Statistik Wisatawan Nusantara yang dihimpun dari BPS dan Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara menembus lebih dari 1,2 miliar perjalanan di tahun 2025. Di dalam pergerakan tersebut, perjalanan yang berkaitan dengan olahraga juga terus meningkat.
Pada 2022, sebanyak 4,06 persen atau sekitar 29,8 juta perjalanan melibatkan aktivitas sports tourism. Porsinya meningkat menjadi sekitar 4,85 persen pada 2023.
Setahun kemudian, ketika total perjalanan wisnus sudah menembus lebih dari 1 miliar, porsinya mencapai 5,93 persen atau sekitar 60,55 juta perjalanan. Dalam dua tahun, volume perjalanan wisata olahraga meningkat lebih dari dua kali lipat.

Pertumbuhan itu berjalan beriringan dengan bertambahnya event lari. Data laman jadwallari.id mencatat 474 event pada 2024, naik menjadi 695 event pada 2025. Pada 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 729 event, dengan Agustus menjadi bulan terpadat, mencapai 105 event.
Di antara ratusan acara itu, setidaknya ada lima ajang tahunan yang bisa dibilang terbesar karena selalu jadi buruan peserta dari berbagai daerah. Masing-masing, Maybank Marathon di Bali, Pocari Sweat Run Indonesia di Bandung, Borobudur Marathon di Magelang, Jakarta International Marathon, serta Mandiri Jogja Marathon.
Lomba yang berlangsung beberapa jam itu kemudian menciptakan perjalanan yang lebih panjang.
Pertumbuhan itu berjalan beriringan dengan bertambahnya event lari. Data laman jadwallari.id mencatat 474 event pada 2024, naik menjadi 695 event pada 2025. Pada 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 729 event, dengan Agustus menjadi bulan terpadat, mencapai 105 event.
Di antara ratusan acara itu, setidaknya ada lima ajang tahunan yang bisa dibilang terbesar karena selalu jadi buruan peserta dari berbagai daerah. Masing-masing, Maybank Marathon di Bali, Pocari Sweat Run Indonesia di Bandung, Borobudur Marathon di Magelang, Jakarta International Marathon, serta Mandiri Jogja Marathon.
Lomba yang berlangsung beberapa jam itu kemudian menciptakan perjalanan yang lebih panjang.
Pertumbuhan itu berjalan beriringan dengan bertambahnya event lari. Data laman jadwallari.id mencatat 474 event pada 2024, naik menjadi 695 event pada 2025. Pada 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 729 event, dengan Agustus menjadi bulan terpadat, mencapai 105 event.
Di antara ratusan acara itu, setidaknya ada lima ajang tahunan yang bisa dibilang terbesar karena selalu jadi buruan peserta dari berbagai daerah. Masing-masing, Maybank Marathon di Bali, Pocari Sweat Run Indonesia di Bandung, Borobudur Marathon di Magelang, Jakarta International Marathon, serta Mandiri Jogja Marathon.
Lomba yang berlangsung beberapa jam itu kemudian menciptakan perjalanan yang lebih panjang.
Andre, pelari asal Kabupaten Gowa, Sulsel, mulai rutin keliling ikut ajang lari sejak awal 2023. Dalam setahun, dia bisa ikut tiga sampai enam perlombaan. Satu atau dua di antaranya biasanya digelar di luar daerah. Ia tidak sekadar mengejar garis finis.
“Yang paling utama biasanya reputasi event dan rutenya. Setelah itu baru suasana kota, konsep event, fasilitas, serta kulineran,” kata Andre.
Untuk satu event di luar kota, Andre menyiapkan sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta, belum termasuk slot lari sekitar Rp500 ribu hingga Rp1,2 juta. Saat mengikuti Maybank Marathon di Bali, pengeluarannya mencapai sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.
Jumlah yang tidak kecil. Tapi bagi Andre, uang itu sepadan dengan pengalaman.
“Maybank Marathon karena ini lebarannya para pelari,” katanya.
Andre, pelari asal Kabupaten Gowa, Sulsel, mulai rutin keliling ikut ajang lari sejak awal 2023. Dalam setahun, dia bisa ikut tiga sampai enam perlombaan. Satu atau dua di antaranya biasanya digelar di luar daerah. Ia tidak sekadar mengejar garis finis.
“Yang paling utama biasanya reputasi event dan rutenya. Setelah itu baru suasana kota, konsep event, fasilitas, serta kulineran,” kata Andre.
Untuk satu event di luar kota, Andre menyiapkan sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta, belum termasuk slot lari sekitar Rp500 ribu hingga Rp1,2 juta. Saat mengikuti Maybank Marathon di Bali, pengeluarannya mencapai sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.
Jumlah yang tidak kecil. Tapi bagi Andre, uang itu sepadan dengan pengalaman.
“Maybank Marathon karena ini lebarannya para pelari,” katanya.
Andre, pelari asal Kabupaten Gowa, Sulsel, mulai rutin keliling ikut ajang lari sejak awal 2023. Dalam setahun, dia bisa ikut tiga sampai enam perlombaan. Satu atau dua di antaranya biasanya digelar di luar daerah. Ia tidak sekadar mengejar garis finis.
“Yang paling utama biasanya reputasi event dan rutenya. Setelah itu baru suasana kota, konsep event, fasilitas, serta kulineran,” kata Andre.
Untuk satu event di luar kota, Andre menyiapkan sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta, belum termasuk slot lari sekitar Rp500 ribu hingga Rp1,2 juta. Saat mengikuti Maybank Marathon di Bali, pengeluarannya mencapai sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.
Jumlah yang tidak kecil. Tapi bagi Andre, uang itu sepadan dengan pengalaman.
“Maybank Marathon karena ini lebarannya para pelari,” katanya.

