Contracts Team
Contracts Team

Rasa aman merupakan salah satu hak paling mendasar yang seharusnya dapat dirasakan setiap warga negara. Namun, bagi banyak orang Indonesia, malam justru menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan. Jalanan yang semestinya menjadi ruang publik berubah menjadi tempat yang dihindari karena ancaman begal, geng motor, dan kejahatan jalanan. Akibatnya, masyarakat mengubah kebiasaan, membatasi mobilitas, bahkan rela menunda perjalanan demi menghindari kemungkinan menjadi korban berikutnya.

Rasa aman merupakan salah satu hak paling mendasar yang seharusnya dapat dirasakan setiap warga negara. Namun, bagi banyak orang Indonesia, malam justru menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan. Jalanan yang semestinya menjadi ruang publik berubah menjadi tempat yang dihindari karena ancaman begal, geng motor, dan kejahatan jalanan. Akibatnya, masyarakat mengubah kebiasaan, membatasi mobilitas, bahkan rela menunda perjalanan demi menghindari kemungkinan menjadi korban berikutnya.

Rasa aman merupakan salah satu hak paling mendasar yang seharusnya dapat dirasakan setiap warga negara. Namun, bagi banyak orang Indonesia, malam justru menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan. Jalanan yang semestinya menjadi ruang publik berubah menjadi tempat yang dihindari karena ancaman begal, geng motor, dan kejahatan jalanan. Akibatnya, masyarakat mengubah kebiasaan, membatasi mobilitas, bahkan rela menunda perjalanan demi menghindari kemungkinan menjadi korban berikutnya.

"Awal-awal trauma jelas ada. Pulang malam jadi enggak berani. Sekarang kalau memang harus malam biasanya cari teman biar bisa bareng masuk ke jalur itu."


Febri Arianto,

jurnalis korban begal

"Awal-awal trauma jelas ada. Pulang malam jadi enggak berani. Sekarang kalau memang harus malam biasanya cari teman biar bisa bareng masuk ke jalur itu."


Febri Arianto,

jurnalis korban begal

"Awal-awal trauma jelas ada. Pulang malam jadi enggak berani. Sekarang kalau memang harus malam biasanya cari teman biar bisa bareng masuk ke jalur itu."


Febri Arianto,

jurnalis korban begal

Bagi Febri Arianto, perjalanan pulang selepas bekerja pada 2022 silam seharusnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Jurnalis yang tinggal di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan itu baru saja menyelesaikan tugas peliputan di Kota Bandar Lampung.


Malam itu sekitar pukul 19.30 WIB, ia melintasi jalur Desa Wonodadi, Tanjungsari, yang dikenal warga sebagai Jalur Palapa. Kawasan tersebut berada di tengah perkebunan karet dengan penerangan minim dan jauh dari permukiman. Di tengah perjalanan, dua pria muncul dari balik semak-semak."Pas mau pulang kerja, tiba-tiba ada yang keluar dari semak-semak. Saya langsung ditendang sampai terjatuh," kenangnya.


Belum sempat bangkit, kedua pelaku menodongkan senjata api. Dalam hitungan menit, sepeda motor yang tinggal tiga bulan lagi lunas dibawa kabur. Ia selamat, tetapi kehilangan kendaraan yang setiap hari digunakannya bekerja.

Bagi Febri Arianto, perjalanan pulang selepas bekerja pada 2022 silam seharusnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Jurnalis yang tinggal di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan itu baru saja menyelesaikan tugas peliputan di Kota Bandar Lampung.


Malam itu sekitar pukul 19.30 WIB, ia melintasi jalur Desa Wonodadi, Tanjungsari, yang dikenal warga sebagai Jalur Palapa. Kawasan tersebut berada di tengah perkebunan karet dengan penerangan minim dan jauh dari permukiman. Di tengah perjalanan, dua pria muncul dari balik semak-semak."Pas mau pulang kerja, tiba-tiba ada yang keluar dari semak-semak. Saya langsung ditendang sampai terjatuh," kenangnya.


Belum sempat bangkit, kedua pelaku menodongkan senjata api. Dalam hitungan menit, sepeda motor yang tinggal tiga bulan lagi lunas dibawa kabur. Ia selamat, tetapi kehilangan kendaraan yang setiap hari digunakannya bekerja.

Bagi Febri Arianto, perjalanan pulang selepas bekerja pada 2022 silam seharusnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Jurnalis yang tinggal di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan itu baru saja menyelesaikan tugas peliputan di Kota Bandar Lampung.


Malam itu sekitar pukul 19.30 WIB, ia melintasi jalur Desa Wonodadi, Tanjungsari, yang dikenal warga sebagai Jalur Palapa. Kawasan tersebut berada di tengah perkebunan karet dengan penerangan minim dan jauh dari permukiman. Di tengah perjalanan, dua pria muncul dari balik semak-semak."Pas mau pulang kerja, tiba-tiba ada yang keluar dari semak-semak. Saya langsung ditendang sampai terjatuh," kenangnya.


Belum sempat bangkit, kedua pelaku menodongkan senjata api. Dalam hitungan menit, sepeda motor yang tinggal tiga bulan lagi lunas dibawa kabur. Ia selamat, tetapi kehilangan kendaraan yang setiap hari digunakannya bekerja.

Luka yang dialami tidak berhenti pada malam itu. Benturan saat terjatuh menyebabkan sarafnya terjepit hingga harus menjalani terapi. Rasa sakit masih sesekali kambuh sampai sekarang. Yang lebih lama sembuh justru rasa takutnya.
Setiap kali harus melewati jalur yang sama pada malam hari, kecemasan kembali muncul."Awal-awal trauma jelas ada. Pulang malam jadi enggak berani. Sekarang kalau memang harus malam biasanya cari teman biar bisa bareng masuk ke jalur itu," katanya.


Bagi Febri, persoalannya bukan hanya soal pelaku yang belum tentu selalu muncul. Kondisi jalan yang gelap, rusak, dan jauh dari permukiman membuat rasa takut itu terus hidup."Kalau malam benar-benar gelap. Setelah jalan utama isinya kebun semua," ujarnya.


Ia berharap pemerintah memperbaiki jalan dan menambah lampu penerangan agar kawasan tersebut tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan bagi masyarakat

Luka yang dialami tidak berhenti pada malam itu. Benturan saat terjatuh menyebabkan sarafnya terjepit hingga harus menjalani terapi. Rasa sakit masih sesekali kambuh sampai sekarang. Yang lebih lama sembuh justru rasa takutnya.
Setiap kali harus melewati jalur yang sama pada malam hari, kecemasan kembali muncul."Awal-awal trauma jelas ada. Pulang malam jadi enggak berani. Sekarang kalau memang harus malam biasanya cari teman biar bisa bareng masuk ke jalur itu," katanya.


Bagi Febri, persoalannya bukan hanya soal pelaku yang belum tentu selalu muncul. Kondisi jalan yang gelap, rusak, dan jauh dari permukiman membuat rasa takut itu terus hidup."Kalau malam benar-benar gelap. Setelah jalan utama isinya kebun semua," ujarnya.


Ia berharap pemerintah memperbaiki jalan dan menambah lampu penerangan agar kawasan tersebut tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan bagi masyarakat

Luka yang dialami tidak berhenti pada malam itu. Benturan saat terjatuh menyebabkan sarafnya terjepit hingga harus menjalani terapi. Rasa sakit masih sesekali kambuh sampai sekarang. Yang lebih lama sembuh justru rasa takutnya.
Setiap kali harus melewati jalur yang sama pada malam hari, kecemasan kembali muncul."Awal-awal trauma jelas ada. Pulang malam jadi enggak berani. Sekarang kalau memang harus malam biasanya cari teman biar bisa bareng masuk ke jalur itu," katanya.


Bagi Febri, persoalannya bukan hanya soal pelaku yang belum tentu selalu muncul. Kondisi jalan yang gelap, rusak, dan jauh dari permukiman membuat rasa takut itu terus hidup."Kalau malam benar-benar gelap. Setelah jalan utama isinya kebun semua," ujarnya.


Ia berharap pemerintah memperbaiki jalan dan menambah lampu penerangan agar kawasan tersebut tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan bagi masyarakat

Ancaman kejahatan jalanan tidak hanya membayangi masyarakat yang bepergian pada malam hari, tetapi juga pekerja yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan. Pengemudi ojek online termasuk kelompok yang memiliki risiko tinggi karena harus mendatangi titik penjemputan yang ditentukan melalui aplikasi, termasuk lokasi yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.


Kondisi tersebut dialami Bagus Prayoga, pengemudi ojek online yang menjadi korban pembegalan di Gang Melati, Jalan Perintis, Pasar VII, Tembung, Kabupaten Deli Serdang, pada Minggu (26/7/2026).


Peristiwa bermula ketika Bagus menerima pesanan penjemputan. Setelah tiba di alamat yang dituju, ia menyadari jalan tersebut merupakan gang buntu. Tidak lama kemudian, dua orang mendatanginya dan menanyakan tujuan kedatangannya. Percakapan singkat itu berubah menjadi aksi kriminal ketika sejumlah orang lainnya datang mengepung korban.


"Mereka nanya mau ke mana, saya bilang jemput orderan. Tiba-tiba datang sekitar sepuluh orang lagi. Aku dikepung, langsung cabut kunci motor," ujar Bagus, Selasa (28/7/2026).

Ancaman kejahatan jalanan tidak hanya membayangi masyarakat yang bepergian pada malam hari, tetapi juga pekerja yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan. Pengemudi ojek online termasuk kelompok yang memiliki risiko tinggi karena harus mendatangi titik penjemputan yang ditentukan melalui aplikasi, termasuk lokasi yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.


Kondisi tersebut dialami Bagus Prayoga, pengemudi ojek online yang menjadi korban pembegalan di Gang Melati, Jalan Perintis, Pasar VII, Tembung, Kabupaten Deli Serdang, pada Minggu (26/7/2026).


Peristiwa bermula ketika Bagus menerima pesanan penjemputan. Setelah tiba di alamat yang dituju, ia menyadari jalan tersebut merupakan gang buntu. Tidak lama kemudian, dua orang mendatanginya dan menanyakan tujuan kedatangannya. Percakapan singkat itu berubah menjadi aksi kriminal ketika sejumlah orang lainnya datang mengepung korban.


"Mereka nanya mau ke mana, saya bilang jemput orderan. Tiba-tiba datang sekitar sepuluh orang lagi. Aku dikepung, langsung cabut kunci motor," ujar Bagus, Selasa (28/7/2026).

Ancaman kejahatan jalanan tidak hanya membayangi masyarakat yang bepergian pada malam hari, tetapi juga pekerja yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan. Pengemudi ojek online termasuk kelompok yang memiliki risiko tinggi karena harus mendatangi titik penjemputan yang ditentukan melalui aplikasi, termasuk lokasi yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.


Kondisi tersebut dialami Bagus Prayoga, pengemudi ojek online yang menjadi korban pembegalan di Gang Melati, Jalan Perintis, Pasar VII, Tembung, Kabupaten Deli Serdang, pada Minggu (26/7/2026).


Peristiwa bermula ketika Bagus menerima pesanan penjemputan. Setelah tiba di alamat yang dituju, ia menyadari jalan tersebut merupakan gang buntu. Tidak lama kemudian, dua orang mendatanginya dan menanyakan tujuan kedatangannya. Percakapan singkat itu berubah menjadi aksi kriminal ketika sejumlah orang lainnya datang mengepung korban.


"Mereka nanya mau ke mana, saya bilang jemput orderan. Tiba-tiba datang sekitar sepuluh orang lagi. Aku dikepung, langsung cabut kunci motor," ujar Bagus, Selasa (28/7/2026).

Bagus dikeroyok. Para pelaku memukulnya hingga mengalami luka sebelum membawa kabur sepeda motor Honda Vario BK 3795 AHV beserta telepon genggam miliknya.Di tengah situasi tersebut, Bagus berusaha mencari pertolongan dari warga yang berada di sekitar lokasi. Meski terdapat sejumlah orang di warung tidak jauh dari tempat kejadian, tidak ada yang berani memberikan bantuan. Menurutnya, para warga memilih masuk ke rumah masing-masing ketika aksi pembegalan berlangsung.


"Ramai warga di situ karena ada warung, tapi mereka semua masuk ke rumah. Motor saya didorong mereka (pelaku) ke arah rel yang gelap," katanya.


Usai kejadian, Bagus mendatangi Polsek Medan Tembung untuk membuat laporan. Ia berharap aparat segera bergerak ke lokasi karena meyakini kendaraan miliknya belum sempat dibawa jauh oleh para pelaku. Namun, proses pelaporan yang dijalaninya tidak berjalan sesuai harapan. Bagus mengaku harus melengkapi berbagai persyaratan administrasi terlebih dahulu sebelum proses penanganan dapat dilakukan.


"Aku yakin sepeda motornya belum jauh dibawa kabur pelaku. Masih di sekitar daerah situ. Aku berharap polisi langsung ke lokasi. Tapi jadi ribet karena harus melengkapi surat-surat seperti BPKB," ujarnya.

Bagus dikeroyok. Para pelaku memukulnya hingga mengalami luka sebelum membawa kabur sepeda motor Honda Vario BK 3795 AHV beserta telepon genggam miliknya.Di tengah situasi tersebut, Bagus berusaha mencari pertolongan dari warga yang berada di sekitar lokasi. Meski terdapat sejumlah orang di warung tidak jauh dari tempat kejadian, tidak ada yang berani memberikan bantuan. Menurutnya, para warga memilih masuk ke rumah masing-masing ketika aksi pembegalan berlangsung.


"Ramai warga di situ karena ada warung, tapi mereka semua masuk ke rumah. Motor saya didorong mereka (pelaku) ke arah rel yang gelap," katanya.


Usai kejadian, Bagus mendatangi Polsek Medan Tembung untuk membuat laporan. Ia berharap aparat segera bergerak ke lokasi karena meyakini kendaraan miliknya belum sempat dibawa jauh oleh para pelaku. Namun, proses pelaporan yang dijalaninya tidak berjalan sesuai harapan. Bagus mengaku harus melengkapi berbagai persyaratan administrasi terlebih dahulu sebelum proses penanganan dapat dilakukan.


"Aku yakin sepeda motornya belum jauh dibawa kabur pelaku. Masih di sekitar daerah situ. Aku berharap polisi langsung ke lokasi. Tapi jadi ribet karena harus melengkapi surat-surat seperti BPKB," ujarnya.

Bagus dikeroyok. Para pelaku memukulnya hingga mengalami luka sebelum membawa kabur sepeda motor Honda Vario BK 3795 AHV beserta telepon genggam miliknya.Di tengah situasi tersebut, Bagus berusaha mencari pertolongan dari warga yang berada di sekitar lokasi. Meski terdapat sejumlah orang di warung tidak jauh dari tempat kejadian, tidak ada yang berani memberikan bantuan. Menurutnya, para warga memilih masuk ke rumah masing-masing ketika aksi pembegalan berlangsung.


"Ramai warga di situ karena ada warung, tapi mereka semua masuk ke rumah. Motor saya didorong mereka (pelaku) ke arah rel yang gelap," katanya.


Usai kejadian, Bagus mendatangi Polsek Medan Tembung untuk membuat laporan. Ia berharap aparat segera bergerak ke lokasi karena meyakini kendaraan miliknya belum sempat dibawa jauh oleh para pelaku. Namun, proses pelaporan yang dijalaninya tidak berjalan sesuai harapan. Bagus mengaku harus melengkapi berbagai persyaratan administrasi terlebih dahulu sebelum proses penanganan dapat dilakukan.


"Aku yakin sepeda motornya belum jauh dibawa kabur pelaku. Masih di sekitar daerah situ. Aku berharap polisi langsung ke lokasi. Tapi jadi ribet karena harus melengkapi surat-surat seperti BPKB," ujarnya.

Bahkan upaya Bagus mendapatkan rekaman CCTV dari warga sekitar berbuah penolakan. Soalnya warga juga takut. Ternyata kawasan itu dikenal sebagai lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena diduga menjadi tempat aktivitas penyalahgunaan narkoba.


"Polisinya sendiri yang bilang takut masuk ke dalam. Takut dilempari batu karena lokasi itu kabarnya memang sarang narkoba. Makanya aku pesimis buat laporan ini," tuturnya.


Selain kehilangan kendaraan yang menjadi alat utama untuk mencari nafkah, Bagus juga harus menghadapi beban finansial karena sepeda motor tersebut masih berstatus kredit di perusahaan pembiayaan. Ketiadaan perlindungan asuransi membuatnya tetap berkewajiban melunasi cicilan meski kendaraan telah dirampas pelaku.


"Di awal meminjam, perusahaan leasing bilang kalau kereta hilang tidak ada asuransi. Jadi, aku harus tetap bayar angsuran sampai lunas," ujarnya.

Bahkan upaya Bagus mendapatkan rekaman CCTV dari warga sekitar berbuah penolakan. Soalnya warga juga takut. Ternyata kawasan itu dikenal sebagai lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena diduga menjadi tempat aktivitas penyalahgunaan narkoba.


"Polisinya sendiri yang bilang takut masuk ke dalam. Takut dilempari batu karena lokasi itu kabarnya memang sarang narkoba. Makanya aku pesimis buat laporan ini," tuturnya.


Selain kehilangan kendaraan yang menjadi alat utama untuk mencari nafkah, Bagus juga harus menghadapi beban finansial karena sepeda motor tersebut masih berstatus kredit di perusahaan pembiayaan. Ketiadaan perlindungan asuransi membuatnya tetap berkewajiban melunasi cicilan meski kendaraan telah dirampas pelaku.


"Di awal meminjam, perusahaan leasing bilang kalau kereta hilang tidak ada asuransi. Jadi, aku harus tetap bayar angsuran sampai lunas," ujarnya.

Bahkan upaya Bagus mendapatkan rekaman CCTV dari warga sekitar berbuah penolakan. Soalnya warga juga takut. Ternyata kawasan itu dikenal sebagai lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena diduga menjadi tempat aktivitas penyalahgunaan narkoba.


"Polisinya sendiri yang bilang takut masuk ke dalam. Takut dilempari batu karena lokasi itu kabarnya memang sarang narkoba. Makanya aku pesimis buat laporan ini," tuturnya.


Selain kehilangan kendaraan yang menjadi alat utama untuk mencari nafkah, Bagus juga harus menghadapi beban finansial karena sepeda motor tersebut masih berstatus kredit di perusahaan pembiayaan. Ketiadaan perlindungan asuransi membuatnya tetap berkewajiban melunasi cicilan meski kendaraan telah dirampas pelaku.


"Di awal meminjam, perusahaan leasing bilang kalau kereta hilang tidak ada asuransi. Jadi, aku harus tetap bayar angsuran sampai lunas," ujarnya.

Peta Ketakutan dan Titik Rawan

Peta Ketakutan dan Titik Rawan

Peta Ketakutan dan Titik Rawan




Jalan dr Mansyur salah satu ruas jalan yang minim penerangan di Kota Medan (IDN Times/Prayugo Utomo)

Ancaman kejahatan jalanan bukan sekadar persepsi masyarakat, tetapi juga tercermin dalam data kepolisian. Pencurian dengan kekerasan (curas) menjadi kejahatan yang harus mendapat perhatian. Selain kehilangan kendaraan atau harta benda lainnya, pengendara juga terancam nyawanya. Pelaku tak segan untuk melakukan kekerasan dengan senjata. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat, sepanjang Januari hingga Mei 2026 terjadi 1.788 kasus pencurian dengan kekerasan (curas) di Indonesia. Sebagian besar tindak kejahatan tersebut berlangsung di jalan umum, dengan 1.036 kasus, jauh melampaui lokasi lain seperti kawasan perkebunan (62 kasus), perkantoran (16 kasus), dan pasar (14 kasus).


Data tersebut menunjukkan bahwa ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat justru menjadi lokasi paling dominan terjadinya aksi kriminal. Jalan raya yang seharusnya menjadi sarana mobilitas berubah menjadi tempat yang paling sering menjadi lokasi begal.


Secara kewilayahan, Sumatra Utara mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 278 kejadian, disusul Sumatra Selatan sebanyak 201 kasus, Papua 148 kasus, Jawa Barat 142 kasus, Lampung 138 kasus, Jawa Timur 122 kasus, dan DKI Jakarta 110 kasus. Sementara itu, Riau mencatat 80 kasus, Papua Tengah 75 kasus, Banten 54 kasus, Jambi 42 kasus, Bengkulu 39 kasus, serta Sulawesi Selatan 39 kasus.

Ancaman kejahatan jalanan bukan sekadar persepsi masyarakat, tetapi juga tercermin dalam data kepolisian. Pencurian dengan kekerasan (curas) menjadi kejahatan yang harus mendapat perhatian. Selain kehilangan kendaraan atau harta benda lainnya, pengendara juga terancam nyawanya. Pelaku tak segan untuk melakukan kekerasan dengan senjata. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat, sepanjang Januari hingga Mei 2026 terjadi 1.788 kasus pencurian dengan kekerasan (curas) di Indonesia. Sebagian besar tindak kejahatan tersebut berlangsung di jalan umum, dengan 1.036 kasus, jauh melampaui lokasi lain seperti kawasan perkebunan (62 kasus), perkantoran (16 kasus), dan pasar (14 kasus).


Data tersebut menunjukkan bahwa ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat justru menjadi lokasi paling dominan terjadinya aksi kriminal. Jalan raya yang seharusnya menjadi sarana mobilitas berubah menjadi tempat yang paling sering menjadi lokasi begal.


Secara kewilayahan, Sumatra Utara mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 278 kejadian, disusul Sumatra Selatan sebanyak 201 kasus, Papua 148 kasus, Jawa Barat 142 kasus, Lampung 138 kasus, Jawa Timur 122 kasus, dan DKI Jakarta 110 kasus. Sementara itu, Riau mencatat 80 kasus, Papua Tengah 75 kasus, Banten 54 kasus, Jambi 42 kasus, Bengkulu 39 kasus, serta Sulawesi Selatan 39 kasus.

Ancaman kejahatan jalanan bukan sekadar persepsi masyarakat, tetapi juga tercermin dalam data kepolisian. Pencurian dengan kekerasan (curas) menjadi kejahatan yang harus mendapat perhatian. Selain kehilangan kendaraan atau harta benda lainnya, pengendara juga terancam nyawanya. Pelaku tak segan untuk melakukan kekerasan dengan senjata. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat, sepanjang Januari hingga Mei 2026 terjadi 1.788 kasus pencurian dengan kekerasan (curas) di Indonesia. Sebagian besar tindak kejahatan tersebut berlangsung di jalan umum, dengan 1.036 kasus, jauh melampaui lokasi lain seperti kawasan perkebunan (62 kasus), perkantoran (16 kasus), dan pasar (14 kasus).


Data tersebut menunjukkan bahwa ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat justru menjadi lokasi paling dominan terjadinya aksi kriminal. Jalan raya yang seharusnya menjadi sarana mobilitas berubah menjadi tempat yang paling sering menjadi lokasi begal.


Secara kewilayahan, Sumatra Utara mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 278 kejadian, disusul Sumatra Selatan sebanyak 201 kasus, Papua 148 kasus, Jawa Barat 142 kasus, Lampung 138 kasus, Jawa Timur 122 kasus, dan DKI Jakarta 110 kasus. Sementara itu, Riau mencatat 80 kasus, Papua Tengah 75 kasus, Banten 54 kasus, Jambi 42 kasus, Bengkulu 39 kasus, serta Sulawesi Selatan 39 kasus.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Grafis/Mardya Shakti

Grafis/Mardya Shakti

Berdasarkan waktu kejadian, aksi pencurian dengan kekerasan paling banyak terjadi saat aktivitas masyarakat mulai berkurang. Rentang waktu 00.00–04.59 WIB menjadi periode paling rawan dengan 460 kasus, diikuti pukul 18.00–21.59 WIB sebanyak 333 kasus. Kejahatan juga masih cukup tinggi pada siang hingga sore hari, yakni 198 kasus pada pukul 12.00–14.59 WIB dan 193 kasus pada pukul 15.00–17.59 WIB.


Pusiknas Polri juga mencatat bahwa faktor ekonomi menjadi motif yang paling dominan dalam tindak pencurian dengan kekerasan, yakni 819 kasus. Selain itu, terdapat 601 kasus yang dilakukan secara sengaja, 273 kasus dipicu gangguan keamanan, sedangkan 68 kasus belum diketahui motifnya.


Berbagai kota di Indonesia memiliki pola kerawanan yang serupa meskipun dengan karakteristik yang berbeda. Di Kota Medan, misalnya, sejumlah ruas jalan seperti Jalan Yos Sudarso, Jalan Cemara, Jalan Gatot Subroto, Jalan Asrama–Simpang Gaperta, Jalan Sudirman, Jalan AR Hakim, Jalan Sutrisno, Jalan Pandu, Jalan Pelangi, Jalan Sriwijaya, hingga Jalan Sei Serayu berulang kali masuk dalam daftar kewaspadaan berdasarkan laporan pemerintah daerah maupun kepolisian.

Berdasarkan waktu kejadian, aksi pencurian dengan kekerasan paling banyak terjadi saat aktivitas masyarakat mulai berkurang. Rentang waktu 00.00–04.59 WIB menjadi periode paling rawan dengan 460 kasus, diikuti pukul 18.00–21.59 WIB sebanyak 333 kasus. Kejahatan juga masih cukup tinggi pada siang hingga sore hari, yakni 198 kasus pada pukul 12.00–14.59 WIB dan 193 kasus pada pukul 15.00–17.59 WIB.


Pusiknas Polri juga mencatat bahwa faktor ekonomi menjadi motif yang paling dominan dalam tindak pencurian dengan kekerasan, yakni 819 kasus. Selain itu, terdapat 601 kasus yang dilakukan secara sengaja, 273 kasus dipicu gangguan keamanan, sedangkan 68 kasus belum diketahui motifnya.


Berbagai kota di Indonesia memiliki pola kerawanan yang serupa meskipun dengan karakteristik yang berbeda. Di Kota Medan, misalnya, sejumlah ruas jalan seperti Jalan Yos Sudarso, Jalan Cemara, Jalan Gatot Subroto, Jalan Asrama–Simpang Gaperta, Jalan Sudirman, Jalan AR Hakim, Jalan Sutrisno, Jalan Pandu, Jalan Pelangi, Jalan Sriwijaya, hingga Jalan Sei Serayu berulang kali masuk dalam daftar kewaspadaan berdasarkan laporan pemerintah daerah maupun kepolisian.

Berdasarkan waktu kejadian, aksi pencurian dengan kekerasan paling banyak terjadi saat aktivitas masyarakat mulai berkurang. Rentang waktu 00.00–04.59 WIB menjadi periode paling rawan dengan 460 kasus, diikuti pukul 18.00–21.59 WIB sebanyak 333 kasus. Kejahatan juga masih cukup tinggi pada siang hingga sore hari, yakni 198 kasus pada pukul 12.00–14.59 WIB dan 193 kasus pada pukul 15.00–17.59 WIB.


Pusiknas Polri juga mencatat bahwa faktor ekonomi menjadi motif yang paling dominan dalam tindak pencurian dengan kekerasan, yakni 819 kasus. Selain itu, terdapat 601 kasus yang dilakukan secara sengaja, 273 kasus dipicu gangguan keamanan, sedangkan 68 kasus belum diketahui motifnya.


Berbagai kota di Indonesia memiliki pola kerawanan yang serupa meskipun dengan karakteristik yang berbeda. Di Kota Medan, misalnya, sejumlah ruas jalan seperti Jalan Yos Sudarso, Jalan Cemara, Jalan Gatot Subroto, Jalan Asrama–Simpang Gaperta, Jalan Sudirman, Jalan AR Hakim, Jalan Sutrisno, Jalan Pandu, Jalan Pelangi, Jalan Sriwijaya, hingga Jalan Sei Serayu berulang kali masuk dalam daftar kewaspadaan berdasarkan laporan pemerintah daerah maupun kepolisian.

Selain ruas jalan tersebut, kawasan Medan Marelan, Belawan, Helvetia, dan sebagian Medan Tembung juga beberapa kali menjadi lokasi kasus yang menonjol. Pada April 2026, seorang ibu rumah tangga dibegal di Jalan Ileng Uki, Rengas Pulau, Marelan, saat pulang mengantar anak sekolah. Korban mengalami luka akibat sabetan senjata tajam dan kehilangan tas. Kasus tersebut kemudian berhasil diungkap Ditreskrimum Polda Sumatera Utara bersama Polres Pelabuhan Belawan.


Masih di kawasan yang sama, pada 24 Juli 2026, seorang warga dibegal dengan modus razia di Jalan Veteran Pasar 6 Helvetia, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (24/7/2026) dini hari. Sekelompok orang mengaku polisi dan menyita sepeda motor korban. Dia kemudian diturunkan di kawasan Jalan Sumarsono. Setelah dilakukan pengecekan ke pihak kepolisian, kendaraan tersebut disebut tidak ditemukan maupun tercatat berada di kantor kepolisian terkait.


Salah satu kawasan lain yang juga rawan adalah Jalan KL Yos Sudarso, menuju arah Pelabuhan Belawan. Pada Mei 2026 lalu seorang Ibu berusia 52 tahun Timoria Sitorus dan anak perempuannya yang masih berusia 18 tahun jadi korban begal sadis. Saat itu mereka bertjuan berbelanja keperluan dagang mereka pada dii hari. Sesampainya di lokasi kejadian, para pelaku yang berboncengan tiga menaiki sepeda motor datang memepet korban. Tanpa merasa iba mereka langsung menendang motor yang dikendarai ibu dan anak itu sampai mereka tersungkur dan membacok kaki korban.


Dari data di Pusiknas, sejak Januari-Mei 2026 sudah tercatat 43 kali aksi curas di area Polsek Medan Labuhan dan Medan Belawan. Bahkan menjadikan kawasan ini jadi yang tertinggi di Indonesia selama periode tersebut terkait intensitas kejahatan curas. Makanya, kawasan ini selalu menjadi titik yang diwaspadai pengemudi yang melintas.

Selain ruas jalan tersebut, kawasan Medan Marelan, Belawan, Helvetia, dan sebagian Medan Tembung juga beberapa kali menjadi lokasi kasus yang menonjol. Pada April 2026, seorang ibu rumah tangga dibegal di Jalan Ileng Uki, Rengas Pulau, Marelan, saat pulang mengantar anak sekolah. Korban mengalami luka akibat sabetan senjata tajam dan kehilangan tas. Kasus tersebut kemudian berhasil diungkap Ditreskrimum Polda Sumatera Utara bersama Polres Pelabuhan Belawan.


Masih di kawasan yang sama, pada 24 Juli 2026, seorang warga dibegal dengan modus razia di Jalan Veteran Pasar 6 Helvetia, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (24/7/2026) dini hari. Sekelompok orang mengaku polisi dan menyita sepeda motor korban. Dia kemudian diturunkan di kawasan Jalan Sumarsono. Setelah dilakukan pengecekan ke pihak kepolisian, kendaraan tersebut disebut tidak ditemukan maupun tercatat berada di kantor kepolisian terkait.


Salah satu kawasan lain yang juga rawan adalah Jalan KL Yos Sudarso, menuju arah Pelabuhan Belawan. Pada Mei 2026 lalu seorang Ibu berusia 52 tahun Timoria Sitorus dan anak perempuannya yang masih berusia 18 tahun jadi korban begal sadis. Saat itu mereka bertjuan berbelanja keperluan dagang mereka pada dii hari. Sesampainya di lokasi kejadian, para pelaku yang berboncengan tiga menaiki sepeda motor datang memepet korban. Tanpa merasa iba mereka langsung menendang motor yang dikendarai ibu dan anak itu sampai mereka tersungkur dan membacok kaki korban.


Dari data di Pusiknas, sejak Januari-Mei 2026 sudah tercatat 43 kali aksi curas di area Polsek Medan Labuhan dan Medan Belawan. Bahkan menjadikan kawasan ini jadi yang tertinggi di Indonesia selama periode tersebut terkait intensitas kejahatan curas. Makanya, kawasan ini selalu menjadi titik yang diwaspadai pengemudi yang melintas.

Selain ruas jalan tersebut, kawasan Medan Marelan, Belawan, Helvetia, dan sebagian Medan Tembung juga beberapa kali menjadi lokasi kasus yang menonjol. Pada April 2026, seorang ibu rumah tangga dibegal di Jalan Ileng Uki, Rengas Pulau, Marelan, saat pulang mengantar anak sekolah. Korban mengalami luka akibat sabetan senjata tajam dan kehilangan tas. Kasus tersebut kemudian berhasil diungkap Ditreskrimum Polda Sumatera Utara bersama Polres Pelabuhan Belawan.


Masih di kawasan yang sama, pada 24 Juli 2026, seorang warga dibegal dengan modus razia di Jalan Veteran Pasar 6 Helvetia, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (24/7/2026) dini hari. Sekelompok orang mengaku polisi dan menyita sepeda motor korban. Dia kemudian diturunkan di kawasan Jalan Sumarsono. Setelah dilakukan pengecekan ke pihak kepolisian, kendaraan tersebut disebut tidak ditemukan maupun tercatat berada di kantor kepolisian terkait.


Salah satu kawasan lain yang juga rawan adalah Jalan KL Yos Sudarso, menuju arah Pelabuhan Belawan. Pada Mei 2026 lalu seorang Ibu berusia 52 tahun Timoria Sitorus dan anak perempuannya yang masih berusia 18 tahun jadi korban begal sadis. Saat itu mereka bertjuan berbelanja keperluan dagang mereka pada dii hari. Sesampainya di lokasi kejadian, para pelaku yang berboncengan tiga menaiki sepeda motor datang memepet korban. Tanpa merasa iba mereka langsung menendang motor yang dikendarai ibu dan anak itu sampai mereka tersungkur dan membacok kaki korban.


Dari data di Pusiknas, sejak Januari-Mei 2026 sudah tercatat 43 kali aksi curas di area Polsek Medan Labuhan dan Medan Belawan. Bahkan menjadikan kawasan ini jadi yang tertinggi di Indonesia selama periode tersebut terkait intensitas kejahatan curas. Makanya, kawasan ini selalu menjadi titik yang diwaspadai pengemudi yang melintas.

Pola serupa juga terlihat di Surabaya. Jalan Kenjeran, Middle East Ring Road (MERR), Jalan Dupak, Jalan Ahmad Yani, kawasan Romokalisari, hingga akses menuju Jembatan Suramadu termasuk ruas yang beberapa kali menjadi perhatian aparat dalam operasi pemberantasan kejahatan jalanan.


Kasubag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar, menyebut patroli malam diperkuat atas instruksi Kapolda Jawa Timur dan Kapolrestabes Surabaya. Selain personel reserse, patroli Sabhara dan Samapta melalui blue light patrol juga rutin melakukan penyisiran pada titik-titik yang dianggap rawan.


Data kepolisian juga menunjukkan daftar lokasi yang lebih luas, antara lain Indrapura, Ahmad Jais, Mojopahit, Flyover Banyu Urip, Barata Jaya, Dharmahusada, Demak, HR Muhammad, Bubutan, Panglima Sudirman, Petra Patung Kuda, Sidotopo, Simolawang, Simo Pomahan, Tugu Pahlawan, Urip Sumoharjo, Dinoyo, Pengampon, Undaan, Kalianyar, Kayoon, Kedungdoro, Kertajaya, Kapas Krampung, Manukan, Mbah Ratu, Mulyosari, hingga kawasan MERR. Berdasarkan pemetaan kepolisian, tindak kriminal jalanan paling sering terjadi pada rentang pukul 00.00-04.00 WIB.

Pola serupa juga terlihat di Surabaya. Jalan Kenjeran, Middle East Ring Road (MERR), Jalan Dupak, Jalan Ahmad Yani, kawasan Romokalisari, hingga akses menuju Jembatan Suramadu termasuk ruas yang beberapa kali menjadi perhatian aparat dalam operasi pemberantasan kejahatan jalanan.


Kasubag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar, menyebut patroli malam diperkuat atas instruksi Kapolda Jawa Timur dan Kapolrestabes Surabaya. Selain personel reserse, patroli Sabhara dan Samapta melalui blue light patrol juga rutin melakukan penyisiran pada titik-titik yang dianggap rawan.


Data kepolisian juga menunjukkan daftar lokasi yang lebih luas, antara lain Indrapura, Ahmad Jais, Mojopahit, Flyover Banyu Urip, Barata Jaya, Dharmahusada, Demak, HR Muhammad, Bubutan, Panglima Sudirman, Petra Patung Kuda, Sidotopo, Simolawang, Simo Pomahan, Tugu Pahlawan, Urip Sumoharjo, Dinoyo, Pengampon, Undaan, Kalianyar, Kayoon, Kedungdoro, Kertajaya, Kapas Krampung, Manukan, Mbah Ratu, Mulyosari, hingga kawasan MERR. Berdasarkan pemetaan kepolisian, tindak kriminal jalanan paling sering terjadi pada rentang pukul 00.00-04.00 WIB.

Pola serupa juga terlihat di Surabaya. Jalan Kenjeran, Middle East Ring Road (MERR), Jalan Dupak, Jalan Ahmad Yani, kawasan Romokalisari, hingga akses menuju Jembatan Suramadu termasuk ruas yang beberapa kali menjadi perhatian aparat dalam operasi pemberantasan kejahatan jalanan.


Kasubag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar, menyebut patroli malam diperkuat atas instruksi Kapolda Jawa Timur dan Kapolrestabes Surabaya. Selain personel reserse, patroli Sabhara dan Samapta melalui blue light patrol juga rutin melakukan penyisiran pada titik-titik yang dianggap rawan.


Data kepolisian juga menunjukkan daftar lokasi yang lebih luas, antara lain Indrapura, Ahmad Jais, Mojopahit, Flyover Banyu Urip, Barata Jaya, Dharmahusada, Demak, HR Muhammad, Bubutan, Panglima Sudirman, Petra Patung Kuda, Sidotopo, Simolawang, Simo Pomahan, Tugu Pahlawan, Urip Sumoharjo, Dinoyo, Pengampon, Undaan, Kalianyar, Kayoon, Kedungdoro, Kertajaya, Kapas Krampung, Manukan, Mbah Ratu, Mulyosari, hingga kawasan MERR. Berdasarkan pemetaan kepolisian, tindak kriminal jalanan paling sering terjadi pada rentang pukul 00.00-04.00 WIB.

Dua pelaku begal kepada pelajar di Binjai ditangkkap dan ditembak polisi kedua kakinya (Dok.IDN Times)

Di Bandar Lampung, persoalan keamanan jalan juga menjadi perhatian serius. Ketua Gabungan Admin Shelter Driver Ojek Lampung (Gaspool), Miftahul Huda,mengatakan persoalan terbesar yang dihadapi pengemudi bukan hanya kemacetan atau persaingan memperoleh pesanan, tetapi juga keamanan ketika harus mengantar penumpang pada malam hari.


Berdasarkan pengalaman para pengemudi, sejumlah kawasan seperti Kelapa Tiga menuju Tugu Duren, akses Kemiling, CitraLand, Olok Gading, hingga ruas UIN Raden Intan menuju Tugu Perahu sering dihindari karena minim penerangan."Kalau sudah malam sebisa mungkin teman-teman lebih berhati-hati ketika mendapat order di titik-titik itu," katanya.


Miftah juga menyoroti kondisi sejumlah ruas jalan yang rusak dan berlubang. Menurutnya, kerusakan jalan dapat membuat pengendara kehilangan kendali, terutama saat malam hari ketika pencahayaan terbatas. Ia mencontohkan ruas jalan di kawasan turunan Damri dekat kompleks Kantor Gubernur Lampung hingga Pemkot Bandar Lampung yang dinilai masih banyak mengalami kerusakan.

"Kalau malam sering kali pengendara kehilangan kontrol karena kondisi jalannya rusak. Belum lagi di Jalan Soekarno-Hatta (Bypass) yang penerangannya minim dan masih banyak lubang," ucapnya.

Di Bandar Lampung, persoalan keamanan jalan juga menjadi perhatian serius. Ketua Gabungan Admin Shelter Driver Ojek Lampung (Gaspool), Miftahul Huda,mengatakan persoalan terbesar yang dihadapi pengemudi bukan hanya kemacetan atau persaingan memperoleh pesanan, tetapi juga keamanan ketika harus mengantar penumpang pada malam hari.


Berdasarkan pengalaman para pengemudi, sejumlah kawasan seperti Kelapa Tiga menuju Tugu Duren, akses Kemiling, CitraLand, Olok Gading, hingga ruas UIN Raden Intan menuju Tugu Perahu sering dihindari karena minim penerangan."Kalau sudah malam sebisa mungkin teman-teman lebih berhati-hati ketika mendapat order di titik-titik itu," katanya.


Miftah juga menyoroti kondisi sejumlah ruas jalan yang rusak dan berlubang. Menurutnya, kerusakan jalan dapat membuat pengendara kehilangan kendali, terutama saat malam hari ketika pencahayaan terbatas. Ia mencontohkan ruas jalan di kawasan turunan Damri dekat kompleks Kantor Gubernur Lampung hingga Pemkot Bandar Lampung yang dinilai masih banyak mengalami kerusakan.

"Kalau malam sering kali pengendara kehilangan kontrol karena kondisi jalannya rusak. Belum lagi di Jalan Soekarno-Hatta (Bypass) yang penerangannya minim dan masih banyak lubang," ucapnya.

Di Bandar Lampung, persoalan keamanan jalan juga menjadi perhatian serius. Ketua Gabungan Admin Shelter Driver Ojek Lampung (Gaspool), Miftahul Huda,mengatakan persoalan terbesar yang dihadapi pengemudi bukan hanya kemacetan atau persaingan memperoleh pesanan, tetapi juga keamanan ketika harus mengantar penumpang pada malam hari.


Berdasarkan pengalaman para pengemudi, sejumlah kawasan seperti Kelapa Tiga menuju Tugu Duren, akses Kemiling, CitraLand, Olok Gading, hingga ruas UIN Raden Intan menuju Tugu Perahu sering dihindari karena minim penerangan."Kalau sudah malam sebisa mungkin teman-teman lebih berhati-hati ketika mendapat order di titik-titik itu," katanya.


Miftah juga menyoroti kondisi sejumlah ruas jalan yang rusak dan berlubang. Menurutnya, kerusakan jalan dapat membuat pengendara kehilangan kendali, terutama saat malam hari ketika pencahayaan terbatas. Ia mencontohkan ruas jalan di kawasan turunan Damri dekat kompleks Kantor Gubernur Lampung hingga Pemkot Bandar Lampung yang dinilai masih banyak mengalami kerusakan.

"Kalau malam sering kali pengendara kehilangan kontrol karena kondisi jalannya rusak. Belum lagi di Jalan Soekarno-Hatta (Bypass) yang penerangannya minim dan masih banyak lubang," ucapnya.

Tidak hanya di ibu kota provinsi, Polda Lampung juga memetakan sedikitnya 32 lokasi rawan kriminalitas di berbagai wilayah hukum, mulai dari Jalan Lintas Sumatera di Way Kanan, Lampung Utara, Lampung Barat, Lampung Timur, Tulang Bawang, hingga kawasan Pelabuhan Bakauheni dan Bandara Raden Inten. Modus yang paling sering ditemukan meliputi pencurian dengan kekerasan, penjambretan, pencopetan, pemerasan, hingga pelaku yang mengincar korban di lokasi minim penerangan.

Jakarta menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Polda Metro Jaya bahkan membentuk Tim Pemburu Begal untuk meningkatkan patroli di wilayah ibu kota dan daerah penyangga. Berdasarkan pemetaan kepolisian, kawasan Cengkareng, Duri Kosambi, Kalideres, Cilincing, Jalan DI Panjaitan, Jalan Arjuna Utara, hingga wilayah perbatasan Jakarta dengan Bekasi maupun Depok menjadi titik yang memerlukan pengawasan lebih intensif. Pembentukan tim khusus tersebut menunjukkan bahwa kejahatan jalanan masih menjadi salah satu ancaman serius di kawasan metropolitan dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi.

Tidak hanya di ibu kota provinsi, Polda Lampung juga memetakan sedikitnya 32 lokasi rawan kriminalitas di berbagai wilayah hukum, mulai dari Jalan Lintas Sumatera di Way Kanan, Lampung Utara, Lampung Barat, Lampung Timur, Tulang Bawang, hingga kawasan Pelabuhan Bakauheni dan Bandara Raden Inten. Modus yang paling sering ditemukan meliputi pencurian dengan kekerasan, penjambretan, pencopetan, pemerasan, hingga pelaku yang mengincar korban di lokasi minim penerangan.

Jakarta menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Polda Metro Jaya bahkan membentuk Tim Pemburu Begal untuk meningkatkan patroli di wilayah ibu kota dan daerah penyangga. Berdasarkan pemetaan kepolisian, kawasan Cengkareng, Duri Kosambi, Kalideres, Cilincing, Jalan DI Panjaitan, Jalan Arjuna Utara, hingga wilayah perbatasan Jakarta dengan Bekasi maupun Depok menjadi titik yang memerlukan pengawasan lebih intensif. Pembentukan tim khusus tersebut menunjukkan bahwa kejahatan jalanan masih menjadi salah satu ancaman serius di kawasan metropolitan dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi.

Tidak hanya di ibu kota provinsi, Polda Lampung juga memetakan sedikitnya 32 lokasi rawan kriminalitas di berbagai wilayah hukum, mulai dari Jalan Lintas Sumatera di Way Kanan, Lampung Utara, Lampung Barat, Lampung Timur, Tulang Bawang, hingga kawasan Pelabuhan Bakauheni dan Bandara Raden Inten. Modus yang paling sering ditemukan meliputi pencurian dengan kekerasan, penjambretan, pencopetan, pemerasan, hingga pelaku yang mengincar korban di lokasi minim penerangan.

Jakarta menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Polda Metro Jaya bahkan membentuk Tim Pemburu Begal untuk meningkatkan patroli di wilayah ibu kota dan daerah penyangga. Berdasarkan pemetaan kepolisian, kawasan Cengkareng, Duri Kosambi, Kalideres, Cilincing, Jalan DI Panjaitan, Jalan Arjuna Utara, hingga wilayah perbatasan Jakarta dengan Bekasi maupun Depok menjadi titik yang memerlukan pengawasan lebih intensif. Pembentukan tim khusus tersebut menunjukkan bahwa kejahatan jalanan masih menjadi salah satu ancaman serius di kawasan metropolitan dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi.

Di Makassar, bentuk kejahatan jalanan memiliki karakteristik yang berbeda. Selain begal dan pencurian kendaraan bermotor, polisi juga menghadapi maraknya aksi tawuran serta penggunaan panah busur. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan, sejumlah wilayah tercatat memiliki banyak kejadian kejahatan jalanan. Di antaranya Kecamatan Tamalate, Tamalanrea, Rappocini, dan Panakkukang. Namun, Arya mengingatkan bahwa tingginya angka kejadian dalam data tidak serta-merta menunjukkan seluruh wilayah tersebut rawan.


"Kalau dari data, di Tamalate, Tamalanrea, Rappocini, juga Panakkukang. Tapi banyak kejadian ini tentu bukan berarti situasinya rawan sekali. Kadang-kadang ada kejadian yang sifatnya lokal," kata Arya.


Arya menuturkan, menentukan lokasi patroli berdasarkan hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan tiap pekan. Jika sebuah wilayah banyak terjadi kejahatan pada jam tertentu, patroli akan ditingkatkan pada waktu tersebut.


"Kalau misalnya minggu ini banyak kejadian di jam 2 sampai jam 5 pagi, kita antisipasi di jam itu. Kalau banyak terjadi di perumahan, kita patroli ke daerah itu. Kalau di jalan umum, kita antisipasi di jalan umum," jelas Arya.

Di Makassar, bentuk kejahatan jalanan memiliki karakteristik yang berbeda. Selain begal dan pencurian kendaraan bermotor, polisi juga menghadapi maraknya aksi tawuran serta penggunaan panah busur. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan, sejumlah wilayah tercatat memiliki banyak kejadian kejahatan jalanan. Di antaranya Kecamatan Tamalate, Tamalanrea, Rappocini, dan Panakkukang. Namun, Arya mengingatkan bahwa tingginya angka kejadian dalam data tidak serta-merta menunjukkan seluruh wilayah tersebut rawan.


"Kalau dari data, di Tamalate, Tamalanrea, Rappocini, juga Panakkukang. Tapi banyak kejadian ini tentu bukan berarti situasinya rawan sekali. Kadang-kadang ada kejadian yang sifatnya lokal," kata Arya.


Arya menuturkan, menentukan lokasi patroli berdasarkan hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan tiap pekan. Jika sebuah wilayah banyak terjadi kejahatan pada jam tertentu, patroli akan ditingkatkan pada waktu tersebut.


"Kalau misalnya minggu ini banyak kejadian di jam 2 sampai jam 5 pagi, kita antisipasi di jam itu. Kalau banyak terjadi di perumahan, kita patroli ke daerah itu. Kalau di jalan umum, kita antisipasi di jalan umum," jelas Arya.

Di Makassar, bentuk kejahatan jalanan memiliki karakteristik yang berbeda. Selain begal dan pencurian kendaraan bermotor, polisi juga menghadapi maraknya aksi tawuran serta penggunaan panah busur. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan, sejumlah wilayah tercatat memiliki banyak kejadian kejahatan jalanan. Di antaranya Kecamatan Tamalate, Tamalanrea, Rappocini, dan Panakkukang. Namun, Arya mengingatkan bahwa tingginya angka kejadian dalam data tidak serta-merta menunjukkan seluruh wilayah tersebut rawan.


"Kalau dari data, di Tamalate, Tamalanrea, Rappocini, juga Panakkukang. Tapi banyak kejadian ini tentu bukan berarti situasinya rawan sekali. Kadang-kadang ada kejadian yang sifatnya lokal," kata Arya.


Arya menuturkan, menentukan lokasi patroli berdasarkan hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan tiap pekan. Jika sebuah wilayah banyak terjadi kejahatan pada jam tertentu, patroli akan ditingkatkan pada waktu tersebut.


"Kalau misalnya minggu ini banyak kejadian di jam 2 sampai jam 5 pagi, kita antisipasi di jam itu. Kalau banyak terjadi di perumahan, kita patroli ke daerah itu. Kalau di jalan umum, kita antisipasi di jalan umum," jelas Arya.

Bandung juga memiliki tantangan serupa. Kepolisian mewaspadai sejumlah ruas seperti Flyover Kopo, Babakan Ciparay, Jalan BKR, Cikawao, Terusan Jakarta–Antapani, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan AH Nasution yang beberapa kali muncul dalam laporan masyarakat maupun menjadi perhatian patroli aparat.


Sementara di Palembang, kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Kolonel H. Burlian, Jalan Noerdin Panji, Kertapati, Jalan Mayjen Yusuf Singadekane, hingga Jalan Tanjung Api-Api menjadi lokasi yang berulang kali masuk dalam pengungkapan kasus curas dan begal oleh Polda Sumatera Selatan bersama Polrestabes Palembang. Polrestabes Palembang masih menjadi wilayah dengan angka kejahatan jalanan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, Polres Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Muara Enim juga masuk dalam wilayah yang menjadi perhatian kepolisian.

Bandung juga memiliki tantangan serupa. Kepolisian mewaspadai sejumlah ruas seperti Flyover Kopo, Babakan Ciparay, Jalan BKR, Cikawao, Terusan Jakarta–Antapani, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan AH Nasution yang beberapa kali muncul dalam laporan masyarakat maupun menjadi perhatian patroli aparat.


Sementara di Palembang, kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Kolonel H. Burlian, Jalan Noerdin Panji, Kertapati, Jalan Mayjen Yusuf Singadekane, hingga Jalan Tanjung Api-Api menjadi lokasi yang berulang kali masuk dalam pengungkapan kasus curas dan begal oleh Polda Sumatera Selatan bersama Polrestabes Palembang. Polrestabes Palembang masih menjadi wilayah dengan angka kejahatan jalanan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, Polres Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Muara Enim juga masuk dalam wilayah yang menjadi perhatian kepolisian.

Bandung juga memiliki tantangan serupa. Kepolisian mewaspadai sejumlah ruas seperti Flyover Kopo, Babakan Ciparay, Jalan BKR, Cikawao, Terusan Jakarta–Antapani, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan AH Nasution yang beberapa kali muncul dalam laporan masyarakat maupun menjadi perhatian patroli aparat.


Sementara di Palembang, kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Kolonel H. Burlian, Jalan Noerdin Panji, Kertapati, Jalan Mayjen Yusuf Singadekane, hingga Jalan Tanjung Api-Api menjadi lokasi yang berulang kali masuk dalam pengungkapan kasus curas dan begal oleh Polda Sumatera Selatan bersama Polrestabes Palembang. Polrestabes Palembang masih menjadi wilayah dengan angka kejahatan jalanan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, Polres Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Muara Enim juga masuk dalam wilayah yang menjadi perhatian kepolisian.

Tak hanya memetakan wilayah, Polda Sumsel juga mengidentifikasi waktu yang paling rawan terjadinya kejahatan. Pada 2026, kasus curas, curat, dan curanmor paling banyak terjadi pada rentang pukul 03.00 hingga 05.59 WIB atau menjelang subuh.

Karo Ops Polda Sumsel Kombes Pol Anis Prasetio Santoso mengatakan, hasil analisis dan evaluasi selama tiga tahun terakhir menunjukkan pelaku kejahatan kerap memanfaatkan jalan utama maupun akses keluar-masuk permukiman yang sepi untuk beraksi. Selain itu, mobilitas pelaku juga paling banyak terjadi pada rentang pukul 03.00 hingga 06.00 WIB.

"Kawasan pemukiman, jalan umum, hingga area parkir juga menjadi lokasi yang rawan karena masih adanya peluang akibat kelalaian pemilik kendaraan maupun barang yang tidak dijaga dengan baik," ungkap Anis kepada IDN Times.

Menurut Anis, hasil analisis tersebut menjadi dasar penyusunan pola pengamanan yang kini mengedepankan pendekatan berbasis data atau crime mapping. Seluruh laporan polisi, lokasi kejadian, waktu kejadian, hingga pola pelaku dianalisis untuk menentukan titik dan waktu patroli.

"Patroli tidak lagi dilakukan secara rutin tanpa sasaran, melainkan difokuskan pada titik, waktu, dan jenis kejahatan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi," ujarnya.

Tak hanya memetakan wilayah, Polda Sumsel juga mengidentifikasi waktu yang paling rawan terjadinya kejahatan. Pada 2026, kasus curas, curat, dan curanmor paling banyak terjadi pada rentang pukul 03.00 hingga 05.59 WIB atau menjelang subuh.

Karo Ops Polda Sumsel Kombes Pol Anis Prasetio Santoso mengatakan, hasil analisis dan evaluasi selama tiga tahun terakhir menunjukkan pelaku kejahatan kerap memanfaatkan jalan utama maupun akses keluar-masuk permukiman yang sepi untuk beraksi. Selain itu, mobilitas pelaku juga paling banyak terjadi pada rentang pukul 03.00 hingga 06.00 WIB.

"Kawasan pemukiman, jalan umum, hingga area parkir juga menjadi lokasi yang rawan karena masih adanya peluang akibat kelalaian pemilik kendaraan maupun barang yang tidak dijaga dengan baik," ungkap Anis kepada IDN Times.

Menurut Anis, hasil analisis tersebut menjadi dasar penyusunan pola pengamanan yang kini mengedepankan pendekatan berbasis data atau crime mapping. Seluruh laporan polisi, lokasi kejadian, waktu kejadian, hingga pola pelaku dianalisis untuk menentukan titik dan waktu patroli.

"Patroli tidak lagi dilakukan secara rutin tanpa sasaran, melainkan difokuskan pada titik, waktu, dan jenis kejahatan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi," ujarnya.

Tak hanya memetakan wilayah, Polda Sumsel juga mengidentifikasi waktu yang paling rawan terjadinya kejahatan. Pada 2026, kasus curas, curat, dan curanmor paling banyak terjadi pada rentang pukul 03.00 hingga 05.59 WIB atau menjelang subuh.

Karo Ops Polda Sumsel Kombes Pol Anis Prasetio Santoso mengatakan, hasil analisis dan evaluasi selama tiga tahun terakhir menunjukkan pelaku kejahatan kerap memanfaatkan jalan utama maupun akses keluar-masuk permukiman yang sepi untuk beraksi. Selain itu, mobilitas pelaku juga paling banyak terjadi pada rentang pukul 03.00 hingga 06.00 WIB.

"Kawasan pemukiman, jalan umum, hingga area parkir juga menjadi lokasi yang rawan karena masih adanya peluang akibat kelalaian pemilik kendaraan maupun barang yang tidak dijaga dengan baik," ungkap Anis kepada IDN Times.

Menurut Anis, hasil analisis tersebut menjadi dasar penyusunan pola pengamanan yang kini mengedepankan pendekatan berbasis data atau crime mapping. Seluruh laporan polisi, lokasi kejadian, waktu kejadian, hingga pola pelaku dianalisis untuk menentukan titik dan waktu patroli.

"Patroli tidak lagi dilakukan secara rutin tanpa sasaran, melainkan difokuskan pada titik, waktu, dan jenis kejahatan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi," ujarnya.

Fakta miris: pelaku banyak anak di bawah umur

Fakta miris: pelaku banyak anak di bawah umur

Fakta miris: pelaku banyak anak di bawah umur


Pelaku begal banyak yang usianya di bawah umur (dok.IDN Times)

"Pelaku di Makassar itu rata-rata 75 persen anak-anak. Mau tawuran, mau panah busur, rata-rata anak-anak."


Kombes Pol Arya Perdana,

Kapolrestabes Makassar

Polisi mengungkap fakta miris di balik kasus kejahatan jalanan. Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sekitar 75 persen pelaku yang terlibat dalam kejahatan jalanan seperti tawuran dan penggunaan panah busur ternyata masih berusia anak-anak.


Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengatakan, anak-anak tersebut kerap ditemukan masih nongkrong di jalan hingga larut malam. Sebagian bahkan terlibat dalam aksi tawuran dan membawa senjata tajam maupun panah busur.


"Pelaku di Makassar itu rata-rata 75 persen anak-anak. Mau tawuran, mau panah busur, rata-rata anak-anak," kata Arya kepada IDN Times.

Polisi mengungkap fakta miris di balik kasus kejahatan jalanan. Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sekitar 75 persen pelaku yang terlibat dalam kejahatan jalanan seperti tawuran dan penggunaan panah busur ternyata masih berusia anak-anak.


Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengatakan, anak-anak tersebut kerap ditemukan masih nongkrong di jalan hingga larut malam. Sebagian bahkan terlibat dalam aksi tawuran dan membawa senjata tajam maupun panah busur.


"Pelaku di Makassar itu rata-rata 75 persen anak-anak. Mau tawuran, mau panah busur, rata-rata anak-anak," kata Arya kepada IDN Times.

Polisi mengungkap fakta miris di balik kasus kejahatan jalanan. Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sekitar 75 persen pelaku yang terlibat dalam kejahatan jalanan seperti tawuran dan penggunaan panah busur ternyata masih berusia anak-anak.


Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengatakan, anak-anak tersebut kerap ditemukan masih nongkrong di jalan hingga larut malam. Sebagian bahkan terlibat dalam aksi tawuran dan membawa senjata tajam maupun panah busur.


"Pelaku di Makassar itu rata-rata 75 persen anak-anak. Mau tawuran, mau panah busur, rata-rata anak-anak," kata Arya kepada IDN Times.

Arya mengungkapkan, polisi pernah menangani anak berusia 11 tahun yang diduga melakukan aksi membusur terhadap seorang pengemudi ojek. Selain itu, polisi juga pernah menangkap 14 orang yang diduga hendak terlibat tawuran di Kecamatan Tallo. Sebagian besar masih berusia 12 hingga 14 tahun.


"Mereka belum sempat melakukan tindak pidana. Baru membawa panah busur dan mau kejar-kejaran. Itu juga anak-anak umur 12 tahun, 14 tahun," ujarnya.


Menurut Arya, fenomena tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan orangtua terhadap aktivitas anak-anak. Dia menilai, sebagian anak yang terlibat kejahatan jalanan bukan korban yang sedang pulang bekerja atau beraktivitas, melainkan mereka yang nongkrong hingga larut malam."Anak kecil itu kalau sudah malam, tidur di rumah, istirahat untuk persiapan sekolah. Kalau tidak sekolah, diberdayakan untuk hal-hal yang positif," katanya.

Arya mengungkapkan, polisi pernah menangani anak berusia 11 tahun yang diduga melakukan aksi membusur terhadap seorang pengemudi ojek. Selain itu, polisi juga pernah menangkap 14 orang yang diduga hendak terlibat tawuran di Kecamatan Tallo. Sebagian besar masih berusia 12 hingga 14 tahun.


"Mereka belum sempat melakukan tindak pidana. Baru membawa panah busur dan mau kejar-kejaran. Itu juga anak-anak umur 12 tahun, 14 tahun," ujarnya.


Menurut Arya, fenomena tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan orangtua terhadap aktivitas anak-anak. Dia menilai, sebagian anak yang terlibat kejahatan jalanan bukan korban yang sedang pulang bekerja atau beraktivitas, melainkan mereka yang nongkrong hingga larut malam."Anak kecil itu kalau sudah malam, tidur di rumah, istirahat untuk persiapan sekolah. Kalau tidak sekolah, diberdayakan untuk hal-hal yang positif," katanya.

