




Jebakan di Balik Aroma Harum
Jebakan di Balik Aroma Harum
Jebakan di Balik Aroma Harum
Cengkeraman Vape pada Paru-Paru Generasi Z
Cengkeraman Vape pada Paru-Paru Generasi Z
Cengkeraman Vape pada Paru-Paru Generasi Z
Aroma uapnya wangi, kemasannya warna-warni, dan diklaim lebih aman daripada rokok tembakau. Ternyata Rokok elektrik atau Vape 'tak seindah' yang terlihat. Dampak buruknya pada kesehatan tak kalah dari apa yang bisa dilakukan oleh rokok konvensional.
Berangkat dari kesaksian mantan pengguna vape, tulisan kolaborasi ini mengungkap bahaya tersembunyi di balik uap vape yang tidak pernah diungkap selama ini. Serta menepis asumsi bahwa vaping adalah cara untuk berhenti dari merokok konvensional.
Tulisan ini juga membeberkan kandungan berbahaya vape dari hasil uji laboratorium beberapa merek untuk membuka mata pembaca tentang bahaya vape untuk tubuh kita.
Aroma uapnya wangi, kemasannya warna-warni, dan diklaim lebih aman daripada rokok tembakau. Ternyata Rokok elektrik atau Vape 'tak seindah' yang terlihat. Dampak buruknya pada kesehatan tak kalah dari apa yang bisa dilakukan oleh rokok konvensional.
Berangkat dari kesaksian mantan pengguna vape, tulisan kolaborasi ini mengungkap bahaya tersembunyi di balik uap vape yang tidak pernah diungkap selama ini. Serta menepis asumsi bahwa vaping adalah cara untuk berhenti dari merokok konvensional.
Tulisan ini juga membeberkan kandungan berbahaya vape dari hasil uji laboratorium beberapa merek untuk membuka mata pembaca tentang bahaya vape untuk tubuh kita.
Aroma uapnya wangi, kemasannya warna-warni, dan diklaim lebih aman daripada rokok tembakau. Ternyata Rokok elektrik atau Vape 'tak seindah' yang terlihat. Dampak buruknya pada kesehatan tak kalah dari apa yang bisa dilakukan oleh rokok konvensional.
Berangkat dari kesaksian mantan pengguna vape, tulisan kolaborasi ini mengungkap bahaya tersembunyi di balik uap vape yang tidak pernah diungkap selama ini. Serta menepis asumsi bahwa vaping adalah cara untuk berhenti dari merokok konvensional.
Tulisan ini juga membeberkan kandungan berbahaya vape dari hasil uji laboratorium beberapa merek untuk membuka mata pembaca tentang bahaya vape untuk tubuh kita.
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesan Radzi sebelum meninggal dunia
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesan Radzi sebelum meninggal dunia
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesan Radzi sebelum meninggal dunia
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesan Radzi sebelum meninggal dunia
Seorang pengguna vape asal Malaysia, Mohd Radzi Mustaffa (44), meninggal dunia pada 7 Mei 2024, beberapa hari setelah mengunggah video terakhirnya memperingatkan orang lain tentang bahaya rokok elektronik (vape).
Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya yang dilansir The Straits Times, Radzi mengaku telah kecanduan vape selama empat tahun, yang mengakibatkan kerusakan parah pada jantung dan paru-parunya. Radzi mengaku jantungnya hanya berfungsi 3 persen beberapa hari sebelum ia meninggal.
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesannya dalam bahasa Malaysia.
Kisah Radzi menjadi viral setelah kematiannya, memicu pertanyaan: Benarkan vape seberbahaya itu? Bukankah selama ini kita mengenal vape lebih aman dari rokok tembakau? Mengapa bisa menyebabkan kerusakan paru-paru dan jantung?
Seorang pengguna vape asal Malaysia, Mohd Radzi Mustaffa (44), meninggal dunia pada 7 Mei 2024, beberapa hari setelah mengunggah video terakhirnya memperingatkan orang lain tentang bahaya rokok elektronik (vape).
Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya yang dilansir The Straits Times, Radzi mengaku telah kecanduan vape selama empat tahun, yang mengakibatkan kerusakan parah pada jantung dan paru-parunya. Radzi mengaku jantungnya hanya berfungsi 3 persen beberapa hari sebelum ia meninggal.
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesannya dalam bahasa Malaysia.
Kisah Radzi menjadi viral setelah kematiannya, memicu pertanyaan: Benarkan vape seberbahaya itu? Bukankah selama ini kita mengenal vape lebih aman dari rokok tembakau? Mengapa bisa menyebabkan kerusakan paru-paru dan jantung?
Seorang pengguna vape asal Malaysia, Mohd Radzi Mustaffa (44), meninggal dunia pada 7 Mei 2024, beberapa hari setelah mengunggah video terakhirnya memperingatkan orang lain tentang bahaya rokok elektronik (vape).
Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya yang dilansir The Straits Times, Radzi mengaku telah kecanduan vape selama empat tahun, yang mengakibatkan kerusakan parah pada jantung dan paru-parunya. Radzi mengaku jantungnya hanya berfungsi 3 persen beberapa hari sebelum ia meninggal.
"Vape bukan mainan. Berhentilah sekarang sebelum paru-paru dan jantungmu rusak," pesannya dalam bahasa Malaysia.
Kisah Radzi menjadi viral setelah kematiannya, memicu pertanyaan: Benarkan vape seberbahaya itu? Bukankah selama ini kita mengenal vape lebih aman dari rokok tembakau? Mengapa bisa menyebabkan kerusakan paru-paru dan jantung?
Masih dari negara tetangga, Singapura akan menetapkan vape atau rokok elektrik sebagai hal yang berbahaya layaknya narkoba. Seperti di Indonesia, saat ini vape di Singapura semakin marak digunakan di kalangan pemuda.
“Sejauh ini kami menganggap vape seperti tembakau, paling cepat kami kenakan denda. Tapi, itu sudah tidak cukup lagi,” ujar Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pidato peringatan Hari Nasional di markas besar Institut Pendidikan Teknik di Ang Mo Kio, pada 17 Agustus 2025.
Dilansir dari CNA, Wong mengatakan otoritas akan memberlakukan hukuman yang jauh lebih berat, termasuk hukuman penjara. Tidak hanya terhadap pengguna, sanksi yang lebih berat juga akan diberlakukan bagi para penjual vape, terutama yang mengandung zat berbahaya.
Masih dari negara tetangga, Singapura akan menetapkan vape atau rokok elektrik sebagai hal yang berbahaya layaknya narkoba. Seperti di Indonesia, saat ini vape di Singapura semakin marak digunakan di kalangan pemuda.
“Sejauh ini kami menganggap vape seperti tembakau, paling cepat kami kenakan denda. Tapi, itu sudah tidak cukup lagi,” ujar Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pidato peringatan Hari Nasional di markas besar Institut Pendidikan Teknik di Ang Mo Kio, pada 17 Agustus 2025.
Dilansir dari CNA, Wong mengatakan otoritas akan memberlakukan hukuman yang jauh lebih berat, termasuk hukuman penjara. Tidak hanya terhadap pengguna, sanksi yang lebih berat juga akan diberlakukan bagi para penjual vape, terutama yang mengandung zat berbahaya.
Masih dari negara tetangga, Singapura akan menetapkan vape atau rokok elektrik sebagai hal yang berbahaya layaknya narkoba. Seperti di Indonesia, saat ini vape di Singapura semakin marak digunakan di kalangan pemuda.
“Sejauh ini kami menganggap vape seperti tembakau, paling cepat kami kenakan denda. Tapi, itu sudah tidak cukup lagi,” ujar Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pidato peringatan Hari Nasional di markas besar Institut Pendidikan Teknik di Ang Mo Kio, pada 17 Agustus 2025.
Dilansir dari CNA, Wong mengatakan otoritas akan memberlakukan hukuman yang jauh lebih berat, termasuk hukuman penjara. Tidak hanya terhadap pengguna, sanksi yang lebih berat juga akan diberlakukan bagi para penjual vape, terutama yang mengandung zat berbahaya.
Wong menegaskan banyak vape mengandung zat adiktif dan berbahaya, termasuk etomidate, yakni zat anestesi yang bekerja cepat yang dapat berbahaya jika digunakan di luar lingkungan medis yang terkontrol. Singapura turut menyoroti kehadiran vape yang mengandung etomidate dikenal sebagai Kpods baru-baru ini.
“Vape itu sendiri hanyalah alat pengantar. Bahaya sesungguhnya ada pada isinya.Saat ini, bahayanya adalah etomidate. Di masa depan, bisa jadi zat yang lebih berbahaya, lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya,” tegasnya.
Menurut laman resmi NUS News, Singapura menjadi salah satu dari 39 negara di seluruh dunia yang melarang vape sejak 2018. Bagaimana dengan Indonesia?
