Tingkat literasi bukan hal baru dan tidak hanya berbicara soal bisa membaca. Dengan tingkat literasi, seseorang juga diharapkan bisa memahami, mengkritisi, bahkan menggunakan dan memberdayakan tulisan tersebut. Bagaimana potret literasi di tengah anak muda?

Tingkat literasi bukan hal baru dan tidak hanya berbicara soal bisa membaca. Dengan tingkat literasi, seseorang juga diharapkan bisa memahami, mengkritisi, bahkan menggunakan dan memberdayakan tulisan tersebut. Bagaimana potret literasi di tengah anak muda?

Tingkat literasi bukan hal baru dan tidak hanya berbicara soal bisa membaca. Dengan tingkat literasi, seseorang juga diharapkan bisa memahami, mengkritisi, bahkan menggunakan dan memberdayakan tulisan tersebut. Bagaimana potret literasi di tengah anak muda?

Potret hitam putih literasi di kalangan anak muda

Potret hitam putih literasi di kalangan anak muda

Potret hitam putih literasi di kalangan anak muda

Laporan dari Surabaya (Jawa Timur),Yogyakarta (DIY), Bandung (Jawa Barat), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatra Utara), Tangerang (Banten), Bali, dan DKI Jakarta.

IDN Times - Kota Pahlawan tidak pernah benar-benar sunyi. Surabaya menyimpan jejak manusia yang bergerak di setiap sudut kota, dari jalan-jalan besar yang padat hingga pojok-pojok taman yang teduh oleh pohon tua. 

Di sebuah warung kopi kecil di kawasan Ketintang, seorang pemuda duduk sendirian pada suatu Sabtu sore (8/11/2025) yang lembab. Ia memakai topi hitam, kaos yang warnanya mulai pudar, dan celana jeans yang telah sering dicuci oleh waktu. 

Di depannya, ada secangkir kopi hitam yang tidak disentuh. Ia memegang ponsel dengan kedua tangan, jari-jarinya menari cepat. Ia tidak sedang membaca berita panjang, tidak membuka artikel, tidak menelusuri esai atau buku digital. Ia sedang bermain gim.

Laporan dari Surabaya (Jawa Timur),Yogyakarta (DIY), Bandung (Jawa Barat), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatra Utara), Tangerang (Banten), Bali, dan DKI Jakarta.

IDN Times - Kota Pahlawan tidak pernah benar-benar sunyi. Surabaya menyimpan jejak manusia yang bergerak di setiap sudut kota, dari jalan-jalan besar yang padat hingga pojok-pojok taman yang teduh oleh pohon tua. 

Di sebuah warung kopi kecil di kawasan Ketintang, seorang pemuda duduk sendirian pada suatu Sabtu sore (8/11/2025) yang lembab. Ia memakai topi hitam, kaos yang warnanya mulai pudar, dan celana jeans yang telah sering dicuci oleh waktu. 

Di depannya, ada secangkir kopi hitam yang tidak disentuh. Ia memegang ponsel dengan kedua tangan, jari-jarinya menari cepat. Ia tidak sedang membaca berita panjang, tidak membuka artikel, tidak menelusuri esai atau buku digital. Ia sedang bermain gim.

Laporan dari Surabaya (Jawa Timur),Yogyakarta (DIY), Bandung (Jawa Barat), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatra Utara), Tangerang (Banten), Bali, dan DKI Jakarta.

IDN Times - Kota Pahlawan tidak pernah benar-benar sunyi. Surabaya menyimpan jejak manusia yang bergerak di setiap sudut kota, dari jalan-jalan besar yang padat hingga pojok-pojok taman yang teduh oleh pohon tua. 

Di sebuah warung kopi kecil di kawasan Ketintang, seorang pemuda duduk sendirian pada suatu Sabtu sore (8/11/2025) yang lembab. Ia memakai topi hitam, kaos yang warnanya mulai pudar, dan celana jeans yang telah sering dicuci oleh waktu. 

Di depannya, ada secangkir kopi hitam yang tidak disentuh. Ia memegang ponsel dengan kedua tangan, jari-jarinya menari cepat. Ia tidak sedang membaca berita panjang, tidak membuka artikel, tidak menelusuri esai atau buku digital. Ia sedang bermain gim.

Dia kerap disapa Reyner--bukan nama sebenarnya– 22 tahun, baru lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur. Ia sedang mencari pekerjaan atau lebih tepatnya, ia sedang berusaha memahami bagaimana caranya menemukan tempat baginya di kota yang bergerak cepat ini. Ia sudah melamar ke beberapa tempat, tetapi berkali-kali ia terantuk pada hal yang sama, ia tidak membaca syarat lowongan dengan teliti.

Dia melewatkan pengalaman minimal, sertifikasi wajib, batas usia, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak memerlukan kecerdasan tinggi, hanya memerlukan perhatian yang sedikit lebih lama. “Ya, beberapa kali gitu,” ujarnya ringan, matanya tetap tertuju pada layar.

“Dan sampai sekarang belum dapat,” katanya melanjutkan. Tidak ada getir, tidak ada kesal. Ia menyebutkannya seperti seseorang yang menyebut kondisi cuaca.

Dia kerap disapa Reyner--bukan nama sebenarnya– 22 tahun, baru lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur. Ia sedang mencari pekerjaan atau lebih tepatnya, ia sedang berusaha memahami bagaimana caranya menemukan tempat baginya di kota yang bergerak cepat ini. Ia sudah melamar ke beberapa tempat, tetapi berkali-kali ia terantuk pada hal yang sama, ia tidak membaca syarat lowongan dengan teliti.

Dia melewatkan pengalaman minimal, sertifikasi wajib, batas usia, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak memerlukan kecerdasan tinggi, hanya memerlukan perhatian yang sedikit lebih lama. “Ya, beberapa kali gitu,” ujarnya ringan, matanya tetap tertuju pada layar.

“Dan sampai sekarang belum dapat,” katanya melanjutkan. Tidak ada getir, tidak ada kesal. Ia menyebutkannya seperti seseorang yang menyebut kondisi cuaca.

Dia kerap disapa Reyner--bukan nama sebenarnya– 22 tahun, baru lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur. Ia sedang mencari pekerjaan atau lebih tepatnya, ia sedang berusaha memahami bagaimana caranya menemukan tempat baginya di kota yang bergerak cepat ini. Ia sudah melamar ke beberapa tempat, tetapi berkali-kali ia terantuk pada hal yang sama, ia tidak membaca syarat lowongan dengan teliti.

Dia melewatkan pengalaman minimal, sertifikasi wajib, batas usia, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak memerlukan kecerdasan tinggi, hanya memerlukan perhatian yang sedikit lebih lama. “Ya, beberapa kali gitu,” ujarnya ringan, matanya tetap tertuju pada layar.

“Dan sampai sekarang belum dapat,” katanya melanjutkan. Tidak ada getir, tidak ada kesal. Ia menyebutkannya seperti seseorang yang menyebut kondisi cuaca.

“Aku suka (bacaan) yang inti aja, yang cepat, yang langsung masuk”

Reyner, 22

“Aku suka (bacaan) yang inti aja, yang cepat, yang langsung masuk”

Reyner, 22

“Aku suka (bacaan) yang inti aja, yang cepat, yang langsung masuk”

Reyner, 22

“Aku suka (bacaan) yang inti aja, yang cepat, yang langsung masuk”

Reyner, 22

Rey tidak tumbuh dalam kebiasaan membaca. Ia membaca buku pelajaran karena harus, bukan karena ingin. Buku baginya adalah sesuatu yang rumit, sesuatu yang memerlukan kesabaran. Dan sabar terasa berat ketika dunia menawarkan hal-hal cepat, kilat, instan. Satu paragraf, satu slide, satu video berdurasi delapan detik yang dapat merangkum tragedi, skandal, gosip, dan pengetahuan dalam satu tarikan napas.

Rey tahu banyak, tetapi hanya di permukaan. Tidak ada yang masuk cukup dalam untuk mengubah caranya memandang sesuatu.

Rey tidak tumbuh dalam kebiasaan membaca. Ia membaca buku pelajaran karena harus, bukan karena ingin. Buku baginya adalah sesuatu yang rumit, sesuatu yang memerlukan kesabaran. Dan sabar terasa berat ketika dunia menawarkan hal-hal cepat, kilat, instan. Satu paragraf, satu slide, satu video berdurasi delapan detik yang dapat merangkum tragedi, skandal, gosip, dan pengetahuan dalam satu tarikan napas.

Rey tahu banyak, tetapi hanya di permukaan. Tidak ada yang masuk cukup dalam untuk mengubah caranya memandang sesuatu.

Rey tidak tumbuh dalam kebiasaan membaca. Ia membaca buku pelajaran karena harus, bukan karena ingin. Buku baginya adalah sesuatu yang rumit, sesuatu yang memerlukan kesabaran. Dan sabar terasa berat ketika dunia menawarkan hal-hal cepat, kilat, instan. Satu paragraf, satu slide, satu video berdurasi delapan detik yang dapat merangkum tragedi, skandal, gosip, dan pengetahuan dalam satu tarikan napas.

Rey tahu banyak, tetapi hanya di permukaan. Tidak ada yang masuk cukup dalam untuk mengubah caranya memandang sesuatu.

Bergeser sedikit dari tempat nongkrong Rey, tepatnya di sebuah kafe kecil di Wonokromo, seorang perempuan bernama Novia Herawati duduk dengan tenang. Perempuan 24 tahun itu memegang cangkir coklat panas dengan dua tangan, seperti seseorang yang menjaga sumber kehangatan agar tidak padam. 

Di depannya ada sebuah buku yang sudah terbuka separuh. Sesekali ia tersenyum kecil, bukan karena lucu, tetapi karena ia menemukan dirinya di antara baris kalimat.

Bergeser sedikit dari tempat nongkrong Rey, tepatnya di sebuah kafe kecil di Wonokromo, seorang perempuan bernama Novia Herawati duduk dengan tenang. Perempuan 24 tahun itu memegang cangkir coklat panas dengan dua tangan, seperti seseorang yang menjaga sumber kehangatan agar tidak padam. 

Di depannya ada sebuah buku yang sudah terbuka separuh. Sesekali ia tersenyum kecil, bukan karena lucu, tetapi karena ia menemukan dirinya di antara baris kalimat.

Bergeser sedikit dari tempat nongkrong Rey, tepatnya di sebuah kafe kecil di Wonokromo, seorang perempuan bernama Novia Herawati duduk dengan tenang. Perempuan 24 tahun itu memegang cangkir coklat panas dengan dua tangan, seperti seseorang yang menjaga sumber kehangatan agar tidak padam. 

Di depannya ada sebuah buku yang sudah terbuka separuh. Sesekali ia tersenyum kecil, bukan karena lucu, tetapi karena ia menemukan dirinya di antara baris kalimat.

Novia membaca karena ia menemukan rumah di sana. Bukan rumah sebagai tempat tinggal, melainkan tempat bernapas. Ia membaca ketika sekolah, ketika menyusun skripsi, ketika hatinya sedang teratur, ketika hatinya sedang berantakan. Buku membuatnya tetap utuh.

“Mungkin ini caraku untuk tetap waras,” ucapnya pelan. 

Ia tidak terburu-buru menuntaskan halaman. Ketika bagian terasa berat, ia berhenti. Tidur. Lalu kembali. Buku baginya bukan tugas. Buku adalah percakapan.

Rey dan Novia hidup dalam kota yang sama, generasi yang sama. Tetapi satu hidup dalam
lapisan cepat, satu di kedalaman yang pelan. Surabaya menyimpan keduanya.

Novia membaca karena ia menemukan rumah di sana. Bukan rumah sebagai tempat tinggal, melainkan tempat bernapas. Ia membaca ketika sekolah, ketika menyusun skripsi, ketika hatinya sedang teratur, ketika hatinya sedang berantakan. Buku membuatnya tetap utuh.

“Mungkin ini caraku untuk tetap waras,” ucapnya pelan. 

Ia tidak terburu-buru menuntaskan halaman. Ketika bagian terasa berat, ia berhenti. Tidur. Lalu kembali. Buku baginya bukan tugas. Buku adalah percakapan.

Rey dan Novia hidup dalam kota yang sama, generasi yang sama. Tetapi satu hidup dalam
lapisan cepat, satu di kedalaman yang pelan. Surabaya menyimpan keduanya.

Novia membaca karena ia menemukan rumah di sana. Bukan rumah sebagai tempat tinggal, melainkan tempat bernapas. Ia membaca ketika sekolah, ketika menyusun skripsi, ketika hatinya sedang teratur, ketika hatinya sedang berantakan. Buku membuatnya tetap utuh.

“Mungkin ini caraku untuk tetap waras,” ucapnya pelan. 

Ia tidak terburu-buru menuntaskan halaman. Ketika bagian terasa berat, ia berhenti. Tidur. Lalu kembali. Buku baginya bukan tugas. Buku adalah percakapan.

Rey dan Novia hidup dalam kota yang sama, generasi yang sama. Tetapi satu hidup dalam
lapisan cepat, satu di kedalaman yang pelan. Surabaya menyimpan keduanya.

Kata Data soal Literasi di Indonesia

Kata Data soal Literasi di Indonesia

Kata Data soal Literasi di Indonesia

Kemampuan membaca siswa Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Kemampuan membaca siswa Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Kemampuan membaca siswa Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Kemampuan membaca siswa Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Tingkat literasi bukan hal baru dan tidak hanya berbicara soal bisa membaca. Dengan tingkat literasi, seseorang juga diharapkan bisa memahami, mengkritisi, bahkan menggunakan dan memberdayakan tulisan tersebut. 

Di usia 80 tahun, Indonesia masih berjuang untuk menaikkan tingkat literasi, khususnya di kalangan anak muda. Literasi merupakan salah satu kunci penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa, terutama di tengah jargon "Generasi Emas 2045" yang digaungkan pemerintah

Tingkat literasi bukan hal baru dan tidak hanya berbicara soal bisa membaca. Dengan tingkat literasi, seseorang juga diharapkan bisa memahami, mengkritisi, bahkan menggunakan dan memberdayakan tulisan tersebut. 

Di usia 80 tahun, Indonesia masih berjuang untuk menaikkan tingkat literasi, khususnya di kalangan anak muda. Literasi merupakan salah satu kunci penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa, terutama di tengah jargon "Generasi Emas 2045" yang digaungkan pemerintah

Tingkat literasi bukan hal baru dan tidak hanya berbicara soal bisa membaca. Dengan tingkat literasi, seseorang juga diharapkan bisa memahami, mengkritisi, bahkan menggunakan dan memberdayakan tulisan tersebut. 

Di usia 80 tahun, Indonesia masih berjuang untuk menaikkan tingkat literasi, khususnya di kalangan anak muda. Literasi merupakan salah satu kunci penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa, terutama di tengah jargon "Generasi Emas 2045" yang digaungkan pemerintah

Dalam risalah kebijakan tahun 2024 bertajuk Meningkatkan Literasi Indonesia Melalui Peran Optimasi Peran Buku yang dikutip dari kemendikdasmen.go.id, tertulis bahwa tingkat literasi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan dunia. Kesimpulan risalah itu mengacu pada hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) [1] .

Hasil studi itu mengungkap bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-6 di Asia Tenggara dan 69 dunia–dalam hal kemampuan membaca pada siswa usia 15 tahun. Skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia adalah 359 poin, lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia [2].

Singapura mencatatkan diri sebagai negara dengan score tertinggi, bahkan di tingkat dunia dengan angka 543. Sementara rata-rata tingkat literasi OECD ada di angka 476. 

Dalam risalah kebijakan tahun 2024 bertajuk Meningkatkan Literasi Indonesia Melalui Peran Optimasi Peran Buku yang dikutip dari kemendikdasmen.go.id, tertulis bahwa tingkat literasi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan dunia. Kesimpulan risalah itu mengacu pada hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) [1] .

Hasil studi itu mengungkap bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-6 di Asia Tenggara dan 69 dunia–dalam hal kemampuan membaca pada siswa usia 15 tahun. Skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia adalah 359 poin, lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia [2].

Singapura mencatatkan diri sebagai negara dengan score tertinggi, bahkan di tingkat dunia dengan angka 543. Sementara rata-rata tingkat literasi OECD ada di angka 476. 

Dalam risalah kebijakan tahun 2024 bertajuk Meningkatkan Literasi Indonesia Melalui Peran Optimasi Peran Buku yang dikutip dari kemendikdasmen.go.id, tertulis bahwa tingkat literasi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan dunia. Kesimpulan risalah itu mengacu pada hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) [1] .

Hasil studi itu mengungkap bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-6 di Asia Tenggara dan 69 dunia–dalam hal kemampuan membaca pada siswa usia 15 tahun. Skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia adalah 359 poin, lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia [2].

Singapura mencatatkan diri sebagai negara dengan score tertinggi, bahkan di tingkat dunia dengan angka 543. Sementara rata-rata tingkat literasi OECD ada di angka 476. 

IDN Times lalu melakukan survei dengan 200 responden untuk menangkap potret literasi pada anak muda, khususnya dengan penggunaaan artificial intelligence (AI). Dalam survei itu terungkap ada 39,5 persen yang mengaku menggunakan AI untuk memahami teks panjang.  Sebagian berasalan bahwa AI membantu mereka dalam membuat poin-poin bacaan, sehingga bisa memahami bacaan panjang tersebut.

Dalam survei itu pun, ada 21 responden yang mengaku tidak membaca buku sama sekali dalam sebulan. Ini jumlah terbanyak kedua. Di posisi pertama, 158 responden mengaku membaca 1-5 buku dalam 1 bulan.

Di sisi lain, sebanyak 47 persen responden juga mengaku kesulitan dalam memahami bacaan yang panjang/ilmiah. Meski angka ini bukan mayoritas, namun angkanya cukup besar, yakni 94 dari 200 responden.

Berikut survei IDN Times selengkapnya:

IDN Times lalu melakukan survei dengan 200 responden untuk menangkap potret literasi pada anak muda, khususnya dengan penggunaaan artificial intelligence (AI). Dalam survei itu terungkap ada 39,5 persen yang mengaku menggunakan AI untuk memahami teks panjang.  Sebagian berasalan bahwa AI membantu mereka dalam membuat poin-poin bacaan, sehingga bisa memahami bacaan panjang tersebut.

Dalam survei itu pun, ada 21 responden yang mengaku tidak membaca buku sama sekali dalam sebulan. Ini jumlah terbanyak kedua. Di posisi pertama, 158 responden mengaku membaca 1-5 buku dalam 1 bulan.

Di sisi lain, sebanyak 47 persen responden juga mengaku kesulitan dalam memahami bacaan yang panjang/ilmiah. Meski angka ini bukan mayoritas, namun angkanya cukup besar, yakni 94 dari 200 responden.

Berikut survei IDN Times selengkapnya:

IDN Times lalu melakukan survei dengan 200 responden untuk menangkap potret literasi pada anak muda, khususnya dengan penggunaaan artificial intelligence (AI). Dalam survei itu terungkap ada 39,5 persen yang mengaku menggunakan AI untuk memahami teks panjang.  Sebagian berasalan bahwa AI membantu mereka dalam membuat poin-poin bacaan, sehingga bisa memahami bacaan panjang tersebut.

Dalam survei itu pun, ada 21 responden yang mengaku tidak membaca buku sama sekali dalam sebulan. Ini jumlah terbanyak kedua. Di posisi pertama, 158 responden mengaku membaca 1-5 buku dalam 1 bulan.

Di sisi lain, sebanyak 47 persen responden juga mengaku kesulitan dalam memahami bacaan yang panjang/ilmiah. Meski angka ini bukan mayoritas, namun angkanya cukup besar, yakni 94 dari 200 responden.

Berikut survei IDN Times selengkapnya:

Andil Teknologi dalam Kemampuan Literasi

Andil Teknologi dalam Kemampuan Literasi

Andil Teknologi dalam Kemampuan Literasi

"Banyak mahasiswa yang menggunakan AI sebagai alat cheat, dalam mengerjakan tugas seluruhnya menggunakan AI"

Ismail Jahidin, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed)

"Banyak mahasiswa yang menggunakan AI sebagai alat cheat, dalam mengerjakan tugas seluruhnya menggunakan AI"

Ismail Jahidin, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed)

"Banyak mahasiswa yang menggunakan AI sebagai alat cheat, dalam mengerjakan tugas seluruhnya menggunakan AI"

Ismail Jahidin, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed)

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) Ismail Jahidin melihat fenomena minimnya tingkat literasi anak muda, khususnya di bangku kuliah Tanah Air.  Menurut Ismail, kondisi rendahnya tingkat literasi ini disebabkan banyak faktor, mulai dari rendahnya keingintahuan terhadap sesuatu hingga perkembangan teknologi.

Perkembangan teknologi yang seharusnya memudahkan mahasiswa, justru kerap tidak dimanfaatkan dengan baik. Kecanggihan ini seringkali hanya digunakan untuk melihat perkembangan di media sosial, membaca informasi sepenggal, bahkan tanpa filter.

“Padahal dengan jaringan internet yang masif itu bisa dimanfaatkan. Buku juga tidak lagi berbentuk fisik, bisa diakses secara daring. Sayangnya itu tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya. 

Di tengah minimnya kesadaran literasi, perkembangan teknologi justru menjadi tantangan. Hadirnya AI seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, dia bisa menjadi masalah karena digunakan hanya sebagai jalan pintas. Ismail juga menemukan mahasiswa memanfaatkan AI dalam mengerjakan tugas perkuliahan. "Banyak mahasiswa yangg menggunakan AI sebagai alat cheat, dalam mengerjakan tugas seluruh nya menggunakan AI," kata dia.

Ismail tidak menolak penggunaan AI. Namun dia menekankan, penggunaan kecerdasan buatan harus dibarengi dengan pengawasan menyeluruh. “(Mahasiswa) Jangan terlalu terlena karena mudah mendapatkan informasinya, tetap harus divalidasi dengan sumber-sumber yang relevan dan tentunya memiliki kredibilitas,” katanya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) Ismail Jahidin melihat fenomena minimnya tingkat literasi anak muda, khususnya di bangku kuliah Tanah Air.  Menurut Ismail, kondisi rendahnya tingkat literasi ini disebabkan banyak faktor, mulai dari rendahnya keingintahuan terhadap sesuatu hingga perkembangan teknologi.

Perkembangan teknologi yang seharusnya memudahkan mahasiswa, justru kerap tidak dimanfaatkan dengan baik. Kecanggihan ini seringkali hanya digunakan untuk melihat perkembangan di media sosial, membaca informasi sepenggal, bahkan tanpa filter.

“Padahal dengan jaringan internet yang masif itu bisa dimanfaatkan. Buku juga tidak lagi berbentuk fisik, bisa diakses secara daring. Sayangnya itu tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya. 

Di tengah minimnya kesadaran literasi, perkembangan teknologi justru menjadi tantangan. Hadirnya AI seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, dia bisa menjadi masalah karena digunakan hanya sebagai jalan pintas. Ismail juga menemukan mahasiswa memanfaatkan AI dalam mengerjakan tugas perkuliahan. "Banyak mahasiswa yangg menggunakan AI sebagai alat cheat, dalam mengerjakan tugas seluruh nya menggunakan AI," kata dia.

Ismail tidak menolak penggunaan AI. Namun dia menekankan, penggunaan kecerdasan buatan harus dibarengi dengan pengawasan menyeluruh. “(Mahasiswa) Jangan terlalu terlena karena mudah mendapatkan informasinya, tetap harus divalidasi dengan sumber-sumber yang relevan dan tentunya memiliki kredibilitas,” katanya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) Ismail Jahidin melihat fenomena minimnya tingkat literasi anak muda, khususnya di bangku kuliah Tanah Air.  Menurut Ismail, kondisi rendahnya tingkat literasi ini disebabkan banyak faktor, mulai dari rendahnya keingintahuan terhadap sesuatu hingga perkembangan teknologi.

Perkembangan teknologi yang seharusnya memudahkan mahasiswa, justru kerap tidak dimanfaatkan dengan baik. Kecanggihan ini seringkali hanya digunakan untuk melihat perkembangan di media sosial, membaca informasi sepenggal, bahkan tanpa filter.

“Padahal dengan jaringan internet yang masif itu bisa dimanfaatkan. Buku juga tidak lagi berbentuk fisik, bisa diakses secara daring. Sayangnya itu tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya. 

Di tengah minimnya kesadaran literasi, perkembangan teknologi justru menjadi tantangan. Hadirnya AI seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, dia bisa menjadi masalah karena digunakan hanya sebagai jalan pintas. Ismail juga menemukan mahasiswa memanfaatkan AI dalam mengerjakan tugas perkuliahan. "Banyak mahasiswa yangg menggunakan AI sebagai alat cheat, dalam mengerjakan tugas seluruh nya menggunakan AI," kata dia.

Ismail tidak menolak penggunaan AI. Namun dia menekankan, penggunaan kecerdasan buatan harus dibarengi dengan pengawasan menyeluruh. “(Mahasiswa) Jangan terlalu terlena karena mudah mendapatkan informasinya, tetap harus divalidasi dengan sumber-sumber yang relevan dan tentunya memiliki kredibilitas,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan kolega Ismail, Ricky A Putra. Dia juga menilai, tingkat literasi di kalangan mahasiswa menurun. Fenomena ini menurut Ricky sudah terjadi sejak lama.

Saat ini, kata dia, hilangnya budaya membaca buku dan penelusuran informasi yang akurat seolah menjadi fakta yang lumrah. Tanpa harus menormalisasi kondisi, Ricky menitikberatkan pada perkembangan teknologi sebagai faktor pendukung minimnya tingkat literasi. 

“Di berbagai platform sudah menyajikan informasi terkait dunia perkuliahan sehingga membuat dilema mahasiswa seakan-akan sudah memahami tentang perkuliahan secara praktis," kata dia.

Beberapa akun di media sosial menyajikan informasi mengenai materi perkuliahan, namun nformasi yang disajikan hanya sebatas dasar-dasar saja. "(Setelah melihat akun), mahasiswa kemudian merasa bahwa dia sudah mengetahui banyak hal,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan kolega Ismail, Ricky A Putra. Dia juga menilai, tingkat literasi di kalangan mahasiswa menurun. Fenomena ini menurut Ricky sudah terjadi sejak lama.

Saat ini, kata dia, hilangnya budaya membaca buku dan penelusuran informasi yang akurat seolah menjadi fakta yang lumrah. Tanpa harus menormalisasi kondisi, Ricky menitikberatkan pada perkembangan teknologi sebagai faktor pendukung minimnya tingkat literasi. 

“Di berbagai platform sudah menyajikan informasi terkait dunia perkuliahan sehingga membuat dilema mahasiswa seakan-akan sudah memahami tentang perkuliahan secara praktis," kata dia.

Beberapa akun di media sosial menyajikan informasi mengenai materi perkuliahan, namun nformasi yang disajikan hanya sebatas dasar-dasar saja. "(Setelah melihat akun), mahasiswa kemudian merasa bahwa dia sudah mengetahui banyak hal,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan kolega Ismail, Ricky A Putra. Dia juga menilai, tingkat literasi di kalangan mahasiswa menurun. Fenomena ini menurut Ricky sudah terjadi sejak lama.

Saat ini, kata dia, hilangnya budaya membaca buku dan penelusuran informasi yang akurat seolah menjadi fakta yang lumrah. Tanpa harus menormalisasi kondisi, Ricky menitikberatkan pada perkembangan teknologi sebagai faktor pendukung minimnya tingkat literasi. 

“Di berbagai platform sudah menyajikan informasi terkait dunia perkuliahan sehingga membuat dilema mahasiswa seakan-akan sudah memahami tentang perkuliahan secara praktis," kata dia.

Beberapa akun di media sosial menyajikan informasi mengenai materi perkuliahan, namun nformasi yang disajikan hanya sebatas dasar-dasar saja. "(Setelah melihat akun), mahasiswa kemudian merasa bahwa dia sudah mengetahui banyak hal,” katanya.

Selain perkembangan teknologi, Ricky juga memberikan sorotan pada perubahan budaya perkuliahan. Satu dekade yang lewat, mahasiswa masih disibukkan dengan berbagai diskusi dan berorganisasi sehingga mahasiswa dekat dengan berbagai sumber literasi, meski pun akses terhadap sumber informasi begitu terbatas. 

“Kalau sekarang kita bisa melihat fenomena di mana mahasiswa lebih banyak berada di coffee shop, berkumpul hanya untuk bermain gim. Ini secara gamblang dapat kita lihat di tengah era menjamurnya tempat nongkrong,” kayanya. 

Menurut Ricky, fenomena itu bisa dilihat, melalui pendekatan psikologi. Ricky melansir teori sistem ekologis yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner. 

“Bronfenbrenner melihat bagaimana individu berinteraksi dengan berbagai lingkungan yang mempengaruhi perkembangan mereka. Dalam konteks literasi mahasiswa, teori ini dapat membantu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan literasi mereka,” katanya. 

Ricky menjabarkan, fenomena ini bisa dilihat melalui mikrosistem, yaitu lingkungan terdekat di mana individu berinteraksi secara langsung, seperti keluarga, teman, dan kampus. 

“Dalam konteks literasi mahasiswa, faktor-faktor seperti dukungan keluarga dalam membaca, interaksi dengan teman sebaya, dan kualitas pengajaran di kampus sangat mempengaruhi kemampuan literasi mereka,” katanya. 

Selain perkembangan teknologi, Ricky juga memberikan sorotan pada perubahan budaya perkuliahan. Satu dekade yang lewat, mahasiswa masih disibukkan dengan berbagai diskusi dan berorganisasi sehingga mahasiswa dekat dengan berbagai sumber literasi, meski pun akses terhadap sumber informasi begitu terbatas. 

“Kalau sekarang kita bisa melihat fenomena di mana mahasiswa lebih banyak berada di coffee shop, berkumpul hanya untuk bermain gim. Ini secara gamblang dapat kita lihat di tengah era menjamurnya tempat nongkrong,” kayanya. 

Menurut Ricky, fenomena itu bisa dilihat, melalui pendekatan psikologi. Ricky melansir teori sistem ekologis yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner. 

“Bronfenbrenner melihat bagaimana individu berinteraksi dengan berbagai lingkungan yang mempengaruhi perkembangan mereka. Dalam konteks literasi mahasiswa, teori ini dapat membantu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan literasi mereka,” katanya. 

Ricky menjabarkan, fenomena ini bisa dilihat melalui mikrosistem, yaitu lingkungan terdekat di mana individu berinteraksi secara langsung, seperti keluarga, teman, dan kampus. 

“Dalam konteks literasi mahasiswa, faktor-faktor seperti dukungan keluarga dalam membaca, interaksi dengan teman sebaya, dan kualitas pengajaran di kampus sangat mempengaruhi kemampuan literasi mereka,” katanya. 

Selain perkembangan teknologi, Ricky juga memberikan sorotan pada perubahan budaya perkuliahan. Satu dekade yang lewat, mahasiswa masih disibukkan dengan berbagai diskusi dan berorganisasi sehingga mahasiswa dekat dengan berbagai sumber literasi, meski pun akses terhadap sumber informasi begitu terbatas. 

“Kalau sekarang kita bisa melihat fenomena di mana mahasiswa lebih banyak berada di coffee shop, berkumpul hanya untuk bermain gim. Ini secara gamblang dapat kita lihat di tengah era menjamurnya tempat nongkrong,” kayanya. 

Menurut Ricky, fenomena itu bisa dilihat, melalui pendekatan psikologi. Ricky melansir teori sistem ekologis yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner. 

“Bronfenbrenner melihat bagaimana individu berinteraksi dengan berbagai lingkungan yang mempengaruhi perkembangan mereka. Dalam konteks literasi mahasiswa, teori ini dapat membantu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan literasi mereka,” katanya. 

Ricky menjabarkan, fenomena ini bisa dilihat melalui mikrosistem, yaitu lingkungan terdekat di mana individu berinteraksi secara langsung, seperti keluarga, teman, dan kampus. 

“Dalam konteks literasi mahasiswa, faktor-faktor seperti dukungan keluarga dalam membaca, interaksi dengan teman sebaya, dan kualitas pengajaran di kampus sangat mempengaruhi kemampuan literasi mereka,” katanya. 

Semasa mengajar, Ricky selalu mendorong mahasiswanya untuk aktif mencari informasi dari berbagai sumber. Utamanya membaca berbagai buku berkaitan dengan ilmu yang dipelajari. 

Fenomena ini juga bisa dilihat dari mesosistem. Bagian ini dapat juga dikatakan sebagai interaksi atau gabungan antara berbagai mikrosistem. Seperti kaitan hubungan antara sekolah dan keluarga, serta bagaimana kedua lingkungan ini saling mempengaruhi.

Kemudian dari sisi ekosistem, lingkungan memang tidak langsung mempengaruhi individu tetapi tetap berdampak pada mahasiswa. “Contohnya seperti kebijakan terkait pendidikan, media, dan komunitas. Kebijakan pendidikan yang mendukung pengembangan literasi, seperti program membaca dan kemudahan akses di perpustakaan umum maupun kampus, dapat berkontribusi pada peningkatan literasi mahasiswa,” katanya.

Dari sisi makrosistem, fenomena ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, norma, dan kebijakan sosial yang lebih luas. Kemudian dari sisi kronosistem, mencakup dimensi waktu dan bagaimana perubahan dalam lingkungan sosial dan budaya mempengaruhi individu. 

“Dalam konteks literasi mahasiswa, perubahan seperti kemajuan teknologi dan pergeseran dalam cara informasi disampaikan (misalnya, dari buku cetak ke media digital) dapat memengaruhi cara mahasiswa berinteraksi dengan teks dan informasi,” imbuhnya. 

Ricky mengakui, perkembangan zaman dan teknologi tidak dapat terelakkan. Namun penggunaan teknologi secara bijak, jujur, dan beretika adalah salah satu kunci dalam tetap mengasah kemampuan literasi mahasiswa dan masyarakat dari sisi lebih luas. 

Baik Ricky dan Ismail juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesadaran literasi. Mereka bilang, akses ruang yang lebih luas untuk berdiskusi, ruang baca, hingga lingkungan yang aman juga bisa menjadi faktor pendukung.

Semasa mengajar, Ricky selalu mendorong mahasiswanya untuk aktif mencari informasi dari berbagai sumber. Utamanya membaca berbagai buku berkaitan dengan ilmu yang dipelajari. 

Fenomena ini juga bisa dilihat dari mesosistem. Bagian ini dapat juga dikatakan sebagai interaksi atau gabungan antara berbagai mikrosistem. Seperti kaitan hubungan antara sekolah dan keluarga, serta bagaimana kedua lingkungan ini saling mempengaruhi.

Kemudian dari sisi ekosistem, lingkungan memang tidak langsung mempengaruhi individu tetapi tetap berdampak pada mahasiswa. “Contohnya seperti kebijakan terkait pendidikan, media, dan komunitas. Kebijakan pendidikan yang mendukung pengembangan literasi, seperti program membaca dan kemudahan akses di perpustakaan umum maupun kampus, dapat berkontribusi pada peningkatan literasi mahasiswa,” katanya.

Dari sisi makrosistem, fenomena ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, norma, dan kebijakan sosial yang lebih luas. Kemudian dari sisi kronosistem, mencakup dimensi waktu dan bagaimana perubahan dalam lingkungan sosial dan budaya mempengaruhi individu. 

“Dalam konteks literasi mahasiswa, perubahan seperti kemajuan teknologi dan pergeseran dalam cara informasi disampaikan (misalnya, dari buku cetak ke media digital) dapat memengaruhi cara mahasiswa berinteraksi dengan teks dan informasi,” imbuhnya. 

Ricky mengakui, perkembangan zaman dan teknologi tidak dapat terelakkan. Namun penggunaan teknologi secara bijak, jujur, dan beretika adalah salah satu kunci dalam tetap mengasah kemampuan literasi mahasiswa dan masyarakat dari sisi lebih luas. 

Baik Ricky dan Ismail juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesadaran literasi. Mereka bilang, akses ruang yang lebih luas untuk berdiskusi, ruang baca, hingga lingkungan yang aman juga bisa menjadi faktor pendukung.

Semasa mengajar, Ricky selalu mendorong mahasiswanya untuk aktif mencari informasi dari berbagai sumber. Utamanya membaca berbagai buku berkaitan dengan ilmu yang dipelajari. 

Fenomena ini juga bisa dilihat dari mesosistem. Bagian ini dapat juga dikatakan sebagai interaksi atau gabungan antara berbagai mikrosistem. Seperti kaitan hubungan antara sekolah dan keluarga, serta bagaimana kedua lingkungan ini saling mempengaruhi.

Kemudian dari sisi ekosistem, lingkungan memang tidak langsung mempengaruhi individu tetapi tetap berdampak pada mahasiswa. “Contohnya seperti kebijakan terkait pendidikan, media, dan komunitas. Kebijakan pendidikan yang mendukung pengembangan literasi, seperti program membaca dan kemudahan akses di perpustakaan umum maupun kampus, dapat berkontribusi pada peningkatan literasi mahasiswa,” katanya.

Dari sisi makrosistem, fenomena ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, norma, dan kebijakan sosial yang lebih luas. Kemudian dari sisi kronosistem, mencakup dimensi waktu dan bagaimana perubahan dalam lingkungan sosial dan budaya mempengaruhi individu. 

“Dalam konteks literasi mahasiswa, perubahan seperti kemajuan teknologi dan pergeseran dalam cara informasi disampaikan (misalnya, dari buku cetak ke media digital) dapat memengaruhi cara mahasiswa berinteraksi dengan teks dan informasi,” imbuhnya. 

Ricky mengakui, perkembangan zaman dan teknologi tidak dapat terelakkan. Namun penggunaan teknologi secara bijak, jujur, dan beretika adalah salah satu kunci dalam tetap mengasah kemampuan literasi mahasiswa dan masyarakat dari sisi lebih luas. 

Baik Ricky dan Ismail juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesadaran literasi. Mereka bilang, akses ruang yang lebih luas untuk berdiskusi, ruang baca, hingga lingkungan yang aman juga bisa menjadi faktor pendukung.

Gen Z Sulit Mengakses Buku?

Gen Z Sulit Mengakses Buku?

Gen Z Sulit Mengakses Buku?

Di Pontianak, IDN Times sempat berbincang dengan sejumlah anak muda generasi Z, terkait minat kegemaran membaca. Salah satunya, Salsa (19). Dia mengaku, gemar membaca, namun hanya komik saja.

"Tulisan panjang gak suka, saya suka buku yang ada gambarnya, biar gak membosankan dan saya memahami isinya,” tutur Salsa. 

Senada dengan Salsa, Meri (25), seorang pekerja muda di Pontianak juga mengaku suka membaca jika ada buku yang menurutnya menarik dan tidak membosankan. “Tergantung bukunya apa, kalau bukunya menarik, suka. Tapi kalau buku gak menarik gak suka," kata dia.

Dia pun tidak masalah jika harus merogoh kocek, jika dia menemukan buku yang dia suka atau meminjam ke perpustakaan. "Banyak yang beli buku untuk gaya-gayaan," kata dia.

Selanjutnya ada Bunga (17), dia hanya membaca tulisan panjang jika ada tugas kampus. Bunga membutuhkan waktu beberapa hari untuk memahami isi buku atau tulisan panjang. 

“Memahami isinya secara keseluruhan itu dikatakan belum sepenuhnya," kata dia. Bunga mengaku harus membuat poin-poin agar dia bisa memahami keseluruhan teks keperluan untuk kuliahnya.

Menurut dia, hal yang bikin sulit itu bukan membaca teks tersebut, melainkan proses memahami isi tulisan. "Saya harus mengerti dan memahami. Jadi kalau saya harus perlu waktu dan benar-benar mengerti,” kata Bunga. 

Mahasiswa lain, Ade (23) lebih memilih mengeluarkan uang untuk beli kopi, dibanding membeli buku. Ade menceritakan, dia membaca buku terakhir di tahun lalu. 

Di Pontianak, IDN Times sempat berbincang dengan sejumlah anak muda generasi Z, terkait minat kegemaran membaca. Salah satunya, Salsa (19). Dia mengaku, gemar membaca, namun hanya komik saja.

"Tulisan panjang gak suka, saya suka buku yang ada gambarnya, biar gak membosankan dan saya memahami isinya,” tutur Salsa. 

Senada dengan Salsa, Meri (25), seorang pekerja muda di Pontianak juga mengaku suka membaca jika ada buku yang menurutnya menarik dan tidak membosankan. “Tergantung bukunya apa, kalau bukunya menarik, suka. Tapi kalau buku gak menarik gak suka," kata dia.

Dia pun tidak masalah jika harus merogoh kocek, jika dia menemukan buku yang dia suka atau meminjam ke perpustakaan. "Banyak yang beli buku untuk gaya-gayaan," kata dia.

Selanjutnya ada Bunga (17), dia hanya membaca tulisan panjang jika ada tugas kampus. Bunga membutuhkan waktu beberapa hari untuk memahami isi buku atau tulisan panjang. 

“Memahami isinya secara keseluruhan itu dikatakan belum sepenuhnya," kata dia. Bunga mengaku harus membuat poin-poin agar dia bisa memahami keseluruhan teks keperluan untuk kuliahnya.

Menurut dia, hal yang bikin sulit itu bukan membaca teks tersebut, melainkan proses memahami isi tulisan. "Saya harus mengerti dan memahami. Jadi kalau saya harus perlu waktu dan benar-benar mengerti,” kata Bunga. 

Mahasiswa lain, Ade (23) lebih memilih mengeluarkan uang untuk beli kopi, dibanding membeli buku. Ade menceritakan, dia membaca buku terakhir di tahun lalu. 

Di Pontianak, IDN Times sempat berbincang dengan sejumlah anak muda generasi Z, terkait minat kegemaran membaca. Salah satunya, Salsa (19). Dia mengaku, gemar membaca, namun hanya komik saja.

"Tulisan panjang gak suka, saya suka buku yang ada gambarnya, biar gak membosankan dan saya memahami isinya,” tutur Salsa. 

Senada dengan Salsa, Meri (25), seorang pekerja muda di Pontianak juga mengaku suka membaca jika ada buku yang menurutnya menarik dan tidak membosankan. “Tergantung bukunya apa, kalau bukunya menarik, suka. Tapi kalau buku gak menarik gak suka," kata dia.

Dia pun tidak masalah jika harus merogoh kocek, jika dia menemukan buku yang dia suka atau meminjam ke perpustakaan. "Banyak yang beli buku untuk gaya-gayaan," kata dia.

Selanjutnya ada Bunga (17), dia hanya membaca tulisan panjang jika ada tugas kampus. Bunga membutuhkan waktu beberapa hari untuk memahami isi buku atau tulisan panjang. 

“Memahami isinya secara keseluruhan itu dikatakan belum sepenuhnya," kata dia. Bunga mengaku harus membuat poin-poin agar dia bisa memahami keseluruhan teks keperluan untuk kuliahnya.

Menurut dia, hal yang bikin sulit itu bukan membaca teks tersebut, melainkan proses memahami isi tulisan. "Saya harus mengerti dan memahami. Jadi kalau saya harus perlu waktu dan benar-benar mengerti,” kata Bunga. 

Mahasiswa lain, Ade (23) lebih memilih mengeluarkan uang untuk beli kopi, dibanding membeli buku. Ade menceritakan, dia membaca buku terakhir di tahun lalu. 

“Ndak suka baca karena membaca boring, karena lebih suka mendengarkan"

Ade (22), mahasiswa

“Ndak suka baca karena membaca boring, karena lebih suka mendengarkan"

Ade (22), mahasiswa

“Ndak suka baca karena membaca boring, karena lebih suka mendengarkan"

Ade (22), mahasiswa

“Ndak suka baca karena membaca boring, karena lebih suka mendengarkan"

Ade (22), mahasiswa

Ade juga mengaku tipe yang jarang beli buku karena dia menemukan buku yang membuatnya tertarik dan membuatnya sampai mengeluarkan uang, demi beli buku. 

Berbeda, Yohana (18) mengaku sangat gemar membaca buku. Tak tanggung-tanggung, mahasiswa asal Pontianak itu terakhir membaca 3 buku sekaligus. "Saya paham isinya karena aku tipe orang yang kalau baca kebawa ke imajinasi juga," kata dia.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani menyebutkan tingkat kegemaran membaca warga Pontianak di tahun 2024 adalah 69,90, sedikit menurun jika dibandingkan tahun 2023 yakni 71,46. 

“Jadi memang kategorinya sedang, bukan rendah. Memang ada sedikit penurunan tingkat kegemaran membaca masyarakat kota Pontianak. Inilah yang perlu kami dorong diupayakan supaya masyarakat Kota Pontianak bisa gemar membaca,” kata Kadis Perpustakaan Kota Pontianak yang akrab disapa Riri itu, Minggu (16/11/2025).

Menurut Riri, turunnya angka minat baca warga Pontianak bukan tanpa alasan. Salah satu faktornya adalah akses buku yang mungkin sulit didapat. 

Soal sulitnya mengakses buku juga diungkap pegiat komunitas membaca di Pontianak, Fajar. “Mungkin karena kami tinggal di luar Pulau Jawa, akses membeli buku susah. Ada ongkir yang harus dibayar, harus bayar pajak juga,” keluh Fajar yang juga aktif di Komunitas Pablos. 

Dia juga mengutarakan, harga buku di toko buku besar di luar Jawa pun berbeda. Hal itu pun menjadi salah satu faktor mengapa komunitas literasi bisa menjadi solusi. "Dari saling meet up, komunitas biasanya habis baca buku ada yang pingin pinjam, saling tukar di komunitas tersebut,” terangnya. 

Ade juga mengaku tipe yang jarang beli buku karena dia menemukan buku yang membuatnya tertarik dan membuatnya sampai mengeluarkan uang, demi beli buku. 

Berbeda, Yohana (18) mengaku sangat gemar membaca buku. Tak tanggung-tanggung, mahasiswa asal Pontianak itu terakhir membaca 3 buku sekaligus. "Saya paham isinya karena aku tipe orang yang kalau baca kebawa ke imajinasi juga," kata dia.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani menyebutkan tingkat kegemaran membaca warga Pontianak di tahun 2024 adalah 69,90, sedikit menurun jika dibandingkan tahun 2023 yakni 71,46. 

“Jadi memang kategorinya sedang, bukan rendah. Memang ada sedikit penurunan tingkat kegemaran membaca masyarakat kota Pontianak. Inilah yang perlu kami dorong diupayakan supaya masyarakat Kota Pontianak bisa gemar membaca,” kata Kadis Perpustakaan Kota Pontianak yang akrab disapa Riri itu, Minggu (16/11/2025).

Menurut Riri, turunnya angka minat baca warga Pontianak bukan tanpa alasan. Salah satu faktornya adalah akses buku yang mungkin sulit didapat. 

Soal sulitnya mengakses buku juga diungkap pegiat komunitas membaca di Pontianak, Fajar. “Mungkin karena kami tinggal di luar Pulau Jawa, akses membeli buku susah. Ada ongkir yang harus dibayar, harus bayar pajak juga,” keluh Fajar yang juga aktif di Komunitas Pablos. 

Dia juga mengutarakan, harga buku di toko buku besar di luar Jawa pun berbeda. Hal itu pun menjadi salah satu faktor mengapa komunitas literasi bisa menjadi solusi. "Dari saling meet up, komunitas biasanya habis baca buku ada yang pingin pinjam, saling tukar di komunitas tersebut,” terangnya. 

Ade juga mengaku tipe yang jarang beli buku karena dia menemukan buku yang membuatnya tertarik dan membuatnya sampai mengeluarkan uang, demi beli buku. 

Berbeda, Yohana (18) mengaku sangat gemar membaca buku. Tak tanggung-tanggung, mahasiswa asal Pontianak itu terakhir membaca 3 buku sekaligus. "Saya paham isinya karena aku tipe orang yang kalau baca kebawa ke imajinasi juga," kata dia.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani menyebutkan tingkat kegemaran membaca warga Pontianak di tahun 2024 adalah 69,90, sedikit menurun jika dibandingkan tahun 2023 yakni 71,46. 

“Jadi memang kategorinya sedang, bukan rendah. Memang ada sedikit penurunan tingkat kegemaran membaca masyarakat kota Pontianak. Inilah yang perlu kami dorong diupayakan supaya masyarakat Kota Pontianak bisa gemar membaca,” kata Kadis Perpustakaan Kota Pontianak yang akrab disapa Riri itu, Minggu (16/11/2025).

Menurut Riri, turunnya angka minat baca warga Pontianak bukan tanpa alasan. Salah satu faktornya adalah akses buku yang mungkin sulit didapat. 

Soal sulitnya mengakses buku juga diungkap pegiat komunitas membaca di Pontianak, Fajar. “Mungkin karena kami tinggal di luar Pulau Jawa, akses membeli buku susah. Ada ongkir yang harus dibayar, harus bayar pajak juga,” keluh Fajar yang juga aktif di Komunitas Pablos. 

Dia juga mengutarakan, harga buku di toko buku besar di luar Jawa pun berbeda. Hal itu pun menjadi salah satu faktor mengapa komunitas literasi bisa menjadi solusi. "Dari saling meet up, komunitas biasanya habis baca buku ada yang pingin pinjam, saling tukar di komunitas tersebut,” terangnya. 

Pandangan berbeda disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Dia menilai rendahnya minat baca generasi muda Indonesia bukan hanya soal kurangnya buku, tetapi karena ekosistem literasi yang belum tumbuh di sekolah maupun rumah.

Ubaid menegaskan, budaya baca tidak bisa muncul secara instan. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang paling awal yang menunjukkan teladan literasi kepada anak.

“Anak-anak itu butuh teladan. Kalau kepala sekolahnya nggak pernah membaca buku, guru-gurunya malas membaca, tidak pernah berdiskusi atau menunjukkan kebiasaan bergelut dengan buku, bagaimana anak mau meniru?” ujar Ubaid kepada IDN Times, Kamis (20/11/2025).

Ubaid mengungkapkan kondisi literasi di sekolah Indonesia masih memprihatinkan. Banyak siswa dinilai hanya bisa membaca secara teknis, tetapi tidak memahami isi bacaan.

“Anak-anak bisa membaca, tapi tidak mengerti maksud teks. Kemampuan memahami, mengontekstualisasi cerita, sampai mengkritisi plot itu sangat rendah,” jelasnya.

Ia menilai hal ini terjadi karena guru tak membiasakan praktik membaca secara bermakna. Bahkan, ruang untuk membaca yang nyaman pun minim.

“Perpustakaan di sekolah-sekolah kita sangat tidak layak. Buku menarik saja tidak ada. Bagaimana mau menumbuhkan minat baca kalau ruang baca saja membosankan?” kata Ubaid.

Menurut Ubaid, minat baca hanya bisa tumbuh jika ekosistemnya diciptakan. Itu berarti melibatkan seluruh pihak: guru, siswa, orangtua, hingga masyarakat.

“Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua,” ucapnya.

Pandangan berbeda disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Dia menilai rendahnya minat baca generasi muda Indonesia bukan hanya soal kurangnya buku, tetapi karena ekosistem literasi yang belum tumbuh di sekolah maupun rumah.

Ubaid menegaskan, budaya baca tidak bisa muncul secara instan. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang paling awal yang menunjukkan teladan literasi kepada anak.

“Anak-anak itu butuh teladan. Kalau kepala sekolahnya nggak pernah membaca buku, guru-gurunya malas membaca, tidak pernah berdiskusi atau menunjukkan kebiasaan bergelut dengan buku, bagaimana anak mau meniru?” ujar Ubaid kepada IDN Times, Kamis (20/11/2025).

Ubaid mengungkapkan kondisi literasi di sekolah Indonesia masih memprihatinkan. Banyak siswa dinilai hanya bisa membaca secara teknis, tetapi tidak memahami isi bacaan.

“Anak-anak bisa membaca, tapi tidak mengerti maksud teks. Kemampuan memahami, mengontekstualisasi cerita, sampai mengkritisi plot itu sangat rendah,” jelasnya.

Ia menilai hal ini terjadi karena guru tak membiasakan praktik membaca secara bermakna. Bahkan, ruang untuk membaca yang nyaman pun minim.

“Perpustakaan di sekolah-sekolah kita sangat tidak layak. Buku menarik saja tidak ada. Bagaimana mau menumbuhkan minat baca kalau ruang baca saja membosankan?” kata Ubaid.

Menurut Ubaid, minat baca hanya bisa tumbuh jika ekosistemnya diciptakan. Itu berarti melibatkan seluruh pihak: guru, siswa, orangtua, hingga masyarakat.

“Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua,” ucapnya.

Pandangan berbeda disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Dia menilai rendahnya minat baca generasi muda Indonesia bukan hanya soal kurangnya buku, tetapi karena ekosistem literasi yang belum tumbuh di sekolah maupun rumah.

Ubaid menegaskan, budaya baca tidak bisa muncul secara instan. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang paling awal yang menunjukkan teladan literasi kepada anak.

“Anak-anak itu butuh teladan. Kalau kepala sekolahnya nggak pernah membaca buku, guru-gurunya malas membaca, tidak pernah berdiskusi atau menunjukkan kebiasaan bergelut dengan buku, bagaimana anak mau meniru?” ujar Ubaid kepada IDN Times, Kamis (20/11/2025).

Ubaid mengungkapkan kondisi literasi di sekolah Indonesia masih memprihatinkan. Banyak siswa dinilai hanya bisa membaca secara teknis, tetapi tidak memahami isi bacaan.

“Anak-anak bisa membaca, tapi tidak mengerti maksud teks. Kemampuan memahami, mengontekstualisasi cerita, sampai mengkritisi plot itu sangat rendah,” jelasnya.

Ia menilai hal ini terjadi karena guru tak membiasakan praktik membaca secara bermakna. Bahkan, ruang untuk membaca yang nyaman pun minim.

“Perpustakaan di sekolah-sekolah kita sangat tidak layak. Buku menarik saja tidak ada. Bagaimana mau menumbuhkan minat baca kalau ruang baca saja membosankan?” kata Ubaid.

Menurut Ubaid, minat baca hanya bisa tumbuh jika ekosistemnya diciptakan. Itu berarti melibatkan seluruh pihak: guru, siswa, orangtua, hingga masyarakat.

“Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua,” ucapnya.

"Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua"

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji

"Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua"

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji

"Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua"

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji

"Budaya membaca harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Bisa dilakukan di perpustakaan, di bawah pohon, bersama guru, atau di rumah dengan orangtua"

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji

Saat ini, dia menilai sistem pendidikan masih terlalu satu arah. Tradisi berdialog, berdiskusi, hingga berpikir kritis belum menjadi budaya.

“Bagaimana mau mencapai nalar kritis kalau memahami teks saja belum bisa? Tradisi diskusi dan kritik teks di sekolah hampir tidak ada,” tambahnya. JPPI meminta pemerintah mengambil peran lebih besar untuk membangun infrastruktur literasi.

Saat ini, dia menilai sistem pendidikan masih terlalu satu arah. Tradisi berdialog, berdiskusi, hingga berpikir kritis belum menjadi budaya.

“Bagaimana mau mencapai nalar kritis kalau memahami teks saja belum bisa? Tradisi diskusi dan kritik teks di sekolah hampir tidak ada,” tambahnya. JPPI meminta pemerintah mengambil peran lebih besar untuk membangun infrastruktur literasi.

Saat ini, dia menilai sistem pendidikan masih terlalu satu arah. Tradisi berdialog, berdiskusi, hingga berpikir kritis belum menjadi budaya.

“Bagaimana mau mencapai nalar kritis kalau memahami teks saja belum bisa? Tradisi diskusi dan kritik teks di sekolah hampir tidak ada,” tambahnya. JPPI meminta pemerintah mengambil peran lebih besar untuk membangun infrastruktur literasi.

Komunitas Literasi Menjadi Lentera di Sejumlah Daerah

Komunitas Literasi Menjadi Lentera di Sejumlah Daerah

Komunitas Literasi Menjadi Lentera di Sejumlah Daerah

Pada suatu Minggu pagi di pelataran Balai Pemuda, Surabaya sekitar 15 orang duduk berjajar dalam keheningan yang tidak memaksa. Mereka tidak saling menyapa, pun tidak wajib bertukar nama. Mereka hanya membaca. Masing-masing dengan bukunya sendiri. Safira Dwisiwi berada di antara mereka.

Gerakan itu bernama Baca di Surabaya. Gerakan yang tidak lahir dari konsep besar. Ia lahir dari sebuah luka kecil. Suatu hari, Nabila—saudara kembar Safira—membaca buku seorang diri di ruang publik dan ditertawakan. Ada yang menganggapnya sok pintar. Seolah membaca adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Stigma itu tidak membuat mereka berhenti. Luka itu berubah menjadi alasan untuk mengajak orang lain. Mereka mulai menggelar sesi membaca di ruang publik. Tanpa formalitas. Tanpa target. Tanpa harus saling kenal.

Datang. Duduk. Membaca. Pulang.

Dalam dua tahun, lebih dari 500 orang pernah datang, kadang sekali, kadang berkali-kali. Tidak ada keterikatan formal. Jika ada hal yang bisa diikat, mungkin itu adalah perasaan bahwa membaca tidak harus dilakukan sendirian.

Di Taman Bungkul, pada hari yang sama, Evelyn Naomi dan Jojo menggelar tikar dan menata buku. Buku anak, buku remaja, buku dewasa ringan. Anak-anak penjual kaki lima mendekat. Mereka membuka halaman, dan dunia menjadi lebih jinak untuk sesaat.

Ada yang pernah mencemooh koleksi buku anak-anak itu. “Yang penting mereka kenal dulu sama rasa ingin membaca,” kata Evelyn. Seseorang harus jatuh cinta sebelum ia mampu bertahan dalam kedalaman.

Pada suatu Minggu pagi di pelataran Balai Pemuda, Surabaya sekitar 15 orang duduk berjajar dalam keheningan yang tidak memaksa. Mereka tidak saling menyapa, pun tidak wajib bertukar nama. Mereka hanya membaca. Masing-masing dengan bukunya sendiri. Safira Dwisiwi berada di antara mereka.

Gerakan itu bernama Baca di Surabaya. Gerakan yang tidak lahir dari konsep besar. Ia lahir dari sebuah luka kecil. Suatu hari, Nabila—saudara kembar Safira—membaca buku seorang diri di ruang publik dan ditertawakan. Ada yang menganggapnya sok pintar. Seolah membaca adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Stigma itu tidak membuat mereka berhenti. Luka itu berubah menjadi alasan untuk mengajak orang lain. Mereka mulai menggelar sesi membaca di ruang publik. Tanpa formalitas. Tanpa target. Tanpa harus saling kenal.

Datang. Duduk. Membaca. Pulang.

Dalam dua tahun, lebih dari 500 orang pernah datang, kadang sekali, kadang berkali-kali. Tidak ada keterikatan formal. Jika ada hal yang bisa diikat, mungkin itu adalah perasaan bahwa membaca tidak harus dilakukan sendirian.

Di Taman Bungkul, pada hari yang sama, Evelyn Naomi dan Jojo menggelar tikar dan menata buku. Buku anak, buku remaja, buku dewasa ringan. Anak-anak penjual kaki lima mendekat. Mereka membuka halaman, dan dunia menjadi lebih jinak untuk sesaat.

Ada yang pernah mencemooh koleksi buku anak-anak itu. “Yang penting mereka kenal dulu sama rasa ingin membaca,” kata Evelyn. Seseorang harus jatuh cinta sebelum ia mampu bertahan dalam kedalaman.

Pada suatu Minggu pagi di pelataran Balai Pemuda, Surabaya sekitar 15 orang duduk berjajar dalam keheningan yang tidak memaksa. Mereka tidak saling menyapa, pun tidak wajib bertukar nama. Mereka hanya membaca. Masing-masing dengan bukunya sendiri. Safira Dwisiwi berada di antara mereka.

Gerakan itu bernama Baca di Surabaya. Gerakan yang tidak lahir dari konsep besar. Ia lahir dari sebuah luka kecil. Suatu hari, Nabila—saudara kembar Safira—membaca buku seorang diri di ruang publik dan ditertawakan. Ada yang menganggapnya sok pintar. Seolah membaca adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Stigma itu tidak membuat mereka berhenti. Luka itu berubah menjadi alasan untuk mengajak orang lain. Mereka mulai menggelar sesi membaca di ruang publik. Tanpa formalitas. Tanpa target. Tanpa harus saling kenal.

Datang. Duduk. Membaca. Pulang.

Dalam dua tahun, lebih dari 500 orang pernah datang, kadang sekali, kadang berkali-kali. Tidak ada keterikatan formal. Jika ada hal yang bisa diikat, mungkin itu adalah perasaan bahwa membaca tidak harus dilakukan sendirian.

Di Taman Bungkul, pada hari yang sama, Evelyn Naomi dan Jojo menggelar tikar dan menata buku. Buku anak, buku remaja, buku dewasa ringan. Anak-anak penjual kaki lima mendekat. Mereka membuka halaman, dan dunia menjadi lebih jinak untuk sesaat.

Ada yang pernah mencemooh koleksi buku anak-anak itu. “Yang penting mereka kenal dulu sama rasa ingin membaca,” kata Evelyn. Seseorang harus jatuh cinta sebelum ia mampu bertahan dalam kedalaman.

Meski tanpa gegap gempita, potret serupa juga muncul di sejumlah wilayah lainnya di Tanah Air. Di Bandung, Jawa Barat, misalnya.

Di bawah Jembatan Pasupati, tepatnya di Taman Film Kota Bandung, sekelompok anak muda kerap berkumpul dan membaca bersama pada 9 November lalu. Buku-buku, biasanya dibawa berkeliling oleh komunitas bernama Bandung Book Party (BBP).

Dengan format perpustakaan keliling, BBP biasanya sudah "melapak" sejak pukul 09.00 WIB. Tak butuh waktu lama, lapak mereka pun langsung kerubuti anak-anak. Mereka pun membuat tiga buah lingkaran untuk kemudian membaca bersama buku yang dibawanya masing-masing. Setelah membaca, mereka lantas berdiskusi mengenai buku yang dibacanya satu sama lain. 

Bendahara BBP Rinjani Mutmainah Zebua mengatakan, kegiatan membaca bersama yang dinamai Silent Reader itu bergerak sejak 2023 dan dilakukan setiap Minggu dan berpindah-pindah. "Biasanya kegiatan di sini sampai jam 12 siang," kata Rinjani saat berbincang dengan IDN Times.

Meski tanpa gegap gempita, potret serupa juga muncul di sejumlah wilayah lainnya di Tanah Air. Di Bandung, Jawa Barat, misalnya.

Di bawah Jembatan Pasupati, tepatnya di Taman Film Kota Bandung, sekelompok anak muda kerap berkumpul dan membaca bersama pada 9 November lalu. Buku-buku, biasanya dibawa berkeliling oleh komunitas bernama Bandung Book Party (BBP).

Dengan format perpustakaan keliling, BBP biasanya sudah "melapak" sejak pukul 09.00 WIB. Tak butuh waktu lama, lapak mereka pun langsung kerubuti anak-anak. Mereka pun membuat tiga buah lingkaran untuk kemudian membaca bersama buku yang dibawanya masing-masing. Setelah membaca, mereka lantas berdiskusi mengenai buku yang dibacanya satu sama lain. 

Bendahara BBP Rinjani Mutmainah Zebua mengatakan, kegiatan membaca bersama yang dinamai Silent Reader itu bergerak sejak 2023 dan dilakukan setiap Minggu dan berpindah-pindah. "Biasanya kegiatan di sini sampai jam 12 siang," kata Rinjani saat berbincang dengan IDN Times.

Meski tanpa gegap gempita, potret serupa juga muncul di sejumlah wilayah lainnya di Tanah Air. Di Bandung, Jawa Barat, misalnya.

Di bawah Jembatan Pasupati, tepatnya di Taman Film Kota Bandung, sekelompok anak muda kerap berkumpul dan membaca bersama pada 9 November lalu. Buku-buku, biasanya dibawa berkeliling oleh komunitas bernama Bandung Book Party (BBP).

Dengan format perpustakaan keliling, BBP biasanya sudah "melapak" sejak pukul 09.00 WIB. Tak butuh waktu lama, lapak mereka pun langsung kerubuti anak-anak. Mereka pun membuat tiga buah lingkaran untuk kemudian membaca bersama buku yang dibawanya masing-masing. Setelah membaca, mereka lantas berdiskusi mengenai buku yang dibacanya satu sama lain. 

Bendahara BBP Rinjani Mutmainah Zebua mengatakan, kegiatan membaca bersama yang dinamai Silent Reader itu bergerak sejak 2023 dan dilakukan setiap Minggu dan berpindah-pindah. "Biasanya kegiatan di sini sampai jam 12 siang," kata Rinjani saat berbincang dengan IDN Times.

Jani, sapaan akrabnya, menyebut bahwa anggota komunitas ini cukup banyak. Mereka memiliki jejaring melalui WhatsApp (WA) dengan 6 grup di mana setiap grupnya memiliki 800 nomor kontak. Artinya ada hampir 2.400 orang masyarakat yang suka membaca bergabung dengan komunitas yang belum lama berdiri ini. 

Menurutnya, kegiatan membaca tidak hanya dilakukan oleh anak muda, di BBP juga sering mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak atau orangtua setiap dua minggu sekali. Biasanya untuk anak dan orangtua kegiatan disisipi aktivitas lain selain membaca misalnya dengan permainan atau agenda yang lebih seru. 

Selain Silent Rider seperti di Taman Film, BBP yang tergabung dalam Bandung Lautan Literasi kerap menyelenggarakan kegiatan di lembaga pendidikan. Itu dilakukan demi memperbanyak kelompok masyarakat, khususnya anak muda, untuk melek literasi.

"Karena menurut saya dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu dari para penulis buku atau bacaan tertentu," papar Jani. 

Jani, sapaan akrabnya, menyebut bahwa anggota komunitas ini cukup banyak. Mereka memiliki jejaring melalui WhatsApp (WA) dengan 6 grup di mana setiap grupnya memiliki 800 nomor kontak. Artinya ada hampir 2.400 orang masyarakat yang suka membaca bergabung dengan komunitas yang belum lama berdiri ini. 

Menurutnya, kegiatan membaca tidak hanya dilakukan oleh anak muda, di BBP juga sering mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak atau orangtua setiap dua minggu sekali. Biasanya untuk anak dan orangtua kegiatan disisipi aktivitas lain selain membaca misalnya dengan permainan atau agenda yang lebih seru. 

Selain Silent Rider seperti di Taman Film, BBP yang tergabung dalam Bandung Lautan Literasi kerap menyelenggarakan kegiatan di lembaga pendidikan. Itu dilakukan demi memperbanyak kelompok masyarakat, khususnya anak muda, untuk melek literasi.

"Karena menurut saya dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu dari para penulis buku atau bacaan tertentu," papar Jani. 

Jani, sapaan akrabnya, menyebut bahwa anggota komunitas ini cukup banyak. Mereka memiliki jejaring melalui WhatsApp (WA) dengan 6 grup di mana setiap grupnya memiliki 800 nomor kontak. Artinya ada hampir 2.400 orang masyarakat yang suka membaca bergabung dengan komunitas yang belum lama berdiri ini. 

Menurutnya, kegiatan membaca tidak hanya dilakukan oleh anak muda, di BBP juga sering mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak atau orangtua setiap dua minggu sekali. Biasanya untuk anak dan orangtua kegiatan disisipi aktivitas lain selain membaca misalnya dengan permainan atau agenda yang lebih seru. 

Selain Silent Rider seperti di Taman Film, BBP yang tergabung dalam Bandung Lautan Literasi kerap menyelenggarakan kegiatan di lembaga pendidikan. Itu dilakukan demi memperbanyak kelompok masyarakat, khususnya anak muda, untuk melek literasi.

"Karena menurut saya dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu dari para penulis buku atau bacaan tertentu," papar Jani. 

"Dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu"

Rinjani Mutmainah Zebua dari Bandung Book Party

"Dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu"

Rinjani Mutmainah Zebua dari Bandung Book Party

"Dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu"

Rinjani Mutmainah Zebua dari Bandung Book Party

"Dengan membaca seseorang bisa melihat banyak hal, termasuk mendapatkan sudut pandang tertentu"

Rinjani Mutmainah Zebua dari Bandung Book Party

Di Bali, seorang anak muda bernama Wayan Sathya Tirtayasa bersama teman di organisasi Frontier Bali mencoba menggeliatkan lebih masif lagi gerakan literasi. Hal itu merupakan respons Frontier Bali setelah beberapa bulan sebelumnya, viral ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, tidak bisa membaca. Memprihatinkan. Sathya dan teman-temannya pun gusar.

“Hal ini membuat kami di Frontier Bali untuk bergerak mengadakan Gerai Baca Frontier dan menumbuhkan minat baca masyarakat dan melahirkan pemikiran kritis kepada generasi muda,” kata Sathya.

Dengan buku-buku yang masih sederhana, Gerai Baca Frontier terlaksana setidaknya sekali dalam satu pekan sekali, yakni pada Sabtu atau Minggu. Menurut Sathya, merawat minat baca di kalangan anak muda dan masyarakat butuh langkah konsisten. 

“Tantangan dari kami adalah menggaet generasi muda untuk menumbuhkan minat membaca," kata dia.

Tak cukup hanya membaca, Sathya dan teman-temannya pun kerap menggelar diskusi buku dan isu-isu sosial. Sathya yakin saling mendiskusikan buku yang dibaca akan menjadi suar-suar kecil bagi dunia literasi di Bali.

Di Bali, seorang anak muda bernama Wayan Sathya Tirtayasa bersama teman di organisasi Frontier Bali mencoba menggeliatkan lebih masif lagi gerakan literasi. Hal itu merupakan respons Frontier Bali setelah beberapa bulan sebelumnya, viral ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, tidak bisa membaca. Memprihatinkan. Sathya dan teman-temannya pun gusar.

“Hal ini membuat kami di Frontier Bali untuk bergerak mengadakan Gerai Baca Frontier dan menumbuhkan minat baca masyarakat dan melahirkan pemikiran kritis kepada generasi muda,” kata Sathya.

Dengan buku-buku yang masih sederhana, Gerai Baca Frontier terlaksana setidaknya sekali dalam satu pekan sekali, yakni pada Sabtu atau Minggu. Menurut Sathya, merawat minat baca di kalangan anak muda dan masyarakat butuh langkah konsisten. 

“Tantangan dari kami adalah menggaet generasi muda untuk menumbuhkan minat membaca," kata dia.

Tak cukup hanya membaca, Sathya dan teman-temannya pun kerap menggelar diskusi buku dan isu-isu sosial. Sathya yakin saling mendiskusikan buku yang dibaca akan menjadi suar-suar kecil bagi dunia literasi di Bali.

Di Bali, seorang anak muda bernama Wayan Sathya Tirtayasa bersama teman di organisasi Frontier Bali mencoba menggeliatkan lebih masif lagi gerakan literasi. Hal itu merupakan respons Frontier Bali setelah beberapa bulan sebelumnya, viral ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng, tidak bisa membaca. Memprihatinkan. Sathya dan teman-temannya pun gusar.

“Hal ini membuat kami di Frontier Bali untuk bergerak mengadakan Gerai Baca Frontier dan menumbuhkan minat baca masyarakat dan melahirkan pemikiran kritis kepada generasi muda,” kata Sathya.

Dengan buku-buku yang masih sederhana, Gerai Baca Frontier terlaksana setidaknya sekali dalam satu pekan sekali, yakni pada Sabtu atau Minggu. Menurut Sathya, merawat minat baca di kalangan anak muda dan masyarakat butuh langkah konsisten. 

“Tantangan dari kami adalah menggaet generasi muda untuk menumbuhkan minat membaca," kata dia.

Tak cukup hanya membaca, Sathya dan teman-temannya pun kerap menggelar diskusi buku dan isu-isu sosial. Sathya yakin saling mendiskusikan buku yang dibaca akan menjadi suar-suar kecil bagi dunia literasi di Bali.

Di Pontianak, Kalimantan Barat ada komunitas baca bernama Pablos. Berdiri tahun 2023, Pablos muncul dari keresahan sejumlah anak muda di sana. Salah satu anggota Komunitas Pablos, Fajar, mengakui, gerakan mereka terilhami dari komunitas-komunitas di Pulau Jawa.

Anak-anak muda yang tergerak ingin melakukan hal serupa pun berkenalan di media sosial dan akhirnya bertemu muka. Kini, dengan puluhan orang, komunitas tersebut rutin bertemu dua minggu sekali. Masing-masing membawa buku yang sudah atau sedang dibaca lalu didiskusikan pada kelompok tersebut.

Menariknya, pertemuan ini dilakukan di coffee shop. “Menurut kami coffee shop tempat yang nyaman untuk ngomongin soal buku, biasanya coffee shop identik dengan tempat nongkrong, kami juga mau mengubah itu coffee shop bisa juga loh untuk membaca,” paparnya. 

Guru Besar Sains Informasi dan Pengajar Mata Kuliah Literasi dan Perilaku Gemar Membaca Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Di Universitas Airlangga (Unair) Rahma Sugihartati menilai gerakan membaca di ruang publik sebagai kekuatan penting. “Gerakan anak muda menjangkau ruang yang tidak dijangkau perpustakaan formal,” katanya.

“Membaca harus lahir dari sukarela. Dari rasa ingin. Bukan dari paksaan,” katanya. Seseorang hanya akan membaca dengan sungguh-sungguh ketika ia membaca untuk dirinya sendiri.

Di Pontianak, Kalimantan Barat ada komunitas baca bernama Pablos. Berdiri tahun 2023, Pablos muncul dari keresahan sejumlah anak muda di sana. Salah satu anggota Komunitas Pablos, Fajar, mengakui, gerakan mereka terilhami dari komunitas-komunitas di Pulau Jawa.

Anak-anak muda yang tergerak ingin melakukan hal serupa pun berkenalan di media sosial dan akhirnya bertemu muka. Kini, dengan puluhan orang, komunitas tersebut rutin bertemu dua minggu sekali. Masing-masing membawa buku yang sudah atau sedang dibaca lalu didiskusikan pada kelompok tersebut.

Menariknya, pertemuan ini dilakukan di coffee shop. “Menurut kami coffee shop tempat yang nyaman untuk ngomongin soal buku, biasanya coffee shop identik dengan tempat nongkrong, kami juga mau mengubah itu coffee shop bisa juga loh untuk membaca,” paparnya. 

Guru Besar Sains Informasi dan Pengajar Mata Kuliah Literasi dan Perilaku Gemar Membaca Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Di Universitas Airlangga (Unair) Rahma Sugihartati menilai gerakan membaca di ruang publik sebagai kekuatan penting. “Gerakan anak muda menjangkau ruang yang tidak dijangkau perpustakaan formal,” katanya.

“Membaca harus lahir dari sukarela. Dari rasa ingin. Bukan dari paksaan,” katanya. Seseorang hanya akan membaca dengan sungguh-sungguh ketika ia membaca untuk dirinya sendiri.

Di Pontianak, Kalimantan Barat ada komunitas baca bernama Pablos. Berdiri tahun 2023, Pablos muncul dari keresahan sejumlah anak muda di sana. Salah satu anggota Komunitas Pablos, Fajar, mengakui, gerakan mereka terilhami dari komunitas-komunitas di Pulau Jawa.

Anak-anak muda yang tergerak ingin melakukan hal serupa pun berkenalan di media sosial dan akhirnya bertemu muka. Kini, dengan puluhan orang, komunitas tersebut rutin bertemu dua minggu sekali. Masing-masing membawa buku yang sudah atau sedang dibaca lalu didiskusikan pada kelompok tersebut.

Menariknya, pertemuan ini dilakukan di coffee shop. “Menurut kami coffee shop tempat yang nyaman untuk ngomongin soal buku, biasanya coffee shop identik dengan tempat nongkrong, kami juga mau mengubah itu coffee shop bisa juga loh untuk membaca,” paparnya. 

Guru Besar Sains Informasi dan Pengajar Mata Kuliah Literasi dan Perilaku Gemar Membaca Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Di Universitas Airlangga (Unair) Rahma Sugihartati menilai gerakan membaca di ruang publik sebagai kekuatan penting. “Gerakan anak muda menjangkau ruang yang tidak dijangkau perpustakaan formal,” katanya.

“Membaca harus lahir dari sukarela. Dari rasa ingin. Bukan dari paksaan,” katanya. Seseorang hanya akan membaca dengan sungguh-sungguh ketika ia membaca untuk dirinya sendiri.