Arya mengungkapkan, polisi pernah menangani anak berusia 11 tahun yang diduga melakukan aksi membusur terhadap seorang pengemudi ojek. Selain itu, polisi juga pernah menangkap 14 orang yang diduga hendak terlibat tawuran di Kecamatan Tallo. Sebagian besar masih berusia 12 hingga 14 tahun.


"Mereka belum sempat melakukan tindak pidana. Baru membawa panah busur dan mau kejar-kejaran. Itu juga anak-anak umur 12 tahun, 14 tahun," ujarnya.


Menurut Arya, fenomena tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan orangtua terhadap aktivitas anak-anak. Dia menilai, sebagian anak yang terlibat kejahatan jalanan bukan korban yang sedang pulang bekerja atau beraktivitas, melainkan mereka yang nongkrong hingga larut malam."Anak kecil itu kalau sudah malam, tidur di rumah, istirahat untuk persiapan sekolah. Kalau tidak sekolah, diberdayakan untuk hal-hal yang positif," katanya.

Mantan Kapolres Metro Depok ini meminta orangtua tidak membiarkan anak-anak berkeliaran tanpa tujuan hingga malam.


"Jangan sampai terus nongkrong di jalan malam, kemudian bertemu dengan orang-orang yang punya perilaku jahat dan akhirnya mereka bergabung. Itu yang kita tidak inginkan," ucapnya.


Selain berasal dari Kota Makassar, polisi juga menemukan pelaku kejahatan jalanan yang datang dari daerah sekitar. Arya menyebut, kelompok geng motor yang sempat melakukan aktivitas rolling di Makassar berasal dari sejumlah daerah, seperti Maros, Gowa, dan Takalar.


Di Medan, pada 10 Juli 2026 lalu, Unit Reskrim Polsek Medan Kota juga baru saja menangkap tiga remaja yang diduga menjadi pelaku pembegalan terhadap seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pedagang kopi di Jalan Selamat, Kecamatan Medan Kota. Ketiga pelaku yang masih berstatus di bawah umur itu diringkus di lokasi. Ketiga pelaku masing-masing berinisial DS (16), MA (16), dan A (15).

Mantan Kapolres Metro Depok ini meminta orangtua tidak membiarkan anak-anak berkeliaran tanpa tujuan hingga malam.


"Jangan sampai terus nongkrong di jalan malam, kemudian bertemu dengan orang-orang yang punya perilaku jahat dan akhirnya mereka bergabung. Itu yang kita tidak inginkan," ucapnya.


Selain berasal dari Kota Makassar, polisi juga menemukan pelaku kejahatan jalanan yang datang dari daerah sekitar. Arya menyebut, kelompok geng motor yang sempat melakukan aktivitas rolling di Makassar berasal dari sejumlah daerah, seperti Maros, Gowa, dan Takalar.


Di Medan, pada 10 Juli 2026 lalu, Unit Reskrim Polsek Medan Kota juga baru saja menangkap tiga remaja yang diduga menjadi pelaku pembegalan terhadap seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pedagang kopi di Jalan Selamat, Kecamatan Medan Kota. Ketiga pelaku yang masih berstatus di bawah umur itu diringkus di lokasi. Ketiga pelaku masing-masing berinisial DS (16), MA (16), dan A (15).

Mantan Kapolres Metro Depok ini meminta orangtua tidak membiarkan anak-anak berkeliaran tanpa tujuan hingga malam.


"Jangan sampai terus nongkrong di jalan malam, kemudian bertemu dengan orang-orang yang punya perilaku jahat dan akhirnya mereka bergabung. Itu yang kita tidak inginkan," ucapnya.


Selain berasal dari Kota Makassar, polisi juga menemukan pelaku kejahatan jalanan yang datang dari daerah sekitar. Arya menyebut, kelompok geng motor yang sempat melakukan aktivitas rolling di Makassar berasal dari sejumlah daerah, seperti Maros, Gowa, dan Takalar.


Di Medan, pada 10 Juli 2026 lalu, Unit Reskrim Polsek Medan Kota juga baru saja menangkap tiga remaja yang diduga menjadi pelaku pembegalan terhadap seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pedagang kopi di Jalan Selamat, Kecamatan Medan Kota. Ketiga pelaku yang masih berstatus di bawah umur itu diringkus di lokasi. Ketiga pelaku masing-masing berinisial DS (16), MA (16), dan A (15).

Pelaku begal yang masih di bawah umur saat ditangkap polisi usai melakukan aksi begal (dok.IDN Times)

Polisi menangkap mereka di rumah masing-masing yang berada di wilayah Kota Medan setelah melakukan penyelidikan berdasarkan laporan korban dan rekaman kamera pengawas (CCTV). Berdasarkan rekaman CCTV, ketiga pelaku datang berboncengan menggunakan satu sepeda motor. Mereka kemudian memepet korban sambil mengacungkan senjata tajam jenis celurit untuk mengancam dan melancarkan aksi pembegalan di Jalan Selamat, Kecamatan Medan Kota.


Di Palembang, aksi begal sadis menimpa seorang elajar SMP berinisial MA di Kecamatan Kemuning, Palembang, Sumatra Selatan. Salah seorang pelaku berinisial MR masih berusia pelajar 15 tahun.

Polisi menangkap mereka di rumah masing-masing yang berada di wilayah Kota Medan setelah melakukan penyelidikan berdasarkan laporan korban dan rekaman kamera pengawas (CCTV). Berdasarkan rekaman CCTV, ketiga pelaku datang berboncengan menggunakan satu sepeda motor. Mereka kemudian memepet korban sambil mengacungkan senjata tajam jenis celurit untuk mengancam dan melancarkan aksi pembegalan di Jalan Selamat, Kecamatan Medan Kota.


Di Palembang, aksi begal sadis menimpa seorang elajar SMP berinisial MA di Kecamatan Kemuning, Palembang, Sumatra Selatan. Salah seorang pelaku berinisial MR masih berusia pelajar 15 tahun.

Polisi menangkap mereka di rumah masing-masing yang berada di wilayah Kota Medan setelah melakukan penyelidikan berdasarkan laporan korban dan rekaman kamera pengawas (CCTV). Berdasarkan rekaman CCTV, ketiga pelaku datang berboncengan menggunakan satu sepeda motor. Mereka kemudian memepet korban sambil mengacungkan senjata tajam jenis celurit untuk mengancam dan melancarkan aksi pembegalan di Jalan Selamat, Kecamatan Medan Kota.


Di Palembang, aksi begal sadis menimpa seorang elajar SMP berinisial MA di Kecamatan Kemuning, Palembang, Sumatra Selatan. Salah seorang pelaku berinisial MR masih berusia pelajar 15 tahun.

Grafis/Mardya Shakti

Rasa takut yang mengubah perilaku

Rasa takut yang mengubah perilaku

Rasa takut yang mengubah perilaku


Suasana Jalan Veteran pada malam hari, salah satu kawasan rawan begal di Deli Serdang (IDN Times/Doni Hermawan)

"Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman."


Adil Nugraha,

Warga Medan

Kejahatan jalanan tidak hanya meninggalkan korban yang kehilangan kendaraan atau harta benda. Dampak yang jauh lebih besar justru terjadi setelah peristiwa itu berlalu. Rasa takut perlahan mengambil alih. Korban mulai mengubah rute perjalanan. Mereka menghindari jalan tertentu, memilih pulang sebelum malam, atau menunggu teman agar tidak melintas sendirian. Bahkan mereka yang tidak pernah menjadi korban ikut merasakan kecemasan karena terus menerima informasi mengenai begal, geng motor, maupun pencurian kendaraan bermotor melalui media sosial dan pemberitaan.


Di Medan, rasa takut terhadap begal dan kriminalitas jalanan perlahan mengubah kebiasaan warga. Malam yang dahulu identik dengan waktu berkumpul bersama teman, pulang bekerja, atau sekadar menikmati suasana kota, kini justru menjadi waktu yang dihindari sebagian masyarakat.


Bagi Ricky Ardian Putra, dosen Universitas Negeri Medan, bepergian setelah pukul 22.00 WIB bukan lagi aktivitas yang dilakukan dengan tenang. Setiap perjalanan malam selalu disertai kewaspadaan lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu."Untuk sekarang tidak merasa aman, apalagi setelah jam 22.00 WIB," ujarnya.

Kejahatan jalanan tidak hanya meninggalkan korban yang kehilangan kendaraan atau harta benda. Dampak yang jauh lebih besar justru terjadi setelah peristiwa itu berlalu. Rasa takut perlahan mengambil alih. Korban mulai mengubah rute perjalanan. Mereka menghindari jalan tertentu, memilih pulang sebelum malam, atau menunggu teman agar tidak melintas sendirian. Bahkan mereka yang tidak pernah menjadi korban ikut merasakan kecemasan karena terus menerima informasi mengenai begal, geng motor, maupun pencurian kendaraan bermotor melalui media sosial dan pemberitaan.


Di Medan, rasa takut terhadap begal dan kriminalitas jalanan perlahan mengubah kebiasaan warga. Malam yang dahulu identik dengan waktu berkumpul bersama teman, pulang bekerja, atau sekadar menikmati suasana kota, kini justru menjadi waktu yang dihindari sebagian masyarakat.


Bagi Ricky Ardian Putra, dosen Universitas Negeri Medan, bepergian setelah pukul 22.00 WIB bukan lagi aktivitas yang dilakukan dengan tenang. Setiap perjalanan malam selalu disertai kewaspadaan lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu."Untuk sekarang tidak merasa aman, apalagi setelah jam 22.00 WIB," ujarnya.

Kejahatan jalanan tidak hanya meninggalkan korban yang kehilangan kendaraan atau harta benda. Dampak yang jauh lebih besar justru terjadi setelah peristiwa itu berlalu. Rasa takut perlahan mengambil alih. Korban mulai mengubah rute perjalanan. Mereka menghindari jalan tertentu, memilih pulang sebelum malam, atau menunggu teman agar tidak melintas sendirian. Bahkan mereka yang tidak pernah menjadi korban ikut merasakan kecemasan karena terus menerima informasi mengenai begal, geng motor, maupun pencurian kendaraan bermotor melalui media sosial dan pemberitaan.


Di Medan, rasa takut terhadap begal dan kriminalitas jalanan perlahan mengubah kebiasaan warga. Malam yang dahulu identik dengan waktu berkumpul bersama teman, pulang bekerja, atau sekadar menikmati suasana kota, kini justru menjadi waktu yang dihindari sebagian masyarakat.


Bagi Ricky Ardian Putra, dosen Universitas Negeri Medan, bepergian setelah pukul 22.00 WIB bukan lagi aktivitas yang dilakukan dengan tenang. Setiap perjalanan malam selalu disertai kewaspadaan lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu."Untuk sekarang tidak merasa aman, apalagi setelah jam 22.00 WIB," ujarnya.

Meski belum pernah menjadi korban secara langsung, Ricky mengaku pernah berpapasan dengan iring-iringan geng motor dan menyaksikan tawuran antargeng di jalan raya. Pengalaman itu cukup untuk mengubah cara pandangnya terhadap ruang publik pada malam hari.


Kini ia memiliki daftar jalan yang sebisa mungkin dihindari ketika malam tiba. Jalan Mongonsidi, Jalan Amir Hamzah, Jalan Gatot Subroto kawasan Pinang Baris, hingga Jalan Kapten Muslim menjadi ruas yang selalu dipertimbangkan sebelum bepergian.


Akibatnya, tidak sedikit agenda yang akhirnya dibatalkan atau dijadwalkan ulang. Jika tidak benar-benar mendesak, ia memilih tidak lagi berada di luar rumah hingga melewati tengah malam."Kalau sekarang saya menghindari pulang berkegiatan di atas jam 00.00 WIB," kata Ricky.

Meski belum pernah menjadi korban secara langsung, Ricky mengaku pernah berpapasan dengan iring-iringan geng motor dan menyaksikan tawuran antargeng di jalan raya. Pengalaman itu cukup untuk mengubah cara pandangnya terhadap ruang publik pada malam hari.


Kini ia memiliki daftar jalan yang sebisa mungkin dihindari ketika malam tiba. Jalan Mongonsidi, Jalan Amir Hamzah, Jalan Gatot Subroto kawasan Pinang Baris, hingga Jalan Kapten Muslim menjadi ruas yang selalu dipertimbangkan sebelum bepergian.


Akibatnya, tidak sedikit agenda yang akhirnya dibatalkan atau dijadwalkan ulang. Jika tidak benar-benar mendesak, ia memilih tidak lagi berada di luar rumah hingga melewati tengah malam."Kalau sekarang saya menghindari pulang berkegiatan di atas jam 00.00 WIB," kata Ricky.

Meski belum pernah menjadi korban secara langsung, Ricky mengaku pernah berpapasan dengan iring-iringan geng motor dan menyaksikan tawuran antargeng di jalan raya. Pengalaman itu cukup untuk mengubah cara pandangnya terhadap ruang publik pada malam hari.


Kini ia memiliki daftar jalan yang sebisa mungkin dihindari ketika malam tiba. Jalan Mongonsidi, Jalan Amir Hamzah, Jalan Gatot Subroto kawasan Pinang Baris, hingga Jalan Kapten Muslim menjadi ruas yang selalu dipertimbangkan sebelum bepergian.


Akibatnya, tidak sedikit agenda yang akhirnya dibatalkan atau dijadwalkan ulang. Jika tidak benar-benar mendesak, ia memilih tidak lagi berada di luar rumah hingga melewati tengah malam."Kalau sekarang saya menghindari pulang berkegiatan di atas jam 00.00 WIB," kata Ricky.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Grafis Mardya Shakti

Menurut Ricky, persoalan bukan hanya pada ancaman pelaku kejahatan. Kondisi jalan yang masih minim penerangan, sejumlah ruas yang berlubang, serta semakin jarangnya melihat patroli aparat membuat rasa tidak aman semakin besar.


Ia berharap kepolisian meningkatkan patroli rutin secara merata, terutama di kawasan yang selama ini dikenal rawan aksi geng motor dan begal."Yang paling dibutuhkan agar masyarakat merasa aman adalah patroli polisi secara rutin dan merata di Kota Medan, khususnya di area rawan geng motor dan begal."


Pengalaman serupa dirasakan Adil Nugraha, warga Medan Selayang. Baginya, rasa aman lebih penting daripada keinginan segera pulang ke rumah.

Menurut Ricky, persoalan bukan hanya pada ancaman pelaku kejahatan. Kondisi jalan yang masih minim penerangan, sejumlah ruas yang berlubang, serta semakin jarangnya melihat patroli aparat membuat rasa tidak aman semakin besar.


Ia berharap kepolisian meningkatkan patroli rutin secara merata, terutama di kawasan yang selama ini dikenal rawan aksi geng motor dan begal."Yang paling dibutuhkan agar masyarakat merasa aman adalah patroli polisi secara rutin dan merata di Kota Medan, khususnya di area rawan geng motor dan begal."


Pengalaman serupa dirasakan Adil Nugraha, warga Medan Selayang. Baginya, rasa aman lebih penting daripada keinginan segera pulang ke rumah.

Menurut Ricky, persoalan bukan hanya pada ancaman pelaku kejahatan. Kondisi jalan yang masih minim penerangan, sejumlah ruas yang berlubang, serta semakin jarangnya melihat patroli aparat membuat rasa tidak aman semakin besar.


Ia berharap kepolisian meningkatkan patroli rutin secara merata, terutama di kawasan yang selama ini dikenal rawan aksi geng motor dan begal."Yang paling dibutuhkan agar masyarakat merasa aman adalah patroli polisi secara rutin dan merata di Kota Medan, khususnya di area rawan geng motor dan begal."


Pengalaman serupa dirasakan Adil Nugraha, warga Medan Selayang. Baginya, rasa aman lebih penting daripada keinginan segera pulang ke rumah.

Saat perhelatan Piala Dunia 2026, Adil beberapa kali mengikuti acara nonton bersama di sebuah kafe. Pertandingan yang dimulai sekitar pukul 02.00 WIB baru berakhir menjelang pukul 04.00 WIB. Alih-alih langsung pulang, ia memilih tetap berada di kafe hingga matahari mulai terbit. "Karena kan itu jam rawan. Meski jalan yang saya lewati itu terang lampu jalannya, tetap aja rawan," ujarnya.


Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia menilai peluang menjadi korban kejahatan selalu ada, bahkan ketika polisi sedang meningkatkan patroli.


“Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman,” ucapnya.

Saat perhelatan Piala Dunia 2026, Adil beberapa kali mengikuti acara nonton bersama di sebuah kafe. Pertandingan yang dimulai sekitar pukul 02.00 WIB baru berakhir menjelang pukul 04.00 WIB. Alih-alih langsung pulang, ia memilih tetap berada di kafe hingga matahari mulai terbit. "Karena kan itu jam rawan. Meski jalan yang saya lewati itu terang lampu jalannya, tetap aja rawan," ujarnya.


Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia menilai peluang menjadi korban kejahatan selalu ada, bahkan ketika polisi sedang meningkatkan patroli.


“Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman,” ucapnya.

Saat perhelatan Piala Dunia 2026, Adil beberapa kali mengikuti acara nonton bersama di sebuah kafe. Pertandingan yang dimulai sekitar pukul 02.00 WIB baru berakhir menjelang pukul 04.00 WIB. Alih-alih langsung pulang, ia memilih tetap berada di kafe hingga matahari mulai terbit. "Karena kan itu jam rawan. Meski jalan yang saya lewati itu terang lampu jalannya, tetap aja rawan," ujarnya.


Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia menilai peluang menjadi korban kejahatan selalu ada, bahkan ketika polisi sedang meningkatkan patroli.


“Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman,” ucapnya.

Grafis Mardya Shakti

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia menilai peluang menjadi korban kejahatan selalu ada, bahkan ketika polisi sedang meningkatkan patroli. “Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman,” ucapnya.


Menurut Adil, perlengkapan keselamatan seperti helm memang penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Namun perlengkapan itu tidak akan mampu melindungi seseorang ketika berhadapan dengan pelaku begal. Rasa aman, menurutnya, hanya dapat diwujudkan melalui kehadiran negara yang konsisten menjaga ruang publik.


Keluhan yang sama datang dari Array A. Argus, seorang jurnalis di Medan. Tuntutan pekerjaan membuatnya hampir setiap hari baru meninggalkan kantor ketika sebagian besar masyarakat telah beristirahat.


Setiap perjalanan pulang selalu diiringi rasa waswas. Untuk mengurangi risiko, ia memilih menggunakan jalur alternatif yang dianggap lebih ramai meski jaraknya lebih jauh. Baginya, tambahan waktu perjalanan lebih baik dibanding harus melewati kawasan yang dikenal rawan kriminalitas.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia menilai peluang menjadi korban kejahatan selalu ada, bahkan ketika polisi sedang meningkatkan patroli. “Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman,” ucapnya.


Menurut Adil, perlengkapan keselamatan seperti helm memang penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Namun perlengkapan itu tidak akan mampu melindungi seseorang ketika berhadapan dengan pelaku begal. Rasa aman, menurutnya, hanya dapat diwujudkan melalui kehadiran negara yang konsisten menjaga ruang publik.


Keluhan yang sama datang dari Array A. Argus, seorang jurnalis di Medan. Tuntutan pekerjaan membuatnya hampir setiap hari baru meninggalkan kantor ketika sebagian besar masyarakat telah beristirahat.


Setiap perjalanan pulang selalu diiringi rasa waswas. Untuk mengurangi risiko, ia memilih menggunakan jalur alternatif yang dianggap lebih ramai meski jaraknya lebih jauh. Baginya, tambahan waktu perjalanan lebih baik dibanding harus melewati kawasan yang dikenal rawan kriminalitas.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia menilai peluang menjadi korban kejahatan selalu ada, bahkan ketika polisi sedang meningkatkan patroli. “Hari nahas tidak ada di kalender. Jadi potensi menjadi korban kejahatan jalanan selalu ada. Saya berharap ada peningkatan yang lebih lagi patrolinya. Jadi kita merasa lebih aman,” ucapnya.


Menurut Adil, perlengkapan keselamatan seperti helm memang penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Namun perlengkapan itu tidak akan mampu melindungi seseorang ketika berhadapan dengan pelaku begal. Rasa aman, menurutnya, hanya dapat diwujudkan melalui kehadiran negara yang konsisten menjaga ruang publik.


Keluhan yang sama datang dari Array A. Argus, seorang jurnalis di Medan. Tuntutan pekerjaan membuatnya hampir setiap hari baru meninggalkan kantor ketika sebagian besar masyarakat telah beristirahat.


Setiap perjalanan pulang selalu diiringi rasa waswas. Untuk mengurangi risiko, ia memilih menggunakan jalur alternatif yang dianggap lebih ramai meski jaraknya lebih jauh. Baginya, tambahan waktu perjalanan lebih baik dibanding harus melewati kawasan yang dikenal rawan kriminalitas.

Menurut Array, Kota Medan masih membutuhkan patroli malam yang lebih masif dan terukur. Selain itu, ia menilai sistem keamanan lingkungan juga harus kembali dihidupkan. "Yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah patroli malam dari polisi dan juga penguatan siskamling di tiap tempat yang dianggap rawan."


Ia juga menyoroti masih minimnya lampu penerangan jalan di sejumlah kawasan. Baginya, jalan yang terang bukan hanya memudahkan pengendara melihat kondisi sekitar, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pencegahan kejahatan.


Situasi yang sama dirasakan Fajar, seorang desainer lepas (freelance designer). Berbeda dengan pekerja kantoran yang memiliki jam kerja tetap, Fajar justru lebih sering menyelesaikan pekerjaannya dari berbagai kafe. Akibatnya, waktu pulang pun tidak menentu dan kerap melewati pukul 23.00 WIB hingga tengah malam.

Menurut Array, Kota Medan masih membutuhkan patroli malam yang lebih masif dan terukur. Selain itu, ia menilai sistem keamanan lingkungan juga harus kembali dihidupkan. "Yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah patroli malam dari polisi dan juga penguatan siskamling di tiap tempat yang dianggap rawan."


Ia juga menyoroti masih minimnya lampu penerangan jalan di sejumlah kawasan. Baginya, jalan yang terang bukan hanya memudahkan pengendara melihat kondisi sekitar, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pencegahan kejahatan.


Situasi yang sama dirasakan Fajar, seorang desainer lepas (freelance designer). Berbeda dengan pekerja kantoran yang memiliki jam kerja tetap, Fajar justru lebih sering menyelesaikan pekerjaannya dari berbagai kafe. Akibatnya, waktu pulang pun tidak menentu dan kerap melewati pukul 23.00 WIB hingga tengah malam.

Menurut Array, Kota Medan masih membutuhkan patroli malam yang lebih masif dan terukur. Selain itu, ia menilai sistem keamanan lingkungan juga harus kembali dihidupkan. "Yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah patroli malam dari polisi dan juga penguatan siskamling di tiap tempat yang dianggap rawan."


Ia juga menyoroti masih minimnya lampu penerangan jalan di sejumlah kawasan. Baginya, jalan yang terang bukan hanya memudahkan pengendara melihat kondisi sekitar, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pencegahan kejahatan.


Situasi yang sama dirasakan Fajar, seorang desainer lepas (freelance designer). Berbeda dengan pekerja kantoran yang memiliki jam kerja tetap, Fajar justru lebih sering menyelesaikan pekerjaannya dari berbagai kafe. Akibatnya, waktu pulang pun tidak menentu dan kerap melewati pukul 23.00 WIB hingga tengah malam.

Menurutnya, bekerja hingga malam hari memang sudah menjadi bagian dari profesinya. Namun, perjalanan pulang justru menjadi momen yang paling membuatnya khawatir. "Saya suka pulang malam kalau lagi ada kerjaan. Selama ini kebanyakan kerja dari kafe. Saya sering pulang jam 11 malam, kadang jam 12," ungkap Fajar kepada IDN Times.

Rumah Fajar berada cukup jauh dari lokasi tempatnya bekerja. Untuk sampai ke rumah, ia harus melintasi ruas jalan yang sepi dan tidak seluruhnya berada di kawasan permukiman. Kondisi tersebut membuatnya selalu meningkatkan kewaspadaan selama berkendara sendirian.

Ia mengaku rasa cemas muncul bukan tanpa alasan. Berbagai informasi mengenai aksi begal yang beredar di masyarakat membuat dirinya lebih berhati-hati setiap kali berkendara pada malam hari. "Saya suka was-was kalau pulang malam sendirian. Rumah saya jauh dari tempat kerja, jalannya juga ada yang sepi dan tidak melewati permukiman," ujarnya.

Menurutnya, bekerja hingga malam hari memang sudah menjadi bagian dari profesinya. Namun, perjalanan pulang justru menjadi momen yang paling membuatnya khawatir. "Saya suka pulang malam kalau lagi ada kerjaan. Selama ini kebanyakan kerja dari kafe. Saya sering pulang jam 11 malam, kadang jam 12," ungkap Fajar kepada IDN Times.

Rumah Fajar berada cukup jauh dari lokasi tempatnya bekerja. Untuk sampai ke rumah, ia harus melintasi ruas jalan yang sepi dan tidak seluruhnya berada di kawasan permukiman. Kondisi tersebut membuatnya selalu meningkatkan kewaspadaan selama berkendara sendirian.

Ia mengaku rasa cemas muncul bukan tanpa alasan. Berbagai informasi mengenai aksi begal yang beredar di masyarakat membuat dirinya lebih berhati-hati setiap kali berkendara pada malam hari. "Saya suka was-was kalau pulang malam sendirian. Rumah saya jauh dari tempat kerja, jalannya juga ada yang sepi dan tidak melewati permukiman," ujarnya.

Menurutnya, bekerja hingga malam hari memang sudah menjadi bagian dari profesinya. Namun, perjalanan pulang justru menjadi momen yang paling membuatnya khawatir. "Saya suka pulang malam kalau lagi ada kerjaan. Selama ini kebanyakan kerja dari kafe. Saya sering pulang jam 11 malam, kadang jam 12," ungkap Fajar kepada IDN Times.

Rumah Fajar berada cukup jauh dari lokasi tempatnya bekerja. Untuk sampai ke rumah, ia harus melintasi ruas jalan yang sepi dan tidak seluruhnya berada di kawasan permukiman. Kondisi tersebut membuatnya selalu meningkatkan kewaspadaan selama berkendara sendirian.

Ia mengaku rasa cemas muncul bukan tanpa alasan. Berbagai informasi mengenai aksi begal yang beredar di masyarakat membuat dirinya lebih berhati-hati setiap kali berkendara pada malam hari. "Saya suka was-was kalau pulang malam sendirian. Rumah saya jauh dari tempat kerja, jalannya juga ada yang sepi dan tidak melewati permukiman," ujarnya.

Selain ancaman begal, Fajar juga mengaku khawatir bertemu kelompok remaja yang terlibat tawuran di malam hari. Menurutnya, situasi tersebut sama-sama berisiko bagi pengendara yang melintas seorang diri. "Yang paling saya takutin itu begal. Selain itu juga anak-anak remaja yang sering tawuran kalau malam," ungkapnya.

Meski mengaku belum pernah mengalami tindak kriminal secara langsung, cerita-cerita dari masyarakat mengenai aksi begal membuatnya tidak pernah lengah. Selama berkendara, ia selalu berusaha memperhatikan kondisi di sekitar, terutama ketika memasuki ruas jalan yang minim aktivitas warga.

Fajar mengatakan, salah satu kebiasaan yang selalu dilakukannya adalah sesekali melihat kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti dari belakang. Ia juga berusaha menghindari berhenti terlalu lama di lokasi yang sepi.

"Karena jalan menuju rumah cuma satu, mau tidak mau saya harus lewat situ. Kalau pulang malam saya sering lihat kaca spion, siapa tahu ada yang mengikuti. Apalagi kalau lewat jalan yang bukan permukiman, kita harus lebih waspada karena takut ada orang yang mengadang," katanya.

Selain ancaman begal, Fajar juga mengaku khawatir bertemu kelompok remaja yang terlibat tawuran di malam hari. Menurutnya, situasi tersebut sama-sama berisiko bagi pengendara yang melintas seorang diri. "Yang paling saya takutin itu begal. Selain itu juga anak-anak remaja yang sering tawuran kalau malam," ungkapnya.

Meski mengaku belum pernah mengalami tindak kriminal secara langsung, cerita-cerita dari masyarakat mengenai aksi begal membuatnya tidak pernah lengah. Selama berkendara, ia selalu berusaha memperhatikan kondisi di sekitar, terutama ketika memasuki ruas jalan yang minim aktivitas warga.

Fajar mengatakan, salah satu kebiasaan yang selalu dilakukannya adalah sesekali melihat kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti dari belakang. Ia juga berusaha menghindari berhenti terlalu lama di lokasi yang sepi.

"Karena jalan menuju rumah cuma satu, mau tidak mau saya harus lewat situ. Kalau pulang malam saya sering lihat kaca spion, siapa tahu ada yang mengikuti. Apalagi kalau lewat jalan yang bukan permukiman, kita harus lebih waspada karena takut ada orang yang mengadang," katanya.

Selain ancaman begal, Fajar juga mengaku khawatir bertemu kelompok remaja yang terlibat tawuran di malam hari. Menurutnya, situasi tersebut sama-sama berisiko bagi pengendara yang melintas seorang diri. "Yang paling saya takutin itu begal. Selain itu juga anak-anak remaja yang sering tawuran kalau malam," ungkapnya.

Meski mengaku belum pernah mengalami tindak kriminal secara langsung, cerita-cerita dari masyarakat mengenai aksi begal membuatnya tidak pernah lengah. Selama berkendara, ia selalu berusaha memperhatikan kondisi di sekitar, terutama ketika memasuki ruas jalan yang minim aktivitas warga.

Fajar mengatakan, salah satu kebiasaan yang selalu dilakukannya adalah sesekali melihat kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti dari belakang. Ia juga berusaha menghindari berhenti terlalu lama di lokasi yang sepi.

"Karena jalan menuju rumah cuma satu, mau tidak mau saya harus lewat situ. Kalau pulang malam saya sering lihat kaca spion, siapa tahu ada yang mengikuti. Apalagi kalau lewat jalan yang bukan permukiman, kita harus lebih waspada karena takut ada orang yang mengadang," katanya.

Kecemasan sering lebih besar dibanding angka kejahatan

Kecemasan sering lebih besar dibanding angka kejahatan

Kecemasan sering lebih besar dibanding angka kejahatan


Kawasan Fly Over Brayan yang menghubungkan Jalan Cemara dan Kapten Sumarsono salah satu daerah rawan di Kota Medan (IDN Times/Doni Hermawan)

"Kalau masyarakat cemas, energinya habis untuk memikirkan keamanan. Produktivitas kerja, pendidikan, dan hubungan sosial ikut terganggu."


Agus Suriadi,

Pengamat Sosial

Rasa takut terhadap kriminalitas sering kali berkembang lebih besar dibandingkan angka kejahatan yang sebenarnya. Hal itu dikatakan Pengamat Sosial Agus Suriadi. Kondisi tersebut merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam masyarakat.


"Rasa takut itu sebenarnya ditimbulkan oleh rasa kecemasan. Kecemasan itu berkaitan dengan rasa aman, emosionalitas, yang menjadi satu kesatuan dalam jiwa manusia," ujar Agus kepada IDN Times.


Menurut Agus, persepsi masyarakat terhadap sebuah jalan tidak dibentuk semata-mata oleh jumlah kasus yang pernah terjadi, melainkan juga oleh kondisi fisik lingkungan. Jalan yang sepi, minim penerangan, jauh dari permukiman, dan tidak terlihat adanya aktivitas masyarakat akan lebih mudah dipersepsikan sebagai lokasi berbahaya.
"Hampir semua kasus yang terjadi itu di kawasan-kawasan sepi yang jauh dari pemantauan dan jauh dari pengawasan orang-orang," kata pria yang menjabat Wakil Dekan I FISIP USU itu.

Rasa takut terhadap kriminalitas sering kali berkembang lebih besar dibandingkan angka kejahatan yang sebenarnya. Hal itu dikatakan Pengamat Sosial Agus Suriadi. Kondisi tersebut merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam masyarakat.


"Rasa takut itu sebenarnya ditimbulkan oleh rasa kecemasan. Kecemasan itu berkaitan dengan rasa aman, emosionalitas, yang menjadi satu kesatuan dalam jiwa manusia," ujar Agus kepada IDN Times.


Menurut Agus, persepsi masyarakat terhadap sebuah jalan tidak dibentuk semata-mata oleh jumlah kasus yang pernah terjadi, melainkan juga oleh kondisi fisik lingkungan. Jalan yang sepi, minim penerangan, jauh dari permukiman, dan tidak terlihat adanya aktivitas masyarakat akan lebih mudah dipersepsikan sebagai lokasi berbahaya.
"Hampir semua kasus yang terjadi itu di kawasan-kawasan sepi yang jauh dari pemantauan dan jauh dari pengawasan orang-orang," kata pria yang menjabat Wakil Dekan I FISIP USU itu.

Rasa takut terhadap kriminalitas sering kali berkembang lebih besar dibandingkan angka kejahatan yang sebenarnya. Hal itu dikatakan Pengamat Sosial Agus Suriadi. Kondisi tersebut merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam masyarakat.


"Rasa takut itu sebenarnya ditimbulkan oleh rasa kecemasan. Kecemasan itu berkaitan dengan rasa aman, emosionalitas, yang menjadi satu kesatuan dalam jiwa manusia," ujar Agus kepada IDN Times.


Menurut Agus, persepsi masyarakat terhadap sebuah jalan tidak dibentuk semata-mata oleh jumlah kasus yang pernah terjadi, melainkan juga oleh kondisi fisik lingkungan. Jalan yang sepi, minim penerangan, jauh dari permukiman, dan tidak terlihat adanya aktivitas masyarakat akan lebih mudah dipersepsikan sebagai lokasi berbahaya.
"Hampir semua kasus yang terjadi itu di kawasan-kawasan sepi yang jauh dari pemantauan dan jauh dari pengawasan orang-orang," kata pria yang menjabat Wakil Dekan I FISIP USU itu.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Aksi begal yang dipantau lewat CCTV (dok,Polsek Medan Area)

Minimnya penerangan semakin memperkuat persepsi tersebut. Hal itu memerbesar niat pelaku yang melihat ada kesempatan. "Sudah sepi, tingkat penerangannya terbatas. Ini memunculkan persepsi bahwa wilayah itu bagus untuk kita lakukan kejahatan,” bebernya.


Penjelasan itu sejalan dengan pola yang ditemukan hampir di seluruh kota. Medan memiliki koridor Belawan dan Marelan yang didominasi jalan arteri serta kawasan industri. Surabaya memiliki sejumlah ruas panjang seperti MERR, Kenjeran, hingga akses menuju Suramadu. Bandar Lampung menghadapi persoalan serupa di Jalan Soekarno-Hatta dan sejumlah ruas yang minim lampu jalan. Di Makassar maupun Bandung, flyover dan jalan-jalan besar pada malam hari juga menjadi lokasi yang kerap mendapat perhatian aparat.


Kesamaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan publik tidak hanya berkaitan dengan banyaknya polisi di lapangan, tetapi juga bagaimana ruang kota dirancang agar tetap hidup dan terawasi sepanjang waktu.

Minimnya penerangan semakin memperkuat persepsi tersebut. Hal itu memerbesar niat pelaku yang melihat ada kesempatan. "Sudah sepi, tingkat penerangannya terbatas. Ini memunculkan persepsi bahwa wilayah itu bagus untuk kita lakukan kejahatan,” bebernya.


Penjelasan itu sejalan dengan pola yang ditemukan hampir di seluruh kota. Medan memiliki koridor Belawan dan Marelan yang didominasi jalan arteri serta kawasan industri. Surabaya memiliki sejumlah ruas panjang seperti MERR, Kenjeran, hingga akses menuju Suramadu. Bandar Lampung menghadapi persoalan serupa di Jalan Soekarno-Hatta dan sejumlah ruas yang minim lampu jalan. Di Makassar maupun Bandung, flyover dan jalan-jalan besar pada malam hari juga menjadi lokasi yang kerap mendapat perhatian aparat.


Kesamaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan publik tidak hanya berkaitan dengan banyaknya polisi di lapangan, tetapi juga bagaimana ruang kota dirancang agar tetap hidup dan terawasi sepanjang waktu.

Minimnya penerangan semakin memperkuat persepsi tersebut. Hal itu memerbesar niat pelaku yang melihat ada kesempatan. "Sudah sepi, tingkat penerangannya terbatas. Ini memunculkan persepsi bahwa wilayah itu bagus untuk kita lakukan kejahatan,” bebernya.


Penjelasan itu sejalan dengan pola yang ditemukan hampir di seluruh kota. Medan memiliki koridor Belawan dan Marelan yang didominasi jalan arteri serta kawasan industri. Surabaya memiliki sejumlah ruas panjang seperti MERR, Kenjeran, hingga akses menuju Suramadu. Bandar Lampung menghadapi persoalan serupa di Jalan Soekarno-Hatta dan sejumlah ruas yang minim lampu jalan. Di Makassar maupun Bandung, flyover dan jalan-jalan besar pada malam hari juga menjadi lokasi yang kerap mendapat perhatian aparat.


Kesamaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan publik tidak hanya berkaitan dengan banyaknya polisi di lapangan, tetapi juga bagaimana ruang kota dirancang agar tetap hidup dan terawasi sepanjang waktu.

Dampak rasa takut tidak berhenti pada aspek psikologis. Agus mengatakan kecemasan yang terus dipelihara akan memengaruhi produktivitas masyarakat.


"Kalau masyarakat cemas, energinya habis untuk memikirkan keamanan. Produktivitas kerja, pendidikan, dan hubungan sosial ikut terganggu."


Akibatnya, aktivitas ekonomi malam ikut terdampak. Warga enggan keluar rumah, pelaku usaha kehilangan pelanggan, mahasiswa membatasi kegiatan organisasi hingga malam hari, sementara pekerja harus mengeluarkan biaya tambahan demi memilih moda transportasi yang dianggap lebih aman.


Padahal pemerintah di berbagai daerah justru sedang mendorong berkembangnya ekonomi malam sebagai salah satu penggerak pertumbuhan pascapandemi. Tanpa rasa aman, ruang publik yang telah dibangun tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan masyarakat.

Dampak rasa takut tidak berhenti pada aspek psikologis. Agus mengatakan kecemasan yang terus dipelihara akan memengaruhi produktivitas masyarakat.


"Kalau masyarakat cemas, energinya habis untuk memikirkan keamanan. Produktivitas kerja, pendidikan, dan hubungan sosial ikut terganggu."


Akibatnya, aktivitas ekonomi malam ikut terdampak. Warga enggan keluar rumah, pelaku usaha kehilangan pelanggan, mahasiswa membatasi kegiatan organisasi hingga malam hari, sementara pekerja harus mengeluarkan biaya tambahan demi memilih moda transportasi yang dianggap lebih aman.


Padahal pemerintah di berbagai daerah justru sedang mendorong berkembangnya ekonomi malam sebagai salah satu penggerak pertumbuhan pascapandemi. Tanpa rasa aman, ruang publik yang telah dibangun tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan masyarakat.

Dampak rasa takut tidak berhenti pada aspek psikologis. Agus mengatakan kecemasan yang terus dipelihara akan memengaruhi produktivitas masyarakat.


"Kalau masyarakat cemas, energinya habis untuk memikirkan keamanan. Produktivitas kerja, pendidikan, dan hubungan sosial ikut terganggu."


Akibatnya, aktivitas ekonomi malam ikut terdampak. Warga enggan keluar rumah, pelaku usaha kehilangan pelanggan, mahasiswa membatasi kegiatan organisasi hingga malam hari, sementara pekerja harus mengeluarkan biaya tambahan demi memilih moda transportasi yang dianggap lebih aman.


Padahal pemerintah di berbagai daerah justru sedang mendorong berkembangnya ekonomi malam sebagai salah satu penggerak pertumbuhan pascapandemi. Tanpa rasa aman, ruang publik yang telah dibangun tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan masyarakat.

Trauma korban kejahatan bisa sebabkan stres

Trauma korban kejahatan bisa sebabkan stres

Trauma korban kejahatan bisa sebabkan stres


Sekelompok orang bersenjata tajam menodong ojek online di Medan pada April 2026 lalu (dok.CCTV warga)

"Rasa aman itu adalah kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu seharusnya ini menjadi satu hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah, supaya sebagai masyarakat kita juga merasa nyaman."


Irna Minauli,

Psikolog

Dari sudut pandang psikologi, trauma akibat kejahatan jalanan dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan luka fisik. Psikolog Irna Minauli menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami peristiwa di jalan raya dapat mengalami gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD). "Ketika seseorang mengalami kecelakaan itu sama dengan mengalami bencana. Karena banyak orang tidak mempersiapkan diri menghadapi kejadian tersebut," ujarnya.


Korban umumnya mengalami mimpi buruk, terus mengingat kembali peristiwa yang dialami, sulit berkonsentrasi, hingga menghindari lokasi yang mengingatkan pada kejadian tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi itu memengaruhi pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, bahkan kesehatan mental.


Irna juga menjelaskan bahwa korban kejahatan tidak selalu mereka yang mengalami langsung. Dalam psikologi dikenal tiga kelompok korban, yakni primary victim, secondary victim, dan tertiary victim.

Dari sudut pandang psikologi, trauma akibat kejahatan jalanan dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan luka fisik. Psikolog Irna Minauli menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami peristiwa di jalan raya dapat mengalami gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD). "Ketika seseorang mengalami kecelakaan itu sama dengan mengalami bencana. Karena banyak orang tidak mempersiapkan diri menghadapi kejadian tersebut," ujarnya.


Korban umumnya mengalami mimpi buruk, terus mengingat kembali peristiwa yang dialami, sulit berkonsentrasi, hingga menghindari lokasi yang mengingatkan pada kejadian tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi itu memengaruhi pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, bahkan kesehatan mental.


Irna juga menjelaskan bahwa korban kejahatan tidak selalu mereka yang mengalami langsung. Dalam psikologi dikenal tiga kelompok korban, yakni primary victim, secondary victim, dan tertiary victim.

Dari sudut pandang psikologi, trauma akibat kejahatan jalanan dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan luka fisik. Psikolog Irna Minauli menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami peristiwa di jalan raya dapat mengalami gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD). "Ketika seseorang mengalami kecelakaan itu sama dengan mengalami bencana. Karena banyak orang tidak mempersiapkan diri menghadapi kejadian tersebut," ujarnya.


Korban umumnya mengalami mimpi buruk, terus mengingat kembali peristiwa yang dialami, sulit berkonsentrasi, hingga menghindari lokasi yang mengingatkan pada kejadian tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi itu memengaruhi pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, bahkan kesehatan mental.


Irna juga menjelaskan bahwa korban kejahatan tidak selalu mereka yang mengalami langsung. Dalam psikologi dikenal tiga kelompok korban, yakni primary victim, secondary victim, dan tertiary victim.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Salah satu jalan di Bandar Lampung yang rawan begal karena jauh dari keramaian (IDN Times/Tama Wiguna)

Primary victim adalah orang yang mengalami langsung tindak kejahatan. Secondary victim merupakan mereka yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sedangkan tertiary victim adalah masyarakat yang mengetahui peristiwa tersebut melalui berita, foto, atau video yang beredar.


"Jadi korban itu tidak hanya yang mengalami kejadian. Tapi banyak orang akan terdampak di sana."


Fenomena tersebut dikenal sebagai vicarious learning, yaitu ketika seseorang belajar dari pengalaman orang lain. Melihat korban begal, video kekerasan, atau berita kriminal yang terus berulang membuat masyarakat merasa seolah-olah peristiwa serupa dapat menimpa dirinya kapan saja.Akibatnya, rasa takut menyebar jauh lebih cepat dibandingkan kejahatan itu sendiri.

Primary victim adalah orang yang mengalami langsung tindak kejahatan. Secondary victim merupakan mereka yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sedangkan tertiary victim adalah masyarakat yang mengetahui peristiwa tersebut melalui berita, foto, atau video yang beredar.


"Jadi korban itu tidak hanya yang mengalami kejadian. Tapi banyak orang akan terdampak di sana."


Fenomena tersebut dikenal sebagai vicarious learning, yaitu ketika seseorang belajar dari pengalaman orang lain. Melihat korban begal, video kekerasan, atau berita kriminal yang terus berulang membuat masyarakat merasa seolah-olah peristiwa serupa dapat menimpa dirinya kapan saja.Akibatnya, rasa takut menyebar jauh lebih cepat dibandingkan kejahatan itu sendiri.

Primary victim adalah orang yang mengalami langsung tindak kejahatan. Secondary victim merupakan mereka yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sedangkan tertiary victim adalah masyarakat yang mengetahui peristiwa tersebut melalui berita, foto, atau video yang beredar.


"Jadi korban itu tidak hanya yang mengalami kejadian. Tapi banyak orang akan terdampak di sana."


Fenomena tersebut dikenal sebagai vicarious learning, yaitu ketika seseorang belajar dari pengalaman orang lain. Melihat korban begal, video kekerasan, atau berita kriminal yang terus berulang membuat masyarakat merasa seolah-olah peristiwa serupa dapat menimpa dirinya kapan saja.Akibatnya, rasa takut menyebar jauh lebih cepat dibandingkan kejahatan itu sendiri.

Untuk pulih, korban membutuhkan dukungan sosial dari lingkungan agar merasa tidak sendiri. Dari sisi korban, disarankan untuk tidak terus menghindari tempat kejadian.

Dalam psikologi dikenal teknik desensitisasi. Secara perlahan korban dilatih kembali menghadapi pemicu trauma. Misalnya, awalnya hanya berani melewati 100 meter dari lokasi kejadian, lama-kelamaan jaraknya diperpendek hingga akhirnya bisa menerima dan melewati tempat tersebut.

"Rasa aman itu adalah kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu seharusnya ini menjadi satu hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah, supaya sebagai masyarakat kita juga merasa nyaman," tutupnya.

Untuk pulih, korban membutuhkan dukungan sosial dari lingkungan agar merasa tidak sendiri. Dari sisi korban, disarankan untuk tidak terus menghindari tempat kejadian.

Dalam psikologi dikenal teknik desensitisasi. Secara perlahan korban dilatih kembali menghadapi pemicu trauma. Misalnya, awalnya hanya berani melewati 100 meter dari lokasi kejadian, lama-kelamaan jaraknya diperpendek hingga akhirnya bisa menerima dan melewati tempat tersebut.

"Rasa aman itu adalah kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu seharusnya ini menjadi satu hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah, supaya sebagai masyarakat kita juga merasa nyaman," tutupnya.

Untuk pulih, korban membutuhkan dukungan sosial dari lingkungan agar merasa tidak sendiri. Dari sisi korban, disarankan untuk tidak terus menghindari tempat kejadian.

Dalam psikologi dikenal teknik desensitisasi. Secara perlahan korban dilatih kembali menghadapi pemicu trauma. Misalnya, awalnya hanya berani melewati 100 meter dari lokasi kejadian, lama-kelamaan jaraknya diperpendek hingga akhirnya bisa menerima dan melewati tempat tersebut.

"Rasa aman itu adalah kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu seharusnya ini menjadi satu hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah, supaya sebagai masyarakat kita juga merasa nyaman," tutupnya.

Agus Suriadi menambahkan, mengembalikan rasa aman membutuhkan pendekatan yang jauh lebih luas daripada sekadar menangkap pelaku.Ia menawarkan tiga langkah utama.


Pertama, kehadiran aparat penegak hukum yang konsisten. Patroli tidak boleh hanya meningkat ketika kasus sedang ramai dibicarakan, tetapi harus berlangsung berkelanjutan agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara.


Ia juga menilai CCTV dan penerangan jalan penting, tetapi tidak akan efektif tanpa aparat yang stand by.


"Jangan hanya 2-3 minggu gencar lalu kendur lagi. Harus ada sustainability. Itu yang menciptakan rasa aman," ujarnya.

Kedua, partisipasi masyarakat. Warga harus aware dan proaktif menjaga lingkungannya. "Kalau masyarakat sadar, rasa cemas itu akan hilang," katanya.


Ketiga, pendekatan kesejahteraan. Di wilayah seperti 4 kecamatan Medan Utara yang padat industri tapi minim penyerapan tenaga kerja, perlu prosperity approach. "Tingkat kemiskinan, ketimpangan sosial, dan narkoba memicu kriminalitas. Harus diimbangi dengan lapangan kerja," jelasnya.


Agus mencontohkan perubahan "Kampung Kubur" menjadi "Kampung Sejahtera" sebagai bukti stigma bisa dihapus jika ada kesadaran kolektif."Medan ini kota metropolitannya, bahkan super metropolitannya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kesadaran masyarakat tumbuh untuk bersama-sama menjaga wilayahnya," katanya.


"Kalau itu muncul, stigma Medan tingkat kriminalitasnya tinggi bisa hilang. Masyarakat bisa nyaman keluar malam tanpa merasa ada gangguan begal atau geng motor," kata Agus.

Agus Suriadi menambahkan, mengembalikan rasa aman membutuhkan pendekatan yang jauh lebih luas daripada sekadar menangkap pelaku.Ia menawarkan tiga langkah utama.


Pertama, kehadiran aparat penegak hukum yang konsisten. Patroli tidak boleh hanya meningkat ketika kasus sedang ramai dibicarakan, tetapi harus berlangsung berkelanjutan agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara.


Ia juga menilai CCTV dan penerangan jalan penting, tetapi tidak akan efektif tanpa aparat yang stand by.


"Jangan hanya 2-3 minggu gencar lalu kendur lagi. Harus ada sustainability. Itu yang menciptakan rasa aman," ujarnya.

Kedua, partisipasi masyarakat. Warga harus aware dan proaktif menjaga lingkungannya. "Kalau masyarakat sadar, rasa cemas itu akan hilang," katanya.


Ketiga, pendekatan kesejahteraan. Di wilayah seperti 4 kecamatan Medan Utara yang padat industri tapi minim penyerapan tenaga kerja, perlu prosperity approach. "Tingkat kemiskinan, ketimpangan sosial, dan narkoba memicu kriminalitas. Harus diimbangi dengan lapangan kerja," jelasnya.


Agus mencontohkan perubahan "Kampung Kubur" menjadi "Kampung Sejahtera" sebagai bukti stigma bisa dihapus jika ada kesadaran kolektif."Medan ini kota metropolitannya, bahkan super metropolitannya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kesadaran masyarakat tumbuh untuk bersama-sama menjaga wilayahnya," katanya.


"Kalau itu muncul, stigma Medan tingkat kriminalitasnya tinggi bisa hilang. Masyarakat bisa nyaman keluar malam tanpa merasa ada gangguan begal atau geng motor," kata Agus.

Agus Suriadi menambahkan, mengembalikan rasa aman membutuhkan pendekatan yang jauh lebih luas daripada sekadar menangkap pelaku.Ia menawarkan tiga langkah utama.


Pertama, kehadiran aparat penegak hukum yang konsisten. Patroli tidak boleh hanya meningkat ketika kasus sedang ramai dibicarakan, tetapi harus berlangsung berkelanjutan agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara.


Ia juga menilai CCTV dan penerangan jalan penting, tetapi tidak akan efektif tanpa aparat yang stand by.


"Jangan hanya 2-3 minggu gencar lalu kendur lagi. Harus ada sustainability. Itu yang menciptakan rasa aman," ujarnya.

Kedua, partisipasi masyarakat. Warga harus aware dan proaktif menjaga lingkungannya. "Kalau masyarakat sadar, rasa cemas itu akan hilang," katanya.


Ketiga, pendekatan kesejahteraan. Di wilayah seperti 4 kecamatan Medan Utara yang padat industri tapi minim penyerapan tenaga kerja, perlu prosperity approach. "Tingkat kemiskinan, ketimpangan sosial, dan narkoba memicu kriminalitas. Harus diimbangi dengan lapangan kerja," jelasnya.


Agus mencontohkan perubahan "Kampung Kubur" menjadi "Kampung Sejahtera" sebagai bukti stigma bisa dihapus jika ada kesadaran kolektif."Medan ini kota metropolitannya, bahkan super metropolitannya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kesadaran masyarakat tumbuh untuk bersama-sama menjaga wilayahnya," katanya.


"Kalau itu muncul, stigma Medan tingkat kriminalitasnya tinggi bisa hilang. Masyarakat bisa nyaman keluar malam tanpa merasa ada gangguan begal atau geng motor," kata Agus.

Negara sudah hadir memberikan rasa aman?

Negara sudah hadir memberikan rasa aman?

Negara sudah hadir memberikan rasa aman?


Ilustrasi tangan pelaku diborgol (dok.IDN Times)

"Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku kejahatan, khusus begal maupun curas yang meresahkan masyarakat apalagi menggunakan senjata api."


Irjen Pol Sandi Nugroho,

Kapolda Sumsel

Meningkatnya kejahatan jalanan tidak hanya menjadi persoalan kriminal semata, tetapi juga menjadi ukuran sejauh mana negara mampu menghadirkan perlindungan bagi masyarakat di ruang publik.


Di berbagai daerah, kepolisian telah melakukan beragam langkah untuk menekan angka kejahatan jalanan. Mulai dari patroli rutin, operasi pemberantasan premanisme, pembentukan tim khusus, hingga pemetaan wilayah rawan terus dilakukan. Namun pertanyaan yang muncul dari masyarakat bukan hanya berapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap, melainkan apakah mereka sudah benar-benar merasa aman ketika melintas di jalan pada malam hari?


Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum di Kota Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyatakan patroli gabungan tiga pilar bersama TNI dan Pemerintah Kota Medan diklaimnya berhasil menekan angka kejahatan jalanan. Selama 222 hari masa kepemimpinannya, Polrestabes Medan mencatat kejahatan jalanan turun 15 persen, atau berkurang 497 kasus dibandingkan periode sebelumnya.

Meningkatnya kejahatan jalanan tidak hanya menjadi persoalan kriminal semata, tetapi juga menjadi ukuran sejauh mana negara mampu menghadirkan perlindungan bagi masyarakat di ruang publik.


Di berbagai daerah, kepolisian telah melakukan beragam langkah untuk menekan angka kejahatan jalanan. Mulai dari patroli rutin, operasi pemberantasan premanisme, pembentukan tim khusus, hingga pemetaan wilayah rawan terus dilakukan. Namun pertanyaan yang muncul dari masyarakat bukan hanya berapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap, melainkan apakah mereka sudah benar-benar merasa aman ketika melintas di jalan pada malam hari?


Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum di Kota Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyatakan patroli gabungan tiga pilar bersama TNI dan Pemerintah Kota Medan diklaimnya berhasil menekan angka kejahatan jalanan. Selama 222 hari masa kepemimpinannya, Polrestabes Medan mencatat kejahatan jalanan turun 15 persen, atau berkurang 497 kasus dibandingkan periode sebelumnya.

Meningkatnya kejahatan jalanan tidak hanya menjadi persoalan kriminal semata, tetapi juga menjadi ukuran sejauh mana negara mampu menghadirkan perlindungan bagi masyarakat di ruang publik.


Di berbagai daerah, kepolisian telah melakukan beragam langkah untuk menekan angka kejahatan jalanan. Mulai dari patroli rutin, operasi pemberantasan premanisme, pembentukan tim khusus, hingga pemetaan wilayah rawan terus dilakukan. Namun pertanyaan yang muncul dari masyarakat bukan hanya berapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap, melainkan apakah mereka sudah benar-benar merasa aman ketika melintas di jalan pada malam hari?


Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum di Kota Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyatakan patroli gabungan tiga pilar bersama TNI dan Pemerintah Kota Medan diklaimnya berhasil menekan angka kejahatan jalanan. Selama 222 hari masa kepemimpinannya, Polrestabes Medan mencatat kejahatan jalanan turun 15 persen, atau berkurang 497 kasus dibandingkan periode sebelumnya.

Melalui patroli gabungan tiga pilar, polisi mengungkap 143 kasus dengan 178 tersangka, yang didominasi perkara kejahatan jalanan, perjudian, premanisme, dan narkotika. "Saya sampaikan kepada masyarakat, jangan ada yang berani bermain tindak pidana di Kota Medan, baik begal, curas, curanmor, perjudian maupun narkoba," tegas Calvijn.


Polda Sumatera Utara bersama Polrestabes Medan meningkatkan patroli pada kawasan-kawasan yang berulang kali menjadi lokasi pembegalan, seperti koridor Belawan, Marelan, Helvetia, dan Medan Tembung.


Di Surabaya, Polda Jawa Timur bersama Polrestabes Surabaya memperkuat patroli malam melalui Blue Light Patrol dan operasi kewilayahan yang difokuskan pada titik-titik rawan kejahatan. Patroli dilakukan secara terpadu oleh personel Samapta, Sabhara, Reserse Kriminal, serta jajaran kepolisian sektor.

Melalui patroli gabungan tiga pilar, polisi mengungkap 143 kasus dengan 178 tersangka, yang didominasi perkara kejahatan jalanan, perjudian, premanisme, dan narkotika. "Saya sampaikan kepada masyarakat, jangan ada yang berani bermain tindak pidana di Kota Medan, baik begal, curas, curanmor, perjudian maupun narkoba," tegas Calvijn.


Polda Sumatera Utara bersama Polrestabes Medan meningkatkan patroli pada kawasan-kawasan yang berulang kali menjadi lokasi pembegalan, seperti koridor Belawan, Marelan, Helvetia, dan Medan Tembung.


Di Surabaya, Polda Jawa Timur bersama Polrestabes Surabaya memperkuat patroli malam melalui Blue Light Patrol dan operasi kewilayahan yang difokuskan pada titik-titik rawan kejahatan. Patroli dilakukan secara terpadu oleh personel Samapta, Sabhara, Reserse Kriminal, serta jajaran kepolisian sektor.

Melalui patroli gabungan tiga pilar, polisi mengungkap 143 kasus dengan 178 tersangka, yang didominasi perkara kejahatan jalanan, perjudian, premanisme, dan narkotika. "Saya sampaikan kepada masyarakat, jangan ada yang berani bermain tindak pidana di Kota Medan, baik begal, curas, curanmor, perjudian maupun narkoba," tegas Calvijn.


Polda Sumatera Utara bersama Polrestabes Medan meningkatkan patroli pada kawasan-kawasan yang berulang kali menjadi lokasi pembegalan, seperti koridor Belawan, Marelan, Helvetia, dan Medan Tembung.


Di Surabaya, Polda Jawa Timur bersama Polrestabes Surabaya memperkuat patroli malam melalui Blue Light Patrol dan operasi kewilayahan yang difokuskan pada titik-titik rawan kejahatan. Patroli dilakukan secara terpadu oleh personel Samapta, Sabhara, Reserse Kriminal, serta jajaran kepolisian sektor.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Kawasan Fly Over Brayan yang menghubungkan Jalan Cemara dan Kapten Sumarsono salah satu daerah rawan di Kota Medan (IDN Times/Doni Hermawa)

Pemberantasan kejahatan 3C yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), menjadi salah satu fokus utama Polda Jawa Timur sepanjang 2026.


Sepanjang pelaksanaan operasi, kepolisian mencatat berhasil mengungkap 389 kasus kejahatan jalanan dengan 452 tersangka yang ditangkap. tersebut menunjukkan bahwa penindakan hukum terus berjalan dan aparat berupaya mempersempit ruang gerak para pelaku.


Pelaku kini semakin terorganisasi. Mereka bekerja berkelompok. Ada yang bertugas mengawasi situasi. Ada yang menjadi eksekutor. Ada pula jaringan penadah yang siap membeli kendaraan hasil curat dan curas dalam waktu singkat. Begitu kendaraan berpindah tangan, proses pelacakan menjadi semakin sulit. Nomor rangka dapat diubah. Nomor mesin dipalsukan. Sebagian kendaraan dipreteli menjadi suku cadang. Sebagian lainnya dikirim ke luar daerah sebelum pemilik sempat melapor ke kepolisian.

Pemberantasan kejahatan 3C yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), menjadi salah satu fokus utama Polda Jawa Timur sepanjang 2026.


Sepanjang pelaksanaan operasi, kepolisian mencatat berhasil mengungkap 389 kasus kejahatan jalanan dengan 452 tersangka yang ditangkap. tersebut menunjukkan bahwa penindakan hukum terus berjalan dan aparat berupaya mempersempit ruang gerak para pelaku.


Pelaku kini semakin terorganisasi. Mereka bekerja berkelompok. Ada yang bertugas mengawasi situasi. Ada yang menjadi eksekutor. Ada pula jaringan penadah yang siap membeli kendaraan hasil curat dan curas dalam waktu singkat. Begitu kendaraan berpindah tangan, proses pelacakan menjadi semakin sulit. Nomor rangka dapat diubah. Nomor mesin dipalsukan. Sebagian kendaraan dipreteli menjadi suku cadang. Sebagian lainnya dikirim ke luar daerah sebelum pemilik sempat melapor ke kepolisian.

Pemberantasan kejahatan 3C yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), menjadi salah satu fokus utama Polda Jawa Timur sepanjang 2026.


Sepanjang pelaksanaan operasi, kepolisian mencatat berhasil mengungkap 389 kasus kejahatan jalanan dengan 452 tersangka yang ditangkap. tersebut menunjukkan bahwa penindakan hukum terus berjalan dan aparat berupaya mempersempit ruang gerak para pelaku.


Pelaku kini semakin terorganisasi. Mereka bekerja berkelompok. Ada yang bertugas mengawasi situasi. Ada yang menjadi eksekutor. Ada pula jaringan penadah yang siap membeli kendaraan hasil curat dan curas dalam waktu singkat. Begitu kendaraan berpindah tangan, proses pelacakan menjadi semakin sulit. Nomor rangka dapat diubah. Nomor mesin dipalsukan. Sebagian kendaraan dipreteli menjadi suku cadang. Sebagian lainnya dikirim ke luar daerah sebelum pemilik sempat melapor ke kepolisian.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan, pihaknya memerintahkan Direktorat Reserse Kriminal Umum bersama seluruh 39 polres jajaran untuk bergerak cepat memburu pelaku kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat. Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Ditreskrimum Polda Jatim bersama URC di masing-masing polres diterjunkan untuk memburu pelaku, memetakan jaringan, hingga mengejar penadah yang menjadi mata rantai penting dalam kejahatan kendaraan bermotor.


Targetnya bukan hanya menangkap pelaku yang beraksi di jalan. Lebih dari itu, kepolisian ingin memutus jaringan kejahatan dari hulu hingga hilir. "Kami ingin memastikan Jawa Timur tetap aman dan kondusif," ujar Kapolda Nanang.


Dari Mei-Juni 2026, data menunjukkan adanya pergeseran pola. Kasus curanmor turun dari 74 menjadi 65 perkara. Namun pencurian dengan kekerasan justru meningkat dari 16 menjadi 25 kasus. Sementara pencurian dengan pemberatan relatif stabil.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan, pihaknya memerintahkan Direktorat Reserse Kriminal Umum bersama seluruh 39 polres jajaran untuk bergerak cepat memburu pelaku kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat. Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Ditreskrimum Polda Jatim bersama URC di masing-masing polres diterjunkan untuk memburu pelaku, memetakan jaringan, hingga mengejar penadah yang menjadi mata rantai penting dalam kejahatan kendaraan bermotor.


Targetnya bukan hanya menangkap pelaku yang beraksi di jalan. Lebih dari itu, kepolisian ingin memutus jaringan kejahatan dari hulu hingga hilir. "Kami ingin memastikan Jawa Timur tetap aman dan kondusif," ujar Kapolda Nanang.


Dari Mei-Juni 2026, data menunjukkan adanya pergeseran pola. Kasus curanmor turun dari 74 menjadi 65 perkara. Namun pencurian dengan kekerasan justru meningkat dari 16 menjadi 25 kasus. Sementara pencurian dengan pemberatan relatif stabil.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan, pihaknya memerintahkan Direktorat Reserse Kriminal Umum bersama seluruh 39 polres jajaran untuk bergerak cepat memburu pelaku kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat. Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Ditreskrimum Polda Jatim bersama URC di masing-masing polres diterjunkan untuk memburu pelaku, memetakan jaringan, hingga mengejar penadah yang menjadi mata rantai penting dalam kejahatan kendaraan bermotor.


Targetnya bukan hanya menangkap pelaku yang beraksi di jalan. Lebih dari itu, kepolisian ingin memutus jaringan kejahatan dari hulu hingga hilir. "Kami ingin memastikan Jawa Timur tetap aman dan kondusif," ujar Kapolda Nanang.


Dari Mei-Juni 2026, data menunjukkan adanya pergeseran pola. Kasus curanmor turun dari 74 menjadi 65 perkara. Namun pencurian dengan kekerasan justru meningkat dari 16 menjadi 25 kasus. Sementara pencurian dengan pemberatan relatif stabil.

Konferensi pers penindakan kejahatan jalanan di Polda Jawa Timur (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Dari Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi mengatakan keamanan warga harus menjadi prioritas. Menurutnya, masyarakat tidak boleh merasa khawatir ketika pulang bekerja ataupun melakukan aktivitas pada malam hari. Karena itu, ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Jawa Barat untuk memperkuat pengamanan, tidak hanya di Kota Bandung tetapi juga di seluruh wilayah provinsi.


"Selanjutnya saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk secara teknis dan taktis melakukan pengamanan di seluruh wilayah Bandung Raya dan seluruh wilayah Jawa Barat," ujar Dedi, Selasa (21/7/2026).


Dedi mengusulkan agar aparat keamanan ditempatkan di titik-titik strategis yang dinilai rawan kriminalitas. Menurutnya, kehadiran personel di lapangan tidak hanya berfungsi sebagai langkah penindakan, tetapi juga memberikan efek pencegahan sekaligus meningkatkan rasa aman masyarakat. "Menempatkan aparat di titik-titik strategis bersenjata, ini usulan saya dan ini adalah bagian untuk menciptakan rasa nyaman dan rasa aman bagi warga masyarakat," katanya.

Dari Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi mengatakan keamanan warga harus menjadi prioritas. Menurutnya, masyarakat tidak boleh merasa khawatir ketika pulang bekerja ataupun melakukan aktivitas pada malam hari. Karena itu, ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Jawa Barat untuk memperkuat pengamanan, tidak hanya di Kota Bandung tetapi juga di seluruh wilayah provinsi.


"Selanjutnya saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk secara teknis dan taktis melakukan pengamanan di seluruh wilayah Bandung Raya dan seluruh wilayah Jawa Barat," ujar Dedi, Selasa (21/7/2026).


Dedi mengusulkan agar aparat keamanan ditempatkan di titik-titik strategis yang dinilai rawan kriminalitas. Menurutnya, kehadiran personel di lapangan tidak hanya berfungsi sebagai langkah penindakan, tetapi juga memberikan efek pencegahan sekaligus meningkatkan rasa aman masyarakat. "Menempatkan aparat di titik-titik strategis bersenjata, ini usulan saya dan ini adalah bagian untuk menciptakan rasa nyaman dan rasa aman bagi warga masyarakat," katanya.

Dari Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi mengatakan keamanan warga harus menjadi prioritas. Menurutnya, masyarakat tidak boleh merasa khawatir ketika pulang bekerja ataupun melakukan aktivitas pada malam hari. Karena itu, ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Jawa Barat untuk memperkuat pengamanan, tidak hanya di Kota Bandung tetapi juga di seluruh wilayah provinsi.


"Selanjutnya saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk secara teknis dan taktis melakukan pengamanan di seluruh wilayah Bandung Raya dan seluruh wilayah Jawa Barat," ujar Dedi, Selasa (21/7/2026).


Dedi mengusulkan agar aparat keamanan ditempatkan di titik-titik strategis yang dinilai rawan kriminalitas. Menurutnya, kehadiran personel di lapangan tidak hanya berfungsi sebagai langkah penindakan, tetapi juga memberikan efek pencegahan sekaligus meningkatkan rasa aman masyarakat. "Menempatkan aparat di titik-titik strategis bersenjata, ini usulan saya dan ini adalah bagian untuk menciptakan rasa nyaman dan rasa aman bagi warga masyarakat," katanya.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Dua Pelaku Begal Ponsel Ditangkap Saat Melancarka Aksinya di Bandung. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Sejalan dengan langkah tersebut, Pemerintah Kota Bandung bersama aparat kepolisian dan TNI meningkatkan patroli gabungan pada malam hingga dini hari. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan patroli diawali dengan apel pada pukul 23.00 WIB, kemudian personel disebar ke sejumlah kawasan yang dinilai rawan dan kembali berkumpul sekitar 04.00 WIB setelah patroli selesai.


Selain patroli, Pemkot Bandung kembali memberlakukan jam malam bagi pelajar sebagai langkah preventif. Kebijakan ini bukan dimaksudkan untuk membatasi aktivitas remaja, melainkan mengurangi risiko mereka menjadi korban maupun terlibat dalam tindakan kriminal. "Kami juga akan memberlakukan jam malam pelajar kembali dan ditegakkan secara lebih tegas," ucap Farhan.


Pemerintah Kota Bandung menetapkan batas aktivitas pelajar hingga pukul 21.00 WIB pada hari biasa, sedangkan pada malam akhir pekan diberikan toleransi hingga 00.00 WIB. Farhan juga meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak agar tidak berkeliaran di luar rumah melebihi waktu yang telah ditentukan.

Sejalan dengan langkah tersebut, Pemerintah Kota Bandung bersama aparat kepolisian dan TNI meningkatkan patroli gabungan pada malam hingga dini hari. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan patroli diawali dengan apel pada pukul 23.00 WIB, kemudian personel disebar ke sejumlah kawasan yang dinilai rawan dan kembali berkumpul sekitar 04.00 WIB setelah patroli selesai.


Selain patroli, Pemkot Bandung kembali memberlakukan jam malam bagi pelajar sebagai langkah preventif. Kebijakan ini bukan dimaksudkan untuk membatasi aktivitas remaja, melainkan mengurangi risiko mereka menjadi korban maupun terlibat dalam tindakan kriminal. "Kami juga akan memberlakukan jam malam pelajar kembali dan ditegakkan secara lebih tegas," ucap Farhan.


Pemerintah Kota Bandung menetapkan batas aktivitas pelajar hingga pukul 21.00 WIB pada hari biasa, sedangkan pada malam akhir pekan diberikan toleransi hingga 00.00 WIB. Farhan juga meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak agar tidak berkeliaran di luar rumah melebihi waktu yang telah ditentukan.

Sejalan dengan langkah tersebut, Pemerintah Kota Bandung bersama aparat kepolisian dan TNI meningkatkan patroli gabungan pada malam hingga dini hari. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan patroli diawali dengan apel pada pukul 23.00 WIB, kemudian personel disebar ke sejumlah kawasan yang dinilai rawan dan kembali berkumpul sekitar 04.00 WIB setelah patroli selesai.


Selain patroli, Pemkot Bandung kembali memberlakukan jam malam bagi pelajar sebagai langkah preventif. Kebijakan ini bukan dimaksudkan untuk membatasi aktivitas remaja, melainkan mengurangi risiko mereka menjadi korban maupun terlibat dalam tindakan kriminal. "Kami juga akan memberlakukan jam malam pelajar kembali dan ditegakkan secara lebih tegas," ucap Farhan.


Pemerintah Kota Bandung menetapkan batas aktivitas pelajar hingga pukul 21.00 WIB pada hari biasa, sedangkan pada malam akhir pekan diberikan toleransi hingga 00.00 WIB. Farhan juga meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak agar tidak berkeliaran di luar rumah melebihi waktu yang telah ditentukan.

Langkah pengamanan juga menyasar aktivitas ekonomi malam. Pemkot Bandung menetapkan pembatasan jam operasional bagi pedagang kaki lima (PKL). Di sejumlah lokasi, PKL diwajibkan menghentikan aktivitas paling lambat pukul 00.00 WIB, sementara pada akhir pekan diberikan kelonggaran hingga pukul 02.00 WIB.


Sementara Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi pelaku begal maupun kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat. Apalagi jika membahayakan masyarakat. "Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku kejahatan, khusus begal maupun curas yang meresahkan masyarakat apalagi menggunakan senjata api," ungkapnya kepada IDN Times.

Sandi mengatakan seluruh personel di lapangan telah diinstruksikan untuk melakukan tindakan tegas dan terukur. Hal ini dilakukan apabila pelaku melawan atau mengancam keselamatan masyarakat maupun petugas."Kami menginstruksikan seluruh personel di lapangan untuk melakukan tindakan tegas terukur apabila para pelaku mencoba melawan dan mengancam keselamatan masyarakat maupun petugas," jelasnya.

Langkah pengamanan juga menyasar aktivitas ekonomi malam. Pemkot Bandung menetapkan pembatasan jam operasional bagi pedagang kaki lima (PKL). Di sejumlah lokasi, PKL diwajibkan menghentikan aktivitas paling lambat pukul 00.00 WIB, sementara pada akhir pekan diberikan kelonggaran hingga pukul 02.00 WIB.


Sementara Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi pelaku begal maupun kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat. Apalagi jika membahayakan masyarakat. "Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku kejahatan, khusus begal maupun curas yang meresahkan masyarakat apalagi menggunakan senjata api," ungkapnya kepada IDN Times.

Sandi mengatakan seluruh personel di lapangan telah diinstruksikan untuk melakukan tindakan tegas dan terukur. Hal ini dilakukan apabila pelaku melawan atau mengancam keselamatan masyarakat maupun petugas."Kami menginstruksikan seluruh personel di lapangan untuk melakukan tindakan tegas terukur apabila para pelaku mencoba melawan dan mengancam keselamatan masyarakat maupun petugas," jelasnya.

Langkah pengamanan juga menyasar aktivitas ekonomi malam. Pemkot Bandung menetapkan pembatasan jam operasional bagi pedagang kaki lima (PKL). Di sejumlah lokasi, PKL diwajibkan menghentikan aktivitas paling lambat pukul 00.00 WIB, sementara pada akhir pekan diberikan kelonggaran hingga pukul 02.00 WIB.


Sementara Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang bagi pelaku begal maupun kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat. Apalagi jika membahayakan masyarakat. "Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku kejahatan, khusus begal maupun curas yang meresahkan masyarakat apalagi menggunakan senjata api," ungkapnya kepada IDN Times.

Sandi mengatakan seluruh personel di lapangan telah diinstruksikan untuk melakukan tindakan tegas dan terukur. Hal ini dilakukan apabila pelaku melawan atau mengancam keselamatan masyarakat maupun petugas."Kami menginstruksikan seluruh personel di lapangan untuk melakukan tindakan tegas terukur apabila para pelaku mencoba melawan dan mengancam keselamatan masyarakat maupun petugas," jelasnya.

Sementara itu, di Jakarta, Polda Metro Jaya membentuk Tim Pemburu Begal sebagai respons terhadap meningkatnya aksi kriminal jalanan di wilayah ibu kota dan daerah penyangga. Tim tersebut bertugas melakukan patroli, pemetaan lokasi rawan, hingga penindakan cepat terhadap laporan masyarakat.


Langkah serupa juga dilakukan oleh Polda Lampung melalui Operasi Siger Presisi, yang memfokuskan patroli pada puluhan titik rawan kriminalitas, baik di kawasan perkotaan maupun jalur lintas provinsi.

Sementara itu, di Jakarta, Polda Metro Jaya membentuk Tim Pemburu Begal sebagai respons terhadap meningkatnya aksi kriminal jalanan di wilayah ibu kota dan daerah penyangga. Tim tersebut bertugas melakukan patroli, pemetaan lokasi rawan, hingga penindakan cepat terhadap laporan masyarakat.


Langkah serupa juga dilakukan oleh Polda Lampung melalui Operasi Siger Presisi, yang memfokuskan patroli pada puluhan titik rawan kriminalitas, baik di kawasan perkotaan maupun jalur lintas provinsi.

Sementara itu, di Jakarta, Polda Metro Jaya membentuk Tim Pemburu Begal sebagai respons terhadap meningkatnya aksi kriminal jalanan di wilayah ibu kota dan daerah penyangga. Tim tersebut bertugas melakukan patroli, pemetaan lokasi rawan, hingga penindakan cepat terhadap laporan masyarakat.


Langkah serupa juga dilakukan oleh Polda Lampung melalui Operasi Siger Presisi, yang memfokuskan patroli pada puluhan titik rawan kriminalitas, baik di kawasan perkotaan maupun jalur lintas provinsi.

Di Makassar, pendekatan serupa dilakukan melalui patroli rutin dan analisis wilayah berdasarkan laporan kejahatan. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan selama satu tahun terakhir pihaknya menangani 967 kasus kejahatan jalanan.Meski jumlah tersebut masih tergolong tinggi, kepolisian mencatat tren penurunan hampir 50 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan itu dikaitkan dengan peningkatan patroli, penempatan personel pada jam-jam rawan, serta penindakan terhadap kelompok pelaku yang selama ini meresahkan masyarakat.

Arya mengatakan, dalam kegiatan patroli, setiap polsek biasanya menurunkan sekitar 10 personel. Sementara patroli mobile dari satuan Sabhara melibatkan sekitar 30 personel. Kegiatan tersebut juga diperkuat personel Brimob dan Direktorat Samapta Polda Sulsel.


Arya mengatakan, jumlah personel yang terbatas membuat polisi tidak mungkin berada di seluruh wilayah secara bersamaan. Karena itu, patroli dilakukan berdasarkan pemetaan lokasi yang dianggap membutuhkan kehadiran polisi. "Walaupun tentu tidak semua bisa ter-cover, paling tidak daerah-daerah yang dianggap rawan dan membutuhkan kehadiran polisi cukup banyak bisa kita hadirkan," katanya.

Di Makassar, pendekatan serupa dilakukan melalui patroli rutin dan analisis wilayah berdasarkan laporan kejahatan. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan selama satu tahun terakhir pihaknya menangani 967 kasus kejahatan jalanan.Meski jumlah tersebut masih tergolong tinggi, kepolisian mencatat tren penurunan hampir 50 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan itu dikaitkan dengan peningkatan patroli, penempatan personel pada jam-jam rawan, serta penindakan terhadap kelompok pelaku yang selama ini meresahkan masyarakat.

Arya mengatakan, dalam kegiatan patroli, setiap polsek biasanya menurunkan sekitar 10 personel. Sementara patroli mobile dari satuan Sabhara melibatkan sekitar 30 personel. Kegiatan tersebut juga diperkuat personel Brimob dan Direktorat Samapta Polda Sulsel.


Arya mengatakan, jumlah personel yang terbatas membuat polisi tidak mungkin berada di seluruh wilayah secara bersamaan. Karena itu, patroli dilakukan berdasarkan pemetaan lokasi yang dianggap membutuhkan kehadiran polisi. "Walaupun tentu tidak semua bisa ter-cover, paling tidak daerah-daerah yang dianggap rawan dan membutuhkan kehadiran polisi cukup banyak bisa kita hadirkan," katanya.

Di Makassar, pendekatan serupa dilakukan melalui patroli rutin dan analisis wilayah berdasarkan laporan kejahatan. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengungkapkan selama satu tahun terakhir pihaknya menangani 967 kasus kejahatan jalanan.Meski jumlah tersebut masih tergolong tinggi, kepolisian mencatat tren penurunan hampir 50 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan itu dikaitkan dengan peningkatan patroli, penempatan personel pada jam-jam rawan, serta penindakan terhadap kelompok pelaku yang selama ini meresahkan masyarakat.

Arya mengatakan, dalam kegiatan patroli, setiap polsek biasanya menurunkan sekitar 10 personel. Sementara patroli mobile dari satuan Sabhara melibatkan sekitar 30 personel. Kegiatan tersebut juga diperkuat personel Brimob dan Direktorat Samapta Polda Sulsel.


Arya mengatakan, jumlah personel yang terbatas membuat polisi tidak mungkin berada di seluruh wilayah secara bersamaan. Karena itu, patroli dilakukan berdasarkan pemetaan lokasi yang dianggap membutuhkan kehadiran polisi. "Walaupun tentu tidak semua bisa ter-cover, paling tidak daerah-daerah yang dianggap rawan dan membutuhkan kehadiran polisi cukup banyak bisa kita hadirkan," katanya.

Pekerjaan rumah untuk CCTV dan Lampu Jalan

Pekerjaan rumah untuk CCTV dan Lampu Jalan

Pekerjaan rumah untuk CCTV dan Lampu Jalan


Petugas melakukan pemantauan CCTV di (Area Traffic Control System) Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Bagi masyarakat, keberhasilan operasi tidak selalu berbanding lurus dengan hilangnya rasa khawatir. Pengalaman menjadi korban maupun cerita yang terus beredar membuat sebagian warga tetap menghindari sejumlah ruas jalan pada malam hari. Hal itu menunjukkan bahwa keberhasilan penegakan hukum juga harus diikuti dengan upaya membangun kembali kepercayaan publik terhadap keamanan ruang kota.


Tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks. Pelaku tidak hanya berpindah lokasi, tetapi juga mengubah modus operandi, memanfaatkan media sosial untuk mencari sasaran, hingga memilih waktu ketika aktivitas masyarakat mulai berkurang.Meski demikian, sejumlah contoh menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak selalu harus dimulai dari penangkapan pelaku.


Di Surabaya, misalnya, kawasan Jalan Kali Tebu yang sebelumnya dikenal gelap kini berubah setelah dilakukan penataan. Lampu penerangan jalan diperbaiki, akses lingkungan dibenahi, dan pengawasan masyarakat ditingkatkan. Perubahan sederhana tersebut membuat kawasan yang sebelumnya dihindari warga menjadi lebih ramai dilalui pada malam hari.

Bagi masyarakat, keberhasilan operasi tidak selalu berbanding lurus dengan hilangnya rasa khawatir. Pengalaman menjadi korban maupun cerita yang terus beredar membuat sebagian warga tetap menghindari sejumlah ruas jalan pada malam hari. Hal itu menunjukkan bahwa keberhasilan penegakan hukum juga harus diikuti dengan upaya membangun kembali kepercayaan publik terhadap keamanan ruang kota.


Tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks. Pelaku tidak hanya berpindah lokasi, tetapi juga mengubah modus operandi, memanfaatkan media sosial untuk mencari sasaran, hingga memilih waktu ketika aktivitas masyarakat mulai berkurang.Meski demikian, sejumlah contoh menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak selalu harus dimulai dari penangkapan pelaku.


Di Surabaya, misalnya, kawasan Jalan Kali Tebu yang sebelumnya dikenal gelap kini berubah setelah dilakukan penataan. Lampu penerangan jalan diperbaiki, akses lingkungan dibenahi, dan pengawasan masyarakat ditingkatkan. Perubahan sederhana tersebut membuat kawasan yang sebelumnya dihindari warga menjadi lebih ramai dilalui pada malam hari.

Bagi masyarakat, keberhasilan operasi tidak selalu berbanding lurus dengan hilangnya rasa khawatir. Pengalaman menjadi korban maupun cerita yang terus beredar membuat sebagian warga tetap menghindari sejumlah ruas jalan pada malam hari. Hal itu menunjukkan bahwa keberhasilan penegakan hukum juga harus diikuti dengan upaya membangun kembali kepercayaan publik terhadap keamanan ruang kota.


Tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks. Pelaku tidak hanya berpindah lokasi, tetapi juga mengubah modus operandi, memanfaatkan media sosial untuk mencari sasaran, hingga memilih waktu ketika aktivitas masyarakat mulai berkurang.Meski demikian, sejumlah contoh menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak selalu harus dimulai dari penangkapan pelaku.


Di Surabaya, misalnya, kawasan Jalan Kali Tebu yang sebelumnya dikenal gelap kini berubah setelah dilakukan penataan. Lampu penerangan jalan diperbaiki, akses lingkungan dibenahi, dan pengawasan masyarakat ditingkatkan. Perubahan sederhana tersebut membuat kawasan yang sebelumnya dihindari warga menjadi lebih ramai dilalui pada malam hari.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Petugas melakukan pemantauan CCTV di (Area Traffic Control System) Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Feris, warga Kecamatan Semampir yang setiap hari melintas di kawasan itu untuk bekerja. "Saya sebagai warga Surabaya Utara yang biasa lewat Jalan Kali Tebu sangat senang dengan perubahan jalan yang lebih bagus. Sekarang kalau lewat sini sudah tidak ada rasa takut karena penerangannya sudah banyak," ujarnya.


Feris bilang, keberadaan jalan yang lebih lebar, beraspal baik, memiliki dua lajur, serta didukung lampu penerangan yang memadai memberikan rasa aman bagi para pengendara, terutama saat melintas pada malam hari. Kondisi tersebut menjadi contoh bahwa penataan infrastruktur juga dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan kejahatan jalanan, karena ruang publik yang terang dan ramai cenderung mempersempit peluang pelaku untuk beraksi.


Pengalaman serupa juga disampaikan para pengemudi ojek online di Bandar Lampung. Ketua Umum Gabungan Admin Shelter Driver Ojek Lampung (Gaspool), Miftahul Huda mengatakan, keberadaan lampu jalan yang berfungsi, jalan yang tidak rusak, serta aktivitas masyarakat di sekitar ruas jalan memberikan rasa aman yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengetahui bahwa patroli polisi sesekali melintas.

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Feris, warga Kecamatan Semampir yang setiap hari melintas di kawasan itu untuk bekerja. "Saya sebagai warga Surabaya Utara yang biasa lewat Jalan Kali Tebu sangat senang dengan perubahan jalan yang lebih bagus. Sekarang kalau lewat sini sudah tidak ada rasa takut karena penerangannya sudah banyak," ujarnya.


Feris bilang, keberadaan jalan yang lebih lebar, beraspal baik, memiliki dua lajur, serta didukung lampu penerangan yang memadai memberikan rasa aman bagi para pengendara, terutama saat melintas pada malam hari. Kondisi tersebut menjadi contoh bahwa penataan infrastruktur juga dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan kejahatan jalanan, karena ruang publik yang terang dan ramai cenderung mempersempit peluang pelaku untuk beraksi.


Pengalaman serupa juga disampaikan para pengemudi ojek online di Bandar Lampung. Ketua Umum Gabungan Admin Shelter Driver Ojek Lampung (Gaspool), Miftahul Huda mengatakan, keberadaan lampu jalan yang berfungsi, jalan yang tidak rusak, serta aktivitas masyarakat di sekitar ruas jalan memberikan rasa aman yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengetahui bahwa patroli polisi sesekali melintas.

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Feris, warga Kecamatan Semampir yang setiap hari melintas di kawasan itu untuk bekerja. "Saya sebagai warga Surabaya Utara yang biasa lewat Jalan Kali Tebu sangat senang dengan perubahan jalan yang lebih bagus. Sekarang kalau lewat sini sudah tidak ada rasa takut karena penerangannya sudah banyak," ujarnya.


Feris bilang, keberadaan jalan yang lebih lebar, beraspal baik, memiliki dua lajur, serta didukung lampu penerangan yang memadai memberikan rasa aman bagi para pengendara, terutama saat melintas pada malam hari. Kondisi tersebut menjadi contoh bahwa penataan infrastruktur juga dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan kejahatan jalanan, karena ruang publik yang terang dan ramai cenderung mempersempit peluang pelaku untuk beraksi.


Pengalaman serupa juga disampaikan para pengemudi ojek online di Bandar Lampung. Ketua Umum Gabungan Admin Shelter Driver Ojek Lampung (Gaspool), Miftahul Huda mengatakan, keberadaan lampu jalan yang berfungsi, jalan yang tidak rusak, serta aktivitas masyarakat di sekitar ruas jalan memberikan rasa aman yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengetahui bahwa patroli polisi sesekali melintas.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Petugas melakukan pemantauan CCTV di (Area Traffic Control System) Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Selain itu, ia mengapresiasi langkah Polda Lampung kini tengah menguji coba aplikasi Siger Presisi sebagai salah satu inovasi pengamanan bagi pengemudi. Meski demikian, ia menilai upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aparat kepolisian, melainkan juga peran dari pemerintah daerah.

"Pencegahan juga harus dilakukan pemerintah daerah, misalnya memastikan lampu jalan berfungsi. Jalan protokol saja masih banyak yang gelap," katanya.

Menurut Miftah, penerangan jalan memadai tidak hanya mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga dapat menekan potensi terjadinya aksi kriminalitas. "Harapannya pemerintah daerah dan kepolisian bisa bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya agar pengemudi transportasi online maupun masyarakat merasa lebih aman saat beraktivitas di jalan," imbuhnya.

Selain itu, ia mengapresiasi langkah Polda Lampung kini tengah menguji coba aplikasi Siger Presisi sebagai salah satu inovasi pengamanan bagi pengemudi. Meski demikian, ia menilai upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aparat kepolisian, melainkan juga peran dari pemerintah daerah.

"Pencegahan juga harus dilakukan pemerintah daerah, misalnya memastikan lampu jalan berfungsi. Jalan protokol saja masih banyak yang gelap," katanya.

Menurut Miftah, penerangan jalan memadai tidak hanya mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga dapat menekan potensi terjadinya aksi kriminalitas. "Harapannya pemerintah daerah dan kepolisian bisa bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya agar pengemudi transportasi online maupun masyarakat merasa lebih aman saat beraktivitas di jalan," imbuhnya.

Selain itu, ia mengapresiasi langkah Polda Lampung kini tengah menguji coba aplikasi Siger Presisi sebagai salah satu inovasi pengamanan bagi pengemudi. Meski demikian, ia menilai upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aparat kepolisian, melainkan juga peran dari pemerintah daerah.

"Pencegahan juga harus dilakukan pemerintah daerah, misalnya memastikan lampu jalan berfungsi. Jalan protokol saja masih banyak yang gelap," katanya.

Menurut Miftah, penerangan jalan memadai tidak hanya mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga dapat menekan potensi terjadinya aksi kriminalitas. "Harapannya pemerintah daerah dan kepolisian bisa bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya agar pengemudi transportasi online maupun masyarakat merasa lebih aman saat beraktivitas di jalan," imbuhnya.

CCTV di (Area Traffic Control System) Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Masalah penerangan hingga pengawasan lewat CCTV memang masih menjadi pekerjaan rumah besar. CCTV yang ada di tiap kota saat ini belum cukup meng-cover berbagai titik, sehingga masih banyak titik yang belum terawasi. Begitu juga dengan penerangan jalan.

Kota Medan misalnya, dari data teranyar dari Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungann Medan , CCTV (Closed Circuit Television) yang ada masih berjumlah 397 unit. Sejak tahun 2022, Medan sudah mencanangkan 20 ribu CCTV, namun realisasinya selama empat tahun baru terwujud 19 persen.

Hal ini membuat warga mulai melakukan gerakan swadaya. Seperti di Kecamatan Medan Deli, salah satu titik rawan kriminalitas, warga menyumbang 200 unit CCTV dalam program bertajuk Monitoring Aman Terpadu Medan Deli atau Mata Deli yang diresmikan 5 Juli 2026 lalu. Camat Medan Deli Aidiel Putra Pratama mengatakan, ini merupakan hasil gotong royong warga dengan kecamatan. Kamera nantinya dipasang di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan jarinan mili masyarakat yang operasionalnya dilakkan swadaya tanpa menggunakan anggaran pemerintah kota.Meskipun sebenarnya kebutuhan ideal CCTV di kecamatan tersebut mencapai 400 titik.

"Saat ini kita memiliki 105 pos keamanan lingkungan (poskamling). Kebutuhan ideal CCTV di Kecamatan Medan Deli mencapai sekitar 400 titik dan untuk itu kita akan tambah lagi agar masyarakat lebih aman, terutama malam hari," kata Aidiel.

Masalah penerangan hingga pengawasan lewat CCTV memang masih menjadi pekerjaan rumah besar. CCTV yang ada di tiap kota saat ini belum cukup meng-cover berbagai titik, sehingga masih banyak titik yang belum terawasi. Begitu juga dengan penerangan jalan.

Kota Medan misalnya, dari data teranyar dari Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungann Medan , CCTV (Closed Circuit Television) yang ada masih berjumlah 397 unit. Sejak tahun 2022, Medan sudah mencanangkan 20 ribu CCTV, namun realisasinya selama empat tahun baru terwujud 19 persen.

Hal ini membuat warga mulai melakukan gerakan swadaya. Seperti di Kecamatan Medan Deli, salah satu titik rawan kriminalitas, warga menyumbang 200 unit CCTV dalam program bertajuk Monitoring Aman Terpadu Medan Deli atau Mata Deli yang diresmikan 5 Juli 2026 lalu. Camat Medan Deli Aidiel Putra Pratama mengatakan, ini merupakan hasil gotong royong warga dengan kecamatan. Kamera nantinya dipasang di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan jarinan mili masyarakat yang operasionalnya dilakkan swadaya tanpa menggunakan anggaran pemerintah kota.Meskipun sebenarnya kebutuhan ideal CCTV di kecamatan tersebut mencapai 400 titik.

"Saat ini kita memiliki 105 pos keamanan lingkungan (poskamling). Kebutuhan ideal CCTV di Kecamatan Medan Deli mencapai sekitar 400 titik dan untuk itu kita akan tambah lagi agar masyarakat lebih aman, terutama malam hari," kata Aidiel.

Masalah penerangan hingga pengawasan lewat CCTV memang masih menjadi pekerjaan rumah besar. CCTV yang ada di tiap kota saat ini belum cukup meng-cover berbagai titik, sehingga masih banyak titik yang belum terawasi. Begitu juga dengan penerangan jalan.

Kota Medan misalnya, dari data teranyar dari Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungann Medan , CCTV (Closed Circuit Television) yang ada masih berjumlah 397 unit. Sejak tahun 2022, Medan sudah mencanangkan 20 ribu CCTV, namun realisasinya selama empat tahun baru terwujud 19 persen.

Hal ini membuat warga mulai melakukan gerakan swadaya. Seperti di Kecamatan Medan Deli, salah satu titik rawan kriminalitas, warga menyumbang 200 unit CCTV dalam program bertajuk Monitoring Aman Terpadu Medan Deli atau Mata Deli yang diresmikan 5 Juli 2026 lalu. Camat Medan Deli Aidiel Putra Pratama mengatakan, ini merupakan hasil gotong royong warga dengan kecamatan. Kamera nantinya dipasang di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan jarinan mili masyarakat yang operasionalnya dilakkan swadaya tanpa menggunakan anggaran pemerintah kota.Meskipun sebenarnya kebutuhan ideal CCTV di kecamatan tersebut mencapai 400 titik.

"Saat ini kita memiliki 105 pos keamanan lingkungan (poskamling). Kebutuhan ideal CCTV di Kecamatan Medan Deli mencapai sekitar 400 titik dan untuk itu kita akan tambah lagi agar masyarakat lebih aman, terutama malam hari," kata Aidiel.

Pemko Medan berharap program tersebut berharap inisiasi ini diikuti kecamatan-kecamatan lain. Pemko sendiri sudah menganggarkan sekitar 1.000-2.000 unit CCTV dalam P-APBD 2026. “Ini menjadi bagian dari upaya pengadaan 10 ribu CCTV bertahap. Kita lihat anggarannya,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Medan Arrahman Pane, 11 Juli 2026 lalu.

Begitu juga dengan penerangan jalan. Sejak era Bobby Nasution masih menjadi Wali Kota Medan tiga tahun silam mencanangkan butuh 124.038 titik lampu penerangan jalan umum (LPJU) di daerah ini. Sementara yang terpasang hingga tahun 2026 in masih sekitar 90 ribuan titik.

Dalam Rapat Paripurna DPRD Medan, Senin (22/6/2026), Wali Kota Medan Rico Waas mengatakan akan menganggarkan 1.000 LPJU tahun ini. “Untuk pemasangan LPJU baru, tahun 2026 ini Pemko Medan menganggarkan seribu titik LPJU baru yang akan dipasang di lokasi yang menyebar di seluruh wilayah Kota Medan, khususnya di wilayah yang belum terpasang LPJU selama ini,” ujar Rico Waas.

Pemko Medan berharap program tersebut berharap inisiasi ini diikuti kecamatan-kecamatan lain. Pemko sendiri sudah menganggarkan sekitar 1.000-2.000 unit CCTV dalam P-APBD 2026. “Ini menjadi bagian dari upaya pengadaan 10 ribu CCTV bertahap. Kita lihat anggarannya,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Medan Arrahman Pane, 11 Juli 2026 lalu.

Begitu juga dengan penerangan jalan. Sejak era Bobby Nasution masih menjadi Wali Kota Medan tiga tahun silam mencanangkan butuh 124.038 titik lampu penerangan jalan umum (LPJU) di daerah ini. Sementara yang terpasang hingga tahun 2026 in masih sekitar 90 ribuan titik.

Dalam Rapat Paripurna DPRD Medan, Senin (22/6/2026), Wali Kota Medan Rico Waas mengatakan akan menganggarkan 1.000 LPJU tahun ini. “Untuk pemasangan LPJU baru, tahun 2026 ini Pemko Medan menganggarkan seribu titik LPJU baru yang akan dipasang di lokasi yang menyebar di seluruh wilayah Kota Medan, khususnya di wilayah yang belum terpasang LPJU selama ini,” ujar Rico Waas.

Pemko Medan berharap program tersebut berharap inisiasi ini diikuti kecamatan-kecamatan lain. Pemko sendiri sudah menganggarkan sekitar 1.000-2.000 unit CCTV dalam P-APBD 2026. “Ini menjadi bagian dari upaya pengadaan 10 ribu CCTV bertahap. Kita lihat anggarannya,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Medan Arrahman Pane, 11 Juli 2026 lalu.

Begitu juga dengan penerangan jalan. Sejak era Bobby Nasution masih menjadi Wali Kota Medan tiga tahun silam mencanangkan butuh 124.038 titik lampu penerangan jalan umum (LPJU) di daerah ini. Sementara yang terpasang hingga tahun 2026 in masih sekitar 90 ribuan titik.

Dalam Rapat Paripurna DPRD Medan, Senin (22/6/2026), Wali Kota Medan Rico Waas mengatakan akan menganggarkan 1.000 LPJU tahun ini. “Untuk pemasangan LPJU baru, tahun 2026 ini Pemko Medan menganggarkan seribu titik LPJU baru yang akan dipasang di lokasi yang menyebar di seluruh wilayah Kota Medan, khususnya di wilayah yang belum terpasang LPJU selama ini,” ujar Rico Waas.

Kondisi di kota-kota lain juga tak berbeda jauh. Kota Bandung masih memiliki 36 ribu ttik PJU dan 14 ribu titik Penerangan Jalan Lingkungan. Ditargetka tahun ini lewat usulan reses dan Musrenbang, Pemkot Bandung membangun 798 tiang PJU dan 3.840 PJL.

Penambahan lampu jalan dan penguatan patroli memiliki tujuan yang sama, yakni mengembalikan fungsi ruang publik sebagai tempat yang aman bagi setiap orang. Infrastruktur memang tidak serta-merta menghapus kejahatan, tetapi keberadaan penerangan dan aparat di lapangan diharapkan dapat mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal sekaligus memulihkan rasa percaya masyarakat untuk kembali beraktivitas pada malam hari.

Rasa aman bukan hanya soal rendahnya angka kriminalitas, namun juga keyakinan setiap warga dapat menggunakan ruang publik tanpa terus-menerus dihantui kemungkinan menjadi korban. Ketika rasa aman hilang, yang ikut hilang bukan hanya kenyamanan, melainkan juga kebebasan warga untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam konteks itulah, kemerdekaan memperoleh makna yang lebih luas. Bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari rasa takut di jalanan.

Kondisi di kota-kota lain juga tak berbeda jauh. Kota Bandung masih memiliki 36 ribu ttik PJU dan 14 ribu titik Penerangan Jalan Lingkungan. Ditargetka tahun ini lewat usulan reses dan Musrenbang, Pemkot Bandung membangun 798 tiang PJU dan 3.840 PJL.

Penambahan lampu jalan dan penguatan patroli memiliki tujuan yang sama, yakni mengembalikan fungsi ruang publik sebagai tempat yang aman bagi setiap orang. Infrastruktur memang tidak serta-merta menghapus kejahatan, tetapi keberadaan penerangan dan aparat di lapangan diharapkan dapat mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal sekaligus memulihkan rasa percaya masyarakat untuk kembali beraktivitas pada malam hari.

Rasa aman bukan hanya soal rendahnya angka kriminalitas, namun juga keyakinan setiap warga dapat menggunakan ruang publik tanpa terus-menerus dihantui kemungkinan menjadi korban. Ketika rasa aman hilang, yang ikut hilang bukan hanya kenyamanan, melainkan juga kebebasan warga untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam konteks itulah, kemerdekaan memperoleh makna yang lebih luas. Bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari rasa takut di jalanan.

Kondisi di kota-kota lain juga tak berbeda jauh. Kota Bandung masih memiliki 36 ribu ttik PJU dan 14 ribu titik Penerangan Jalan Lingkungan. Ditargetka tahun ini lewat usulan reses dan Musrenbang, Pemkot Bandung membangun 798 tiang PJU dan 3.840 PJL.

Penambahan lampu jalan dan penguatan patroli memiliki tujuan yang sama, yakni mengembalikan fungsi ruang publik sebagai tempat yang aman bagi setiap orang. Infrastruktur memang tidak serta-merta menghapus kejahatan, tetapi keberadaan penerangan dan aparat di lapangan diharapkan dapat mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal sekaligus memulihkan rasa percaya masyarakat untuk kembali beraktivitas pada malam hari.

Rasa aman bukan hanya soal rendahnya angka kriminalitas, namun juga keyakinan setiap warga dapat menggunakan ruang publik tanpa terus-menerus dihantui kemungkinan menjadi korban. Ketika rasa aman hilang, yang ikut hilang bukan hanya kenyamanan, melainkan juga kebebasan warga untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam konteks itulah, kemerdekaan memperoleh makna yang lebih luas. Bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari rasa takut di jalanan.

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Disusun oleh

Tim Editorial

Doni Hermawan - Project Lead

Yogie Fadila - Editor

Reporter

Indah Permata Sari

Prayugo Utomo

Ardiansyah Fajar

Azzis Zulkhairi

Darsil Yahya Mustari

Tama Wiguna

Rangga Erfizal

Infografis

Mardya Shakti

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com