Wong menegaskan banyak vape mengandung zat adiktif dan berbahaya, termasuk etomidate, yakni zat anestesi yang bekerja cepat yang dapat berbahaya jika digunakan di luar lingkungan medis yang terkontrol. Singapura turut menyoroti kehadiran vape yang mengandung etomidate dikenal sebagai Kpods baru-baru ini.
“Vape itu sendiri hanyalah alat pengantar. Bahaya sesungguhnya ada pada isinya.Saat ini, bahayanya adalah etomidate. Di masa depan, bisa jadi zat yang lebih berbahaya, lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya,” tegasnya.
Menurut laman resmi NUS News, Singapura menjadi salah satu dari 39 negara di seluruh dunia yang melarang vape sejak 2018. Bagaimana dengan Indonesia?
Wong menegaskan banyak vape mengandung zat adiktif dan berbahaya, termasuk etomidate, yakni zat anestesi yang bekerja cepat yang dapat berbahaya jika digunakan di luar lingkungan medis yang terkontrol. Singapura turut menyoroti kehadiran vape yang mengandung etomidate dikenal sebagai Kpods baru-baru ini.
“Vape itu sendiri hanyalah alat pengantar. Bahaya sesungguhnya ada pada isinya.Saat ini, bahayanya adalah etomidate. Di masa depan, bisa jadi zat yang lebih berbahaya, lebih kuat, dan jauh lebih berbahaya,” tegasnya.
Menurut laman resmi NUS News, Singapura menjadi salah satu dari 39 negara di seluruh dunia yang melarang vape sejak 2018. Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia Vape jadi trend lifestyle Gen Z
Di Indonesia Vape jadi trend lifestyle Gen Z
Di Indonesia Vape jadi trend lifestyle Gen Z




Indonesia saat ini masih memperbolehkan vape bahkan diberikan 'tempat khusus' tidak seperti rokok tembakau. Misalnya diperbolehkan digunakan di ruangan AC, di kamar hotel, ruang terbuka hijau, tempat-tempat umum, dan lain sebagai.
Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey jumlah pengguna vape usia 15 tahun ke atas di Indonesia melonjak dari 0,3 persen (sekitar 480 ribu orang) pada tahun 2011 menjadi 3,0 persen (sekitar 6,6 juta) pada tahun 2021. Kenaikan paling drastis terjadi pada kelompok remaja dan dewasa muda yang kerap terpapar narasi "vape lebih aman" di media sosial. Seharusnya fakta ini menjadi alarm bahaya bagi Indonesia.
Indonesia saat ini masih memperbolehkan vape bahkan diberikan 'tempat khusus' tidak seperti rokok tembakau. Misalnya diperbolehkan digunakan di ruangan AC, di kamar hotel, ruang terbuka hijau, tempat-tempat umum, dan lain sebagai.
Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey jumlah pengguna vape usia 15 tahun ke atas di Indonesia melonjak dari 0,3 persen (sekitar 480 ribu orang) pada tahun 2011 menjadi 3,0 persen (sekitar 6,6 juta) pada tahun 2021. Kenaikan paling drastis terjadi pada kelompok remaja dan dewasa muda yang kerap terpapar narasi "vape lebih aman" di media sosial. Seharusnya fakta ini menjadi alarm bahaya bagi Indonesia.
Indonesia saat ini masih memperbolehkan vape bahkan diberikan 'tempat khusus' tidak seperti rokok tembakau. Misalnya diperbolehkan digunakan di ruangan AC, di kamar hotel, ruang terbuka hijau, tempat-tempat umum, dan lain sebagai.
Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey jumlah pengguna vape usia 15 tahun ke atas di Indonesia melonjak dari 0,3 persen (sekitar 480 ribu orang) pada tahun 2011 menjadi 3,0 persen (sekitar 6,6 juta) pada tahun 2021. Kenaikan paling drastis terjadi pada kelompok remaja dan dewasa muda yang kerap terpapar narasi "vape lebih aman" di media sosial. Seharusnya fakta ini menjadi alarm bahaya bagi Indonesia.
"Saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” kata Nina
"Saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” kata Nina
"Saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” kata Nina
"Saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” kata Nina
Nina (23 tahun) mahasiswa salah satu PTN di Medan sudah merasakan keganasan vape. Setiap hari, pod vape menjadi teman setianya untuk sekadar menenangkan diri atau melepas penat sebentar dari tugas-tugas kuliah. Nina percaya, bahwa vape merupakan produk yang lebih aman digunakan dibanding rokok biasa (konvensional).
“Tak seperti rokok biasa yang kadang-kadang mengeluarkan asam hitam dan ada bau penyengatnya, vape justru hanya mengeluarkan uap yang kesannya manis,” kata Nina pada IDN Times.
Sebenarnya, Nina sudah merokok sejak duduk di kelas 1 SMA. Ia bercerita, pergaulan menjadi satu penyebabnya. Ia mengenal rokok dari teman-temannya. “Akhirnya saya ikut-ikutan merokok. Setiap nongkrong, kami pasti merokok. Kalau stres di sekolah, kami merokok. Kalau bolos sekolah pun, kami merokok,” katanya.
Sekitar dua tahun menjadi perokok tembakau, Nina berusaha untuk menghentikan kebiasaannya. Nina mendapat informasi, satu cara berhenti merokok tembakau adalah dengan menggunakan vape.
“Kata teman-teman, vape ada rasanya, asapnya lebih wangi, punya bentuk seperti pulpen dan lucu-lucu. Jadi lebih sehat dan tidak seberbahaya rokok biasa. Dengan ngevape, katanya kita bisa mengontrol sendiri nikotinnya. Akhirnya lama-lama bisa hilang ketagihan dengan rokok biasa. Ya sudah, akhirnya saya pilih vape,” ujarnya.
Nina (23 tahun) mahasiswa salah satu PTN di Medan sudah merasakan keganasan vape. Setiap hari, pod vape menjadi teman setianya untuk sekadar menenangkan diri atau melepas penat sebentar dari tugas-tugas kuliah. Nina percaya, bahwa vape merupakan produk yang lebih aman digunakan dibanding rokok biasa (konvensional).
“Tak seperti rokok biasa yang kadang-kadang mengeluarkan asam hitam dan ada bau penyengatnya, vape justru hanya mengeluarkan uap yang kesannya manis,” kata Nina pada IDN Times.
Sebenarnya, Nina sudah merokok sejak duduk di kelas 1 SMA. Ia bercerita, pergaulan menjadi satu penyebabnya. Ia mengenal rokok dari teman-temannya. “Akhirnya saya ikut-ikutan merokok. Setiap nongkrong, kami pasti merokok. Kalau stres di sekolah, kami merokok. Kalau bolos sekolah pun, kami merokok,” katanya.
Sekitar dua tahun menjadi perokok tembakau, Nina berusaha untuk menghentikan kebiasaannya. Nina mendapat informasi, satu cara berhenti merokok tembakau adalah dengan menggunakan vape.
“Kata teman-teman, vape ada rasanya, asapnya lebih wangi, punya bentuk seperti pulpen dan lucu-lucu. Jadi lebih sehat dan tidak seberbahaya rokok biasa. Dengan ngevape, katanya kita bisa mengontrol sendiri nikotinnya. Akhirnya lama-lama bisa hilang ketagihan dengan rokok biasa. Ya sudah, akhirnya saya pilih vape,” ujarnya.
Nina (23 tahun) mahasiswa salah satu PTN di Medan sudah merasakan keganasan vape. Setiap hari, pod vape menjadi teman setianya untuk sekadar menenangkan diri atau melepas penat sebentar dari tugas-tugas kuliah. Nina percaya, bahwa vape merupakan produk yang lebih aman digunakan dibanding rokok biasa (konvensional).
“Tak seperti rokok biasa yang kadang-kadang mengeluarkan asam hitam dan ada bau penyengatnya, vape justru hanya mengeluarkan uap yang kesannya manis,” kata Nina pada IDN Times.
Sebenarnya, Nina sudah merokok sejak duduk di kelas 1 SMA. Ia bercerita, pergaulan menjadi satu penyebabnya. Ia mengenal rokok dari teman-temannya. “Akhirnya saya ikut-ikutan merokok. Setiap nongkrong, kami pasti merokok. Kalau stres di sekolah, kami merokok. Kalau bolos sekolah pun, kami merokok,” katanya.
Sekitar dua tahun menjadi perokok tembakau, Nina berusaha untuk menghentikan kebiasaannya. Nina mendapat informasi, satu cara berhenti merokok tembakau adalah dengan menggunakan vape.
“Kata teman-teman, vape ada rasanya, asapnya lebih wangi, punya bentuk seperti pulpen dan lucu-lucu. Jadi lebih sehat dan tidak seberbahaya rokok biasa. Dengan ngevape, katanya kita bisa mengontrol sendiri nikotinnya. Akhirnya lama-lama bisa hilang ketagihan dengan rokok biasa. Ya sudah, akhirnya saya pilih vape,” ujarnya.
