Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban

Eksodus Sunyi Generasi Muda: Peluang Kerja Minim, Migrasi Jadi Pilihan

Eksodus Sunyi Generasi Muda: Peluang Kerja Minim, Migrasi Jadi Pilihan

Eksodus Sunyi Generasi Muda: Peluang Kerja Minim, Migrasi Jadi Pilihan

Ratusan pencari kerja memadati kegiatan Job Fair yang berlangsung di Kabupaten Majalengka. (IDN Times/Inin Nastain)

"Kalau gaji di Indonesia naik pun, saya tetap ingin bekerja di luar negeri. Karena di luar negeri, gaji dan pekerjaannya sepadan," kata Mutmainah, siswi kelas XII jurusan Manajemen Perkantoran di SMK Wachid Hasyim Surabaya.
"Kalau gaji di Indonesia naik pun, saya tetap ingin bekerja di luar negeri. Karena di luar negeri, gaji dan pekerjaannya sepadan," kata Mutmainah, siswi kelas XII jurusan Manajemen Perkantoran di SMK Wachid Hasyim Surabaya.

Di bawah langit Texas yang luas dan asing, Zaskia Nurlaila Citra Dewi atau yang akrab disapa Saski, sedang sibuk merapikan meja di sebuah restoran kelas menengah. Angin Februari yang dingin menyapu kaca jendela, kontras dengan udara tropis Ketintang, Surabaya, yang ia tinggalkan tiga tahun lalu.


Berbekal ijazah Sarjana Manajemen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Saski memilih untuk tidak mengantre di bursa kerja lokal yang kian jenuh, melainkan melintasi batas samudera untuk menjemput apa yang ia sebut sebagai "kehidupan yang mendekati sempurna."

Di bawah langit Texas yang luas dan asing, Zaskia Nurlaila Citra Dewi atau yang akrab disapa Saski, sedang sibuk merapikan meja di sebuah restoran kelas menengah. Angin Februari yang dingin menyapu kaca jendela, kontras dengan udara tropis Ketintang, Surabaya, yang ia tinggalkan tiga tahun lalu.


Berbekal ijazah Sarjana Manajemen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Saski memilih untuk tidak mengantre di bursa kerja lokal yang kian jenuh, melainkan melintasi batas samudera untuk menjemput apa yang ia sebut sebagai "kehidupan yang mendekati sempurna."

Di bawah langit Texas yang luas dan asing, Zaskia Nurlaila Citra Dewi atau yang akrab disapa Saski, sedang sibuk merapikan meja di sebuah restoran kelas menengah. Angin Februari yang dingin menyapu kaca jendela, kontras dengan udara tropis Ketintang, Surabaya, yang ia tinggalkan tiga tahun lalu.


Berbekal ijazah Sarjana Manajemen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Saski memilih untuk tidak mengantre di bursa kerja lokal yang kian jenuh, melainkan melintasi batas samudera untuk menjemput apa yang ia sebut sebagai "kehidupan yang mendekati sempurna."

Kini, di usianya yang ke-26, Saski bukan lagi sekadar mahasiswa yang bekerja paruh waktu demi uang saku tambahan. Sebagai assistant manager sekaligus server, ia memikul jam kerja panjang dari pukul 10.30 pagi hingga jelang tengah malam. Namun, rasa lelah itu terbayar lunas setiap kali slip gaji singgah di tangannya; angka 3.400 dolar AS, setara dengan Rp53 juta, bukan sekadar deretan nol, melainkan bukti nyata bahwa keringatnya dihargai berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan jika ia tetap bertahan di tanah kelahirannya.

Keputusan Saski untuk "kabur" bukan sekadar impuls anak muda yang haus petualangan, melainkan hasil kalkulasi rasional yang pahit. Empat bulan kursus bahasa Inggris intensif adalah modal mentalnya untuk menghadapi kenyataan bahwa berbicara dengan native speaker di tengah tekanan pekerjaan jauh lebih sulit daripada teori di ruang kelas.

Di Texas, ia belajar arti profesionalisme yang individualistik, sebuah kontras tajam dengan budaya komunal Indonesia yang hangat namun sering kali tidak menawarkan kepastian ekonomi yang setara dengan dedikasi pekerjanya.

Kini, di usianya yang ke-26, Saski bukan lagi sekadar mahasiswa yang bekerja paruh waktu demi uang saku tambahan. Sebagai assistant manager sekaligus server, ia memikul jam kerja panjang dari pukul 10.30 pagi hingga jelang tengah malam. Namun, rasa lelah itu terbayar lunas setiap kali slip gaji singgah di tangannya; angka 3.400 dolar AS, setara dengan Rp53 juta, bukan sekadar deretan nol, melainkan bukti nyata bahwa keringatnya dihargai berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan jika ia tetap bertahan di tanah kelahirannya.

Keputusan Saski untuk "kabur" bukan sekadar impuls anak muda yang haus petualangan, melainkan hasil kalkulasi rasional yang pahit. Empat bulan kursus bahasa Inggris intensif adalah modal mentalnya untuk menghadapi kenyataan bahwa berbicara dengan native speaker di tengah tekanan pekerjaan jauh lebih sulit daripada teori di ruang kelas.

Di Texas, ia belajar arti profesionalisme yang individualistik, sebuah kontras tajam dengan budaya komunal Indonesia yang hangat namun sering kali tidak menawarkan kepastian ekonomi yang setara dengan dedikasi pekerjanya.

Kini, di usianya yang ke-26, Saski bukan lagi sekadar mahasiswa yang bekerja paruh waktu demi uang saku tambahan. Sebagai assistant manager sekaligus server, ia memikul jam kerja panjang dari pukul 10.30 pagi hingga jelang tengah malam. Namun, rasa lelah itu terbayar lunas setiap kali slip gaji singgah di tangannya; angka 3.400 dolar AS, setara dengan Rp53 juta, bukan sekadar deretan nol, melainkan bukti nyata bahwa keringatnya dihargai berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan jika ia tetap bertahan di tanah kelahirannya.

Keputusan Saski untuk "kabur" bukan sekadar impuls anak muda yang haus petualangan, melainkan hasil kalkulasi rasional yang pahit. Empat bulan kursus bahasa Inggris intensif adalah modal mentalnya untuk menghadapi kenyataan bahwa berbicara dengan native speaker di tengah tekanan pekerjaan jauh lebih sulit daripada teori di ruang kelas.

Di Texas, ia belajar arti profesionalisme yang individualistik, sebuah kontras tajam dengan budaya komunal Indonesia yang hangat namun sering kali tidak menawarkan kepastian ekonomi yang setara dengan dedikasi pekerjanya.

Kisah Saski hanyalah satu titik kecil di tengah gelombang besar yang kini menghantam struktur sosial-ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI), sepanjang tahun 2025 saja, terdapat lebih dari 286.000 jiwa yang memilih jalan serupa.

Fenomena "Eksodus Sunyi" ini kini didominasi oleh generasi muda produktif yang mulai kehilangan kepercayaan pada pasar kerja domestik, di mana angka pengangguran usia muda masih bertengger di angka yang mencemaskan, yakni 16,16 persen.

Dari ruang-ruang kelas SMK di pelosok Jawa hingga lorong-lorong kampus bergengsi seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa), diskusi mengenai migrasi tenaga kerja tidak lagi dianggap sebagai pelarian, melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal. Ketika ijazah sarjana kian terdevaluasi oleh upah yang stagnan dan biaya hidup yang meroket, luar negeri hadir sebagai mercusuar harapan.

Kisah Saski hanyalah satu titik kecil di tengah gelombang besar yang kini menghantam struktur sosial-ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI), sepanjang tahun 2025 saja, terdapat lebih dari 286.000 jiwa yang memilih jalan serupa.

Fenomena "Eksodus Sunyi" ini kini didominasi oleh generasi muda produktif yang mulai kehilangan kepercayaan pada pasar kerja domestik, di mana angka pengangguran usia muda masih bertengger di angka yang mencemaskan, yakni 16,16 persen.

Dari ruang-ruang kelas SMK di pelosok Jawa hingga lorong-lorong kampus bergengsi seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa), diskusi mengenai migrasi tenaga kerja tidak lagi dianggap sebagai pelarian, melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal. Ketika ijazah sarjana kian terdevaluasi oleh upah yang stagnan dan biaya hidup yang meroket, luar negeri hadir sebagai mercusuar harapan.

Kisah Saski hanyalah satu titik kecil di tengah gelombang besar yang kini menghantam struktur sosial-ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI), sepanjang tahun 2025 saja, terdapat lebih dari 286.000 jiwa yang memilih jalan serupa.

Fenomena "Eksodus Sunyi" ini kini didominasi oleh generasi muda produktif yang mulai kehilangan kepercayaan pada pasar kerja domestik, di mana angka pengangguran usia muda masih bertengger di angka yang mencemaskan, yakni 16,16 persen.

Dari ruang-ruang kelas SMK di pelosok Jawa hingga lorong-lorong kampus bergengsi seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa), diskusi mengenai migrasi tenaga kerja tidak lagi dianggap sebagai pelarian, melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal. Ketika ijazah sarjana kian terdevaluasi oleh upah yang stagnan dan biaya hidup yang meroket, luar negeri hadir sebagai mercusuar harapan.

Gambar infografis menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan hanya digunakan secara terbatas pada ranah coding dan visualisasi interaktif. Sumber data yang ditampilkan ini diambil dari situs BP2MI 2021-2025 dengan menunjukan tren pemulihan pasca-pandemi sangat tajam pada 2022-2023, kemudian stabil di angka 280-an ribu pada 2024-2025. Keseluruhan data ini merupakan hasil riset tim yang dapat dipertanggungjawabkan. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Inilah potret sebuah generasi yang rela mengemas mimpinya dalam koper, meninggalkan zona nyaman, demi membuktikan bahwa nasionalisme tidak bisa dibangun di atas perut yang lapar dan masa depan yang samar.

Liputan ini akan membawa kita untuk menelusuri labirin di balik keputusan besar tersebut. Mulai dari perhitungan daya beli (Purchasing Power Parity) yang timpang antara Jakarta dan Berlin, hingga suara-suara lirih para orang tua di kantong-kantong PMI yang harus mengikhlaskan anak-anaknya menjadi "Yatim Migran."

Di balik gemerlap remitansi triliunan rupiah, tersimpan keresahan struktural tentang brain drain yang mengancam visi Indonesia Emas, memaksa negara untuk berkaca: mengapa anak-anak terbaiknya justru merasa lebih dihargai di tanah orang?

Inilah potret sebuah generasi yang rela mengemas mimpinya dalam koper, meninggalkan zona nyaman, demi membuktikan bahwa nasionalisme tidak bisa dibangun di atas perut yang lapar dan masa depan yang samar.

Liputan ini akan membawa kita untuk menelusuri labirin di balik keputusan besar tersebut. Mulai dari perhitungan daya beli (Purchasing Power Parity) yang timpang antara Jakarta dan Berlin, hingga suara-suara lirih para orang tua di kantong-kantong PMI yang harus mengikhlaskan anak-anaknya menjadi "Yatim Migran."

Di balik gemerlap remitansi triliunan rupiah, tersimpan keresahan struktural tentang brain drain yang mengancam visi Indonesia Emas, memaksa negara untuk berkaca: mengapa anak-anak terbaiknya justru merasa lebih dihargai di tanah orang?

Inilah potret sebuah generasi yang rela mengemas mimpinya dalam koper, meninggalkan zona nyaman, demi membuktikan bahwa nasionalisme tidak bisa dibangun di atas perut yang lapar dan masa depan yang samar.