Toko Buku dan Perpustakaan pun Bisa menjadi Suluh Literasi

Toko Buku dan Perpustakaan pun Bisa menjadi Suluh Literasi

Toko Buku dan Perpustakaan pun Bisa menjadi Suluh Literasi

Memberikan ruang-ruang terbuka bagi masyarakat agar bisa meningkatkan minat baca pun bisa dilakukan melalui toko buku atau perpustakaan yang tidak sekedar menjadi ruang baca, tapi juga ruang berinteraksi. Sebab, perubahan masyarakat dalam beraktivitas dan bersosialisasi ikut memengaruhi cara maupun minat mereka untuk membaca. Langkah dalam meningkatkan literasi tersebut coba dilakukan sejumlah toko buku di Kota Bandung, salah satunya Bunga di Tembok. 

Pengelola Bunga di Tembok, Nabila Eva Gilfani menuturkan bahwa perpustakaan ini sedari awal memang dikonsep sebagai tempat yang bebas akses, tanpa harus ada reservasi, tanpa harus membayar. Dengan demikian, perpustakaan seharusnya bisa didatangi siapapun, tanpa ada sekat mulai dari anak sekolah, kuliah, pekerja, atau masyarakat umum.

Menurutnya, minat baca warga di Kota Bandung tidak terlalu buruk. Tantangannya justru titik atau tempat yang bisa diakses agar mereka bisa nyaman ketika membaca di luar rumah seperti di perpustakaan atau toko buku. 

"Kalau dengar orang yang datang ke sini keluhan mereka itu ingin ada perpustakaan yang bisa membaca dan waktunya bisa lebih panjang," kata Nabila.

Memberikan ruang-ruang terbuka bagi masyarakat agar bisa meningkatkan minat baca pun bisa dilakukan melalui toko buku atau perpustakaan yang tidak sekedar menjadi ruang baca, tapi juga ruang berinteraksi. Sebab, perubahan masyarakat dalam beraktivitas dan bersosialisasi ikut memengaruhi cara maupun minat mereka untuk membaca. Langkah dalam meningkatkan literasi tersebut coba dilakukan sejumlah toko buku di Kota Bandung, salah satunya Bunga di Tembok. 

Pengelola Bunga di Tembok, Nabila Eva Gilfani menuturkan bahwa perpustakaan ini sedari awal memang dikonsep sebagai tempat yang bebas akses, tanpa harus ada reservasi, tanpa harus membayar. Dengan demikian, perpustakaan seharusnya bisa didatangi siapapun, tanpa ada sekat mulai dari anak sekolah, kuliah, pekerja, atau masyarakat umum.

Menurutnya, minat baca warga di Kota Bandung tidak terlalu buruk. Tantangannya justru titik atau tempat yang bisa diakses agar mereka bisa nyaman ketika membaca di luar rumah seperti di perpustakaan atau toko buku. 

"Kalau dengar orang yang datang ke sini keluhan mereka itu ingin ada perpustakaan yang bisa membaca dan waktunya bisa lebih panjang," kata Nabila.

Memberikan ruang-ruang terbuka bagi masyarakat agar bisa meningkatkan minat baca pun bisa dilakukan melalui toko buku atau perpustakaan yang tidak sekedar menjadi ruang baca, tapi juga ruang berinteraksi. Sebab, perubahan masyarakat dalam beraktivitas dan bersosialisasi ikut memengaruhi cara maupun minat mereka untuk membaca. Langkah dalam meningkatkan literasi tersebut coba dilakukan sejumlah toko buku di Kota Bandung, salah satunya Bunga di Tembok. 

Pengelola Bunga di Tembok, Nabila Eva Gilfani menuturkan bahwa perpustakaan ini sedari awal memang dikonsep sebagai tempat yang bebas akses, tanpa harus ada reservasi, tanpa harus membayar. Dengan demikian, perpustakaan seharusnya bisa didatangi siapapun, tanpa ada sekat mulai dari anak sekolah, kuliah, pekerja, atau masyarakat umum.

Menurutnya, minat baca warga di Kota Bandung tidak terlalu buruk. Tantangannya justru titik atau tempat yang bisa diakses agar mereka bisa nyaman ketika membaca di luar rumah seperti di perpustakaan atau toko buku. 

"Kalau dengar orang yang datang ke sini keluhan mereka itu ingin ada perpustakaan yang bisa membaca dan waktunya bisa lebih panjang," kata Nabila.

Pengelola Bunga di Tembok sendiri sengaja membuka tempatnya dari siang ke malam, demi memberikan ruang bagi para pelajar atau mahasiswa yang ingin membaca atau sekedar bercengkerama. Selain itu, para pekerja yang baru selesai dari kantor atau aktivitas lainnya bisa datang dan membaca di sini. 

Untuk meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan, Bunga di Tembok tak sekedar mengadakan diskusi mengenai buku-buku baru dari para penulis. Pengelola juga menyediakan ruangan untuk kegiatan berbagai komunitas. Mereka bisa berdiskusi apapun di sini di luar sekedar membaca bersama. 

"Komunitas mana pun untuk melakukan kegiatannya, diskusi. Sampai bahkan di sini itu sudah beragam macam sih kegiatannya kayak nonton bareng, pertunjukan musik, sampai kayak bahkan terakhir itu pertunjukan teater," papar Nabila. 

Kegiatan diskusi ini yang juga dilihat oleh IDN Times ketika berkunjung ke Bunga di Tembok. Pada Jumat (14/11/2025), sekitar pukul 13.00 WIB sudah ada diskusi yang dilakukan dari Mahasiswa Universitas Parahyangan. Selang satu jam, ada juga kegiatan dari salah satu sekolah menengah pertama (SMP) yang melakukan diskusi di ruangan lainnya. 

Nabila berharap keberadaan perpustakaan independen seperti itu bisa semakin banyak sehingga pembaca di Kota Bandung pun bisa meningkat.


Lihat wawancara selengkapnya di:

https://jogja.idntimes.com/news/jogja/tantangan-literasi-anak-muda-di-tengah-ai-dan-zombie-scrolling-00-yplq6-mw56c2

Pengelola Bunga di Tembok sendiri sengaja membuka tempatnya dari siang ke malam, demi memberikan ruang bagi para pelajar atau mahasiswa yang ingin membaca atau sekedar bercengkerama. Selain itu, para pekerja yang baru selesai dari kantor atau aktivitas lainnya bisa datang dan membaca di sini. 

Untuk meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan, Bunga di Tembok tak sekedar mengadakan diskusi mengenai buku-buku baru dari para penulis. Pengelola juga menyediakan ruangan untuk kegiatan berbagai komunitas. Mereka bisa berdiskusi apapun di sini di luar sekedar membaca bersama. 

"Komunitas mana pun untuk melakukan kegiatannya, diskusi. Sampai bahkan di sini itu sudah beragam macam sih kegiatannya kayak nonton bareng, pertunjukan musik, sampai kayak bahkan terakhir itu pertunjukan teater," papar Nabila. 

Kegiatan diskusi ini yang juga dilihat oleh IDN Times ketika berkunjung ke Bunga di Tembok. Pada Jumat (14/11/2025), sekitar pukul 13.00 WIB sudah ada diskusi yang dilakukan dari Mahasiswa Universitas Parahyangan. Selang satu jam, ada juga kegiatan dari salah satu sekolah menengah pertama (SMP) yang melakukan diskusi di ruangan lainnya. 

Nabila berharap keberadaan perpustakaan independen seperti itu bisa semakin banyak sehingga pembaca di Kota Bandung pun bisa meningkat.


Lihat wawancara selengkapnya di:

https://jogja.idntimes.com/news/jogja/tantangan-literasi-anak-muda-di-tengah-ai-dan-zombie-scrolling-00-yplq6-mw56c2

Pengelola Bunga di Tembok sendiri sengaja membuka tempatnya dari siang ke malam, demi memberikan ruang bagi para pelajar atau mahasiswa yang ingin membaca atau sekedar bercengkerama. Selain itu, para pekerja yang baru selesai dari kantor atau aktivitas lainnya bisa datang dan membaca di sini. 

Untuk meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan, Bunga di Tembok tak sekedar mengadakan diskusi mengenai buku-buku baru dari para penulis. Pengelola juga menyediakan ruangan untuk kegiatan berbagai komunitas. Mereka bisa berdiskusi apapun di sini di luar sekedar membaca bersama. 

"Komunitas mana pun untuk melakukan kegiatannya, diskusi. Sampai bahkan di sini itu sudah beragam macam sih kegiatannya kayak nonton bareng, pertunjukan musik, sampai kayak bahkan terakhir itu pertunjukan teater," papar Nabila. 

Kegiatan diskusi ini yang juga dilihat oleh IDN Times ketika berkunjung ke Bunga di Tembok. Pada Jumat (14/11/2025), sekitar pukul 13.00 WIB sudah ada diskusi yang dilakukan dari Mahasiswa Universitas Parahyangan. Selang satu jam, ada juga kegiatan dari salah satu sekolah menengah pertama (SMP) yang melakukan diskusi di ruangan lainnya. 

Nabila berharap keberadaan perpustakaan independen seperti itu bisa semakin banyak sehingga pembaca di Kota Bandung pun bisa meningkat.


Lihat wawancara selengkapnya di:

https://jogja.idntimes.com/news/jogja/tantangan-literasi-anak-muda-di-tengah-ai-dan-zombie-scrolling-00-yplq6-mw56c2

Lain lagi cara yang ditempuh Toko Buku (TB) Pelagia yang berada di salah satu rumah toko (ruko) sekitar Kebon Jati, Kota Bandung. TB Pelagia mencoba menghadirkan konsep tak sekedar toko buku. Pengelola TB Pelagia, Galuh Pangestri mengatakan, pendirian tempat ini sebenarnya mencoba menjawab keterbatasan akses ruang publik untuk bercakap-cakap.

"Karena kadang orang kalau sudah baca buku itu ingin update situasi, atau buku bacaannya, mereka bingung ngomong ke siapa. Dari pada overthinking sendiri memang dibutuhkan hub (tempat) untuk orang-orang bertemu, sharing pemikiran, berbagi kegelisahan, pemikiran, cara survive, makanya kita buat perpustakaan ini," kata Galuh. 

Meski belum berjalan lama, TB Pelagia sudah banyak menyelenggarakan diskusi komunitas pembaca buku. Pelatihan menulis dari beberapa penulis pun sudah dilakukan tempat ini. 

Galuh mengakui, tidak mudah meningkatkan minat baca pada kalangan anak muda. Mereka yang sudah biasa nongkrong dan kurang membaca buku akan lebih sulit diajak mampir ke perpustakaan atau toko buku.

Maka harus ada konsep matang agar toko buku atau perpustakaan bisa nyaman untuk calon pembaca, khususnya yang baru. 

Di sisi lain, pegiat literasi, termasuk pengelola toko buku pun, harus ikut serta dalam arus era modern yang sudah dipadati media sosial. Mereka bisa memiliki akun media sosial seperti Instagram atau Tiktok untuk menyajikan konten pentingnya membaca atau asyiknya membaca serta manfaatnya.  

"Kita harus pakai itu kalau komunikasi cara berbahasa seperti mereka," ungkap Galuh.

Lain lagi cara yang ditempuh Toko Buku (TB) Pelagia yang berada di salah satu rumah toko (ruko) sekitar Kebon Jati, Kota Bandung. TB Pelagia mencoba menghadirkan konsep tak sekedar toko buku. Pengelola TB Pelagia, Galuh Pangestri mengatakan, pendirian tempat ini sebenarnya mencoba menjawab keterbatasan akses ruang publik untuk bercakap-cakap.

"Karena kadang orang kalau sudah baca buku itu ingin update situasi, atau buku bacaannya, mereka bingung ngomong ke siapa. Dari pada overthinking sendiri memang dibutuhkan hub (tempat) untuk orang-orang bertemu, sharing pemikiran, berbagi kegelisahan, pemikiran, cara survive, makanya kita buat perpustakaan ini," kata Galuh. 

Meski belum berjalan lama, TB Pelagia sudah banyak menyelenggarakan diskusi komunitas pembaca buku. Pelatihan menulis dari beberapa penulis pun sudah dilakukan tempat ini. 

Galuh mengakui, tidak mudah meningkatkan minat baca pada kalangan anak muda. Mereka yang sudah biasa nongkrong dan kurang membaca buku akan lebih sulit diajak mampir ke perpustakaan atau toko buku.

Maka harus ada konsep matang agar toko buku atau perpustakaan bisa nyaman untuk calon pembaca, khususnya yang baru. 

Di sisi lain, pegiat literasi, termasuk pengelola toko buku pun, harus ikut serta dalam arus era modern yang sudah dipadati media sosial. Mereka bisa memiliki akun media sosial seperti Instagram atau Tiktok untuk menyajikan konten pentingnya membaca atau asyiknya membaca serta manfaatnya.  

"Kita harus pakai itu kalau komunikasi cara berbahasa seperti mereka," ungkap Galuh.

Lain lagi cara yang ditempuh Toko Buku (TB) Pelagia yang berada di salah satu rumah toko (ruko) sekitar Kebon Jati, Kota Bandung. TB Pelagia mencoba menghadirkan konsep tak sekedar toko buku. Pengelola TB Pelagia, Galuh Pangestri mengatakan, pendirian tempat ini sebenarnya mencoba menjawab keterbatasan akses ruang publik untuk bercakap-cakap.

"Karena kadang orang kalau sudah baca buku itu ingin update situasi, atau buku bacaannya, mereka bingung ngomong ke siapa. Dari pada overthinking sendiri memang dibutuhkan hub (tempat) untuk orang-orang bertemu, sharing pemikiran, berbagi kegelisahan, pemikiran, cara survive, makanya kita buat perpustakaan ini," kata Galuh. 

Meski belum berjalan lama, TB Pelagia sudah banyak menyelenggarakan diskusi komunitas pembaca buku. Pelatihan menulis dari beberapa penulis pun sudah dilakukan tempat ini. 

Galuh mengakui, tidak mudah meningkatkan minat baca pada kalangan anak muda. Mereka yang sudah biasa nongkrong dan kurang membaca buku akan lebih sulit diajak mampir ke perpustakaan atau toko buku.

Maka harus ada konsep matang agar toko buku atau perpustakaan bisa nyaman untuk calon pembaca, khususnya yang baru. 

Di sisi lain, pegiat literasi, termasuk pengelola toko buku pun, harus ikut serta dalam arus era modern yang sudah dipadati media sosial. Mereka bisa memiliki akun media sosial seperti Instagram atau Tiktok untuk menyajikan konten pentingnya membaca atau asyiknya membaca serta manfaatnya.  

"Kita harus pakai itu kalau komunikasi cara berbahasa seperti mereka," ungkap Galuh.

Gerakan-gerakan publik itu itu tidak hidup sendirian. Ia berjalan berdampingan dengan kebijakan, lembaga, dan struktur. Provinsi Jawa Timur (Jatim), misalnya, tetap memperhatikan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) pada warganya.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui 24 Februari 2025, TKM Jatim di peringkat ketiga nasional dengan skor 77,15, dengan jumlah buku dibaca rata-rata 5–6 buku per triwulan. Peringkat ini hanya berada di bawah DI Yogyakarta (79,99) dan Kepulauan Bangka Belitung (77,47).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jatim, Tiat S Suwardi, mengucap syukur. "Ini tren positif. Ini bukan hanya capaian pemerintah, tetapi hasil kerja bersama penggerak literasi, perpustakaan desa, sekolah, dan komunitas,” kata dia, saat ditemui di kantornya di Jalan Menur Pumpungan.

Menurut Tiat, TKM bukan hanya angka minat. Ia menunjukkan perilaku membaca cara orang menggunakan perpustakaan, durasi membaca, dan makna membaca dalam hidup warganya. Kenaikan TKM ikut mendorong Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jatim, yang kini berada di peringkat keenam nasional dengan skor 78,60, di atas rata-rata nasional 73,52.

“Kami terus memperluas layanan perpustakaan desa, sekolah, lapas, OPD,” katanya. “Sudah lebih dari 6.336 buku kami pinjamkan ke masyarakat,” beber Tiat.

Selain itu, mobil perpustakaan keliling menjangkau sekolah dan kampung, dongeng keliling mendekatkan literasi ke anak-anak, Tur Keliling Perpustakaan (Tulip) mengenalkan perpustakaan sebagai ruang publik, podcast literasi mengajak anak muda berpikir sambil mendengar, komunitas literasi dilibatkan dalam pembinaan desa.

“Budaya tidak lahir seketika,” kata Tiat. “Ia perlu diulang. Ia perlu dicintai dulu, baru menjadi kebiasaan,” imbuh dia. Namun ia juga menyebut tantangan terbesar. “Banyak masyarakat bisa mencari informasi. Tetapi belum tentu bisa memahami. Yang harus kita dorong adalah kemampuan berpikir kritis,” tegasnya.

Gerakan-gerakan publik itu itu tidak hidup sendirian. Ia berjalan berdampingan dengan kebijakan, lembaga, dan struktur. Provinsi Jawa Timur (Jatim), misalnya, tetap memperhatikan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) pada warganya.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui 24 Februari 2025, TKM Jatim di peringkat ketiga nasional dengan skor 77,15, dengan jumlah buku dibaca rata-rata 5–6 buku per triwulan. Peringkat ini hanya berada di bawah DI Yogyakarta (79,99) dan Kepulauan Bangka Belitung (77,47).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jatim, Tiat S Suwardi, mengucap syukur. "Ini tren positif. Ini bukan hanya capaian pemerintah, tetapi hasil kerja bersama penggerak literasi, perpustakaan desa, sekolah, dan komunitas,” kata dia, saat ditemui di kantornya di Jalan Menur Pumpungan.

Menurut Tiat, TKM bukan hanya angka minat. Ia menunjukkan perilaku membaca cara orang menggunakan perpustakaan, durasi membaca, dan makna membaca dalam hidup warganya. Kenaikan TKM ikut mendorong Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jatim, yang kini berada di peringkat keenam nasional dengan skor 78,60, di atas rata-rata nasional 73,52.

“Kami terus memperluas layanan perpustakaan desa, sekolah, lapas, OPD,” katanya. “Sudah lebih dari 6.336 buku kami pinjamkan ke masyarakat,” beber Tiat.

Selain itu, mobil perpustakaan keliling menjangkau sekolah dan kampung, dongeng keliling mendekatkan literasi ke anak-anak, Tur Keliling Perpustakaan (Tulip) mengenalkan perpustakaan sebagai ruang publik, podcast literasi mengajak anak muda berpikir sambil mendengar, komunitas literasi dilibatkan dalam pembinaan desa.

“Budaya tidak lahir seketika,” kata Tiat. “Ia perlu diulang. Ia perlu dicintai dulu, baru menjadi kebiasaan,” imbuh dia. Namun ia juga menyebut tantangan terbesar. “Banyak masyarakat bisa mencari informasi. Tetapi belum tentu bisa memahami. Yang harus kita dorong adalah kemampuan berpikir kritis,” tegasnya.

