Contracts Team

IDN Times - Satu jam dari Kota Denpasar, di bawah naungan pepohonan rindang Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, seorang perempuan sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang pernah diajarkan oleh nenek moyang.

Namanya Dewa Ayu Made atau akrab dipanggil Made Masak. Wajah polos tanpa riasan, nada bicaranya tegas dan lugas. Ia menyapa ramah sampai kedua ujung bibirnya ke atas, memperlihatkan deretan gigi bagian atas.

Semua bermula sepuluh tahun lalu, saat Made menekuni seni memasak dari hasil kebun sendiri. Kreasi masakannya berkembang seiring mengenali aneka tanaman yang tumbuh di teba (kebun tradisional Bali) atau kini lebih dikenal dengan nama food forest.

Ia memikirkan satu pertanyaan sederhana: dari mana asal bahan pangan yang dipakai untuk memasak?

"Itu yang membuat saya akhirnya terfokus pada tanaman hasil kebun sendiri, menantang diri untuk menggunakan bahan-bahan yang saya temui."

Semakin dalam menekuni dunia memasak dari kebun sendiri, Made Masak menyadari ini bukan hal baru. Melainkan tradisi lampau Bali yang telah lama terlupakan. Tradisi itu bernama meramban.

Dalam bahasa kontemporer, dunia menyebutnya foraging. Tapi bagi leluhur Bali, ini bukan hobi atau tren. Ini cara hidup.

Meramban adalah seni membaca alam, mengenali tanaman liar yang bisa dimakan, digunakan sebagai obat, atau keduanya. Mulai dari hutan pekarangan (teba), tepi sungai, hingga sudut-sudut jalan kota yang kerap kita abaikan.

Semakin dalam menekuni dunia memasak dari kebun sendiri, Made Masak menyadari ini bukan hal baru. Melainkan tradisi lampau Bali yang telah lama terlupakan. Tradisi itu bernama meramban.

Dalam bahasa kontemporer, dunia menyebutnya foraging. Tapi bagi leluhur Bali, ini bukan hobi atau tren. Ini cara hidup.

Meramban adalah seni membaca alam, mengenali tanaman liar yang bisa dimakan, digunakan sebagai obat, atau keduanya. Mulai dari hutan pekarangan (teba), tepi sungai, hingga sudut-sudut jalan kota yang kerap kita abaikan.

Semakin dalam menekuni dunia memasak dari kebun sendiri, Made Masak menyadari ini bukan hal baru. Melainkan tradisi lampau Bali yang telah lama terlupakan. Tradisi itu bernama meramban.

Dalam bahasa kontemporer, dunia menyebutnya foraging. Tapi bagi leluhur Bali, ini bukan hobi atau tren. Ini cara hidup.

Meramban adalah seni membaca alam, mengenali tanaman liar yang bisa dimakan, digunakan sebagai obat, atau keduanya. Mulai dari hutan pekarangan (teba), tepi sungai, hingga sudut-sudut jalan kota yang kerap kita abaikan.

Made Masak di Alit Trekking kawasan Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Made Masak di Alit Trekking kawasan Banjar Bengkel, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Pengetahuan awal meramban ini berakar dari tradisi turun-temurun pedesaan. Lalu, ia memadukannya dengan literatur dan pengalaman warga dari berbagai penjuru nusantara, hingga praktik keseharian.

Belajar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi, ia menemukan konfirmasi bahwa pengetahuan leluhur memiliki pola universal. Misalnya, Daun Dadap digunakan untuk menurunkan demam, atau Daun Sirih sebagai antibiotik.

Ada ribuan fungsi lain yang belum dia ketahui. Setiap hari selalu ada hal baru. Made Masak kemudian menantang batas narasi meramban yang selama ini identik dengan hutan pedesaan.

"Sebenarnya meramban itu bisa di mana aja, di kota malah banyak sekali lho rambanan yang sebenarnya rumput-rumput liar," katanya.

Pengetahuan awal meramban ini berakar dari tradisi turun-temurun pedesaan. Lalu, ia memadukannya dengan literatur dan pengalaman warga dari berbagai penjuru nusantara, hingga praktik keseharian.

Belajar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi, ia menemukan konfirmasi bahwa pengetahuan leluhur memiliki pola universal. Misalnya, Daun Dadap digunakan untuk menurunkan demam, atau Daun Sirih sebagai antibiotik.

Ada ribuan fungsi lain yang belum dia ketahui. Setiap hari selalu ada hal baru. Made Masak kemudian menantang batas narasi meramban yang selama ini identik dengan hutan pedesaan.

"Sebenarnya meramban itu bisa di mana aja, di kota malah banyak sekali lho rambanan yang sebenarnya rumput-rumput liar," katanya.

Pengetahuan awal meramban ini berakar dari tradisi turun-temurun pedesaan. Lalu, ia memadukannya dengan literatur dan pengalaman warga dari berbagai penjuru nusantara, hingga praktik keseharian.

Belajar sampai ke Kalimantan dan Sulawesi, ia menemukan konfirmasi bahwa pengetahuan leluhur memiliki pola universal. Misalnya, Daun Dadap digunakan untuk menurunkan demam, atau Daun Sirih sebagai antibiotik.

Ada ribuan fungsi lain yang belum dia ketahui. Setiap hari selalu ada hal baru. Made Masak kemudian menantang batas narasi meramban yang selama ini identik dengan hutan pedesaan.

"Sebenarnya meramban itu bisa di mana aja, di kota malah banyak sekali lho rambanan yang sebenarnya rumput-rumput liar," katanya.

Jejak Meramban di Bali Aga

Jejak Meramban di Bali Aga

Jejak Meramban di Bali Aga

Bali menyimpan jejak tradisi meramban. Ada Jukut Rambanan dari Kabupaten Jembrana. Isinya terdiri dari berbagai sayuran hasil meramban tanaman liar (gulma) di kebun atau tepi sungai, dan dibumbu kuning bening. Lalu, Jukut Buangit dari Kabupaten Buleleng. Berupa sayur pahit dari Daun Buangit (Cleome gynandra), gulma tropis yang tumbuh liar.

Jejak filsafat penyeimbang pangan lewat tanaman liar ini juga ada dalam Tradisi Mejukutan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Tradisi makan sayur sehari setelah upacara adat. Setiap menggelar upacara adat, warga desa tertua di Bali (Bali Aga) ini membuat olahan daging babi yang selalu menjadi persantapan utama.

Setelah berhari-hari makan daging babi, mereka memerlukan penawar lemak. Di sinilah Tradisi Mejukutan mengambil peran, dan hidangan yang dihasilkan bernama Jukut Ononan.

“Itu tradisi, orang sudah turun-temurun saja di sini. Kalau sudah habis upacara besar, setelah makan-makan pakai daging babi, akhirnya kalau di sini itu istilahnya kayak penyelab (selingan),” ujar Wayan Durpa (44), warga Desa Tenganan Pegringsingan yang ditemui IDN Times Kamis, 14 Mei 2026.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Papan larangan buang sampah di kawasan Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem pada Kamis, 14 Mei 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Papan larangan buang sampah di kawasan Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem pada Kamis, 14 Mei 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Jukut Ononan berisi berbagai macam tanaman liar di pekarangan. Durpa dan warga desa yang tinggal dekat kebun punya tugas untuk mencari tanaman tersebut. Aktivitas ini dinamakan ngonon, atau meramban tanaman liar di pekarangan hingga ke dalam hutan.

Ia mengumpulkan bahan ononan minimal lima jenis daun yang masih muda. Rata-rata mengumpulkan satu plastik besar untuk dinikmati sekitar 20 orang. Dari sekian banyak pilihan, ada satu tanaman yang wajib jadi bintang, yakni Daun Paspasan (Papasan).

​Selain itu, ditambah Daun Pepe, Daun Delundung, Daun Katuk atau orang Bali menyebutnya Daun Kayu Manis, Daun Belimbing, Daun Ubi Karet, daun cabai muda, hingga jantung pisang.

Jukut Ononan berisi berbagai macam tanaman liar di pekarangan. Durpa dan warga desa yang tinggal dekat kebun punya tugas untuk mencari tanaman tersebut. Aktivitas ini dinamakan ngonon, atau meramban tanaman liar di pekarangan hingga ke dalam hutan.