Ia juga hampir selalu menggabungkan race dengan liburan. Setelah lomba, ia mencari kuliner, menginap lebih lama dan membeli oleh-oleh dari UMKM setempat.
“Awalnya mungkin datang karena mau ikut race, tapi setelah tahu tempatnya, kulinernya, atau suasananya, kita bisa tertarik untuk datang lagi sekadar liburan,” ujarnya.
Dari sini, sebuah perlombaan mulai bersinggungan dengan sektor lain. Hotel menerima tamu, restoran mendapat pelanggan, kendaraan disewa, pusat oleh-oleh didatangi dan UMKM memperoleh pembeli baru.
Ia juga hampir selalu menggabungkan race dengan liburan. Setelah lomba, ia mencari kuliner, menginap lebih lama dan membeli oleh-oleh dari UMKM setempat.
“Awalnya mungkin datang karena mau ikut race, tapi setelah tahu tempatnya, kulinernya, atau suasananya, kita bisa tertarik untuk datang lagi sekadar liburan,” ujarnya.
Dari sini, sebuah perlombaan mulai bersinggungan dengan sektor lain. Hotel menerima tamu, restoran mendapat pelanggan, kendaraan disewa, pusat oleh-oleh didatangi dan UMKM memperoleh pembeli baru.
Ia juga hampir selalu menggabungkan race dengan liburan. Setelah lomba, ia mencari kuliner, menginap lebih lama dan membeli oleh-oleh dari UMKM setempat.
“Awalnya mungkin datang karena mau ikut race, tapi setelah tahu tempatnya, kulinernya, atau suasananya, kita bisa tertarik untuk datang lagi sekadar liburan,” ujarnya.
Dari sini, sebuah perlombaan mulai bersinggungan dengan sektor lain. Hotel menerima tamu, restoran mendapat pelanggan, kendaraan disewa, pusat oleh-oleh didatangi dan UMKM memperoleh pembeli baru.
Antusiasme pelari menggerakkan ekonomi kota
Antusiasme pelari menggerakkan ekonomi kota
Antusiasme pelari menggerakkan ekonomi kota
“Maraton itu selain healing, liburan yang beda. Yang kedua proses me time. Saya banyak belajar merenungi hidup, flashback, berpikir. Itu biasanya saat maraton,” Erpan, pelari asal Makassar.
“Maraton itu selain healing, liburan yang beda. Yang kedua proses me time. Saya banyak belajar merenungi hidup, flashback, berpikir. Itu biasanya saat maraton,” Erpan, pelari asal Makassar.
Efek tersebut terekam dalam skala besar melalui Makassar Half Marathon (MHM) 2026 pada akhir Mei lalu. Sekitar 12.400 pelari asal berbagai daerah berkunjung ke Makassar. Sebagian membawa pendamping. Selama lima hari rangkaian kegiatan, survei analisis dampak ekonomi yang dilakukan penyelenggara mencatat perputaran uang mencapai Rp52,3 miliar.
“Artinya, jika kita bagi lima, dalam satu hari ada lebih dari Rp10 miliar uang yang berputar di Makassar,” kata Race Director Makassar Half Marathon, Safrita Aryana.
Uang tersebut bergerak melalui kebutuhan peserta dan pendamping, mulai dari akomodasi, makanan, kuliner, suvenir hingga kebutuhan perjalanan lainnya.
Efek tersebut terekam dalam skala besar melalui Makassar Half Marathon (MHM) 2026 pada akhir Mei lalu. Sekitar 12.400 pelari asal berbagai daerah berkunjung ke Makassar. Sebagian membawa pendamping. Selama lima hari rangkaian kegiatan, survei analisis dampak ekonomi yang dilakukan penyelenggara mencatat perputaran uang mencapai Rp52,3 miliar.
“Artinya, jika kita bagi lima, dalam satu hari ada lebih dari Rp10 miliar uang yang berputar di Makassar,” kata Race Director Makassar Half Marathon, Safrita Aryana.
Uang tersebut bergerak melalui kebutuhan peserta dan pendamping, mulai dari akomodasi, makanan, kuliner, suvenir hingga kebutuhan perjalanan lainnya.
Efek tersebut terekam dalam skala besar melalui Makassar Half Marathon (MHM) 2026 pada akhir Mei lalu. Sekitar 12.400 pelari asal berbagai daerah berkunjung ke Makassar. Sebagian membawa pendamping. Selama lima hari rangkaian kegiatan, survei analisis dampak ekonomi yang dilakukan penyelenggara mencatat perputaran uang mencapai Rp52,3 miliar.
“Artinya, jika kita bagi lima, dalam satu hari ada lebih dari Rp10 miliar uang yang berputar di Makassar,” kata Race Director Makassar Half Marathon, Safrita Aryana.
Uang tersebut bergerak melalui kebutuhan peserta dan pendamping, mulai dari akomodasi, makanan, kuliner, suvenir hingga kebutuhan perjalanan lainnya.

Pemerintah Kota Makassar mengalokasikan sekitar Rp2,5 miliar untuk MHM 2026. Menurut Safrita, stimulus tersebut memberikan dampak ekonomi hingga sekitar 20 kali lipat.
“Secara gambaran umum, yang diharapkan Pemerintah Kota saat mengeluarkan dana adalah agar kotanya, masyarakatnya, yang mendapatkan manfaat,” tuturnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga, melihat dampaknya dari tingkat hunian hotel. Berdasarkan pantauannya, hampir seluruh hotel di kawasan pantai dan pusat kota mengalami tingkat hunian yang tinggi, bahkan penuh selama periode pelaksanaan MHM. Tingginya okupansi tersebut didorong banyaknya peserta yang datang dari luar Kota Makassar, luar daerah, hingga mancanegara.
“Tidak hanya hotel berbintang yang merasakan manfaatnya, hotel non-bintang juga ikut mendapatkan dampak positif dari event ini. Artinya, efek ekonomi yang ditimbulkan benar-benar dirasakan secara luas oleh pelaku industri pariwisata dan masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kota Makassar mengalokasikan sekitar Rp2,5 miliar untuk MHM 2026. Menurut Safrita, stimulus tersebut memberikan dampak ekonomi hingga sekitar 20 kali lipat.
“Secara gambaran umum, yang diharapkan Pemerintah Kota saat mengeluarkan dana adalah agar kotanya, masyarakatnya, yang mendapatkan manfaat,” tuturnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga, melihat dampaknya dari tingkat hunian hotel. Berdasarkan pantauannya, hampir seluruh hotel di kawasan pantai dan pusat kota mengalami tingkat hunian yang tinggi, bahkan penuh selama periode pelaksanaan MHM. Tingginya okupansi tersebut didorong banyaknya peserta yang datang dari luar Kota Makassar, luar daerah, hingga mancanegara.
“Tidak hanya hotel berbintang yang merasakan manfaatnya, hotel non-bintang juga ikut mendapatkan dampak positif dari event ini. Artinya, efek ekonomi yang ditimbulkan benar-benar dirasakan secara luas oleh pelaku industri pariwisata dan masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kota Makassar mengalokasikan sekitar Rp2,5 miliar untuk MHM 2026. Menurut Safrita, stimulus tersebut memberikan dampak ekonomi hingga sekitar 20 kali lipat.
“Secara gambaran umum, yang diharapkan Pemerintah Kota saat mengeluarkan dana adalah agar kotanya, masyarakatnya, yang mendapatkan manfaat,” tuturnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga, melihat dampaknya dari tingkat hunian hotel. Berdasarkan pantauannya, hampir seluruh hotel di kawasan pantai dan pusat kota mengalami tingkat hunian yang tinggi, bahkan penuh selama periode pelaksanaan MHM. Tingginya okupansi tersebut didorong banyaknya peserta yang datang dari luar Kota Makassar, luar daerah, hingga mancanegara.
“Tidak hanya hotel berbintang yang merasakan manfaatnya, hotel non-bintang juga ikut mendapatkan dampak positif dari event ini. Artinya, efek ekonomi yang ditimbulkan benar-benar dirasakan secara luas oleh pelaku industri pariwisata dan masyarakat,” katanya.