Liputan ini akan membawa kita untuk menelusuri labirin di balik keputusan besar tersebut. Mulai dari perhitungan daya beli (Purchasing Power Parity) yang timpang antara Jakarta dan Berlin, hingga suara-suara lirih para orang tua di kantong-kantong PMI yang harus mengikhlaskan anak-anaknya menjadi "Yatim Migran."

Di balik gemerlap remitansi triliunan rupiah, tersimpan keresahan struktural tentang brain drain yang mengancam visi Indonesia Emas, memaksa negara untuk berkaca: mengapa anak-anak terbaiknya justru merasa lebih dihargai di tanah orang?

Terminal Keberangkatan dan Peta Mimpi yang Bergeser

Terminal Keberangkatan dan Peta Mimpi yang Bergeser

Terminal Keberangkatan dan Peta Mimpi yang Bergeser




PMI, Saski saat berada di halaman depan lokasi kerjanya di Texas, Amerika. (Dok.IDN Times)

Surabaya, 21 Februari 2026. Di belahan bumi bagian barat, seorang perempuan muda dari timur membuka lembaran baru. Menatap masa depan yang ia harap lebih cerah. Untuk bisa melanjutkan hidup yang mendekati kata sempurna, ia rela meninggalkan Indonesia, bekerja dan menetap di Texas, Amerika Serikat.

Berbekal ijazah sarjana manajemen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Zaskia Nurlaila Citra Dewi, akrab disapa Saski, menikmati petualangannya di negeri Paman Sam sejak 2023. Perempuan berusia 26 tahun ini kini menjabat sebagai assistant manager sekaligus server di bidang Food and Beverage (F&B), bidang yang sebenarnya sudah ia tekuni sejak masih menjadi mahasiswi di Ketintang, Surabaya.

Dulu, saat kuliah, ia bekerja paruh waktu di gerai makanan dekat kampus demi menambah uang saku. Kini, ia berdiri di sebuah restoran di Texas dengan outfit kerja yang fleksibel, menyambut pelanggan dari berbagai latar belakang dunia. Jam kerjanya panjang, mulai pukul 10.30 pagi hingga 9.30 malam. Namun, hasil keringatnya tidak mengkhianati tenaga yang terkuras: penghasilannya berkisar 3.000 hingga 3.400 dolar AS per bulan.

Surabaya, 21 Februari 2026. Di belahan bumi bagian barat, seorang perempuan muda dari timur membuka lembaran baru. Menatap masa depan yang ia harap lebih cerah. Untuk bisa melanjutkan hidup yang mendekati kata sempurna, ia rela meninggalkan Indonesia, bekerja dan menetap di Texas, Amerika Serikat.

Berbekal ijazah sarjana manajemen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Zaskia Nurlaila Citra Dewi, akrab disapa Saski, menikmati petualangannya di negeri Paman Sam sejak 2023. Perempuan berusia 26 tahun ini kini menjabat sebagai assistant manager sekaligus server di bidang Food and Beverage (F&B), bidang yang sebenarnya sudah ia tekuni sejak masih menjadi mahasiswi di Ketintang, Surabaya.

Dulu, saat kuliah, ia bekerja paruh waktu di gerai makanan dekat kampus demi menambah uang saku. Kini, ia berdiri di sebuah restoran di Texas dengan outfit kerja yang fleksibel, menyambut pelanggan dari berbagai latar belakang dunia. Jam kerjanya panjang, mulai pukul 10.30 pagi hingga 9.30 malam. Namun, hasil keringatnya tidak mengkhianati tenaga yang terkuras: penghasilannya berkisar 3.000 hingga 3.400 dolar AS per bulan.

Surabaya, 21 Februari 2026. Di belahan bumi bagian barat, seorang perempuan muda dari timur membuka lembaran baru. Menatap masa depan yang ia harap lebih cerah. Untuk bisa melanjutkan hidup yang mendekati kata sempurna, ia rela meninggalkan Indonesia, bekerja dan menetap di Texas, Amerika Serikat.

Berbekal ijazah sarjana manajemen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Zaskia Nurlaila Citra Dewi, akrab disapa Saski, menikmati petualangannya di negeri Paman Sam sejak 2023. Perempuan berusia 26 tahun ini kini menjabat sebagai assistant manager sekaligus server di bidang Food and Beverage (F&B), bidang yang sebenarnya sudah ia tekuni sejak masih menjadi mahasiswi di Ketintang, Surabaya.

Dulu, saat kuliah, ia bekerja paruh waktu di gerai makanan dekat kampus demi menambah uang saku. Kini, ia berdiri di sebuah restoran di Texas dengan outfit kerja yang fleksibel, menyambut pelanggan dari berbagai latar belakang dunia. Jam kerjanya panjang, mulai pukul 10.30 pagi hingga 9.30 malam. Namun, hasil keringatnya tidak mengkhianati tenaga yang terkuras: penghasilannya berkisar 3.000 hingga 3.400 dolar AS per bulan.

Angka yang jika dikonversi ke rupiah (kurs Rp15.700), menembus Rp47 juta hingga Rp53 juta per bulan, sebuah nominal yang mustahil didapatkan oleh lulusan baru (fresh graduate) manajemen di Indonesia tanpa "jalur langit" atau posisi direksi.

"Berbicara langsung dengan native speaker itu tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun sudah kursus, tetap berbeda ketika harus berkomunikasi cepat di tempat kerja," ujarnya kepada IDN Times.

Angka yang jika dikonversi ke rupiah (kurs Rp15.700), menembus Rp47 juta hingga Rp53 juta per bulan, sebuah nominal yang mustahil didapatkan oleh lulusan baru (fresh graduate) manajemen di Indonesia tanpa "jalur langit" atau posisi direksi.

"Berbicara langsung dengan native speaker itu tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun sudah kursus, tetap berbeda ketika harus berkomunikasi cepat di tempat kerja," ujarnya kepada IDN Times.

Angka yang jika dikonversi ke rupiah (kurs Rp15.700), menembus Rp47 juta hingga Rp53 juta per bulan, sebuah nominal yang mustahil didapatkan oleh lulusan baru (fresh graduate) manajemen di Indonesia tanpa "jalur langit" atau posisi direksi.

"Berbicara langsung dengan native speaker itu tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun sudah kursus, tetap berbeda ketika harus berkomunikasi cepat di tempat kerja," ujarnya kepada IDN Times.

Saski menepis stigma bahwa bekerja di luar negeri identik dengan eksploitasi. "Kalau lewat jalur resmi dan punya kemampuan, peluang berkembang tetap ada. Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it," ucapnya, seolah merapal mantra penguat diri di tengah dinginnya Texas.

Cerita Saski adalah puncak gunung es dari sebuah fenomena kolosal. Ia bukan kisah tunggal, melainkan bagian dari "Eksodus Sunyi" generasi muda Indonesia yang kini memandang paspor bukan lagi sebagai dokumen perjalanan, melainkan tiket keluar dari jerat ekonomi domestik yang kian mencekik.

Saski menepis stigma bahwa bekerja di luar negeri identik dengan eksploitasi. "Kalau lewat jalur resmi dan punya kemampuan, peluang berkembang tetap ada. Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it," ucapnya, seolah merapal mantra penguat diri di tengah dinginnya Texas.

Cerita Saski adalah puncak gunung es dari sebuah fenomena kolosal. Ia bukan kisah tunggal, melainkan bagian dari "Eksodus Sunyi" generasi muda Indonesia yang kini memandang paspor bukan lagi sebagai dokumen perjalanan, melainkan tiket keluar dari jerat ekonomi domestik yang kian mencekik.

Saski menepis stigma bahwa bekerja di luar negeri identik dengan eksploitasi. "Kalau lewat jalur resmi dan punya kemampuan, peluang berkembang tetap ada. Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it," ucapnya, seolah merapal mantra penguat diri di tengah dinginnya Texas.

Cerita Saski adalah puncak gunung es dari sebuah fenomena kolosal. Ia bukan kisah tunggal, melainkan bagian dari "Eksodus Sunyi" generasi muda Indonesia yang kini memandang paspor bukan lagi sebagai dokumen perjalanan, melainkan tiket keluar dari jerat ekonomi domestik yang kian mencekik.

Membedah angka di balik migrasi

Membedah angka di balik migrasi

Membedah angka di balik migrasi

(IDN Times/Mardya Shakti)

(IDN Times/Mardya Shakti)

Eksodus ini bukan sekadar perasaan kolektif atau tren media sosial. Data resmi menunjukkan bahwa gelombang kepergian ini konsisten dan terstruktur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI), total Pekerja Migran Indonesia (PMI) sepanjang 2025 mencapai 286.422 orang. Bahkan, hanya dalam periode Januari-Juli 2025, jumlahnya sudah menyentuh 157.865 orang.

Eksodus ini bukan sekadar perasaan kolektif atau tren media sosial. Data resmi menunjukkan bahwa gelombang kepergian ini konsisten dan terstruktur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI), total Pekerja Migran Indonesia (PMI) sepanjang 2025 mencapai 286.422 orang. Bahkan, hanya dalam periode Januari-Juli 2025, jumlahnya sudah menyentuh 157.865 orang.

Eksodus ini bukan sekadar perasaan kolektif atau tren media sosial. Data resmi menunjukkan bahwa gelombang kepergian ini konsisten dan terstruktur.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI), total Pekerja Migran Indonesia (PMI) sepanjang 2025 mencapai 286.422 orang. Bahkan, hanya dalam periode Januari-Juli 2025, jumlahnya sudah menyentuh 157.865 orang.

Sebagian besar dari mereka berada pada usia produktif. Provinsi penyumbang terbesar tetap berada di Pulau Jawa: Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah menyumbang total 104.316 pekerja.

Survei terhadap Generasi Z bahkan lebih menghentak: 74 persen anak muda tertarik bekerja di luar negeri. Motivasi utamanya adalah penghasilan lebih tinggi (82 persen), pengembangan karier (62 persen), dan pengalaman internasional (54 persen).

Mengapa mereka begitu berambisi? Jawabannya ada pada ketimpangan daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP).

Sebagian besar dari mereka berada pada usia produktif. Provinsi penyumbang terbesar tetap berada di Pulau Jawa: Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah menyumbang total 104.316 pekerja.

Survei terhadap Generasi Z bahkan lebih menghentak: 74 persen anak muda tertarik bekerja di luar negeri. Motivasi utamanya adalah penghasilan lebih tinggi (82 persen), pengembangan karier (62 persen), dan pengalaman internasional (54 persen).

Mengapa mereka begitu berambisi? Jawabannya ada pada ketimpangan daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP).

Sebagian besar dari mereka berada pada usia produktif. Provinsi penyumbang terbesar tetap berada di Pulau Jawa: Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah menyumbang total 104.316 pekerja.

Survei terhadap Generasi Z bahkan lebih menghentak: 74 persen anak muda tertarik bekerja di luar negeri. Motivasi utamanya adalah penghasilan lebih tinggi (82 persen), pengembangan karier (62 persen), dan pengalaman internasional (54 persen).

Mengapa mereka begitu berambisi? Jawabannya ada pada ketimpangan daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP).

Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan olahraga

Gambar infografis menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan hanya digunakan secara terbatas pada ranah coding dan visualisasi interaktif. Sumber data perbandingan pendapatan PMI diambil dari laporan tahunan BP2MI, BPS, dan proyeksi tren ekonomi hingga tahun 2025/2026.Keseluruhan data ini merupakan hasil riset tim yang dapat dipertanggungjawabkan. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Secara nominal, biaya hidup di Jerman memang 4-5 kali lipat lebih mahal, namun sisa pendapatan yang bisa ditabung (disposable income) di luar negeri jauh lebih besar daripada total gaji sebulan di Jakarta. Rasionalitas ekonomi inilah yang menggerakkan kaki-kaki muda Indonesia melintasi benua.