Gerakan-gerakan publik itu itu tidak hidup sendirian. Ia berjalan berdampingan dengan kebijakan, lembaga, dan struktur. Provinsi Jawa Timur (Jatim), misalnya, tetap memperhatikan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) pada warganya.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui 24 Februari 2025, TKM Jatim di peringkat ketiga nasional dengan skor 77,15, dengan jumlah buku dibaca rata-rata 5–6 buku per triwulan. Peringkat ini hanya berada di bawah DI Yogyakarta (79,99) dan Kepulauan Bangka Belitung (77,47).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jatim, Tiat S Suwardi, mengucap syukur. "Ini tren positif. Ini bukan hanya capaian pemerintah, tetapi hasil kerja bersama penggerak literasi, perpustakaan desa, sekolah, dan komunitas,” kata dia, saat ditemui di kantornya di Jalan Menur Pumpungan.

Menurut Tiat, TKM bukan hanya angka minat. Ia menunjukkan perilaku membaca cara orang menggunakan perpustakaan, durasi membaca, dan makna membaca dalam hidup warganya. Kenaikan TKM ikut mendorong Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jatim, yang kini berada di peringkat keenam nasional dengan skor 78,60, di atas rata-rata nasional 73,52.

“Kami terus memperluas layanan perpustakaan desa, sekolah, lapas, OPD,” katanya. “Sudah lebih dari 6.336 buku kami pinjamkan ke masyarakat,” beber Tiat.

Selain itu, mobil perpustakaan keliling menjangkau sekolah dan kampung, dongeng keliling mendekatkan literasi ke anak-anak, Tur Keliling Perpustakaan (Tulip) mengenalkan perpustakaan sebagai ruang publik, podcast literasi mengajak anak muda berpikir sambil mendengar, komunitas literasi dilibatkan dalam pembinaan desa.

“Budaya tidak lahir seketika,” kata Tiat. “Ia perlu diulang. Ia perlu dicintai dulu, baru menjadi kebiasaan,” imbuh dia. Namun ia juga menyebut tantangan terbesar. “Banyak masyarakat bisa mencari informasi. Tetapi belum tentu bisa memahami. Yang harus kita dorong adalah kemampuan berpikir kritis,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani menilai, tingkat literasi di satu wilayah dapat menurun. Salah satu faktornya adalah akses buku yang mungkin sulit didapat. 

“Kita tidak bisa mengendalikan. Upaya kami mengantarkan buku, kami juga punya Perpus Kite, perpustakaan elektronik kota Pontianak,” papar Riri. 

Dia juga memaparkan sejumlah inovasi sebagai upaya untuk meningkatkan kegemaran membaca warga Pontianak. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pontianak memiliki inovasi Perpus Goes to School, Gerakan Literasi dan Inklusi Masyarakat (Gesit), Antar Pinjaman Buku Untuk Disabilitas dan Panti Asuhan (Anakku Disapa), Berliterasi dan Inklusi Bersama Perpustakaan (Berabes), dan masih banyak lainnya. 

“Perpus Goes to School jadi mobil perpustakaan keliling mendatangi ke sekolah-sekolah itukan pendekatan kepada pelajar,,” ungkap Riri. 

Selanjutnya, program Gesit yang diluncurkan adalah pihaknya meminjamkan buku kepada kelompok masyarakat. Bekerja sama dengan kelurahan, TP PKK, dan Posyandu. Mereka juga menyasar ibu-ibu dan bapak-bapak. 

“Kami pinjamkan 100 buku untuk masyarakat. Di samping itu kami juga melakukan pelatihan-pelatihan terapan khususnya untuk ibu-ibu. Kenapa ibu-ibu? Karena ibu ini adalah madrasah pertama anak jadi kami ingin memghidupkan kembali suasana membaca bersama keluarga,” jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani menilai, tingkat literasi di satu wilayah dapat menurun. Salah satu faktornya adalah akses buku yang mungkin sulit didapat. 

“Kita tidak bisa mengendalikan. Upaya kami mengantarkan buku, kami juga punya Perpus Kite, perpustakaan elektronik kota Pontianak,” papar Riri. 

Dia juga memaparkan sejumlah inovasi sebagai upaya untuk meningkatkan kegemaran membaca warga Pontianak. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pontianak memiliki inovasi Perpus Goes to School, Gerakan Literasi dan Inklusi Masyarakat (Gesit), Antar Pinjaman Buku Untuk Disabilitas dan Panti Asuhan (Anakku Disapa), Berliterasi dan Inklusi Bersama Perpustakaan (Berabes), dan masih banyak lainnya. 

“Perpus Goes to School jadi mobil perpustakaan keliling mendatangi ke sekolah-sekolah itukan pendekatan kepada pelajar,,” ungkap Riri. 

Selanjutnya, program Gesit yang diluncurkan adalah pihaknya meminjamkan buku kepada kelompok masyarakat. Bekerja sama dengan kelurahan, TP PKK, dan Posyandu. Mereka juga menyasar ibu-ibu dan bapak-bapak. 

“Kami pinjamkan 100 buku untuk masyarakat. Di samping itu kami juga melakukan pelatihan-pelatihan terapan khususnya untuk ibu-ibu. Kenapa ibu-ibu? Karena ibu ini adalah madrasah pertama anak jadi kami ingin memghidupkan kembali suasana membaca bersama keluarga,” jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani menilai, tingkat literasi di satu wilayah dapat menurun. Salah satu faktornya adalah akses buku yang mungkin sulit didapat. 

“Kita tidak bisa mengendalikan. Upaya kami mengantarkan buku, kami juga punya Perpus Kite, perpustakaan elektronik kota Pontianak,” papar Riri. 

Dia juga memaparkan sejumlah inovasi sebagai upaya untuk meningkatkan kegemaran membaca warga Pontianak. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pontianak memiliki inovasi Perpus Goes to School, Gerakan Literasi dan Inklusi Masyarakat (Gesit), Antar Pinjaman Buku Untuk Disabilitas dan Panti Asuhan (Anakku Disapa), Berliterasi dan Inklusi Bersama Perpustakaan (Berabes), dan masih banyak lainnya. 

“Perpus Goes to School jadi mobil perpustakaan keliling mendatangi ke sekolah-sekolah itukan pendekatan kepada pelajar,,” ungkap Riri. 

Selanjutnya, program Gesit yang diluncurkan adalah pihaknya meminjamkan buku kepada kelompok masyarakat. Bekerja sama dengan kelurahan, TP PKK, dan Posyandu. Mereka juga menyasar ibu-ibu dan bapak-bapak. 

“Kami pinjamkan 100 buku untuk masyarakat. Di samping itu kami juga melakukan pelatihan-pelatihan terapan khususnya untuk ibu-ibu. Kenapa ibu-ibu? Karena ibu ini adalah madrasah pertama anak jadi kami ingin memghidupkan kembali suasana membaca bersama keluarga,” jelasnya. 

Saat ini, ada 10 kelurahan yang sudah bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, di antaranya Kelurahannya Tanjung Hulu, Mariana, Bangka Belitung Darat, Bansir Darat, Kota Baru, Siantan Hilir, Benua Malayu Darat, Pal 5, Sungai Jawi Luar, dan Sungai Jawi. 

Selanjutnya ada program Anakku Disapa. Program ini dikhususkan untuk teman-teman penyandang disabilitas. Riri bilang, pihaknya memiliki koleksi buku braile. Masih menjadi PR untuk dapat mendatangkan teman-teman tunanetra pergi ke perpustakaan. 

“Karena kami tunggu tidak datang, jadi kami dekatkan lah bukunya ke pesantren atau panti asuhan disabilitas tunanetra ini,” ucap Riri. 

Yang tak kalah menarik, kata Riri, ada program Berabes. Program ini pihaknya mengajak ibu-ibu untuk mengikuti kegiatan terapan yang digelar di perpustakaan. 

Saat ini, ada 10 kelurahan yang sudah bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, di antaranya Kelurahannya Tanjung Hulu, Mariana, Bangka Belitung Darat, Bansir Darat, Kota Baru, Siantan Hilir, Benua Malayu Darat, Pal 5, Sungai Jawi Luar, dan Sungai Jawi. 

Selanjutnya ada program Anakku Disapa. Program ini dikhususkan untuk teman-teman penyandang disabilitas. Riri bilang, pihaknya memiliki koleksi buku braile. Masih menjadi PR untuk dapat mendatangkan teman-teman tunanetra pergi ke perpustakaan. 

“Karena kami tunggu tidak datang, jadi kami dekatkan lah bukunya ke pesantren atau panti asuhan disabilitas tunanetra ini,” ucap Riri. 

Yang tak kalah menarik, kata Riri, ada program Berabes. Program ini pihaknya mengajak ibu-ibu untuk mengikuti kegiatan terapan yang digelar di perpustakaan. 

Saat ini, ada 10 kelurahan yang sudah bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, di antaranya Kelurahannya Tanjung Hulu, Mariana, Bangka Belitung Darat, Bansir Darat, Kota Baru, Siantan Hilir, Benua Malayu Darat, Pal 5, Sungai Jawi Luar, dan Sungai Jawi. 

Selanjutnya ada program Anakku Disapa. Program ini dikhususkan untuk teman-teman penyandang disabilitas. Riri bilang, pihaknya memiliki koleksi buku braile. Masih menjadi PR untuk dapat mendatangkan teman-teman tunanetra pergi ke perpustakaan. 

“Karena kami tunggu tidak datang, jadi kami dekatkan lah bukunya ke pesantren atau panti asuhan disabilitas tunanetra ini,” ucap Riri. 

Yang tak kalah menarik, kata Riri, ada program Berabes. Program ini pihaknya mengajak ibu-ibu untuk mengikuti kegiatan terapan yang digelar di perpustakaan. 

Di Universitas Kristen Petra, seorang kepala perpustakaan Dian Wulandari mengatakan hal serupa. “Bisa membaca hanya berarti mengenali kata,” katanya. “Kalau melek literasi berarti tahu mana informasi yang benar, relevan, dan dapat dipercaya,” terangnya.

Ia melihat banyak siswa membaca hanya untuk menjawab tugas. Bukan untuk mengerti. Mereka membaca dengan cepat, tetapi tidak tinggal.

Namun ada lapisan yang lebih sunyi.

Psikolog Perkembangan dan Pendidikan Universitas Hang Tuah Surabaya, Dewi Mahastuti menjelaskan bahwa membaca tidak hanya melibatkan huruf. Membaca melibatkan memori kerja, imajinasi, empati, dan kemampuan berpikir abstrak.

Remaja yang tumbuh dalam dunia video pendek, scroll cepat, dan notifikasi beruntun bukan kehilangan kecerdasan. Mereka kehilangan kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pikiran.

Membaca memerlukan diam. Dan diam adalah barang mewah. “Tanpa membaca yang pelan dan mendalam, seseorang tahu banyak, tetapi memahami sedikit berbicara cepat, tetapi berpikir dangkal, memiliki opini, tetapi tidak punya akar,” katanya.

“Tanpa membaca, seseorang hanya hidup sebagai dirinya sendiri,” imbuh Dewi. Seseorang itu akan hidup tanpa jendela, tanpa pintu, tanpa kesempatan menjadi orang lain. Dan tidak ada kesunyian yang lebih dalam daripada hidup, tanpa kemampuan melihat dunia dari mata orang lain.

Di Universitas Kristen Petra, seorang kepala perpustakaan Dian Wulandari mengatakan hal serupa. “Bisa membaca hanya berarti mengenali kata,” katanya. “Kalau melek literasi berarti tahu mana informasi yang benar, relevan, dan dapat dipercaya,” terangnya.

Ia melihat banyak siswa membaca hanya untuk menjawab tugas. Bukan untuk mengerti. Mereka membaca dengan cepat, tetapi tidak tinggal.

Namun ada lapisan yang lebih sunyi.

Psikolog Perkembangan dan Pendidikan Universitas Hang Tuah Surabaya, Dewi Mahastuti menjelaskan bahwa membaca tidak hanya melibatkan huruf. Membaca melibatkan memori kerja, imajinasi, empati, dan kemampuan berpikir abstrak.

Remaja yang tumbuh dalam dunia video pendek, scroll cepat, dan notifikasi beruntun bukan kehilangan kecerdasan. Mereka kehilangan kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pikiran.

Membaca memerlukan diam. Dan diam adalah barang mewah. “Tanpa membaca yang pelan dan mendalam, seseorang tahu banyak, tetapi memahami sedikit berbicara cepat, tetapi berpikir dangkal, memiliki opini, tetapi tidak punya akar,” katanya.

“Tanpa membaca, seseorang hanya hidup sebagai dirinya sendiri,” imbuh Dewi. Seseorang itu akan hidup tanpa jendela, tanpa pintu, tanpa kesempatan menjadi orang lain. Dan tidak ada kesunyian yang lebih dalam daripada hidup, tanpa kemampuan melihat dunia dari mata orang lain.

Di Universitas Kristen Petra, seorang kepala perpustakaan Dian Wulandari mengatakan hal serupa. “Bisa membaca hanya berarti mengenali kata,” katanya. “Kalau melek literasi berarti tahu mana informasi yang benar, relevan, dan dapat dipercaya,” terangnya.

Ia melihat banyak siswa membaca hanya untuk menjawab tugas. Bukan untuk mengerti. Mereka membaca dengan cepat, tetapi tidak tinggal.

Namun ada lapisan yang lebih sunyi.

Psikolog Perkembangan dan Pendidikan Universitas Hang Tuah Surabaya, Dewi Mahastuti menjelaskan bahwa membaca tidak hanya melibatkan huruf. Membaca melibatkan memori kerja, imajinasi, empati, dan kemampuan berpikir abstrak.

Remaja yang tumbuh dalam dunia video pendek, scroll cepat, dan notifikasi beruntun bukan kehilangan kecerdasan. Mereka kehilangan kemampuan untuk tinggal lebih lama dalam satu pikiran.

Membaca memerlukan diam. Dan diam adalah barang mewah. “Tanpa membaca yang pelan dan mendalam, seseorang tahu banyak, tetapi memahami sedikit berbicara cepat, tetapi berpikir dangkal, memiliki opini, tetapi tidak punya akar,” katanya.

“Tanpa membaca, seseorang hanya hidup sebagai dirinya sendiri,” imbuh Dewi. Seseorang itu akan hidup tanpa jendela, tanpa pintu, tanpa kesempatan menjadi orang lain. Dan tidak ada kesunyian yang lebih dalam daripada hidup, tanpa kemampuan melihat dunia dari mata orang lain.

Siswa SD hingga SMA Diminta Membaca Buku dan Menuliskan Resensi?

Siswa SD hingga SMA Diminta Membaca Buku dan Menuliskan Resensi?

Siswa SD hingga SMA Diminta Membaca Buku dan Menuliskan Resensi?

"PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku"

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti

"PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku"

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti

"PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku"

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti

"PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku"

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti

Persoalan literasi sebetulnya tak bisa dipisahkan dari ketersediaan buku berkualitas, tapi terjangkau dan mudah diakses. Ini menjadi persoalan krusial karena sejumlah pegiat literasi menilai, buku itu mahal.

“Banyak sekolah belum punya perpustakaan layak, harga buku masih mahal, dan distribusi ke daerah terpencil belum merata. Pemerintah harus menjadikan akses terhadap buku bermutu sebagai prioritas,” kata anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi penerbit lokal, termasuk subsidi buku anak, penguatan distribusi daerah, serta percepatan digitalisasi perpustakaan sekolah melalui platform buku digital nasional yang mudah diakses siswa.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Ilman menyadari persoalan itu. Menurutnya, minat baca generasi muda Indonesia sebenarnya tinggi, tetapi belum didukung ekosistem perbukuan yang memadai. Akibatnya, banyak buku berkualitas tidak terserap pasar dan justru menumpuk di gudang penerbit atau tak tersentuh di perpustakaan.

Menurut Arys, persoalan utama bukan pada keinginan membaca, melainkan pada akses. “Kami percaya minat baca masyarakat Indonesia tinggi. Namun, minat baca harus menjadi budaya baca. Untuk itu, masyarakat harus punya akses yang baik terhadap bahan bacaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa akses yang merata, karya terbaik sekalipun tidak akan sampai ke tangan pembaca. “Jika tidak, buku-buku terbaik sekalipun tidak akan menemukan pembacanya dan hanya akan menumpuk di gudang-gudang penerbit atau tak tersentuh di perpustakaan-perpustakaan,” lanjut Arys.

Persoalan literasi sebetulnya tak bisa dipisahkan dari ketersediaan buku berkualitas, tapi terjangkau dan mudah diakses. Ini menjadi persoalan krusial karena sejumlah pegiat literasi menilai, buku itu mahal.

“Banyak sekolah belum punya perpustakaan layak, harga buku masih mahal, dan distribusi ke daerah terpencil belum merata. Pemerintah harus menjadikan akses terhadap buku bermutu sebagai prioritas,” kata anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi penerbit lokal, termasuk subsidi buku anak, penguatan distribusi daerah, serta percepatan digitalisasi perpustakaan sekolah melalui platform buku digital nasional yang mudah diakses siswa.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Ilman menyadari persoalan itu. Menurutnya, minat baca generasi muda Indonesia sebenarnya tinggi, tetapi belum didukung ekosistem perbukuan yang memadai. Akibatnya, banyak buku berkualitas tidak terserap pasar dan justru menumpuk di gudang penerbit atau tak tersentuh di perpustakaan.

Menurut Arys, persoalan utama bukan pada keinginan membaca, melainkan pada akses. “Kami percaya minat baca masyarakat Indonesia tinggi. Namun, minat baca harus menjadi budaya baca. Untuk itu, masyarakat harus punya akses yang baik terhadap bahan bacaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa akses yang merata, karya terbaik sekalipun tidak akan sampai ke tangan pembaca. “Jika tidak, buku-buku terbaik sekalipun tidak akan menemukan pembacanya dan hanya akan menumpuk di gudang-gudang penerbit atau tak tersentuh di perpustakaan-perpustakaan,” lanjut Arys.

Persoalan literasi sebetulnya tak bisa dipisahkan dari ketersediaan buku berkualitas, tapi terjangkau dan mudah diakses. Ini menjadi persoalan krusial karena sejumlah pegiat literasi menilai, buku itu mahal.

“Banyak sekolah belum punya perpustakaan layak, harga buku masih mahal, dan distribusi ke daerah terpencil belum merata. Pemerintah harus menjadikan akses terhadap buku bermutu sebagai prioritas,” kata anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi penerbit lokal, termasuk subsidi buku anak, penguatan distribusi daerah, serta percepatan digitalisasi perpustakaan sekolah melalui platform buku digital nasional yang mudah diakses siswa.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Ilman menyadari persoalan itu. Menurutnya, minat baca generasi muda Indonesia sebenarnya tinggi, tetapi belum didukung ekosistem perbukuan yang memadai. Akibatnya, banyak buku berkualitas tidak terserap pasar dan justru menumpuk di gudang penerbit atau tak tersentuh di perpustakaan.

Menurut Arys, persoalan utama bukan pada keinginan membaca, melainkan pada akses. “Kami percaya minat baca masyarakat Indonesia tinggi. Namun, minat baca harus menjadi budaya baca. Untuk itu, masyarakat harus punya akses yang baik terhadap bahan bacaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa akses yang merata, karya terbaik sekalipun tidak akan sampai ke tangan pembaca. “Jika tidak, buku-buku terbaik sekalipun tidak akan menemukan pembacanya dan hanya akan menumpuk di gudang-gudang penerbit atau tak tersentuh di perpustakaan-perpustakaan,” lanjut Arys.