Alih-alih mengontrol nikotin, Nina mengaku menjadi pengguna vape yang sangat aktif, bahkan lebih aktif dibandingkan saat ia mengisap rokok tembakau. Tak cuma ngevape di kampus dan di kamar indekos setiap hari, Nina juga bahkan ikut komunitas vape di Medan. Dari komunitas ini, Nina menyadari bahwa vape dianggap biasa saja di Medan, termasuk jika penggunanya adalah perempuan berhijab seperti dia.
“Di sini (Medan), biasa saja kalau perempuan berhijab menggunakan vape di tempat umum. Hal ini membuat saya makin percaya diri. Bahkan alat vape, saya gantungkan saja di leher. Tak terhitung bentuk pod dan aneka liquid yang sudah saya gunakan. Pokoknya saya yakin saja kalau vape membantu mengurangi ketagihan rokok biasa,” katanya.
Namun semua keyakinannya itu runtuh pada suatu sore di akhir tahun 2022. Saat berada di kamar indekos, hidungnya mengeluarkan darah (mimisan). Nina tak menaruh curiga. Ia menduga, mimisan tersebut karena faktor cuaca Kota Medan yang panas dan khawatir ia terkena Covid-19 yang masih marak kasusnya saat itu. Nina pun mengabaikan mimisannya.
“Saya hanya berpikir mungkin karena kurang istirahat atau kurang minum air putih. Saya masih tetap pakai vape. Tapi lama kelamaan, keluhan saya tidak hilang, justru bertambah. Kepala pusing dan sering flu. Saya coba minum obat yang dibeli di warung, tapi tak sembuh-sembuh. Oleh mama, saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” terangnya.
Alih-alih mengontrol nikotin, Nina mengaku menjadi pengguna vape yang sangat aktif, bahkan lebih aktif dibandingkan saat ia mengisap rokok tembakau. Tak cuma ngevape di kampus dan di kamar indekos setiap hari, Nina juga bahkan ikut komunitas vape di Medan. Dari komunitas ini, Nina menyadari bahwa vape dianggap biasa saja di Medan, termasuk jika penggunanya adalah perempuan berhijab seperti dia.
“Di sini (Medan), biasa saja kalau perempuan berhijab menggunakan vape di tempat umum. Hal ini membuat saya makin percaya diri. Bahkan alat vape, saya gantungkan saja di leher. Tak terhitung bentuk pod dan aneka liquid yang sudah saya gunakan. Pokoknya saya yakin saja kalau vape membantu mengurangi ketagihan rokok biasa,” katanya.
Namun semua keyakinannya itu runtuh pada suatu sore di akhir tahun 2022. Saat berada di kamar indekos, hidungnya mengeluarkan darah (mimisan). Nina tak menaruh curiga. Ia menduga, mimisan tersebut karena faktor cuaca Kota Medan yang panas dan khawatir ia terkena Covid-19 yang masih marak kasusnya saat itu. Nina pun mengabaikan mimisannya.
“Saya hanya berpikir mungkin karena kurang istirahat atau kurang minum air putih. Saya masih tetap pakai vape. Tapi lama kelamaan, keluhan saya tidak hilang, justru bertambah. Kepala pusing dan sering flu. Saya coba minum obat yang dibeli di warung, tapi tak sembuh-sembuh. Oleh mama, saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” terangnya.
Alih-alih mengontrol nikotin, Nina mengaku menjadi pengguna vape yang sangat aktif, bahkan lebih aktif dibandingkan saat ia mengisap rokok tembakau. Tak cuma ngevape di kampus dan di kamar indekos setiap hari, Nina juga bahkan ikut komunitas vape di Medan. Dari komunitas ini, Nina menyadari bahwa vape dianggap biasa saja di Medan, termasuk jika penggunanya adalah perempuan berhijab seperti dia.
“Di sini (Medan), biasa saja kalau perempuan berhijab menggunakan vape di tempat umum. Hal ini membuat saya makin percaya diri. Bahkan alat vape, saya gantungkan saja di leher. Tak terhitung bentuk pod dan aneka liquid yang sudah saya gunakan. Pokoknya saya yakin saja kalau vape membantu mengurangi ketagihan rokok biasa,” katanya.
Namun semua keyakinannya itu runtuh pada suatu sore di akhir tahun 2022. Saat berada di kamar indekos, hidungnya mengeluarkan darah (mimisan). Nina tak menaruh curiga. Ia menduga, mimisan tersebut karena faktor cuaca Kota Medan yang panas dan khawatir ia terkena Covid-19 yang masih marak kasusnya saat itu. Nina pun mengabaikan mimisannya.
“Saya hanya berpikir mungkin karena kurang istirahat atau kurang minum air putih. Saya masih tetap pakai vape. Tapi lama kelamaan, keluhan saya tidak hilang, justru bertambah. Kepala pusing dan sering flu. Saya coba minum obat yang dibeli di warung, tapi tak sembuh-sembuh. Oleh mama, saya disarankan berobat ke dokter. Pertama ke dokter umum dan diberikan obat. Tapi tak sembuh juga. Karena tak sembuh, saya dirujuk ke spesialis THT. Berdasarkan pemeriksaan lengkap, saya terkena sinusitis kronis gara-gara sering vaping,” terangnya.
Tak hanya Gen Z, Bambang (50 tahun) warga Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mengaku sejak September lalu kapok setelah 1,5 tahun aktif nge-vape. Awalnya ingin berhenti merokok dengan beralih ke rokok elektrik. Namun, setahun lebih mengunakan rokok elektrik, dia malah merasakan batuk berdahak berlendir.
"Saya berhenti karena ada dampak negatifnya, menyiksa sekali, gak bisa tidur dibikin. Karena penumpukan lendir di tenggorokan sehingga kayak asma. Batuknya bukan kayak TBC. Makanya saya sampai bingung dikasih obat batuk, gak bisa. Sehingga mencoba minum susu etawalin, dan sekarang mulai berkurang gejala batuknya," tuturnya.
Tak hanya Gen Z, Bambang (50 tahun) warga Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mengaku sejak September lalu kapok setelah 1,5 tahun aktif nge-vape. Awalnya ingin berhenti merokok dengan beralih ke rokok elektrik. Namun, setahun lebih mengunakan rokok elektrik, dia malah merasakan batuk berdahak berlendir.
"Saya berhenti karena ada dampak negatifnya, menyiksa sekali, gak bisa tidur dibikin. Karena penumpukan lendir di tenggorokan sehingga kayak asma. Batuknya bukan kayak TBC. Makanya saya sampai bingung dikasih obat batuk, gak bisa. Sehingga mencoba minum susu etawalin, dan sekarang mulai berkurang gejala batuknya," tuturnya.
Tak hanya Gen Z, Bambang (50 tahun) warga Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mengaku sejak September lalu kapok setelah 1,5 tahun aktif nge-vape. Awalnya ingin berhenti merokok dengan beralih ke rokok elektrik. Namun, setahun lebih mengunakan rokok elektrik, dia malah merasakan batuk berdahak berlendir.
"Saya berhenti karena ada dampak negatifnya, menyiksa sekali, gak bisa tidur dibikin. Karena penumpukan lendir di tenggorokan sehingga kayak asma. Batuknya bukan kayak TBC. Makanya saya sampai bingung dikasih obat batuk, gak bisa. Sehingga mencoba minum susu etawalin, dan sekarang mulai berkurang gejala batuknya," tuturnya.
Muji (40), salah seorang guru madrasah di Kota Mataram juga berhenti menggunakan rokok elektrik sejak 2025 setelah mengetahui bahwa rokok elektrik lebih berbahaya daripada rokok konvensional.
Muji mengaku tergiur dengan iklan bahwa rokok elektrik merupakan alternatif yang lebih aman dari rokok konvensional. Di samping kemasannya yang lebih praktis dan tidak perlu bawa korek, rokok elektrik bisa langsung diisap.
"Setelah saya baca artikel, itu lebih berbahaya daripada rokok konvensional," tambah Muji.
Sedangkan seorang ASN NTB, Edi (40) mengungkapkan alasan berhenti menggunakan vape pada 2021 karena giginya ngilu setelah banyaknya liquid rokok elektrik lokal. Ia aktif menggunakan vape sejak 2015 hingga 2021.
"Kalau dulu liquid-nya dari luar negeri, Malaysia dan Amerika Serikat. sekarang banyak yang lokal. Ada sih yang enak sebagian, cuma lebih ke manis. Jadi gigi yang sakit kalau yang saya alami pribadi. Lebih ngilu gigi saya, itu alasan saya kenapa berhenti memakai vape, sekarang masih sih alat-alatnya," kata dia.
Menurutnya, rokok elektrik produk lokal memang banyak yang bagus tetapi rasanya manis. Sehingga, dia merasa tidak cocok lagi menggunakan vape.
Muji (40), salah seorang guru madrasah di Kota Mataram juga berhenti menggunakan rokok elektrik sejak 2025 setelah mengetahui bahwa rokok elektrik lebih berbahaya daripada rokok konvensional.
Muji mengaku tergiur dengan iklan bahwa rokok elektrik merupakan alternatif yang lebih aman dari rokok konvensional. Di samping kemasannya yang lebih praktis dan tidak perlu bawa korek, rokok elektrik bisa langsung diisap.
