


Musim kemarau 2026 datang dengan sebuah ironi. Ketika para ilmuwan telah memperingatkan Indonesia tentang ancaman Super El Nino berbulan-bulan sebelumnya, jutaan warga harus menghirup kembali udara yang sama seperti satu dekade lalu: udara bercampur asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di balik ribuan hotspot dan puluhan ribu hektare lahan yang terbakar, ada pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana api dipadamkan: mengapa bencana yang sudah diprediksi masih terus berulang?
Di Palembang, Sumatra Selatan, kabut itu tidak hadir sebagai statistik kualitas udara. Ia masuk lewat celah ventilasi rumah, menempel di selimut bayi, dan mengubah waktu subuh menjadi jam paling mengkhawatirkan bagi seorang ibu.
Musim kemarau 2026 datang dengan sebuah ironi. Ketika para ilmuwan telah memperingatkan Indonesia tentang ancaman Super El Nino berbulan-bulan sebelumnya, jutaan warga harus menghirup kembali udara yang sama seperti satu dekade lalu: udara bercampur asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di balik ribuan hotspot dan puluhan ribu hektare lahan yang terbakar, ada pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana api dipadamkan: mengapa bencana yang sudah diprediksi masih terus berulang?
Di Palembang, Sumatra Selatan, kabut itu tidak hadir sebagai statistik kualitas udara. Ia masuk lewat celah ventilasi rumah, menempel di selimut bayi, dan mengubah waktu subuh menjadi jam paling mengkhawatirkan bagi seorang ibu.
Musim kemarau 2026 datang dengan sebuah ironi. Ketika para ilmuwan telah memperingatkan Indonesia tentang ancaman Super El Nino berbulan-bulan sebelumnya, jutaan warga harus menghirup kembali udara yang sama seperti satu dekade lalu: udara bercampur asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di balik ribuan hotspot dan puluhan ribu hektare lahan yang terbakar, ada pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana api dipadamkan: mengapa bencana yang sudah diprediksi masih terus berulang?
Di Palembang, Sumatra Selatan, kabut itu tidak hadir sebagai statistik kualitas udara. Ia masuk lewat celah ventilasi rumah, menempel di selimut bayi, dan mengubah waktu subuh menjadi jam paling mengkhawatirkan bagi seorang ibu.
Napas Pertama di Tengah Asap
Napas Pertama di Tengah Asap
Napas Pertama di Tengah Asap



Maulia (32) seorang ibu di Palembang tengah menenangkan anaknya yang rewel akibat terdampak kabut asap. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
“Anak saya jadi susah tidur, batuk terus. Sudah batuk langsung muntah. Khawatir sekali, apalagi bayi belum bisa ngomong,”
“Anak saya jadi susah tidur, batuk terus. Sudah batuk langsung muntah. Khawatir sekali, apalagi bayi belum bisa ngomong,”
Sekitar pukul 03.30 WIB, Maulia (32) terbangun bukan karena alarm, melainkan tangisan Anjani, anak bungsunya. Bayi perempuan yang baru berusia dua bulan itu kembali batuk hingga muntah lendir bercampur susu. Sudah lebih dari sepekan siklus itu berulang: dini hari dipenuhi tangis, sementara tidur nyenyak baru datang menjelang pagi.
Bagi Maulia, kecemasan itu berlapis. Ia bukan hanya menjaga bayinya yang terus batuk, tetapi juga berjuang mengendalikan asmanya sendiri. Ketika kabut asap menyelimuti Palembang, napas pendeknya kambuh sehingga ia harus rutin mengonsumsi obat pereda sesak.
“Anak saya jadi susah tidur, batuk terus. Sudah batuk langsung muntah. Khawatir sekali, apalagi bayi belum bisa ngomong,” ujar Maulia.
Kamar yang semestinya menjadi ruang paling aman berubah menjadi ruang pengap. Meski seluruh jendela ditutup, plastik dipasang di sela ventilasi, dan pendingin udara terus menyala, aroma lahan terbakar masih menyusup ke dalam rumah.
Sekitar pukul 03.30 WIB, Maulia (32) terbangun bukan karena alarm, melainkan tangisan Anjani, anak bungsunya. Bayi perempuan yang baru berusia dua bulan itu kembali batuk hingga muntah lendir bercampur susu. Sudah lebih dari sepekan siklus itu berulang: dini hari dipenuhi tangis, sementara tidur nyenyak baru datang menjelang pagi.
Bagi Maulia, kecemasan itu berlapis. Ia bukan hanya menjaga bayinya yang terus batuk, tetapi juga berjuang mengendalikan asmanya sendiri. Ketika kabut asap menyelimuti Palembang, napas pendeknya kambuh sehingga ia harus rutin mengonsumsi obat pereda sesak.
“Anak saya jadi susah tidur, batuk terus. Sudah batuk langsung muntah. Khawatir sekali, apalagi bayi belum bisa ngomong,” ujar Maulia.
Kamar yang semestinya menjadi ruang paling aman berubah menjadi ruang pengap. Meski seluruh jendela ditutup, plastik dipasang di sela ventilasi, dan pendingin udara terus menyala, aroma lahan terbakar masih menyusup ke dalam rumah.
Sekitar pukul 03.30 WIB, Maulia (32) terbangun bukan karena alarm, melainkan tangisan Anjani, anak bungsunya. Bayi perempuan yang baru berusia dua bulan itu kembali batuk hingga muntah lendir bercampur susu. Sudah lebih dari sepekan siklus itu berulang: dini hari dipenuhi tangis, sementara tidur nyenyak baru datang menjelang pagi.
Bagi Maulia, kecemasan itu berlapis. Ia bukan hanya menjaga bayinya yang terus batuk, tetapi juga berjuang mengendalikan asmanya sendiri. Ketika kabut asap menyelimuti Palembang, napas pendeknya kambuh sehingga ia harus rutin mengonsumsi obat pereda sesak.
“Anak saya jadi susah tidur, batuk terus. Sudah batuk langsung muntah. Khawatir sekali, apalagi bayi belum bisa ngomong,” ujar Maulia.
Kamar yang semestinya menjadi ruang paling aman berubah menjadi ruang pengap. Meski seluruh jendela ditutup, plastik dipasang di sela ventilasi, dan pendingin udara terus menyala, aroma lahan terbakar masih menyusup ke dalam rumah.

Potret anak-anak di Sekayu, Kabupaten Muba yang terpaksa mengurangi aktivitas di luar ruangan karena kabut asap. (IDN Times/Yuliani)
Potret anak-anak di Sekayu, Kabupaten Muba yang terpaksa mengurangi aktivitas di luar ruangan karena kabut asap. (IDN Times/Yuliani)
Pada pekan terakhir Agustus, Palembang bahkan sempat mencatat kualitas udara 252 US AQI, kategori Sangat Tidak Sehat. Angka itu berarti udara bukan lagi sekadar mengganggu kenyamanan, melainkan berisiko menimbulkan dampak kesehatan serius, terutama bagi bayi dan balita.
Dokter yang menangani Anjani menjelaskan bahwa bayi di bawah satu tahun merupakan kelompok paling rentan mengalami infeksi saluran napas saat kabut asap terjadi.
Dokter menyarankan memindahkan tempat tidur Anjani ke ruangan lain, menjaga agar lendir tidak menumpuk di paru-paru, dan memastikan bayi tetap mendapat cukup ASI maupun susu formula agar tidak mengalami dehidrasi.