Secara nominal, biaya hidup di Jerman memang 4-5 kali lipat lebih mahal, namun sisa pendapatan yang bisa ditabung (disposable income) di luar negeri jauh lebih besar daripada total gaji sebulan di Jakarta. Rasionalitas ekonomi inilah yang menggerakkan kaki-kaki muda Indonesia melintasi benua.

Secara nominal, biaya hidup di Jerman memang 4-5 kali lipat lebih mahal, namun sisa pendapatan yang bisa ditabung (disposable income) di luar negeri jauh lebih besar daripada total gaji sebulan di Jakarta. Rasionalitas ekonomi inilah yang menggerakkan kaki-kaki muda Indonesia melintasi benua.

Suara dari ruang kelas dan kampus – Menolak takdir domestik

Suara dari ruang kelas dan kampus – Menolak takdir domestik

Suara dari ruang kelas dan kampus – Menolak takdir domestik




Calon PMI saat mengikuti pembelajaran/pelatihan Bahasa Jepang di LPK Kizuna. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

"Negara impian saya Korea Selatan karena gajinya lumayan tinggi," Mutmainah, siswi kelas XII Manajemen Perkantoran SMK Wachid Hasyim Surabaya
"Negara impian saya Korea Selatan karena gajinya lumayan tinggi," Mutmainah, siswi kelas XII Manajemen Perkantoran SMK Wachid Hasyim Surabaya

Fenomena ini telah merambah hingga ke ruang-ruang kelas SMK. Mutmainah, siswi kelas XII Manajemen Perkantoran SMK Wachid Hasyim Surabaya, telah membulatkan tekad sejak kelas XI. Ia terinspirasi dari konten kreator di media sosial yang bekerja di Korea Selatan.

"Negara impian saya Korea Selatan karena gajinya lumayan tinggi," ungkapnya polos.

Baginya, ijazah SMK di Indonesia hanya akan membawanya pada pekerjaan dengan upah minimum yang seringkali tidak sebanding dengan beban kerja.

"Kalau gaji Indonesia naik pun, saya tetap ingin bekerja di luar negeri. Karena di luar negeri gaji dan pekerjaan sepadan," ucapnya mantap.

Fenomena ini telah merambah hingga ke ruang-ruang kelas SMK. Mutmainah, siswi kelas XII Manajemen Perkantoran SMK Wachid Hasyim Surabaya, telah membulatkan tekad sejak kelas XI. Ia terinspirasi dari konten kreator di media sosial yang bekerja di Korea Selatan.

"Negara impian saya Korea Selatan karena gajinya lumayan tinggi," ungkapnya polos.

Baginya, ijazah SMK di Indonesia hanya akan membawanya pada pekerjaan dengan upah minimum yang seringkali tidak sebanding dengan beban kerja.

"Kalau gaji Indonesia naik pun, saya tetap ingin bekerja di luar negeri. Karena di luar negeri gaji dan pekerjaan sepadan," ucapnya mantap.

Fenomena ini telah merambah hingga ke ruang-ruang kelas SMK. Mutmainah, siswi kelas XII Manajemen Perkantoran SMK Wachid Hasyim Surabaya, telah membulatkan tekad sejak kelas XI. Ia terinspirasi dari konten kreator di media sosial yang bekerja di Korea Selatan.

"Negara impian saya Korea Selatan karena gajinya lumayan tinggi," ungkapnya polos.

Baginya, ijazah SMK di Indonesia hanya akan membawanya pada pekerjaan dengan upah minimum yang seringkali tidak sebanding dengan beban kerja.

"Kalau gaji Indonesia naik pun, saya tetap ingin bekerja di luar negeri. Karena di luar negeri gaji dan pekerjaan sepadan," ucapnya mantap.

Eka Kadalora, konten kreator asal Bali

(IDN Times/Mardya Shakti)

(IDN Times/Mardya Shakti)

Ketidakpastian masa depan juga dirasakan di level perguruan tinggi. Presiden BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2025, Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, melihat fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan.

"Banyak teman melanjutkan hidup di luar negeri karena merasa masa depan di Indonesia tidak menjanjikan. Bukan karena tidak cinta tanah air, tapi sadar bertahan di sini tidak mudah," kata Jinan yang telah dua kali melakukan riset di Taiwan.

Jinan menyoroti data pahit: pengangguran muda mencapai 16,16 persen, jauh di atas rata-rata nasional 4,76 persen. Sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi yang paling seksi untuk pasar global. Negara maju berlomba mengembangkan teknologi, sementara di dalam negeri, apresiasi terhadap tenaga ahli seringkali masih di bawah standar global.

Ketidakpastian masa depan juga dirasakan di level perguruan tinggi. Presiden BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2025, Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, melihat fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan.

"Banyak teman melanjutkan hidup di luar negeri karena merasa masa depan di Indonesia tidak menjanjikan. Bukan karena tidak cinta tanah air, tapi sadar bertahan di sini tidak mudah," kata Jinan yang telah dua kali melakukan riset di Taiwan.

Jinan menyoroti data pahit: pengangguran muda mencapai 16,16 persen, jauh di atas rata-rata nasional 4,76 persen. Sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi yang paling seksi untuk pasar global. Negara maju berlomba mengembangkan teknologi, sementara di dalam negeri, apresiasi terhadap tenaga ahli seringkali masih di bawah standar global.

Ketidakpastian masa depan juga dirasakan di level perguruan tinggi. Presiden BEM Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2025, Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, melihat fenomena ini bukan sekadar ikut-ikutan.

"Banyak teman melanjutkan hidup di luar negeri karena merasa masa depan di Indonesia tidak menjanjikan. Bukan karena tidak cinta tanah air, tapi sadar bertahan di sini tidak mudah," kata Jinan yang telah dua kali melakukan riset di Taiwan.

Jinan menyoroti data pahit: pengangguran muda mencapai 16,16 persen, jauh di atas rata-rata nasional 4,76 persen. Sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi yang paling seksi untuk pasar global. Negara maju berlomba mengembangkan teknologi, sementara di dalam negeri, apresiasi terhadap tenaga ahli seringkali masih di bawah standar global.

Antara harapan, risiko, dan realita

Antara harapan, risiko, dan realita

Antara harapan, risiko, dan realita

Eka Kadalora, konten kreator asal Bali

(IDN Times/Mardya Shakti)

(IDN Times/Mardya Shakti)

"Anak saya melihat itu, dia tidak mau lagi ke Jakarta. Katanya capek di Jakarta cuma habis buat bayar kos,"
"Anak saya melihat itu, dia tidak mau lagi ke Jakarta. Katanya capek di Jakarta cuma habis buat bayar kos,"

Keberangkatan anak muda ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada sistem pendukung, namun ada juga duka yang tersimpan.

Suara Orangtua: Antara Gengsi dan Kerinduan

Di desa-desa kantong PMI, cerita sukses tetangga menjadi bensin bagi ambisi pemuda. Sutrisno, seorang ayah dari Cilacap, menceritakan bagaimana tetangganya bisa membangun rumah megah dari hasil bekerja di Korea.

"Anak saya melihat itu, dia tidak mau lagi ke Jakarta. Katanya capek di Jakarta cuma habis buat bayar kos," ujarnya.

Keberangkatan anak muda ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada sistem pendukung, namun ada juga duka yang tersimpan.

Suara Orangtua: Antara Gengsi dan Kerinduan

Di desa-desa kantong PMI, cerita sukses tetangga menjadi bensin bagi ambisi pemuda. Sutrisno, seorang ayah dari Cilacap, menceritakan bagaimana tetangganya bisa membangun rumah megah dari hasil bekerja di Korea.

"Anak saya melihat itu, dia tidak mau lagi ke Jakarta. Katanya capek di Jakarta cuma habis buat bayar kos," ujarnya.

Keberangkatan anak muda ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada sistem pendukung, namun ada juga duka yang tersimpan.

Suara Orangtua: Antara Gengsi dan Kerinduan

Di desa-desa kantong PMI, cerita sukses tetangga menjadi bensin bagi ambisi pemuda. Sutrisno, seorang ayah dari Cilacap, menceritakan bagaimana tetangganya bisa membangun rumah megah dari hasil bekerja di Korea.

"Anak saya melihat itu, dia tidak mau lagi ke Jakarta. Katanya capek di Jakarta cuma habis buat bayar kos," ujarnya.

Namun, Mariam, ibu dari seorang PMI di Jawa Timur, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

"Uangnya memang banyak dikirim, tapi rumah sepi. Anak saya kehilangan momen melihat adiknya tumbuh dewasa."

Namun, Mariam, ibu dari seorang PMI di Jawa Timur, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

"Uangnya memang banyak dikirim, tapi rumah sepi. Anak saya kehilangan momen melihat adiknya tumbuh dewasa."

Namun, Mariam, ibu dari seorang PMI di Jawa Timur, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

"Uangnya memang banyak dikirim, tapi rumah sepi. Anak saya kehilangan momen melihat adiknya tumbuh dewasa."

Suara Mantan PMI: Jangan Hanya Tergiur Enaknya

Nonik Iswarani (47), eks PMI Taiwan (2000-2003), memberikan peringatan keras. Berbekal ijazah SMA, ia dulu berangkat demi ekonomi keluarga. Kini ia telah menjadi guru, namun ia tidak lupa kerasnya hidup di sana.

"Kadang yang dibayangkan hanya enaknya. Tanpa memikirkan risiko," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kerja di luar negeri seringkali berbasis kontrak. Jika pekerja tidak bisa mengelola keuangan dan hanya habis untuk konsumsi, siklus kemiskinan akan berulang saat mereka pulang ke tanah air tanpa keahlian baru.

Suara Mantan PMI: Jangan Hanya Tergiur Enaknya

Nonik Iswarani (47), eks PMI Taiwan (2000-2003), memberikan peringatan keras. Berbekal ijazah SMA, ia dulu berangkat demi ekonomi keluarga. Kini ia telah menjadi guru, namun ia tidak lupa kerasnya hidup di sana.

"Kadang yang dibayangkan hanya enaknya. Tanpa memikirkan risiko," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kerja di luar negeri seringkali berbasis kontrak. Jika pekerja tidak bisa mengelola keuangan dan hanya habis untuk konsumsi, siklus kemiskinan akan berulang saat mereka pulang ke tanah air tanpa keahlian baru.

Suara Mantan PMI: Jangan Hanya Tergiur Enaknya

Nonik Iswarani (47), eks PMI Taiwan (2000-2003), memberikan peringatan keras. Berbekal ijazah SMA, ia dulu berangkat demi ekonomi keluarga. Kini ia telah menjadi guru, namun ia tidak lupa kerasnya hidup di sana.

"Kadang yang dibayangkan hanya enaknya. Tanpa memikirkan risiko," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kerja di luar negeri seringkali berbasis kontrak. Jika pekerja tidak bisa mengelola keuangan dan hanya habis untuk konsumsi, siklus kemiskinan akan berulang saat mereka pulang ke tanah air tanpa keahlian baru.

Birokrasi dan Target Global

Pemerintah, khususnya di Jawa Timur, merespons ini secara agresif. Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, memproyeksikan hampir 5.000 siswa dan lulusan SMK akan menyerbu pasar global di 11 negara pada 2026.

"Ini capaian besar. Tapi kita juga dihadapkan pada tantangan bahasa dan kesiapan karakter," ujar Aries.

Birokrasi dan Target Global

Pemerintah, khususnya di Jawa Timur, merespons ini secara agresif. Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, memproyeksikan hampir 5.000 siswa dan lulusan SMK akan menyerbu pasar global di 11 negara pada 2026.

"Ini capaian besar. Tapi kita juga dihadapkan pada tantangan bahasa dan kesiapan karakter," ujar Aries.

Birokrasi dan Target Global

Pemerintah, khususnya di Jawa Timur, merespons ini secara agresif. Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, memproyeksikan hampir 5.000 siswa dan lulusan SMK akan menyerbu pasar global di 11 negara pada 2026.

"Ini capaian besar. Tapi kita juga dihadapkan pada tantangan bahasa dan kesiapan karakter," ujar Aries.

Ia menekankan pentingnya "paspor kompetensi" dan mikro-kredensial agar lulusan SMK tidak hanya menjadi buruh kasar, melainkan tenaga profesional yang diakui.

Sementara itu, Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, mencatat pergeseran tren. Sektor formal kini naik menjadi 35,4 persen pada periode 2023-2025. Namun, ia tetap mewaspadai jalur nonprosedural.

"Tantangan terbesar tetap pada pencegahan jalur ilegal yang berisiko eksploitasi," tegasnya.

Ia menekankan pentingnya "paspor kompetensi" dan mikro-kredensial agar lulusan SMK tidak hanya menjadi buruh kasar, melainkan tenaga profesional yang diakui.

Sementara itu, Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, mencatat pergeseran tren. Sektor formal kini naik menjadi 35,4 persen pada periode 2023-2025. Namun, ia tetap mewaspadai jalur nonprosedural.

"Tantangan terbesar tetap pada pencegahan jalur ilegal yang berisiko eksploitasi," tegasnya.

Ia menekankan pentingnya "paspor kompetensi" dan mikro-kredensial agar lulusan SMK tidak hanya menjadi buruh kasar, melainkan tenaga profesional yang diakui.

Sementara itu, Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, mencatat pergeseran tren. Sektor formal kini naik menjadi 35,4 persen pada periode 2023-2025. Namun, ia tetap mewaspadai jalur nonprosedural.

"Tantangan terbesar tetap pada pencegahan jalur ilegal yang berisiko eksploitasi," tegasnya.

Struktur pasar kerja yang pincang

Struktur pasar kerja yang pincang

Struktur pasar kerja yang pincang

Eka Kadalora, konten kreator asal Bali

(IDN Times/Mardya Shakti)

(IDN Times/Mardya Shakti)

"Di Indonesia masih banyak pekerjaan yang sifatnya semi-semi formil. Tidak sepenuhnya formal, tapi tidak bisa disebut informal. Pekerja kerap tidak mendapatkan perlindungan memadai seperti asuransi kesehatan,"
"Di Indonesia masih banyak pekerjaan yang sifatnya semi-semi formil. Tidak sepenuhnya formal, tapi tidak bisa disebut informal. Pekerja kerap tidak mendapatkan perlindungan memadai seperti asuransi kesehatan,"

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, melihat ini sebagai masalah struktur supply-demand. Indonesia sedang bonus demografi, angkatan kerja melimpah, tapi industri dalam negeri, terutama manufaktur yang belum mampu menyerap semuanya.

"Di Indonesia masih banyak pekerjaan yang sifatnya semi-semi formil. Tidak sepenuhnya formal, tapi tidak bisa disebut informal. Pekerja kerap tidak mendapatkan perlindungan memadai seperti asuransi kesehatan," jelas Yusuf. Inilah yang membuat luar negeri menarik: bukan cuma gaji, tapi kepastian sistem.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, melihat ini sebagai masalah struktur supply-demand. Indonesia sedang bonus demografi, angkatan kerja melimpah, tapi industri dalam negeri, terutama manufaktur yang belum mampu menyerap semuanya.

"Di Indonesia masih banyak pekerjaan yang sifatnya semi-semi formil. Tidak sepenuhnya formal, tapi tidak bisa disebut informal. Pekerja kerap tidak mendapatkan perlindungan memadai seperti asuransi kesehatan," jelas Yusuf. Inilah yang membuat luar negeri menarik: bukan cuma gaji, tapi kepastian sistem.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, melihat ini sebagai masalah struktur supply-demand. Indonesia sedang bonus demografi, angkatan kerja melimpah, tapi industri dalam negeri, terutama manufaktur yang belum mampu menyerap semuanya.

"Di Indonesia masih banyak pekerjaan yang sifatnya semi-semi formil. Tidak sepenuhnya formal, tapi tidak bisa disebut informal. Pekerja kerap tidak mendapatkan perlindungan memadai seperti asuransi kesehatan," jelas Yusuf. Inilah yang membuat luar negeri menarik: bukan cuma gaji, tapi kepastian sistem.

Namun, sosiolog Moch Mubarok Muharam menilai negara perlu berkaca pada tagar #KaburAjaDulu.

"Tagar itu adalah ungkapan jujur tentang kegelisahan. Negara harus hadir menciptakan kualitas pekerjaan, bukan hanya angka statistik pertumbuhan," ujarnya.

Ia khawatir jika talenta terbaik terus pergi (brain drain), Indonesia akan terjebak dalam middle-income trap.

Namun, sosiolog Moch Mubarok Muharam menilai negara perlu berkaca pada tagar #KaburAjaDulu.

"Tagar itu adalah ungkapan jujur tentang kegelisahan. Negara harus hadir menciptakan kualitas pekerjaan, bukan hanya angka statistik pertumbuhan," ujarnya.

Ia khawatir jika talenta terbaik terus pergi (brain drain), Indonesia akan terjebak dalam middle-income trap.

Namun, sosiolog Moch Mubarok Muharam menilai negara perlu berkaca pada tagar #KaburAjaDulu.

"Tagar itu adalah ungkapan jujur tentang kegelisahan. Negara harus hadir menciptakan kualitas pekerjaan, bukan hanya angka statistik pertumbuhan," ujarnya.

Ia khawatir jika talenta terbaik terus pergi (brain drain), Indonesia akan terjebak dalam middle-income trap.

Ekonom Unesa, Hendry Cahyono, memperingatkan bahwa remitansi tidak akan pernah cukup mengimbangi hilangnya SDM berkualitas.

"Kalau talenta terbaik pergi dalam jangka panjang dan tidak kembali, itu persoalan serius. Investasi asing pun enggan masuk karena kekurangan tenaga ahli lokal," tegasnya.

Ekonom Unesa, Hendry Cahyono, memperingatkan bahwa remitansi tidak akan pernah cukup mengimbangi hilangnya SDM berkualitas.

"Kalau talenta terbaik pergi dalam jangka panjang dan tidak kembali, itu persoalan serius. Investasi asing pun enggan masuk karena kekurangan tenaga ahli lokal," tegasnya.

Ekonom Unesa, Hendry Cahyono, memperingatkan bahwa remitansi tidak akan pernah cukup mengimbangi hilangnya SDM berkualitas.

"Kalau talenta terbaik pergi dalam jangka panjang dan tidak kembali, itu persoalan serius. Investasi asing pun enggan masuk karena kekurangan tenaga ahli lokal," tegasnya.

Peta Jalan Para Pemburu Mimpi

Peta Jalan Para Pemburu Mimpi

Peta Jalan Para Pemburu Mimpi

Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita

Shalma Rohmatun'nisa (baris ke empat dari kiri) bersama rekannya saat mengikuti pelatihan untuk persiapan menuju Jerman. (IDN Times/Shalma)

Shalma Rohmatun'nisa (baris ke empat dari kiri) bersama rekannya saat mengikuti pelatihan untuk persiapan menuju Jerman. (IDN Times/Shalma)

Shalma Rohmatun'nisa (baris ke empat dari kiri) bersama rekannya saat mengikuti pelatihan untuk persiapan menuju Jerman. (IDN Times/Shalma)

"Di sana kita dikasih sekolah, juga pekerjaan. Gaji juga dilihat dari sertifikat yang kita punya,"
"Di sana kita dikasih sekolah, juga pekerjaan. Gaji juga dilihat dari sertifikat yang kita punya,"

Bagi mereka yang berniat mengikuti jejak Shalma Rohmatun'nisa ke Jerman atau Hozin Al Buchori ke Jepang, proses menuju keberangkatan bukanlah sebuah lari cepat (sprint), melainkan sebuah maraton yang menguras stamina, mental, dan biaya. Di jalur ini, antusiasme saja tidak cukup; diperlukan ketekunan administratif dan penguasaan kompetensi yang sangat spesifik.

Bagi mereka yang berniat mengikuti jejak Shalma Rohmatun'nisa ke Jerman atau Hozin Al Buchori ke Jepang, proses menuju keberangkatan bukanlah sebuah lari cepat (sprint), melainkan sebuah maraton yang menguras stamina, mental, dan biaya. Di jalur ini, antusiasme saja tidak cukup; diperlukan ketekunan administratif dan penguasaan kompetensi yang sangat spesifik.

Bagi mereka yang berniat mengikuti jejak Shalma Rohmatun'nisa ke Jerman atau Hozin Al Buchori ke Jepang, proses menuju keberangkatan bukanlah sebuah lari cepat (sprint), melainkan sebuah maraton yang menguras stamina, mental, dan biaya. Di jalur ini, antusiasme saja tidak cukup; diperlukan ketekunan administratif dan penguasaan kompetensi yang sangat spesifik.

Menjemput Martabat lewat Vokasi

Shalma memilih Jerman bukan sekadar karena bayangan gaji Euro yang menggiurkan, melainkan karena sistem pendidikan gandanya (dual system).

"Di sana kita dikasih sekolah, juga pekerjaan. Gaji juga dilihat dari sertifikat yang kita punya," jelas Shalma.

Menjemput Martabat lewat Vokasi

Shalma memilih Jerman bukan sekadar karena bayangan gaji Euro yang menggiurkan, melainkan karena sistem pendidikan gandanya (dual system).

"Di sana kita dikasih sekolah, juga pekerjaan. Gaji juga dilihat dari sertifikat yang kita punya," jelas Shalma.

Menjemput Martabat lewat Vokasi

Shalma memilih Jerman bukan sekadar karena bayangan gaji Euro yang menggiurkan, melainkan karena sistem pendidikan gandanya (dual system).

"Di sana kita dikasih sekolah, juga pekerjaan. Gaji juga dilihat dari sertifikat yang kita punya," jelas Shalma.

Jerman sangat menghargai profesionalisme yang terstandarisasi. Bagi calon PMI yang membidik negara ini, setidaknya ada empat gerbang yang harus dilewati:

Penguasaan Bahasa: Ini adalah filter tersulit. Calon pekerja minimal harus mengantongi sertifikat level B1 atau B2 melalui lembaga resmi seperti Goethe Institute. Tanpa ini, visa kerja mustahil terbit.


Sertifikasi Kompetensi: Pengakuan keahlian di bidang koki, perawat, atau teknisi sangat krusial. Perusahaan Jerman tidak hanya melihat ijazah sekolah, tapi keterampilan praktis yang tersertifikasi.


Aplikasi ke Perusahaan: Proses ini bisa dilakukan secara mandiri atau melalui agen penyalur. Tujuannya adalah mendapatkan kontrak kerja (Ausbildungsvertrag) yang menjadi dasar pengajuan dokumen.


Visa Kerja: Tahap akhir di Kedutaan Besar Jerman yang mensyaratkan bukti nominal gaji yang layak serta jaminan kontrak hunian selama menetap di sana.

Jerman sangat menghargai profesionalisme yang terstandarisasi. Bagi calon PMI yang membidik negara ini, setidaknya ada empat gerbang yang harus dilewati:

Penguasaan Bahasa: Ini adalah filter tersulit. Calon pekerja minimal harus mengantongi sertifikat level B1 atau B2 melalui lembaga resmi seperti Goethe Institute. Tanpa ini, visa kerja mustahil terbit.


Sertifikasi Kompetensi: Pengakuan keahlian di bidang koki, perawat, atau teknisi sangat krusial. Perusahaan Jerman tidak hanya melihat ijazah sekolah, tapi keterampilan praktis yang tersertifikasi.


Aplikasi ke Perusahaan: Proses ini bisa dilakukan secara mandiri atau melalui agen penyalur. Tujuannya adalah mendapatkan kontrak kerja (Ausbildungsvertrag) yang menjadi dasar pengajuan dokumen.


Visa Kerja: Tahap akhir di Kedutaan Besar Jerman yang mensyaratkan bukti nominal gaji yang layak serta jaminan kontrak hunian selama menetap di sana.

Jerman sangat menghargai profesionalisme yang terstandarisasi. Bagi calon PMI yang membidik negara ini, setidaknya ada empat gerbang yang harus dilewati:

Penguasaan Bahasa: Ini adalah filter tersulit. Calon pekerja minimal harus mengantongi sertifikat level B1 atau B2 melalui lembaga resmi seperti Goethe Institute. Tanpa ini, visa kerja mustahil terbit.


Sertifikasi Kompetensi: Pengakuan keahlian di bidang koki, perawat, atau teknisi sangat krusial. Perusahaan Jerman tidak hanya melihat ijazah sekolah, tapi keterampilan praktis yang tersertifikasi.


Aplikasi ke Perusahaan: Proses ini bisa dilakukan secara mandiri atau melalui agen penyalur. Tujuannya adalah mendapatkan kontrak kerja (Ausbildungsvertrag) yang menjadi dasar pengajuan dokumen.


Visa Kerja: Tahap akhir di Kedutaan Besar Jerman yang mensyaratkan bukti nominal gaji yang layak serta jaminan kontrak hunian selama menetap di sana.

Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) PD Sumsel, Yenita

Calon PMI saat mengikuti pembelajaran/pelatihan Bahasa Jepang di LPK Kizuna. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Calon PMI saat mengikuti pembelajaran/pelatihan Bahasa Jepang di LPK Kizuna. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Magnet "Naruto" dan Peluang di Negeri Sakura

Jika Jerman adalah tujuan bagi mereka yang mengejar pendidikan vokasi, Jepang kini menjadi magnet utama bagi Generasi Z di Jawa Tengah. Menariknya, motivasi mereka tak jarang lahir dari produk budaya pop.

Hozin Al Buchori (18), pemuda asal Pemalang, mengaku jatuh cinta pada Jepang karena sering menonton film animasi Naruto.

"Saya suka Jepang dari kecil. Kotanya maju dan bersih. Naruto membuat saya semakin tertarik," ungkap Hozin.

Namun, di balik kecintaannya pada budaya, ada realita ekonomi yang mendorongnya. Sebagai sulung dari dua bersaudara, Hozin ingin mengangkat derajat orang tuanya; ayahnya seorang petani dan ibunya penjaga toko.

"Peluang kerja di Indonesia terbatas," tambahnya getir.

Magnet "Naruto" dan Peluang di Negeri Sakura

Jika Jerman adalah tujuan bagi mereka yang mengejar pendidikan vokasi, Jepang kini menjadi magnet utama bagi Generasi Z di Jawa Tengah. Menariknya, motivasi mereka tak jarang lahir dari produk budaya pop.

Hozin Al Buchori (18), pemuda asal Pemalang, mengaku jatuh cinta pada Jepang karena sering menonton film animasi Naruto.

"Saya suka Jepang dari kecil. Kotanya maju dan bersih. Naruto membuat saya semakin tertarik," ungkap Hozin.

Namun, di balik kecintaannya pada budaya, ada realita ekonomi yang mendorongnya. Sebagai sulung dari dua bersaudara, Hozin ingin mengangkat derajat orang tuanya; ayahnya seorang petani dan ibunya penjaga toko.

"Peluang kerja di Indonesia terbatas," tambahnya getir.

Magnet "Naruto" dan Peluang di Negeri Sakura

Jika Jerman adalah tujuan bagi mereka yang mengejar pendidikan vokasi, Jepang kini menjadi magnet utama bagi Generasi Z di Jawa Tengah. Menariknya, motivasi mereka tak jarang lahir dari produk budaya pop.

Hozin Al Buchori (18), pemuda asal Pemalang, mengaku jatuh cinta pada Jepang karena sering menonton film animasi Naruto.

"Saya suka Jepang dari kecil. Kotanya maju dan bersih. Naruto membuat saya semakin tertarik," ungkap Hozin.

Namun, di balik kecintaannya pada budaya, ada realita ekonomi yang mendorongnya. Sebagai sulung dari dua bersaudara, Hozin ingin mengangkat derajat orang tuanya; ayahnya seorang petani dan ibunya penjaga toko.

"Peluang kerja di Indonesia terbatas," tambahnya getir.

Mekanisme Jalur LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Direktur LPK Kizuna Mitra Indonesia di Semarang, Eko Setyo Putro, mengungkapkan bahwa fenomena ini didorong oleh krisis demografi di Jepang.

"Usia lansia di Jepang sangat besar dan tenaga kerja mereka tidak cukup. Permintaan pekerja dari Indonesia pun sangat tinggi," terang Eko.

Mekanisme Jalur LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Direktur LPK Kizuna Mitra Indonesia di Semarang, Eko Setyo Putro, mengungkapkan bahwa fenomena ini didorong oleh krisis demografi di Jepang.

"Usia lansia di Jepang sangat besar dan tenaga kerja mereka tidak cukup. Permintaan pekerja dari Indonesia pun sangat tinggi," terang Eko.

Mekanisme Jalur LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Direktur LPK Kizuna Mitra Indonesia di Semarang, Eko Setyo Putro, mengungkapkan bahwa fenomena ini didorong oleh krisis demografi di Jepang.

"Usia lansia di Jepang sangat besar dan tenaga kerja mereka tidak cukup. Permintaan pekerja dari Indonesia pun sangat tinggi," terang Eko.

Untuk menjembatani mimpi para pemuda ini, LPK seperti Kizuna menerapkan proses pelatihan yang ketat selama enam bulan:

Materi: Meliputi bahasa Jepang, pengenalan budaya kerja, hingga pembiasaan disiplin dan kebersihan yang ekstrem.


Filter Seleksi: Peserta berusia 18-30 tahun. Pelatihan dasar dimulai dengan biaya sekitar Rp8 juta untuk tiga bulan pertama sebelum masuk ke tahap wawancara dengan perusahaan Jepang (user).


Biaya Keberangkatan: Pemerintah menetapkan batas maksimal biaya pemberangkatan sebesar Rp35 juta. LPK Kizuna sendiri mematok angka sekitar Rp33 juta.

Untuk menjembatani mimpi para pemuda ini, LPK seperti Kizuna menerapkan proses pelatihan yang ketat selama enam bulan:

Materi: Meliputi bahasa Jepang, pengenalan budaya kerja, hingga pembiasaan disiplin dan kebersihan yang ekstrem.


Filter Seleksi: Peserta berusia 18-30 tahun. Pelatihan dasar dimulai dengan biaya sekitar Rp8 juta untuk tiga bulan pertama sebelum masuk ke tahap wawancara dengan perusahaan Jepang (user).


Biaya Keberangkatan: Pemerintah menetapkan batas maksimal biaya pemberangkatan sebesar Rp35 juta. LPK Kizuna sendiri mematok angka sekitar Rp33 juta.

Untuk menjembatani mimpi para pemuda ini, LPK seperti Kizuna menerapkan proses pelatihan yang ketat selama enam bulan:

Materi: Meliputi bahasa Jepang, pengenalan budaya kerja, hingga pembiasaan disiplin dan kebersihan yang ekstrem.


Filter Seleksi: Peserta berusia 18-30 tahun. Pelatihan dasar dimulai dengan biaya sekitar Rp8 juta untuk tiga bulan pertama sebelum masuk ke tahap wawancara dengan perusahaan Jepang (user).


Biaya Keberangkatan: Pemerintah menetapkan batas maksimal biaya pemberangkatan sebesar Rp35 juta. LPK Kizuna sendiri mematok angka sekitar Rp33 juta.

Tantangan Adaptasi dan Pengelolaan Keuangan

Bekerja di Asia Timur tidak semudah yang terlihat di media sosial. Ahmad Komarudin (24), calon PMI asal Grobogan, kini harus bergelut dengan kerumitan huruf Hiragana dan Katakana serta budaya disiplin pagi-sore.

"Pembelajaran masih proses karena bahasa Jepang tidak mudah," kata Ahmad.

Selain kendala bahasa, tantangan terbesar adalah pengelolaan keuangan setelah sampai di sana.

Eko Setyo Putro mengingatkan bahwa meski penghasilan di Jepang jauh lebih besar dibanding upah minimum regional di Jawa Tengah, banyak pekerja yang gagal mengelola uang dengan baik.

Tantangan Adaptasi dan Pengelolaan Keuangan

Bekerja di Asia Timur tidak semudah yang terlihat di media sosial. Ahmad Komarudin (24), calon PMI asal Grobogan, kini harus bergelut dengan kerumitan huruf Hiragana dan Katakana serta budaya disiplin pagi-sore.

"Pembelajaran masih proses karena bahasa Jepang tidak mudah," kata Ahmad.

Selain kendala bahasa, tantangan terbesar adalah pengelolaan keuangan setelah sampai di sana.

Eko Setyo Putro mengingatkan bahwa meski penghasilan di Jepang jauh lebih besar dibanding upah minimum regional di Jawa Tengah, banyak pekerja yang gagal mengelola uang dengan baik.

Tantangan Adaptasi dan Pengelolaan Keuangan

Bekerja di Asia Timur tidak semudah yang terlihat di media sosial. Ahmad Komarudin (24), calon PMI asal Grobogan, kini harus bergelut dengan kerumitan huruf Hiragana dan Katakana serta budaya disiplin pagi-sore.

"Pembelajaran masih proses karena bahasa Jepang tidak mudah," kata Ahmad.

Selain kendala bahasa, tantangan terbesar adalah pengelolaan keuangan setelah sampai di sana.

Eko Setyo Putro mengingatkan bahwa meski penghasilan di Jepang jauh lebih besar dibanding upah minimum regional di Jawa Tengah, banyak pekerja yang gagal mengelola uang dengan baik.

"Penghasilan memang besar, tapi ada juga pekerja migran yang belum bisa mengelola uang dengan baik," kata Eko.

Padahal, jika dikelola secara bijak, hasil merantau selama 3 hingga 5 tahun di Jepang mampu mengubah nasib keluarga di kampung halaman—mulai dari membeli tanah, membangun rumah, hingga modal usaha purna-PMI.

Peningkatan minat ini membuktikan satu hal: bagi Gen Z, jalur LPK dan sekolah vokasi luar negeri bukan sekadar jalan mencari kerja, melainkan jembatan untuk meraih pengalaman hidup di negara maju yang selama ini hanya mereka saksikan lewat layar kaca atau konten media sosial tetangga yang telah sukses lebih dulu.

"Penghasilan memang besar, tapi ada juga pekerja migran yang belum bisa mengelola uang dengan baik," kata Eko.

Padahal, jika dikelola secara bijak, hasil merantau selama 3 hingga 5 tahun di Jepang mampu mengubah nasib keluarga di kampung halaman—mulai dari membeli tanah, membangun rumah, hingga modal usaha purna-PMI.

Peningkatan minat ini membuktikan satu hal: bagi Gen Z, jalur LPK dan sekolah vokasi luar negeri bukan sekadar jalan mencari kerja, melainkan jembatan untuk meraih pengalaman hidup di negara maju yang selama ini hanya mereka saksikan lewat layar kaca atau konten media sosial tetangga yang telah sukses lebih dulu.

"Penghasilan memang besar, tapi ada juga pekerja migran yang belum bisa mengelola uang dengan baik," kata Eko.