"Setelah saya baca artikel, itu lebih berbahaya daripada rokok konvensional," tambah Muji.
Sedangkan seorang ASN NTB, Edi (40) mengungkapkan alasan berhenti menggunakan vape pada 2021 karena giginya ngilu setelah banyaknya liquid rokok elektrik lokal. Ia aktif menggunakan vape sejak 2015 hingga 2021.
"Kalau dulu liquid-nya dari luar negeri, Malaysia dan Amerika Serikat. sekarang banyak yang lokal. Ada sih yang enak sebagian, cuma lebih ke manis. Jadi gigi yang sakit kalau yang saya alami pribadi. Lebih ngilu gigi saya, itu alasan saya kenapa berhenti memakai vape, sekarang masih sih alat-alatnya," kata dia.
Menurutnya, rokok elektrik produk lokal memang banyak yang bagus tetapi rasanya manis. Sehingga, dia merasa tidak cocok lagi menggunakan vape.
Muji (40), salah seorang guru madrasah di Kota Mataram juga berhenti menggunakan rokok elektrik sejak 2025 setelah mengetahui bahwa rokok elektrik lebih berbahaya daripada rokok konvensional.
Muji mengaku tergiur dengan iklan bahwa rokok elektrik merupakan alternatif yang lebih aman dari rokok konvensional. Di samping kemasannya yang lebih praktis dan tidak perlu bawa korek, rokok elektrik bisa langsung diisap.
"Setelah saya baca artikel, itu lebih berbahaya daripada rokok konvensional," tambah Muji.
Sedangkan seorang ASN NTB, Edi (40) mengungkapkan alasan berhenti menggunakan vape pada 2021 karena giginya ngilu setelah banyaknya liquid rokok elektrik lokal. Ia aktif menggunakan vape sejak 2015 hingga 2021.
"Kalau dulu liquid-nya dari luar negeri, Malaysia dan Amerika Serikat. sekarang banyak yang lokal. Ada sih yang enak sebagian, cuma lebih ke manis. Jadi gigi yang sakit kalau yang saya alami pribadi. Lebih ngilu gigi saya, itu alasan saya kenapa berhenti memakai vape, sekarang masih sih alat-alatnya," kata dia.
Menurutnya, rokok elektrik produk lokal memang banyak yang bagus tetapi rasanya manis. Sehingga, dia merasa tidak cocok lagi menggunakan vape.
Ahli kesehatan tegaskan vape bukan solusi untuk berhenti merokok
Ahli kesehatan tegaskan vape bukan solusi untuk berhenti merokok
Ahli kesehatan tegaskan vape bukan solusi untuk berhenti merokok




Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta mengatakan kasus yang dialami Nina memberi gambaran bahwa bahaya vape tidak hanya mengancam penggunanya, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan sampai muncul anggapan, bahwa asap vape adalah ‘versi bersih’ dari rokok tembakau, vape lebih aman dari rokok tembakau, atau vape merupakan solusi untuk berhenti merokok. Agus membantah semua anggapan ini.
Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta mengatakan kasus yang dialami Nina memberi gambaran bahwa bahaya vape tidak hanya mengancam penggunanya, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan sampai muncul anggapan, bahwa asap vape adalah ‘versi bersih’ dari rokok tembakau, vape lebih aman dari rokok tembakau, atau vape merupakan solusi untuk berhenti merokok. Agus membantah semua anggapan ini.
Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), spesialis paru dari RS Persahabatan Jakarta mengatakan kasus yang dialami Nina memberi gambaran bahwa bahaya vape tidak hanya mengancam penggunanya, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan sampai muncul anggapan, bahwa asap vape adalah ‘versi bersih’ dari rokok tembakau, vape lebih aman dari rokok tembakau, atau vape merupakan solusi untuk berhenti merokok. Agus membantah semua anggapan ini.
"Di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
"Di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
"Di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
"Di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
Prof. Dr. dr. Agus menyebut, di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. "Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
Baginya, vape bukan solusi, melainkan sebuah bentuk adiksi baru yang membawa bahaya laten. Ia menyebut, sering kali masyarakat tidak memahami bahwa di balik uap beraroma manis, tersembunyi tiga kesamaan bahaya antara vape dan rokok biasa. Agus menguraikan, ada tiga "dosa" utama vape yang setara dengan rokok tembakau, yaitu memiliki adiksi yang sama, mengandung karsinogen, dan menghasilkan partikel-partikel halus.
Prof. Dr. dr. Agus menyebut, di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. "Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
Baginya, vape bukan solusi, melainkan sebuah bentuk adiksi baru yang membawa bahaya laten. Ia menyebut, sering kali masyarakat tidak memahami bahwa di balik uap beraroma manis, tersembunyi tiga kesamaan bahaya antara vape dan rokok biasa. Agus menguraikan, ada tiga "dosa" utama vape yang setara dengan rokok tembakau, yaitu memiliki adiksi yang sama, mengandung karsinogen, dan menghasilkan partikel-partikel halus.
Prof. Dr. dr. Agus menyebut, di balik uap vape beraroma manis tersebut, para dokter spesialis paru melihat sebuah fakta tersembunyi berupa ancaman kesehatan ancaman kesehatan yang jauh lebih licik dan gelap. "Anggapan versi bersih, lebih aman, dan solusi tentu saja tidak benar," kata Agus.
Baginya, vape bukan solusi, melainkan sebuah bentuk adiksi baru yang membawa bahaya laten. Ia menyebut, sering kali masyarakat tidak memahami bahwa di balik uap beraroma manis, tersembunyi tiga kesamaan bahaya antara vape dan rokok biasa. Agus menguraikan, ada tiga "dosa" utama vape yang setara dengan rokok tembakau, yaitu memiliki adiksi yang sama, mengandung karsinogen, dan menghasilkan partikel-partikel halus.
Pertama, nikotin menginduksi aterosklerosis yang berisiko menyebabkan stroke dan penyakit jantung koroner. Kedua, studi terbaru menunjukkan vape mengandung bahan karsinogen, seperti akrolein, aldehid, dan kelompok logam yang terlarut pada cairannya. Ketiga, produk menghasilkan particulate matter (PM), yang bersifat merangsang peradangan atau inflamasi ketika terhirup dalam jangka panjang.
Menurutnya, dampak kesehatan dari vape bukan lagi ancaman teoritis. Sebagai klinisi, ia dan sejawatnya di Indonesia sudah menemukan kasus-kasus nyata. Risiko yang paling sering ditemui adalah peningkatan infeksi paru seperti pneumonia, iritasi yang memicu batuk kronis, hingga serangan parah pada pasien yang sudah memiliki asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).
Pertama, nikotin menginduksi aterosklerosis yang berisiko menyebabkan stroke dan penyakit jantung koroner. Kedua, studi terbaru menunjukkan vape mengandung bahan karsinogen, seperti akrolein, aldehid, dan kelompok logam yang terlarut pada cairannya. Ketiga, produk menghasilkan particulate matter (PM), yang bersifat merangsang peradangan atau inflamasi ketika terhirup dalam jangka panjang.
Menurutnya, dampak kesehatan dari vape bukan lagi ancaman teoritis. Sebagai klinisi, ia dan sejawatnya di Indonesia sudah menemukan kasus-kasus nyata. Risiko yang paling sering ditemui adalah peningkatan infeksi paru seperti pneumonia, iritasi yang memicu batuk kronis, hingga serangan parah pada pasien yang sudah memiliki asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).
Pertama, nikotin menginduksi aterosklerosis yang berisiko menyebabkan stroke dan penyakit jantung koroner. Kedua, studi terbaru menunjukkan vape mengandung bahan karsinogen, seperti akrolein, aldehid, dan kelompok logam yang terlarut pada cairannya. Ketiga, produk menghasilkan particulate matter (PM), yang bersifat merangsang peradangan atau inflamasi ketika terhirup dalam jangka panjang.
Menurutnya, dampak kesehatan dari vape bukan lagi ancaman teoritis. Sebagai klinisi, ia dan sejawatnya di Indonesia sudah menemukan kasus-kasus nyata. Risiko yang paling sering ditemui adalah peningkatan infeksi paru seperti pneumonia, iritasi yang memicu batuk kronis, hingga serangan parah pada pasien yang sudah memiliki asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kasus-kasus akut dan parah, yaitu penyakit perlukaan paru akut bernama EVALI (e-cigarettes atau vaping product use-associated acute lung injury) yang sempat menjadi epidemi di luar negeri. Kasus ini menyebabkan gagal napas hingga kematian.
Hingga kini, argumen umum yang diajukan oleh para pengguna rokok elektrik adalah vape berfungsi sebagai alat transisi atau "jembatan" untuk menghentikan kecanduan nikotin sepenuhnya juga dibantah Agus.
"WHO sendiri menyatakan bahwa vape ini tidak memenuhi kaidah-kaidah NRT (Nicotine Replacement Therapy)," tegasnya.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kasus-kasus akut dan parah, yaitu penyakit perlukaan paru akut bernama EVALI (e-cigarettes atau vaping product use-associated acute lung injury) yang sempat menjadi epidemi di luar negeri. Kasus ini menyebabkan gagal napas hingga kematian.
Hingga kini, argumen umum yang diajukan oleh para pengguna rokok elektrik adalah vape berfungsi sebagai alat transisi atau "jembatan" untuk menghentikan kecanduan nikotin sepenuhnya juga dibantah Agus.
"WHO sendiri menyatakan bahwa vape ini tidak memenuhi kaidah-kaidah NRT (Nicotine Replacement Therapy)," tegasnya.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kasus-kasus akut dan parah, yaitu penyakit perlukaan paru akut bernama EVALI (e-cigarettes atau vaping product use-associated acute lung injury) yang sempat menjadi epidemi di luar negeri. Kasus ini menyebabkan gagal napas hingga kematian.
Hingga kini, argumen umum yang diajukan oleh para pengguna rokok elektrik adalah vape berfungsi sebagai alat transisi atau "jembatan" untuk menghentikan kecanduan nikotin sepenuhnya juga dibantah Agus.
"WHO sendiri menyatakan bahwa vape ini tidak memenuhi kaidah-kaidah NRT (Nicotine Replacement Therapy)," tegasnya.
Agus menilai, vape bukan merupakan alat terapi melainkan sekadar pengalihan konsumsi nikotin. Menurutnya, jika sebuah alat bantu penghentian rokok berhasil, maka alat tersebut harus dihentikan pemakaiannya secara bertahap. Namun sebaliknya, pengguna vape hanya memindahkan sumber nikotin dari tembakau ke uap dan cenderung mempertahankan kebiasaan tersebut.
"Terapi medis yang benar harus dimulai dengan dosis tinggi lalu diturunkan (step down) secara bertahap. Sebaliknya, pengguna vape cenderung menaikkan dosis (step up) cairannya, karena didorong oleh adiksi nikotin atau rasa kurang puas," katanya.
Agus menilai, vape bukan merupakan alat terapi melainkan sekadar pengalihan konsumsi nikotin. Menurutnya, jika sebuah alat bantu penghentian rokok berhasil, maka alat tersebut harus dihentikan pemakaiannya secara bertahap. Namun sebaliknya, pengguna vape hanya memindahkan sumber nikotin dari tembakau ke uap dan cenderung mempertahankan kebiasaan tersebut.
"Terapi medis yang benar harus dimulai dengan dosis tinggi lalu diturunkan (step down) secara bertahap. Sebaliknya, pengguna vape cenderung menaikkan dosis (step up) cairannya, karena didorong oleh adiksi nikotin atau rasa kurang puas," katanya.
Agus menilai, vape bukan merupakan alat terapi melainkan sekadar pengalihan konsumsi nikotin. Menurutnya, jika sebuah alat bantu penghentian rokok berhasil, maka alat tersebut harus dihentikan pemakaiannya secara bertahap. Namun sebaliknya, pengguna vape hanya memindahkan sumber nikotin dari tembakau ke uap dan cenderung mempertahankan kebiasaan tersebut.
"Terapi medis yang benar harus dimulai dengan dosis tinggi lalu diturunkan (step down) secara bertahap. Sebaliknya, pengguna vape cenderung menaikkan dosis (step up) cairannya, karena didorong oleh adiksi nikotin atau rasa kurang puas," katanya.
Vape dan Rokok Konvensional sama-sama berbahaya
Vape dan Rokok Konvensional sama-sama berbahaya
Vape dan Rokok Konvensional sama-sama berbahaya
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan bahwa penggunaan vape berisiko serius terhadap kesehatan. Iklan vape atau rokok elektrik yang dicitrakan lebih aman justru sebaliknya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan bahwa penggunaan vape berisiko serius terhadap kesehatan. Iklan vape atau rokok elektrik yang dicitrakan lebih aman justru sebaliknya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan bahwa penggunaan vape berisiko serius terhadap kesehatan. Iklan vape atau rokok elektrik yang dicitrakan lebih aman justru sebaliknya.
"Kalau bicara iklan dan sebagainya berlawanan dengan citra lebih aman. Ada kalimat citra lebih aman menggunakan Vape. Sebenarnya Vape itu memiliki serangkaian risiko kesehatan yang serius," kata Fikri
"Kalau bicara iklan dan sebagainya berlawanan dengan citra lebih aman. Ada kalimat citra lebih aman menggunakan Vape. Sebenarnya Vape itu memiliki serangkaian risiko kesehatan yang serius," kata Fikri
"Kalau bicara iklan dan sebagainya berlawanan dengan citra lebih aman. Ada kalimat citra lebih aman menggunakan Vape. Sebenarnya Vape itu memiliki serangkaian risiko kesehatan yang serius," kata Fikri
"Kalau bicara iklan dan sebagainya berlawanan dengan citra lebih aman. Ada kalimat citra lebih aman menggunakan Vape. Sebenarnya Vape itu memiliki serangkaian risiko kesehatan yang serius," kata Fikri
Risiko kesehatan yang akan dialami pengguna Vape adalah kecanduan nikotin. Sehingga rokok elektrik sama dampaknya dengan rokok konvensional yaitu dapat merusak perkembangan otak remaja.
Kemudian, pengguna rokok elektrik juga akan mengalami kerusakan paru-paru dalam jangka panjang. Menggunakan rokok elektrik dapat menyebabkan penyakit paru-paru akut dan kerusakan saluran pernapasan permanen.
"Ketiga, risiko terjadi masalah kardiovaskular. Nikotin ini meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Kemudian risiko kanker, paparan senyawa karsinogen ada kandungannya meningkatkan risiko kanker," paparnya.
Risiko kesehatan yang akan dialami pengguna Vape adalah kecanduan nikotin. Sehingga rokok elektrik sama dampaknya dengan rokok konvensional yaitu dapat merusak perkembangan otak remaja.
Kemudian, pengguna rokok elektrik juga akan mengalami kerusakan paru-paru dalam jangka panjang. Menggunakan rokok elektrik dapat menyebabkan penyakit paru-paru akut dan kerusakan saluran pernapasan permanen.
"Ketiga, risiko terjadi masalah kardiovaskular. Nikotin ini meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Kemudian risiko kanker, paparan senyawa karsinogen ada kandungannya meningkatkan risiko kanker," paparnya.
Risiko kesehatan yang akan dialami pengguna Vape adalah kecanduan nikotin. Sehingga rokok elektrik sama dampaknya dengan rokok konvensional yaitu dapat merusak perkembangan otak remaja.
Kemudian, pengguna rokok elektrik juga akan mengalami kerusakan paru-paru dalam jangka panjang. Menggunakan rokok elektrik dapat menyebabkan penyakit paru-paru akut dan kerusakan saluran pernapasan permanen.
"Ketiga, risiko terjadi masalah kardiovaskular. Nikotin ini meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Kemudian risiko kanker, paparan senyawa karsinogen ada kandungannya meningkatkan risiko kanker," paparnya.
Bahaya lainnya, kata Fikri, rokok elektrik dapat meledak karena ada baterai litium. Hal ini dapat menyebabkan luka bakar serius. "Jadi sebenarnya rokok elektrik itu bukan alternatif yang aman dari rokok konvensional," tambahnya.
Selain risiko kesehatan serius, Fikri mengungkapkan bahwa Vape atau rokok elektrik berevolusi menjadi medium baru yang sangat berbahaya untuk penyalahgunaan obat keras dan narkotika. Kasus seperti ini menimbulkan puncak gunung es dari masalah yang lebih besar.
"Perlu kesadaran publik yang lebih luas mengenai bahaya rokok elektrik serta regulasi tegas yang komprehensif," ujarnya.
Bahaya lainnya, kata Fikri, rokok elektrik dapat meledak karena ada baterai litium. Hal ini dapat menyebabkan luka bakar serius. "Jadi sebenarnya rokok elektrik itu bukan alternatif yang aman dari rokok konvensional," tambahnya.
Selain risiko kesehatan serius, Fikri mengungkapkan bahwa Vape atau rokok elektrik berevolusi menjadi medium baru yang sangat berbahaya untuk penyalahgunaan obat keras dan narkotika. Kasus seperti ini menimbulkan puncak gunung es dari masalah yang lebih besar.
"Perlu kesadaran publik yang lebih luas mengenai bahaya rokok elektrik serta regulasi tegas yang komprehensif," ujarnya.
Bahaya lainnya, kata Fikri, rokok elektrik dapat meledak karena ada baterai litium. Hal ini dapat menyebabkan luka bakar serius. "Jadi sebenarnya rokok elektrik itu bukan alternatif yang aman dari rokok konvensional," tambahnya.
Selain risiko kesehatan serius, Fikri mengungkapkan bahwa Vape atau rokok elektrik berevolusi menjadi medium baru yang sangat berbahaya untuk penyalahgunaan obat keras dan narkotika. Kasus seperti ini menimbulkan puncak gunung es dari masalah yang lebih besar.