Arys juga menyebut industri penerbitan saat ini menjadi “korban besar” dari maraknya pembajakan buku, terutama melalui platform marketplace. “Industri penerbitan telah menjadi korban pembajakan yang sangat massif, terutama melalui lokapasar,” tegasnya.

Ia mengakui beberapa platform sudah bekerja sama dengan IKAPI untuk membersihkan lapak bajakan, tetapi satu platform masih menjadi masalah besar.

“Sayangnya platform TikTok sekarang menjadi surga bagi penjualan buku bajakan. Dan kami sulit untuk berbicara dengan mereka karena alasan kewenangan di luar kantor Indonesia,” kata Arys.

Ia meminta pemerintah bersikap lebih tegas. “Pemerintah harus berpihak pada pemilik dan pemegang hak cipta dengan membuat langkah tegas kepada platform penyebar buku bajakan,” ungkapnya.

Arys juga menyebut industri penerbitan saat ini menjadi “korban besar” dari maraknya pembajakan buku, terutama melalui platform marketplace. “Industri penerbitan telah menjadi korban pembajakan yang sangat massif, terutama melalui lokapasar,” tegasnya.

Ia mengakui beberapa platform sudah bekerja sama dengan IKAPI untuk membersihkan lapak bajakan, tetapi satu platform masih menjadi masalah besar.

“Sayangnya platform TikTok sekarang menjadi surga bagi penjualan buku bajakan. Dan kami sulit untuk berbicara dengan mereka karena alasan kewenangan di luar kantor Indonesia,” kata Arys.

Ia meminta pemerintah bersikap lebih tegas. “Pemerintah harus berpihak pada pemilik dan pemegang hak cipta dengan membuat langkah tegas kepada platform penyebar buku bajakan,” ungkapnya.

Arys juga menyebut industri penerbitan saat ini menjadi “korban besar” dari maraknya pembajakan buku, terutama melalui platform marketplace. “Industri penerbitan telah menjadi korban pembajakan yang sangat massif, terutama melalui lokapasar,” tegasnya.

Ia mengakui beberapa platform sudah bekerja sama dengan IKAPI untuk membersihkan lapak bajakan, tetapi satu platform masih menjadi masalah besar.

“Sayangnya platform TikTok sekarang menjadi surga bagi penjualan buku bajakan. Dan kami sulit untuk berbicara dengan mereka karena alasan kewenangan di luar kantor Indonesia,” kata Arys.

Ia meminta pemerintah bersikap lebih tegas. “Pemerintah harus berpihak pada pemilik dan pemegang hak cipta dengan membuat langkah tegas kepada platform penyebar buku bajakan,” ungkapnya.

Terkait isu pajak, Arys mengapresiasi kebijakan Kementerian Keuangan yang telah membebaskan semua jenis buku dari PPN sejak 2020. Namun, ia menilai masih ada PR besar lain.

“Itu sebuah keberpihakan luar biasa dan sesuai dengan prinsip no tax on knowledge. Tapi kita masih memerlukan keberpihakan kepada penulis terkait PPh royalti, serta PPN bahan baku buku seperti kertas dan tinta,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa masalah ini pernah menjadi janji pemerintah. “Ini sebenarnya pernah menjadi janji tim kampanye Prabowo dan kita menantikan perwujudannya,” kata Arys.

Meski sering dianggap bisnis besar, industri penerbitan disebut memiliki margin keuntungan yang tipis. “Paling hanya lima persen atau lebih rendah lagi,” tuturnya.

Arys berharap pemerintah, platform digital, dan masyarakat dapat bersama-sama membangun ekosistem perbukuan yang lebih sehat agar generasi muda Indonesia tidak hanya gemar membaca, tetapi benar-benar punya akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas.

Terkait isu pajak, Arys mengapresiasi kebijakan Kementerian Keuangan yang telah membebaskan semua jenis buku dari PPN sejak 2020. Namun, ia menilai masih ada PR besar lain.

“Itu sebuah keberpihakan luar biasa dan sesuai dengan prinsip no tax on knowledge. Tapi kita masih memerlukan keberpihakan kepada penulis terkait PPh royalti, serta PPN bahan baku buku seperti kertas dan tinta,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa masalah ini pernah menjadi janji pemerintah. “Ini sebenarnya pernah menjadi janji tim kampanye Prabowo dan kita menantikan perwujudannya,” kata Arys.

Meski sering dianggap bisnis besar, industri penerbitan disebut memiliki margin keuntungan yang tipis. “Paling hanya lima persen atau lebih rendah lagi,” tuturnya.

Arys berharap pemerintah, platform digital, dan masyarakat dapat bersama-sama membangun ekosistem perbukuan yang lebih sehat agar generasi muda Indonesia tidak hanya gemar membaca, tetapi benar-benar punya akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas.

Terkait isu pajak, Arys mengapresiasi kebijakan Kementerian Keuangan yang telah membebaskan semua jenis buku dari PPN sejak 2020. Namun, ia menilai masih ada PR besar lain.

“Itu sebuah keberpihakan luar biasa dan sesuai dengan prinsip no tax on knowledge. Tapi kita masih memerlukan keberpihakan kepada penulis terkait PPh royalti, serta PPN bahan baku buku seperti kertas dan tinta,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa masalah ini pernah menjadi janji pemerintah. “Ini sebenarnya pernah menjadi janji tim kampanye Prabowo dan kita menantikan perwujudannya,” kata Arys.

Meski sering dianggap bisnis besar, industri penerbitan disebut memiliki margin keuntungan yang tipis. “Paling hanya lima persen atau lebih rendah lagi,” tuturnya.

Arys berharap pemerintah, platform digital, dan masyarakat dapat bersama-sama membangun ekosistem perbukuan yang lebih sehat agar generasi muda Indonesia tidak hanya gemar membaca, tetapi benar-benar punya akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas.

Saat memberikan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XX Ikapi yang digelar di Jakarta, 19 November lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan literasinya. Ia menyampaikan bahwa budaya membaca dan menulis merupakan fondasi utama yang tidak bisa ditawar jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju.

Mu’ti menilai bahwa negara yang tidak membangun budaya membaca akan tertinggal. Menurutnya, generasi yang tidak dibiasakan membaca, menulis, dan belajar melalui buku sejak dini akan kesulitan bersaing di masa depan.

"Karena kalau tidak kita bangun budaya membaca, tidak kita bangun budaya menulis, dan tidak kita bangun budaya anak kita yang belajar dengan buku sebagai kuncinya, kita tidak menjadi bangsa yang maju," ucap Mu'ti.

Mu’ti menekankan pentingnya menugaskan siswa membaca dan menulis sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. “Pekerjaan rumah (PR) itu penting, tetapi bukan hanya mengerjakan soal. PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku,” tegasnya.

Saat memberikan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XX Ikapi yang digelar di Jakarta, 19 November lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan literasinya. Ia menyampaikan bahwa budaya membaca dan menulis merupakan fondasi utama yang tidak bisa ditawar jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju.

Mu’ti menilai bahwa negara yang tidak membangun budaya membaca akan tertinggal. Menurutnya, generasi yang tidak dibiasakan membaca, menulis, dan belajar melalui buku sejak dini akan kesulitan bersaing di masa depan.

"Karena kalau tidak kita bangun budaya membaca, tidak kita bangun budaya menulis, dan tidak kita bangun budaya anak kita yang belajar dengan buku sebagai kuncinya, kita tidak menjadi bangsa yang maju," ucap Mu'ti.

Mu’ti menekankan pentingnya menugaskan siswa membaca dan menulis sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. “Pekerjaan rumah (PR) itu penting, tetapi bukan hanya mengerjakan soal. PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku,” tegasnya.

Saat memberikan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XX Ikapi yang digelar di Jakarta, 19 November lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan literasinya. Ia menyampaikan bahwa budaya membaca dan menulis merupakan fondasi utama yang tidak bisa ditawar jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju.

Mu’ti menilai bahwa negara yang tidak membangun budaya membaca akan tertinggal. Menurutnya, generasi yang tidak dibiasakan membaca, menulis, dan belajar melalui buku sejak dini akan kesulitan bersaing di masa depan.

"Karena kalau tidak kita bangun budaya membaca, tidak kita bangun budaya menulis, dan tidak kita bangun budaya anak kita yang belajar dengan buku sebagai kuncinya, kita tidak menjadi bangsa yang maju," ucap Mu'ti.

Mu’ti menekankan pentingnya menugaskan siswa membaca dan menulis sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. “Pekerjaan rumah (PR) itu penting, tetapi bukan hanya mengerjakan soal. PR mestinya menugaskan anak membaca dan menulis, seperti membuat resensi atau review buku,” tegasnya.

Mu’ti menyampaikan perlunya sinergi untuk memperkuat ekosistem literasi nasional. “Kami berharap Ikapi tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga membantu melahirkan penulis-penulis yang baik serta membangun ekosistem literasi yang kuat,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya inovasi dalam penyajian buku agar lebih menarik bagi pelajar. “Buku akan menarik dibaca jika handy, ringan, layout-nya menarik, dan memudahkan pembaca memahami gagasan pentingnya,” kata Mu’ti.

Untuk meningkatkan literasi sains dan numerasi, Mu’ti mengatakan bahwa Kemendikdasmen saat ini sedang mengembangkan buku-buku STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics-- yang disederhanakan, aplikatif, dan bermuatan nilai karakter sehingga bisa dekat dengan dunia anak-anak. Teknologi, menurut dia, harus dijelaskan secara sederhana, tetapi tetap disertai nilai. Itulah pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran.

Selain itu, Mu’ti juga mengatakan, "tanpa membangun budaya membaca, budaya menulis, dan pembelajaran berbasis buku, kita tidak akan menjadi bangsa yang maju."

Mu’ti menyampaikan perlunya sinergi untuk memperkuat ekosistem literasi nasional. “Kami berharap Ikapi tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga membantu melahirkan penulis-penulis yang baik serta membangun ekosistem literasi yang kuat,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya inovasi dalam penyajian buku agar lebih menarik bagi pelajar. “Buku akan menarik dibaca jika handy, ringan, layout-nya menarik, dan memudahkan pembaca memahami gagasan pentingnya,” kata Mu’ti.

Untuk meningkatkan literasi sains dan numerasi, Mu’ti mengatakan bahwa Kemendikdasmen saat ini sedang mengembangkan buku-buku STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics-- yang disederhanakan, aplikatif, dan bermuatan nilai karakter sehingga bisa dekat dengan dunia anak-anak. Teknologi, menurut dia, harus dijelaskan secara sederhana, tetapi tetap disertai nilai. Itulah pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran.

Selain itu, Mu’ti juga mengatakan, "tanpa membangun budaya membaca, budaya menulis, dan pembelajaran berbasis buku, kita tidak akan menjadi bangsa yang maju."

Mu’ti menyampaikan perlunya sinergi untuk memperkuat ekosistem literasi nasional. “Kami berharap Ikapi tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga membantu melahirkan penulis-penulis yang baik serta membangun ekosistem literasi yang kuat,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya inovasi dalam penyajian buku agar lebih menarik bagi pelajar. “Buku akan menarik dibaca jika handy, ringan, layout-nya menarik, dan memudahkan pembaca memahami gagasan pentingnya,” kata Mu’ti.

Untuk meningkatkan literasi sains dan numerasi, Mu’ti mengatakan bahwa Kemendikdasmen saat ini sedang mengembangkan buku-buku STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics-- yang disederhanakan, aplikatif, dan bermuatan nilai karakter sehingga bisa dekat dengan dunia anak-anak. Teknologi, menurut dia, harus dijelaskan secara sederhana, tetapi tetap disertai nilai. Itulah pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran.

Selain itu, Mu’ti juga mengatakan, "tanpa membangun budaya membaca, budaya menulis, dan pembelajaran berbasis buku, kita tidak akan menjadi bangsa yang maju."

Legislator Syarif menambahkan, budaya baca tidak lahir tiba-tiba, melainkan hasil investasi besar pada akses buku, perpustakaan, dan pendampingan literasi yang konsisten. Ia pun mencontohkan praktik baik yang telah berlangsung lama di negara-negara maju, seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan.

Syarif mendukung penuh rencana Mendikdasmen Abdul Muti yang akan mewajibkan siswa SD hingga SMA membaca buku dan menuliskan resensi.

“Tetapi dukungan ini harus nyata dalam bentuk perbaikan ekosistem literasi. Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi,” tuturnya.

Legislator Syarif menambahkan, budaya baca tidak lahir tiba-tiba, melainkan hasil investasi besar pada akses buku, perpustakaan, dan pendampingan literasi yang konsisten. Ia pun mencontohkan praktik baik yang telah berlangsung lama di negara-negara maju, seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan.

Syarif mendukung penuh rencana Mendikdasmen Abdul Muti yang akan mewajibkan siswa SD hingga SMA membaca buku dan menuliskan resensi.

“Tetapi dukungan ini harus nyata dalam bentuk perbaikan ekosistem literasi. Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi,” tuturnya.

Legislator Syarif menambahkan, budaya baca tidak lahir tiba-tiba, melainkan hasil investasi besar pada akses buku, perpustakaan, dan pendampingan literasi yang konsisten. Ia pun mencontohkan praktik baik yang telah berlangsung lama di negara-negara maju, seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan.

Syarif mendukung penuh rencana Mendikdasmen Abdul Muti yang akan mewajibkan siswa SD hingga SMA membaca buku dan menuliskan resensi.

“Tetapi dukungan ini harus nyata dalam bentuk perbaikan ekosistem literasi. Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi,” tuturnya.

"Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi"

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad

"Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi"

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad

"Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi"

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad

"Jika akses buku diperbaiki dan guru dibekali kemampuan, maka kewajiban membaca bukan hanya mungkin diterapkan, tetapi bisa menjadi tonggak lahirnya generasi berdaya baca tinggi"

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarif Muhammad

Kebijakan membaca buku merupakan langkah strategis untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi peserta didik yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pendidikan nasional

“Wajib membaca dan membuat resensi adalah langkah tepat. Ini bukan sekadar tugas tambahan, tetapi upaya membangun kemampuan berpikir kritis dan menumbuhkan budaya literasi sejak dini,” ujar dia.

Dia menjelaskan, ada sejumlah tantangan harus segera diatasi agar kebijakan membaca dan membuat resensi bisa berjalan di lapangan.

Tantangan tersebut meliputi keterbatasan infrastruktur perpustakaan sekolah, kesiapan guru dalam membimbing proses literasi, serta ketimpangan akses digital untuk pemanfaatan buku elektronik.

“Guru harus dibekali metode memilih buku sesuai usia, cara mendampingi siswa membaca, hingga membimbing pembuatan resensi. Tanpa itu, kebijakan ini bisa berubah menjadi sekadar beban administratif,” kata dia.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi penerbit lokal, termasuk subsidi buku anak, penguatan distribusi daerah, serta percepatan digitalisasi perpustakaan sekolah melalui platform buku digital nasional yang mudah diakses siswa.

Selain itu, Syarif menilai peran masyarakat juga penting dalam membangun budaya baca. Orangtua juga harus berkontribusi dengan menyediakan waktu membaca bersama anak dan meminimalkan ketergantungan anak terhadap gawai. "Komunitas literasi juga didorong memperluas gerakan membaca dan membuat kelas resensi untuk siswa,” kata Legislator Fraksi PKB itu.

Kebijakan membaca buku merupakan langkah strategis untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi peserta didik yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pendidikan nasional

“Wajib membaca dan membuat resensi adalah langkah tepat. Ini bukan sekadar tugas tambahan, tetapi upaya membangun kemampuan berpikir kritis dan menumbuhkan budaya literasi sejak dini,” ujar dia.

Dia menjelaskan, ada sejumlah tantangan harus segera diatasi agar kebijakan membaca dan membuat resensi bisa berjalan di lapangan.

Tantangan tersebut meliputi keterbatasan infrastruktur perpustakaan sekolah, kesiapan guru dalam membimbing proses literasi, serta ketimpangan akses digital untuk pemanfaatan buku elektronik.

“Guru harus dibekali metode memilih buku sesuai usia, cara mendampingi siswa membaca, hingga membimbing pembuatan resensi. Tanpa itu, kebijakan ini bisa berubah menjadi sekadar beban administratif,” kata dia.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi penerbit lokal, termasuk subsidi buku anak, penguatan distribusi daerah, serta percepatan digitalisasi perpustakaan sekolah melalui platform buku digital nasional yang mudah diakses siswa.

Selain itu, Syarif menilai peran masyarakat juga penting dalam membangun budaya baca. Orangtua juga harus berkontribusi dengan menyediakan waktu membaca bersama anak dan meminimalkan ketergantungan anak terhadap gawai. "Komunitas literasi juga didorong memperluas gerakan membaca dan membuat kelas resensi untuk siswa,” kata Legislator Fraksi PKB itu.

Kebijakan membaca buku merupakan langkah strategis untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi peserta didik yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pendidikan nasional

“Wajib membaca dan membuat resensi adalah langkah tepat. Ini bukan sekadar tugas tambahan, tetapi upaya membangun kemampuan berpikir kritis dan menumbuhkan budaya literasi sejak dini,” ujar dia.

Dia menjelaskan, ada sejumlah tantangan harus segera diatasi agar kebijakan membaca dan membuat resensi bisa berjalan di lapangan.

Tantangan tersebut meliputi keterbatasan infrastruktur perpustakaan sekolah, kesiapan guru dalam membimbing proses literasi, serta ketimpangan akses digital untuk pemanfaatan buku elektronik.

“Guru harus dibekali metode memilih buku sesuai usia, cara mendampingi siswa membaca, hingga membimbing pembuatan resensi. Tanpa itu, kebijakan ini bisa berubah menjadi sekadar beban administratif,” kata dia.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi penerbit lokal, termasuk subsidi buku anak, penguatan distribusi daerah, serta percepatan digitalisasi perpustakaan sekolah melalui platform buku digital nasional yang mudah diakses siswa.

Selain itu, Syarif menilai peran masyarakat juga penting dalam membangun budaya baca. Orangtua juga harus berkontribusi dengan menyediakan waktu membaca bersama anak dan meminimalkan ketergantungan anak terhadap gawai. "Komunitas literasi juga didorong memperluas gerakan membaca dan membuat kelas resensi untuk siswa,” kata Legislator Fraksi PKB itu.

Kecintaan pada Literasi Diawali dari Rumah

Kecintaan pada Literasi Diawali dari Rumah

Kecintaan pada Literasi Diawali dari Rumah

Salah satu pihak yang paling penting untuk mengenalkan kecintaan pada literasi pada anak adalah orangtua. Seorang orangtua di Tangerang Selatan bernama Diah mengakui bahwa upayanya membiasakan membaca buku pada anak saat ini penuh tantangan.

"(Saat ini) Anak masih harus saya paksa membaca buku," kata Diah yang memiliki anak laki-laki di bangku kelas 5 SD itu.

Mantan wartawan itu mengakui, salah satu tantangan terbesarnya adalah "Susah melawan gempuran visual dan gim." Anak semata wayangnya memang menyukai Roblox, platform gim yang membuat penggunanya bisa mengembangkan permainan sendiri.

Diah pun tak habis akal. Setiap kali anaknya mau membaca buku, dia memberi reward berupa Robux, atau mata uang virtual untuk membeli item di Roblox.

