Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban

Pesantren Menerobos Zaman

Pesantren Menerobos Zaman

Pesantren Menerobos Zaman

Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban

Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban

Para santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan melaksanakan kegiatan rutin tadarus Alquran saat Ramadan 1447 hijriah. (IDN Times/Arifin)

Para santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan melaksanakan kegiatan rutin tadarus Alquran saat Ramadan 1447 hijriah. (IDN Times/Arifin)

Senja turun pelan di langit barat Kota Kediri. Siluet Gunung Kelud yang tadi masih samar di selatan masjid, perlahan hilang ditelan malam. Di Masjid Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, ribuan santri baru saja menuntaskan Salat Magrib. Zikir mengalun, memantul di lengkung-langit ruangan, seperti ombak yang tak terlihat.


Di serambi utara, di bawah beduk tua yang menggantung kokoh, seorang santri duduk bersila. Kepalanya tertunduk. Telapak tangannya menutup wajah yang basah.


“Menangis seperti itu, kurang lebih sebulan saya lewati,” kata Bahar, mengenang hari-hari pertamanya mondok di Lirboyo, saat ditemui Rabu (11/2/2026) lalu. “Saya teringat bapak dan ibu di rumah.”

Senja turun pelan di langit barat Kota Kediri. Siluet Gunung Kelud yang tadi masih samar di selatan masjid, perlahan hilang ditelan malam. Di Masjid Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, ribuan santri baru saja menuntaskan Salat Magrib. Zikir mengalun, memantul di lengkung-langit ruangan, seperti ombak yang tak terlihat.


Di serambi utara, di bawah beduk tua yang menggantung kokoh, seorang santri duduk bersila. Kepalanya tertunduk. Telapak tangannya menutup wajah yang basah.


“Menangis seperti itu, kurang lebih sebulan saya lewati,” kata Bahar, mengenang hari-hari pertamanya mondok di Lirboyo, saat ditemui Rabu (11/2/2026) lalu. “Saya teringat bapak dan ibu di rumah.”

Senja turun pelan di langit barat Kota Kediri. Siluet Gunung Kelud yang tadi masih samar di selatan masjid, perlahan hilang ditelan malam. Di Masjid Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, ribuan santri baru saja menuntaskan Salat Magrib. Zikir mengalun, memantul di lengkung-langit ruangan, seperti ombak yang tak terlihat.


Di serambi utara, di bawah beduk tua yang menggantung kokoh, seorang santri duduk bersila. Kepalanya tertunduk. Telapak tangannya menutup wajah yang basah.


“Menangis seperti itu, kurang lebih sebulan saya lewati,” kata Bahar, mengenang hari-hari pertamanya mondok di Lirboyo, saat ditemui Rabu (11/2/2026) lalu. “Saya teringat bapak dan ibu di rumah.”

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Salah seorang santri membaca nadhom di serambi masjid Lawang Songo, Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. (IDN Times/Bramanta Pamungkas)

Salah seorang santri membaca nadhom di serambi masjid Lawang Songo, Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. (IDN Times/Bramanta Pamungkas)

Ahmad Muharya Baharuddin (24) datang dari Kaliwungu, Kendal—kampung santri di pesisir Jawa Tengah. Di sana, nama Lirboyo disebut dengan takzim. Banyak kiai kampungnya adalah alumni Lirboyo. Ia tumbuh dengan cerita tentang ketekunan dan keberkahan ilmu. Maka ketika tiba saat memilih tempat belajar, ia bersikeras berangkat ke Kediri, meski orangtuanya sempat menahan.


“Jauh,” kata orangtuanya waktu itu.


“Tapi saya yang minta sendiri,” ujar Bahar menambahkan.


Keputusan itu terasa gagah sebelum dijalani. Namun ketika mobil yang mengantar orangtuanya benar-benar lenyap di tikungan, keberanian itu luruh. Setiap Magrib, ketika istighfar dilantunkan berjamaah, dadanya sesak. Ia menangis diam-diam, di antara ratusan santri lain yang tenggelam dalam doa. Sebulan penuh senja menjadi jam rawan.

Ahmad Muharya Baharuddin (24) datang dari Kaliwungu, Kendal—kampung santri di pesisir Jawa Tengah. Di sana, nama Lirboyo disebut dengan takzim. Banyak kiai kampungnya adalah alumni Lirboyo. Ia tumbuh dengan cerita tentang ketekunan dan keberkahan ilmu. Maka ketika tiba saat memilih tempat belajar, ia bersikeras berangkat ke Kediri, meski orangtuanya sempat menahan.


“Jauh,” kata orangtuanya waktu itu.


“Tapi saya yang minta sendiri,” ujar Bahar menambahkan.


Keputusan itu terasa gagah sebelum dijalani. Namun ketika mobil yang mengantar orangtuanya benar-benar lenyap di tikungan, keberanian itu luruh. Setiap Magrib, ketika istighfar dilantunkan berjamaah, dadanya sesak. Ia menangis diam-diam, di antara ratusan santri lain yang tenggelam dalam doa. Sebulan penuh senja menjadi jam rawan.

Ahmad Muharya Baharuddin (24) datang dari Kaliwungu, Kendal—kampung santri di pesisir Jawa Tengah. Di sana, nama Lirboyo disebut dengan takzim. Banyak kiai kampungnya adalah alumni Lirboyo. Ia tumbuh dengan cerita tentang ketekunan dan keberkahan ilmu. Maka ketika tiba saat memilih tempat belajar, ia bersikeras berangkat ke Kediri, meski orangtuanya sempat menahan.


“Jauh,” kata orangtuanya waktu itu.


“Tapi saya yang minta sendiri,” ujar Bahar menambahkan.


Keputusan itu terasa gagah sebelum dijalani. Namun ketika mobil yang mengantar orangtuanya benar-benar lenyap di tikungan, keberanian itu luruh. Setiap Magrib, ketika istighfar dilantunkan berjamaah, dadanya sesak. Ia menangis diam-diam, di antara ratusan santri lain yang tenggelam dalam doa. Sebulan penuh senja menjadi jam rawan.

Ancaman berdemokrasi, kebebasan bicara dan berpendapat di Indonesia

Ribuan santri Lirboyo sampai meluber ke jalan-jalan saat mengaji kitab kuning model bandongan saat ramadan. (LIrboyo for IDN Times)

Ribuan santri Lirboyo sampai meluber ke jalan-jalan saat mengaji kitab kuning model bandongan saat ramadan. (LIrboyo for IDN Times)

Adaptasi di pesantren bukan hanya soal rindu. Bahar harus berdamai dengan ritme hidup yang baru. Makan tak lagi seleluasa di rumah. Ia belajar menikmati lengseran mayoran—makan berjamaah dengan menu sederhana dari dapur pondok. Tiga bulan pertama terasa berat. Setahun kemudian, tubuhnya menyusut drastis.


“Dulu saya gendut. Pulang kampung orang-orang sampai pangling,” katanya, tersenyum kecil.


Namun justru di situ letak pertarungannya. Mondok adalah pilihannya sendiri. Pulang sebelum waktunya berarti kalah pada diri sendiri.


“Harus dilawan sampai krasan.”

Adaptasi di pesantren bukan hanya soal rindu. Bahar harus berdamai dengan ritme hidup yang baru. Makan tak lagi seleluasa di rumah. Ia belajar menikmati lengseran mayoran—makan berjamaah dengan menu sederhana dari dapur pondok. Tiga bulan pertama terasa berat. Setahun kemudian, tubuhnya menyusut drastis.


“Dulu saya gendut. Pulang kampung orang-orang sampai pangling,” katanya, tersenyum kecil.


Namun justru di situ letak pertarungannya. Mondok adalah pilihannya sendiri. Pulang sebelum waktunya berarti kalah pada diri sendiri.


“Harus dilawan sampai krasan.”

Adaptasi di pesantren bukan hanya soal rindu. Bahar harus berdamai dengan ritme hidup yang baru. Makan tak lagi seleluasa di rumah. Ia belajar menikmati lengseran mayoran—makan berjamaah dengan menu sederhana dari dapur pondok. Tiga bulan pertama terasa berat. Setahun kemudian, tubuhnya menyusut drastis.


“Dulu saya gendut. Pulang kampung orang-orang sampai pangling,” katanya, tersenyum kecil.


Namun justru di situ letak pertarungannya. Mondok adalah pilihannya sendiri. Pulang sebelum waktunya berarti kalah pada diri sendiri.


“Harus dilawan sampai krasan.”

Suasana lingkungan luar Ponpes Lirboyo di Jalan KH Abdul Karim Kota Kediri (IDN Times/Zumrotul Abidin)

Tahun-tahun awal ia sebut sebagai latihan mental. Ia yang pendiam dipaksa berbicara di depan teman-teman, mempresentasikan pelajaran, memperkuat hafalan. Ia pernah ditakzir—digundul karena terlambat sekolah. Hukuman yang dulu lazim, meski kini banyak disesuaikan dengan pendekatan yang lebih humanis.


“Sekarang lebih longgar, tapi esensinya tetap.”


Uang sakunya tak pernah lebih dari Rp500 ribu sebulan. Ia belajar mengatur kebutuhan sendiri. Di antara disiplin dan keterbatasan itu, ia justru menemukan kebanggaan. Ia mengikuti festival hafalan—Alfiyah Ibnu Malik, Jurumiyah, Safinatun Najah. Satu demi satu ia lewati.

Tahun-tahun awal ia sebut sebagai latihan mental. Ia yang pendiam dipaksa berbicara di depan teman-teman, mempresentasikan pelajaran, memperkuat hafalan. Ia pernah ditakzir—digundul karena terlambat sekolah. Hukuman yang dulu lazim, meski kini banyak disesuaikan dengan pendekatan yang lebih humanis.


“Sekarang lebih longgar, tapi esensinya tetap.”


Uang sakunya tak pernah lebih dari Rp500 ribu sebulan. Ia belajar mengatur kebutuhan sendiri. Di antara disiplin dan keterbatasan itu, ia justru menemukan kebanggaan. Ia mengikuti festival hafalan—Alfiyah Ibnu Malik, Jurumiyah, Safinatun Najah. Satu demi satu ia lewati.

Tahun-tahun awal ia sebut sebagai latihan mental. Ia yang pendiam dipaksa berbicara di depan teman-teman, mempresentasikan pelajaran, memperkuat hafalan. Ia pernah ditakzir—digundul karena terlambat sekolah. Hukuman yang dulu lazim, meski kini banyak disesuaikan dengan pendekatan yang lebih humanis.


“Sekarang lebih longgar, tapi esensinya tetap.”


Uang sakunya tak pernah lebih dari Rp500 ribu sebulan. Ia belajar mengatur kebutuhan sendiri. Di antara disiplin dan keterbatasan itu, ia justru menemukan kebanggaan. Ia mengikuti festival hafalan—Alfiyah Ibnu Malik, Jurumiyah, Safinatun Najah. Satu demi satu ia lewati.

Satu dekade Bahar menjadi santri. Belum ada rencana pulang kampung. Tahun ini ia berupaya menuntaskan studi Magister Pendidikan Agama Islam di lingkungan pondok. Karena ia mendekap erat petuah yang kerap dikutip para masyayikh, dari Imam Asy-Syafi’i: hidup dibangun dengan ilmu dan takwa.


“Ilmu itu bisa menyangga rumah tanpa tiang,” katanya. “Kalau kamu punya ilmu, walau dari keluarga biasa, derajat keluargamu ikut terangkat.”


Bagi Bahar, menjadi santri bukan sekadar status. Ia adalah cara menjaga martabat.


Malam makin larut. Santri-santri kembali ke bilik, membawa kitab dan catatan. Mungkin ada yang masih menangis seperti Bahar dulu. Namun, di balik tembok pesantren, air mata pelan-pelan berubah menjadi keteguhan. Di sana, kesedihan adalah latihan daya tahan.

Satu dekade Bahar menjadi santri. Belum ada rencana pulang kampung. Tahun ini ia berupaya menuntaskan studi Magister Pendidikan Agama Islam di lingkungan pondok. Karena ia mendekap erat petuah yang kerap dikutip para masyayikh, dari Imam Asy-Syafi’i: hidup dibangun dengan ilmu dan takwa.


“Ilmu itu bisa menyangga rumah tanpa tiang,” katanya. “Kalau kamu punya ilmu, walau dari keluarga biasa, derajat keluargamu ikut terangkat.”


Bagi Bahar, menjadi santri bukan sekadar status. Ia adalah cara menjaga martabat.


Malam makin larut. Santri-santri kembali ke bilik, membawa kitab dan catatan. Mungkin ada yang masih menangis seperti Bahar dulu. Namun, di balik tembok pesantren, air mata pelan-pelan berubah menjadi keteguhan. Di sana, kesedihan adalah latihan daya tahan.

Satu dekade Bahar menjadi santri. Belum ada rencana pulang kampung. Tahun ini ia berupaya menuntaskan studi Magister Pendidikan Agama Islam di lingkungan pondok. Karena ia mendekap erat petuah yang kerap dikutip para masyayikh, dari Imam Asy-Syafi’i: hidup dibangun dengan ilmu dan takwa.


“Ilmu itu bisa menyangga rumah tanpa tiang,” katanya. “Kalau kamu punya ilmu, walau dari keluarga biasa, derajat keluargamu ikut terangkat.”


Bagi Bahar, menjadi santri bukan sekadar status. Ia adalah cara menjaga martabat.


Malam makin larut. Santri-santri kembali ke bilik, membawa kitab dan catatan. Mungkin ada yang masih menangis seperti Bahar dulu. Namun, di balik tembok pesantren, air mata pelan-pelan berubah menjadi keteguhan. Di sana, kesedihan adalah latihan daya tahan.

Alarm di Balik Statistik Santri

Alarm di Balik Statistik Santri

Alarm di Balik Statistik Santri

Namun di luar bilik-bilik pesantren, dunia bergerak lebih cepat dari ritme zikir. Empat tahun terakhir, grafik jumlah santri nasional menunjukkan gejala yang tak bisa diabaikan.


Data Kementerian Agama mencatat, pada 2022/2023 jumlah santri sempat berada di kisaran lebih dari empat juta. Setahun berikutnya, angka itu meluncur turun. Hingga 2025/2026, jumlahnya tinggal sekitar 1,3 juta—merosot lebih dari separuh dalam dua tahun.

Namun di luar bilik-bilik pesantren, dunia bergerak lebih cepat dari ritme zikir. Empat tahun terakhir, grafik jumlah santri nasional menunjukkan gejala yang tak bisa diabaikan.


Data Kementerian Agama mencatat, pada 2022/2023 jumlah santri sempat berada di kisaran lebih dari empat juta. Setahun berikutnya, angka itu meluncur turun. Hingga 2025/2026, jumlahnya tinggal sekitar 1,3 juta—merosot lebih dari separuh dalam dua tahun.

Namun di luar bilik-bilik pesantren, dunia bergerak lebih cepat dari ritme zikir. Empat tahun terakhir, grafik jumlah santri nasional menunjukkan gejala yang tak bisa diabaikan.


Data Kementerian Agama mencatat, pada 2022/2023 jumlah santri sempat berada di kisaran lebih dari empat juta. Setahun berikutnya, angka itu meluncur turun. Hingga 2025/2026, jumlahnya tinggal sekitar 1,3 juta—merosot lebih dari separuh dalam dua tahun.

Tren penurunan jumlah santri juga terjadi di Jawa Timur, provinsi dengan basis pesantren terbesar di Indonesia. Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Imam Turmudi, menyebut penurunan tajam mulai terlihat setelah 2022.


“Penurunan cukup tajam terjadi setelah 2022. Ini bukan karena satu sebab, tetapi ada faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan,” ujar Turmudi.


Menurut dia, perubahan preferensi pendidikan menjadi faktor utama. Sekarang minat masyarakat terhadap sekolah umum dan pendidikan formal meningkat. “Banyak orang tua menilai sekolah umum memberi peluang lebih besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau mendapatkan sertifikasi profesi,” katanya.

Tren penurunan jumlah santri juga terjadi di Jawa Timur, provinsi dengan basis pesantren terbesar di Indonesia. Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Imam Turmudi, menyebut penurunan tajam mulai terlihat setelah 2022.


“Penurunan cukup tajam terjadi setelah 2022. Ini bukan karena satu sebab, tetapi ada faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan,” ujar Turmudi.


Menurut dia, perubahan preferensi pendidikan menjadi faktor utama. Sekarang minat masyarakat terhadap sekolah umum dan pendidikan formal meningkat. “Banyak orang tua menilai sekolah umum memberi peluang lebih besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau mendapatkan sertifikasi profesi,” katanya.

Tren penurunan jumlah santri juga terjadi di Jawa Timur, provinsi dengan basis pesantren terbesar di Indonesia. Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Imam Turmudi, menyebut penurunan tajam mulai terlihat setelah 2022.


“Penurunan cukup tajam terjadi setelah 2022. Ini bukan karena satu sebab, tetapi ada faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan,” ujar Turmudi.


Menurut dia, perubahan preferensi pendidikan menjadi faktor utama. Sekarang minat masyarakat terhadap sekolah umum dan pendidikan formal meningkat. “Banyak orang tua menilai sekolah umum memberi peluang lebih besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau mendapatkan sertifikasi profesi,” katanya.

Ia menambahkan, sekolah umum dinilai memiliki sistem yang lebih terstruktur dan kurikulum yang terstandar. “Akses menuju perguruan tinggi juga dianggap lebih jelas. Dalam situasi persaingan kerja yang makin ketat, pertimbangan masa depan akademik dan karier anak menjadi alasan dominan,” ucapnya.


Selain itu, faktor demografi turut berpengaruh. “Di beberapa daerah, jumlah anak usia sekolah memang menurun. Dampaknya bukan hanya ke pesantren, tetapi ke semua lembaga pendidikan,” kata Turmudi.


Dari sisi internal, ia mengakui masih ada pesantren yang menghadapi keterbatasan terutama yang tradisional, masih menghadapi tantangan pada kualitas sarana pengajaran dan fasilitas. “Kurikulum belum berkembang, sarana belajar terbatas, dan integrasi teknologi belum optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah umum dinilai memiliki sistem yang lebih terstruktur dan kurikulum yang terstandar. “Akses menuju perguruan tinggi juga dianggap lebih jelas. Dalam situasi persaingan kerja yang makin ketat, pertimbangan masa depan akademik dan karier anak menjadi alasan dominan,” ucapnya.


Selain itu, faktor demografi turut berpengaruh. “Di beberapa daerah, jumlah anak usia sekolah memang menurun. Dampaknya bukan hanya ke pesantren, tetapi ke semua lembaga pendidikan,” kata Turmudi.


Dari sisi internal, ia mengakui masih ada pesantren yang menghadapi keterbatasan terutama yang tradisional, masih menghadapi tantangan pada kualitas sarana pengajaran dan fasilitas. “Kurikulum belum berkembang, sarana belajar terbatas, dan integrasi teknologi belum optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah umum dinilai memiliki sistem yang lebih terstruktur dan kurikulum yang terstandar. “Akses menuju perguruan tinggi juga dianggap lebih jelas. Dalam situasi persaingan kerja yang makin ketat, pertimbangan masa depan akademik dan karier anak menjadi alasan dominan,” ucapnya.


Selain itu, faktor demografi turut berpengaruh. “Di beberapa daerah, jumlah anak usia sekolah memang menurun. Dampaknya bukan hanya ke pesantren, tetapi ke semua lembaga pendidikan,” kata Turmudi.


Dari sisi internal, ia mengakui masih ada pesantren yang menghadapi keterbatasan terutama yang tradisional, masih menghadapi tantangan pada kualitas sarana pengajaran dan fasilitas. “Kurikulum belum berkembang, sarana belajar terbatas, dan integrasi teknologi belum optimal,” ujarnya.

Ia juga menyinggung isu sosial yang memengaruhi persepsi publik. Seperti kasus kekerasan atau perundungan yang muncul di media. “Meskipun tidak terjadi di semua pesantren, tetap berdampak pada kepercayaan orang tua,” katanya.


Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama DIY, Muhammad Nilzam Yahya, menyebut munculnya sekolah berasrama model “Sekolah Rakyat” sebagai alternatif baru. Kebijakan penerimaan sekolah negeri yang lebih longgar turut memengaruhi pilihan orang tua.


“Ini momentum refleksi,” katanya. Pesantren, menurutnya, perlu memperkuat tata kelola dan merespons perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan yang mengubah cara belajar generasi muda.

Ia juga menyinggung isu sosial yang memengaruhi persepsi publik. Seperti kasus kekerasan atau perundungan yang muncul di media. “Meskipun tidak terjadi di semua pesantren, tetap berdampak pada kepercayaan orang tua,” katanya.


Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama DIY, Muhammad Nilzam Yahya, menyebut munculnya sekolah berasrama model “Sekolah Rakyat” sebagai alternatif baru. Kebijakan penerimaan sekolah negeri yang lebih longgar turut memengaruhi pilihan orang tua.


“Ini momentum refleksi,” katanya. Pesantren, menurutnya, perlu memperkuat tata kelola dan merespons perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan yang mengubah cara belajar generasi muda.

Ia juga menyinggung isu sosial yang memengaruhi persepsi publik. Seperti kasus kekerasan atau perundungan yang muncul di media. “Meskipun tidak terjadi di semua pesantren, tetap berdampak pada kepercayaan orang tua,” katanya.


Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama DIY, Muhammad Nilzam Yahya, menyebut munculnya sekolah berasrama model “Sekolah Rakyat” sebagai alternatif baru. Kebijakan penerimaan sekolah negeri yang lebih longgar turut memengaruhi pilihan orang tua.


“Ini momentum refleksi,” katanya. Pesantren, menurutnya, perlu memperkuat tata kelola dan merespons perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan yang mengubah cara belajar generasi muda.

Di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Hilmy Muhammad—akrab disapa Gus Hilmy—memandang penurunan itu dengan kepala dingin. Ada tekanan ekonomi keluarga, ada pula persepsi bahwa sekolah umum lebih menjanjikan. Padahal banyak pesantren kini mengintegrasikan kurikulum formal, teknologi, hingga kewirausahaan.


“Memondokkan anak adalah investasi jangka panjang,” ujarnya. “Pendidikan bukan hanya soal ijazah, tapi pembentukan karakter.”


Di Lampung, Pondok Pesantren Darussa’adah mengalami stagnasi sejak 2018. Rata-rata penerimaan 300–400 santri per tahun. Dukungan pemerintah daerah terbatas.


“Kalau dihitung empat tahun berturut-turut, peningkatannya bahkan tidak sampai 10 persen. Malah ada tahun-tahun tertentu yang turun ke angka 300-an,” ujar Gus Hisyam ditemui IDN Times, Selasa 17 Februari 2026. Sementara di Nusa Tenggara Barat, jumlah santri relatif stagnan, dengan tantangan pada fasilitas olahraga dan seni.

Di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Hilmy Muhammad—akrab disapa Gus Hilmy—memandang penurunan itu dengan kepala dingin. Ada tekanan ekonomi keluarga, ada pula persepsi bahwa sekolah umum lebih menjanjikan. Padahal banyak pesantren kini mengintegrasikan kurikulum formal, teknologi, hingga kewirausahaan.


“Memondokkan anak adalah investasi jangka panjang,” ujarnya. “Pendidikan bukan hanya soal ijazah, tapi pembentukan karakter.”


Di Lampung, Pondok Pesantren Darussa’adah mengalami stagnasi sejak 2018. Rata-rata penerimaan 300–400 santri per tahun. Dukungan pemerintah daerah terbatas.


“Kalau dihitung empat tahun berturut-turut, peningkatannya bahkan tidak sampai 10 persen. Malah ada tahun-tahun tertentu yang turun ke angka 300-an,” ujar Gus Hisyam ditemui IDN Times, Selasa 17 Februari 2026. Sementara di Nusa Tenggara Barat, jumlah santri relatif stagnan, dengan tantangan pada fasilitas olahraga dan seni.

Di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Hilmy Muhammad—akrab disapa Gus Hilmy—memandang penurunan itu dengan kepala dingin. Ada tekanan ekonomi keluarga, ada pula persepsi bahwa sekolah umum lebih menjanjikan. Padahal banyak pesantren kini mengintegrasikan kurikulum formal, teknologi, hingga kewirausahaan.


“Memondokkan anak adalah investasi jangka panjang,” ujarnya. “Pendidikan bukan hanya soal ijazah, tapi pembentukan karakter.”


Di Lampung, Pondok Pesantren Darussa’adah mengalami stagnasi sejak 2018. Rata-rata penerimaan 300–400 santri per tahun. Dukungan pemerintah daerah terbatas.


“Kalau dihitung empat tahun berturut-turut, peningkatannya bahkan tidak sampai 10 persen. Malah ada tahun-tahun tertentu yang turun ke angka 300-an,” ujar Gus Hisyam ditemui IDN Times, Selasa 17 Februari 2026. Sementara di Nusa Tenggara Barat, jumlah santri relatif stagnan, dengan tantangan pada fasilitas olahraga dan seni.

Namun ada pula cerita berbeda. Di Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu, jumlah santri justru meningkat sejak 2021. Integrasi kurikulum klasik dan modern, serta jenjang pendidikan yang lengkap. “Fasilitas asrama juga sudah lengkap,” ujar Pengasuh Ponpes, Ustaz Lalu Lutfhi Hasim.


Data penurunan jumlah santri secara nasional bagi sebagian kalangan, itu alarm. Bagi Ahmad Mihyal Manutho Muhammad—akrab disapa Gus Mihyal—itu bahan muhasabah.


“Kalau ada data seperti itu, kami terima sebagai kritik dan saran. Berarti ada yang perlu dibenahi,” kata salah seorang ustaz di Lirboyo ini.

Namun ada pula cerita berbeda. Di Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu, jumlah santri justru meningkat sejak 2021. Integrasi kurikulum klasik dan modern, serta jenjang pendidikan yang lengkap. “Fasilitas asrama juga sudah lengkap,” ujar Pengasuh Ponpes, Ustaz Lalu Lutfhi Hasim.


Data penurunan jumlah santri secara nasional bagi sebagian kalangan, itu alarm. Bagi Ahmad Mihyal Manutho Muhammad—akrab disapa Gus Mihyal—itu bahan muhasabah.


“Kalau ada data seperti itu, kami terima sebagai kritik dan saran. Berarti ada yang perlu dibenahi,” kata salah seorang ustaz di Lirboyo ini.

Namun ada pula cerita berbeda. Di Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu, jumlah santri justru meningkat sejak 2021. Integrasi kurikulum klasik dan modern, serta jenjang pendidikan yang lengkap. “Fasilitas asrama juga sudah lengkap,” ujar Pengasuh Ponpes, Ustaz Lalu Lutfhi Hasim.


Data penurunan jumlah santri secara nasional bagi sebagian kalangan, itu alarm. Bagi Ahmad Mihyal Manutho Muhammad—akrab disapa Gus Mihyal—itu bahan muhasabah.


“Kalau ada data seperti itu, kami terima sebagai kritik dan saran. Berarti ada yang perlu dibenahi,” kata salah seorang ustaz di Lirboyo ini.

Di Lirboyo sendiri, ia mengklaim jumlah santri baru justru meningkat tiap tahun. Tantangannya bukan kekurangan murid, melainkan perbaikan fasilitas. Insiden ambruknya bangunan asrama Ponpes Al Khoziny Sidoarjo 2025 lalu, menjadi momentum evaluasi. Pengawasan bangunan diperketat. Di Lirboyo sendiri telah menyesuaikan standar bangunan seperti yang ditetapkan Kementerian PUPR.


Di tengah isu bullying dan tindakan amoral, Lirboyo telah membentuk Satuan Tugas Anti-Bullying dan pencegahan tindakan amoral.


“Kita tidak menutup mata. Itu masukan untuk terus berbenah.”

Di Lirboyo sendiri, ia mengklaim jumlah santri baru justru meningkat tiap tahun. Tantangannya bukan kekurangan murid, melainkan perbaikan fasilitas. Insiden ambruknya bangunan asrama Ponpes Al Khoziny Sidoarjo 2025 lalu, menjadi momentum evaluasi. Pengawasan bangunan diperketat. Di Lirboyo sendiri telah menyesuaikan standar bangunan seperti yang ditetapkan Kementerian PUPR.


Di tengah isu bullying dan tindakan amoral, Lirboyo telah membentuk Satuan Tugas Anti-Bullying dan pencegahan tindakan amoral.


“Kita tidak menutup mata. Itu masukan untuk terus berbenah.”

Di Lirboyo sendiri, ia mengklaim jumlah santri baru justru meningkat tiap tahun. Tantangannya bukan kekurangan murid, melainkan perbaikan fasilitas. Insiden ambruknya bangunan asrama Ponpes Al Khoziny Sidoarjo 2025 lalu, menjadi momentum evaluasi. Pengawasan bangunan diperketat. Di Lirboyo sendiri telah menyesuaikan standar bangunan seperti yang ditetapkan Kementerian PUPR.


Di tengah isu bullying dan tindakan amoral, Lirboyo telah membentuk Satuan Tugas Anti-Bullying dan pencegahan tindakan amoral.


“Kita tidak menutup mata. Itu masukan untuk terus berbenah.”

Santri Al-Mahrusiyah, Lirboyo, berduyun-duyun menuju asrama pulang dari mengaji. (elmahrusymedia for IDN Times).

Santri Al-Mahrusiyah, Lirboyo, berduyun-duyun menuju asrama pulang dari mengaji. (elmahrusymedia for IDN Times).

Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, KH Melvin Zaienul Asyiqien, menuturkan bahwa jumlah santri di lembaganya tidak mengalami penurunan signifikan. Pada tahun ajaran 2025/2026, santri baru tercatat sekitar 1.500 orang, dengan total keseluruhan santri mencapai 5.700 orang.


Menurutnya perbedaan kalender pendidikan formal dan kalender pondok turut memengaruhi fluktuasi jumlah pendaftar. Selama ini, sebagian pesantren yang tidak memiliki lembaga pendidikan formal memulai tahun ajaran pada bulan Syawal. Sementara, kalender pendidikan formal dimulai Juli.


“Perbedaan waktu kalender pendidikan formal dan kalender pondok itu berpengaruh,” ujarnya. Ia mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Jawa Barat. Di salah satu pesantren, jumlah santri baru pada bulan Syawal hanya sekitar 1.000 orang, padahal pada tahun sebelumnya—ketika kalender pondok hampir bersamaan dengan kalender formal—jumlahnya bisa mencapai 1.500 orang.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, KH Melvin Zaienul Asyiqien, menuturkan bahwa jumlah santri di lembaganya tidak mengalami penurunan signifikan. Pada tahun ajaran 2025/2026, santri baru tercatat sekitar 1.500 orang, dengan total keseluruhan santri mencapai 5.700 orang.


Menurutnya perbedaan kalender pendidikan formal dan kalender pondok turut memengaruhi fluktuasi jumlah pendaftar. Selama ini, sebagian pesantren yang tidak memiliki lembaga pendidikan formal memulai tahun ajaran pada bulan Syawal. Sementara, kalender pendidikan formal dimulai Juli.


“Perbedaan waktu kalender pendidikan formal dan kalender pondok itu berpengaruh,” ujarnya. Ia mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Jawa Barat. Di salah satu pesantren, jumlah santri baru pada bulan Syawal hanya sekitar 1.000 orang, padahal pada tahun sebelumnya—ketika kalender pondok hampir bersamaan dengan kalender formal—jumlahnya bisa mencapai 1.500 orang.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah, Lirboyo, KH Melvin Zaienul Asyiqien, menuturkan bahwa jumlah santri di lembaganya tidak mengalami penurunan signifikan. Pada tahun ajaran 2025/2026, santri baru tercatat sekitar 1.500 orang, dengan total keseluruhan santri mencapai 5.700 orang.


Menurutnya perbedaan kalender pendidikan formal dan kalender pondok turut memengaruhi fluktuasi jumlah pendaftar. Selama ini, sebagian pesantren yang tidak memiliki lembaga pendidikan formal memulai tahun ajaran pada bulan Syawal. Sementara, kalender pendidikan formal dimulai Juli.


“Perbedaan waktu kalender pendidikan formal dan kalender pondok itu berpengaruh,” ujarnya. Ia mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Jawa Barat. Di salah satu pesantren, jumlah santri baru pada bulan Syawal hanya sekitar 1.000 orang, padahal pada tahun sebelumnya—ketika kalender pondok hampir bersamaan dengan kalender formal—jumlahnya bisa mencapai 1.500 orang.

Lalu, di Jawa Tengah. Meski jumlah santri di wilayah perkotaan relatif stabil, penurunan justru terjadi di sejumlah pondok kawasan pedalaman.


Pengasuh Ponpes Al Itqon Bugen Tlogosari, KH Ubaidullah Shodaqoh, mengatakan belum ada data statistik resmi yang menunjukkan penurunan signifikan secara keseluruhan di Jawa Tengah.


“Kalau ada pondok yang berkurang, biasanya ada juga yang bertambah. Secara umum tidak signifikan,” ujarnya saat ditemui pertengahan Februari 2026.

Lalu, di Jawa Tengah. Meski jumlah santri di wilayah perkotaan relatif stabil, penurunan justru terjadi di sejumlah pondok kawasan pedalaman.


Pengasuh Ponpes Al Itqon Bugen Tlogosari, KH Ubaidullah Shodaqoh, mengatakan belum ada data statistik resmi yang menunjukkan penurunan signifikan secara keseluruhan di Jawa Tengah.


“Kalau ada pondok yang berkurang, biasanya ada juga yang bertambah. Secara umum tidak signifikan,” ujarnya saat ditemui pertengahan Februari 2026.

Lalu, di Jawa Tengah. Meski jumlah santri di wilayah perkotaan relatif stabil, penurunan justru terjadi di sejumlah pondok kawasan pedalaman.


Pengasuh Ponpes Al Itqon Bugen Tlogosari, KH Ubaidullah Shodaqoh, mengatakan belum ada data statistik resmi yang menunjukkan penurunan signifikan secara keseluruhan di Jawa Tengah.


“Kalau ada pondok yang berkurang, biasanya ada juga yang bertambah. Secara umum tidak signifikan,” ujarnya saat ditemui pertengahan Februari 2026.

Menurut dia, penyusutan santri lebih banyak terjadi di pondok-pondok kecil berbasis kajian salaf di pedesaan. Sebagian santri memilih pindah ke pondok yang lebih mudah dijangkau atau memiliki fasilitas lebih baik. Faktor regenerasi juga berpengaruh, terutama ketika kiai sepuh wafat dan terjadi pergantian kepemimpinan.


Sebaliknya, pondok-pondok besar justru tetap stabil, bahkan cenderung bertambah santrinya. Ia menyebut perpindahan santri sebagai hal lumrah, termasuk karena mencari keberkahan di tempat lain.

Menurut dia, penyusutan santri lebih banyak terjadi di pondok-pondok kecil berbasis kajian salaf di pedesaan. Sebagian santri memilih pindah ke pondok yang lebih mudah dijangkau atau memiliki fasilitas lebih baik. Faktor regenerasi juga berpengaruh, terutama ketika kiai sepuh wafat dan terjadi pergantian kepemimpinan.


Sebaliknya, pondok-pondok besar justru tetap stabil, bahkan cenderung bertambah santrinya. Ia menyebut perpindahan santri sebagai hal lumrah, termasuk karena mencari keberkahan di tempat lain.

Menurut dia, penyusutan santri lebih banyak terjadi di pondok-pondok kecil berbasis kajian salaf di pedesaan. Sebagian santri memilih pindah ke pondok yang lebih mudah dijangkau atau memiliki fasilitas lebih baik. Faktor regenerasi juga berpengaruh, terutama ketika kiai sepuh wafat dan terjadi pergantian kepemimpinan.


Sebaliknya, pondok-pondok besar justru tetap stabil, bahkan cenderung bertambah santrinya. Ia menyebut perpindahan santri sebagai hal lumrah, termasuk karena mencari keberkahan di tempat lain.

Gede Ngurah Oka Perdana melakukan kegiatan olahraga

Salah satu bangunan asrama santri Ponpes Al-Mahrusiyah Lirboyo yang pondasinya diperkuat sesuai arahan Kementerian PUPR. (IDN Times/Zumrotul Abidin)

Salah satu bangunan asrama santri Ponpes Al-Mahrusiyah Lirboyo yang pondasinya diperkuat sesuai arahan Kementerian PUPR. (IDN Times/Zumrotul Abidin)

Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah itu juga menyoroti maraknya tokoh agama lokal yang viral melalui media sosial. Menurutnya, figur yang mendadak populer dan disakralkan berisiko menimbulkan masalah jika tidak memiliki kedalaman moral dan keilmuan.


Terkait maraknya dakwah melalui YouTube, ia menilai kajian daring sebaiknya hanya menjadi pelengkap. Tradisi belajar tatap muka dengan kiai dinilai lebih otoritatif dan komunikatif. Ia bahkan mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi, termasuk kemungkinan konten disusupi kecerdasan buatan (AI), yang dapat mengaburkan sumber keilmuan.


Selain itu, keberadaan sekolah gratis yang digagas pemerintah daerah serta munculnya pondok modern dengan fasilitas unggul turut memengaruhi preferensi masyarakat. Sejumlah pondok, terutama yang dikelola secara tradisional, diakuinya masih memiliki keterbatasan fasilitas.

Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah itu juga menyoroti maraknya tokoh agama lokal yang viral melalui media sosial. Menurutnya, figur yang mendadak populer dan disakralkan berisiko menimbulkan masalah jika tidak memiliki kedalaman moral dan keilmuan.


Terkait maraknya dakwah melalui YouTube, ia menilai kajian daring sebaiknya hanya menjadi pelengkap. Tradisi belajar tatap muka dengan kiai dinilai lebih otoritatif dan komunikatif. Ia bahkan mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi, termasuk kemungkinan konten disusupi kecerdasan buatan (AI), yang dapat mengaburkan sumber keilmuan.


Selain itu, keberadaan sekolah gratis yang digagas pemerintah daerah serta munculnya pondok modern dengan fasilitas unggul turut memengaruhi preferensi masyarakat. Sejumlah pondok, terutama yang dikelola secara tradisional, diakuinya masih memiliki keterbatasan fasilitas.

Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah itu juga menyoroti maraknya tokoh agama lokal yang viral melalui media sosial. Menurutnya, figur yang mendadak populer dan disakralkan berisiko menimbulkan masalah jika tidak memiliki kedalaman moral dan keilmuan.


Terkait maraknya dakwah melalui YouTube, ia menilai kajian daring sebaiknya hanya menjadi pelengkap. Tradisi belajar tatap muka dengan kiai dinilai lebih otoritatif dan komunikatif. Ia bahkan mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi, termasuk kemungkinan konten disusupi kecerdasan buatan (AI), yang dapat mengaburkan sumber keilmuan.


Selain itu, keberadaan sekolah gratis yang digagas pemerintah daerah serta munculnya pondok modern dengan fasilitas unggul turut memengaruhi preferensi masyarakat. Sejumlah pondok, terutama yang dikelola secara tradisional, diakuinya masih memiliki keterbatasan fasilitas.

Meski begitu, ia menegaskan minat masyarakat untuk mondok tetap tinggi. Di Ponpes Al Itqon, aktivitas keagamaan berjalan normal, terutama selama Ramadan. Tradisi pengajian yang melibatkan santri dan warga sekitar Kampung Bugen Tlogosari tetap terjaga.


“Pondok pesantren tetap menjadi pusat pemahaman agama. Akses informasi keagamaan memang kini beragam, tapi tradisi belajar langsung kepada kiai tetap penting,” ujarnya.

Meski begitu, ia menegaskan minat masyarakat untuk mondok tetap tinggi. Di Ponpes Al Itqon, aktivitas keagamaan berjalan normal, terutama selama Ramadan. Tradisi pengajian yang melibatkan santri dan warga sekitar Kampung Bugen Tlogosari tetap terjaga.


“Pondok pesantren tetap menjadi pusat pemahaman agama. Akses informasi keagamaan memang kini beragam, tapi tradisi belajar langsung kepada kiai tetap penting,” ujarnya.

Meski begitu, ia menegaskan minat masyarakat untuk mondok tetap tinggi. Di Ponpes Al Itqon, aktivitas keagamaan berjalan normal, terutama selama Ramadan. Tradisi pengajian yang melibatkan santri dan warga sekitar Kampung Bugen Tlogosari tetap terjaga.


“Pondok pesantren tetap menjadi pusat pemahaman agama. Akses informasi keagamaan memang kini beragam, tapi tradisi belajar langsung kepada kiai tetap penting,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Akhmad Nurul Kawakib, memetakan dua faktor utama yang menyebabkan penurunan jumlah santri di Indonesia: faktor internal dan faktor eksternal.


Dari sisi internal, ia melihat terjadinya pergeseran orientasi masyarakat dalam memilih pesantren. Pada masa lalu, orang datang ke pesantren karena figur kiai. Sosok itu bukan sekadar pengajar, melainkan pusat otoritas keilmuan dan teladan moral.


“Dulu orang belajar di pesantren karena ada figur kiai, figur keilmuan, figur petunjuk. Cara berpikirnya ditiru, cara memandang persoalan agama juga diikuti,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Akhmad Nurul Kawakib, memetakan dua faktor utama yang menyebabkan penurunan jumlah santri di Indonesia: faktor internal dan faktor eksternal.


Dari sisi internal, ia melihat terjadinya pergeseran orientasi masyarakat dalam memilih pesantren. Pada masa lalu, orang datang ke pesantren karena figur kiai. Sosok itu bukan sekadar pengajar, melainkan pusat otoritas keilmuan dan teladan moral.


“Dulu orang belajar di pesantren karena ada figur kiai, figur keilmuan, figur petunjuk. Cara berpikirnya ditiru, cara memandang persoalan agama juga diikuti,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Akhmad Nurul Kawakib, memetakan dua faktor utama yang menyebabkan penurunan jumlah santri di Indonesia: faktor internal dan faktor eksternal.


Dari sisi internal, ia melihat terjadinya pergeseran orientasi masyarakat dalam memilih pesantren. Pada masa lalu, orang datang ke pesantren karena figur kiai. Sosok itu bukan sekadar pengajar, melainkan pusat otoritas keilmuan dan teladan moral.


“Dulu orang belajar di pesantren karena ada figur kiai, figur keilmuan, figur petunjuk. Cara berpikirnya ditiru, cara memandang persoalan agama juga diikuti,” ujarnya.

Menurut dia, kharisma dan kedalaman ilmu seorang kiai menjadi magnet utama. Pesantren tumbuh dan besar karena reputasi personal yang diakui luas. Santri datang bukan semata-mata karena fasilitas, melainkan karena ingin menyerap ilmu langsung dari sumbernya.


Namun kini, ia menilai muncul fenomena baru: berdirinya pesantren oleh pihak yang tidak memiliki latar belakang tradisi kepesantrenan. Sebagian didirikan oleh kalangan pengusaha dengan modal finansial kuat, tetapi tanpa basis keilmuan yang memadai.


“Ada pesantren yang didirikan bukan oleh figur dengan latar belakang pesantren, melainkan dari latar belakang pengusaha. Ini yang menurut saya menjadi persoalan dari sisi keilmuan,” katanya.

Menurut dia, kharisma dan kedalaman ilmu seorang kiai menjadi magnet utama. Pesantren tumbuh dan besar karena reputasi personal yang diakui luas. Santri datang bukan semata-mata karena fasilitas, melainkan karena ingin menyerap ilmu langsung dari sumbernya.


Namun kini, ia menilai muncul fenomena baru: berdirinya pesantren oleh pihak yang tidak memiliki latar belakang tradisi kepesantrenan. Sebagian didirikan oleh kalangan pengusaha dengan modal finansial kuat, tetapi tanpa basis keilmuan yang memadai.


“Ada pesantren yang didirikan bukan oleh figur dengan latar belakang pesantren, melainkan dari latar belakang pengusaha. Ini yang menurut saya menjadi persoalan dari sisi keilmuan,” katanya.

Menurut dia, kharisma dan kedalaman ilmu seorang kiai menjadi magnet utama. Pesantren tumbuh dan besar karena reputasi personal yang diakui luas. Santri datang bukan semata-mata karena fasilitas, melainkan karena ingin menyerap ilmu langsung dari sumbernya.


Namun kini, ia menilai muncul fenomena baru: berdirinya pesantren oleh pihak yang tidak memiliki latar belakang tradisi kepesantrenan. Sebagian didirikan oleh kalangan pengusaha dengan modal finansial kuat, tetapi tanpa basis keilmuan yang memadai.


“Ada pesantren yang didirikan bukan oleh figur dengan latar belakang pesantren, melainkan dari latar belakang pengusaha. Ini yang menurut saya menjadi persoalan dari sisi keilmuan,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut dia, berpengaruh pada persepsi masyarakat. Ketika pesantren tidak lagi identik dengan otoritas ilmu yang kuat, daya tariknya ikut berkurang. Dalam jangka panjang, pergeseran ini bisa memengaruhi minat orang tua untuk menitipkan anaknya belajar di pondok.


Ia menegaskan, kekuatan utama pesantren sejak awal berdirinya adalah kedalaman tradisi keilmuan dan keteladanan figur kiai. Jika pondasi itu melemah, pesantren berisiko kehilangan identitas yang selama ini menjadi pembeda dari lembaga pendidikan lain.


Dia menilai kemunculan pesantren berbiaya tinggi itu sebagai gejala perubahan orientasi. Mereka mendirikan pesantren seperti waralaba. Punya modal besar, membangun fasilitas modern seperti hotel. “Padahal dulu pesantren identik dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut dia, berpengaruh pada persepsi masyarakat. Ketika pesantren tidak lagi identik dengan otoritas ilmu yang kuat, daya tariknya ikut berkurang. Dalam jangka panjang, pergeseran ini bisa memengaruhi minat orang tua untuk menitipkan anaknya belajar di pondok.


Ia menegaskan, kekuatan utama pesantren sejak awal berdirinya adalah kedalaman tradisi keilmuan dan keteladanan figur kiai. Jika pondasi itu melemah, pesantren berisiko kehilangan identitas yang selama ini menjadi pembeda dari lembaga pendidikan lain.


Dia menilai kemunculan pesantren berbiaya tinggi itu sebagai gejala perubahan orientasi. Mereka mendirikan pesantren seperti waralaba. Punya modal besar, membangun fasilitas modern seperti hotel. “Padahal dulu pesantren identik dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut dia, berpengaruh pada persepsi masyarakat. Ketika pesantren tidak lagi identik dengan otoritas ilmu yang kuat, daya tariknya ikut berkurang. Dalam jangka panjang, pergeseran ini bisa memengaruhi minat orang tua untuk menitipkan anaknya belajar di pondok.


Ia menegaskan, kekuatan utama pesantren sejak awal berdirinya adalah kedalaman tradisi keilmuan dan keteladanan figur kiai. Jika pondasi itu melemah, pesantren berisiko kehilangan identitas yang selama ini menjadi pembeda dari lembaga pendidikan lain.


Dia menilai kemunculan pesantren berbiaya tinggi itu sebagai gejala perubahan orientasi. Mereka mendirikan pesantren seperti waralaba. Punya modal besar, membangun fasilitas modern seperti hotel. “Padahal dulu pesantren identik dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Menurut dia, jika ditarik ke teori identitas, telah terjadi pergeseran makna pesantren di ruang publik. Pesantren yang dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia dengan tradisi egaliter kini mulai diasosiasikan dengan institusi mahal dan eksklusif. Persepsi itu, kata dia, membentuk cara pandang baru orangtua dalam memilih sekolah bagi anaknya.


Pilihan orangtua, ia melanjutkan, merupakan bentuk rational choice. Mereka mempertimbangkan kualitas, reputasi, hingga keberlanjutan identitas lembaga. “Pertanyaannya, apakah pesantren masih mampu mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia yang tidak ada di tempat lain?” ujarnya.


Dalam sejarahnya, pesantren tumbuh dari otoritas keilmuan seorang kiai. Figur itulah magnet utama. Di Jombang, misalnya, nama KH Muhammad Hasyim Asy'ari menjadi rujukan dalam studi hadis. Di Kudus, tradisi tafsir dan ilmu Al-Qur’an berkembang kuat. Sementara di Pondok Pesantren Lirboyo, kajian fikih menjadi identitas yang melekat.

Menurut dia, jika ditarik ke teori identitas, telah terjadi pergeseran makna pesantren di ruang publik. Pesantren yang dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia dengan tradisi egaliter kini mulai diasosiasikan dengan institusi mahal dan eksklusif. Persepsi itu, kata dia, membentuk cara pandang baru orangtua dalam memilih sekolah bagi anaknya.


Pilihan orangtua, ia melanjutkan, merupakan bentuk rational choice. Mereka mempertimbangkan kualitas, reputasi, hingga keberlanjutan identitas lembaga. “Pertanyaannya, apakah pesantren masih mampu mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia yang tidak ada di tempat lain?” ujarnya.


Dalam sejarahnya, pesantren tumbuh dari otoritas keilmuan seorang kiai. Figur itulah magnet utama. Di Jombang, misalnya, nama KH Muhammad Hasyim Asy'ari menjadi rujukan dalam studi hadis. Di Kudus, tradisi tafsir dan ilmu Al-Qur’an berkembang kuat. Sementara di Pondok Pesantren Lirboyo, kajian fikih menjadi identitas yang melekat.

Menurut dia, jika ditarik ke teori identitas, telah terjadi pergeseran makna pesantren di ruang publik. Pesantren yang dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia dengan tradisi egaliter kini mulai diasosiasikan dengan institusi mahal dan eksklusif. Persepsi itu, kata dia, membentuk cara pandang baru orangtua dalam memilih sekolah bagi anaknya.


Pilihan orangtua, ia melanjutkan, merupakan bentuk rational choice. Mereka mempertimbangkan kualitas, reputasi, hingga keberlanjutan identitas lembaga. “Pertanyaannya, apakah pesantren masih mampu mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia yang tidak ada di tempat lain?” ujarnya.


Dalam sejarahnya, pesantren tumbuh dari otoritas keilmuan seorang kiai. Figur itulah magnet utama. Di Jombang, misalnya, nama KH Muhammad Hasyim Asy'ari menjadi rujukan dalam studi hadis. Di Kudus, tradisi tafsir dan ilmu Al-Qur’an berkembang kuat. Sementara di Pondok Pesantren Lirboyo, kajian fikih menjadi identitas yang melekat.

Masalah muncul ketika figur sentral itu wafat, sementara regenerasi tak selalu menghadirkan penerus dengan otoritas setara. Daya tarik pesantren pun perlahan bergeser dari kharisma keilmuan menuju fasilitas dan manajemen.


Di luar itu, perubahan juga datang dari faktor eksternal. Perkembangan teknologi membuka banyak kanal belajar agama. Anak-anak kini bisa mengakses pengajian, ceramah, hingga kelas tahsin Al-Qur’an melalui platform digital tanpa harus tinggal di asrama. Di Malang, fenomena Rumah Tahfidz tumbuh pesat. Modelnya menyerupai pesantren, tetapi tak selalu mengidentifikasi diri sebagai pondok.


“Sekarang anak bisa belajar lewat YouTube. Tahsin bisa online. Tidak harus berasrama dan meninggalkan keluarga,” katanya. Alternatif ini, menurut dia, membuat pesantren bukan lagi satu-satunya pilihan untuk mendalami agama.

Masalah muncul ketika figur sentral itu wafat, sementara regenerasi tak selalu menghadirkan penerus dengan otoritas setara. Daya tarik pesantren pun perlahan bergeser dari kharisma keilmuan menuju fasilitas dan manajemen.


Di luar itu, perubahan juga datang dari faktor eksternal. Perkembangan teknologi membuka banyak kanal belajar agama. Anak-anak kini bisa mengakses pengajian, ceramah, hingga kelas tahsin Al-Qur’an melalui platform digital tanpa harus tinggal di asrama. Di Malang, fenomena Rumah Tahfidz tumbuh pesat. Modelnya menyerupai pesantren, tetapi tak selalu mengidentifikasi diri sebagai pondok.


“Sekarang anak bisa belajar lewat YouTube. Tahsin bisa online. Tidak harus berasrama dan meninggalkan keluarga,” katanya. Alternatif ini, menurut dia, membuat pesantren bukan lagi satu-satunya pilihan untuk mendalami agama.

Masalah muncul ketika figur sentral itu wafat, sementara regenerasi tak selalu menghadirkan penerus dengan otoritas setara. Daya tarik pesantren pun perlahan bergeser dari kharisma keilmuan menuju fasilitas dan manajemen.


Di luar itu, perubahan juga datang dari faktor eksternal. Perkembangan teknologi membuka banyak kanal belajar agama. Anak-anak kini bisa mengakses pengajian, ceramah, hingga kelas tahsin Al-Qur’an melalui platform digital tanpa harus tinggal di asrama. Di Malang, fenomena Rumah Tahfidz tumbuh pesat. Modelnya menyerupai pesantren, tetapi tak selalu mengidentifikasi diri sebagai pondok.


“Sekarang anak bisa belajar lewat YouTube. Tahsin bisa online. Tidak harus berasrama dan meninggalkan keluarga,” katanya. Alternatif ini, menurut dia, membuat pesantren bukan lagi satu-satunya pilihan untuk mendalami agama.

Seorang petani di Bandung, Jawa Barat mengolah tanah untuk penanaman bibit bunga

Tradisi tadarus Alquran melingkar diikuti 1700 santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan saat Ramadan 1447 hijriah, Minggu (1/3/2026). (IDN Times/Arifin)

Tradisi tadarus Alquran melingkar diikuti 1700 santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan saat Ramadan 1447 hijriah, Minggu (1/3/2026). (IDN Times/Arifin)

Di saat yang sama, era disrupsi mempercepat arus informasi—termasuk kabar negatif tentang pesantren. Isu perundungan dan kekerasan yang beredar di media sosial membentuk citra baru, meski tak semuanya akurat.


“Di internet, image pesantren bisa terbentuk dari informasi yang belum tentu benar. Ada yang benar, ada yang tidak, ada yang dilebih-lebihkan,” ujarnya.


Ia mengingatkan, tantangan pesantren hari ini bukan sekadar bersaing dengan sekolah modern atau platform digital, melainkan menjaga nilai dan marwah di tengah tarik-menarik kepentingan. “Salah satunya godaan politik praktis lima tahunan,” kata Alumni Pondok Pesantren Putra Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang itu.

Di saat yang sama, era disrupsi mempercepat arus informasi—termasuk kabar negatif tentang pesantren. Isu perundungan dan kekerasan yang beredar di media sosial membentuk citra baru, meski tak semuanya akurat.


“Di internet, image pesantren bisa terbentuk dari informasi yang belum tentu benar. Ada yang benar, ada yang tidak, ada yang dilebih-lebihkan,” ujarnya.


Ia mengingatkan, tantangan pesantren hari ini bukan sekadar bersaing dengan sekolah modern atau platform digital, melainkan menjaga nilai dan marwah di tengah tarik-menarik kepentingan. “Salah satunya godaan politik praktis lima tahunan,” kata Alumni Pondok Pesantren Putra Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang itu.

Di saat yang sama, era disrupsi mempercepat arus informasi—termasuk kabar negatif tentang pesantren. Isu perundungan dan kekerasan yang beredar di media sosial membentuk citra baru, meski tak semuanya akurat.


“Di internet, image pesantren bisa terbentuk dari informasi yang belum tentu benar. Ada yang benar, ada yang tidak, ada yang dilebih-lebihkan,” ujarnya.


Ia mengingatkan, tantangan pesantren hari ini bukan sekadar bersaing dengan sekolah modern atau platform digital, melainkan menjaga nilai dan marwah di tengah tarik-menarik kepentingan. “Salah satunya godaan politik praktis lima tahunan,” kata Alumni Pondok Pesantren Putra Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang itu.

Pesantren dalam Spektrum Zaman

Pesantren dalam Spektrum Zaman

Pesantren dalam Spektrum Zaman

Wajah pesantren hari ini tak lagi tunggal. Ia menjelma menjadi spektrum—membentang dari tradisi yang kukuh dipertahankan hingga modernitas yang dikelola dengan manajemen profesional.


Guru Besar Bidang Sejarah Pemikiran Islam Klasik, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prof Imam Ghozali, melihat perubahan itu sebagai keniscayaan. “Pesantren bukan entitas seragam. Sebuah ekosistem dengan ragam model dan orientasi,” ujarnya kepada IDN Times, awal ramadan lalu.


Menurut Imam, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan. Ada pesantren yang membuka pintu selebar-lebarnya tanpa seleksi ketat, ada pula yang menerapkan saringan akademik dan administratif demi menjaga mutu dan kapasitas.

Wajah pesantren hari ini tak lagi tunggal. Ia menjelma menjadi spektrum—membentang dari tradisi yang kukuh dipertahankan hingga modernitas yang dikelola dengan manajemen profesional.


Guru Besar Bidang Sejarah Pemikiran Islam Klasik, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prof Imam Ghozali, melihat perubahan itu sebagai keniscayaan. “Pesantren bukan entitas seragam. Sebuah ekosistem dengan ragam model dan orientasi,” ujarnya kepada IDN Times, awal ramadan lalu.


Menurut Imam, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan. Ada pesantren yang membuka pintu selebar-lebarnya tanpa seleksi ketat, ada pula yang menerapkan saringan akademik dan administratif demi menjaga mutu dan kapasitas.

Wajah pesantren hari ini tak lagi tunggal. Ia menjelma menjadi spektrum—membentang dari tradisi yang kukuh dipertahankan hingga modernitas yang dikelola dengan manajemen profesional.


Guru Besar Bidang Sejarah Pemikiran Islam Klasik, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prof Imam Ghozali, melihat perubahan itu sebagai keniscayaan. “Pesantren bukan entitas seragam. Sebuah ekosistem dengan ragam model dan orientasi,” ujarnya kepada IDN Times, awal ramadan lalu.


Menurut Imam, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan. Ada pesantren yang membuka pintu selebar-lebarnya tanpa seleksi ketat, ada pula yang menerapkan saringan akademik dan administratif demi menjaga mutu dan kapasitas.

"Di Pondok Pesantren Tebuireng, di Unit Pesantren Sains misalnya, pembangunan asrama dan fasilitasnya representatif. Kenyamanan kamar dan bangunan sekolah yang nyaman. Adaptasi ini, kata Imam, tak lepas dari tuntutan orang tua yang menginginkan lingkungan belajar layak sekaligus aman bagi anaknya.


Pun juga di Pondok Pesantren Lirboyo, di Unit Ar-Risalah yang juga memiliki bangunan asrama dan fasilitas pendidikan representatif bagi masyarakat yang memilih gaya modern.


Lalu, Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo yang sejak awal memosisikan diri sebagai pesantren modern dengan sistem terstruktur. Seleksi masuk dilakukan melalui tahapan akademik dan administrasi yang ketat. Tidak semua pendaftar diterima. Model serupa juga ditempuh sejumlah pesantren lain demi menjaga rasio santri dan kapasitas ruang belajar.


Di sisi lain, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo tetap mempertahankan tradisi keterbukaan. Siapa pun yang ingin belajar agama dipersilakan mondok. Konsekuensinya: kepadatan hunian, ruang terbatas, hingga tantangan lain yang perlu effort bagi santrinya beradaptasi.


Di Surabaya, Pondok Pesantren Al-Amanah yang diasuh Kiai Nur Cholis memilih jalan tengah—seleksi diterapkan untuk menjaga kualitas pembelajaran sekaligus kapasitas asrama.
“Perbedaan ini bukan soal mana yang lebih baik, melainkan karakter dan filosofi pengelolaan,” kata Imam.

"Di Pondok Pesantren Tebuireng, di Unit Pesantren Sains misalnya, pembangunan asrama dan fasilitasnya representatif. Kenyamanan kamar dan bangunan sekolah yang nyaman. Adaptasi ini, kata Imam, tak lepas dari tuntutan orang tua yang menginginkan lingkungan belajar layak sekaligus aman bagi anaknya.


Pun juga di Pondok Pesantren Lirboyo, di Unit Ar-Risalah yang juga memiliki bangunan asrama dan fasilitas pendidikan representatif bagi masyarakat yang memilih gaya modern.


Lalu, Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo yang sejak awal memosisikan diri sebagai pesantren modern dengan sistem terstruktur. Seleksi masuk dilakukan melalui tahapan akademik dan administrasi yang ketat. Tidak semua pendaftar diterima. Model serupa juga ditempuh sejumlah pesantren lain demi menjaga rasio santri dan kapasitas ruang belajar.


Di sisi lain, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo tetap mempertahankan tradisi keterbukaan. Siapa pun yang ingin belajar agama dipersilakan mondok. Konsekuensinya: kepadatan hunian, ruang terbatas, hingga tantangan lain yang perlu effort bagi santrinya beradaptasi.


Di Surabaya, Pondok Pesantren Al-Amanah yang diasuh Kiai Nur Cholis memilih jalan tengah—seleksi diterapkan untuk menjaga kualitas pembelajaran sekaligus kapasitas asrama.
“Perbedaan ini bukan soal mana yang lebih baik, melainkan karakter dan filosofi pengelolaan,” kata Imam.

"Di Pondok Pesantren Tebuireng, di Unit Pesantren Sains misalnya, pembangunan asrama dan fasilitasnya representatif. Kenyamanan kamar dan bangunan sekolah yang nyaman. Adaptasi ini, kata Imam, tak lepas dari tuntutan orang tua yang menginginkan lingkungan belajar layak sekaligus aman bagi anaknya.


Pun juga di Pondok Pesantren Lirboyo, di Unit Ar-Risalah yang juga memiliki bangunan asrama dan fasilitas pendidikan representatif bagi masyarakat yang memilih gaya modern.


Lalu, Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo yang sejak awal memosisikan diri sebagai pesantren modern dengan sistem terstruktur. