Contracts Team

IDN Times - Satu jam dari Kota Denpasar, di bawah naungan pepohonan rindang Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, seorang perempuan sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang pernah diajarkan oleh nenek moyang.

Namanya Dewa Ayu Made atau akrab dipanggil Made Masak. Wajah polos tanpa riasan, nada bicaranya tegas dan lugas. Ia menyapa ramah sampai kedua ujung bibirnya ke atas, memperlihatkan deretan gigi bagian atas.

Semua bermula sepuluh tahun lalu, saat Made menekuni seni memasak dari hasil kebun sendiri. Kreasi masakannya berkembang seiring mengenali aneka tanaman yang tumbuh di teba (kebun tradisional Bali) atau kini lebih dikenal dengan nama food forest.

Ia memikirkan satu pertanyaan sederhana: dari mana asal bahan pangan yang dipakai untuk memasak?

IDN Times - Satu jam dari Kota Denpasar, di bawah naungan pepohonan rindang Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, seorang perempuan sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang pernah diajarkan oleh nenek moyang.

Namanya Dewa Ayu Made atau akrab dipanggil Made Masak. Wajah polos tanpa riasan, nada bicaranya tegas dan lugas. Ia menyapa ramah sampai kedua ujung bibirnya ke atas, memperlihatkan deretan gigi bagian atas.

Semua bermula sepuluh tahun lalu, saat Made menekuni seni memasak dari hasil kebun sendiri. Kreasi masakannya berkembang seiring mengenali aneka tanaman yang tumbuh di teba (kebun tradisional Bali) atau kini lebih dikenal dengan nama food forest.

Ia memikirkan satu pertanyaan sederhana: dari mana asal bahan pangan yang dipakai untuk memasak?

IDN Times - Satu jam dari Kota Denpasar, di bawah naungan pepohonan rindang Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, seorang perempuan sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang pernah diajarkan oleh nenek moyang.

Namanya Dewa Ayu Made atau akrab dipanggil Made Masak. Wajah polos tanpa riasan, nada bicaranya tegas dan lugas. Ia menyapa ramah sampai kedua ujung bibirnya ke atas, memperlihatkan deretan gigi bagian atas.

Semua bermula sepuluh tahun lalu, saat Made menekuni seni memasak dari hasil kebun sendiri. Kreasi masakannya berkembang seiring mengenali aneka tanaman yang tumbuh di teba (kebun tradisional Bali) atau kini lebih dikenal dengan nama food forest.

Ia memikirkan satu pertanyaan sederhana: dari mana asal bahan pangan yang dipakai untuk memasak?

"Itu yang membuat saya akhirnya terfokus pada tanaman hasil kebun sendiri, menantang diri untuk menggunakan bahan-bahan yang saya temui."



Made Masak

"Itu yang membuat saya akhirnya terfokus pada tanaman hasil kebun sendiri, menantang diri untuk menggunakan bahan-bahan yang saya temui."



Made Masak

Made Masak, Forager Bali. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Made Masak, Forager Bali. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Semakin dalam menekuni dunia memasak dari kebun sendiri, Made Masak menyadari ini bukan hal baru. Melainkan tradisi lampau Bali yang telah lama terlupakan. Tradisi itu bernama meramban.

Dalam bahasa kontemporer, dunia menyebutnya foraging. Tapi bagi leluhur Bali, ini bukan hobi atau tren. Ini cara hidup.

Meramban adalah seni membaca alam, mengenali tanaman liar yang bisa dimakan, digunakan sebagai obat, atau keduanya. Mulai dari hutan pekarangan (teba), tepi sungai, hingga sudut-sudut jalan kota yang kerap kita abaikan.

Semakin dalam menekuni dunia memasak dari kebun sendiri, Made Masak menyadari ini bukan hal baru. Melainkan tradisi lampau Bali yang telah lama terlupakan. Tradisi itu bernama meramban.

Dalam bahasa kontemporer, dunia menyebutnya foraging. Tapi bagi leluhur Bali, ini bukan hobi atau tren. Ini cara hidup.

Meramban adalah seni membaca alam, mengenali tanaman liar yang bisa dimakan, digunakan sebagai obat, atau keduanya. Mulai dari hutan pekarangan (teba), tepi sungai, hingga sudut-sudut jalan kota yang kerap kita abaikan.

Semakin dalam menekuni dunia memasak dari kebun sendiri, Made Masak menyadari ini bukan hal baru. Melainkan tradisi lampau Bali yang telah lama terlupakan. Tradisi itu bernama meramban.

Dalam bahasa kontemporer, dunia menyebutnya foraging. Tapi bagi leluhur Bali, ini bukan hobi atau tren. Ini cara hidup.

Meramban adalah seni membaca alam, mengenali tanaman liar yang bisa dimakan, digunakan sebagai obat, atau keduanya. Mulai dari hutan pekarangan (teba), tepi sungai, hingga sudut-sudut jalan kota yang kerap kita abaikan.

Made Masak di Alit Trekking kawasan Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Made Masak di Alit Trekking kawasan Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Pengetahuan awal meramban ini berakar dari tradisi turun-temurun pedesaan. Lalu, ia memadukannya dengan literatur dan pengalaman warga dari berbagai penjuru nusantara, hingga praktik keseharian.

Belajar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi, ia menemukan konfirmasi bahwa pengetahuan leluhur memiliki pola universal. Misalnya, Daun Dadap digunakan untuk menurunkan demam, atau Daun Sirih sebagai antibiotik.

Ada ribuan fungsi lain yang belum dia ketahui. Setiap hari selalu ada hal baru. Made Masak kemudian menantang batas narasi meramban yang selama ini identik dengan hutan pedesaan.

"Sebenarnya meramban itu bisa di mana aja, di kota malah banyak sekali lho rambanan yang sebenarnya rumput-rumput liar," katanya.

Pengetahuan awal meramban ini berakar dari tradisi turun-temurun pedesaan. Lalu, ia memadukannya dengan literatur dan pengalaman warga dari berbagai penjuru nusantara, hingga praktik keseharian.

Belajar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi, ia menemukan konfirmasi bahwa pengetahuan leluhur memiliki pola universal. Misalnya, Daun Dadap digunakan untuk menurunkan demam, atau Daun Sirih sebagai antibiotik.

Ada ribuan fungsi lain yang belum dia ketahui. Setiap hari selalu ada hal baru. Made Masak kemudian menantang batas narasi meramban yang selama ini identik dengan hutan pedesaan.

"Sebenarnya meramban itu bisa di mana aja, di kota malah banyak sekali lho rambanan yang sebenarnya rumput-rumput liar," katanya.

Pengetahuan awal meramban ini berakar dari tradisi turun-temurun pedesaan. Lalu, ia memadukannya dengan literatur dan pengalaman warga dari berbagai penjuru nusantara, hingga praktik keseharian.

Belajar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi, ia menemukan konfirmasi bahwa pengetahuan leluhur memiliki pola universal. Misalnya, Daun Dadap digunakan untuk menurunkan demam, atau Daun Sirih sebagai antibiotik.

Ada ribuan fungsi lain yang belum dia ketahui. Setiap hari selalu ada hal baru. Made Masak kemudian menantang batas narasi meramban yang selama ini identik dengan hutan pedesaan.

"Sebenarnya meramban itu bisa di mana aja, di kota malah banyak sekali lho rambanan yang sebenarnya rumput-rumput liar," katanya.

Jejak Meramban di Bali Aga

Jejak Meramban di Bali Aga

Jejak Meramban di Bali Aga

Bali menyimpan jejak tradisi meramban. Ada Jukut Rambanan dari Kabupaten Jembrana. Isinya terdiri dari berbagai sayuran hasil meramban tanaman liar (gulma) di kebun atau tepi sungai, dan dibumbu kuning bening. Lalu, Jukut Buangit dari Kabupaten Buleleng. Berupa sayur pahit dari Daun Buangit (Cleome gynandra), gulma tropis yang tumbuh liar.

Jejak filsafat penyeimbang pangan lewat tanaman liar ini juga ada dalam Tradisi Mejukutan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Tradisi makan sayur sehari setelah upacara adat. Setiap menggelar upacara adat, warga desa tertua di Bali (Bali Aga) ini membuat olahan daging babi yang selalu menjadi persantapan utama.

Setelah berhari-hari makan daging babi, mereka memerlukan penawar lemak. Di sinilah Tradisi Mejukutan mengambil peran, dan hidangan yang dihasilkan bernama Jukut Ononan.

“Itu tradisi, orang sudah turun-temurun saja di sini. Kalau sudah habis upacara besar, setelah makan-makan pakai daging babi, akhirnya kalau di sini itu istilahnya kayak penyelab (selingan),” ujar Wayan Durpa (44), warga Desa Tenganan Pegringsingan yang ditemui IDN Times Kamis, 14 Mei 2026.

Bali menyimpan jejak tradisi meramban. Ada Jukut Rambanan dari Kabupaten Jembrana. Isinya terdiri dari berbagai sayuran hasil meramban tanaman liar (gulma) di kebun atau tepi sungai, dan dibumbu kuning bening. Lalu, Jukut Buangit dari Kabupaten Buleleng. Berupa sayur pahit dari Daun Buangit (Cleome gynandra), gulma tropis yang tumbuh liar.

Jejak filsafat penyeimbang pangan lewat tanaman liar ini juga ada dalam Tradisi Mejukutan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Tradisi makan sayur sehari setelah upacara adat. Setiap menggelar upacara adat, warga desa tertua di Bali (Bali Aga) ini membuat olahan daging babi yang selalu menjadi persantapan utama.

Setelah berhari-hari makan daging babi, mereka memerlukan penawar lemak. Di sinilah Tradisi Mejukutan mengambil peran, dan hidangan yang dihasilkan bernama Jukut Ononan.

“Itu tradisi, orang sudah turun-temurun saja di sini. Kalau sudah habis upacara besar, setelah makan-makan pakai daging babi, akhirnya kalau di sini itu istilahnya kayak penyelab (selingan),” ujar Wayan Durpa (44), warga Desa Tenganan Pegringsingan yang ditemui IDN Times Kamis, 14 Mei 2026.

Bali menyimpan jejak tradisi meramban. Ada Jukut Rambanan dari Kabupaten Jembrana. Isinya terdiri dari berbagai sayuran hasil meramban tanaman liar (gulma) di kebun atau tepi sungai, dan dibumbu kuning bening. Lalu, Jukut Buangit dari Kabupaten Buleleng. Berupa sayur pahit dari Daun Buangit (Cleome gynandra), gulma tropis yang tumbuh liar.

Jejak filsafat penyeimbang pangan lewat tanaman liar ini juga ada dalam Tradisi Mejukutan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Tradisi makan sayur sehari setelah upacara adat. Setiap menggelar upacara adat, warga desa tertua di Bali (Bali Aga) ini membuat olahan daging babi yang selalu menjadi persantapan utama.

Setelah berhari-hari makan daging babi, mereka memerlukan penawar lemak. Di sinilah Tradisi Mejukutan mengambil peran, dan hidangan yang dihasilkan bernama Jukut Ononan.

“Itu tradisi, orang sudah turun-temurun saja di sini. Kalau sudah habis upacara besar, setelah makan-makan pakai daging babi, akhirnya kalau di sini itu istilahnya kayak penyelab (selingan),” ujar Wayan Durpa (44), warga Desa Tenganan Pegringsingan yang ditemui IDN Times Kamis, 14 Mei 2026.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Papan larangan buang sampah di kawasan Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem pada Kamis, 14 Mei 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Papan larangan buang sampah di kawasan Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem pada Kamis, 14 Mei 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Jukut Ononan berisi berbagai macam tanaman liar di pekarangan. Durpa dan warga desa yang tinggal dekat kebun punya tugas untuk mencari tanaman tersebut. Aktivitas ini dinamakan ngonon, atau meramban tanaman liar di pekarangan hingga ke dalam hutan.

Ia mengumpulkan bahan ononan minimal lima jenis daun yang masih muda. Rata-rata mengumpulkan satu plastik besar untuk dinikmati sekitar 20 orang. Dari sekian banyak pilihan, ada satu tanaman yang wajib jadi bintang, yakni Daun Paspasan (Papasan).

​Selain itu, ditambah Daun Pepe, Daun Delundung, Daun Katuk atau orang Bali menyebutnya Daun Kayu Manis, Daun Belimbing, Daun Ubi Karet, daun cabai muda, hingga jantung pisang.

Jukut Ononan berisi berbagai macam tanaman liar di pekarangan. Durpa dan warga desa yang tinggal dekat kebun punya tugas untuk mencari tanaman tersebut. Aktivitas ini dinamakan ngonon, atau meramban tanaman liar di pekarangan hingga ke dalam hutan.

Ia mengumpulkan bahan ononan minimal lima jenis daun yang masih muda. Rata-rata mengumpulkan satu plastik besar untuk dinikmati sekitar 20 orang. Dari sekian banyak pilihan, ada satu tanaman yang wajib jadi bintang, yakni Daun Paspasan (Papasan).

​Selain itu, ditambah Daun Pepe, Daun Delundung, Daun Katuk atau orang Bali menyebutnya Daun Kayu Manis, Daun Belimbing, Daun Ubi Karet, daun cabai muda, hingga jantung pisang.

Jukut Ononan berisi berbagai macam tanaman liar di pekarangan. Durpa dan warga desa yang tinggal dekat kebun punya tugas untuk mencari tanaman tersebut. Aktivitas ini dinamakan ngonon, atau meramban tanaman liar di pekarangan hingga ke dalam hutan.

Ia mengumpulkan bahan ononan minimal lima jenis daun yang masih muda. Rata-rata mengumpulkan satu plastik besar untuk dinikmati sekitar 20 orang. Dari sekian banyak pilihan, ada satu tanaman yang wajib jadi bintang, yakni Daun Paspasan (Papasan).

​Selain itu, ditambah Daun Pepe, Daun Delundung, Daun Katuk atau orang Bali menyebutnya Daun Kayu Manis, Daun Belimbing, Daun Ubi Karet, daun cabai muda, hingga jantung pisang.

"Bumbu ononan itu basa genap (bumbu lengkap rempah khas Bali). Ada sedikit santan, dan sisa daging dari upacara kemarin juga dipakai. Daunnya baru dimasukkan di akhir, biar masih segar," jelas petani Madu Kele ini.

Durpa sudah lama memercayai khasiat tanaman liar. Seperti Daun Papasan, yang dia percayai bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Sementara, Daun Katuk untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Karena manfaat itu, warga Tenganan tidak memusnahkan tanaman liar ini, dan membiarkan tumbuh begitu saja di sekitar desa.

"Bumbu ononan itu basa genap (bumbu lengkap rempah khas Bali). Ada sedikit santan, dan sisa daging dari upacara kemarin juga dipakai. Daunnya baru dimasukkan di akhir, biar masih segar," jelas petani Madu Kele ini.

Durpa sudah lama memercayai khasiat tanaman liar. Seperti Daun Papasan, yang dia percayai bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Sementara, Daun Katuk untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Karena manfaat itu, warga Tenganan tidak memusnahkan tanaman liar ini, dan membiarkan tumbuh begitu saja di sekitar desa.

"Bumbu ononan itu basa genap (bumbu lengkap rempah khas Bali). Ada sedikit santan, dan sisa daging dari upacara kemarin juga dipakai. Daunnya baru dimasukkan di akhir, biar masih segar," jelas petani Madu Kele ini.

Durpa sudah lama memercayai khasiat tanaman liar. Seperti Daun Papasan, yang dia percayai bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Sementara, Daun Katuk untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Karena manfaat itu, warga Tenganan tidak memusnahkan tanaman liar ini, dan membiarkan tumbuh begitu saja di sekitar desa.

"Ononan ini hampir semuanya punya manfaat kesehatan. Liar tapi dirawat. Dibiarkan tumbuh, karena sudah tahu fungsinya."

Wayan Durpa

"Ononan ini hampir semuanya punya manfaat kesehatan. Liar tapi dirawat. Dibiarkan tumbuh, karena sudah tahu fungsinya."

Wayan Durpa

Wayan Durpa, warga Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem. (IDN Times/Yuko Utami)

Wayan Durpa, warga Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem. (IDN Times/Yuko Utami)

Kearifan ini kerap mengundang salah paham. Durpa tertawa mengenang orang luar desa yang mengira sayur Paspasan itu artinya “sayur seadanya”. Ada juga yang mengira Durpa mencari pakan kelinci ketika meramban Daun Papasan di pinggir jalan raya.

Bagi warga Tenganan, mejukutan—menyantap Jukut Ononan—adalah benteng pertahanan warisan leluhur untuk menjaga harmoni tubuh.

Kearifan ini kerap mengundang salah paham. Durpa tertawa mengenang orang luar desa yang mengira sayur Paspasan itu artinya “sayur seadanya”. Ada juga yang mengira Durpa mencari pakan kelinci ketika meramban Daun Papasan di pinggir jalan raya.

Bagi warga Tenganan, mejukutan—menyantap Jukut Ononan—adalah benteng pertahanan warisan leluhur untuk menjaga harmoni tubuh.

Kearifan ini kerap mengundang salah paham. Durpa tertawa mengenang orang luar desa yang mengira sayur Paspasan itu artinya “sayur seadanya”. Ada juga yang mengira Durpa mencari pakan kelinci ketika meramban Daun Papasan di pinggir jalan raya.

Bagi warga Tenganan, mejukutan—menyantap Jukut Ononan—adalah benteng pertahanan warisan leluhur untuk menjaga harmoni tubuh.

Apa yang ada di dalam Jukut Ononan?

Apa yang ada di dalam Jukut Ononan?

Apa yang ada di dalam Jukut Ononan?

Sajian ritual warga Desa Tenganan Pegringsingan setelah upacara adat ternyata bukan sekadar tradisi. Sentuh setiap tanaman untuk melihat kandungan dan khasiatnya.

Sajian ritual warga Desa Tenganan Pegringsingan setelah upacara adat ternyata bukan sekadar tradisi. Sentuh setiap tanaman untuk melihat kandungan dan khasiatnya.

Sajian ritual warga Desa Tenganan Pegringsingan setelah upacara adat ternyata bukan sekadar tradisi. Sentuh setiap tanaman untuk melihat kandungan dan khasiatnya.

Jukut Ononan by Irma Yudistirani
Jukut Ononan by Irma Yudistirani

Apotek Hidup yang Terlupakan di Mataram

Apotek Hidup yang Terlupakan di Mataram

Apotek Hidup yang Terlupakan di Mataram

Apa yang diceritakan Made Masak dan Durpa, juga dilakukan oleh warga dari pulau seberang, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pegiat Obat Herbal di Kota Mataram, Baiq Sumiati (55), menjadi saksi hidup bagaimana alam Kota Mataram menyediakan "obat gratis".

Baginya, setiap sudut kota adalah peta kesehatan. Dia menandai titik-titik strategis di mana tanaman obat yang masih tumbuh subur.

"Tanaman Keladi Tikus di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Kamasan itu banyak. Bebele (Pegagan) juga masih mudah ditemukan di tempat-tempat lembap. Kalau ada yang sakit, saya suruh cari ke sana," kata Baiq Sumiati di kediamannya BTN Kopajali, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Minggu lalu, 10 Mei 2026.

Apa yang diceritakan Made Masak dan Durpa, juga dilakukan oleh warga dari pulau seberang, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pegiat Obat Herbal di Kota Mataram, Baiq Sumiati (55), menjadi saksi hidup bagaimana alam Kota Mataram menyediakan "obat gratis".

Baginya, setiap sudut kota adalah peta kesehatan. Dia menandai titik-titik strategis di mana tanaman obat yang masih tumbuh subur.

"Tanaman Keladi Tikus di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Kamasan itu banyak. Bebele (Pegagan) juga masih mudah ditemukan di tempat-tempat lembap. Kalau ada yang sakit, saya suruh cari ke sana," kata Baiq Sumiati di kediamannya BTN Kopajali, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Minggu lalu, 10 Mei 2026.

Apa yang diceritakan Made Masak dan Durpa, juga dilakukan oleh warga dari pulau seberang, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pegiat Obat Herbal di Kota Mataram, Baiq Sumiati (55), menjadi saksi hidup bagaimana alam Kota Mataram menyediakan "obat gratis".

Baginya, setiap sudut kota adalah peta kesehatan. Dia menandai titik-titik strategis di mana tanaman obat yang masih tumbuh subur.

"Tanaman Keladi Tikus di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Kamasan itu banyak. Bebele (Pegagan) juga masih mudah ditemukan di tempat-tempat lembap. Kalau ada yang sakit, saya suruh cari ke sana," kata Baiq Sumiati di kediamannya BTN Kopajali, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Minggu lalu, 10 Mei 2026.

Menurutnya, Bebele yang tumbuh merayap ini bukan sekadar gulma, karena sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Warga lokal biasa mengolahnya menjadi urap-urap, terutama saat Ramadan, karena sifatnya yang mendinginkan perut dan melancarkan pencernaan.

Keladi Tikus juga dikenal bikin gatal jika tidak diolah dengan benar. Tetapi tanaman dengan bunga menyerupai ekor tikus itu merupakan senjata ampuh melawan kanker payudara dan ambeien berdarah.

Baiq sering membagikan bibitnya cuma-cuma kepada warga agar bisa menanam di rumah dan memanfaatkannya jika nanti dibutuhkan.

"Semua tanaman ada saja fungsinya. Seperti buah pace atau sirih, meski hanya satu pohon, tetap saya tanam di rumah. Supaya orang tahu fungsinya untuk obat dan pangan," kata dia.

Menurutnya, Bebele yang tumbuh merayap ini bukan sekadar gulma, karena sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Warga lokal biasa mengolahnya menjadi urap-urap, terutama saat Ramadan, karena sifatnya yang mendinginkan perut dan melancarkan pencernaan.

Keladi Tikus juga dikenal bikin gatal jika tidak diolah dengan benar. Tetapi tanaman dengan bunga menyerupai ekor tikus itu merupakan senjata ampuh melawan kanker payudara dan ambeien berdarah.

Baiq sering membagikan bibitnya cuma-cuma kepada warga agar bisa menanam di rumah dan memanfaatkannya jika nanti dibutuhkan.

"Semua tanaman ada saja fungsinya. Seperti buah pace atau sirih, meski hanya satu pohon, tetap saya tanam di rumah. Supaya orang tahu fungsinya untuk obat dan pangan," kata dia.

Menurutnya, Bebele yang tumbuh merayap ini bukan sekadar gulma, karena sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Warga lokal biasa mengolahnya menjadi urap-urap, terutama saat Ramadan, karena sifatnya yang mendinginkan perut dan melancarkan pencernaan.

Keladi Tikus juga dikenal bikin gatal jika tidak diolah dengan benar. Tetapi tanaman dengan bunga menyerupai ekor tikus itu merupakan senjata ampuh melawan kanker payudara dan ambeien berdarah.

Baiq sering membagikan bibitnya cuma-cuma kepada warga agar bisa menanam di rumah dan memanfaatkannya jika nanti dibutuhkan.

"Semua tanaman ada saja fungsinya. Seperti buah pace atau sirih, meski hanya satu pohon, tetap saya tanam di rumah. Supaya orang tahu fungsinya untuk obat dan pangan," kata dia.

Tanaman lain yang bermanfaat untuk mengobati penyakit gula darah, darah tinggi, darah kotor, dan diabetes adalah Pohon Imba (Mimba). Baiq bercerita, dia dulu sering mengambil daunnya di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Senggigi Lombok Barat. Tanaman itu sekarang banyak ditanam di kawasan Islamic Center Kota Mataram.

Kedekatan Baiq dengan tanaman herbal lahir dari pengalaman personal saat suaminya menderita komplikasi liver, stroke ringan, hingga diabetes. Ia mengenang masa-masa mencari tanaman Pare Gunung di sekitar Jembatan Kekalik Mataram untuk mengobati suaminya yang sempat koma empat hari.

"Kalau bapak kambuh, saya ajak anak ambil ke sana, lalu diparut dan diperas airnya," kenangnya.

Tanaman lain yang bermanfaat untuk mengobati penyakit gula darah, darah tinggi, darah kotor, dan diabetes adalah Pohon Imba (Mimba). Baiq bercerita, dia dulu sering mengambil daunnya di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Senggigi Lombok Barat. Tanaman itu sekarang banyak ditanam di kawasan Islamic Center Kota Mataram.

Kedekatan Baiq dengan tanaman herbal lahir dari pengalaman personal saat suaminya menderita komplikasi liver, stroke ringan, hingga diabetes. Ia mengenang masa-masa mencari tanaman Pare Gunung di sekitar Jembatan Kekalik Mataram untuk mengobati suaminya yang sempat koma empat hari.

"Kalau bapak kambuh, saya ajak anak ambil ke sana, lalu diparut dan diperas airnya," kenangnya.

Tanaman lain yang bermanfaat untuk mengobati penyakit gula darah, darah tinggi, darah kotor, dan diabetes adalah Pohon Imba (Mimba). Baiq bercerita, dia dulu sering mengambil daunnya di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Senggigi Lombok Barat. Tanaman itu sekarang banyak ditanam di kawasan Islamic Center Kota Mataram.

Kedekatan Baiq dengan tanaman herbal lahir dari pengalaman personal saat suaminya menderita komplikasi liver, stroke ringan, hingga diabetes. Ia mengenang masa-masa mencari tanaman Pare Gunung di sekitar Jembatan Kekalik Mataram untuk mengobati suaminya yang sempat koma empat hari.

"Kalau bapak kambuh, saya ajak anak ambil ke sana, lalu diparut dan diperas airnya," kenangnya.

Resep-resep inilah yang dia kembangkan, termasuk ramuan Sambiloto dicampur kunyit, jinten hitam, dan ketumbar untuk mengencerkan darah kental akibat diabetes. Keahlian Baiq Sumiati meracik obat herbal dari tanaman liar pernah menarik perhatian pelajar dari Amerika Serikat hingga Jepang sebelum pandemik COVID-19.

Namun, ia melihat ironi di negeri sendiri. Anak muda lokal minim minat terhadap warisan leluhur ini. Meski begitu, ia bersyukur masih ada mahasiswa apoteker dari Universitas Mataram yang datang bertanya tentang pengetahuan obat herbal ini.

Resep-resep inilah yang dia kembangkan, termasuk ramuan Sambiloto dicampur kunyit, jinten hitam, dan ketumbar untuk mengencerkan darah kental akibat diabetes. Keahlian Baiq Sumiati meracik obat herbal dari tanaman liar pernah menarik perhatian pelajar dari Amerika Serikat hingga Jepang sebelum pandemik COVID-19.

Namun, ia melihat ironi di negeri sendiri. Anak muda lokal minim minat terhadap warisan leluhur ini. Meski begitu, ia bersyukur masih ada mahasiswa apoteker dari Universitas Mataram yang datang bertanya tentang pengetahuan obat herbal ini.

Resep-resep inilah yang dia kembangkan, termasuk ramuan Sambiloto dicampur kunyit, jinten hitam, dan ketumbar untuk mengencerkan darah kental akibat diabetes. Keahlian Baiq Sumiati meracik obat herbal dari tanaman liar pernah menarik perhatian pelajar dari Amerika Serikat hingga Jepang sebelum pandemik COVID-19.

Namun, ia melihat ironi di negeri sendiri. Anak muda lokal minim minat terhadap warisan leluhur ini. Meski begitu, ia bersyukur masih ada mahasiswa apoteker dari Universitas Mataram yang datang bertanya tentang pengetahuan obat herbal ini.

"Anak muda sekarang lebih senang minum boba. Padahal, pengetahuan tentang apotek hidup sangat penting."


Baiq Sumiati

"Anak muda sekarang lebih senang minum boba. Padahal, pengetahuan tentang apotek hidup sangat penting."


Baiq Sumiati

Baiq Sumiati, Pegiat Obat Herbal di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Baiq Sumiati, Pegiat Obat Herbal di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia berharap program apotek hidup kembali digalakkan, terutama di sekolah-sekolah. Sehingga generasi muda mengetahui tanaman liar yang berada di sekitar mereka dan dapat membudidayakannya.

"Paling tidak, dia tahu tanaman obat di sekitar mereka. Yang penting dia lihat, bahwa itu ada fungsinya," sarannya.

Dia berharap program apotek hidup kembali digalakkan, terutama di sekolah-sekolah. Sehingga generasi muda mengetahui tanaman liar yang berada di sekitar mereka dan dapat membudidayakannya.

"Paling tidak, dia tahu tanaman obat di sekitar mereka. Yang penting dia lihat, bahwa itu ada fungsinya," sarannya.

Dia berharap program apotek hidup kembali digalakkan, terutama di sekolah-sekolah. Sehingga generasi muda mengetahui tanaman liar yang berada di sekitar mereka dan dapat membudidayakannya.

"Paling tidak, dia tahu tanaman obat di sekitar mereka. Yang penting dia lihat, bahwa itu ada fungsinya," sarannya.

Kegagapan di Dapur dan Memori Masa Kecil

Kegagapan di Dapur dan Memori Masa Kecil

Kegagapan di Dapur dan Memori Masa Kecil

Ketakutan dan kegagapan di dapur sesungguhnya alarm pelindung yang valid. Meramban di kota bukan sekadar memetik, melainkan urusan dosis dan keamanan hayati.

Made Masak mengingatkan bahwa tanaman yang tumbuh di dekat selokan kota atau pekarangan kerap memicu keraguan. Solusi tradisionalnya adalah merendam semalaman dalam air garam, dan mencucinya dengan larutan cuka sebelum dimasak.

"Ketidaktahuan itulah yang membuat kita tidak berani," kata Made.

Ia juga berbagi satu cara unik untuk membaca alam: diam beberapa jam, amati ke mana kupu-kupu hinggap, atau tanaman apa yang banyak dicari tupai.

Ketakutan dan kegagapan di dapur sesungguhnya alarm pelindung yang valid. Meramban di kota bukan sekadar memetik, melainkan urusan dosis dan keamanan hayati.

Made Masak mengingatkan bahwa tanaman yang tumbuh di dekat selokan kota atau pekarangan kerap memicu keraguan. Solusi tradisionalnya adalah merendam semalaman dalam air garam, dan mencucinya dengan larutan cuka sebelum dimasak.

"Ketidaktahuan itulah yang membuat kita tidak berani," kata Made.

Ia juga berbagi satu cara unik untuk membaca alam: diam beberapa jam, amati ke mana kupu-kupu hinggap, atau tanaman apa yang banyak dicari tupai.

Ketakutan dan kegagapan di dapur sesungguhnya alarm pelindung yang valid. Meramban di kota bukan sekadar memetik, melainkan urusan dosis dan keamanan hayati.

Made Masak mengingatkan bahwa tanaman yang tumbuh di dekat selokan kota atau pekarangan kerap memicu keraguan. Solusi tradisionalnya adalah merendam semalaman dalam air garam, dan mencucinya dengan larutan cuka sebelum dimasak.

"Ketidaktahuan itulah yang membuat kita tidak berani," kata Made.

Ia juga berbagi satu cara unik untuk membaca alam: diam beberapa jam, amati ke mana kupu-kupu hinggap, atau tanaman apa yang banyak dicari tupai.

"Banyak mengobservasi, melihat, mendengar, merasakan. Itu juga cara kita tahu apakah sesuatu bisa dimakan atau tidak."

"Banyak mengobservasi, melihat, mendengar, merasakan. Itu juga cara kita tahu apakah sesuatu bisa dimakan atau tidak."

Ilustrasi mengobservasi lingkungan. (IDN Times/Yuko Utami)

Ilustrasi mengobservasi lingkungan. (IDN Times/Yuko Utami)

Namun, dari kacamata sains modern, membaca tanda-tanda alam seperti itu saja tidak cukup. Vinda Maharani Patricia, Dosen Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Islam Bandung (Unisba), menarik garis batas yang tegas antara klaim tradisional dan keamanan klinis.

Vinda menjelaskan, dari sekian tanaman herbal urban yang sedang populer—seperti Pegagan, Krokot, dan Bunga Telang—baru Pegagan (Centella asiatica) yang memiliki bukti ilmiah paling kokoh.

"Sampai saat ini bahkan sudah sampai uji klinis ke manusia," ujar Vinda.

Namun, dari kacamata sains modern, membaca tanda-tanda alam seperti itu saja tidak cukup. Vinda Maharani Patricia, Dosen Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Islam Bandung (Unisba), menarik garis batas yang tegas antara klaim tradisional dan keamanan klinis.

Vinda menjelaskan, dari sekian tanaman herbal urban yang sedang populer—seperti Pegagan, Krokot, dan Bunga Telang—baru Pegagan (Centella asiatica) yang memiliki bukti ilmiah paling kokoh.

"Sampai saat ini bahkan sudah sampai uji klinis ke manusia," ujar Vinda.

Namun, dari kacamata sains modern, membaca tanda-tanda alam seperti itu saja tidak cukup. Vinda Maharani Patricia, Dosen Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Islam Bandung (Unisba), menarik garis batas yang tegas antara klaim tradisional dan keamanan klinis.

Vinda menjelaskan, dari sekian tanaman herbal urban yang sedang populer—seperti Pegagan, Krokot, dan Bunga Telang—baru Pegagan (Centella asiatica) yang memiliki bukti ilmiah paling kokoh.

"Sampai saat ini bahkan sudah sampai uji klinis ke manusia," ujar Vinda.

Pegagan yang kerap tumbuh liar di pinggir selokan atau pot terabaikan ini mengandung senyawa aktif yang mampu meregenerasi sel kulit dan mengurangi peradangan. Namun, Vinda mengingatkan risiko di balik label "alami".

Penggunaan Pegagan yang sembarangan atau berlebihan pada kulit tetap bisa memicu efek samping seperti ruam, gatal, hingga kulit mengelupas.

Pegagan yang kerap tumbuh liar di pinggir selokan atau pot terabaikan ini mengandung senyawa aktif yang mampu meregenerasi sel kulit dan mengurangi peradangan. Namun, Vinda mengingatkan risiko di balik label "alami".

Penggunaan Pegagan yang sembarangan atau berlebihan pada kulit tetap bisa memicu efek samping seperti ruam, gatal, hingga kulit mengelupas.

Pegagan yang kerap tumbuh liar di pinggir selokan atau pot terabaikan ini mengandung senyawa aktif yang mampu meregenerasi sel kulit dan mengurangi peradangan. Namun, Vinda mengingatkan risiko di balik label "alami".

Penggunaan Pegagan yang sembarangan atau berlebihan pada kulit tetap bisa memicu efek samping seperti ruam, gatal, hingga kulit mengelupas.

"Namanya obat itu kemungkinan pasti ada efek samping, yang paling harus dipastikan itu adalah dosis."

Ilustrasi dalam kutipan adalah Daun Pegagan. (IDN Times/Yuko Utami)

Ilustrasi dalam kutipan adalah Daun Pegagan. (IDN Times/Yuko Utami)

Sains juga memvalidasi ketakutan warga terhadap tanaman liar acak. Di sudut kota, sering kali tumbuh tanaman dengan bunga mencolok yang indah namun mematikan, seperti Kecubung (Datura metel). Kandungannya bisa menyebabkan halusinasi berat meski hanya tertelan sedikit.

"Banyak sekali yang habis makan kecubung malah lari gak pakai baju," kata Vinda memberi peringatan ekstrem.

Bagi pelaku UMKM atau peramban pemula, ia menyarankan untuk selalu mengecek jurnal ilmiah dan tidak asal memanfaatkan tanpa dasar riset.

Sains juga memvalidasi ketakutan warga terhadap tanaman liar acak. Di sudut kota, sering kali tumbuh tanaman dengan bunga mencolok yang indah namun mematikan, seperti Kecubung (Datura metel). Kandungannya bisa menyebabkan halusinasi berat meski hanya tertelan sedikit.

"Banyak sekali yang habis makan kecubung malah lari gak pakai baju," kata Vinda memberi peringatan ekstrem.

Bagi pelaku UMKM atau peramban pemula, ia menyarankan untuk selalu mengecek jurnal ilmiah dan tidak asal memanfaatkan tanpa dasar riset.

Sains juga memvalidasi ketakutan warga terhadap tanaman liar acak. Di sudut kota, sering kali tumbuh tanaman dengan bunga mencolok yang indah namun mematikan, seperti Kecubung (Datura metel). Kandungannya bisa menyebabkan halusinasi berat meski hanya tertelan sedikit.

"Banyak sekali yang habis makan kecubung malah lari gak pakai baju," kata Vinda memberi peringatan ekstrem.

Bagi pelaku UMKM atau peramban pemula, ia menyarankan untuk selalu mengecek jurnal ilmiah dan tidak asal memanfaatkan tanpa dasar riset.

Ketika Sains Memvalidasi Kearifan Leluhur

Ketika Sains Memvalidasi Kearifan Leluhur

Ketika Sains Memvalidasi Kearifan Leluhur

Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi, gulma-gulma yang kerap dianggap mengganggu estetika kota ternyata sudah lolos uji standarisasi klinis. Bahkan, dikembangkan menjadi produk obat komersial dan kosmetik resmi di Indonesia:

Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi, gulma-gulma yang kerap dianggap mengganggu estetika kota ternyata sudah lolos uji standarisasi klinis. Bahkan, dikembangkan menjadi produk obat komersial dan kosmetik resmi di Indonesia:

Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi, gulma-gulma yang kerap dianggap mengganggu estetika kota ternyata sudah lolos uji standarisasi klinis. Bahkan, dikembangkan menjadi produk obat komersial dan kosmetik resmi di Indonesia:

Pegagan (Centella asiatica)


Bukti ilmiah paling kokoh di antara tanaman herbal urban. Sudah sampai uji klinis ke manusia. Dipasarkan sebagai obat keloid dengan nama produk Madecassol. Diekstrak juga secara masif sebagai bahan baku kosmetik seperti sabun muka, masker, dan krim wajah.

Pegagan (Centella asiatica)


Bukti ilmiah paling kokoh di antara tanaman herbal urban. Sudah sampai uji klinis ke manusia. Dipasarkan sebagai obat keloid dengan nama produk Madecassol. Diekstrak juga secara masif sebagai bahan baku kosmetik seperti sabun muka, masker, dan krim wajah.

Pegagan (Centella asiatica)


Bukti ilmiah paling kokoh di antara tanaman herbal urban. Sudah sampai uji klinis ke manusia. Dipasarkan sebagai obat keloid dengan nama produk Madecassol. Diekstrak juga secara masif sebagai bahan baku kosmetik seperti sabun muka, masker, dan krim wajah.

Meniran (Phyllanthus niruri)


Lolos uji Obat Herbal Terstandar (OHT) imunostimulan. Dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Beredar resmi di pasaran dengan nama dagang Stimuno. Gulma ini ditemukan di pekarangan dan lahan kosong perkotaan.

Meniran (Phyllanthus niruri)


Lolos uji Obat Herbal Terstandar (OHT) imunostimulan. Dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Beredar resmi di pasaran dengan nama dagang Stimuno. Gulma ini ditemukan di pekarangan dan lahan kosong perkotaan.

Meniran (Phyllanthus niruri)


Lolos uji Obat Herbal Terstandar (OHT) imunostimulan. Dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Beredar resmi di pasaran dengan nama dagang Stimuno. Gulma ini ditemukan di pekarangan dan lahan kosong perkotaan.

Tempuyung (Sonchus arvensis)


Gulma pinggir jalan yang dikembangkan menjadi sediaan herbal antikalkuli (peluruh batu ginjal). Beredar dengan nama produk Calcusol. Tumbuh di area rel kereta api, bantaran sungai, dan lahan kosong urban.

Tempuyung (Sonchus arvensis)


Gulma pinggir jalan yang dikembangkan menjadi sediaan herbal antikalkuli (peluruh batu ginjal). Beredar dengan nama produk Calcusol. Tumbuh di area rel kereta api, bantaran sungai, dan lahan kosong urban.

Tempuyung (Sonchus arvensis)


Gulma pinggir jalan yang dikembangkan menjadi sediaan herbal antikalkuli (peluruh batu ginjal). Beredar dengan nama produk Calcusol. Tumbuh di area rel kereta api, bantaran sungai, dan lahan kosong urban.

Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme)


Dari aspek fitokimia dan uji bioaktivitas in vitro sudah banyak dikaji terkait aktivitas antikanker. Uji klinis langsung ke manusia masih terbatas karena kurangnya minat industri komersial. Tapi BRIN meyakini potensinya sangat besar.

Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme)


Dari aspek fitokimia dan uji bioaktivitas in vitro sudah banyak dikaji terkait aktivitas antikanker. Uji klinis langsung ke manusia masih terbatas karena kurangnya minat industri komersial. Tapi BRIN meyakini potensinya sangat besar.

Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme)


Dari aspek fitokimia dan uji bioaktivitas in vitro sudah banyak dikaji terkait aktivitas antikanker. Uji klinis langsung ke manusia masih terbatas karena kurangnya minat industri komersial. Tapi BRIN meyakini potensinya sangat besar.

Awar-Awar (Ficus septica)


Tanaman paling underrated menurut BRIN. Hasil pra-klinis in vitro maupun in vivo menunjukkan potensi besar sebagai ajuvan kanker (terapi pendamping). Tumbuh sebagai peneduh di kebun kosong urban. Sedang dalam proses pengembangan lebih lanjut.

Awar-Awar (Ficus septica)


Tanaman paling underrated menurut BRIN. Hasil pra-klinis in vitro maupun in vivo menunjukkan potensi besar sebagai ajuvan kanker (terapi pendamping). Tumbuh sebagai peneduh di kebun kosong urban. Sedang dalam proses pengembangan lebih lanjut.

Awar-Awar (Ficus septica)


Tanaman paling underrated menurut BRIN. Hasil pra-klinis in vitro maupun in vivo menunjukkan potensi besar sebagai ajuvan kanker (terapi pendamping). Tumbuh sebagai peneduh di kebun kosong urban. Sedang dalam proses pengembangan lebih lanjut.

Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Sofa Fajriah, menyebutkan hanya sedikit spesies tumbuhan obat yang dibudidayakan secara sengaja, baik dalam pola monokultur, tumpangsari, maupun agroforestry.

"Lebih kurang 85 persen bersumber dari pemanenan atau pengumpulan tumbuhan liar," kata Sofa yang merujuk data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) terkait peta bahan baku obat tradisional di Indonesia.

Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Sofa Fajriah, menyebutkan hanya sedikit spesies tumbuhan obat yang dibudidayakan secara sengaja, baik dalam pola monokultur, tumpangsari, maupun agroforestry.

"Lebih kurang 85 persen bersumber dari pemanenan atau pengumpulan tumbuhan liar," kata Sofa yang merujuk data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) terkait peta bahan baku obat tradisional di Indonesia.

Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Sofa Fajriah, menyebutkan hanya sedikit spesies tumbuhan obat yang dibudidayakan secara sengaja, baik dalam pola monokultur, tumpangsari, maupun agroforestry.

"Lebih kurang 85 persen bersumber dari pemanenan atau pengumpulan tumbuhan liar," kata Sofa yang merujuk data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) terkait peta bahan baku obat tradisional di Indonesia.

Saat ini, Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN mengembangkan Obat Bahan Alam dari tanaman urban untuk disahkan sebagai OHT dan Fitofarmaka baru untuk fungsi antikolesterol, hepatoprotektor (pelindung hati), imunostimulan, hingga kosmesetikal anti-inflamasi dan pencerah wajah.

Tim Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Yuli Widiyastuti, menyebutkan posisi Indonesia di peta riset global pun terhitung sangat strategis melalui survei nasional etnomedisin (Ristoja).

Saat ini, Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN mengembangkan Obat Bahan Alam dari tanaman urban untuk disahkan sebagai OHT dan Fitofarmaka baru untuk fungsi antikolesterol, hepatoprotektor (pelindung hati), imunostimulan, hingga kosmesetikal anti-inflamasi dan pencerah wajah.

Tim Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Yuli Widiyastuti, menyebutkan posisi Indonesia di peta riset global pun terhitung sangat strategis melalui survei nasional etnomedisin (Ristoja).

Saat ini, Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN mengembangkan Obat Bahan Alam dari tanaman urban untuk disahkan sebagai OHT dan Fitofarmaka baru untuk fungsi antikolesterol, hepatoprotektor (pelindung hati), imunostimulan, hingga kosmesetikal anti-inflamasi dan pencerah wajah.

Tim Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Yuli Widiyastuti, menyebutkan posisi Indonesia di peta riset global pun terhitung sangat strategis melalui survei nasional etnomedisin (Ristoja).

"Tumbuhan obat yang digunakan sebagai bahan ramuan dan telah tervalidasi mencapai 2.848 spesies. Barangkali baru sedikit negara di dunia yang berhasil melakukan survei berskala nasional seperti ini."

"Tumbuhan obat yang digunakan sebagai bahan ramuan dan telah tervalidasi mencapai 2.848 spesies. Barangkali baru sedikit negara di dunia yang berhasil melakukan survei berskala nasional seperti ini."

Ilustrasi uji laboratorium. (IDN Times/Yuko Utami)

Ilustrasi uji laboratorium. (IDN Times/Yuko Utami)

Antara Tradisi Komunal, Privatisasi Tanah, dan Ruang Publik yang Terlupakan

Antara Tradisi Komunal, Privatisasi Tanah, dan Ruang Publik yang Terlupakan

Antara Tradisi Komunal, Privatisasi Tanah, dan Ruang Publik yang Terlupakan




Bunga Ketul adalah perdu liar yang masih famili dengan Asteraceae (bunga aster). Secara ekologis, ini sumber nektar bagi kupu-kupu dan serangga penyerbuk lainnya. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Aktivitas meramban di perkotaan bisa memicu kecemasan batin dan kecurigaan sosial. Apakah nantinya memetik tanaman liar di balik pagar bisa berujung ketegangan? Jawabannya, mungkin saja karena ini menyangkut perubahan radikal struktur hukum kepemilikan tanah.

Dosen Hukum Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), I Gusti Agung Made Wardana, menyebut praktik meramban semakin terjepit oleh rezim kepemilikan tanah privat (private property). Dulu, hubungan warga dengan tanah bersifat longgar dan komunal.

Beberapa wilayah seperti Tenganan Pegringsingan masih mengelola lahan dengan model kepemilikan kolektif ini, sehingga meramban dapat dilakukan selama hasil bumi dibagi secara adil, dan tidak mengabaikan hak orang lain.

“Kalau sekarang, karena perubahan relasi manusia dengan tanah itu sudah sedemikian dipengaruhi oleh nilai-nilai instrumental, terutama kepemilikan, terjadi private property. Meramban dalam konteks lahan milik pribadi itu kemudian akan menimbulkan permasalahan hukum,” jelas Wardana saat diwawancara IDN Times Minggu, 24 Mei 2026.

Aktivitas meramban di perkotaan bisa memicu kecemasan batin dan kecurigaan sosial. Apakah nantinya memetik tanaman liar di balik pagar bisa berujung ketegangan? Jawabannya, mungkin saja karena ini menyangkut perubahan radikal struktur hukum kepemilikan tanah.

Dosen Hukum Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), I Gusti Agung Made Wardana, menyebut praktik meramban semakin terjepit oleh rezim kepemilikan tanah privat (private property). Dulu, hubungan warga dengan tanah bersifat longgar dan komunal.

Beberapa wilayah seperti Tenganan Pegringsingan masih mengelola lahan dengan model kepemilikan kolektif ini, sehingga meramban dapat dilakukan selama hasil bumi dibagi secara adil, dan tidak mengabaikan hak orang lain.

“Kalau sekarang, karena perubahan relasi manusia dengan tanah itu sudah sedemikian dipengaruhi oleh nilai-nilai instrumental, terutama kepemilikan, terjadi private property. Meramban dalam konteks lahan milik pribadi itu kemudian akan menimbulkan permasalahan hukum,” jelas Wardana saat diwawancara IDN Times Minggu, 24 Mei 2026.

Aktivitas meramban di perkotaan bisa memicu kecemasan batin dan kecurigaan sosial. Apakah nantinya memetik tanaman liar di balik pagar bisa berujung ketegangan? Jawabannya, mungkin saja karena ini menyangkut perubahan radikal struktur hukum kepemilikan tanah.

Dosen Hukum Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), I Gusti Agung Made Wardana, menyebut praktik meramban semakin terjepit oleh rezim kepemilikan tanah privat (private property). Dulu, hubungan warga dengan tanah bersifat longgar dan komunal.

Beberapa wilayah seperti Tenganan Pegringsingan masih mengelola lahan dengan model kepemilikan kolektif ini, sehingga meramban dapat dilakukan selama hasil bumi dibagi secara adil, dan tidak mengabaikan hak orang lain.

“Kalau sekarang, karena perubahan relasi manusia dengan tanah itu sudah sedemikian dipengaruhi oleh nilai-nilai instrumental, terutama kepemilikan, terjadi private property. Meramban dalam konteks lahan milik pribadi itu kemudian akan menimbulkan permasalahan hukum,” jelas Wardana saat diwawancara IDN Times Minggu, 24 Mei 2026.

Wayan Durpa saat menemani IDN Times mencari bahan Jukut Ononan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem pada Kamis, 14 Mei 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Wayan Durpa saat menemani IDN Times mencari bahan Jukut Ononan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem pada Kamis, 14 Mei 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Wardana merujuk pada ketentuan trespassing (memasuki pekarangan tanpa izin) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Jerat pidana ini mengintai siapa pun yang nekat melompati pagar demi tanaman liar.

Kondisi ini diperparah oleh maraknya spekulasi tanah: banyak lahan di perkotaan dibeli oleh investor, namun dibiarkan telantar tanpa dikelola, dan dikelilingi pagar seng hanya untuk menunggu nilai jualnya naik. Gulma dan tanaman berkhasiat di lahan tersebut pun menjadi tidak tersentuh, tidak bermanfaat bagi pemiliknya.

Menurut Wardana, akar pengavelingan (enclosure) ini bermula dari era kolonial melalui Agrarische Wet (Undang-Undang Agraria Kolonial). Belanda menetapkan asas domain verklaring, cikal bakal pengavelingan tanah pertama di Indonesia.

Bahwa tanah yang tidak dapat dibuktikan kepemilikannya menggunakan standar barat (bersurat dan berbatas personal), otomatis dikategorikan sebagai tanah negara untuk diserahkan kepada korporasi Eropa.

Wardana merujuk pada ketentuan trespassing (memasuki pekarangan tanpa izin) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Jerat pidana ini mengintai siapa pun yang nekat melompati pagar demi tanaman liar.

Kondisi ini diperparah oleh maraknya spekulasi tanah: banyak lahan di perkotaan dibeli oleh investor, namun dibiarkan telantar tanpa dikelola, dan dikelilingi pagar seng hanya untuk menunggu nilai jualnya naik. Gulma dan tanaman berkhasiat di lahan tersebut pun menjadi tidak tersentuh, tidak bermanfaat bagi pemiliknya.

Menurut Wardana, akar pengavelingan (enclosure) ini bermula dari era kolonial melalui Agrarische Wet (Undang-Undang Agraria Kolonial). Belanda menetapkan asas domain verklaring, cikal bakal pengavelingan tanah pertama di Indonesia.

Bahwa tanah yang tidak dapat dibuktikan kepemilikannya menggunakan standar barat (bersurat dan berbatas personal), otomatis dikategorikan sebagai tanah negara untuk diserahkan kepada korporasi Eropa.

Wardana merujuk pada ketentuan trespassing (memasuki pekarangan tanpa izin) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Jerat pidana ini mengintai siapa pun yang nekat melompati pagar demi tanaman liar.

Kondisi ini diperparah oleh maraknya spekulasi tanah: banyak lahan di perkotaan dibeli oleh investor, namun dibiarkan telantar tanpa dikelola, dan dikelilingi pagar seng hanya untuk menunggu nilai jualnya naik. Gulma dan tanaman berkhasiat di lahan tersebut pun menjadi tidak tersentuh, tidak bermanfaat bagi pemiliknya.

Menurut Wardana, akar pengavelingan (enclosure) ini bermula dari era kolonial melalui Agrarische Wet (Undang-Undang Agraria Kolonial). Belanda menetapkan asas domain verklaring, cikal bakal pengavelingan tanah pertama di Indonesia.

Bahwa tanah yang tidak dapat dibuktikan kepemilikannya menggunakan standar barat (bersurat dan berbatas personal), otomatis dikategorikan sebagai tanah negara untuk diserahkan kepada korporasi Eropa.

Pola ini berlanjut pascakolonial. Gelombang sertifikasi tanah secara besar-besaran yang dipromosikan Bank Dunia sejak tahun 1980-an kepada Pemerintah Indonesia turut mempercepat transformasi ini.

Efek samping program sertifikasi ini telah mengubah hakikat tanah dari use value (sesuatu yang dipakai untuk bertahan hidup) menjadi exchange value (komoditas investasi yang dapat diperjualbelikan di pasar).

Pada era Orde Baru, semangat hak menguasai negara atas sumber daya alam—yang sejatinya diamanatkan untuk kemakmuran rakyat—justru mengalami distorsi. Negara bertindak layaknya pemerintah kolonial, memberikan konsesi-konsesi kepada perusahaan asing.

“Proses enclosure ini yang kemudian mengubah struktur kepemilikan tanah. Meramban menjadi sulit dilakukan karena basis materialnya kepemilikan komunal sudah berubah, dan keadaan ini dibentengi dengan ketentuan pidana tentang trespassing," kata Wardana.

Pola ini berlanjut pascakolonial. Gelombang sertifikasi tanah secara besar-besaran yang dipromosikan Bank Dunia sejak tahun 1980-an kepada Pemerintah Indonesia turut mempercepat transformasi ini.

Efek samping program sertifikasi ini telah mengubah hakikat tanah dari use value (sesuatu yang dipakai untuk bertahan hidup) menjadi exchange value (komoditas investasi yang dapat diperjualbelikan di pasar).

Pada era Orde Baru, semangat hak menguasai negara atas sumber daya alam—yang sejatinya diamanatkan untuk kemakmuran rakyat—justru mengalami distorsi. Negara bertindak layaknya pemerintah kolonial, memberikan konsesi-konsesi kepada perusahaan asing.

“Proses enclosure ini yang kemudian mengubah struktur kepemilikan tanah. Meramban menjadi sulit dilakukan karena basis materialnya kepemilikan komunal sudah berubah, dan keadaan ini dibentengi dengan ketentuan pidana tentang trespassing," kata Wardana.

Pola ini berlanjut pascakolonial. Gelombang sertifikasi tanah secara besar-besaran yang dipromosikan Bank Dunia sejak tahun 1980-an kepada Pemerintah Indonesia turut mempercepat transformasi ini.

Efek samping program sertifikasi ini telah mengubah hakikat tanah dari use value (sesuatu yang dipakai untuk bertahan hidup) menjadi exchange value (komoditas investasi yang dapat diperjualbelikan di pasar).

Pada era Orde Baru, semangat hak menguasai negara atas sumber daya alam—yang sejatinya diamanatkan untuk kemakmuran rakyat—justru mengalami distorsi. Negara bertindak layaknya pemerintah kolonial, memberikan konsesi-konsesi kepada perusahaan asing.

“Proses enclosure ini yang kemudian mengubah struktur kepemilikan tanah. Meramban menjadi sulit dilakukan karena basis materialnya kepemilikan komunal sudah berubah, dan keadaan ini dibentengi dengan ketentuan pidana tentang trespassing," kata Wardana.

Panduan Meramban di Kota

Panduan Meramban di Kota

Panduan Meramban di Kota

I Gusti Agung Made Wardana memetakan zona abu-abu yang secara adat dan hukum bisa dimanfaatkan oleh publik secara kolektif.

I Gusti Agung Made Wardana memetakan zona abu-abu yang secara adat dan hukum bisa dimanfaatkan oleh publik secara kolektif.

I Gusti Agung Made Wardana memetakan zona abu-abu yang secara adat dan hukum bisa dimanfaatkan oleh publik secara kolektif.

Taman Kota


Ruang publik yang dibiayai oleh pajak warga. Warga memiliki klaim kontribusi atas lahan tersebut, sehingga pemerintah tidak bisa mengklaim kepemilikan secara eksklusif.

Taman Kota


Ruang publik yang dibiayai oleh pajak warga. Warga memiliki klaim kontribusi atas lahan tersebut, sehingga pemerintah tidak bisa mengklaim kepemilikan secara eksklusif.

Taman Kota


Ruang publik yang dibiayai oleh pajak warga. Warga memiliki klaim kontribusi atas lahan tersebut, sehingga pemerintah tidak bisa mengklaim kepemilikan secara eksklusif.

Telajakan atau Sempadan Jalan


Jalur tanah di pinggir jalan atau depan tembok pekarangan yang kepemilikan privatnya tidak absolut. Secara adat dan hukum masih bisa dimanfaatkan oleh publik.

Telajakan atau Sempadan Jalan


Jalur tanah di pinggir jalan atau depan tembok pekarangan yang kepemilikan privatnya tidak absolut. Secara adat dan hukum masih bisa dimanfaatkan oleh publik.

Telajakan atau Sempadan Jalan


Jalur tanah di pinggir jalan atau depan tembok pekarangan yang kepemilikan privatnya tidak absolut. Secara adat dan hukum masih bisa dimanfaatkan oleh publik.

Kanopi yang Melampaui Pagar


Secara hukum adat, tanaman yang dahan atau buahnya menjulur keluar dari tembok pekarangan pribadi menuju jalan diperlakukan sebagai milik bersama. Logikanya, karena daun yang gugur ke jalan beban publik untuk dibersihkan, maka buahnya pun menjadi hak publik untuk dipetik.

Kanopi yang Melampaui Pagar


Secara hukum adat, tanaman yang dahan atau buahnya menjulur keluar dari tembok pekarangan pribadi menuju jalan diperlakukan sebagai milik bersama. Logikanya, karena daun yang gugur ke jalan beban publik untuk dibersihkan, maka buahnya pun menjadi hak publik untuk dipetik.

Kanopi yang Melampaui Pagar


Secara hukum adat, tanaman yang dahan atau buahnya menjulur keluar dari tembok pekarangan pribadi menuju jalan diperlakukan sebagai milik bersama. Logikanya, karena daun yang gugur ke jalan beban publik untuk dibersihkan, maka buahnya pun menjadi hak publik untuk dipetik.

Dosen Hukum Lingkungan UGM, I Gusti Agung Made Wardana


“Demarkasi­nya jelas untuk tanaman yang berada di luar tembok pekarangan pribadi, maka itu menjadi milik publik dan bisa dimanfaatkan oleh publik.”

Dosen Hukum Lingkungan UGM, I Gusti Agung Made Wardana


“Demarkasi­nya jelas untuk tanaman yang berada di luar tembok pekarangan pribadi, maka itu menjadi milik publik dan bisa dimanfaatkan oleh publik.”

Dosen Hukum Lingkungan UGM, I Gusti Agung Made Wardana


“Demarkasi­nya jelas untuk tanaman yang berada di luar tembok pekarangan pribadi, maka itu menjadi milik publik dan bisa dimanfaatkan oleh publik.”

Wardana mengusulkan model commoning urban seperti yang diterapkan di Jerman. Pemerintah menyediakan petak tanah di kawasan urban untuk berkebun kolektif, warga hanya membayar air.

Gerakan ini bukan sekadar urusan perut, melainkan ruang interaksi sosial untuk meredam tekanan psikologis warga urban. Manfaatnya tidak sekadar ekonomi, tetapi juga sosial.

“Publik hari ini membutuhkan ruang-ruang interaksi untuk bercerita tentang keluh kesah mereka. Berkebun kolektif itu bukan hanya soal menanam tanaman, tapi juga ada interaksi di situ,” ujarnya.

Wardana mengusulkan model commoning urban seperti yang diterapkan di Jerman. Pemerintah menyediakan petak tanah di kawasan urban untuk berkebun kolektif, warga hanya membayar air.

Gerakan ini bukan sekadar urusan perut, melainkan ruang interaksi sosial untuk meredam tekanan psikologis warga urban. Manfaatnya tidak sekadar ekonomi, tetapi juga sosial.

“Publik hari ini membutuhkan ruang-ruang interaksi untuk bercerita tentang keluh kesah mereka. Berkebun kolektif itu bukan hanya soal menanam tanaman, tapi juga ada interaksi di situ,” ujarnya.

Wardana mengusulkan model commoning urban seperti yang diterapkan di Jerman. Pemerintah menyediakan petak tanah di kawasan urban untuk berkebun kolektif, warga hanya membayar air.

Gerakan ini bukan sekadar urusan perut, melainkan ruang interaksi sosial untuk meredam tekanan psikologis warga urban. Manfaatnya tidak sekadar ekonomi, tetapi juga sosial.

“Publik hari ini membutuhkan ruang-ruang interaksi untuk bercerita tentang keluh kesah mereka. Berkebun kolektif itu bukan hanya soal menanam tanaman, tapi juga ada interaksi di situ,” ujarnya.

Ia mengkritik keras kebijakan pemerintah daerah yang terlalu terpaku pada kosmetik kota berbasis pariwisata estetis di tengah menurunnya daya beli warga, dan sulitnya lapangan kerja. Kota harus memberikan manfaat nyata bagi penghuninya.

Ia mengkritik keras kebijakan pemerintah daerah yang terlalu terpaku pada kosmetik kota berbasis pariwisata estetis di tengah menurunnya daya beli warga, dan sulitnya lapangan kerja. Kota harus memberikan manfaat nyata bagi penghuninya.

Ia mengkritik keras kebijakan pemerintah daerah yang terlalu terpaku pada kosmetik kota berbasis pariwisata estetis di tengah menurunnya daya beli warga, dan sulitnya lapangan kerja. Kota harus memberikan manfaat nyata bagi penghuninya.

“Orang tidak bisa makan patung ataupun keindahan sudut kota. Orang sekarang butuh tanah yang bisa ditanami tanaman yang bisa mereka manfaatkan untuk masak.”

“Orang tidak bisa makan patung ataupun keindahan sudut kota. Orang sekarang butuh tanah yang bisa ditanami tanaman yang bisa mereka manfaatkan untuk masak.”

Ilustrasi dalam kutipan adalah Daun Kersen. (IDN Times/Yuko Utami)

Ilustrasi dalam kutipan adalah Daun Kersen. (IDN Times/Yuko Utami)

Kembali ke Tanah, Mengambil Secukupnya

Kembali ke Tanah, Mengambil Secukupnya

Kembali ke Tanah, Mengambil Secukupnya

Ilustrasi Daun Telang. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Ilustrasi Daun Telang. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Bagi Wardana, meramban dalam konteks urban hari ini bukan sekadar nostalgia atas tradisi lama. Meramban adalah bentuk perlawanan terhadap logika kota yang terlalu berorientasi pada komodifikasi ruang, sekaligus upaya untuk mengembalikan fungsi tanah sebagai penopang kehidupan, bukan semata aset investasi.

Pemerintah harus bersedia merelakan sebagian ruang publik, dan warga yang berani memanfaatkannya.

Pada akhirnya, tren meramban tanaman liar atau gulma di kalangan generasi muda membawa kita pada sebuah kesimpulan besar yang mempertemukan kedaulatan ruang, hukum, budaya, dan sains. Yuli Widiyastuti memberikan catatan bijak mengenai keberlanjutannya:

Bagi Wardana, meramban dalam konteks urban hari ini bukan sekadar nostalgia atas tradisi lama. Meramban adalah bentuk perlawanan terhadap logika kota yang terlalu berorientasi pada komodifikasi ruang, sekaligus upaya untuk mengembalikan fungsi tanah sebagai penopang kehidupan, bukan semata aset investasi.

Pemerintah harus bersedia merelakan sebagian ruang publik, dan warga yang berani memanfaatkannya.

Pada akhirnya, tren meramban tanaman liar atau gulma di kalangan generasi muda membawa kita pada sebuah kesimpulan besar yang mempertemukan kedaulatan ruang, hukum, budaya, dan sains. Yuli Widiyastuti memberikan catatan bijak mengenai keberlanjutannya:

Bagi Wardana, meramban dalam konteks urban hari ini bukan sekadar nostalgia atas tradisi lama. Meramban adalah bentuk perlawanan terhadap logika kota yang terlalu berorientasi pada komodifikasi ruang, sekaligus upaya untuk mengembalikan fungsi tanah sebagai penopang kehidupan, bukan semata aset investasi.

Pemerintah harus bersedia merelakan sebagian ruang publik, dan warga yang berani memanfaatkannya.

Pada akhirnya, tren meramban tanaman liar atau gulma di kalangan generasi muda membawa kita pada sebuah kesimpulan besar yang mempertemukan kedaulatan ruang, hukum, budaya, dan sains. Yuli Widiyastuti memberikan catatan bijak mengenai keberlanjutannya:

"Meramban tumbuhan liar sah-sah saja sepanjang dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Jangan sampai pemanenan berlebihan justru menyebabkan kelangkaan."

"Meramban tumbuhan liar sah-sah saja sepanjang dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Jangan sampai pemanenan berlebihan justru menyebabkan kelangkaan."

Ilustrasi dalam kutipan adalah Daun Imba. (IDN Times/Yuko Utami)

Ilustrasi dalam kutipan adalah Daun Imba. (IDN Times/Yuko Utami)

Ia memandang di masa depan perlu adanya lembaga khusus yang mengkaji tata cara pemanenan lestari gulma di kawasan urban.

Pandangan sains tersebut berkelindan erat dengan prinsip hidup Wayan Durpa di Tenganan, I Gusti Agung Made Wardana dari UGM, maupun Made Masak di kaki Gunung Batukaru. Bagi mereka, meramban adalah tindakan politis sekaligus etis: sebuah upaya mengambil secukupnya, merawat sepenuh hati, dan menolak tunduk pada logika komodifikasi ruang yang kaku.

Ketika warga urban terjebak dalam siklus konsumerisme supermarket yang tak pernah usai, seikat kecil tanaman liar dari tanah perkotaan seharusnya sudah cukup untuk menyambung hidup hari itu—sekaligus menyambung kembali ingatan kolektif kita pada tanah dan leluhur.

"Secara sadar kita akan mengambil cukup untuk hari itu, dan seperti itulah konsep kita di Bali dulu," kata Madek Masak.

Ia memandang di masa depan perlu adanya lembaga khusus yang mengkaji tata cara pemanenan lestari gulma di kawasan urban.

Pandangan sains tersebut berkelindan erat dengan prinsip hidup Wayan Durpa di Tenganan, I Gusti Agung Made Wardana dari UGM, maupun Made Masak di kaki Gunung Batukaru. Bagi mereka, meramban adalah tindakan politis sekaligus etis: sebuah upaya mengambil secukupnya, merawat sepenuh hati, dan menolak tunduk pada logika komodifikasi ruang yang kaku.

Ketika warga urban terjebak dalam siklus konsumerisme supermarket yang tak pernah usai, seikat kecil tanaman liar dari tanah perkotaan seharusnya sudah cukup untuk menyambung hidup hari itu—sekaligus menyambung kembali ingatan kolektif kita pada tanah dan leluhur.

"Secara sadar kita akan mengambil cukup untuk hari itu, dan seperti itulah konsep kita di Bali dulu," kata Madek Masak.

Ia memandang di masa depan perlu adanya lembaga khusus yang mengkaji tata cara pemanenan lestari gulma di kawasan urban.

Pandangan sains tersebut berkelindan erat dengan prinsip hidup Wayan Durpa di Tenganan, I Gusti Agung Made Wardana dari UGM, maupun Made Masak di kaki Gunung Batukaru. Bagi mereka, meramban adalah tindakan politis sekaligus etis: sebuah upaya mengambil secukupnya, merawat sepenuh hati, dan menolak tunduk pada logika komodifikasi ruang yang kaku.

Ketika warga urban terjebak dalam siklus konsumerisme supermarket yang tak pernah usai, seikat kecil tanaman liar dari tanah perkotaan seharusnya sudah cukup untuk menyambung hidup hari itu—sekaligus menyambung kembali ingatan kolektif kita pada tanah dan leluhur.

"Secara sadar kita akan mengambil cukup untuk hari itu, dan seperti itulah konsep kita di Bali dulu," kata Madek Masak.

Kami ingin menguji pengetahuanmu tentang meramban, sejarah, dan identifikasi gulma melalui gim di bawah ini. Cara mainnya mudah!

Kamu bisa bermain dua sampai empat orang. Tekan bunganya untuk mengetahui cara main, lalu pilih simbol "play" untuk memulai.

Untuk kenyamanan, tekan simbol "zoom" di pojok kanan bawah. Ubah pengaturan atau putar handphone-mu secara horizontal. Selamat bermain!

Kami ingin menguji pengetahuanmu tentang meramban, sejarah, dan identifikasi gulma melalui gim di bawah ini. Cara mainnya mudah!

Kamu bisa bermain dua sampai empat orang. Tekan bunganya untuk mengetahui cara main, lalu pilih simbol "play" untuk memulai.

Untuk kenyamanan, tekan simbol "zoom" di pojok kanan bawah. Ubah pengaturan atau putar handphone-mu secara horizontal. Selamat bermain!

Kami ingin menguji pengetahuanmu tentang meramban, sejarah, dan identifikasi gulma melalui gim di bawah ini. Cara mainnya mudah!

Kamu bisa bermain dua sampai empat orang. Tekan bunganya untuk mengetahui cara main, lalu pilih simbol "play" untuk memulai.

Untuk kenyamanan, tekan simbol "zoom" di pojok kanan bawah. Ubah pengaturan atau putar handphone-mu secara horizontal. Selamat bermain!

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Disusun oleh

Tim Editorial

Irma Yudistirani - Project Lead/Editor

Yogie Fadila - Editor

Febriana Shinta - Editor

Ashrawi Muin - Reporter

Debbie Sutrisno - Reporter

Muhamad Iqbal - Reporter

Muhammad Nasir - Reporter

Ni Komang Yuko Utami - Reporter/Illustrator

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Irma Yudistirani - Project Lead/Editor

Yogie Fadila - Editor

Febriana Shinta - Editor

Ashrawi Muin - Reporter

Debbie Sutrisno - Reporter

Muhamad Iqbal - Reporter

Muhammad Nasir - Reporter

Ni Komang Yuko Utami - Reporter/Illustrator

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Irma Yudistirani - Project Lead/Editor

Yogie Fadila - Editor

Febriana Shinta - Editor

Ashrawi Muin - Reporter

Debbie Sutrisno - Reporter

Muhamad Iqbal - Reporter

Muhammad Nasir - Reporter

Ni Komang Yuko Utami - Reporter/Illustrator

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com