"Perlu kesadaran publik yang lebih luas mengenai bahaya rokok elektrik serta regulasi tegas yang komprehensif," ujarnya.
Fikri menjelaskan pemerintah telah membuat regulasi yaitu PP Nomor 28 Tahun 2024 yang merupakan peraturan pelaksanaan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengatur dampak konsumsi produk tembakau. Dalam PP Nomor 28 Tahun 2024, rokok elektrik setara dengan rokok konvensional sebagai produk yang mengandung zat adiktif.
"Kemudian dalam PP itu diatur soal iklan, promosi, dan sponsor produk rokok elektrik di media teknologi informasi seperti internet dan media sosial secara tegas dilarang. Batas usia pembeli minimal usia 18 tahun menjadi 21 tahun," jelas Fikri.
Selain itu, juga dibatasi lokasi penjualan rokok elektrik. Penjualan produk rokok elektrik dilarang dalam radius 200 meter dari lingkungan satuan pendidikan dan tempat bermain.
Untuk itu, Pemprov NTB sedang menggodok revisi Perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Dalam revisi Perda ini, Pemprov NTB akan mengatur lebih ketat lagi terkait larangan iklan dan promosi rokok elektrik.
"Dalam Perda sebelumnya tidak muncul kaitannya dengan rokok elektrik makanya kita perbaharui di Perda itu," ungkap dia.
Fikri menjelaskan pemerintah telah membuat regulasi yaitu PP Nomor 28 Tahun 2024 yang merupakan peraturan pelaksanaan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengatur dampak konsumsi produk tembakau. Dalam PP Nomor 28 Tahun 2024, rokok elektrik setara dengan rokok konvensional sebagai produk yang mengandung zat adiktif.
"Kemudian dalam PP itu diatur soal iklan, promosi, dan sponsor produk rokok elektrik di media teknologi informasi seperti internet dan media sosial secara tegas dilarang. Batas usia pembeli minimal usia 18 tahun menjadi 21 tahun," jelas Fikri.
Selain itu, juga dibatasi lokasi penjualan rokok elektrik. Penjualan produk rokok elektrik dilarang dalam radius 200 meter dari lingkungan satuan pendidikan dan tempat bermain.
Untuk itu, Pemprov NTB sedang menggodok revisi Perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Dalam revisi Perda ini, Pemprov NTB akan mengatur lebih ketat lagi terkait larangan iklan dan promosi rokok elektrik.
"Dalam Perda sebelumnya tidak muncul kaitannya dengan rokok elektrik makanya kita perbaharui di Perda itu," ungkap dia.
Fikri menjelaskan pemerintah telah membuat regulasi yaitu PP Nomor 28 Tahun 2024 yang merupakan peraturan pelaksanaan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengatur dampak konsumsi produk tembakau. Dalam PP Nomor 28 Tahun 2024, rokok elektrik setara dengan rokok konvensional sebagai produk yang mengandung zat adiktif.
"Kemudian dalam PP itu diatur soal iklan, promosi, dan sponsor produk rokok elektrik di media teknologi informasi seperti internet dan media sosial secara tegas dilarang. Batas usia pembeli minimal usia 18 tahun menjadi 21 tahun," jelas Fikri.
Selain itu, juga dibatasi lokasi penjualan rokok elektrik. Penjualan produk rokok elektrik dilarang dalam radius 200 meter dari lingkungan satuan pendidikan dan tempat bermain.
Untuk itu, Pemprov NTB sedang menggodok revisi Perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Dalam revisi Perda ini, Pemprov NTB akan mengatur lebih ketat lagi terkait larangan iklan dan promosi rokok elektrik.
"Dalam Perda sebelumnya tidak muncul kaitannya dengan rokok elektrik makanya kita perbaharui di Perda itu," ungkap dia.
Direktorat Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di Aula UPT Puskesmas Gerung pada Kamis (9/10/2025) lalu. Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan Lombok Barat, Suhaili, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta meningkatkan upaya skrining prilaku merokok usia 10–18 tahun.
Data survei terbaru menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat menjadi daerah dengan angka perokok remaja usia 10-18 tahun tertinggi secara nasional dengan proporsi 12,4 persen dari populasi usia remaja.
Bahkan hasil skrining di beberapa sekolah serta madrasah di Gerung Lombok Barat menunjukkan angka mengejutkan. Pada beberapa sekolah angka perokok aktif cukup tinggi, bahkan ada yang mencapai 75 persen siswa laki-laki yang di survei di satu sekolah tersebut terdeteksi sebagai perokok aktif. Situasi ini memerlukan perhatian bersama lintas sektor agar generasi muda terhindar dari bahaya rokok.
Pemerintah daerah telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok, yang menjadi dasar hukum pengendalian konsumsi rokok di lingkungan publik, termasuk sekolah dan tempat ibadah.
Direktorat Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di Aula UPT Puskesmas Gerung pada Kamis (9/10/2025) lalu. Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan Lombok Barat, Suhaili, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta meningkatkan upaya skrining prilaku merokok usia 10–18 tahun.
Data survei terbaru menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat menjadi daerah dengan angka perokok remaja usia 10-18 tahun tertinggi secara nasional dengan proporsi 12,4 persen dari populasi usia remaja.
Bahkan hasil skrining di beberapa sekolah serta madrasah di Gerung Lombok Barat menunjukkan angka mengejutkan. Pada beberapa sekolah angka perokok aktif cukup tinggi, bahkan ada yang mencapai 75 persen siswa laki-laki yang di survei di satu sekolah tersebut terdeteksi sebagai perokok aktif. Situasi ini memerlukan perhatian bersama lintas sektor agar generasi muda terhindar dari bahaya rokok.
Pemerintah daerah telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok, yang menjadi dasar hukum pengendalian konsumsi rokok di lingkungan publik, termasuk sekolah dan tempat ibadah.
Direktorat Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kampanye Generasi Muda Sehat Tanpa Rokok di Aula UPT Puskesmas Gerung pada Kamis (9/10/2025) lalu. Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan Lombok Barat, Suhaili, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta meningkatkan upaya skrining prilaku merokok usia 10–18 tahun.
Data survei terbaru menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat menjadi daerah dengan angka perokok remaja usia 10-18 tahun tertinggi secara nasional dengan proporsi 12,4 persen dari populasi usia remaja.
Bahkan hasil skrining di beberapa sekolah serta madrasah di Gerung Lombok Barat menunjukkan angka mengejutkan. Pada beberapa sekolah angka perokok aktif cukup tinggi, bahkan ada yang mencapai 75 persen siswa laki-laki yang di survei di satu sekolah tersebut terdeteksi sebagai perokok aktif. Situasi ini memerlukan perhatian bersama lintas sektor agar generasi muda terhindar dari bahaya rokok.
Pemerintah daerah telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok, yang menjadi dasar hukum pengendalian konsumsi rokok di lingkungan publik, termasuk sekolah dan tempat ibadah.
Dear Gen Z, Jangan Tertipu oleh 'Keindahan' Vape
Dear Gen Z, Jangan Tertipu oleh 'Keindahan' Vape
Dear Gen Z, Jangan Tertipu oleh 'Keindahan' Vape
Tak semua yang berbentuk indah, aromanya harum, dan menggunakan rasa buah-buahan itu baik itu baik untuk tubuh manusia. Vape adalah salah satunya. Kemasan liquid vape dan aromanya kerap disandingkan dengan buah-buahan seperti mangga, anggur, strawberry, dan lain sebagainya. Namun tetap saja kandungan nikotin dan lainnya sebagainya itu tidak baik untuk kesehatan.
Tak semua yang berbentuk indah, aromanya harum, dan menggunakan rasa buah-buahan itu baik itu baik untuk tubuh manusia. Vape adalah salah satunya. Kemasan liquid vape dan aromanya kerap disandingkan dengan buah-buahan seperti mangga, anggur, strawberry, dan lain sebagainya. Namun tetap saja kandungan nikotin dan lainnya sebagainya itu tidak baik untuk kesehatan.
Tak semua yang berbentuk indah, aromanya harum, dan menggunakan rasa buah-buahan itu baik itu baik untuk tubuh manusia. Vape adalah salah satunya. Kemasan liquid vape dan aromanya kerap disandingkan dengan buah-buahan seperti mangga, anggur, strawberry, dan lain sebagainya. Namun tetap saja kandungan nikotin dan lainnya sebagainya itu tidak baik untuk kesehatan.







Ardiansyah (24), seorang pekerja perusahaan swasta mengaku mulai menggunakan vape sejak dua tahun terakhir. Alih-alih mengakali kecanduan dari rokok konvensional, ia kini justru terjerembab dalam aktivitas mengonsumsi keduanya.
"Niat awal supaya berhenti merokok, tapi tetap gak bisa. Sekarang saya ngevape, sesekali tetap menghisap rokok konvensional," ujarnya, Senin (17/11/2025).