Pada pekan terakhir Agustus, Palembang bahkan sempat mencatat kualitas udara 252 US AQI, kategori Sangat Tidak Sehat. Angka itu berarti udara bukan lagi sekadar mengganggu kenyamanan, melainkan berisiko menimbulkan dampak kesehatan serius, terutama bagi bayi dan balita.
Dokter yang menangani Anjani menjelaskan bahwa bayi di bawah satu tahun merupakan kelompok paling rentan mengalami infeksi saluran napas saat kabut asap terjadi.
Dokter menyarankan memindahkan tempat tidur Anjani ke ruangan lain, menjaga agar lendir tidak menumpuk di paru-paru, dan memastikan bayi tetap mendapat cukup ASI maupun susu formula agar tidak mengalami dehidrasi.
Pada pekan terakhir Agustus, Palembang bahkan sempat mencatat kualitas udara 252 US AQI, kategori Sangat Tidak Sehat. Angka itu berarti udara bukan lagi sekadar mengganggu kenyamanan, melainkan berisiko menimbulkan dampak kesehatan serius, terutama bagi bayi dan balita.
Dokter yang menangani Anjani menjelaskan bahwa bayi di bawah satu tahun merupakan kelompok paling rentan mengalami infeksi saluran napas saat kabut asap terjadi.
Dokter menyarankan memindahkan tempat tidur Anjani ke ruangan lain, menjaga agar lendir tidak menumpuk di paru-paru, dan memastikan bayi tetap mendapat cukup ASI maupun susu formula agar tidak mengalami dehidrasi.

(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Kisah Maulia bukanlah kasus tunggal. Data Kementerian Kesehatan per 21 Agustus mencatat tujuh provinsi yang saat ini dilanda karhutla — Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur — lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.
Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah, sementara ratusan tenaga kesehatan dan logistik darurat dikerahkan untuk merespons krisis kualitas udara tersebut.
Kisah Maulia bukanlah kasus tunggal. Data Kementerian Kesehatan per 21 Agustus mencatat tujuh provinsi yang saat ini dilanda karhutla — Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur — lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.
Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah, sementara ratusan tenaga kesehatan dan logistik darurat dikerahkan untuk merespons krisis kualitas udara tersebut.
Kisah Maulia bukanlah kasus tunggal. Data Kementerian Kesehatan per 21 Agustus mencatat tujuh provinsi yang saat ini dilanda karhutla — Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur — lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.
Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah, sementara ratusan tenaga kesehatan dan logistik darurat dikerahkan untuk merespons krisis kualitas udara tersebut.
Alarm dari Pasifik
Alarm dari Pasifik
Alarm dari Pasifik
Pada April 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memperingatkan potensi munculnya Super El Nino, yang kini populer disebut El Nino Godzilla, Istilah “Godzilla” memang bukan terminologi ilmiah. Namun peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan skala dampaknya yang luar biasa besar. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu secara bertahap hingga sekitar 1,5–2 derajat Celsius, memperpanjang musim kemarau, dan menurunkan curah hujan secara signifikan.
Prediksi itu semakin mengkhawatirkan karena berpotensi terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, kombinasi yang membuat kondisi atmosfer Indonesia menjadi jauh lebih kering dibanding biasanya. Konsekuensinya bukan hanya krisis air bersih dan gangguan pertanian, tetapi juga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah selatan ekuator.
Pada April 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memperingatkan potensi munculnya Super El Nino, yang kini populer disebut El Nino Godzilla, Istilah “Godzilla” memang bukan terminologi ilmiah. Namun peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan skala dampaknya yang luar biasa besar. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu secara bertahap hingga sekitar 1,5–2 derajat Celsius, memperpanjang musim kemarau, dan menurunkan curah hujan secara signifikan.
Prediksi itu semakin mengkhawatirkan karena berpotensi terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, kombinasi yang membuat kondisi atmosfer Indonesia menjadi jauh lebih kering dibanding biasanya. Konsekuensinya bukan hanya krisis air bersih dan gangguan pertanian, tetapi juga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah selatan ekuator.
Pada April 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memperingatkan potensi munculnya Super El Nino, yang kini populer disebut El Nino Godzilla, Istilah “Godzilla” memang bukan terminologi ilmiah. Namun peneliti BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan skala dampaknya yang luar biasa besar. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu secara bertahap hingga sekitar 1,5–2 derajat Celsius, memperpanjang musim kemarau, dan menurunkan curah hujan secara signifikan.
Prediksi itu semakin mengkhawatirkan karena berpotensi terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, kombinasi yang membuat kondisi atmosfer Indonesia menjadi jauh lebih kering dibanding biasanya. Konsekuensinya bukan hanya krisis air bersih dan gangguan pertanian, tetapi juga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah selatan ekuator.
(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Empat bulan kemudian, kekhawatiran itu berubah menjadi kenyataan.
Pada 31 Juli 2026, Erma Yulihastin menyatakan Super El Nino resmi terbentuk setelah indeks harian Nino 3.4 melampaui +2 derajat Celsius. Melalui unggahannya, ia menyebut intensitas fenomena tersebut bahkan terus meningkat sekitar 0,1 derajat Celsius setiap minggu, sehingga tidak lagi menyisakan ruang untuk memperdebatkan apakah El Nino GOdzilla akan terjadi.
Peringatan BRIN diperkuat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menyatakan Indonesia memasuki fase El Nino kuat, ditandai oleh nilai indeks Nino 3.4 sebesar +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) -28,2.
BMKG juga memperkirakan 91,43 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada Dasarian I (10 hari pertama) Agustus 2026, sementara tidak ada wilayah yang diproyeksikan menerima curah hujan tinggi. Kondisi itu dinilai mendukung berlanjutnya cuaca kering serta meningkatkan potensi kekeringan dan karhutla.
Alarm sudah dibunyikan, pemerintah sudah punya dua informasi penting sekaligus: kemarau ekstrem pasti terjadi, dan risiko kebakaran meningkat tajam.
Empat bulan kemudian, kekhawatiran itu berubah menjadi kenyataan.
Pada 31 Juli 2026, Erma Yulihastin menyatakan Super El Nino resmi terbentuk setelah indeks harian Nino 3.4 melampaui +2 derajat Celsius. Melalui unggahannya, ia menyebut intensitas fenomena tersebut bahkan terus meningkat sekitar 0,1 derajat Celsius setiap minggu, sehingga tidak lagi menyisakan ruang untuk memperdebatkan apakah El Nino GOdzilla akan terjadi.
Peringatan BRIN diperkuat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menyatakan Indonesia memasuki fase El Nino kuat, ditandai oleh nilai indeks Nino 3.4 sebesar +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) -28,2.
BMKG juga memperkirakan 91,43 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada Dasarian I (10 hari pertama) Agustus 2026, sementara tidak ada wilayah yang diproyeksikan menerima curah hujan tinggi. Kondisi itu dinilai mendukung berlanjutnya cuaca kering serta meningkatkan potensi kekeringan dan karhutla.
Alarm sudah dibunyikan, pemerintah sudah punya dua informasi penting sekaligus: kemarau ekstrem pasti terjadi, dan risiko kebakaran meningkat tajam.
Empat bulan kemudian, kekhawatiran itu berubah menjadi kenyataan.
Pada 31 Juli 2026, Erma Yulihastin menyatakan Super El Nino resmi terbentuk setelah indeks harian Nino 3.4 melampaui +2 derajat Celsius. Melalui unggahannya, ia menyebut intensitas fenomena tersebut bahkan terus meningkat sekitar 0,1 derajat Celsius setiap minggu, sehingga tidak lagi menyisakan ruang untuk memperdebatkan apakah El Nino GOdzilla akan terjadi.
