
Overweight Bukan Sekadar Gemuk
Overweight Bukan Sekadar Gemuk
Overweight Bukan Sekadar Gemuk
Bom Waktu Generasi ‘Rebahan’ di Tengah Hidup Minim Gerak
Bom Waktu Generasi ‘Rebahan’ di Tengah Hidup Minim Gerak
(IDN Times/Rangga Erfizal)
(IDN Times/Rangga Erfizal)
“Penyakit ini tidak menghentikan hidup saya. Tapi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan itu kebutuhan jangka panjang.”
“Penyakit ini tidak menghentikan hidup saya. Tapi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan itu kebutuhan jangka panjang.”
Matanya terpaku, setengah melamun membaca selebaran hasil pemeriksaan kesehatan yang tak sepenuhnya dia pahami. Telinganya menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut sang dokter. Satu kata yang sepenuhnya dia mengerti: hipertensi.
Lamunannya satu tahun lalu itu buyar, saat dokter memberitahu Erfizal (31) –milenial asal Palembang– bahwa hipertensi adalah akar dari banyak penyakit berat seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal. Bahkan bisa berujung fatal jika tak dikontrol.
Sebelum didiagnosis hipertensi, Erfizal pun sudah mengetahui bahwa dirinya diambang obesitas akibat minim aktivitas fisik. Vonis prediabetes membuat dirinya memulai gaya hidup sehat yang sebelumnya tak pernah terpikirkan bakal dilakukan. Namun siapa sangka, saat dirinya berjuang menyembuhkan satu penyakit, penyakit lainnya ikut muncul.
Matanya terpaku, setengah melamun membaca selebaran hasil pemeriksaan kesehatan yang tak sepenuhnya dia pahami. Telinganya menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut sang dokter. Satu kata yang sepenuhnya dia mengerti: hipertensi.
Lamunannya satu tahun lalu itu buyar, saat dokter memberitahu Erfizal (31) –milenial asal Palembang– bahwa hipertensi adalah akar dari banyak penyakit berat seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal. Bahkan bisa berujung fatal jika tak dikontrol.
Sebelum didiagnosis hipertensi, Erfizal pun sudah mengetahui bahwa dirinya diambang obesitas akibat minim aktivitas fisik. Vonis prediabetes membuat dirinya memulai gaya hidup sehat yang sebelumnya tak pernah terpikirkan bakal dilakukan. Namun siapa sangka, saat dirinya berjuang menyembuhkan satu penyakit, penyakit lainnya ikut muncul.
Matanya terpaku, setengah melamun membaca selebaran hasil pemeriksaan kesehatan yang tak sepenuhnya dia pahami. Telinganya menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut sang dokter. Satu kata yang sepenuhnya dia mengerti: hipertensi.
Lamunannya satu tahun lalu itu buyar, saat dokter memberitahu Erfizal (31) –milenial asal Palembang– bahwa hipertensi adalah akar dari banyak penyakit berat seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal. Bahkan bisa berujung fatal jika tak dikontrol.
Sebelum didiagnosis hipertensi, Erfizal pun sudah mengetahui bahwa dirinya diambang obesitas akibat minim aktivitas fisik. Vonis prediabetes membuat dirinya memulai gaya hidup sehat yang sebelumnya tak pernah terpikirkan bakal dilakukan. Namun siapa sangka, saat dirinya berjuang menyembuhkan satu penyakit, penyakit lainnya ikut muncul.
Di usia yang kerap disebut sebagai masa paling produktif—saat pendidikan dirampungkan, karier dirintis, relasi sosial dibangun, dan keluarga mulai dipikirkan—banyak anak muda Indonesia seperti Erfizal yang justru menghadapi persoalan yang jarang dibicarakan secara jujur: tubuh mereka tidak lagi sekuat yang dibayangkan.
Masalahnya bukan semata soal penampilan atau ukuran baju. Ia hadir dalam bentuk napas yang lebih pendek, tubuh yang cepat lelah, sendi yang nyeri, hingga diagnosa penyakit yang datang terlalu dini. Overweight dan obesitas kini menyelinap ke usia muda, tumbuh perlahan di balik rutinitas duduk berjam-jam, stres kerja, pola makan tak teratur, dan aktivitas fisik yang terus dikorbankan.
Sebagian cerita itu berhasil dihimpun dari Palembang, Denpasar, Medan, dan Bandung. Dari Gen Z yang masih sekolah, hingga milenial yang telah berkeluarga. Nama dan latarnya berbeda, tetapi pola hidup dan konsekuensinya nyaris sama.
Di usia yang kerap disebut sebagai masa paling produktif—saat pendidikan dirampungkan, karier dirintis, relasi sosial dibangun, dan keluarga mulai dipikirkan—banyak anak muda Indonesia seperti Erfizal yang justru menghadapi persoalan yang jarang dibicarakan secara jujur: tubuh mereka tidak lagi sekuat yang dibayangkan.
Masalahnya bukan semata soal penampilan atau ukuran baju. Ia hadir dalam bentuk napas yang lebih pendek, tubuh yang cepat lelah, sendi yang nyeri, hingga diagnosa penyakit yang datang terlalu dini. Overweight dan obesitas kini menyelinap ke usia muda, tumbuh perlahan di balik rutinitas duduk berjam-jam, stres kerja, pola makan tak teratur, dan aktivitas fisik yang terus dikorbankan.
Sebagian cerita itu berhasil dihimpun dari Palembang, Denpasar, Medan, dan Bandung. Dari Gen Z yang masih sekolah, hingga milenial yang telah berkeluarga. Nama dan latarnya berbeda, tetapi pola hidup dan konsekuensinya nyaris sama.
Di usia yang kerap disebut sebagai masa paling produktif—saat pendidikan dirampungkan, karier dirintis, relasi sosial dibangun, dan keluarga mulai dipikirkan—banyak anak muda Indonesia seperti Erfizal yang justru menghadapi persoalan yang jarang dibicarakan secara jujur: tubuh mereka tidak lagi sekuat yang dibayangkan.
Masalahnya bukan semata soal penampilan atau ukuran baju. Ia hadir dalam bentuk napas yang lebih pendek, tubuh yang cepat lelah, sendi yang nyeri, hingga diagnosa penyakit yang datang terlalu dini. Overweight dan obesitas kini menyelinap ke usia muda, tumbuh perlahan di balik rutinitas duduk berjam-jam, stres kerja, pola makan tak teratur, dan aktivitas fisik yang terus dikorbankan.
Sebagian cerita itu berhasil dihimpun dari Palembang, Denpasar, Medan, dan Bandung. Dari Gen Z yang masih sekolah, hingga milenial yang telah berkeluarga. Nama dan latarnya berbeda, tetapi pola hidup dan konsekuensinya nyaris sama.