Ardiansyah (24), seorang pekerja perusahaan swasta mengaku mulai menggunakan vape sejak dua tahun terakhir. Alih-alih mengakali kecanduan dari rokok konvensional, ia kini justru terjerembab dalam aktivitas mengonsumsi keduanya.
"Niat awal supaya berhenti merokok, tapi tetap gak bisa. Sekarang saya ngevape, sesekali tetap menghisap rokok konvensional," ujarnya, Senin (17/11/2025).
Ardiansyah (24), seorang pekerja perusahaan swasta mengaku mulai menggunakan vape sejak dua tahun terakhir. Alih-alih mengakali kecanduan dari rokok konvensional, ia kini justru terjerembab dalam aktivitas mengonsumsi keduanya.
"Niat awal supaya berhenti merokok, tapi tetap gak bisa. Sekarang saya ngevape, sesekali tetap menghisap rokok konvensional," ujarnya, Senin (17/11/2025).
Alasan lainnya, penggunaan vape kini diakui juga sudah menjadi gaya hidup baru di kalangan remaja seusianya. "Ya, bisa dilihat banyak kalangan artis, konten kreator banyak makai vape. Dari penasaran, sekarang kecanduan," lanjut dia.
Meski menyadari gaya hidupnya kini tidak sehat, Ardiansyah mengaku kesulitan mengurangi pemakaian vape maupun rokok konvensional. Meski demikian, ia coba mengimbanginya dengan aktivitas olahraga seperti lari atau sekedar jalan sore.
"Mau ngurangin, tapi susah karena masing-masing punya sensai menghisap sendiri, tapi tetap olahraga juga penting," katanya.
Alasan lainnya, penggunaan vape kini diakui juga sudah menjadi gaya hidup baru di kalangan remaja seusianya. "Ya, bisa dilihat banyak kalangan artis, konten kreator banyak makai vape. Dari penasaran, sekarang kecanduan," lanjut dia.
Meski menyadari gaya hidupnya kini tidak sehat, Ardiansyah mengaku kesulitan mengurangi pemakaian vape maupun rokok konvensional. Meski demikian, ia coba mengimbanginya dengan aktivitas olahraga seperti lari atau sekedar jalan sore.
"Mau ngurangin, tapi susah karena masing-masing punya sensai menghisap sendiri, tapi tetap olahraga juga penting," katanya.
Alasan lainnya, penggunaan vape kini diakui juga sudah menjadi gaya hidup baru di kalangan remaja seusianya. "Ya, bisa dilihat banyak kalangan artis, konten kreator banyak makai vape. Dari penasaran, sekarang kecanduan," lanjut dia.
Meski menyadari gaya hidupnya kini tidak sehat, Ardiansyah mengaku kesulitan mengurangi pemakaian vape maupun rokok konvensional. Meski demikian, ia coba mengimbanginya dengan aktivitas olahraga seperti lari atau sekedar jalan sore.
"Mau ngurangin, tapi susah karena masing-masing punya sensai menghisap sendiri, tapi tetap olahraga juga penting," katanya.

Danu (22) seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi negeri di Bandar Lampung ini mengaku sudah setahun terakhir beralih mengonsumsi vape dan meninggalkan rokok konvensional.
Menurutnya, alasan mengonsumsi vape untuk meninggalkan rokok konvensional terbukti berhasil. Di samping itu, ia juga menyebut cara ini cukup menekan biaya penggeluaran bulanan.
"Kalau dulu satu bungkus rokok Rp35 ribu bisa dua hari, ini beli liquid sebotol Rp100 ribu bisa dipakai sebulan, sama mungkin beli satu catridge (wadah liquid) Rp30 ribu. Kalau device sekali beli," terangnya.
Keputusan Danu beralih menggunakan vape dibandingkan rokok konvensional, sebab, ia meyakini dampak negatif asap liquid terhadap kesehatan lebih bisa ditoleransi daripada mengisap asap tembakau.
"Kalau menurut saya, vape itu bikin saya ngerasa lebih ringan menghisapnya dibanding rokok. Tapi ya tetap, candunya sama-sama aja," ucapnya.
Oleh karena itu, ia berharap kemudian hari nanti dapat sepenuhnya berhenti dari penggunaan vape, sehingga bisa hidup lebih sehat. "Niat berhenti ada, tapi realisasinya itu yang susah," lanjutnya seraya tersenyum kecil," tambah dia.
Danu (22) seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi negeri di Bandar Lampung ini mengaku sudah setahun terakhir beralih mengonsumsi vape dan meninggalkan rokok konvensional.
Menurutnya, alasan mengonsumsi vape untuk meninggalkan rokok konvensional terbukti berhasil. Di samping itu, ia juga menyebut cara ini cukup menekan biaya penggeluaran bulanan.
"Kalau dulu satu bungkus rokok Rp35 ribu bisa dua hari, ini beli liquid sebotol Rp100 ribu bisa dipakai sebulan, sama mungkin beli satu catridge (wadah liquid) Rp30 ribu. Kalau device sekali beli," terangnya.
Keputusan Danu beralih menggunakan vape dibandingkan rokok konvensional, sebab, ia meyakini dampak negatif asap liquid terhadap kesehatan lebih bisa ditoleransi daripada mengisap asap tembakau.
"Kalau menurut saya, vape itu bikin saya ngerasa lebih ringan menghisapnya dibanding rokok. Tapi ya tetap, candunya sama-sama aja," ucapnya.
Oleh karena itu, ia berharap kemudian hari nanti dapat sepenuhnya berhenti dari penggunaan vape, sehingga bisa hidup lebih sehat. "Niat berhenti ada, tapi realisasinya itu yang susah," lanjutnya seraya tersenyum kecil," tambah dia.
Danu (22) seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi negeri di Bandar Lampung ini mengaku sudah setahun terakhir beralih mengonsumsi vape dan meninggalkan rokok konvensional.
Menurutnya, alasan mengonsumsi vape untuk meninggalkan rokok konvensional terbukti berhasil. Di samping itu, ia juga menyebut cara ini cukup menekan biaya penggeluaran bulanan.
"Kalau dulu satu bungkus rokok Rp35 ribu bisa dua hari, ini beli liquid sebotol Rp100 ribu bisa dipakai sebulan, sama mungkin beli satu catridge (wadah liquid) Rp30 ribu. Kalau device sekali beli," terangnya.
Keputusan Danu beralih menggunakan vape dibandingkan rokok konvensional, sebab, ia meyakini dampak negatif asap liquid terhadap kesehatan lebih bisa ditoleransi daripada mengisap asap tembakau.
"Kalau menurut saya, vape itu bikin saya ngerasa lebih ringan menghisapnya dibanding rokok. Tapi ya tetap, candunya sama-sama aja," ucapnya.
Oleh karena itu, ia berharap kemudian hari nanti dapat sepenuhnya berhenti dari penggunaan vape, sehingga bisa hidup lebih sehat. "Niat berhenti ada, tapi realisasinya itu yang susah," lanjutnya seraya tersenyum kecil," tambah dia.
Warga Semarang, Arifman Ardiansyah seorang perokok konvensional selama satu dasawarsa mengaku sempat beralih ke rokok elektrik karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun ia mengakui kebiasaan merokok tembakau susah untuk ditinggalkan meski sudah mecoba vape.
"Pada waktu itu teman-teman saya rame-rame beralih ke vape karena secara penggunaan jauh lebih hemat dan terjangkau harganya. Namun, setelah beberapa kali mencoba langsung berbagai varian bahkan sempat ganti device, saya merasa nge-vape tidak memiliki sensasi seperti rokok (konvensional)," tuturnya.
Arif lebih menikmati sensasi serta rasa mengisap dan mengembuskan rokok filter favoritnya. Hingga kini ia masih menjadi perokok aktif rokok konvensional. Menurut dia, tidak ada yang bisa dibandingkan antara rokok konvensional dan vape, selain praktis karena mudah dibawa dan fleksibel.
"Belum lagi berbagai informasi dan fakta menyebutkan, menghisap vape lebih berisiko negatif terhadap kesehatan. Sebab, residu liquid dan ekstraknya lebih susah dibersihkan dibanding residu rokok," ungkap Arif.
Warga Semarang, Arifman Ardiansyah seorang perokok konvensional selama satu dasawarsa mengaku sempat beralih ke rokok elektrik karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun ia mengakui kebiasaan merokok tembakau susah untuk ditinggalkan meski sudah mecoba vape.
"Pada waktu itu teman-teman saya rame-rame beralih ke vape karena secara penggunaan jauh lebih hemat dan terjangkau harganya. Namun, setelah beberapa kali mencoba langsung berbagai varian bahkan sempat ganti device, saya merasa nge-vape tidak memiliki sensasi seperti rokok (konvensional)," tuturnya.
Arif lebih menikmati sensasi serta rasa mengisap dan mengembuskan rokok filter favoritnya. Hingga kini ia masih menjadi perokok aktif rokok konvensional. Menurut dia, tidak ada yang bisa dibandingkan antara rokok konvensional dan vape, selain praktis karena mudah dibawa dan fleksibel.