Makassar Half Marathon 2026. (ANTARA FOTO/Arnas Padda
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap MHM juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan akomodasi, termasuk dari peserta lokal. Peserta dari Makassar memilih menginap di hotel yang berada di sekitar lokasi perlombaan untuk memudahkan akses menuju area start maupun finish.
“Event Makassar Half Marathon mampu memberikan peningkatan occupancy hotel sebesar 10–15 persen, dan itu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa bagi industri perhotelan di Makassar,” ucapnya.
Pola serupa terlihat di Semarang 10K. Hampir 3.000 pelari mengikuti event tersebut, termasuk tiga pelari asal Kenya pada 2025. Sekitar separuh peserta berasal dari luar Kota Semarang dan rata-rata datang dua hari sebelum perlombaan.
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap MHM juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan akomodasi, termasuk dari peserta lokal. Peserta dari Makassar memilih menginap di hotel yang berada di sekitar lokasi perlombaan untuk memudahkan akses menuju area start maupun finish.
“Event Makassar Half Marathon mampu memberikan peningkatan occupancy hotel sebesar 10–15 persen, dan itu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa bagi industri perhotelan di Makassar,” ucapnya.
Pola serupa terlihat di Semarang 10K. Hampir 3.000 pelari mengikuti event tersebut, termasuk tiga pelari asal Kenya pada 2025. Sekitar separuh peserta berasal dari luar Kota Semarang dan rata-rata datang dua hari sebelum perlombaan.
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap MHM juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan akomodasi, termasuk dari peserta lokal. Peserta dari Makassar memilih menginap di hotel yang berada di sekitar lokasi perlombaan untuk memudahkan akses menuju area start maupun finish.
“Event Makassar Half Marathon mampu memberikan peningkatan occupancy hotel sebesar 10–15 persen, dan itu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa bagi industri perhotelan di Makassar,” ucapnya.
Pola serupa terlihat di Semarang 10K. Hampir 3.000 pelari mengikuti event tersebut, termasuk tiga pelari asal Kenya pada 2025. Sekitar separuh peserta berasal dari luar Kota Semarang dan rata-rata datang dua hari sebelum perlombaan.

Dok. Semarang 10K
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat antusiasme tersebut sebagai tanda bahwa event lari telah memiliki pasar sendiri.
“Banyak yang menyampaikan ke saya tidak kebagian slot. Artinya event seperti ini memang dibutuhkan masyarakat. Selain menjadi ruang aktivitas publik yang sehat, juga menggerakkan ekonomi kota,” ujarnya.
Peserta yang datang dari luar kota kemudian menginap, makan, berbelanja dan berwisata.
“Mereka datang, menginap, makan, berbelanja, dan menikmati destinasi wisata. Inilah contoh nyata sport tourism yang memberi dampak ekonomi,” kata Agustina.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat antusiasme tersebut sebagai tanda bahwa event lari telah memiliki pasar sendiri.
“Banyak yang menyampaikan ke saya tidak kebagian slot. Artinya event seperti ini memang dibutuhkan masyarakat. Selain menjadi ruang aktivitas publik yang sehat, juga menggerakkan ekonomi kota,” ujarnya.
Peserta yang datang dari luar kota kemudian menginap, makan, berbelanja dan berwisata.
“Mereka datang, menginap, makan, berbelanja, dan menikmati destinasi wisata. Inilah contoh nyata sport tourism yang memberi dampak ekonomi,” kata Agustina.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melihat antusiasme tersebut sebagai tanda bahwa event lari telah memiliki pasar sendiri.
“Banyak yang menyampaikan ke saya tidak kebagian slot. Artinya event seperti ini memang dibutuhkan masyarakat. Selain menjadi ruang aktivitas publik yang sehat, juga menggerakkan ekonomi kota,” ujarnya.
Peserta yang datang dari luar kota kemudian menginap, makan, berbelanja dan berwisata.
“Mereka datang, menginap, makan, berbelanja, dan menikmati destinasi wisata. Inilah contoh nyata sport tourism yang memberi dampak ekonomi,” kata Agustina.
Yang dicari pelari tidak selalu podium
Yang dicari pelari tidak selalu podium
Yang dicari pelari tidak selalu podium

Komunitas Riot Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Di Bandung, prosesnya bermula dari komunitas.
Riot Bandung rutin menggelar lari bersama. Tidak ada kewajiban mengikuti race tertentu. Anggota biasanya melihat daftar event, lalu memilih perlombaan yang paling banyak diminati.
“Pada dasarnya kalau pada ikut event dari komunitas gak ada harus ikut event manapun, tapi kita berdasarkan ramai-ramai aja sih,” kata Rinaldo atau Aldo, salah satu pengurus Riot Bandung.
Komunitas kemudian membuat pelari yang semula terbiasa berlari sendiri mulai mengenal race di berbagai daerah.
Perjalanan itu bahkan membuka hubungan yang lebih luas. Ada yang mendapat pekerjaan, mengembangkan bisnis, hingga menemukan pasangan dari komunitas yang sama.
Di Bandung, prosesnya bermula dari komunitas.
Riot Bandung rutin menggelar lari bersama. Tidak ada kewajiban mengikuti race tertentu. Anggota biasanya melihat daftar event, lalu memilih perlombaan yang paling banyak diminati.
“Pada dasarnya kalau pada ikut event dari komunitas gak ada harus ikut event manapun, tapi kita berdasarkan ramai-ramai aja sih,” kata Rinaldo atau Aldo, salah satu pengurus Riot Bandung.
Komunitas kemudian membuat pelari yang semula terbiasa berlari sendiri mulai mengenal race di berbagai daerah.
Perjalanan itu bahkan membuka hubungan yang lebih luas. Ada yang mendapat pekerjaan, mengembangkan bisnis, hingga menemukan pasangan dari komunitas yang sama.
Di Bandung, prosesnya bermula dari komunitas.
Riot Bandung rutin menggelar lari bersama. Tidak ada kewajiban mengikuti race tertentu. Anggota biasanya melihat daftar event, lalu memilih perlombaan yang paling banyak diminati.
“Pada dasarnya kalau pada ikut event dari komunitas gak ada harus ikut event manapun, tapi kita berdasarkan ramai-ramai aja sih,” kata Rinaldo atau Aldo, salah satu pengurus Riot Bandung.
Komunitas kemudian membuat pelari yang semula terbiasa berlari sendiri mulai mengenal race di berbagai daerah.
Perjalanan itu bahkan membuka hubungan yang lebih luas. Ada yang mendapat pekerjaan, mengembangkan bisnis, hingga menemukan pasangan dari komunitas yang sama.