Ancaman obesitas di setiap kalangan umur (IDN Times/Mardya Shakti)
Ancaman obesitas di setiap kalangan umur (IDN Times/Mardya Shakti)
Hipertensi di Usia 30: Ketika Tubuh Tak Lagi Bisa Dibohongi
Hipertensi di Usia 30: Ketika Tubuh Tak Lagi Bisa Dibohongi
Hipertensi di Usia 30: Ketika Tubuh Tak Lagi Bisa Dibohongi
“Kalau sudah sakit, semua aktivitas yang kita kerjakan tidak akan lagi berarti.”
“Kalau sudah sakit, semua aktivitas yang kita kerjakan tidak akan lagi berarti.”
Bagi Erfizal, hipertensi datang tanpa peringatan dramatis. Ia tidak pingsan. Tidak masuk IGD. Bahkan tidak merasa sakit serius. Justru itu yang membuatnya terkejut ketika dokter akhirnya menyebutkan diagnosis medis tersebut.
“Reaksi pertama saya tentu kaget. Tapi lama-lama sadar, ini bukan untuk ditakuti, tapi harus dikelola.”
Sebelum diagnosis resmi, Erfizal sebenarnya sudah sering mendapati tekanan darahnya tinggi. Namun karena tubuh terasa baik-baik saja, ia menunda kepedulian. Jam kerja padat, waktu istirahat tidak teratur, dan kebiasaan menunda olahraga menjadi bagian dari kesehariannya.
Bagi Erfizal, hipertensi datang tanpa peringatan dramatis. Ia tidak pingsan. Tidak masuk IGD. Bahkan tidak merasa sakit serius. Justru itu yang membuatnya terkejut ketika dokter akhirnya menyebutkan diagnosis medis tersebut.
“Reaksi pertama saya tentu kaget. Tapi lama-lama sadar, ini bukan untuk ditakuti, tapi harus dikelola.”
Sebelum diagnosis resmi, Erfizal sebenarnya sudah sering mendapati tekanan darahnya tinggi. Namun karena tubuh terasa baik-baik saja, ia menunda kepedulian. Jam kerja padat, waktu istirahat tidak teratur, dan kebiasaan menunda olahraga menjadi bagian dari kesehariannya.
Bagi Erfizal, hipertensi datang tanpa peringatan dramatis. Ia tidak pingsan. Tidak masuk IGD. Bahkan tidak merasa sakit serius. Justru itu yang membuatnya terkejut ketika dokter akhirnya menyebutkan diagnosis medis tersebut.
“Reaksi pertama saya tentu kaget. Tapi lama-lama sadar, ini bukan untuk ditakuti, tapi harus dikelola.”
Sebelum diagnosis resmi, Erfizal sebenarnya sudah sering mendapati tekanan darahnya tinggi. Namun karena tubuh terasa baik-baik saja, ia menunda kepedulian. Jam kerja padat, waktu istirahat tidak teratur, dan kebiasaan menunda olahraga menjadi bagian dari kesehariannya.
Olahraga belum menjadi kebiasaan, sementara rasa muda dan kuat membuatnya menunda perubahan. Ia merasa sehat. Ia masih bisa bekerja, berinteraksi, dan beraktivitas normal. Tapi perasaan itu menipu.
“Rasa ‘sehat’ itu ternyata bisa menipu. Tubuh terasa baik-baik saja, tapi tekanan darah bisa tetap tinggi.”
Awalnya ada rasa cemas. Usia 30 terasa terlalu muda untuk hidup dengan obat. Namun seiring waktu, ia memilih berdamai.
Olahraga belum menjadi kebiasaan, sementara rasa muda dan kuat membuatnya menunda perubahan. Ia merasa sehat. Ia masih bisa bekerja, berinteraksi, dan beraktivitas normal. Tapi perasaan itu menipu.
“Rasa ‘sehat’ itu ternyata bisa menipu. Tubuh terasa baik-baik saja, tapi tekanan darah bisa tetap tinggi.”
Awalnya ada rasa cemas. Usia 30 terasa terlalu muda untuk hidup dengan obat. Namun seiring waktu, ia memilih berdamai.
Olahraga belum menjadi kebiasaan, sementara rasa muda dan kuat membuatnya menunda perubahan. Ia merasa sehat. Ia masih bisa bekerja, berinteraksi, dan beraktivitas normal. Tapi perasaan itu menipu.
“Rasa ‘sehat’ itu ternyata bisa menipu. Tubuh terasa baik-baik saja, tapi tekanan darah bisa tetap tinggi.”
Awalnya ada rasa cemas. Usia 30 terasa terlalu muda untuk hidup dengan obat. Namun seiring waktu, ia memilih berdamai.

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
Kini, hipertensi justru mengubah cara pandangnya tentang hidup. Ia mulai disiplin mengatur pola makan, memperhatikan jam tidur, mengelola stres, dan menyisihkan waktu untuk berolahraga.
“Penyakit ini tidak menghentikan hidup saya. Tapi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan itu kebutuhan jangka panjang.”
Kini, hipertensi justru mengubah cara pandangnya tentang hidup. Ia mulai disiplin mengatur pola makan, memperhatikan jam tidur, mengelola stres, dan menyisihkan waktu untuk berolahraga.
“Penyakit ini tidak menghentikan hidup saya. Tapi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan itu kebutuhan jangka panjang.”
Kini, hipertensi justru mengubah cara pandangnya tentang hidup. Ia mulai disiplin mengatur pola makan, memperhatikan jam tidur, mengelola stres, dan menyisihkan waktu untuk berolahraga.
“Penyakit ini tidak menghentikan hidup saya. Tapi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan itu kebutuhan jangka panjang.”
Jika Erfizal “diperingatkan” lewat angka tensi, Febriansyah (28) merasakannya secara fisik. Kelebihan berat badan membuat kakinya kerap tak sanggup menopang tubuh. Asam urat datang berulang, menyerang persendian kaki, lalu berpindah ke tangan dan jari.
“Bahkan untuk berjalan ke toilet pun kadang saya kesulitan.”
Saat asam urat kambuh, persendiannya membengkak. Ia terpincang-pincang. Aktivitas sederhana menjadi tantangan. Pernah suatu waktu ia hanya bisa terbaring di kasur berhari-hari, tidak mampu bekerja dengan normal.
Jika Erfizal “diperingatkan” lewat angka tensi, Febriansyah (28) merasakannya secara fisik. Kelebihan berat badan membuat kakinya kerap tak sanggup menopang tubuh. Asam urat datang berulang, menyerang persendian kaki, lalu berpindah ke tangan dan jari.
“Bahkan untuk berjalan ke toilet pun kadang saya kesulitan.”
Saat asam urat kambuh, persendiannya membengkak. Ia terpincang-pincang. Aktivitas sederhana menjadi tantangan. Pernah suatu waktu ia hanya bisa terbaring di kasur berhari-hari, tidak mampu bekerja dengan normal.
Jika Erfizal “diperingatkan” lewat angka tensi, Febriansyah (28) merasakannya secara fisik. Kelebihan berat badan membuat kakinya kerap tak sanggup menopang tubuh. Asam urat datang berulang, menyerang persendian kaki, lalu berpindah ke tangan dan jari.
“Bahkan untuk berjalan ke toilet pun kadang saya kesulitan.”
Saat asam urat kambuh, persendiannya membengkak. Ia terpincang-pincang. Aktivitas sederhana menjadi tantangan. Pernah suatu waktu ia hanya bisa terbaring di kasur berhari-hari, tidak mampu bekerja dengan normal.
Febriansyah sadar pola hidupnya menjadi penyebab. Di masa muda, ia mengabaikan olahraga dan terbiasa menjalani gaya hidup tidak sehat, termasuk konsumsi alkohol. Padahal, dulu ia sempat menerapkan pola hidup sehat dan aktif bergerak.
Rasa sakit itu mempengaruhi segalanya—pekerjaan, suasana hati, hingga pola makan. Saat nyeri datang, ia kehilangan selera beraktivitas apa pun.
Febriansyah sadar pola hidupnya menjadi penyebab. Di masa muda, ia mengabaikan olahraga dan terbiasa menjalani gaya hidup tidak sehat, termasuk konsumsi alkohol. Padahal, dulu ia sempat menerapkan pola hidup sehat dan aktif bergerak.
Rasa sakit itu mempengaruhi segalanya—pekerjaan, suasana hati, hingga pola makan. Saat nyeri datang, ia kehilangan selera beraktivitas apa pun.
Febriansyah sadar pola hidupnya menjadi penyebab. Di masa muda, ia mengabaikan olahraga dan terbiasa menjalani gaya hidup tidak sehat, termasuk konsumsi alkohol. Padahal, dulu ia sempat menerapkan pola hidup sehat dan aktif bergerak.
Rasa sakit itu mempengaruhi segalanya—pekerjaan, suasana hati, hingga pola makan. Saat nyeri datang, ia kehilangan selera beraktivitas apa pun.
Dirinya pun berpesan agar anak muda mulai menjaga pola hidupnya, terutama untuk aktif berolahraga dan rutin menjaga pola makan.
“Kalau sudah sakit, semua aktivitas yang kita kerjakan tidak akan lagi berarti.”
Kini ia rutin mengonsumsi obat dan berusaha menjaga pola hidup. Ia pun berpesan agar anak muda tidak menunggu sakit untuk berubah.
Dirinya pun berpesan agar anak muda mulai menjaga pola hidupnya, terutama untuk aktif berolahraga dan rutin menjaga pola makan.
“Kalau sudah sakit, semua aktivitas yang kita kerjakan tidak akan lagi berarti.”
Kini ia rutin mengonsumsi obat dan berusaha menjaga pola hidup. Ia pun berpesan agar anak muda tidak menunggu sakit untuk berubah.
Dirinya pun berpesan agar anak muda mulai menjaga pola hidupnya, terutama untuk aktif berolahraga dan rutin menjaga pola makan.
“Kalau sudah sakit, semua aktivitas yang kita kerjakan tidak akan lagi berarti.”
Kini ia rutin mengonsumsi obat dan berusaha menjaga pola hidup. Ia pun berpesan agar anak muda tidak menunggu sakit untuk berubah.
Stres-Makan: Siklus Perlahan yang Menghancurkan
Stres-Makan: Siklus Perlahan yang Menghancurkan
Stres-Makan: Siklus Perlahan yang Menghancurkan