Padahal, jika dikelola secara bijak, hasil merantau selama 3 hingga 5 tahun di Jepang mampu mengubah nasib keluarga di kampung halaman—mulai dari membeli tanah, membangun rumah, hingga modal usaha purna-PMI.

Peningkatan minat ini membuktikan satu hal: bagi Gen Z, jalur LPK dan sekolah vokasi luar negeri bukan sekadar jalan mencari kerja, melainkan jembatan untuk meraih pengalaman hidup di negara maju yang selama ini hanya mereka saksikan lewat layar kaca atau konten media sosial tetangga yang telah sukses lebih dulu.

Ancaman Brain Drain Generasi Muda

Ancaman Brain Drain Generasi Muda

Ancaman Brain Drain Generasi Muda

(IDN Times/Mardya Shakti)

(IDN Times/Mardya Shakti)

"Negara jangan terburu-buru melakukan pengecaman. Pertanyaannya sederhana, apakah negara sudah mampu memberikan kepastian bahwa masa depan mereka terjamin di sini?"
"Negara jangan terburu-buru melakukan pengecaman. Pertanyaannya sederhana, apakah negara sudah mampu memberikan kepastian bahwa masa depan mereka terjamin di sini?"

Kegelisahan generasi muda ini termanifestasi dalam tagar sarkastis #KaburAjaDulu yang sempat viral di media sosial beberapa tahun terakhir.

Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Moch Mubarok Muharam, meminta negara tidak reaktif atau menuduh generasi muda kehilangan rasa nasionalisme. Tagar itu adalah sinyal kritis.

"Negara jangan terburu-buru melakukan pengecaman. Pertanyaannya sederhana, apakah negara sudah mampu memberikan kepastian bahwa masa depan mereka terjamin di sini?" tantang Mubarok.

Menurutnya, anak muda menyadari bahwa di luar negeri, ilmu dan keterampilan mereka jauh lebih dihargai.

Kegelisahan generasi muda ini termanifestasi dalam tagar sarkastis #KaburAjaDulu yang sempat viral di media sosial beberapa tahun terakhir.

Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Moch Mubarok Muharam, meminta negara tidak reaktif atau menuduh generasi muda kehilangan rasa nasionalisme. Tagar itu adalah sinyal kritis.

"Negara jangan terburu-buru melakukan pengecaman. Pertanyaannya sederhana, apakah negara sudah mampu memberikan kepastian bahwa masa depan mereka terjamin di sini?" tantang Mubarok.

Menurutnya, anak muda menyadari bahwa di luar negeri, ilmu dan keterampilan mereka jauh lebih dihargai.

Kegelisahan generasi muda ini termanifestasi dalam tagar sarkastis #KaburAjaDulu yang sempat viral di media sosial beberapa tahun terakhir.

Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Moch Mubarok Muharam, meminta negara tidak reaktif atau menuduh generasi muda kehilangan rasa nasionalisme. Tagar itu adalah sinyal kritis.

"Negara jangan terburu-buru melakukan pengecaman. Pertanyaannya sederhana, apakah negara sudah mampu memberikan kepastian bahwa masa depan mereka terjamin di sini?" tantang Mubarok.

Menurutnya, anak muda menyadari bahwa di luar negeri, ilmu dan keterampilan mereka jauh lebih dihargai.

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni

Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Hartuti Sulistyo Rini

Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Hartuti Sulistyo Rini

Senada dengan hal tersebut, Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Hartuti Sulistyo Rini, melihat fenomena "Kabur Aja Dulu" sebagai cerminan nyata dari kegelisahan mendalam Generasi Z, khususnya kelompok menengah terdidik.

Sebagai generasi digital native, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk membandingkan standar hidup dan peluang karier di dalam negeri dengan realitas global hanya melalui layar ponsel.

Akses informasi yang masif ini menciptakan standar baru tentang kesuksesan dan kenyamanan, di mana dunia luar sering kali tampak lebih menjanjikan di tengah ketidakpastian situasi sosial, politik, dan ekonomi domestik yang mereka rasakan saat ini.

Namun, perempuan yang akrab disapa Lilis ini memberikan catatan kritis bahwa narasi indah di media sosial sering kali tidak menampilkan gambaran yang utuh.

Senada dengan hal tersebut, Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Hartuti Sulistyo Rini, melihat fenomena "Kabur Aja Dulu" sebagai cerminan nyata dari kegelisahan mendalam Generasi Z, khususnya kelompok menengah terdidik.

Sebagai generasi digital native, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk membandingkan standar hidup dan peluang karier di dalam negeri dengan realitas global hanya melalui layar ponsel.

Akses informasi yang masif ini menciptakan standar baru tentang kesuksesan dan kenyamanan, di mana dunia luar sering kali tampak lebih menjanjikan di tengah ketidakpastian situasi sosial, politik, dan ekonomi domestik yang mereka rasakan saat ini.

Namun, perempuan yang akrab disapa Lilis ini memberikan catatan kritis bahwa narasi indah di media sosial sering kali tidak menampilkan gambaran yang utuh.

Senada dengan hal tersebut, Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Hartuti Sulistyo Rini, melihat fenomena "Kabur Aja Dulu" sebagai cerminan nyata dari kegelisahan mendalam Generasi Z, khususnya kelompok menengah terdidik.

Sebagai generasi digital native, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk membandingkan standar hidup dan peluang karier di dalam negeri dengan realitas global hanya melalui layar ponsel.

Akses informasi yang masif ini menciptakan standar baru tentang kesuksesan dan kenyamanan, di mana dunia luar sering kali tampak lebih menjanjikan di tengah ketidakpastian situasi sosial, politik, dan ekonomi domestik yang mereka rasakan saat ini.

Namun, perempuan yang akrab disapa Lilis ini memberikan catatan kritis bahwa narasi indah di media sosial sering kali tidak menampilkan gambaran yang utuh.

Ia memperingatkan bahwa bekerja di luar negeri menuntut kesiapan mental dan kapabilitas yang tinggi, mulai dari penguasaan bahasa hingga urusan administrasi yang kompleks. Ada aspek-aspek pragmatis yang jarang tersorot dalam konten viral, seperti beban pajak yang besar, biaya hidup yang melambung tinggi, hingga tantangan dalam mencari tempat tinggal, yang semuanya menuntut kemandirian ekstra bagi mereka yang memutuskan untuk merantau.

Lebih jauh lagi, Dr. Hartuti menekankan adanya pergeseran paradigma nilai kerja pada generasi sekarang yang lebih memprioritaskan kualitas hidup, work-life balance, dan kesehatan mental. Jika generasi sebelumnya cenderung menerima pekerjaan apa pun demi bertahan hidup, Generasi Z lebih selektif dan mencari lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis mereka.

Karena itu, meningkatnya minat bekerja di luar negeri seharusnya tidak dipandang sebagai lunturnya rasa cinta tanah air, melainkan sebuah sinyal darurat bagi pemerintah untuk segera membenahi ekosistem ketenagakerjaan agar lebih inklusif dan manusiawi.

Ia memperingatkan bahwa bekerja di luar negeri menuntut kesiapan mental dan kapabilitas yang tinggi, mulai dari penguasaan bahasa hingga urusan administrasi yang kompleks. Ada aspek-aspek pragmatis yang jarang tersorot dalam konten viral, seperti beban pajak yang besar, biaya hidup yang melambung tinggi, hingga tantangan dalam mencari tempat tinggal, yang semuanya menuntut kemandirian ekstra bagi mereka yang memutuskan untuk merantau.

Lebih jauh lagi, Dr. Hartuti menekankan adanya pergeseran paradigma nilai kerja pada generasi sekarang yang lebih memprioritaskan kualitas hidup, work-life balance, dan kesehatan mental. Jika generasi sebelumnya cenderung menerima pekerjaan apa pun demi bertahan hidup, Generasi Z lebih selektif dan mencari lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis mereka.

Karena itu, meningkatnya minat bekerja di luar negeri seharusnya tidak dipandang sebagai lunturnya rasa cinta tanah air, melainkan sebuah sinyal darurat bagi pemerintah untuk segera membenahi ekosistem ketenagakerjaan agar lebih inklusif dan manusiawi.

Ia memperingatkan bahwa bekerja di luar negeri menuntut kesiapan mental dan kapabilitas yang tinggi, mulai dari penguasaan bahasa hingga urusan administrasi yang kompleks. Ada aspek-aspek pragmatis yang jarang tersorot dalam konten viral, seperti beban pajak yang besar, biaya hidup yang melambung tinggi, hingga tantangan dalam mencari tempat tinggal, yang semuanya menuntut kemandirian ekstra bagi mereka yang memutuskan untuk merantau.

Lebih jauh lagi, Dr. Hartuti menekankan adanya pergeseran paradigma nilai kerja pada generasi sekarang yang lebih memprioritaskan kualitas hidup, work-life balance, dan kesehatan mental. Jika generasi sebelumnya cenderung menerima pekerjaan apa pun demi bertahan hidup, Generasi Z lebih selektif dan mencari lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis mereka.

Karena itu, meningkatnya minat bekerja di luar negeri seharusnya tidak dipandang sebagai lunturnya rasa cinta tanah air, melainkan sebuah sinyal darurat bagi pemerintah untuk segera membenahi ekosistem ketenagakerjaan agar lebih inklusif dan manusiawi.

Fenomena ini merupakan tantangan bagi para pemangku kebijakan untuk menyediakan ruang berkembang yang lebih luas dan sehat bagi potensi besar anak muda Indonesia.

Dr. Hartuti menegaskan bahwa suara dan keresahan generasi muda adalah bentuk investasi masa depan yang harus didengar. Tanpa adanya perbaikan nyata dalam penyediaan lapangan kerja yang layak dan stabil, Indonesia terancam kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang memilih untuk mengabdikan ilmu dan energinya bagi kemajuan negara lain.

Fenomena ini merupakan tantangan bagi para pemangku kebijakan untuk menyediakan ruang berkembang yang lebih luas dan sehat bagi potensi besar anak muda Indonesia.

Dr. Hartuti menegaskan bahwa suara dan keresahan generasi muda adalah bentuk investasi masa depan yang harus didengar. Tanpa adanya perbaikan nyata dalam penyediaan lapangan kerja yang layak dan stabil, Indonesia terancam kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang memilih untuk mengabdikan ilmu dan energinya bagi kemajuan negara lain.

Fenomena ini merupakan tantangan bagi para pemangku kebijakan untuk menyediakan ruang berkembang yang lebih luas dan sehat bagi potensi besar anak muda Indonesia.

Dr. Hartuti menegaskan bahwa suara dan keresahan generasi muda adalah bentuk investasi masa depan yang harus didengar. Tanpa adanya perbaikan nyata dalam penyediaan lapangan kerja yang layak dan stabil, Indonesia terancam kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang memilih untuk mengabdikan ilmu dan energinya bagi kemajuan negara lain.

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni

Seorang pencari kerja termenung menanti sebuah harapan untuk masa depannya. (IDN Times/Galih Persiana)

Seorang pencari kerja termenung menanti sebuah harapan untuk masa depannya. (IDN Times/Galih Persiana)

Menjahit Kembali Mimpi di Rumah Sendiri

Menjahit Kembali Mimpi di Rumah Sendiri

Menjahit Kembali Mimpi di Rumah Sendiri

(IDN Times/Mardya Shakti)

(IDN Times/Mardya Shakti)

Eksodus generasi muda ke luar negeri tidak bisa dipandang hanya sebagai keberhasilan pengiriman tenaga kerja, melainkan sebuah alarm keras bagi ketahanan ekonomi domestik. Jika tidak dikelola dengan strategi yang presisi, Indonesia hanya akan menjadi "pabrik SDM" bagi kemajuan negara lain.