Rinaldo, salah satu pengurus Riot Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Event lari juga kerap memilih titik kumpul di kawasan heritage atau tempat wisata. Pelari datang untuk berlomba, tetapi sekaligus mengenal kota tempat perlombaan berlangsung.
Icha, dokter umum yang bergabung dengan Riot Bandung, juga mengalami perubahan serupa. Ia telah menyukai lari sejak sekolah, tetapi akhirnya mencari komunitas karena bosan berlari sendiri.
“Lari ini menjadi menyenangkan. Ini hobi aku dari sekolah, dan berjalannya waktu ngerasa lari bosan sendiri makanya cari komunitas dan ketemu nih Riot Bandung, akhirnya bergabung dari 2019,” katanya.
Event lari juga kerap memilih titik kumpul di kawasan heritage atau tempat wisata. Pelari datang untuk berlomba, tetapi sekaligus mengenal kota tempat perlombaan berlangsung.
Icha, dokter umum yang bergabung dengan Riot Bandung, juga mengalami perubahan serupa. Ia telah menyukai lari sejak sekolah, tetapi akhirnya mencari komunitas karena bosan berlari sendiri.
“Lari ini menjadi menyenangkan. Ini hobi aku dari sekolah, dan berjalannya waktu ngerasa lari bosan sendiri makanya cari komunitas dan ketemu nih Riot Bandung, akhirnya bergabung dari 2019,” katanya.
Event lari juga kerap memilih titik kumpul di kawasan heritage atau tempat wisata. Pelari datang untuk berlomba, tetapi sekaligus mengenal kota tempat perlombaan berlangsung.
Icha, dokter umum yang bergabung dengan Riot Bandung, juga mengalami perubahan serupa. Ia telah menyukai lari sejak sekolah, tetapi akhirnya mencari komunitas karena bosan berlari sendiri.
“Lari ini menjadi menyenangkan. Ini hobi aku dari sekolah, dan berjalannya waktu ngerasa lari bosan sendiri makanya cari komunitas dan ketemu nih Riot Bandung, akhirnya bergabung dari 2019,” katanya.

Pelari Semarang 10K Tahun 2025. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Lama-kelamaan, lari menjadi lebih serius. Ia mulai mengejar podium dan perlengkapan olahraga ikut bertambah.
“Dulu juga sepatu lari cuma satu, baju itu-itu aja. Tapi berjalannya waktu kan memang sepatu dan baju menunjang performa, karena aku lari juga mengejar podium sekarang,” ujarnya.
Biaya perjalanan juga tidak sedikit. Namun, karena lari sudah menjadi hobi, ia tetap menikmatinya. Untuk event yang harus dibiayai sendiri, ia menabung terlebih dahulu.
Tujuan setiap pelari pun berbeda. Ada yang mengejar podium, rekor pribadi, medali, pengalaman bersama komunitas, atau sekadar ingin melihat kota lain.
Lama-kelamaan, lari menjadi lebih serius. Ia mulai mengejar podium dan perlengkapan olahraga ikut bertambah.
“Dulu juga sepatu lari cuma satu, baju itu-itu aja. Tapi berjalannya waktu kan memang sepatu dan baju menunjang performa, karena aku lari juga mengejar podium sekarang,” ujarnya.
Biaya perjalanan juga tidak sedikit. Namun, karena lari sudah menjadi hobi, ia tetap menikmatinya. Untuk event yang harus dibiayai sendiri, ia menabung terlebih dahulu.
Tujuan setiap pelari pun berbeda. Ada yang mengejar podium, rekor pribadi, medali, pengalaman bersama komunitas, atau sekadar ingin melihat kota lain.
Lama-kelamaan, lari menjadi lebih serius. Ia mulai mengejar podium dan perlengkapan olahraga ikut bertambah.
“Dulu juga sepatu lari cuma satu, baju itu-itu aja. Tapi berjalannya waktu kan memang sepatu dan baju menunjang performa, karena aku lari juga mengejar podium sekarang,” ujarnya.
Biaya perjalanan juga tidak sedikit. Namun, karena lari sudah menjadi hobi, ia tetap menikmatinya. Untuk event yang harus dibiayai sendiri, ia menabung terlebih dahulu.
Tujuan setiap pelari pun berbeda. Ada yang mengejar podium, rekor pribadi, medali, pengalaman bersama komunitas, atau sekadar ingin melihat kota lain.

Icha, seorang dokter umum yang aktif di komunitas Riot Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Berlomba-lomba membuat wisatawan tinggal lebih lama
Berlomba-lomba membuat wisatawan tinggal lebih lama
Berlomba-lomba membuat wisatawan tinggal lebih lama
“Dulu peserta event lari identik dengan atlet. Sekarang siapa saja ikut karena sudah menjadi gaya hidup dan memiliki nilai prestise tersendiri,”
“Dulu peserta event lari identik dengan atlet. Sekarang siapa saja ikut karena sudah menjadi gaya hidup dan memiliki nilai prestise tersendiri,”
Jawa Tengah mencoba membawa sport tourism ke tahap berikutnya. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Pemprov Jateng Linda Widiastuti Ariningrum melihat perubahan cara orang bepergian. Wisatawan kini tidak hanya ingin datang dan melihat, tetapi mencari pengalaman yang bisa mereka ikuti langsung.
“Preferensi wisatawan sekarang bergeser dari wisata konvensional menuju wisata berbasis pengalaman. Sport tourism menjadi salah satu yang paling diminati karena wisatawan terlibat langsung dalam aktivitasnya,” ujarnya.
Semarang 10K berkembang bersama event lain seperti Borobudur Marathon. Ajang lari juga mulai muncul di Kebumen, Banyumas, Sragen hingga Karimunjawa.
“Dulu peserta event lari identik dengan atlet. Sekarang siapa saja ikut karena sudah menjadi gaya hidup dan memiliki nilai prestise tersendiri,” kata Linda.
Jawa Tengah mencoba membawa sport tourism ke tahap berikutnya. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Pemprov Jateng Linda Widiastuti Ariningrum melihat perubahan cara orang bepergian. Wisatawan kini tidak hanya ingin datang dan melihat, tetapi mencari pengalaman yang bisa mereka ikuti langsung.
“Preferensi wisatawan sekarang bergeser dari wisata konvensional menuju wisata berbasis pengalaman. Sport tourism menjadi salah satu yang paling diminati karena wisatawan terlibat langsung dalam aktivitasnya,” ujarnya.
Semarang 10K berkembang bersama event lain seperti Borobudur Marathon. Ajang lari juga mulai muncul di Kebumen, Banyumas, Sragen hingga Karimunjawa.
“Dulu peserta event lari identik dengan atlet. Sekarang siapa saja ikut karena sudah menjadi gaya hidup dan memiliki nilai prestise tersendiri,” kata Linda.
Jawa Tengah mencoba membawa sport tourism ke tahap berikutnya. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Pemprov Jateng Linda Widiastuti Ariningrum melihat perubahan cara orang bepergian. Wisatawan kini tidak hanya ingin datang dan melihat, tetapi mencari pengalaman yang bisa mereka ikuti langsung.
“Preferensi wisatawan sekarang bergeser dari wisata konvensional menuju wisata berbasis pengalaman. Sport tourism menjadi salah satu yang paling diminati karena wisatawan terlibat langsung dalam aktivitasnya,” ujarnya.
Semarang 10K berkembang bersama event lain seperti Borobudur Marathon. Ajang lari juga mulai muncul di Kebumen, Banyumas, Sragen hingga Karimunjawa.
“Dulu peserta event lari identik dengan atlet. Sekarang siapa saja ikut karena sudah menjadi gaya hidup dan memiliki nilai prestise tersendiri,” kata Linda.