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
“Kita lupa diri, sering stres. Kerja-makan, break kerja-makan, pulang-makan, mau tidur-makan. Cuma tidur doang yang gak makan. Jadi itu terus-terusan berlalu. Tanpa kita sadar itu jadi slow distraction. Pelan-pelan itu hancurin diri kita sendiri"
“Kita lupa diri, sering stres. Kerja-makan, break kerja-makan, pulang-makan, mau tidur-makan. Cuma tidur doang yang gak makan. Jadi itu terus-terusan berlalu. Tanpa kita sadar itu jadi slow distraction. Pelan-pelan itu hancurin diri kita sendiri"
Di Denpasar, Gede Ngurah Oka Perdana (36) menarik napas panjang sebelum bercerita. Ia sadar perubahan fisiknya bukan terjadi dalam semalam. Berat badannya naik perlahan, mengikuti ritme hidup yang semakin tidak seimbang.
Saat kuliah, beratnya stabil di kisaran 75–85 kilogram. Setelah menikah, angka itu naik menjadi 90 kilogram—overweight, tapi belum obesitas. Lalu stres datang, bertubi-tubi.
“Pasca menikah, ada masa-masa kita menjalani hidup terlalu serius sampai lupa mengurus diri sendiri. Kita lupa manage makan. Kita lupa waktu.”
Di Denpasar, Gede Ngurah Oka Perdana (36) menarik napas panjang sebelum bercerita. Ia sadar perubahan fisiknya bukan terjadi dalam semalam. Berat badannya naik perlahan, mengikuti ritme hidup yang semakin tidak seimbang.
Saat kuliah, beratnya stabil di kisaran 75–85 kilogram. Setelah menikah, angka itu naik menjadi 90 kilogram—overweight, tapi belum obesitas. Lalu stres datang, bertubi-tubi.
“Pasca menikah, ada masa-masa kita menjalani hidup terlalu serius sampai lupa mengurus diri sendiri. Kita lupa manage makan. Kita lupa waktu.”
Di Denpasar, Gede Ngurah Oka Perdana (36) menarik napas panjang sebelum bercerita. Ia sadar perubahan fisiknya bukan terjadi dalam semalam. Berat badannya naik perlahan, mengikuti ritme hidup yang semakin tidak seimbang.
Saat kuliah, beratnya stabil di kisaran 75–85 kilogram. Setelah menikah, angka itu naik menjadi 90 kilogram—overweight, tapi belum obesitas. Lalu stres datang, bertubi-tubi.
“Pasca menikah, ada masa-masa kita menjalani hidup terlalu serius sampai lupa mengurus diri sendiri. Kita lupa manage makan. Kita lupa waktu.”

Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan coding (Dok.IDN Times/Ngurah)
Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan coding (Dok.IDN Times/Ngurah)
Makanan menjadi pelarian. Stres dilampiaskan dengan makan. Siklusnya berulang: kerja, makan; istirahat, makan; pulang, makan. Berat badannya melonjak hingga 145 kilogram dalam empat tahun. Ukuran baju berubah dari 2XL menjadi 4XL.
Ngurah bekerja di bidang yang menuntut duduk lama. Delapan jam coding bukan hal luar biasa. Aktivitas fisik nyaris nihil.
Alarm tubuhnya berbunyi keras saat ia mengalami abses dan osteoarthritis hampir sebulan. Sebagai orang Bali, aktivitas adat yang mengharuskannya duduk bersila, berdiri lama, dan membungkuk menjadi siksaan.
Makanan menjadi pelarian. Stres dilampiaskan dengan makan. Siklusnya berulang: kerja, makan; istirahat, makan; pulang, makan. Berat badannya melonjak hingga 145 kilogram dalam empat tahun. Ukuran baju berubah dari 2XL menjadi 4XL.
Ngurah bekerja di bidang yang menuntut duduk lama. Delapan jam coding bukan hal luar biasa. Aktivitas fisik nyaris nihil.
Alarm tubuhnya berbunyi keras saat ia mengalami abses dan osteoarthritis hampir sebulan. Sebagai orang Bali, aktivitas adat yang mengharuskannya duduk bersila, berdiri lama, dan membungkuk menjadi siksaan.
Makanan menjadi pelarian. Stres dilampiaskan dengan makan. Siklusnya berulang: kerja, makan; istirahat, makan; pulang, makan. Berat badannya melonjak hingga 145 kilogram dalam empat tahun. Ukuran baju berubah dari 2XL menjadi 4XL.
Ngurah bekerja di bidang yang menuntut duduk lama. Delapan jam coding bukan hal luar biasa. Aktivitas fisik nyaris nihil.
Alarm tubuhnya berbunyi keras saat ia mengalami abses dan osteoarthritis hampir sebulan. Sebagai orang Bali, aktivitas adat yang mengharuskannya duduk bersila, berdiri lama, dan membungkuk menjadi siksaan.

Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan olahraga (Dok.IDN Times/Ngurah)
Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan olahraga (Dok.IDN Times/Ngurah)
“Saya dulu suka olahraga. Renang, lari, basket, naik gunung,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyadarkan dia untuk merubah pola hidupnya. Semangat juga timbul ketika melihat keluarga kecilnya yang membutuhkan perannya lebih maksimal.
Kini Ngurah menjalani intermittent fasting, membatasi kalori, dan berjalan kaki 6.000 langkah per hari. Olahraga dilakukan perlahan, sesuai kemampuan tubuhnya. Hasil konsultasinya dengan dokter tidak menyarankan Ngurah untuk jogging atau berlari, karena risiko akibat berat badan berlebihannya yang akan merusak sendi di kaki.
“Mulai pelan-pelan. Jangan pasrah, jangan menyerah.”
“Saya dulu suka olahraga. Renang, lari, basket, naik gunung,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyadarkan dia untuk merubah pola hidupnya. Semangat juga timbul ketika melihat keluarga kecilnya yang membutuhkan perannya lebih maksimal.
Kini Ngurah menjalani intermittent fasting, membatasi kalori, dan berjalan kaki 6.000 langkah per hari. Olahraga dilakukan perlahan, sesuai kemampuan tubuhnya. Hasil konsultasinya dengan dokter tidak menyarankan Ngurah untuk jogging atau berlari, karena risiko akibat berat badan berlebihannya yang akan merusak sendi di kaki.
“Mulai pelan-pelan. Jangan pasrah, jangan menyerah.”
“Saya dulu suka olahraga. Renang, lari, basket, naik gunung,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyadarkan dia untuk merubah pola hidupnya. Semangat juga timbul ketika melihat keluarga kecilnya yang membutuhkan perannya lebih maksimal.
Kini Ngurah menjalani intermittent fasting, membatasi kalori, dan berjalan kaki 6.000 langkah per hari. Olahraga dilakukan perlahan, sesuai kemampuan tubuhnya. Hasil konsultasinya dengan dokter tidak menyarankan Ngurah untuk jogging atau berlari, karena risiko akibat berat badan berlebihannya yang akan merusak sendi di kaki.
“Mulai pelan-pelan. Jangan pasrah, jangan menyerah.”
Ketika Obesitas Hampir Merenggut Nyawa
Ketika Obesitas Hampir Merenggut Nyawa
Ketika Obesitas Hampir Merenggut Nyawa