Peringatan BRIN diperkuat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menyatakan Indonesia memasuki fase El Nino kuat, ditandai oleh nilai indeks Nino 3.4 sebesar +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) -28,2.
BMKG juga memperkirakan 91,43 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada Dasarian I (10 hari pertama) Agustus 2026, sementara tidak ada wilayah yang diproyeksikan menerima curah hujan tinggi. Kondisi itu dinilai mendukung berlanjutnya cuaca kering serta meningkatkan potensi kekeringan dan karhutla.
Alarm sudah dibunyikan, pemerintah sudah punya dua informasi penting sekaligus: kemarau ekstrem pasti terjadi, dan risiko kebakaran meningkat tajam.
Negara Mengaku Siaga, Tapi Api Tetap Datang
Negara Mengaku Siaga, Tapi Api Tetap Datang
Negara Mengaku Siaga, Tapi Api Tetap Datang
(IDN Times/Dhana Kencana)
“Lahan yang paling banyak terbakar adalah lahan gambut, sehingga api sulit dipadamkan. Walaupun api sudah mati di permukaan, namun api tersebut ternyata masih aktif di dalam tanah,”
“Lahan yang paling banyak terbakar adalah lahan gambut, sehingga api sulit dipadamkan. Walaupun api sudah mati di permukaan, namun api tersebut ternyata masih aktif di dalam tanah,”
Ancaman El Nino Godzilla sudah diprediksi jauh hari, apakah pemerintah benar-benar melakukan mitigasi?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan dan BPBD Kalimantan Barat kompak mengklaim mitigasi telah dilakukan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Namun, Agustus 2026 tetap berakhir dengan ribuan hotspot dan puluhan ribu hektare lahan terbakar.
Di Palembang, Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana mengatakan dukungan dari pemerintah pusat sebenarnya sudah diberikan sejak awal masa operasi siaga saat ditetapkan pada 22 April 2026. BNPB pun telah membantu peralatan sebelum karhutla mencapai eskalasi seperti sekarang. Tapi, ancaman di lapangan berkembang jauh lebih cepat dibanding kapasitas yang tersedia.
“Sebenarnya untuk bantuan dari pusat sudah dari awal sudah ada, tetapi memang jumlahnya tidak sesuai eskalasi,” ujar Iqbal.
Perubahan pola musim juga membuat Sumsel kehilangan waktu. Iqbal mengungkapkan, eskalasi kebakaran yang biasanya baru meningkat pada September, tahun ini sudah muncul sejak Juli. Dalam tiga hari terakhir Agustus, hotspot kembali bertambah akibat kekeringan yang sangat ekstrem.
Ancaman El Nino Godzilla sudah diprediksi jauh hari, apakah pemerintah benar-benar melakukan mitigasi?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan dan BPBD Kalimantan Barat kompak mengklaim mitigasi telah dilakukan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Namun, Agustus 2026 tetap berakhir dengan ribuan hotspot dan puluhan ribu hektare lahan terbakar.
Di Palembang, Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana mengatakan dukungan dari pemerintah pusat sebenarnya sudah diberikan sejak awal masa operasi siaga saat ditetapkan pada 22 April 2026. BNPB pun telah membantu peralatan sebelum karhutla mencapai eskalasi seperti sekarang. Tapi, ancaman di lapangan berkembang jauh lebih cepat dibanding kapasitas yang tersedia.
“Sebenarnya untuk bantuan dari pusat sudah dari awal sudah ada, tetapi memang jumlahnya tidak sesuai eskalasi,” ujar Iqbal.
Perubahan pola musim juga membuat Sumsel kehilangan waktu. Iqbal mengungkapkan, eskalasi kebakaran yang biasanya baru meningkat pada September, tahun ini sudah muncul sejak Juli. Dalam tiga hari terakhir Agustus, hotspot kembali bertambah akibat kekeringan yang sangat ekstrem.
Ancaman El Nino Godzilla sudah diprediksi jauh hari, apakah pemerintah benar-benar melakukan mitigasi?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan dan BPBD Kalimantan Barat kompak mengklaim mitigasi telah dilakukan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Namun, Agustus 2026 tetap berakhir dengan ribuan hotspot dan puluhan ribu hektare lahan terbakar.
Di Palembang, Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana mengatakan dukungan dari pemerintah pusat sebenarnya sudah diberikan sejak awal masa operasi siaga saat ditetapkan pada 22 April 2026. BNPB pun telah membantu peralatan sebelum karhutla mencapai eskalasi seperti sekarang. Tapi, ancaman di lapangan berkembang jauh lebih cepat dibanding kapasitas yang tersedia.
“Sebenarnya untuk bantuan dari pusat sudah dari awal sudah ada, tetapi memang jumlahnya tidak sesuai eskalasi,” ujar Iqbal.
Perubahan pola musim juga membuat Sumsel kehilangan waktu. Iqbal mengungkapkan, eskalasi kebakaran yang biasanya baru meningkat pada September, tahun ini sudah muncul sejak Juli. Dalam tiga hari terakhir Agustus, hotspot kembali bertambah akibat kekeringan yang sangat ekstrem.



"Sebenarnya untuk bantuan dari pusat sudah dari awal sudah ada, tetapi memang jumlahnya tidak sesuai eskalasi (karhutla)"
M Iqbal Alisyahbana
Kepala BPBD Sumsel
(IDN Times/Rangga Erfizal
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Barat. Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar Daniel menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dimulai ketika kebakaran terjadi, melainkan telah berjalan sejak Januari 2026 melalui patroli terpadu darat dan udara, pemantauan hotspot berbasis aplikasi, serta deteksi dini menggunakan data satelit.
BPBD Kalbar bahkan memetakan 355 desa dan kelurahan di 14 kabupaten/kota sebagai wilayah rawan yang menjadi fokus pengawasan sepanjang musim kemarau. Patroli dilakukan secara rutin, sementara sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar terus digencarkan kepada masyarakat.
Namun angka-angka di lapangan justru memperlihatkan paradoksnya.
Hingga 25 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat 2.160 titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 38.310 hektare. Kabupaten Ketapang menjadi wilayah paling terdampak dengan 1.288 hotspot dan 12.443 hektare lahan terbakar, disusul Kubu Raya, Mempawah, Kayong Utara, dan Sambas.
“Lahan yang paling banyak terbakar adalah lahan gambut, sehingga api sulit dipadamkan. Walaupun api sudah mati di permukaan, namun api tersebut ternyata masih aktif di dalam tanah,” jelas Daniel.
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Barat. Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar Daniel menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dimulai ketika kebakaran terjadi, melainkan telah berjalan sejak Januari 2026 melalui patroli terpadu darat dan udara, pemantauan hotspot berbasis aplikasi, serta deteksi dini menggunakan data satelit.
BPBD Kalbar bahkan memetakan 355 desa dan kelurahan di 14 kabupaten/kota sebagai wilayah rawan yang menjadi fokus pengawasan sepanjang musim kemarau. Patroli dilakukan secara rutin, sementara sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar terus digencarkan kepada masyarakat.
Namun angka-angka di lapangan justru memperlihatkan paradoksnya.
Hingga 25 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat 2.160 titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 38.310 hektare. Kabupaten Ketapang menjadi wilayah paling terdampak dengan 1.288 hotspot dan 12.443 hektare lahan terbakar, disusul Kubu Raya, Mempawah, Kayong Utara, dan Sambas.
“Lahan yang paling banyak terbakar adalah lahan gambut, sehingga api sulit dipadamkan. Walaupun api sudah mati di permukaan, namun api tersebut ternyata masih aktif di dalam tanah,” jelas Daniel.