Ribuan pelari mengikuti ajang Pocari Sweat Run 2026 di Sirkuit Mandalika. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar bagaimana mendatangkan peserta, tetapi bagaimana membuat mereka tidak buru-buru pulang.
Untuk Borobudur Marathon, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan konsep night tourism dan paket wisata yang menghubungkan Borobudur dengan destinasi lain.
Makassar menghadapi tantangan serupa. Kepala Dinas Pariwisata Hendra Hakamuddin menyebut wisatawan olahraga datang dengan tujuan yang lebih spesifik dibandingkan wisatawan konvensional.
“Kalau turis konvensional kan pendekatannya daya tarik. Saya mau kemana sih untuk berwisata, saya mau kuliner atau saya mau ke spesifik seperti ke pulau, ke destinasi bahari. Kalau mereka yang spesifik untuk mengikuti event tersebut,” katanya.
“Orang datang ke Makassar itu selain sightseeing, pemandangan, pasti kuliner. Kuliner kita sangat terkenal dengan kelezatannya dan kemudian wisata bahari, wisata bahari ini kita juga beberapa daya tarik sudah kita mulai tata dengan rapi,” ujar Hendra.
Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar bagaimana mendatangkan peserta, tetapi bagaimana membuat mereka tidak buru-buru pulang.
Untuk Borobudur Marathon, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan konsep night tourism dan paket wisata yang menghubungkan Borobudur dengan destinasi lain.
Makassar menghadapi tantangan serupa. Kepala Dinas Pariwisata Hendra Hakamuddin menyebut wisatawan olahraga datang dengan tujuan yang lebih spesifik dibandingkan wisatawan konvensional.
“Kalau turis konvensional kan pendekatannya daya tarik. Saya mau kemana sih untuk berwisata, saya mau kuliner atau saya mau ke spesifik seperti ke pulau, ke destinasi bahari. Kalau mereka yang spesifik untuk mengikuti event tersebut,” katanya.
“Orang datang ke Makassar itu selain sightseeing, pemandangan, pasti kuliner. Kuliner kita sangat terkenal dengan kelezatannya dan kemudian wisata bahari, wisata bahari ini kita juga beberapa daya tarik sudah kita mulai tata dengan rapi,” ujar Hendra.
Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar bagaimana mendatangkan peserta, tetapi bagaimana membuat mereka tidak buru-buru pulang.
Untuk Borobudur Marathon, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan konsep night tourism dan paket wisata yang menghubungkan Borobudur dengan destinasi lain.
Makassar menghadapi tantangan serupa. Kepala Dinas Pariwisata Hendra Hakamuddin menyebut wisatawan olahraga datang dengan tujuan yang lebih spesifik dibandingkan wisatawan konvensional.
“Kalau turis konvensional kan pendekatannya daya tarik. Saya mau kemana sih untuk berwisata, saya mau kuliner atau saya mau ke spesifik seperti ke pulau, ke destinasi bahari. Kalau mereka yang spesifik untuk mengikuti event tersebut,” katanya.
“Orang datang ke Makassar itu selain sightseeing, pemandangan, pasti kuliner. Kuliner kita sangat terkenal dengan kelezatannya dan kemudian wisata bahari, wisata bahari ini kita juga beberapa daya tarik sudah kita mulai tata dengan rapi,” ujar Hendra.

Kepala Disparekraf NTB Ahmad Nur Aulia. (IDN Times/Muhammad Nasir
Jawa Tengah mengambil pendekatan lain di Karimunjawa.
Pada November akan digelar Karimunjawa Trail Run yang menggabungkan olahraga dengan wisata alam dan bahari. Pemerintah juga menyiapkan Karimunjawa Strike Festival pada 2027 dengan kegiatan memancing internasional, island hopping, wisata bahari dan festival musik jazz.
Karimunjawa tidak diproyeksikan menjadi destinasi wisata massal. Karakter kawasan konservasi membuat pemerintah memilih sport tourism sebagai salah satu cara menghadirkan wisatawan tanpa harus mendatangkan mereka dalam jumlah besar.
“Sport tourism menjadi peluang untuk menghadirkan wisatawan berkualitas tanpa harus mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar,” tuturnya.
Jawa Tengah mengambil pendekatan lain di Karimunjawa.
Pada November akan digelar Karimunjawa Trail Run yang menggabungkan olahraga dengan wisata alam dan bahari. Pemerintah juga menyiapkan Karimunjawa Strike Festival pada 2027 dengan kegiatan memancing internasional, island hopping, wisata bahari dan festival musik jazz.
Karimunjawa tidak diproyeksikan menjadi destinasi wisata massal. Karakter kawasan konservasi membuat pemerintah memilih sport tourism sebagai salah satu cara menghadirkan wisatawan tanpa harus mendatangkan mereka dalam jumlah besar.
“Sport tourism menjadi peluang untuk menghadirkan wisatawan berkualitas tanpa harus mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar,” tuturnya.
Jawa Tengah mengambil pendekatan lain di Karimunjawa.
Pada November akan digelar Karimunjawa Trail Run yang menggabungkan olahraga dengan wisata alam dan bahari. Pemerintah juga menyiapkan Karimunjawa Strike Festival pada 2027 dengan kegiatan memancing internasional, island hopping, wisata bahari dan festival musik jazz.
Karimunjawa tidak diproyeksikan menjadi destinasi wisata massal. Karakter kawasan konservasi membuat pemerintah memilih sport tourism sebagai salah satu cara menghadirkan wisatawan tanpa harus mendatangkan mereka dalam jumlah besar.
“Sport tourism menjadi peluang untuk menghadirkan wisatawan berkualitas tanpa harus mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar,” tuturnya.

Berbagai medali event lari. (IDN Times/Darsil Yahya)
Namun, menjual alam tidak cukup hanya dengan membuat lomba.
Pemprov Jawa Tengah mulai berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Pemerintah Kabupaten Jepara, pelaku wisata dan komunitas setempat. Jalan, jaringan internet, sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan hingga air bersih menjadi bagian dari pekerjaan yang harus disiapkan.
“Kami tidak hanya menjual paket wisata. Kami juga memberikan masukan mengenai hal-hal yang perlu dibenahi agar wisatawan merasa nyaman dan aman,” ujarnya.
Namun, menjual alam tidak cukup hanya dengan membuat lomba.
Pemprov Jawa Tengah mulai berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Pemerintah Kabupaten Jepara, pelaku wisata dan komunitas setempat. Jalan, jaringan internet, sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan hingga air bersih menjadi bagian dari pekerjaan yang harus disiapkan.
“Kami tidak hanya menjual paket wisata. Kami juga memberikan masukan mengenai hal-hal yang perlu dibenahi agar wisatawan merasa nyaman dan aman,” ujarnya.
Namun, menjual alam tidak cukup hanya dengan membuat lomba.
Pemprov Jawa Tengah mulai berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Pemerintah Kabupaten Jepara, pelaku wisata dan komunitas setempat. Jalan, jaringan internet, sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan hingga air bersih menjadi bagian dari pekerjaan yang harus disiapkan.
“Kami tidak hanya menjual paket wisata. Kami juga memberikan masukan mengenai hal-hal yang perlu dibenahi agar wisatawan merasa nyaman dan aman,” ujarnya.
Dampak ekonomi jangan cuma sesaat
Dampak ekonomi jangan cuma sesaat
Dampak ekonomi jangan cuma sesaat