Eka Kadalora, konten kreator asal Bali (Dok.IDN Times/Eka)
Eka Kadalora, konten kreator asal Bali (Dok.IDN Times/Eka)
“Menyesal sih pasti ada ya, karena gendut agak susah tidur dan susah ngelakuin apa-apa dengan gesit dan cepet capek. Tapi sekarang harus bisa lebih baik lagi untuk kesehatan diri sendiri juga,” kata dia.
“Menyesal sih pasti ada ya, karena gendut agak susah tidur dan susah ngelakuin apa-apa dengan gesit dan cepet capek. Tapi sekarang harus bisa lebih baik lagi untuk kesehatan diri sendiri juga,” kata dia.
Cerita Eka Kadalora (32) adalah potret ekstrem dari akumulasi pola hidup sedentari. Berat badan pria yang berprofesi sebagai konten kreator tersebut pernah mencapai 185 kilogram. Eka mengalami perubahan berat badan sejak berusia 10 tahun. Sejak itu, berat badannya terus bertambah signifikan.
Dua tahun lalu, akumulasi gaya hidup tidak sehat hampir menjemput nyawanya: tubuhnya dipenuhi cairan. Ia koma selama tiga hari.
“Sempat koma. Berat badan nyentuh 185 kilo. Jantung, diabetes, hipertensi—semuanya kena.”
Hipertensi sebenarnya sudah didiagnosis sejak usia 17 tahun. Namun karena tidak terasa mengganggu, ia menganggapnya sepele. Ia juga perokok aktif dan nyaris tidak pernah berolahraga.
Cerita Eka Kadalora (32) adalah potret ekstrem dari akumulasi pola hidup sedentari. Berat badan pria yang berprofesi sebagai konten kreator tersebut pernah mencapai 185 kilogram. Eka mengalami perubahan berat badan sejak berusia 10 tahun. Sejak itu, berat badannya terus bertambah signifikan.
Dua tahun lalu, akumulasi gaya hidup tidak sehat hampir menjemput nyawanya: tubuhnya dipenuhi cairan. Ia koma selama tiga hari.
“Sempat koma. Berat badan nyentuh 185 kilo. Jantung, diabetes, hipertensi—semuanya kena.”
Hipertensi sebenarnya sudah didiagnosis sejak usia 17 tahun. Namun karena tidak terasa mengganggu, ia menganggapnya sepele. Ia juga perokok aktif dan nyaris tidak pernah berolahraga.
Cerita Eka Kadalora (32) adalah potret ekstrem dari akumulasi pola hidup sedentari. Berat badan pria yang berprofesi sebagai konten kreator tersebut pernah mencapai 185 kilogram. Eka mengalami perubahan berat badan sejak berusia 10 tahun. Sejak itu, berat badannya terus bertambah signifikan.
Dua tahun lalu, akumulasi gaya hidup tidak sehat hampir menjemput nyawanya: tubuhnya dipenuhi cairan. Ia koma selama tiga hari.
“Sempat koma. Berat badan nyentuh 185 kilo. Jantung, diabetes, hipertensi—semuanya kena.”
Hipertensi sebenarnya sudah didiagnosis sejak usia 17 tahun. Namun karena tidak terasa mengganggu, ia menganggapnya sepele. Ia juga perokok aktif dan nyaris tidak pernah berolahraga.

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
Setelah koma, Eka harus ditidurkan lebih dari sebulan untuk pemulihan. Obat menjadi bagian dari hidupnya. Berat badannya sempat turun drastis, lalu naik kembali.
Ia mengakui obesitas membuat hidup tidak gesit, cepat lelah, dan mengganggu mental.
“Yang paling saya sesali itu obesitas dan kurang olahraga. Olahraga dan pola hidup sehat itu penting,” katanya.
Kini, ia berusaha berolahraga seminggu sekali, mengurangi minuman manis, dan tidak lagi makan tengah malam.
“Menyesal sih pasti ada ya, karena gendut agak susah tidur dan susah ngelakuin apa-apa dengan gesit dan cepet capek. Tapi sekarang harus bisa lebih baik lagi untuk kesehatan diri sendiri juga,” kata dia.
Setelah koma, Eka harus ditidurkan lebih dari sebulan untuk pemulihan. Obat menjadi bagian dari hidupnya. Berat badannya sempat turun drastis, lalu naik kembali.
Ia mengakui obesitas membuat hidup tidak gesit, cepat lelah, dan mengganggu mental.
“Yang paling saya sesali itu obesitas dan kurang olahraga. Olahraga dan pola hidup sehat itu penting,” katanya.
Kini, ia berusaha berolahraga seminggu sekali, mengurangi minuman manis, dan tidak lagi makan tengah malam.
“Menyesal sih pasti ada ya, karena gendut agak susah tidur dan susah ngelakuin apa-apa dengan gesit dan cepet capek. Tapi sekarang harus bisa lebih baik lagi untuk kesehatan diri sendiri juga,” kata dia.
Setelah koma, Eka harus ditidurkan lebih dari sebulan untuk pemulihan. Obat menjadi bagian dari hidupnya. Berat badannya sempat turun drastis, lalu naik kembali.
Ia mengakui obesitas membuat hidup tidak gesit, cepat lelah, dan mengganggu mental.
“Yang paling saya sesali itu obesitas dan kurang olahraga. Olahraga dan pola hidup sehat itu penting,” katanya.
Kini, ia berusaha berolahraga seminggu sekali, mengurangi minuman manis, dan tidak lagi makan tengah malam.
“Menyesal sih pasti ada ya, karena gendut agak susah tidur dan susah ngelakuin apa-apa dengan gesit dan cepet capek. Tapi sekarang harus bisa lebih baik lagi untuk kesehatan diri sendiri juga,” kata dia.
Kerja Duduk, Junk Food, dan Kesadaran yang Terlambat
Kerja Duduk, Junk Food, dan Kesadaran yang Terlambat
Kerja Duduk, Junk Food, dan Kesadaran yang Terlambat
“Sejak berat badanku naik, aku merasa lebih cepat lemas dan lemah. Jadi aku sekarang lebih rutin olahraga biar kaya dulu lagi dan lebih kuat lagi fisiknya,” kata dia.
“Sejak berat badanku naik, aku merasa lebih cepat lemas dan lemah. Jadi aku sekarang lebih rutin olahraga biar kaya dulu lagi dan lebih kuat lagi fisiknya,” kata dia.
“Sejak berat badanku naik, aku merasa lebih cepat lemas dan lemah. Jadi aku sekarang lebih rutin olahraga biar kaya dulu lagi dan lebih kuat lagi fisiknya,” kata dia.
Di Medan, Silvia Decmerry Natalia Gea (23) menyadari berat badannya naik ketika pakaian mulai terasa sempit. Sejak bekerja di kantor, aktivitasnya didominasi duduk tujuh jam sehari di depan layar.
“Bahkan duduk terus di kantor,” ujarnya.
Gadis kelahiran Nias ini memiliki berat 74 kilogram dengan tinggi 160 sentimeter. Dirinya pernah melakukan pengecekan obesitas, dan termasuk kategori obesitas ringan. Junk food dan minuman manis menjadi pelarian mood saat bekerja.
Di Medan, Silvia Decmerry Natalia Gea (23) menyadari berat badannya naik ketika pakaian mulai terasa sempit. Sejak bekerja di kantor, aktivitasnya didominasi duduk tujuh jam sehari di depan layar.
“Bahkan duduk terus di kantor,” ujarnya.
Gadis kelahiran Nias ini memiliki berat 74 kilogram dengan tinggi 160 sentimeter. Dirinya pernah melakukan pengecekan obesitas, dan termasuk kategori obesitas ringan. Junk food dan minuman manis menjadi pelarian mood saat bekerja.
Di Medan, Silvia Decmerry Natalia Gea (23) menyadari berat badannya naik ketika pakaian mulai terasa sempit. Sejak bekerja di kantor, aktivitasnya didominasi duduk tujuh jam sehari di depan layar.
“Bahkan duduk terus di kantor,” ujarnya.
Gadis kelahiran Nias ini memiliki berat 74 kilogram dengan tinggi 160 sentimeter. Dirinya pernah melakukan pengecekan obesitas, dan termasuk kategori obesitas ringan. Junk food dan minuman manis menjadi pelarian mood saat bekerja.