"Belum lagi berbagai informasi dan fakta menyebutkan, menghisap vape lebih berisiko negatif terhadap kesehatan. Sebab, residu liquid dan ekstraknya lebih susah dibersihkan dibanding residu rokok," ungkap Arif.
Warga Semarang, Arifman Ardiansyah seorang perokok konvensional selama satu dasawarsa mengaku sempat beralih ke rokok elektrik karena dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun ia mengakui kebiasaan merokok tembakau susah untuk ditinggalkan meski sudah mecoba vape.
"Pada waktu itu teman-teman saya rame-rame beralih ke vape karena secara penggunaan jauh lebih hemat dan terjangkau harganya. Namun, setelah beberapa kali mencoba langsung berbagai varian bahkan sempat ganti device, saya merasa nge-vape tidak memiliki sensasi seperti rokok (konvensional)," tuturnya.
Arif lebih menikmati sensasi serta rasa mengisap dan mengembuskan rokok filter favoritnya. Hingga kini ia masih menjadi perokok aktif rokok konvensional. Menurut dia, tidak ada yang bisa dibandingkan antara rokok konvensional dan vape, selain praktis karena mudah dibawa dan fleksibel.
"Belum lagi berbagai informasi dan fakta menyebutkan, menghisap vape lebih berisiko negatif terhadap kesehatan. Sebab, residu liquid dan ekstraknya lebih susah dibersihkan dibanding residu rokok," ungkap Arif.
Dokter Anak Ahli Respirologi RSUP Mohammad Hoesin Palembang, Fifi Sofiah membeberkan tak banyak yang tahu dan sadar akan dampak asap vape pada anak. Menurutnya nikotin dalam rokok elektrik sangat berbahaya terhadap saluran pernapasan. Terutama pada mereka yang berisiko rentan terhadap gangguan saluran napas.
"Terutama bahaya vape terhadap anak-anak. Belum lagi sekarang banyak anak-anak nge-vape dengan istilah mengikuti tren. Banyak yang mengira vape lebih aman. Padahal komposisinya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional dan tetap mengandung nikotin yang berbahaya bagi saluran pernapasan," jelas dia.
Fifi menyampaikan, efek penggunaan vape tidak hanya menyerang paru-paru. Tetapi bisa ke organ lainnya, ke otak dan jantung lalu potensi mengaktifkan sel kanker dalam tubuh. Kondisi bahaya ini, kata dia semestinya benar-benar jadi perhatian. Sebab, kini tren vape kini mulai menyasar usia anak-anak, bahkan jenjang SD, SMP, hingga SMA.
"Bentuk vape yang lebih stylish menjadi faktor yang membuat anak muda tertarik mencoba," jelasnya.
Bahaya vape, lanjut Fifi bisa berdampak negatif bagi mereka yang kena pajanan (paparan). Bahanya tidak hanya untuk mereka yang pengguna vape aktif, tetapi juga vape pasif. So, ia mengajak Gen Z, Gen Alpha dan semuanya jangan Tertipu oleh 'Keindahan' Vape.
"Pengguna vape aktif atau pasif keduanya mendapatkan efek sama. Tapi kita tidak pernah bilang sebagai dokter, bahaya yang mengancam pengguna vape aktif sama berbahaya dengan pasif," ujar Fifi.(*)
Dokter Anak Ahli Respirologi RSUP Mohammad Hoesin Palembang, Fifi Sofiah membeberkan tak banyak yang tahu dan sadar akan dampak asap vape pada anak. Menurutnya nikotin dalam rokok elektrik sangat berbahaya terhadap saluran pernapasan. Terutama pada mereka yang berisiko rentan terhadap gangguan saluran napas.
"Terutama bahaya vape terhadap anak-anak. Belum lagi sekarang banyak anak-anak nge-vape dengan istilah mengikuti tren. Banyak yang mengira vape lebih aman. Padahal komposisinya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional dan tetap mengandung nikotin yang berbahaya bagi saluran pernapasan," jelas dia.
Fifi menyampaikan, efek penggunaan vape tidak hanya menyerang paru-paru. Tetapi bisa ke organ lainnya, ke otak dan jantung lalu potensi mengaktifkan sel kanker dalam tubuh. Kondisi bahaya ini, kata dia semestinya benar-benar jadi perhatian. Sebab, kini tren vape kini mulai menyasar usia anak-anak, bahkan jenjang SD, SMP, hingga SMA.
"Bentuk vape yang lebih stylish menjadi faktor yang membuat anak muda tertarik mencoba," jelasnya.
Bahaya vape, lanjut Fifi bisa berdampak negatif bagi mereka yang kena pajanan (paparan). Bahanya tidak hanya untuk mereka yang pengguna vape aktif, tetapi juga vape pasif. So, ia mengajak Gen Z, Gen Alpha dan semuanya jangan Tertipu oleh 'Keindahan' Vape.
"Pengguna vape aktif atau pasif keduanya mendapatkan efek sama. Tapi kita tidak pernah bilang sebagai dokter, bahaya yang mengancam pengguna vape aktif sama berbahaya dengan pasif," ujar Fifi.(*)
Dokter Anak Ahli Respirologi RSUP Mohammad Hoesin Palembang, Fifi Sofiah membeberkan tak banyak yang tahu dan sadar akan dampak asap vape pada anak. Menurutnya nikotin dalam rokok elektrik sangat berbahaya terhadap saluran pernapasan. Terutama pada mereka yang berisiko rentan terhadap gangguan saluran napas.
"Terutama bahaya vape terhadap anak-anak. Belum lagi sekarang banyak anak-anak nge-vape dengan istilah mengikuti tren. Banyak yang mengira vape lebih aman. Padahal komposisinya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional dan tetap mengandung nikotin yang berbahaya bagi saluran pernapasan," jelas dia.
Fifi menyampaikan, efek penggunaan vape tidak hanya menyerang paru-paru. Tetapi bisa ke organ lainnya, ke otak dan jantung lalu potensi mengaktifkan sel kanker dalam tubuh. Kondisi bahaya ini, kata dia semestinya benar-benar jadi perhatian. Sebab, kini tren vape kini mulai menyasar usia anak-anak, bahkan jenjang SD, SMP, hingga SMA.
"Bentuk vape yang lebih stylish menjadi faktor yang membuat anak muda tertarik mencoba," jelasnya.
Bahaya vape, lanjut Fifi bisa berdampak negatif bagi mereka yang kena pajanan (paparan). Bahanya tidak hanya untuk mereka yang pengguna vape aktif, tetapi juga vape pasif. So, ia mengajak Gen Z, Gen Alpha dan semuanya jangan Tertipu oleh 'Keindahan' Vape.
"Pengguna vape aktif atau pasif keduanya mendapatkan efek sama. Tapi kita tidak pernah bilang sebagai dokter, bahaya yang mengancam pengguna vape aktif sama berbahaya dengan pasif," ujar Fifi.(*)
Disusun oleh
Tim Editorial
Arifin Al Alamudi - Project Lead / Editor
Yogie Fadila - Editor
Indah Permata Sari - Reporter
M Nasir - Reporter
Feny Maulia Agustin - Reporter
Anggun Puspitoningrum - Reporter
Tama Yudha Wiguna - Reporter
Khusnul Hasana - Reporter
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Arifin Al Alamudi - Project Lead / Editor
Yogie Fadila - Editor
Indah Permata Sari - Reporter
M Nasir - Reporter
Feny Maulia Agustin - Reporter
Anggun Puspitoningrum - Reporter
Tama Yudha Wiguna - Reporter
Khusnul Hasana - Reporter
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Arifin Al Alamudi - Project Lead / Editor
Yogie Fadila - Editor
Indah Permata Sari - Reporter
M Nasir - Reporter
Feny Maulia Agustin - Reporter
Anggun Puspitoningrum - Reporter
Tama Yudha Wiguna - Reporter
Khusnul Hasana - Reporter
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Arifin Al Alamudi - Project Lead / Editor
Yogie Fadila - Editor
Indah Permata Sari - Reporter
M Nasir - Reporter
Feny Maulia Agustin - Reporter
Anggun Puspitoningrum - Reporter
Tama Yudha Wiguna - Reporter
Khusnul Hasana - Reporter
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
Disusun oleh
Tim Editorial
Arifin Al Alamudi - Project Lead / Editor
Yogie Fadila - Editor
Indah Permata Sari - Reporter
M Nasir - Reporter
Feny Maulia Agustin - Reporter
Anggun Puspitoningrum - Reporter
Tama Yudha Wiguna - Reporter
Khusnul Hasana - Reporter
Tim Product
Andzarrahim - Sr Product Manager
Rafiio Ardhika - Product Designer
Hanafi Halim - Web Specialist
Kembali ke IDNTimes.com
© 2025 IDN. All Rights Reserved.
© 2025 IDN. All Rights Reserved.
© 2025 IDN. All Rights Reserved.
© 2025 IDN. All Rights Reserved.
© 2025 IDN. All Rights Reserved.