Sejumlah pelari melintas di dekat pura saat Maybank Marathon 2026 di Gianyar, Bali, Minggu (23/8/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Di NTB, event lari juga telah menjadi bagian dari strategi pariwisata. Kepala Disparekraf NTB Ahmad Nur Aulia menyebut lari telah berubah menjadi gaya hidup. Pemerintah daerah pun ingin memastikan event yang digelar tidak berhenti pada banyaknya peserta.
“Dampaknya tentu bisa kita lihat dari skala event dimaksud, apakah lokal, nasional, maupun internasional. Ada impact-nya. Tetapi kita ingin memastikan event ini bisa lebih berkualitas dan memberikan dampak ekonomi yang nyata,” jelasnya.
Di NTB, event lari juga telah menjadi bagian dari strategi pariwisata. Kepala Disparekraf NTB Ahmad Nur Aulia menyebut lari telah berubah menjadi gaya hidup. Pemerintah daerah pun ingin memastikan event yang digelar tidak berhenti pada banyaknya peserta.
“Dampaknya tentu bisa kita lihat dari skala event dimaksud, apakah lokal, nasional, maupun internasional. Ada impact-nya. Tetapi kita ingin memastikan event ini bisa lebih berkualitas dan memberikan dampak ekonomi yang nyata,” jelasnya.
Di NTB, event lari juga telah menjadi bagian dari strategi pariwisata. Kepala Disparekraf NTB Ahmad Nur Aulia menyebut lari telah berubah menjadi gaya hidup. Pemerintah daerah pun ingin memastikan event yang digelar tidak berhenti pada banyaknya peserta.
“Dampaknya tentu bisa kita lihat dari skala event dimaksud, apakah lokal, nasional, maupun internasional. Ada impact-nya. Tetapi kita ingin memastikan event ini bisa lebih berkualitas dan memberikan dampak ekonomi yang nyata,” jelasnya.

Sepanjang 2026, sejumlah event lari digelar di NTB. Pada 1-3 Mei 2026 digelar Ultra Trail Internasional Rinjani 100 di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Ini diikuti 2.275 peserta dari 38 negara, terdiri dari 1.375 pelari Indonesia dan 900 pelari internasional.
Kemudian pada 21 Juni 2026, digelar ajang lari Senggigi Fun Run yang diikuti 1.000 peserta di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat. Ajang lari tersebut membawa semangat besar untuk mengembalikan Senggigi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan dan terbaik di NTB. Para peserta disuguhkan rute baru yang lebih eksotis, di mana mereka melintasi Pasar Seni Senggigi lalu menyusuri jogging track tepat di pinggir Pantai Senggigi.
Selanjutnya, pada 11-12 Juli 2026, digelar ajang lari tingkat nasional Pocari Sweat Run di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah. Sebanyak 9.200 pelari dari berbagai penjuru Tanah Air ikut dalam ajang tersebut. Ajang lari bergengsi skala nasional ini melombakan empat kategori yaitu 4,3 K (Sunset Run), 10K, Half Marathon dan Marathon (Sunrise Run).
Sepanjang 2026, sejumlah event lari digelar di NTB. Pada 1-3 Mei 2026 digelar Ultra Trail Internasional Rinjani 100 di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Ini diikuti 2.275 peserta dari 38 negara, terdiri dari 1.375 pelari Indonesia dan 900 pelari internasional.
Kemudian pada 21 Juni 2026, digelar ajang lari Senggigi Fun Run yang diikuti 1.000 peserta di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat. Ajang lari tersebut membawa semangat besar untuk mengembalikan Senggigi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan dan terbaik di NTB. Para peserta disuguhkan rute baru yang lebih eksotis, di mana mereka melintasi Pasar Seni Senggigi lalu menyusuri jogging track tepat di pinggir Pantai Senggigi.
Selanjutnya, pada 11-12 Juli 2026, digelar ajang lari tingkat nasional Pocari Sweat Run di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah. Sebanyak 9.200 pelari dari berbagai penjuru Tanah Air ikut dalam ajang tersebut. Ajang lari bergengsi skala nasional ini melombakan empat kategori yaitu 4,3 K (Sunset Run), 10K, Half Marathon dan Marathon (Sunrise Run).
Sepanjang 2026, sejumlah event lari digelar di NTB. Pada 1-3 Mei 2026 digelar Ultra Trail Internasional Rinjani 100 di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Ini diikuti 2.275 peserta dari 38 negara, terdiri dari 1.375 pelari Indonesia dan 900 pelari internasional.
Kemudian pada 21 Juni 2026, digelar ajang lari Senggigi Fun Run yang diikuti 1.000 peserta di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat. Ajang lari tersebut membawa semangat besar untuk mengembalikan Senggigi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan dan terbaik di NTB. Para peserta disuguhkan rute baru yang lebih eksotis, di mana mereka melintasi Pasar Seni Senggigi lalu menyusuri jogging track tepat di pinggir Pantai Senggigi.
Selanjutnya, pada 11-12 Juli 2026, digelar ajang lari tingkat nasional Pocari Sweat Run di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah. Sebanyak 9.200 pelari dari berbagai penjuru Tanah Air ikut dalam ajang tersebut. Ajang lari bergengsi skala nasional ini melombakan empat kategori yaitu 4,3 K (Sunset Run), 10K, Half Marathon dan Marathon (Sunrise Run).
Bagi perhotelan, jumlah tersebut terasa langsung. Sekretaris Asosiasi Hotel Mandalika Lombok Tengah Rate Wijaya mengatakan event besar seperti Pocari Sweat Run dan MotoGP membuat kamar hotel di kawasan Mandalika penuh.
Rate Wijaya mengungkapkan rata-rata lama tinggal wisatawan saat event lari Pocari Sweat Run 2026 berkisar 2 hingga 3 hari. Pengeluaran (spending) mereka tergolong kelompok menengah, dengan rata-rata Rp150.000 hingga Rp200.000 per orang untuk sekali makan, atau sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari di luar biaya akomodasi.
Namun, kepadatan pada Juli juga menunjukkan persoalan lain. Pada musim ramai, pelaku usaha bisa kewalahan. Sebaliknya, pada awal tahun mereka kesulitan bertahan karena kunjungan menurun.
Saat ini, kapasitas akomodasi di kawasan Mandalika dan sekitarnya didukung sekitar 75 hotel yang tergabung dalam Asosiasi Hotel Mandalika. Dengan ketersediaan kamar mencapai 4.000 hingga 5.000 kamar.
“Saat awal tahun yang memang belum musim ramai liburan orang Eropa, kita struggle untuk survive. Di sana harus banyak disuntik oleh event-event. Kita siap memfasilitasi, akan tetapi timing-nya bisa diatur ketika kita masih sedikit low season,” katanya.
Bagi perhotelan, jumlah tersebut terasa langsung. Sekretaris Asosiasi Hotel Mandalika Lombok Tengah Rate Wijaya mengatakan event besar seperti Pocari Sweat Run dan MotoGP membuat kamar hotel di kawasan Mandalika penuh.
Rate Wijaya mengungkapkan rata-rata lama tinggal wisatawan saat event lari Pocari Sweat Run 2026 berkisar 2 hingga 3 hari. Pengeluaran (spending) mereka tergolong kelompok menengah, dengan rata-rata Rp150.000 hingga Rp200.000 per orang untuk sekali makan, atau sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari di luar biaya akomodasi.
Namun, kepadatan pada Juli juga menunjukkan persoalan lain. Pada musim ramai, pelaku usaha bisa kewalahan. Sebaliknya, pada awal tahun mereka kesulitan bertahan karena kunjungan menurun.
Saat ini, kapasitas akomodasi di kawasan Mandalika dan sekitarnya didukung sekitar 75 hotel yang tergabung dalam Asosiasi Hotel Mandalika. Dengan ketersediaan kamar mencapai 4.000 hingga 5.000 kamar.
“Saat awal tahun yang memang belum musim ramai liburan orang Eropa, kita struggle untuk survive. Di sana harus banyak disuntik oleh event-event. Kita siap memfasilitasi, akan tetapi timing-nya bisa diatur ketika kita masih sedikit low season,” katanya.
Bagi perhotelan, jumlah tersebut terasa langsung. Sekretaris Asosiasi Hotel Mandalika Lombok Tengah Rate Wijaya mengatakan event besar seperti Pocari Sweat Run dan MotoGP membuat kamar hotel di kawasan Mandalika penuh.
Rate Wijaya mengungkapkan rata-rata lama tinggal wisatawan saat event lari Pocari Sweat Run 2026 berkisar 2 hingga 3 hari. Pengeluaran (spending) mereka tergolong kelompok menengah, dengan rata-rata Rp150.000 hingga Rp200.000 per orang untuk sekali makan, atau sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari di luar biaya akomodasi.
Namun, kepadatan pada Juli juga menunjukkan persoalan lain. Pada musim ramai, pelaku usaha bisa kewalahan. Sebaliknya, pada awal tahun mereka kesulitan bertahan karena kunjungan menurun.
Saat ini, kapasitas akomodasi di kawasan Mandalika dan sekitarnya didukung sekitar 75 hotel yang tergabung dalam Asosiasi Hotel Mandalika. Dengan ketersediaan kamar mencapai 4.000 hingga 5.000 kamar.
“Saat awal tahun yang memang belum musim ramai liburan orang Eropa, kita struggle untuk survive. Di sana harus banyak disuntik oleh event-event. Kita siap memfasilitasi, akan tetapi timing-nya bisa diatur ketika kita masih sedikit low season,” katanya.