Ia mengumpulkan bahan ononan minimal lima jenis daun yang masih muda. Rata-rata mengumpulkan satu plastik besar untuk dinikmati sekitar 20 orang. Dari sekian banyak pilihan, ada satu tanaman yang wajib jadi bintang, yakni Daun Paspasan (Papasan).

​Selain itu, ditambah Daun Pepe, Daun Delundung, Daun Katuk atau orang Bali menyebutnya Daun Kayu Manis, Daun Belimbing, Daun Ubi Karet, daun cabai muda, hingga jantung pisang.

Jukut Ononan berisi berbagai macam tanaman liar di pekarangan. Durpa dan warga desa yang tinggal dekat kebun punya tugas untuk mencari tanaman tersebut. Aktivitas ini dinamakan ngonon, atau meramban tanaman liar di pekarangan hingga ke dalam hutan.

Ia mengumpulkan bahan ononan minimal lima jenis daun yang masih muda. Rata-rata mengumpulkan satu plastik besar untuk dinikmati sekitar 20 orang. Dari sekian banyak pilihan, ada satu tanaman yang wajib jadi bintang, yakni Daun Paspasan (Papasan).

​Selain itu, ditambah Daun Pepe, Daun Delundung, Daun Katuk atau orang Bali menyebutnya Daun Kayu Manis, Daun Belimbing, Daun Ubi Karet, daun cabai muda, hingga jantung pisang.

"Bumbu ononan itu basa genap (bumbu lengkap rempah khas Bali). Ada sedikit santan, dan sisa daging dari upacara kemarin juga dipakai. Daunnya baru dimasukkan di akhir, biar masih segar," jelas petani Madu Kele ini.

Durpa sudah lama memercayai khasiat tanaman liar. Seperti Daun Papasan, yang dia percayai bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Sementara, Daun Katuk untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Karena manfaat itu, warga Tenganan tidak memusnahkan tanaman liar ini, dan membiarkan tumbuh begitu saja di sekitar desa.

"Bumbu ononan itu basa genap (bumbu lengkap rempah khas Bali). Ada sedikit santan, dan sisa daging dari upacara kemarin juga dipakai. Daunnya baru dimasukkan di akhir, biar masih segar," jelas petani Madu Kele ini.

Durpa sudah lama memercayai khasiat tanaman liar. Seperti Daun Papasan, yang dia percayai bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Sementara, Daun Katuk untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Karena manfaat itu, warga Tenganan tidak memusnahkan tanaman liar ini, dan membiarkan tumbuh begitu saja di sekitar desa.

"Bumbu ononan itu basa genap (bumbu lengkap rempah khas Bali). Ada sedikit santan, dan sisa daging dari upacara kemarin juga dipakai. Daunnya baru dimasukkan di akhir, biar masih segar," jelas petani Madu Kele ini.

Durpa sudah lama memercayai khasiat tanaman liar. Seperti Daun Papasan, yang dia percayai bermanfaat untuk meredakan panas dalam. Sementara, Daun Katuk untuk melancarkan air susu ibu (ASI). Karena manfaat itu, warga Tenganan tidak memusnahkan tanaman liar ini, dan membiarkan tumbuh begitu saja di sekitar desa.

Disusun oleh

Tim Penulis

Arifin Al Alamudi

Reporter

Halbert Chaniago (Padang)

Muhammad Ilman Nafian (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Prayugo Utomo (Medan)

Eko Agus Herianto (Deli Serdang)

Yosafat Diva Bayu Wisesa (Jakarta)

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Penulis

Arifin Al Alamudi

Reporter

Halbert Chaniago (Padang)

Muhammad Ilman Nafian (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Prayugo Utomo (Medan)

Eko Agus Herianto (Deli Serdang)

Yosafat Diva Bayu Wisesa (Jakarta)

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Penulis

Arifin Al Alamudi

Reporter

Halbert Chaniago (Padang)

Muhammad Ilman Nafian (Jakarta)

Irfan Fathurohman (Jakarta)

Prayugo Utomo (Medan)

Eko Agus Herianto (Deli Serdang)

Yosafat Diva Bayu Wisesa (Jakarta)

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com