Eksodus ini bukan sekadar statistik perpindahan manusia; ia adalah simfoni kegelisahan yang dibaca secara berbeda oleh mereka yang mengamati dari menara gading akademik hingga meja dingin birokrasi.

Di balik koper-koper yang dikemas, terdapat kegagalan pasar kerja yang mendalam, alienasi sosial, dan tantangan karakter yang menuntut solusi komprehensif.

Eksodus generasi muda ke luar negeri tidak bisa dipandang hanya sebagai keberhasilan pengiriman tenaga kerja, melainkan sebuah alarm keras bagi ketahanan ekonomi domestik. Jika tidak dikelola dengan strategi yang presisi, Indonesia hanya akan menjadi "pabrik SDM" bagi kemajuan negara lain.

Eksodus ini bukan sekadar statistik perpindahan manusia; ia adalah simfoni kegelisahan yang dibaca secara berbeda oleh mereka yang mengamati dari menara gading akademik hingga meja dingin birokrasi.

Di balik koper-koper yang dikemas, terdapat kegagalan pasar kerja yang mendalam, alienasi sosial, dan tantangan karakter yang menuntut solusi komprehensif.

Eksodus generasi muda ke luar negeri tidak bisa dipandang hanya sebagai keberhasilan pengiriman tenaga kerja, melainkan sebuah alarm keras bagi ketahanan ekonomi domestik. Jika tidak dikelola dengan strategi yang presisi, Indonesia hanya akan menjadi "pabrik SDM" bagi kemajuan negara lain.

Eksodus ini bukan sekadar statistik perpindahan manusia; ia adalah simfoni kegelisahan yang dibaca secara berbeda oleh mereka yang mengamati dari menara gading akademik hingga meja dingin birokrasi.

Di balik koper-koper yang dikemas, terdapat kegagalan pasar kerja yang mendalam, alienasi sosial, dan tantangan karakter yang menuntut solusi komprehensif.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, membedah fenomena ini melalui kacamata supply-demand yang tidak sinkron. Di saat negara maju seperti Jepang mengalami "musim gugur" demografi, kekurangan tenaga kerja produktif, Indonesia justru sedang berada di puncak "musim semi" dengan angkatan kerja yang melimpah. Namun, pasar kerja domestik gagal menjadi wadah yang menampung ledakan ini.

"Bukan cuma soal nominal gaji," Yusuf menekankan dengan nada kritis. Baginya, daya tarik utama luar negeri terletak pada kepastian sistem. Di negara tujuan, asuransi kesehatan dan jaminan sosial adalah hak dasar yang melekat, sementara di tanah air, anak muda justru terjebak dalam pekerjaan ‘semi-formil’ sebuah zona abu-abu yang menuntut produktivitas tinggi namun minim perlindungan.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, membedah fenomena ini melalui kacamata supply-demand yang tidak sinkron. Di saat negara maju seperti Jepang mengalami "musim gugur" demografi, kekurangan tenaga kerja produktif, Indonesia justru sedang berada di puncak "musim semi" dengan angkatan kerja yang melimpah. Namun, pasar kerja domestik gagal menjadi wadah yang menampung ledakan ini.

"Bukan cuma soal nominal gaji," Yusuf menekankan dengan nada kritis. Baginya, daya tarik utama luar negeri terletak pada kepastian sistem. Di negara tujuan, asuransi kesehatan dan jaminan sosial adalah hak dasar yang melekat, sementara di tanah air, anak muda justru terjebak dalam pekerjaan ‘semi-formil’ sebuah zona abu-abu yang menuntut produktivitas tinggi namun minim perlindungan.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, membedah fenomena ini melalui kacamata supply-demand yang tidak sinkron. Di saat negara maju seperti Jepang mengalami "musim gugur" demografi, kekurangan tenaga kerja produktif, Indonesia justru sedang berada di puncak "musim semi" dengan angkatan kerja yang melimpah. Namun, pasar kerja domestik gagal menjadi wadah yang menampung ledakan ini.

"Bukan cuma soal nominal gaji," Yusuf menekankan dengan nada kritis. Baginya, daya tarik utama luar negeri terletak pada kepastian sistem. Di negara tujuan, asuransi kesehatan dan jaminan sosial adalah hak dasar yang melekat, sementara di tanah air, anak muda justru terjebak dalam pekerjaan ‘semi-formil’ sebuah zona abu-abu yang menuntut produktivitas tinggi namun minim perlindungan.

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni

Ekonom Unesa, Hendry Cahyono (kanan) saat memberi materi dalam diskusi media di Surabaya. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Ekonom Unesa, Hendry Cahyono (kanan) saat memberi materi dalam diskusi media di Surabaya. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Ketimpangan ini membawa risiko yang lebih besar bagi masa depan bangsa. Dr. Hendry Cahyono, S.E., M.E. Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memperingatkan bahwa remitansi yang mengalir deras hanyalah "obat pereda nyeri" jangka pendek.

Ia mencemaskan risiko Middle-Income Trap (Jebakan Pendapatan Menengah). Jika talenta terbaik, terutama di sektor STEM (Science, TKetimpangan ini membawa risiko yang lebih besar bagi masa depan bangsa. Dr. Hendry Cahyono, S.E., M.E. Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memperingatkan bahwa remitansi yang mengalir deras hanyalah "obat pereda nyeri" jangka pendek.

Ia mencemaskan risiko Middle-Income Trap (Jebakan Pendapatan Menengah). Jika talenta terbaik, terutama di sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), pergi secara permanen, Indonesia akan kehilangan mesin inovasinya.

"Investasi asing akan enggan masuk jika kita tidak memiliki tenaga ahli lokal yang mumpuni. Kita sedang mempertaruhkan pertumbuhan jangka panjang demi likuiditas jangka pendek," tegas Hendry.echnology, Engineering, and Mathematics), pergi secara permanen, Indonesia akan kehilangan mesin inovasinya.

"Investasi asing akan enggan masuk jika kita tidak memiliki tenaga ahli lokal yang mumpuni. Kita sedang mempertaruhkan pertumbuhan jangka panjang demi likuiditas jangka pendek," tegas Hendry.

Ketimpangan ini membawa risiko yang lebih besar bagi masa depan bangsa. Dr. Hendry Cahyono, S.E., M.E. Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memperingatkan bahwa remitansi yang mengalir deras hanyalah "obat pereda nyeri" jangka pendek.

Ia mencemaskan risiko Middle-Income Trap (Jebakan Pendapatan Menengah). Jika talenta terbaik, terutama di sektor STEM (Science, TKetimpangan ini membawa risiko yang lebih besar bagi masa depan bangsa. Dr. Hendry Cahyono, S.E., M.E. Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memperingatkan bahwa remitansi yang mengalir deras hanyalah "obat pereda nyeri" jangka pendek.

Ia mencemaskan risiko Middle-Income Trap (Jebakan Pendapatan Menengah). Jika talenta terbaik, terutama di sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), pergi secara permanen, Indonesia akan kehilangan mesin inovasinya.

"Investasi asing akan enggan masuk jika kita tidak memiliki tenaga ahli lokal yang mumpuni. Kita sedang mempertaruhkan pertumbuhan jangka panjang demi likuiditas jangka pendek," tegas Hendry.echnology, Engineering, and Mathematics), pergi secara permanen, Indonesia akan kehilangan mesin inovasinya.

"Investasi asing akan enggan masuk jika kita tidak memiliki tenaga ahli lokal yang mumpuni. Kita sedang mempertaruhkan pertumbuhan jangka panjang demi likuiditas jangka pendek," tegas Hendry.

Ketimpangan ini membawa risiko yang lebih besar bagi masa depan bangsa. Dr. Hendry Cahyono, S.E., M.E. Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memperingatkan bahwa remitansi yang mengalir deras hanyalah "obat pereda nyeri" jangka pendek.

Ia mencemaskan risiko Middle-Income Trap (Jebakan Pendapatan Menengah). Jika talenta terbaik, terutama di sektor STEM (Science, TKetimpangan ini membawa risiko yang lebih besar bagi masa depan bangsa. Dr. Hendry Cahyono, S.E., M.E. Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memperingatkan bahwa remitansi yang mengalir deras hanyalah "obat pereda nyeri" jangka pendek.

Ia mencemaskan risiko Middle-Income Trap (Jebakan Pendapatan Menengah). Jika talenta terbaik, terutama di sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), pergi secara permanen, Indonesia akan kehilangan mesin inovasinya.

"Investasi asing akan enggan masuk jika kita tidak memiliki tenaga ahli lokal yang mumpuni. Kita sedang mempertaruhkan pertumbuhan jangka panjang demi likuiditas jangka pendek," tegas Hendry.echnology, Engineering, and Mathematics), pergi secara permanen, Indonesia akan kehilangan mesin inovasinya.

"Investasi asing akan enggan masuk jika kita tidak memiliki tenaga ahli lokal yang mumpuni. Kita sedang mempertaruhkan pertumbuhan jangka panjang demi likuiditas jangka pendek," tegas Hendry.

Dari sudut pandang sosiologis, Moch Mubarok Muharam menilai tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren media sosial, melainkan sebuah manifesto perlawanan. Generasi Z tidak sedang menyerah; mereka sedang melakukan mobilitas vertikal melalui jalur alternatif karena jalur domestik tersumbat oleh nepotisme dan sistem ‘orang dalam’ (insider-outsider).

Mubarok melihat adanya alienasi sosial yang akut. Anak muda merasa menjadi asing di tanah sendiri karena kualitas dan kompetensi mereka sering kali dikalahkan oleh kedekatan relasi.

Bekerja di luar negeri akhirnya dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan pengakuan yang adil atas kapasitas profesional mereka.

"Negara perlu berkaca," ujarnya, "ketika anak muda merasa lebih dihargai oleh bangsa lain daripada oleh negaranya sendiri."

Dari sudut pandang sosiologis, Moch Mubarok Muharam menilai tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren media sosial, melainkan sebuah manifesto perlawanan. Generasi Z tidak sedang menyerah; mereka sedang melakukan mobilitas vertikal melalui jalur alternatif karena jalur domestik tersumbat oleh nepotisme dan sistem ‘orang dalam’ (insider-outsider).

Mubarok melihat adanya alienasi sosial yang akut. Anak muda merasa menjadi asing di tanah sendiri karena kualitas dan kompetensi mereka sering kali dikalahkan oleh kedekatan relasi.

Bekerja di luar negeri akhirnya dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan pengakuan yang adil atas kapasitas profesional mereka.

"Negara perlu berkaca," ujarnya, "ketika anak muda merasa lebih dihargai oleh bangsa lain daripada oleh negaranya sendiri."

Dari sudut pandang sosiologis, Moch Mubarok Muharam menilai tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar tren media sosial, melainkan sebuah manifesto perlawanan. Generasi Z tidak sedang menyerah; mereka sedang melakukan mobilitas vertikal melalui jalur alternatif karena jalur domestik tersumbat oleh nepotisme dan sistem ‘orang dalam’ (insider-outsider).

Mubarok melihat adanya alienasi sosial yang akut. Anak muda merasa menjadi asing di tanah sendiri karena kualitas dan kompetensi mereka sering kali dikalahkan oleh kedekatan relasi.

Bekerja di luar negeri akhirnya dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan pengakuan yang adil atas kapasitas profesional mereka.

"Negara perlu berkaca," ujarnya, "ketika anak muda merasa lebih dihargai oleh bangsa lain daripada oleh negaranya sendiri."

Di meja birokrasi, tantangan ini dijawab dengan upaya peningkatan standar. Aries Agung Paewai, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, memandang serbuan 5.000 anak muda ke pasar global sebagai tantangan karakter. Bagi Aries, tugas pendidikan bukan lagi sekadar meluluskan siswa, melainkan membekali mereka dengan "mentalitas pemenang" di kancah internasional.