Salah satu pihak yang paling penting untuk mengenalkan kecintaan pada literasi pada anak adalah orangtua. Seorang orangtua di Tangerang Selatan bernama Diah mengakui bahwa upayanya membiasakan membaca buku pada anak saat ini penuh tantangan.

"(Saat ini) Anak masih harus saya paksa membaca buku," kata Diah yang memiliki anak laki-laki di bangku kelas 5 SD itu.

Mantan wartawan itu mengakui, salah satu tantangan terbesarnya adalah "Susah melawan gempuran visual dan gim." Anak semata wayangnya memang menyukai Roblox, platform gim yang membuat penggunanya bisa mengembangkan permainan sendiri.

Diah pun tak habis akal. Setiap kali anaknya mau membaca buku, dia memberi reward berupa Robux, atau mata uang virtual untuk membeli item di Roblox.

Salah satu pihak yang paling penting untuk mengenalkan kecintaan pada literasi pada anak adalah orangtua. Seorang orangtua di Tangerang Selatan bernama Diah mengakui bahwa upayanya membiasakan membaca buku pada anak saat ini penuh tantangan.

"(Saat ini) Anak masih harus saya paksa membaca buku," kata Diah yang memiliki anak laki-laki di bangku kelas 5 SD itu.

Mantan wartawan itu mengakui, salah satu tantangan terbesarnya adalah "Susah melawan gempuran visual dan gim." Anak semata wayangnya memang menyukai Roblox, platform gim yang membuat penggunanya bisa mengembangkan permainan sendiri.

Diah pun tak habis akal. Setiap kali anaknya mau membaca buku, dia memberi reward berupa Robux, atau mata uang virtual untuk membeli item di Roblox.

Usaha Diah tak sia-sia. Di usia masih dini, sang anak sudah terbiasa membaca, cek dan ricek semua informasi di internet, dan riset.

Suatu hari, anaknya menunjukkan video, ada orang yang bisa menerbangkan balon gas sampai ke luar angkasa. "Saya tanya dia, 'menurut kamu masuk akal gak?'" kata Diah.

Dari situ, dia mengajak anaknya diskusi dan mengecek kebenaran setiap informasi yang dia temui di dunia maya. Dia menilai, untuk melatih anak-anak, memang perlu ada upaya dan komunikasi terbuka dan pembiasaan untuk diskusi. "Jadi anak terbiasa sharing apa yang dia baca, tonton, pikir. Dari situ, orangtua gampang masuknya buat ngelatih dia nyaring apa yg dia dapat dari internet," jelasnya.

Diah tak bisa memungkiri, kecanggihan teknologi saat ini, termasuk AI, sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari sang anak. Bahkan, beberapa tugas sekolah pun sudah menggunakan AI. "Emang susah ngelawan arus kayak gini, tapi anak minimal harus dibiasakan juga membaca dan riset," jelasnya.

Usaha Diah tak sia-sia. Di usia masih dini, sang anak sudah terbiasa membaca, cek dan ricek semua informasi di internet, dan riset.

Suatu hari, anaknya menunjukkan video, ada orang yang bisa menerbangkan balon gas sampai ke luar angkasa. "Saya tanya dia, 'menurut kamu masuk akal gak?'" kata Diah.

Dari situ, dia mengajak anaknya diskusi dan mengecek kebenaran setiap informasi yang dia temui di dunia maya. Dia menilai, untuk melatih anak-anak, memang perlu ada upaya dan komunikasi terbuka dan pembiasaan untuk diskusi. "Jadi anak terbiasa sharing apa yang dia baca, tonton, pikir. Dari situ, orangtua gampang masuknya buat ngelatih dia nyaring apa yg dia dapat dari internet," jelasnya.

Diah tak bisa memungkiri, kecanggihan teknologi saat ini, termasuk AI, sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari sang anak. Bahkan, beberapa tugas sekolah pun sudah menggunakan AI. "Emang susah ngelawan arus kayak gini, tapi anak minimal harus dibiasakan juga membaca dan riset," jelasnya.

Usaha Diah tak sia-sia. Di usia masih dini, sang anak sudah terbiasa membaca, cek dan ricek semua informasi di internet, dan riset.

Suatu hari, anaknya menunjukkan video, ada orang yang bisa menerbangkan balon gas sampai ke luar angkasa. "Saya tanya dia, 'menurut kamu masuk akal gak?'" kata Diah.

Dari situ, dia mengajak anaknya diskusi dan mengecek kebenaran setiap informasi yang dia temui di dunia maya. Dia menilai, untuk melatih anak-anak, memang perlu ada upaya dan komunikasi terbuka dan pembiasaan untuk diskusi. "Jadi anak terbiasa sharing apa yang dia baca, tonton, pikir. Dari situ, orangtua gampang masuknya buat ngelatih dia nyaring apa yg dia dapat dari internet," jelasnya.

Diah tak bisa memungkiri, kecanggihan teknologi saat ini, termasuk AI, sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari sang anak. Bahkan, beberapa tugas sekolah pun sudah menggunakan AI. "Emang susah ngelawan arus kayak gini, tapi anak minimal harus dibiasakan juga membaca dan riset," jelasnya.

Orangtua lainnya, Agustiny mengeluhkan hal sama. Ibu yang biasa disapa Tiny itu mengungkap bahwa anak-anak zaman sekarang senang pada hal-hal instan, termasuk dalam menonton video. "Anak-anak jadi tidak terbiasa untuk membaca sesuatu yang panjang dan butuh konsentrasi lama," kata Tiny.

Ibu tiga anak tersebut pun setuju bahwa anak perlu dididik sejak dini untuk membaca buku. Meski demikian, Tiny yang juga merupakan guru di sebuah sekolah dasar di Cileungsi, Jawa Barat itu menilai bahwa kewajiban membaca buku pada siswa sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sejak dini.

"Wajib baca buku di tingkat sekolah itu bagus. Anak-anak juga kan dapat feedback, berupa nilai, sehingga mereka pasti mau melakukan," kata dia. Jangka panjang, anak-anak pun terbiasa membaca dan memahami tulisan, termasuk yang panjang dan hal itu pun menaikkan tingkat literasi siswa.

Orangtua lainnya, Agustiny mengeluhkan hal sama. Ibu yang biasa disapa Tiny itu mengungkap bahwa anak-anak zaman sekarang senang pada hal-hal instan, termasuk dalam menonton video. "Anak-anak jadi tidak terbiasa untuk membaca sesuatu yang panjang dan butuh konsentrasi lama," kata Tiny.

Ibu tiga anak tersebut pun setuju bahwa anak perlu dididik sejak dini untuk membaca buku. Meski demikian, Tiny yang juga merupakan guru di sebuah sekolah dasar di Cileungsi, Jawa Barat itu menilai bahwa kewajiban membaca buku pada siswa sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sejak dini.

"Wajib baca buku di tingkat sekolah itu bagus. Anak-anak juga kan dapat feedback, berupa nilai, sehingga mereka pasti mau melakukan," kata dia. Jangka panjang, anak-anak pun terbiasa membaca dan memahami tulisan, termasuk yang panjang dan hal itu pun menaikkan tingkat literasi siswa.

Orangtua lainnya, Agustiny mengeluhkan hal sama. Ibu yang biasa disapa Tiny itu mengungkap bahwa anak-anak zaman sekarang senang pada hal-hal instan, termasuk dalam menonton video. "Anak-anak jadi tidak terbiasa untuk membaca sesuatu yang panjang dan butuh konsentrasi lama," kata Tiny.

Ibu tiga anak tersebut pun setuju bahwa anak perlu dididik sejak dini untuk membaca buku. Meski demikian, Tiny yang juga merupakan guru di sebuah sekolah dasar di Cileungsi, Jawa Barat itu menilai bahwa kewajiban membaca buku pada siswa sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sejak dini.

"Wajib baca buku di tingkat sekolah itu bagus. Anak-anak juga kan dapat feedback, berupa nilai, sehingga mereka pasti mau melakukan," kata dia. Jangka panjang, anak-anak pun terbiasa membaca dan memahami tulisan, termasuk yang panjang dan hal itu pun menaikkan tingkat literasi siswa.

Menanggapi hal itu, psikolog anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah mengatakan, kebiasaan membaca anak di usia remaja memang sangat ditentukan oleh kebiasaan orangtua mereka. Stimulus sejak kecil membuat anak lebih terbiasa ketika mereka harus memegang buku dan membacanya. 

Dari kacamata psikolog terdapat kata "pembiasaan." Hal ini dapat diterapkan, termasuk dalam membaca. Stimulus terkait membaca buku ini bisa sejak awal anak itu lahir dengan membacakan mereka buku secara konsisten.

"Dampak panjangnya ini mereka akan bisa lebih tahan lama ketika harus membaca atau kemampuan atensinya ini tidak pendek. Karena kalau memori terbatas juga mereka akan lebih cepat lupa atau cepat malas ketika harus berlama-lama (membaca buku)," ungkap Andhita. 

Menanggapi hal itu, psikolog anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah mengatakan, kebiasaan membaca anak di usia remaja memang sangat ditentukan oleh kebiasaan orangtua mereka. Stimulus sejak kecil membuat anak lebih terbiasa ketika mereka harus memegang buku dan membacanya. 

Dari kacamata psikolog terdapat kata "pembiasaan." Hal ini dapat diterapkan, termasuk dalam membaca. Stimulus terkait membaca buku ini bisa sejak awal anak itu lahir dengan membacakan mereka buku secara konsisten.

"Dampak panjangnya ini mereka akan bisa lebih tahan lama ketika harus membaca atau kemampuan atensinya ini tidak pendek. Karena kalau memori terbatas juga mereka akan lebih cepat lupa atau cepat malas ketika harus berlama-lama (membaca buku)," ungkap Andhita. 

Menanggapi hal itu, psikolog anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah mengatakan, kebiasaan membaca anak di usia remaja memang sangat ditentukan oleh kebiasaan orangtua mereka. Stimulus sejak kecil membuat anak lebih terbiasa ketika mereka harus memegang buku dan membacanya. 

Dari kacamata psikolog terdapat kata "pembiasaan." Hal ini dapat diterapkan, termasuk dalam membaca. Stimulus terkait membaca buku ini bisa sejak awal anak itu lahir dengan membacakan mereka buku secara konsisten.

"Dampak panjangnya ini mereka akan bisa lebih tahan lama ketika harus membaca atau kemampuan atensinya ini tidak pendek. Karena kalau memori terbatas juga mereka akan lebih cepat lupa atau cepat malas ketika harus berlama-lama (membaca buku)," ungkap Andhita. 

Memberikan buku bacaan kepada anak sejak kecil pun, jangan yang sekedar hanya tulisan saja. Harus ada beragama buku baik yang visual maupun yang bisa diraba. Mereka pun harus diajarkan untuk mengenal bentuk, warna, dan obyek lainnya. Anak juga bisa mulai diperkenalkan mendengarkan musik, sehingga mereka tidak hanya kemampuan sensorinya yang meningkat tapi juga indra penglihatan dan pendengarannya. 

Dia memastikan bahwa anak atau remaja yang senang membaca baik itu buku, majalah, atau koran, bisa memiliki rasa ingin tahu lebih besar ketimbang yang tidak membaca buku. Informasi yang didapat seseorang dengan rajin membaca buku pun lebih komprehensif.

"Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi," ungkap Andhita. 

Yang jadi pekerjaan rumah sekarang adalah, apakah mungkin kebiasaan membaca ini diajarkan di dunia pendidikan. Sekarang banyak perpustakaan di sekolah-sekolah sekedar ada tapi tidak dioptimalkan keberadaannya. Padahal tempat tersebut bisa menjadi jendela dunia untuk para siswa karena bisa mendapatkan beragam wawasan yang mungkin tidak diajarkan guru di sekolahnya. 

Memberikan buku bacaan kepada anak sejak kecil pun, jangan yang sekedar hanya tulisan saja. Harus ada beragama buku baik yang visual maupun yang bisa diraba. Mereka pun harus diajarkan untuk mengenal bentuk, warna, dan obyek lainnya. Anak juga bisa mulai diperkenalkan mendengarkan musik, sehingga mereka tidak hanya kemampuan sensorinya yang meningkat tapi juga indra penglihatan dan pendengarannya. 

Dia memastikan bahwa anak atau remaja yang senang membaca baik itu buku, majalah, atau koran, bisa memiliki rasa ingin tahu lebih besar ketimbang yang tidak membaca buku. Informasi yang didapat seseorang dengan rajin membaca buku pun lebih komprehensif.

"Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi," ungkap Andhita. 

Yang jadi pekerjaan rumah sekarang adalah, apakah mungkin kebiasaan membaca ini diajarkan di dunia pendidikan. Sekarang banyak perpustakaan di sekolah-sekolah sekedar ada tapi tidak dioptimalkan keberadaannya. Padahal tempat tersebut bisa menjadi jendela dunia untuk para siswa karena bisa mendapatkan beragam wawasan yang mungkin tidak diajarkan guru di sekolahnya. 

Memberikan buku bacaan kepada anak sejak kecil pun, jangan yang sekedar hanya tulisan saja. Harus ada beragama buku baik yang visual maupun yang bisa diraba. Mereka pun harus diajarkan untuk mengenal bentuk, warna, dan obyek lainnya. Anak juga bisa mulai diperkenalkan mendengarkan musik, sehingga mereka tidak hanya kemampuan sensorinya yang meningkat tapi juga indra penglihatan dan pendengarannya. 

Dia memastikan bahwa anak atau remaja yang senang membaca baik itu buku, majalah, atau koran, bisa memiliki rasa ingin tahu lebih besar ketimbang yang tidak membaca buku. Informasi yang didapat seseorang dengan rajin membaca buku pun lebih komprehensif.

"Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi," ungkap Andhita. 

Yang jadi pekerjaan rumah sekarang adalah, apakah mungkin kebiasaan membaca ini diajarkan di dunia pendidikan. Sekarang banyak perpustakaan di sekolah-sekolah sekedar ada tapi tidak dioptimalkan keberadaannya. Padahal tempat tersebut bisa menjadi jendela dunia untuk para siswa karena bisa mendapatkan beragam wawasan yang mungkin tidak diajarkan guru di sekolahnya. 

"(Anak yang suka membaca) Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi."

Psikolog Anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah

"(Anak yang suka membaca) Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi."

Psikolog Anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah

"(Anak yang suka membaca) Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi."

Psikolog Anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah

"(Anak yang suka membaca) Kemampuan kognitif dan critical thinking lebih bagus, juga nalarnya. Mereka juga bisa lebih mudah mengatur kosakata ketika berbicara sehingga lebih terarah pas komunikasi."

Psikolog Anak dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Andhita Nurul Khasanah

Menurut Andhita, pekerjaan untuk membiasakan murid membaca bukan perkara mudah. Namun, persoalan lainnya juga adalah membuat guru juga rajin membaca sehingga bisa menjadi teladan para muridnya. 

 "Keluarganya suka baca, tapi di sekolah dia enggak punya kepastian. Dia harus bawa buku setiap hari gitu terus teman-temannya enggak ada yang suka baca. Jadi, dia enggak punya teman. Dia sendirian suka baca," ungkapnya. 

Artinya, lingkungan yang sehat untuk memberikan ruang anak-anak membaca, harus bisa diciptakan, bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah. Ketika tidak ada aturan di sekolah agar wajib membaca, atau sekedar membiasakan murid membaca dan berdiskusi mengenai buku bacaannya, maka siswa yang minat membaca hanya dalam hitungan jari.

Menurut Andhita, pekerjaan untuk membiasakan murid membaca bukan perkara mudah. Namun, persoalan lainnya juga adalah membuat guru juga rajin membaca sehingga bisa menjadi teladan para muridnya. 

 "Keluarganya suka baca, tapi di sekolah dia enggak punya kepastian. Dia harus bawa buku setiap hari gitu terus teman-temannya enggak ada yang suka baca. Jadi, dia enggak punya teman. Dia sendirian suka baca," ungkapnya. 

Artinya, lingkungan yang sehat untuk memberikan ruang anak-anak membaca, harus bisa diciptakan, bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah. Ketika tidak ada aturan di sekolah agar wajib membaca, atau sekedar membiasakan murid membaca dan berdiskusi mengenai buku bacaannya, maka siswa yang minat membaca hanya dalam hitungan jari.

Menurut Andhita, pekerjaan untuk membiasakan murid membaca bukan perkara mudah. Namun, persoalan lainnya juga adalah membuat guru juga rajin membaca sehingga bisa menjadi teladan para muridnya. 

 "Keluarganya suka baca, tapi di sekolah dia enggak punya kepastian. Dia harus bawa buku setiap hari gitu terus teman-temannya enggak ada yang suka baca. Jadi, dia enggak punya teman. Dia sendirian suka baca," ungkapnya. 

Artinya, lingkungan yang sehat untuk memberikan ruang anak-anak membaca, harus bisa diciptakan, bukan hanya di rumah tapi juga di sekolah. Ketika tidak ada aturan di sekolah agar wajib membaca, atau sekedar membiasakan murid membaca dan berdiskusi mengenai buku bacaannya, maka siswa yang minat membaca hanya dalam hitungan jari.

Disusun oleh

Tim Editorial

Ita Malau - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Reporter:

Muhamad Iqbal (Banten),

Debbie Sutrisno (Jawa Barat)

Prayugo Utomo (Sumatra Utara)

Ardiansyah Fajar Syahlillah (Jawa Timur)

Tri Purnawati (Kalimantan Barat)

Ni Komang Yuko Utami (Bali)

Dini Suciatiningrum (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Paulus Risang (DIY)

Tim Product

Andzarrahim - Sr. Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Ita Malau - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Reporter:

Muhamad Iqbal (Banten),

Debbie Sutrisno (Jawa Barat)

Prayugo Utomo (Sumatra Utara)

Ardiansyah Fajar Syahlillah (Jawa Timur)

Tri Purnawati (Kalimantan Barat)

Ni Komang Yuko Utami (Bali)

Dini Suciatiningrum (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Paulus Risang (DIY)

Tim Product

Andzarrahim - Sr. Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Ita Malau - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Reporter:

Muhamad Iqbal (Banten),

Debbie Sutrisno (Jawa Barat)

Prayugo Utomo (Sumatra Utara)

Ardiansyah Fajar Syahlillah (Jawa Timur)

Tri Purnawati (Kalimantan Barat)

Ni Komang Yuko Utami (Bali)

Dini Suciatiningrum (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Paulus Risang (DIY)

Tim Product

Andzarrahim - Sr. Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Ita Malau - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Reporter:

Muhamad Iqbal (Banten),

Debbie Sutrisno (Jawa Barat)

Prayugo Utomo (Sumatra Utara)

Ardiansyah Fajar Syahlillah (Jawa Timur)

Tri Purnawati (Kalimantan Barat)

Ni Komang Yuko Utami (Bali)

Dini Suciatiningrum (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Paulus Risang (DIY)

Tim Product

Andzarrahim - Sr. Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Ita Malau - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Reporter:

Muhamad Iqbal (Banten),

Debbie Sutrisno (Jawa Barat)

Prayugo Utomo (Sumatra Utara)

Ardiansyah Fajar Syahlillah (Jawa Timur)

Tri Purnawati (Kalimantan Barat)

Ni Komang Yuko Utami (Bali)

Dini Suciatiningrum (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Paulus Risang (DIY)

Tim Product

Andzarrahim - Sr. Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com