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Barat. Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar Daniel menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dimulai ketika kebakaran terjadi, melainkan telah berjalan sejak Januari 2026 melalui patroli terpadu darat dan udara, pemantauan hotspot berbasis aplikasi, serta deteksi dini menggunakan data satelit.
BPBD Kalbar bahkan memetakan 355 desa dan kelurahan di 14 kabupaten/kota sebagai wilayah rawan yang menjadi fokus pengawasan sepanjang musim kemarau. Patroli dilakukan secara rutin, sementara sosialisasi pembukaan lahan tanpa bakar terus digencarkan kepada masyarakat.
Namun angka-angka di lapangan justru memperlihatkan paradoksnya.
Hingga 25 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat 2.160 titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 38.310 hektare. Kabupaten Ketapang menjadi wilayah paling terdampak dengan 1.288 hotspot dan 12.443 hektare lahan terbakar, disusul Kubu Raya, Mempawah, Kayong Utara, dan Sambas.
“Lahan yang paling banyak terbakar adalah lahan gambut, sehingga api sulit dipadamkan. Walaupun api sudah mati di permukaan, namun api tersebut ternyata masih aktif di dalam tanah,” jelas Daniel.



"Lahan yang paling banyak terbakar adalah lahan gambut, sehingga api sulit dipadamkan. Walaupun api sudah mati di permukaan, namun api tersebut ternyata masih aktif di dalam tanah"
Daniel
Ketua Satgas Informasi Bencana BPBD Kalbar
Di Sumsel, tantangan terbesar juga bukan sekadar banyaknya titik api, melainkan hilangnya sumber air. Sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari, membuat pemadaman darat semakin sulit dilakukan. Pemerintah kemudian menggantungkan harapan pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi wilayah rawan terbakar.
Meski begitu, OMC pun memiliki keterbatasan. Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menjelaskan operasi penyemaian hujan tidak dapat dilakukan setiap hari karena sepenuhnya bergantung pada keberadaan awan. Dari enam hari pelaksanaan OMC, baru satu kali penyemaian berhasil dilakukan dan hasilnya belum memberikan hujan yang signifikan.
Paradoksnya jelas: mitigasi telah dilakukan, patroli sudah berjalan, teknologi satelit digunakan, tetapi ribuan hotspot tetap bermunculan ketika kemarau mencapai puncaknya.
Mitigasi yang sudah dilakukan pemerintah daerah masih belum mampu mengimbangi eskalasi kebakaran saat alam memasuki kemarau dengan kondisi yang paling kering.
Terutama ekosistem gambut, yang seiring kemarau semakin kering, semakin mudah terbakar.
Di Sumsel, tantangan terbesar juga bukan sekadar banyaknya titik api, melainkan hilangnya sumber air. Sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari, membuat pemadaman darat semakin sulit dilakukan. Pemerintah kemudian menggantungkan harapan pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi wilayah rawan terbakar.
Meski begitu, OMC pun memiliki keterbatasan. Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menjelaskan operasi penyemaian hujan tidak dapat dilakukan setiap hari karena sepenuhnya bergantung pada keberadaan awan. Dari enam hari pelaksanaan OMC, baru satu kali penyemaian berhasil dilakukan dan hasilnya belum memberikan hujan yang signifikan.
Paradoksnya jelas: mitigasi telah dilakukan, patroli sudah berjalan, teknologi satelit digunakan, tetapi ribuan hotspot tetap bermunculan ketika kemarau mencapai puncaknya.
Mitigasi yang sudah dilakukan pemerintah daerah masih belum mampu mengimbangi eskalasi kebakaran saat alam memasuki kemarau dengan kondisi yang paling kering.
Terutama ekosistem gambut, yang seiring kemarau semakin kering, semakin mudah terbakar.
Di Sumsel, tantangan terbesar juga bukan sekadar banyaknya titik api, melainkan hilangnya sumber air. Sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari, membuat pemadaman darat semakin sulit dilakukan. Pemerintah kemudian menggantungkan harapan pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi wilayah rawan terbakar.
Meski begitu, OMC pun memiliki keterbatasan. Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menjelaskan operasi penyemaian hujan tidak dapat dilakukan setiap hari karena sepenuhnya bergantung pada keberadaan awan. Dari enam hari pelaksanaan OMC, baru satu kali penyemaian berhasil dilakukan dan hasilnya belum memberikan hujan yang signifikan.
Paradoksnya jelas: mitigasi telah dilakukan, patroli sudah berjalan, teknologi satelit digunakan, tetapi ribuan hotspot tetap bermunculan ketika kemarau mencapai puncaknya.
Mitigasi yang sudah dilakukan pemerintah daerah masih belum mampu mengimbangi eskalasi kebakaran saat alam memasuki kemarau dengan kondisi yang paling kering.
Terutama ekosistem gambut, yang seiring kemarau semakin kering, semakin mudah terbakar.
Gambut yang Dijanjikan Pulih
Gambut yang Dijanjikan Pulih
Gambut yang Dijanjikan Pulih
(IDN Times/Dhana Kencana)
“Ukuran keberhasilan mitigasi itu bagaimana pemerintah mencegah kebakaran bukan malah untuk mengukur saat api sudah muncul,” kata Galang.
“Ukuran keberhasilan mitigasi itu bagaimana pemerintah mencegah kebakaran bukan malah untuk mengukur saat api sudah muncul,” kata Galang.
Setelah tragedi karhutla 2015, negara mengubah cara memandang lahan gambut. Gambut tak lagi dianggap sekadar lahan basah, melainkan benteng utama untuk mencegah kebakaran hutan, menyimpan karbon, dan menjaga tata air.
Dari sanalah Badan Restorasi Gambut (BRG) lahir, yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan mandat memulihkan ekosistem gambut di tujuh provinsi prioritas: Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua.
Dalam Laporan Kinerja 2023, BRGM menyebut restorasi dilakukan melalui pendekatan 3R: rewetting (pembasahan kembali), revegetation (penanaman vegetasi), dan revitalization (penguatan ekonomi masyarakat).
Setelah tragedi karhutla 2015, negara mengubah cara memandang lahan gambut. Gambut tak lagi dianggap sekadar lahan basah, melainkan benteng utama untuk mencegah kebakaran hutan, menyimpan karbon, dan menjaga tata air.
Dari sanalah Badan Restorasi Gambut (BRG) lahir, yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan mandat memulihkan ekosistem gambut di tujuh provinsi prioritas: Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua.
Dalam Laporan Kinerja 2023, BRGM menyebut restorasi dilakukan melalui pendekatan 3R: rewetting (pembasahan kembali), revegetation (penanaman vegetasi), dan revitalization (penguatan ekonomi masyarakat).
Setelah tragedi karhutla 2015, negara mengubah cara memandang lahan gambut. Gambut tak lagi dianggap sekadar lahan basah, melainkan benteng utama untuk mencegah kebakaran hutan, menyimpan karbon, dan menjaga tata air.
Dari sanalah Badan Restorasi Gambut (BRG) lahir, yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan mandat memulihkan ekosistem gambut di tujuh provinsi prioritas: Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua.
Dalam Laporan Kinerja 2023, BRGM menyebut restorasi dilakukan melalui pendekatan 3R: rewetting (pembasahan kembali), revegetation (penanaman vegetasi), dan revitalization (penguatan ekonomi masyarakat).
Pada 2023 saja, BRGM mengklaim berhasil memulihkan 271.721 hektare lahan gambut dari target 300 ribu hektare, membangun 344 sekat kanal, merevegetasi 145 hektare, serta menyalurkan 163 paket revitalisasi ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan restorasi. BRGM menyebut capaian tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas ekosistem gambut sekaligus mengendalikan karhutla.
BRGM dalam pernyataan resmi menjelang berakhirnya masa tugasnya, mengklaim keberhasilan yang lebih jauh dari sekadar angka luasan. Sekretaris BRGM Ayu Dewi Utari menyebut restorasi gambut yang dilakukan lembaganya terbukti menurunkan kebakaran lahan sebesar 29,59 persen.
Pada 2023 saja, BRGM mengklaim berhasil memulihkan 271.721 hektare lahan gambut dari target 300 ribu hektare, membangun 344 sekat kanal, merevegetasi 145 hektare, serta menyalurkan 163 paket revitalisasi ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan restorasi. BRGM menyebut capaian tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas ekosistem gambut sekaligus mengendalikan karhutla.
BRGM dalam pernyataan resmi menjelang berakhirnya masa tugasnya, mengklaim keberhasilan yang lebih jauh dari sekadar angka luasan. Sekretaris BRGM Ayu Dewi Utari menyebut restorasi gambut yang dilakukan lembaganya terbukti menurunkan kebakaran lahan sebesar 29,59 persen.
Pada 2023 saja, BRGM mengklaim berhasil memulihkan 271.721 hektare lahan gambut dari target 300 ribu hektare, membangun 344 sekat kanal, merevegetasi 145 hektare, serta menyalurkan 163 paket revitalisasi ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan restorasi. BRGM menyebut capaian tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas ekosistem gambut sekaligus mengendalikan karhutla.
BRGM dalam pernyataan resmi menjelang berakhirnya masa tugasnya, mengklaim keberhasilan yang lebih jauh dari sekadar angka luasan. Sekretaris BRGM Ayu Dewi Utari menyebut restorasi gambut yang dilakukan lembaganya terbukti menurunkan kebakaran lahan sebesar 29,59 persen.
(IDN Times/Hafidz Trijatnika)
Klaim tersebut berbenturan dengan temuan lapangan. Jika kebakaran turun hampir 30 persen berkat restorasi, mengapa Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, dua provinsi yang sama-sama menjadi prioritas BRG sejak 2016, tetap mencatat kebakaran berulang di lokasi yang sudah mendapat intervensi infrastruktur pembasahan?
Riset independen Satu Dekade Restorasi Gambut Indonesia yang diterbitkan Pantau Gambut menyimpulkan adanya perbedaan antara capaian administratif dan realitas ekologis dan kondisi biofisik di lapangan selama 2015–2024.
Beberapa temuannya cukup mencolok:
- Target restorasi nasional diturunkan dari 2,6 juta menjadi 1,2 juta hektare, tetapi tetap tidak tercapai hingga BRGM purnatugas Desember 2025.
- Sekitar 70 persen sekat kanal yang dipantau berada dalam kondisi rusak.
- Sebanyak 52 persen lokasi intervensi masih memiliki muka air tanah di bawah ambang aman 40 sentimeter, sehingga gambut tetap mudah mengering saat kemarau.
- Pascakebakaran hanya 1–3 persen lahan yang kembali menjadi hutan; 41 persen jadii semak belukar, 54 persen jadi perkebunan monokultur sawit.
Klaim tersebut berbenturan dengan temuan lapangan. Jika kebakaran turun hampir 30 persen berkat restorasi, mengapa Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, dua provinsi yang sama-sama menjadi prioritas BRG sejak 2016, tetap mencatat kebakaran berulang di lokasi yang sudah mendapat intervensi infrastruktur pembasahan?
Riset independen Satu Dekade Restorasi Gambut Indonesia yang diterbitkan Pantau Gambut menyimpulkan adanya perbedaan antara capaian administratif dan realitas ekologis dan kondisi biofisik di lapangan selama 2015–2024.
Beberapa temuannya cukup mencolok:
- Target restorasi nasional diturunkan dari 2,6 juta menjadi 1,2 juta hektare, tetapi tetap tidak tercapai hingga BRGM purnatugas Desember 2025.
- Sekitar 70 persen sekat kanal yang dipantau berada dalam kondisi rusak.
- Sebanyak 52 persen lokasi intervensi masih memiliki muka air tanah di bawah ambang aman 40 sentimeter, sehingga gambut tetap mudah mengering saat kemarau.
- Pascakebakaran hanya 1–3 persen lahan yang kembali menjadi hutan; 41 persen jadii semak belukar, 54 persen jadi perkebunan monokultur sawit.
Klaim tersebut berbenturan dengan temuan lapangan. Jika kebakaran turun hampir 30 persen berkat restorasi, mengapa Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, dua provinsi yang sama-sama menjadi prioritas BRG sejak 2016, tetap mencatat kebakaran berulang di lokasi yang sudah mendapat intervensi infrastruktur pembasahan?
Riset independen Satu Dekade Restorasi Gambut Indonesia yang diterbitkan Pantau Gambut menyimpulkan adanya perbedaan antara capaian administratif dan realitas ekologis dan kondisi biofisik di lapangan selama 2015–2024.
Beberapa temuannya cukup mencolok:
- Target restorasi nasional diturunkan dari 2,6 juta menjadi 1,2 juta hektare, tetapi tetap tidak tercapai hingga BRGM purnatugas Desember 2025.
- Sekitar 70 persen sekat kanal yang dipantau berada dalam kondisi rusak.
- Sebanyak 52 persen lokasi intervensi masih memiliki muka air tanah di bawah ambang aman 40 sentimeter, sehingga gambut tetap mudah mengering saat kemarau.
- Pascakebakaran hanya 1–3 persen lahan yang kembali menjadi hutan; 41 persen jadii semak belukar, 54 persen jadi perkebunan monokultur sawit.
Dengan kata lain, sebagian besar bentang gambut yang pernah terbakar tidak benar-benar kembali ke fungsi ekologisnya sebagai hutan rawa gambut.
Ukuran keberhasilan BRGM melalui luasan restorasi, pembangunan infrastruktur, dan capaian program 3R tidak sama dengan ukuran Pantau Gambut yang menilai restorasi seharusnya memastikan apakah gambut benar-benar kembali basah, vegetasi awalnya pulih, dan risiko kebakaran berkurang.
Dengan kata lain, sebagian besar bentang gambut yang pernah terbakar tidak benar-benar kembali ke fungsi ekologisnya sebagai hutan rawa gambut.
Ukuran keberhasilan BRGM melalui luasan restorasi, pembangunan infrastruktur, dan capaian program 3R tidak sama dengan ukuran Pantau Gambut yang menilai restorasi seharusnya memastikan apakah gambut benar-benar kembali basah, vegetasi awalnya pulih, dan risiko kebakaran berkurang.
Dengan kata lain, sebagian besar bentang gambut yang pernah terbakar tidak benar-benar kembali ke fungsi ekologisnya sebagai hutan rawa gambut.
Ukuran keberhasilan BRGM melalui luasan restorasi, pembangunan infrastruktur, dan capaian program 3R tidak sama dengan ukuran Pantau Gambut yang menilai restorasi seharusnya memastikan apakah gambut benar-benar kembali basah, vegetasi awalnya pulih, dan risiko kebakaran berkurang.



“Fenomena El Nino ini sebenarnya cuma pemicu terjadi karhutla karena ekosistem gambut yang rusak. Karena fungsi ekologisnya sudah rusak.”
Galang Sukanda
Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Sumsel
(IDN Times/Rangga Erfizal)
Sementara bagi WALHI Sumsel, persoalan karhutla tidak dimulai dari cuaca, melainkan tata kelola gambut yang telah lama rusak.
Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Sumsel, Galang Sukanda, menilai kebakaran yang terus berulang menunjukkan pemerintah masih terlalu berfokus pada pemadaman setelah api muncul, bukan mencegah kebakaran sebelum musim kemarau.
“Ukuran keberhasilan mitigasi itu bagaimana pemerintah mencegah kebakaran bukan malah untuk mengukur saat api sudah muncul,” kata Galang.
Menurut WALHI, sekitar 2,1 juta hektare kawasan gambut di Sumatra Selatan, 44 persen di antaranya telah dibebani izin korporasi. Dalam kondisi fungsi hidrologis yang telah terganggu, El Nino hanya menjadi pemicu yang mempercepat kebakaran pada bentang alam yang memang sudah rentan.
“Fenomena El Nino ini sebenarnya cuma pemicu terjadi karhutla karena ekosistem gambut yang rusak. Karena fungsi ekologisnya sudah rusak,” ujarnya.
Sementara bagi WALHI Sumsel, persoalan karhutla tidak dimulai dari cuaca, melainkan tata kelola gambut yang telah lama rusak.
Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Sumsel, Galang Sukanda, menilai kebakaran yang terus berulang menunjukkan pemerintah masih terlalu berfokus pada pemadaman setelah api muncul, bukan mencegah kebakaran sebelum musim kemarau.
“Ukuran keberhasilan mitigasi itu bagaimana pemerintah mencegah kebakaran bukan malah untuk mengukur saat api sudah muncul,” kata Galang.
Menurut WALHI, sekitar 2,1 juta hektare kawasan gambut di Sumatra Selatan, 44 persen di antaranya telah dibebani izin korporasi. Dalam kondisi fungsi hidrologis yang telah terganggu, El Nino hanya menjadi pemicu yang mempercepat kebakaran pada bentang alam yang memang sudah rentan.
“Fenomena El Nino ini sebenarnya cuma pemicu terjadi karhutla karena ekosistem gambut yang rusak. Karena fungsi ekologisnya sudah rusak,” ujarnya.
Sementara bagi WALHI Sumsel, persoalan karhutla tidak dimulai dari cuaca, melainkan tata kelola gambut yang telah lama rusak.
Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Sumsel, Galang Sukanda, menilai kebakaran yang terus berulang menunjukkan pemerintah masih terlalu berfokus pada pemadaman setelah api muncul, bukan mencegah kebakaran sebelum musim kemarau.
“Ukuran keberhasilan mitigasi itu bagaimana pemerintah mencegah kebakaran bukan malah untuk mengukur saat api sudah muncul,” kata Galang.
Menurut WALHI, sekitar 2,1 juta hektare kawasan gambut di Sumatra Selatan, 44 persen di antaranya telah dibebani izin korporasi. Dalam kondisi fungsi hidrologis yang telah terganggu, El Nino hanya menjadi pemicu yang mempercepat kebakaran pada bentang alam yang memang sudah rentan.
“Fenomena El Nino ini sebenarnya cuma pemicu terjadi karhutla karena ekosistem gambut yang rusak. Karena fungsi ekologisnya sudah rusak,” ujarnya.
Analisis WALHI terhadap periode 1–21 Agustus 2026 menemukan sedikitnya 1.091 hotspot berada di wilayah konsesi perusahaan. Sebanyak 524 hotspot berada di perusahaan hutan tanaman industri (HTI), sedangkan 567 hotspot lainnya berada di perkebunan sawit. Bagi WALHI, konsentrasi hotspot di wilayah berizin bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa sistem pencegahan kebakaran di tingkat korporasi patut dievaluasi.
Galang menilai pemerintah sebenarnya telah memiliki seluruh informasi yang dibutuhkan: riwayat kebakaran, lokasi hotspot, hingga kawasan gambut yang dibebani izin. Data tersebut semestinya menjadi baseline untuk menentukan wilayah prioritas mitigasi sebelum kemarau, bukan sesudah api membesar.
“Harusnya dijadikan baseline wilayah dengan risiko karhutla yang cukup tinggi dan dijadikan prioritas sebelum kemarau terjadi. Jangan selalu menunggu api,” tegasnya.
Analisis WALHI terhadap periode 1–21 Agustus 2026 menemukan sedikitnya 1.091 hotspot berada di wilayah konsesi perusahaan. Sebanyak 524 hotspot berada di perusahaan hutan tanaman industri (HTI), sedangkan 567 hotspot lainnya berada di perkebunan sawit. Bagi WALHI, konsentrasi hotspot di wilayah berizin bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa sistem pencegahan kebakaran di tingkat korporasi patut dievaluasi.
Galang menilai pemerintah sebenarnya telah memiliki seluruh informasi yang dibutuhkan: riwayat kebakaran, lokasi hotspot, hingga kawasan gambut yang dibebani izin. Data tersebut semestinya menjadi baseline untuk menentukan wilayah prioritas mitigasi sebelum kemarau, bukan sesudah api membesar.
“Harusnya dijadikan baseline wilayah dengan risiko karhutla yang cukup tinggi dan dijadikan prioritas sebelum kemarau terjadi. Jangan selalu menunggu api,” tegasnya.
Analisis WALHI terhadap periode 1–21 Agustus 2026 menemukan sedikitnya 1.091 hotspot berada di wilayah konsesi perusahaan. Sebanyak 524 hotspot berada di perusahaan hutan tanaman industri (HTI), sedangkan 567 hotspot lainnya berada di perkebunan sawit. Bagi WALHI, konsentrasi hotspot di wilayah berizin bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa sistem pencegahan kebakaran di tingkat korporasi patut dievaluasi.
Galang menilai pemerintah sebenarnya telah memiliki seluruh informasi yang dibutuhkan: riwayat kebakaran, lokasi hotspot, hingga kawasan gambut yang dibebani izin. Data tersebut semestinya menjadi baseline untuk menentukan wilayah prioritas mitigasi sebelum kemarau, bukan sesudah api membesar.
“Harusnya dijadikan baseline wilayah dengan risiko karhutla yang cukup tinggi dan dijadikan prioritas sebelum kemarau terjadi. Jangan selalu menunggu api,” tegasnya.
Api Berpindah, Krisis Tetap Sama
Api Berpindah, Krisis Tetap Sama
Api Berpindah, Krisis Tetap Sama
Karhutla Agustus 2026 tidak hanya terjadi di bentang gambut Sumatra dan Kalimantan. Di Jawa Timur, api menjalar hingga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Tahura Raden Soerjo, menjadikannya salah satu bencana ekologis terbesar di kawasan pegunungan tahun ini.
Kebakaran pertama kali terdeteksi di Blok Bantengan pada 3 Agustus 2026. Balai Besar TNBTS langsung menutup akses Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro, sementara jalur melalui Cemoro Lawang dan Wonokitri dibatasi hanya sampai Lautan Pasir. Dalam waktu kurang dari tiga pekan, luas area terbakar terus melonjak hingga mencapai 1.121 hektare, menjadikannya kebakaran terparah di Bromo bahkan melampaui insiden 2023.
Pemadaman dilakukan oleh aparat gabungan dari berbagai daerah. Namun operasi berkali-kali terhambat oleh medan curam, vegetasi yang mengering, embusan angin kencang, dan kabut tebal yang membuat helikopter water bombing beberapa kali menghentikan penerbangan. Dalam salah satu operasi, kendaraan Damkar Surabaya bahkan terperosok di kawasan Lautan Pasir saat menuju titik api, menggambarkan betapa beratnya kondisi lapangan.
Kerusakan yang ditinggalkan tak berhenti pada ekosistem. Penutupan total kawasan wisata memukul mata pencaharian masyarakat sekitar. Pelaku jeep wisata, pemilik homestay, pedagang, hingga pemandu kehilangan pendapatan selama kawasan Bromo ditutup. Investigasi awal Balai Besar TNBTS juga menyebut kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia, meski penyelidikan lanjutan tetap dilakukan oleh pihak berwenang.
Karhutla Agustus 2026 tidak hanya terjadi di bentang gambut Sumatra dan Kalimantan. Di Jawa Timur, api menjalar hingga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Tahura Raden Soerjo, menjadikannya salah satu bencana ekologis terbesar di kawasan pegunungan tahun ini.
Kebakaran pertama kali terdeteksi di Blok Bantengan pada 3 Agustus 2026. Balai Besar TNBTS langsung menutup akses Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro, sementara jalur melalui Cemoro Lawang dan Wonokitri dibatasi hanya sampai Lautan Pasir. Dalam waktu kurang dari tiga pekan, luas area terbakar terus melonjak hingga mencapai 1.121 hektare, menjadikannya kebakaran terparah di Bromo bahkan melampaui insiden 2023.
Pemadaman dilakukan oleh aparat gabungan dari berbagai daerah. Namun operasi berkali-kali terhambat oleh medan curam, vegetasi yang mengering, embusan angin kencang, dan kabut tebal yang membuat helikopter water bombing beberapa kali menghentikan penerbangan. Dalam salah satu operasi, kendaraan Damkar Surabaya bahkan terperosok di kawasan Lautan Pasir saat menuju titik api, menggambarkan betapa beratnya kondisi lapangan.
Kerusakan yang ditinggalkan tak berhenti pada ekosistem. Penutupan total kawasan wisata memukul mata pencaharian masyarakat sekitar. Pelaku jeep wisata, pemilik homestay, pedagang, hingga pemandu kehilangan pendapatan selama kawasan Bromo ditutup. Investigasi awal Balai Besar TNBTS juga menyebut kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia, meski penyelidikan lanjutan tetap dilakukan oleh pihak berwenang.
Karhutla Agustus 2026 tidak hanya terjadi di bentang gambut Sumatra dan Kalimantan. Di Jawa Timur, api menjalar hingga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Tahura Raden Soerjo, menjadikannya salah satu bencana ekologis terbesar di kawasan pegunungan tahun ini.
Kebakaran pertama kali terdeteksi di Blok Bantengan pada 3 Agustus 2026. Balai Besar TNBTS langsung menutup akses Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro, sementara jalur melalui Cemoro Lawang dan Wonokitri dibatasi hanya sampai Lautan Pasir. Dalam waktu kurang dari tiga pekan, luas area terbakar terus melonjak hingga mencapai 1.121 hektare, menjadikannya kebakaran terparah di Bromo bahkan melampaui insiden 2023.
Pemadaman dilakukan oleh aparat gabungan dari berbagai daerah. Namun operasi berkali-kali terhambat oleh medan curam, vegetasi yang mengering, embusan angin kencang, dan kabut tebal yang membuat helikopter water bombing beberapa kali menghentikan penerbangan. Dalam salah satu operasi, kendaraan Damkar Surabaya bahkan terperosok di kawasan Lautan Pasir saat menuju titik api, menggambarkan betapa beratnya kondisi lapangan.
Kerusakan yang ditinggalkan tak berhenti pada ekosistem. Penutupan total kawasan wisata memukul mata pencaharian masyarakat sekitar. Pelaku jeep wisata, pemilik homestay, pedagang, hingga pemandu kehilangan pendapatan selama kawasan Bromo ditutup. Investigasi awal Balai Besar TNBTS juga menyebut kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia, meski penyelidikan lanjutan tetap dilakukan oleh pihak berwenang.

Karhutla di Gunung Bromo. (Dok. BB TNBTS)
Di Kalimantan Barat, tantangan terbesar adalah bara yang terus menyala di bawah permukaan gambut. Di Sumatra Selatan, masyarakat lebih dahulu merasakan dampaknya melalui kabut asap yang menyelimuti permukiman.
Sementara di Riau, karhutla kembali menempatkan gambut sebagai episentrum bencana. Luasan lahan yang terbakar memaksa sejumlah pemerintah daerah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara memasuki kategori tidak sehat hingga berbahaya. Bagi masyarakat, api bukan lagi sekadar persoalan hutan yang terbakar, melainkan udara yang setiap hari harus mereka hirup.
Empat wilayah tersebut memperlihatkan satu benang merah: lokasi kebakarannya berbeda, tetapi akar krisisnya tetap sama. Gambut yang mengering, kawasan konservasi yang rapuh, musim kemarau ekstrem, dan keterlambatan memutus api pada fase awal membuat Agustus 2026 menjadi bulan paling membara ketika Indonesia kembali menyaksikan bencana yang sebenarnya telah lama diperingatkan.
Di Kalimantan Barat, tantangan terbesar adalah bara yang terus menyala di bawah permukaan gambut. Di Sumatra Selatan, masyarakat lebih dahulu merasakan dampaknya melalui kabut asap yang menyelimuti permukiman.
Sementara di Riau, karhutla kembali menempatkan gambut sebagai episentrum bencana. Luasan lahan yang terbakar memaksa sejumlah pemerintah daerah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara memasuki kategori tidak sehat hingga berbahaya. Bagi masyarakat, api bukan lagi sekadar persoalan hutan yang terbakar, melainkan udara yang setiap hari harus mereka hirup.
Empat wilayah tersebut memperlihatkan satu benang merah: lokasi kebakarannya berbeda, tetapi akar krisisnya tetap sama. Gambut yang mengering, kawasan konservasi yang rapuh, musim kemarau ekstrem, dan keterlambatan memutus api pada fase awal membuat Agustus 2026 menjadi bulan paling membara ketika Indonesia kembali menyaksikan bencana yang sebenarnya telah lama diperingatkan.
Di Kalimantan Barat, tantangan terbesar adalah bara yang terus menyala di bawah permukaan gambut. Di Sumatra Selatan, masyarakat lebih dahulu merasakan dampaknya melalui kabut asap yang menyelimuti permukiman.
Sementara di Riau, karhutla kembali menempatkan gambut sebagai episentrum bencana. Luasan lahan yang terbakar memaksa sejumlah pemerintah daerah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara memasuki kategori tidak sehat hingga berbahaya. Bagi masyarakat, api bukan lagi sekadar persoalan hutan yang terbakar, melainkan udara yang setiap hari harus mereka hirup.
Empat wilayah tersebut memperlihatkan satu benang merah: lokasi kebakarannya berbeda, tetapi akar krisisnya tetap sama. Gambut yang mengering, kawasan konservasi yang rapuh, musim kemarau ekstrem, dan keterlambatan memutus api pada fase awal membuat Agustus 2026 menjadi bulan paling membara ketika Indonesia kembali menyaksikan bencana yang sebenarnya telah lama diperingatkan.
Saat Anak Menghirup Krisis yang Tak Mereka Ciptakan
Saat Anak Menghirup Krisis yang Tak Mereka Ciptakan
Saat Anak Menghirup Krisis yang Tak Mereka Ciptakan



“Kenapa kelompok ini (bayi, balita, dan anak dibawah 12 tahun) berisiko tinggi, karena imunitas dan kemampuan saluran napas dalam melawan partikel-partikel debu belum maksimal, karena masih dalam proses pertumbuhan”
dr. Indra Yovi, Sp.P (K)
Dokter Spesial Paru Eka Hospital Pekanbaru
(Dok.Pribadi)
Ketika api mulai dipadamkan dan jumlah hotspot perlahan menurun, krisis belum benar-benar berakhir. Dampak karhutla justru bergeser ke ruang-ruang yang lebih sunyi: rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan, tempat anak-anak datang dengan keluhan yang sama setiap musim asap tiba.
Dokter spesialis paru dan pernapasan di Pekanbaru, dr. Indra Yovi, mengatakan pola tersebut terus berulang. Menurutnya, anak menjadi kelompok yang paling rentan karena saluran napas mereka masih berkembang, sementara paparan partikel halus dari kabut asap mampu memicu radang saluran pernapasan atas. Gejala yang paling sering ditemui ialah batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak napas, hingga mata merah dan perih.
“Ketika sudah ada tanda-tanda seperti ini, segera anak dibawa ke rumah sakit terdekat,” tegas dr. Yovi.
Ketika api mulai dipadamkan dan jumlah hotspot perlahan menurun, krisis belum benar-benar berakhir. Dampak karhutla justru bergeser ke ruang-ruang yang lebih sunyi: rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan, tempat anak-anak datang dengan keluhan yang sama setiap musim asap tiba.
Dokter spesialis paru dan pernapasan di Pekanbaru, dr. Indra Yovi, mengatakan pola tersebut terus berulang. Menurutnya, anak menjadi kelompok yang paling rentan karena saluran napas mereka masih berkembang, sementara paparan partikel halus dari kabut asap mampu memicu radang saluran pernapasan atas. Gejala yang paling sering ditemui ialah batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak napas, hingga mata merah dan perih.
“Ketika sudah ada tanda-tanda seperti ini, segera anak dibawa ke rumah sakit terdekat,” tegas dr. Yovi.
Ketika api mulai dipadamkan dan jumlah hotspot perlahan menurun, krisis belum benar-benar berakhir. Dampak karhutla justru bergeser ke ruang-ruang yang lebih sunyi: rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan, tempat anak-anak datang dengan keluhan yang sama setiap musim asap tiba.
Dokter spesialis paru dan pernapasan di Pekanbaru, dr. Indra Yovi, mengatakan pola tersebut terus berulang. Menurutnya, anak menjadi kelompok yang paling rentan karena saluran napas mereka masih berkembang, sementara paparan partikel halus dari kabut asap mampu memicu radang saluran pernapasan atas. Gejala yang paling sering ditemui ialah batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak napas, hingga mata merah dan perih.
“Ketika sudah ada tanda-tanda seperti ini, segera anak dibawa ke rumah sakit terdekat,” tegas dr. Yovi.

(IDN Times/Rangga Erfizal)
Ia menekankan bahwa ancaman terbesar berasal dari PM2.5, partikel mikroskopis yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat diminta menghentikan aktivitas luar ruangan sebisa mungkin. Jika terpaksa keluar rumah, perlindungan paling efektif adalah masker dengan daya filtrasi tinggi.
“Masker N95 bisa menyaring partikel PM2.5 sebanyak 95 persen. Tetapi bila tidak tersedia bisa minimal pakai masker bedah 3 layer,” ujarnya.
Peristiwa karhutla yang terjadi pada Agustus 2026 ini menunjukkan bagaimana kabut asap mengubah rutinitas anak-anak di berbagai daerah. Di Riau, pemerintah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di Pekanbaru, Pelalawan, dan Indragiri Hulu setelah kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga berbahaya.
Di Palembang dan OKI, jam masuk dimundurkan, imbauan pengunaan masker sudah digaungkan. Sekolah ditutup bukan karena api berada di halaman, melainkan karena udara yang mereka hirup telah menjadi ancaman kesehatan.
Bagi keluarga seperti Maulia di Palembang, keputusan itu memiliki makna yang sama: melindungi anak dari sesuatu yang tak kasatmata. Setelah berbulan-bulan membahas hotspot, restorasi gambut, dan mitigasi, ujung dari seluruh krisis ini kembali bermuara pada satu kenyataan sederhana—anak-anak menjadi pihak yang paling awal menghirup dampak, padahal mereka sama sekali tidak menciptakan bencana tersebut.
Ia menekankan bahwa ancaman terbesar berasal dari PM2.5, partikel mikroskopis yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat diminta menghentikan aktivitas luar ruangan sebisa mungkin. Jika terpaksa keluar rumah, perlindungan paling efektif adalah masker dengan daya filtrasi tinggi.
“Masker N95 bisa menyaring partikel PM2.5 sebanyak 95 persen. Tetapi bila tidak tersedia bisa minimal pakai masker bedah 3 layer,” ujarnya.
Peristiwa karhutla yang terjadi pada Agustus 2026 ini menunjukkan bagaimana kabut asap mengubah rutinitas anak-anak di berbagai daerah. Di Riau, pemerintah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di Pekanbaru, Pelalawan, dan Indragiri Hulu setelah kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga berbahaya.
Di Palembang dan OKI, jam masuk dimundurkan, imbauan pengunaan masker sudah digaungkan. Sekolah ditutup bukan karena api berada di halaman, melainkan karena udara yang mereka hirup telah menjadi ancaman kesehatan.
Bagi keluarga seperti Maulia di Palembang, keputusan itu memiliki makna yang sama: melindungi anak dari sesuatu yang tak kasatmata. Setelah berbulan-bulan membahas hotspot, restorasi gambut, dan mitigasi, ujung dari seluruh krisis ini kembali bermuara pada satu kenyataan sederhana—anak-anak menjadi pihak yang paling awal menghirup dampak, padahal mereka sama sekali tidak menciptakan bencana tersebut.
Ia menekankan bahwa ancaman terbesar berasal dari PM2.5, partikel mikroskopis yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, selama kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat diminta menghentikan aktivitas luar ruangan sebisa mungkin. Jika terpaksa keluar rumah, perlindungan paling efektif adalah masker dengan daya filtrasi tinggi.
“Masker N95 bisa menyaring partikel PM2.5 sebanyak 95 persen. Tetapi bila tidak tersedia bisa minimal pakai masker bedah 3 layer,” ujarnya.
Peristiwa karhutla yang terjadi pada Agustus 2026 ini menunjukkan bagaimana kabut asap mengubah rutinitas anak-anak di berbagai daerah. Di Riau, pemerintah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di Pekanbaru, Pelalawan, dan Indragiri Hulu setelah kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga berbahaya.
Di Palembang dan OKI, jam masuk dimundurkan, imbauan pengunaan masker sudah digaungkan. Sekolah ditutup bukan karena api berada di halaman, melainkan karena udara yang mereka hirup telah menjadi ancaman kesehatan.
Bagi keluarga seperti Maulia di Palembang, keputusan itu memiliki makna yang sama: melindungi anak dari sesuatu yang tak kasatmata. Setelah berbulan-bulan membahas hotspot, restorasi gambut, dan mitigasi, ujung dari seluruh krisis ini kembali bermuara pada satu kenyataan sederhana—anak-anak menjadi pihak yang paling awal menghirup dampak, padahal mereka sama sekali tidak menciptakan bencana tersebut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Cerita Indonesia, dari berbagai sudut.
Disusun oleh
Tim Editorial
Hafidz Trijatnika - Project Lead/Editor
Febriana Sinta - Editor
Irwan Idris - Editor
Reporter
Rangga Erfizal - Reporter
Feny Maulia - Reporter
Tri Purnawati - Kontributor
Fanny Rizano - Kontributor
Infografis
Dhana Kencana
Hafidz Trijatnika
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.
© 2026 IDN. All Rights Reserved.



