Birokrasi pendidikan kini dipaksa berpacu menyediakan "Paspor Kompetensi" sebuah sertifikasi mikro-kredensial yang memastikan lulusan SMK tidak lagi masuk ke pasar kerja internasional sebagai buruh kasar, melainkan sebagai tenaga profesional yang memiliki posisi tawar tinggi.

Di meja birokrasi, tantangan ini dijawab dengan upaya peningkatan standar. Aries Agung Paewai, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, memandang serbuan 5.000 anak muda ke pasar global sebagai tantangan karakter. Bagi Aries, tugas pendidikan bukan lagi sekadar meluluskan siswa, melainkan membekali mereka dengan "mentalitas pemenang" di kancah internasional.

Birokrasi pendidikan kini dipaksa berpacu menyediakan "Paspor Kompetensi" sebuah sertifikasi mikro-kredensial yang memastikan lulusan SMK tidak lagi masuk ke pasar kerja internasional sebagai buruh kasar, melainkan sebagai tenaga profesional yang memiliki posisi tawar tinggi.

Di meja birokrasi, tantangan ini dijawab dengan upaya peningkatan standar. Aries Agung Paewai, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, memandang serbuan 5.000 anak muda ke pasar global sebagai tantangan karakter. Bagi Aries, tugas pendidikan bukan lagi sekadar meluluskan siswa, melainkan membekali mereka dengan "mentalitas pemenang" di kancah internasional.

Birokrasi pendidikan kini dipaksa berpacu menyediakan "Paspor Kompetensi" sebuah sertifikasi mikro-kredensial yang memastikan lulusan SMK tidak lagi masuk ke pasar kerja internasional sebagai buruh kasar, melainkan sebagai tenaga profesional yang memiliki posisi tawar tinggi.

Sejalan dengan itu, Gimbar Ombai Helawarnana dari BP3MI Jatim menangkap sinyal positif dari pergeseran tren kerja. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan penempatan sektor formal dari 26,5% menjadi 35,4%.

Hal ini membuktikan bahwa kualitas migran Indonesia mulai naik kelas. Namun, Gimbar memberikan catatan tebal pada aspek keamanan: "Tantangan terbesar kita adalah memutus jalur nonprosedural. Janji kemudahan berangkat sering kali menjadi pintu masuk eksploitasi," ujar dia.

Sejalan dengan itu, Gimbar Ombai Helawarnana dari BP3MI Jatim menangkap sinyal positif dari pergeseran tren kerja. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan penempatan sektor formal dari 26,5% menjadi 35,4%.

Hal ini membuktikan bahwa kualitas migran Indonesia mulai naik kelas. Namun, Gimbar memberikan catatan tebal pada aspek keamanan: "Tantangan terbesar kita adalah memutus jalur nonprosedural. Janji kemudahan berangkat sering kali menjadi pintu masuk eksploitasi," ujar dia.

Sejalan dengan itu, Gimbar Ombai Helawarnana dari BP3MI Jatim menangkap sinyal positif dari pergeseran tren kerja. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan penempatan sektor formal dari 26,5% menjadi 35,4%.

Hal ini membuktikan bahwa kualitas migran Indonesia mulai naik kelas. Namun, Gimbar memberikan catatan tebal pada aspek keamanan: "Tantangan terbesar kita adalah memutus jalur nonprosedural. Janji kemudahan berangkat sering kali menjadi pintu masuk eksploitasi," ujar dia.

Perjalanan Baru Dimulai

Perjalanan Baru Dimulai

Perjalanan Baru Dimulai

Ratusan pencari kerja memadati kegiatan Job Fair yang dilakukan pemerintah daerah. (IDN Times/Galih Persiana)

Ratusan pencari kerja memadati kegiatan Job Fair yang dilakukan pemerintah daerah. (IDN Times/Galih Persiana)

"Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it."
"Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it."

Kembali ke Texas, Saski merapikan seragamnya sebelum menyambut pelanggan di jam sibuk restoran. Jauh di lubuk hatinya, ia berbicara pada dirinya sendiri, sebuah mantra untuk bertahan di negeri orang.

"Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it." Ujar dia dalam hati.

Sementara itu, di Surabaya, Mutmainah terus membolak-balik buku pelajaran bahasanya. Hari keberangkatan itu mungkin masih satu atau dua tahun lagi, tetapi peta di kepalanya sudah tergambar jelas. Ia tahu keluarganya akan melepasnya dengan doa dan secercah kekhawatiran di bandara nanti.

Kembali ke Texas, Saski merapikan seragamnya sebelum menyambut pelanggan di jam sibuk restoran. Jauh di lubuk hatinya, ia berbicara pada dirinya sendiri, sebuah mantra untuk bertahan di negeri orang.

"Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it." Ujar dia dalam hati.

Sementara itu, di Surabaya, Mutmainah terus membolak-balik buku pelajaran bahasanya. Hari keberangkatan itu mungkin masih satu atau dua tahun lagi, tetapi peta di kepalanya sudah tergambar jelas. Ia tahu keluarganya akan melepasnya dengan doa dan secercah kekhawatiran di bandara nanti.

Kembali ke Texas, Saski merapikan seragamnya sebelum menyambut pelanggan di jam sibuk restoran. Jauh di lubuk hatinya, ia berbicara pada dirinya sendiri, sebuah mantra untuk bertahan di negeri orang.

"Thank you for choosing to live abroad. I will make you proud and you wouldn’t ever regret it." Ujar dia dalam hati.

Sementara itu, di Surabaya, Mutmainah terus membolak-balik buku pelajaran bahasanya. Hari keberangkatan itu mungkin masih satu atau dua tahun lagi, tetapi peta di kepalanya sudah tergambar jelas. Ia tahu keluarganya akan melepasnya dengan doa dan secercah kekhawatiran di bandara nanti.

Bagi Mutmainah, Saski, Shalma, Hozin dan ratusan ribu anak muda di Tanah Air, langkah ke ruang tunggu keberangkatan internasional bukan sekadar pelarian. Itu adalah sebentuk pertahanan hidup.

Mimpi seorang anak desa untuk terbang melintasi benua, pada akhirnya, adalah cermin pantul dari betapa gigihnya generasi muda Indonesia menolak menyerah pada nasib, meski negara tempat mereka lahir belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang untuk mereka tumbuh.

Bagi Mutmainah, Saski, Shalma, Hozin dan ratusan ribu anak muda di Tanah Air, langkah ke ruang tunggu keberangkatan internasional bukan sekadar pelarian. Itu adalah sebentuk pertahanan hidup.

Mimpi seorang anak desa untuk terbang melintasi benua, pada akhirnya, adalah cermin pantul dari betapa gigihnya generasi muda Indonesia menolak menyerah pada nasib, meski negara tempat mereka lahir belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang untuk mereka tumbuh.

Bagi Mutmainah, Saski, Shalma, Hozin dan ratusan ribu anak muda di Tanah Air, langkah ke ruang tunggu keberangkatan internasional bukan sekadar pelarian. Itu adalah sebentuk pertahanan hidup.

Mimpi seorang anak desa untuk terbang melintasi benua, pada akhirnya, adalah cermin pantul dari betapa gigihnya generasi muda Indonesia menolak menyerah pada nasib, meski negara tempat mereka lahir belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang untuk mereka tumbuh.

Tagar #KaburAjaDulu mungkin terdengar getir bagi telinga penguasa, namun bagi mereka yang berdiri di garis depan pertempuran hidup, itu adalah manifesto paling jujur tentang harga sebuah martabat. Mereka tidak sedang melarikan diri dari kewajiban sebagai warga negara; mereka sedang memenuhi kewajiban paling mendasar sebagai manusia: bertahan hidup dan memastikan orang-orang yang mereka cintai memiliki masa depan yang lebih baik.

Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud jika emas yang kita miliki yakni pemuda-pemudanya lebih memilih untuk berkilau di tanah orang hanya karena rumah mereka sendiri terasa terlalu sempit dan menyesakkan. Hingga saat itu tiba, terminal keberangkatan bandara akan tetap menjadi saksi bisu: tempat di mana air mata perpisahan tumpah, bukan karena benci pada tanah air, tapi karena cinta yang dipaksa mengalah oleh realita ekonomi.

Hingga suatu hari nanti, mereka bisa kembali, bukan karena terpaksa oleh habisnya masa kontrak, melainkan karena rumah mereka telah benar-benar siap menjadi tempat untuk pulang dan tumbuh.

Tagar #KaburAjaDulu mungkin terdengar getir bagi telinga penguasa, namun bagi mereka yang berdiri di garis depan pertempuran hidup, itu adalah manifesto paling jujur tentang harga sebuah martabat. Mereka tidak sedang melarikan diri dari kewajiban sebagai warga negara; mereka sedang memenuhi kewajiban paling mendasar sebagai manusia: bertahan hidup dan memastikan orang-orang yang mereka cintai memiliki masa depan yang lebih baik.

Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud jika emas yang kita miliki yakni pemuda-pemudanya lebih memilih untuk berkilau di tanah orang hanya karena rumah mereka sendiri terasa terlalu sempit dan menyesakkan. Hingga saat itu tiba, terminal keberangkatan bandara akan tetap menjadi saksi bisu: tempat di mana air mata perpisahan tumpah, bukan karena benci pada tanah air, tapi karena cinta yang dipaksa mengalah oleh realita ekonomi.

Hingga suatu hari nanti, mereka bisa kembali, bukan karena terpaksa oleh habisnya masa kontrak, melainkan karena rumah mereka telah benar-benar siap menjadi tempat untuk pulang dan tumbuh.

Tagar #KaburAjaDulu mungkin terdengar getir bagi telinga penguasa, namun bagi mereka yang berdiri di garis depan pertempuran hidup, itu adalah manifesto paling jujur tentang harga sebuah martabat. Mereka tidak sedang melarikan diri dari kewajiban sebagai warga negara; mereka sedang memenuhi kewajiban paling mendasar sebagai manusia: bertahan hidup dan memastikan orang-orang yang mereka cintai memiliki masa depan yang lebih baik.

Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud jika emas yang kita miliki yakni pemuda-pemudanya lebih memilih untuk berkilau di tanah orang hanya karena rumah mereka sendiri terasa terlalu sempit dan menyesakkan. Hingga saat itu tiba, terminal keberangkatan bandara akan tetap menjadi saksi bisu: tempat di mana air mata perpisahan tumpah, bukan karena benci pada tanah air, tapi karena cinta yang dipaksa mengalah oleh realita ekonomi.

Hingga suatu hari nanti, mereka bisa kembali, bukan karena terpaksa oleh habisnya masa kontrak, melainkan karena rumah mereka telah benar-benar siap menjadi tempat untuk pulang dan tumbuh.

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Disusun oleh

Tim Editorial

Yogi Pasha - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Febriana Sintasari – Editor

Galih Persiana - Editor Video

Reporter

Debbie Sutrisno

Azzis Zulkhairil

Inin Nastain

Anggun Puspitoningrum

Ardiansyah Fajar

Infografis

Mardya Shakti

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Yogi Pasha - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Febriana Sintasari – Editor

Galih Persiana - Editor Video

Reporter

Debbie Sutrisno

Azzis Zulkhairil

Inin Nastain

Anggun Puspitoningrum

Ardiansyah Fajar

Infografis

Mardya Shakti

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Yogi Pasha - Project Lead / Editor

Yogie Fadila - Editor

Febriana Sintasari – Editor

Galih Persiana - Editor Video

Reporter

Debbie Sutrisno

Azzis Zulkhairil

Inin Nastain

Anggun Puspitoningrum

Ardiansyah Fajar

Infografis

Mardya Shakti

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com