Jebakan Malas Bergerak Picu Obesitas (IDN Times/Mardya Shakti)
Jebakan Malas Bergerak Picu Obesitas (IDN Times/Mardya Shakti)
Kesadaran muncul tiga bulan lalu, ketika tubuhnya lebih cepat lemas dan kepercayaan diri menurun. Meski menyesal bukan solusi, namun dirinya berharap bisa mengatur pola hidupnya dengan lebih baik sejak beberapa bulan lalu.
Kini, dirinya memiliki target menurunkan berat badan menjadi 60-65 kilogram.
“Sejak berat badanku naik, aku merasa lebih cepat lemas dan lemah. Jadi aku sekarang lebih rutin olahraga biar kaya dulu lagi dan lebih kuat lagi fisiknya,” kata dia.
Kesadaran muncul tiga bulan lalu, ketika tubuhnya lebih cepat lemas dan kepercayaan diri menurun. Meski menyesal bukan solusi, namun dirinya berharap bisa mengatur pola hidupnya dengan lebih baik sejak beberapa bulan lalu.
Kini, dirinya memiliki target menurunkan berat badan menjadi 60-65 kilogram.
“Sejak berat badanku naik, aku merasa lebih cepat lemas dan lemah. Jadi aku sekarang lebih rutin olahraga biar kaya dulu lagi dan lebih kuat lagi fisiknya,” kata dia.
Kesadaran muncul tiga bulan lalu, ketika tubuhnya lebih cepat lemas dan kepercayaan diri menurun. Meski menyesal bukan solusi, namun dirinya berharap bisa mengatur pola hidupnya dengan lebih baik sejak beberapa bulan lalu.
Kini, dirinya memiliki target menurunkan berat badan menjadi 60-65 kilogram.
“Sejak berat badanku naik, aku merasa lebih cepat lemas dan lemah. Jadi aku sekarang lebih rutin olahraga biar kaya dulu lagi dan lebih kuat lagi fisiknya,” kata dia.

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
Sementara itu, Indah Natalia Manalu (37) baru benar-benar bergerak setelah mendengar suaranya sendiri di voice note WhatsApp—napas terasa berat, suara terdengar lelah.
Padahal, Indah sudah menyadari berat badannya berlebihan sejak duduk di bangku SMP. Saat teman-teman seusianya dengan mudah mengenakan pakaian yang lebih kecil, sementara dirinya agak kesulitan mendapatkan pakaian yang pas di badannya.
Saat itu, dirinya menganggap berat badannya tersebut pengaruh dari hormon. Namun kesadarannya tersebut muncul, saat timbangannya menyentuh 100 kilogram pada usia 35 tahun.
Sementara itu, Indah Natalia Manalu (37) baru benar-benar bergerak setelah mendengar suaranya sendiri di voice note WhatsApp—napas terasa berat, suara terdengar lelah.
Padahal, Indah sudah menyadari berat badannya berlebihan sejak duduk di bangku SMP. Saat teman-teman seusianya dengan mudah mengenakan pakaian yang lebih kecil, sementara dirinya agak kesulitan mendapatkan pakaian yang pas di badannya.
Saat itu, dirinya menganggap berat badannya tersebut pengaruh dari hormon. Namun kesadarannya tersebut muncul, saat timbangannya menyentuh 100 kilogram pada usia 35 tahun.
Sementara itu, Indah Natalia Manalu (37) baru benar-benar bergerak setelah mendengar suaranya sendiri di voice note WhatsApp—napas terasa berat, suara terdengar lelah.
Padahal, Indah sudah menyadari berat badannya berlebihan sejak duduk di bangku SMP. Saat teman-teman seusianya dengan mudah mengenakan pakaian yang lebih kecil, sementara dirinya agak kesulitan mendapatkan pakaian yang pas di badannya.
Saat itu, dirinya menganggap berat badannya tersebut pengaruh dari hormon. Namun kesadarannya tersebut muncul, saat timbangannya menyentuh 100 kilogram pada usia 35 tahun.

Indah Manalu, Ibu Rumah Tangga di Medan kini disiplin beraktivitas fisik setelah 20 tahun dalam kondisi overweight (IDN Times/Indah Permata Sari)
Indah Manalu, Ibu Rumah Tangga di Medan kini disiplin beraktivitas fisik setelah 20 tahun dalam kondisi overweight (IDN Times/Indah Permata Sari)
“Di situlah baru tersadar bahwa aku gak bisa kayak gini terus, Aku harus bergerak. Kalau Aku punya waktu buat scroll HP, tapi kenapa gak pakai waktu itu buat olahraga?”
Natalia mengakui, rasa malas adalah godaan terberat dalam hidupnya. Yang secara tidak sadar membentuk perilaku sedentari yang membuat pola hidupnya terus merasa nyaman tanpa banyak bergerak.
“Sebenarnya bukan merasa gak pernah obesitas, merasa obesitas tapi malas saja untuk gerak. Malas kali. Jadi, kayak memang harus ada sesuatu untuk bisa bergerak, memang harus diri kita yang menyadari,” sambungnya.
Kini, setelah setahun konsisten jalan kaki dan aerobik ringan di rumah, berat badannya turun 20 kilogram. Natalia memiliki target dalam dua tahun ke depan bisa mencapai berat badan 70 kilogram. Nafsu makan lebih terkendali. Baju lama kembali muat.
“Baju yang lama gak bisa ku pakai, sekarang udah bisa ku pakai,” katanya semringah.
“Di situlah baru tersadar bahwa aku gak bisa kayak gini terus, Aku harus bergerak. Kalau Aku punya waktu buat scroll HP, tapi kenapa gak pakai waktu itu buat olahraga?”
Natalia mengakui, rasa malas adalah godaan terberat dalam hidupnya. Yang secara tidak sadar membentuk perilaku sedentari yang membuat pola hidupnya terus merasa nyaman tanpa banyak bergerak.
“Sebenarnya bukan merasa gak pernah obesitas, merasa obesitas tapi malas saja untuk gerak. Malas kali. Jadi, kayak memang harus ada sesuatu untuk bisa bergerak, memang harus diri kita yang menyadari,” sambungnya.
Kini, setelah setahun konsisten jalan kaki dan aerobik ringan di rumah, berat badannya turun 20 kilogram. Natalia memiliki target dalam dua tahun ke depan bisa mencapai berat badan 70 kilogram. Nafsu makan lebih terkendali. Baju lama kembali muat.
“Baju yang lama gak bisa ku pakai, sekarang udah bisa ku pakai,” katanya semringah.
“Di situlah baru tersadar bahwa aku gak bisa kayak gini terus, Aku harus bergerak. Kalau Aku punya waktu buat scroll HP, tapi kenapa gak pakai waktu itu buat olahraga?”
Natalia mengakui, rasa malas adalah godaan terberat dalam hidupnya. Yang secara tidak sadar membentuk perilaku sedentari yang membuat pola hidupnya terus merasa nyaman tanpa banyak bergerak.
“Sebenarnya bukan merasa gak pernah obesitas, merasa obesitas tapi malas saja untuk gerak. Malas kali. Jadi, kayak memang harus ada sesuatu untuk bisa bergerak, memang harus diri kita yang menyadari,” sambungnya.
Kini, setelah setahun konsisten jalan kaki dan aerobik ringan di rumah, berat badannya turun 20 kilogram. Natalia memiliki target dalam dua tahun ke depan bisa mencapai berat badan 70 kilogram. Nafsu makan lebih terkendali. Baju lama kembali muat.
“Baju yang lama gak bisa ku pakai, sekarang udah bisa ku pakai,” katanya semringah.
Remaja, Jajanan, dan Mager
Remaja, Jajanan, dan Mager
Remaja, Jajanan, dan Mager

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
“Motivasinya masih kurang, mager masih ada. Main HP, rebahan. Tapi dibanding dua tahun lalu, ini sudah berhasil,”
“Motivasinya masih kurang, mager masih ada. Main HP, rebahan. Tapi dibanding dua tahun lalu, ini sudah berhasil,”
Aluna Nahla Nugraha (16), remaja Gen Z yang berdomisili di Bandung, mulai sadar berat badannya naik sejak SMP tiga tahun lalu.
Ia belum menyebut dirinya obesitas, tapi ada satu kesadaran kecil yang mulai mengusik: tubuhnya terasa “lebih besar” dibanding sebelumnya. Kesadaran itu tidak datang dari angka timbangan semata, melainkan dari kebiasaan yang ia jalani hampir setiap hari—jajan.
Seblak, cilok, aneka jajanan berbasis tepung dan micin menjadi teman setianya sepulang sekolah. Aktivitas fisik nyaris tak banyak. Ke sekolah ia naik motor, pulangnya angkot. Perjalanan dari rumah ke sekolah bisa memakan waktu hampir satu jam. Jalan kaki bukan pilihan.
Aluna Nahla Nugraha (16), remaja Gen Z yang berdomisili di Bandung, mulai sadar berat badannya naik sejak SMP tiga tahun lalu.
Ia belum menyebut dirinya obesitas, tapi ada satu kesadaran kecil yang mulai mengusik: tubuhnya terasa “lebih besar” dibanding sebelumnya. Kesadaran itu tidak datang dari angka timbangan semata, melainkan dari kebiasaan yang ia jalani hampir setiap hari—jajan.
Seblak, cilok, aneka jajanan berbasis tepung dan micin menjadi teman setianya sepulang sekolah. Aktivitas fisik nyaris tak banyak. Ke sekolah ia naik motor, pulangnya angkot. Perjalanan dari rumah ke sekolah bisa memakan waktu hampir satu jam. Jalan kaki bukan pilihan.
Aluna Nahla Nugraha (16), remaja Gen Z yang berdomisili di Bandung, mulai sadar berat badannya naik sejak SMP tiga tahun lalu.
Ia belum menyebut dirinya obesitas, tapi ada satu kesadaran kecil yang mulai mengusik: tubuhnya terasa “lebih besar” dibanding sebelumnya. Kesadaran itu tidak datang dari angka timbangan semata, melainkan dari kebiasaan yang ia jalani hampir setiap hari—jajan.
Seblak, cilok, aneka jajanan berbasis tepung dan micin menjadi teman setianya sepulang sekolah. Aktivitas fisik nyaris tak banyak. Ke sekolah ia naik motor, pulangnya angkot. Perjalanan dari rumah ke sekolah bisa memakan waktu hampir satu jam. Jalan kaki bukan pilihan.
Di SMP, Aluna memang ikut ekstrakurikuler tari, tetapi tidak terlalu aktif. Geraknya lebih banyak duduk, rebahan, dan—seperti kebanyakan remaja seusianya—berlama-lama dengan ponsel.
Di fase itu, Aluna belum merasakan keluhan kesehatan serius. Tidak ada sesak napas, pusing, atau gangguan medis lain. Karena itulah, rasa urgensinya sempat tertunda. Belum obesitas, belum sakit—masih aman.
Namun tubuhnya memberi sinyal lain. Ia lebih cepat lelah. Aktivitas fisik terasa lebih berat dibanding teman-temannya. Saat olahraga di sekolah, staminanya tertinggal.
“Itu kerasa banget,” katanya pelan.
Di SMP, Aluna memang ikut ekstrakurikuler tari, tetapi tidak terlalu aktif. Geraknya lebih banyak duduk, rebahan, dan—seperti kebanyakan remaja seusianya—berlama-lama dengan ponsel.
Di fase itu, Aluna belum merasakan keluhan kesehatan serius. Tidak ada sesak napas, pusing, atau gangguan medis lain. Karena itulah, rasa urgensinya sempat tertunda. Belum obesitas, belum sakit—masih aman.
Namun tubuhnya memberi sinyal lain. Ia lebih cepat lelah. Aktivitas fisik terasa lebih berat dibanding teman-temannya. Saat olahraga di sekolah, staminanya tertinggal.
“Itu kerasa banget,” katanya pelan.
Di SMP, Aluna memang ikut ekstrakurikuler tari, tetapi tidak terlalu aktif. Geraknya lebih banyak duduk, rebahan, dan—seperti kebanyakan remaja seusianya—berlama-lama dengan ponsel.
Di fase itu, Aluna belum merasakan keluhan kesehatan serius. Tidak ada sesak napas, pusing, atau gangguan medis lain. Karena itulah, rasa urgensinya sempat tertunda. Belum obesitas, belum sakit—masih aman.
Namun tubuhnya memberi sinyal lain. Ia lebih cepat lelah. Aktivitas fisik terasa lebih berat dibanding teman-temannya. Saat olahraga di sekolah, staminanya tertinggal.
“Itu kerasa banget,” katanya pelan.

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
Dari situlah perubahan kecil mulai ia lakukan. Tidak ekstrem, tidak instan. Aluna berhenti makan setelah pukul enam sore. Ia mulai membawa bekal dari rumah—nasi secukupnya, ditambah buah dan sayur. Pola makan perlahan diubah, meski ia mengakui tak selalu patuh.
“Dari dulu mami sudah nyuruh, tapi kadang nurut, kadang enggak,” ujarnya jujur.
Hasilnya tidak langsung, tapi nyata. Berat badannya turun enam kilogram. Dari 75 kg menjadi 69 kg.
Target Aluna sederhana tapi menantang: mencapai berat 60 kilogram saat lulus SMA. Artinya, masih ada sekitar sembilan kilogram lagi yang ingin ia kejar dalam waktu lebih dari setahun. Ia tidak sepenuhnya yakin bisa, tapi ia juga tidak ingin berhenti mencoba.
“Motivasinya masih kurang, mager masih ada. Main HP, rebahan. Tapi dibanding dua tahun lalu, ini sudah berhasil,” akunya.
Dari situlah perubahan kecil mulai ia lakukan. Tidak ekstrem, tidak instan. Aluna berhenti makan setelah pukul enam sore. Ia mulai membawa bekal dari rumah—nasi secukupnya, ditambah buah dan sayur. Pola makan perlahan diubah, meski ia mengakui tak selalu patuh.
“Dari dulu mami sudah nyuruh, tapi kadang nurut, kadang enggak,” ujarnya jujur.
Hasilnya tidak langsung, tapi nyata. Berat badannya turun enam kilogram. Dari 75 kg menjadi 69 kg.
Target Aluna sederhana tapi menantang: mencapai berat 60 kilogram saat lulus SMA. Artinya, masih ada sekitar sembilan kilogram lagi yang ingin ia kejar dalam waktu lebih dari setahun. Ia tidak sepenuhnya yakin bisa, tapi ia juga tidak ingin berhenti mencoba.
“Motivasinya masih kurang, mager masih ada. Main HP, rebahan. Tapi dibanding dua tahun lalu, ini sudah berhasil,” akunya.
Dari situlah perubahan kecil mulai ia lakukan. Tidak ekstrem, tidak instan. Aluna berhenti makan setelah pukul enam sore. Ia mulai membawa bekal dari rumah—nasi secukupnya, ditambah buah dan sayur. Pola makan perlahan diubah, meski ia mengakui tak selalu patuh.
“Dari dulu mami sudah nyuruh, tapi kadang nurut, kadang enggak,” ujarnya jujur.
Hasilnya tidak langsung, tapi nyata. Berat badannya turun enam kilogram. Dari 75 kg menjadi 69 kg.
Target Aluna sederhana tapi menantang: mencapai berat 60 kilogram saat lulus SMA. Artinya, masih ada sekitar sembilan kilogram lagi yang ingin ia kejar dalam waktu lebih dari setahun. Ia tidak sepenuhnya yakin bisa, tapi ia juga tidak ingin berhenti mencoba.
“Motivasinya masih kurang, mager masih ada. Main HP, rebahan. Tapi dibanding dua tahun lalu, ini sudah berhasil,” akunya.

Aluna Nahla Nugraha, remaja di Bandung yang tengah berjuang hidup sehat aktif beraktivitas dan mengendalikan berat badan (IDN Times/Aluna Nahla Nugraha)
Aluna Nahla Nugraha, remaja di Bandung yang tengah berjuang hidup sehat aktif beraktivitas dan mengendalikan berat badan (IDN Times/Aluna Nahla Nugraha)
Jika Aluna hari ini bisa bertemu dirinya tiga tahun lalu—remaja SMP yang gemar jajan dan malas bergerak—ia tahu betul apa yang ingin ia katakan.
“Jangan males olahraga,” ujarnya tegas. “Harus suka makan sayur.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada proses panjang, kesadaran yang datang terlambat, dan perjuangan kecil yang masih terus berjalan. Kisah Aluna adalah potret banyak Gen Z hari ini: tumbuh di tengah gaya hidup sedentari, merasa aman karena belum sakit, lalu pelan-pelan belajar bahwa tubuh juga perlu diajak bergerak—sebelum benar-benar memberi peringatan.
Jika Aluna hari ini bisa bertemu dirinya tiga tahun lalu—remaja SMP yang gemar jajan dan malas bergerak—ia tahu betul apa yang ingin ia katakan.
“Jangan males olahraga,” ujarnya tegas. “Harus suka makan sayur.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada proses panjang, kesadaran yang datang terlambat, dan perjuangan kecil yang masih terus berjalan. Kisah Aluna adalah potret banyak Gen Z hari ini: tumbuh di tengah gaya hidup sedentari, merasa aman karena belum sakit, lalu pelan-pelan belajar bahwa tubuh juga perlu diajak bergerak—sebelum benar-benar memberi peringatan.
Jika Aluna hari ini bisa bertemu dirinya tiga tahun lalu—remaja SMP yang gemar jajan dan malas bergerak—ia tahu betul apa yang ingin ia katakan.
“Jangan males olahraga,” ujarnya tegas. “Harus suka makan sayur.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada proses panjang, kesadaran yang datang terlambat, dan perjuangan kecil yang masih terus berjalan. Kisah Aluna adalah potret banyak Gen Z hari ini: tumbuh di tengah gaya hidup sedentari, merasa aman karena belum sakit, lalu pelan-pelan belajar bahwa tubuh juga perlu diajak bergerak—sebelum benar-benar memberi peringatan.
Cerita-Cerita Ini Bukan Kebetulan
Cerita-Cerita Ini Bukan Kebetulan
Cerita-Cerita Ini Bukan Kebetulan

Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
“Obesitas itu proses panjang. Bisa dimulai sejak anak-anak, bahkan sejak MPASI,”
“Obesitas itu proses panjang. Bisa dimulai sejak anak-anak, bahkan sejak MPASI,”
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menjelaskan mengapa kisah-kisah ini terasa begitu familiar. Pada usia 15–19 tahun, 50,4 persen remaja kurang aktif secara fisik. Di usia 15–24 tahun, 16,2 persen sudah mengalami obesitas sentral.
Lonjakan besar terjadi saat masuk dunia kerja. Pada usia 25–34 tahun, obesitas sentral mencapai 36,2 persen, dan prevalensinya meningkat menjadi 44,7 persen di usia 35–44 tahun.
Perempuan menjadi kelompok paling rentan. Pada usia 25–34 tahun, 54,2 persen perempuan mengalami obesitas sentral. Angka ini melonjak hingga 65,6 persen pada usia 35–44 tahun. Ini bukan masalah “nanti saat tua”. Ini krisis generasi kerja.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menjelaskan mengapa kisah-kisah ini terasa begitu familiar. Pada usia 15–19 tahun, 50,4 persen remaja kurang aktif secara fisik. Di usia 15–24 tahun, 16,2 persen sudah mengalami obesitas sentral.
Lonjakan besar terjadi saat masuk dunia kerja. Pada usia 25–34 tahun, obesitas sentral mencapai 36,2 persen, dan prevalensinya meningkat menjadi 44,7 persen di usia 35–44 tahun.
Perempuan menjadi kelompok paling rentan. Pada usia 25–34 tahun, 54,2 persen perempuan mengalami obesitas sentral. Angka ini melonjak hingga 65,6 persen pada usia 35–44 tahun. Ini bukan masalah “nanti saat tua”. Ini krisis generasi kerja.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menjelaskan mengapa kisah-kisah ini terasa begitu familiar. Pada usia 15–19 tahun, 50,4 persen remaja kurang aktif secara fisik. Di usia 15–24 tahun, 16,2 persen sudah mengalami obesitas sentral.
Lonjakan besar terjadi saat masuk dunia kerja. Pada usia 25–34 tahun, obesitas sentral mencapai 36,2 persen, dan prevalensinya meningkat menjadi 44,7 persen di usia 35–44 tahun.
Perempuan menjadi kelompok paling rentan. Pada usia 25–34 tahun, 54,2 persen perempuan mengalami obesitas sentral. Angka ini melonjak hingga 65,6 persen pada usia 35–44 tahun. Ini bukan masalah “nanti saat tua”. Ini krisis generasi kerja.
Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita, menegaskan obesitas tidak datang tiba-tiba.
“Obesitas itu proses panjang. Bisa dimulai sejak anak-anak, bahkan sejak MPASI,” ujarnya.
Dirinya memprediksi, angka obesitas di indonesia meningkat hingga 19,7 persen pada 2026 dan Gen Z jadi kelompok paling rentan.
Perkiraan ini sejalan dengan gaya hidup Gen Z yang makin praktis, tetapi kian berisiko. Perubahan gaya hidup, pola makan, hingga aktivitas harian yang makin minim gerak menjadi pemicu utama kondisi ini.
Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita, menegaskan obesitas tidak datang tiba-tiba.
“Obesitas itu proses panjang. Bisa dimulai sejak anak-anak, bahkan sejak MPASI,” ujarnya.
Dirinya memprediksi, angka obesitas di indonesia meningkat hingga 19,7 persen pada 2026 dan Gen Z jadi kelompok paling rentan.
Perkiraan ini sejalan dengan gaya hidup Gen Z yang makin praktis, tetapi kian berisiko. Perubahan gaya hidup, pola makan, hingga aktivitas harian yang makin minim gerak menjadi pemicu utama kondisi ini.
Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita, menegaskan obesitas tidak datang tiba-tiba.
“Obesitas itu proses panjang. Bisa dimulai sejak anak-anak, bahkan sejak MPASI,” ujarnya.
Dirinya memprediksi, angka obesitas di indonesia meningkat hingga 19,7 persen pada 2026 dan Gen Z jadi kelompok paling rentan.
Perkiraan ini sejalan dengan gaya hidup Gen Z yang makin praktis, tetapi kian berisiko. Perubahan gaya hidup, pola makan, hingga aktivitas harian yang makin minim gerak menjadi pemicu utama kondisi ini.
Menurut Yenita, salah satu penyebab obesitas pada Gen Z adalah perubahan gaya hidup dibandingkan generasi sebelumnya. Apalagi saat ini, makanan cepat saji sangat mudah dijangkau, sementara makanan alami atau real food sudah jarang dikonsumsi rutin.
Kemudian lanjutnya, kurang aktivitas jadi masalah besar. Dibandingkan 10 tahun lalu, aktivitas fisik anak dan remaja kini jauh berkurang. Dulu, bermain sepeda, berlari, dan berkumpul di lapangan adalah hal biasa. Sekarang, banyak anak lebih sering diam di rumah dan terpaku pada layar gawai.
"Kebiasaan makan sambil bermain gawai membuat asupan makanan meningkat tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup," jelasnya.
Untuk mengurangi angka kasus obesitas, edukasi jadi kunci pencegahan. Yenita menekankan pentingnya edukasi sejak dini. Mulai dari mengubah pola makan, mengatur asupan gizi sesuai kebutuhan, hingga meningkatkan aktivitas fisik harian.
“Anak dan remaja sebaiknya bergerak aktif minimal 60 menit per hari untuk mencegah obesitas dan diabetes,” ujarnya.
Menurut Yenita, salah satu penyebab obesitas pada Gen Z adalah perubahan gaya hidup dibandingkan generasi sebelumnya. Apalagi saat ini, makanan cepat saji sangat mudah dijangkau, sementara makanan alami atau real food sudah jarang dikonsumsi rutin.
Kemudian lanjutnya, kurang aktivitas jadi masalah besar. Dibandingkan 10 tahun lalu, aktivitas fisik anak dan remaja kini jauh berkurang. Dulu, bermain sepeda, berlari, dan berkumpul di lapangan adalah hal biasa. Sekarang, banyak anak lebih sering diam di rumah dan terpaku pada layar gawai.
"Kebiasaan makan sambil bermain gawai membuat asupan makanan meningkat tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup," jelasnya.
Untuk mengurangi angka kasus obesitas, edukasi jadi kunci pencegahan. Yenita menekankan pentingnya edukasi sejak dini. Mulai dari mengubah pola makan, mengatur asupan gizi sesuai kebutuhan, hingga meningkatkan aktivitas fisik harian.
“Anak dan remaja sebaiknya bergerak aktif minimal 60 menit per hari untuk mencegah obesitas dan diabetes,” ujarnya.
Menurut Yenita, salah satu penyebab obesitas pada Gen Z adalah perubahan gaya hidup dibandingkan generasi sebelumnya. Apalagi saat ini, makanan cepat saji sangat mudah dijangkau, sementara makanan alami atau real food sudah jarang dikonsumsi rutin.
Kemudian lanjutnya, kurang aktivitas jadi masalah besar. Dibandingkan 10 tahun lalu, aktivitas fisik anak dan remaja kini jauh berkurang. Dulu, bermain sepeda, berlari, dan berkumpul di lapangan adalah hal biasa. Sekarang, banyak anak lebih sering diam di rumah dan terpaku pada layar gawai.
"Kebiasaan makan sambil bermain gawai membuat asupan makanan meningkat tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup," jelasnya.
Untuk mengurangi angka kasus obesitas, edukasi jadi kunci pencegahan. Yenita menekankan pentingnya edukasi sejak dini. Mulai dari mengubah pola makan, mengatur asupan gizi sesuai kebutuhan, hingga meningkatkan aktivitas fisik harian.
“Anak dan remaja sebaiknya bergerak aktif minimal 60 menit per hari untuk mencegah obesitas dan diabetes,” ujarnya.
Obesitas kata Yenita, bukan kondisi yang tak bisa diubah. Karena jika memiliki keinginan kuat untuk mengubah pola hidup, berat badan bisa diturunkan secara bertahap.
Dokter Klinik Obesitas RS Charitas Palembang, Katharina Dwijanti A, menegaskan obesitas adalah akar banyak penyakit.
“Obesitas memicu jantung, diabetes, hipertensi, sampai gangguan mental,” ujarnya.
Masalahnya sering kali bukan porsi makan besar, melainkan kebiasaan ngemil dan gaya hidup sedentari.
“Sudah makan kenyang, lalu duduk nonton TV. Ini kebiasaan yang sangat umum,” katanya.
Diet bukan tidak makan, melainkan mengatur. Perubahan kecil tapi konsisten menjadi kunci.
Obesitas kata Yenita, bukan kondisi yang tak bisa diubah. Karena jika memiliki keinginan kuat untuk mengubah pola hidup, berat badan bisa diturunkan secara bertahap.
Dokter Klinik Obesitas RS Charitas Palembang, Katharina Dwijanti A, menegaskan obesitas adalah akar banyak penyakit.
“Obesitas memicu jantung, diabetes, hipertensi, sampai gangguan mental,” ujarnya.
Masalahnya sering kali bukan porsi makan besar, melainkan kebiasaan ngemil dan gaya hidup sedentari.
“Sudah makan kenyang, lalu duduk nonton TV. Ini kebiasaan yang sangat umum,” katanya.
Diet bukan tidak makan, melainkan mengatur. Perubahan kecil tapi konsisten menjadi kunci.
Obesitas kata Yenita, bukan kondisi yang tak bisa diubah. Karena jika memiliki keinginan kuat untuk mengubah pola hidup, berat badan bisa diturunkan secara bertahap.
Dokter Klinik Obesitas RS Charitas Palembang, Katharina Dwijanti A, menegaskan obesitas adalah akar banyak penyakit.
“Obesitas memicu jantung, diabetes, hipertensi, sampai gangguan mental,” ujarnya.
Masalahnya sering kali bukan porsi makan besar, melainkan kebiasaan ngemil dan gaya hidup sedentari.
“Sudah makan kenyang, lalu duduk nonton TV. Ini kebiasaan yang sangat umum,” katanya.
Diet bukan tidak makan, melainkan mengatur. Perubahan kecil tapi konsisten menjadi kunci.
Bukan Soal Malas, Tapi Sistem Hidup
Bukan Soal Malas, Tapi Sistem Hidup
Bukan Soal Malas, Tapi Sistem Hidup

(IDN Times/Mardya Shakti)
(IDN Times/Mardya Shakti)
“Sudah makan kenyang, lalu duduk nonton TV. Ini kebiasaan yang sangat umum,”
“Sudah makan kenyang, lalu duduk nonton TV. Ini kebiasaan yang sangat umum,”
Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni, menegaskan gaya hidup sedentari berdampak luas.
“Dalam jangka panjang, motivasi menurun, harga diri melemah, dan produktivitas terganggu,” ujarnya.
Data SKI 2023 menunjukkan pada usia 15–19 tahun, 50,4 persen remaja kurang aktif secara fisik. Di usia kerja 25–45 tahun, lebih dari 66 persen menyebut “tidak ada waktu” sebagai alasan utama.
Wilayah perkotaan menjadi episentrum krisis. Ironisnya, kelompok ekonomi menengah atas justru lebih pasif karena pekerjaannya minim gerak.
Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni, menegaskan gaya hidup sedentari berdampak luas.
“Dalam jangka panjang, motivasi menurun, harga diri melemah, dan produktivitas terganggu,” ujarnya.
Data SKI 2023 menunjukkan pada usia 15–19 tahun, 50,4 persen remaja kurang aktif secara fisik. Di usia kerja 25–45 tahun, lebih dari 66 persen menyebut “tidak ada waktu” sebagai alasan utama.
Wilayah perkotaan menjadi episentrum krisis. Ironisnya, kelompok ekonomi menengah atas justru lebih pasif karena pekerjaannya minim gerak.
Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni, menegaskan gaya hidup sedentari berdampak luas.
“Dalam jangka panjang, motivasi menurun, harga diri melemah, dan produktivitas terganggu,” ujarnya.
Data SKI 2023 menunjukkan pada usia 15–19 tahun, 50,4 persen remaja kurang aktif secara fisik. Di usia kerja 25–45 tahun, lebih dari 66 persen menyebut “tidak ada waktu” sebagai alasan utama.
Wilayah perkotaan menjadi episentrum krisis. Ironisnya, kelompok ekonomi menengah atas justru lebih pasif karena pekerjaannya minim gerak.

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni (IDN Times/Rangga Erfizal)
Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni (IDN Times/Rangga Erfizal)
Jika semua cerita ini disusun berjajar, satu kesimpulan menjadi jelas: overweight dan obesitas pada Gen Z dan milenial adalah produk zaman.
Mereka tumbuh di sistem pendidikan minim aktivitas fisik, bekerja di dunia yang menuntut duduk lama, dan hidup di kota yang tidak ramah gerak.
Tubuh anak muda Indonesia kini mengirim sinyal bahaya. Pertanyaannya bukan lagi apakah obesitas akan menjadi masalah besar, melainkan berapa banyak yang baru sadar setelah tubuh memaksa berhenti.
Jika semua cerita ini disusun berjajar, satu kesimpulan menjadi jelas: overweight dan obesitas pada Gen Z dan milenial adalah produk zaman.
Mereka tumbuh di sistem pendidikan minim aktivitas fisik, bekerja di dunia yang menuntut duduk lama, dan hidup di kota yang tidak ramah gerak.
Tubuh anak muda Indonesia kini mengirim sinyal bahaya. Pertanyaannya bukan lagi apakah obesitas akan menjadi masalah besar, melainkan berapa banyak yang baru sadar setelah tubuh memaksa berhenti.
Jika semua cerita ini disusun berjajar, satu kesimpulan menjadi jelas: overweight dan obesitas pada Gen Z dan milenial adalah produk zaman.
Mereka tumbuh di sistem pendidikan minim aktivitas fisik, bekerja di dunia yang menuntut duduk lama, dan hidup di kota yang tidak ramah gerak.
Tubuh anak muda Indonesia kini mengirim sinyal bahaya. Pertanyaannya bukan lagi apakah obesitas akan menjadi masalah besar, melainkan berapa banyak yang baru sadar setelah tubuh memaksa berhenti.
Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!
Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!
Disusun oleh
Tim Editorial
Hafidz Trijatnika - Project Lead
Linggauni - Editor
Yogie Fadila - Editor
Mardya Shakti - Desainer Grafis
Tim Penulis:
Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)
Indah Permata Sari (Sumatra Utara)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Feny Maulia Agustin (Sumatra Selatan)
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Hafidz Trijatnika - Project Lead
Linggauni - Editor
Yogie Fadila - Editor
Mardya Shakti - Desainer Grafis
Tim Penulis:
Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)
Indah Permata Sari (Sumatra Utara)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Feny Maulia Agustin (Sumatra Selatan)
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Hafidz Trijatnika - Project Lead
Linggauni - Editor
Yogie Fadila - Editor
Mardya Shakti - Desainer Grafis
Tim Penulis:
Ayu Afria Ulita Ermalia (Bali)
Indah Permata Sari (Sumatra Utara)
Rangga Erfizal (Sumatra Selatan)
Feny Maulia Agustin (Sumatra Selatan)
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.