Komunitas Riot Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Bagi Rate, event sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara membuat kawasan penuh pada satu akhir pekan. Waktunya perlu diatur agar olahraga juga bisa mengisi kamar ketika wisatawan reguler sedang berkurang.
Pengamat Olahraga NTB Andi Hadianto melihat dampak yang sama dari sisi masyarakat. Hotel, transportasi, restoran hingga warung makan ikut bergerak ketika pelari dari luar daerah datang.
Ada satu keuntungan lain yang tidak mudah dihitung, yaitu media sosial. Pelari memotret rute, gunung, pantai, makanan dan suasana kota. Mereka kemudian membagikannya kepada pengikut masing-masing.
“NTB kini telah memiliki daya tarik tersendiri bagi komunitas lari internasional. Ajang Rinjani 100 bahkan telah diakui oleh federasi lari lintas alam dunia, di mana peserta bisa mendapatkan poin kualifikasi untuk ajang internasional,” ungkap Andi.
Bagi Rate, event sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara membuat kawasan penuh pada satu akhir pekan. Waktunya perlu diatur agar olahraga juga bisa mengisi kamar ketika wisatawan reguler sedang berkurang.
Pengamat Olahraga NTB Andi Hadianto melihat dampak yang sama dari sisi masyarakat. Hotel, transportasi, restoran hingga warung makan ikut bergerak ketika pelari dari luar daerah datang.
Ada satu keuntungan lain yang tidak mudah dihitung, yaitu media sosial. Pelari memotret rute, gunung, pantai, makanan dan suasana kota. Mereka kemudian membagikannya kepada pengikut masing-masing.
“NTB kini telah memiliki daya tarik tersendiri bagi komunitas lari internasional. Ajang Rinjani 100 bahkan telah diakui oleh federasi lari lintas alam dunia, di mana peserta bisa mendapatkan poin kualifikasi untuk ajang internasional,” ungkap Andi.
Bagi Rate, event sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara membuat kawasan penuh pada satu akhir pekan. Waktunya perlu diatur agar olahraga juga bisa mengisi kamar ketika wisatawan reguler sedang berkurang.
Pengamat Olahraga NTB Andi Hadianto melihat dampak yang sama dari sisi masyarakat. Hotel, transportasi, restoran hingga warung makan ikut bergerak ketika pelari dari luar daerah datang.
Ada satu keuntungan lain yang tidak mudah dihitung, yaitu media sosial. Pelari memotret rute, gunung, pantai, makanan dan suasana kota. Mereka kemudian membagikannya kepada pengikut masing-masing.
“NTB kini telah memiliki daya tarik tersendiri bagi komunitas lari internasional. Ajang Rinjani 100 bahkan telah diakui oleh federasi lari lintas alam dunia, di mana peserta bisa mendapatkan poin kualifikasi untuk ajang internasional,” ungkap Andi.
Angka besar di belakang sepasang sepatu
Angka besar di belakang sepasang sepatu
Angka besar di belakang sepasang sepatu

Komunitas Riot Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)
Wisatawan olahraga memang memiliki pola pengeluaran yang berbeda dari wisatawan umum. Data BPS menunjukkan wisatawan umum rata-rata mengeluarkan sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta per perjalanan, dengan lama tinggal sekitar 1,8 hingga 2,2 hari. Sementara wisatawan olahraga diperkirakan menghabiskan Rp2,5 juta hingga Rp4,5 juta, dengan lama tinggal sekitar 2,5 hingga 3,5 hari.
Pengeluaran wisatawan olahraga tersebar pada biaya registrasi event, akomodasi, kuliner, transportasi dan merchandise.
Laporan UN Tourism dan World Travel & Tourism Council juga menunjukkan wisatawan olahraga rata-rata tinggal 20-30 persen lebih lama dibandingkan wisatawan umum. Pengeluaran hariannya dapat mencapai 1,5 hingga dua kali lebih tinggi untuk akomodasi, transportasi dan kuliner.
Wisatawan olahraga memang memiliki pola pengeluaran yang berbeda dari wisatawan umum. Data BPS menunjukkan wisatawan umum rata-rata mengeluarkan sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta per perjalanan, dengan lama tinggal sekitar 1,8 hingga 2,2 hari. Sementara wisatawan olahraga diperkirakan menghabiskan Rp2,5 juta hingga Rp4,5 juta, dengan lama tinggal sekitar 2,5 hingga 3,5 hari.
Pengeluaran wisatawan olahraga tersebar pada biaya registrasi event, akomodasi, kuliner, transportasi dan merchandise.
Laporan UN Tourism dan World Travel & Tourism Council juga menunjukkan wisatawan olahraga rata-rata tinggal 20-30 persen lebih lama dibandingkan wisatawan umum. Pengeluaran hariannya dapat mencapai 1,5 hingga dua kali lebih tinggi untuk akomodasi, transportasi dan kuliner.
Wisatawan olahraga memang memiliki pola pengeluaran yang berbeda dari wisatawan umum. Data BPS menunjukkan wisatawan umum rata-rata mengeluarkan sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta per perjalanan, dengan lama tinggal sekitar 1,8 hingga 2,2 hari. Sementara wisatawan olahraga diperkirakan menghabiskan Rp2,5 juta hingga Rp4,5 juta, dengan lama tinggal sekitar 2,5 hingga 3,5 hari.
Pengeluaran wisatawan olahraga tersebar pada biaya registrasi event, akomodasi, kuliner, transportasi dan merchandise.
Laporan UN Tourism dan World Travel & Tourism Council juga menunjukkan wisatawan olahraga rata-rata tinggal 20-30 persen lebih lama dibandingkan wisatawan umum. Pengeluaran hariannya dapat mencapai 1,5 hingga dua kali lebih tinggi untuk akomodasi, transportasi dan kuliner.

Dok. Semarang 10K
Itulah sebabnya sebuah lomba yang hanya berlangsung beberapa jam dapat menciptakan aktivitas ekonomi selama beberapa hari. Pelari datang sehari sebelumnya. Mengambil race pack. Mencari makanan. Menginap. Berlari keesokan harinya. Setelah itu mungkin makan lagi, membeli oleh-oleh dan baru pulang.
Event lari tumbuh, komunitas bertambah dan olahraga semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut sport tourism sebagai salah satu tema perjalanan yang menjanjikan.
“Dalam ekosistem pariwisata terdapat banyak travel theme yang dapat dikembangkan, dan salah satu yang paling menjanjikan adalah sports tourism. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan segmen ini,” ujarnya dalam Indonesian Sports Summit 2025.
Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah menyusun peta jalan sport tourism serta pembangunan destinasi yang terintegrasi.
“Indonesia memiliki peluang besar menjadikan sports tourism sebagai mesin ekonomi baru. Untuk mewujudkan potensi ini, saya mengajak pemerintah pusat dan daerah bersama-sama menyusun roadmap sports tourism serta pembangunan destinasi yang terintegrasi,” katanya.
Itulah sebabnya sebuah lomba yang hanya berlangsung beberapa jam dapat menciptakan aktivitas ekonomi selama beberapa hari. Pelari datang sehari sebelumnya. Mengambil race pack. Mencari makanan. Menginap. Berlari keesokan harinya. Setelah itu mungkin makan lagi, membeli oleh-oleh dan baru pulang.
Event lari tumbuh, komunitas bertambah dan olahraga semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut sport tourism sebagai salah satu tema perjalanan yang menjanjikan.
“Dalam ekosistem pariwisata terdapat banyak travel theme yang dapat dikembangkan, dan salah satu yang paling menjanjikan adalah sports tourism. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan segmen ini,” ujarnya dalam Indonesian Sports Summit 2025.
Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah menyusun peta jalan sport tourism serta pembangunan destinasi yang terintegrasi.
“Indonesia memiliki peluang besar menjadikan sports tourism sebagai mesin ekonomi baru. Untuk mewujudkan potensi ini, saya mengajak pemerintah pusat dan daerah bersama-sama menyusun roadmap sports tourism serta pembangunan destinasi yang terintegrasi,” katanya.
Itulah sebabnya sebuah lomba yang hanya berlangsung beberapa jam dapat menciptakan aktivitas ekonomi selama beberapa hari. Pelari datang sehari sebelumnya. Mengambil race pack. Mencari makanan. Menginap. Berlari keesokan harinya. Setelah itu mungkin makan lagi, membeli oleh-oleh dan baru pulang.
Event lari tumbuh, komunitas bertambah dan olahraga semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut sport tourism sebagai salah satu tema perjalanan yang menjanjikan.
“Dalam ekosistem pariwisata terdapat banyak travel theme yang dapat dikembangkan, dan salah satu yang paling menjanjikan adalah sports tourism. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan segmen ini,” ujarnya dalam Indonesian Sports Summit 2025.
Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah menyusun peta jalan sport tourism serta pembangunan destinasi yang terintegrasi.
“Indonesia memiliki peluang besar menjadikan sports tourism sebagai mesin ekonomi baru. Untuk mewujudkan potensi ini, saya mengajak pemerintah pusat dan daerah bersama-sama menyusun roadmap sports tourism serta pembangunan destinasi yang terintegrasi,” katanya.
Tantangannya kemudian menjadi lebih konkret. Bagaimana membuat para pelari tinggal lebih lama di suatu kota, menghubungkan sebuah event dengan destinasi sekitar, serta menyebar kegiatan agar tidak hanya menumpuk di musim ramai.
Semua itu pada akhirnya kembali kepada orang-orang yang berlari. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pariwisata kadang bermula dari keputusan yang sangat sederhana. Mungkin awalnya hanya olahraga. Namun bagi kota yang mereka datangi, kedatangan itu bisa berarti kamar hotel yang terisi, meja restoran yang penuh, kendaraan yang bergerak dan UMKM yang mendapat pembeli.
Karena itu, garis finis tidak selalu berarti perjalanan telah selesai. Kadang, justru dari sana seseorang mulai mengenal sebuah kota.
Tantangannya kemudian menjadi lebih konkret. Bagaimana membuat para pelari tinggal lebih lama di suatu kota, menghubungkan sebuah event dengan destinasi sekitar, serta menyebar kegiatan agar tidak hanya menumpuk di musim ramai.
Semua itu pada akhirnya kembali kepada orang-orang yang berlari. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pariwisata kadang bermula dari keputusan yang sangat sederhana. Mungkin awalnya hanya olahraga. Namun bagi kota yang mereka datangi, kedatangan itu bisa berarti kamar hotel yang terisi, meja restoran yang penuh, kendaraan yang bergerak dan UMKM yang mendapat pembeli.
Karena itu, garis finis tidak selalu berarti perjalanan telah selesai. Kadang, justru dari sana seseorang mulai mengenal sebuah kota.
Tantangannya kemudian menjadi lebih konkret. Bagaimana membuat para pelari tinggal lebih lama di suatu kota, menghubungkan sebuah event dengan destinasi sekitar, serta menyebar kegiatan agar tidak hanya menumpuk di musim ramai.
Semua itu pada akhirnya kembali kepada orang-orang yang berlari. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pariwisata kadang bermula dari keputusan yang sangat sederhana. Mungkin awalnya hanya olahraga. Namun bagi kota yang mereka datangi, kedatangan itu bisa berarti kamar hotel yang terisi, meja restoran yang penuh, kendaraan yang bergerak dan UMKM yang mendapat pembeli.
Karena itu, garis finis tidak selalu berarti perjalanan telah selesai. Kadang, justru dari sana seseorang mulai mengenal sebuah kota.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Disusun oleh
Tim Editorial
Aan Pranata - Project Lead/Editor
Febriana Sinta - Editor
Irwan Idris - Editor
Reporter
Ashrawi Muin - Reporter
Debbie Sutrisno - Reporter
Muhammad Nasir - Reporter
Anggun Puspitoningrum
Darsil Yahya - Kontributor
Infografis
Mardya Shakti
Dhana Kencana
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
































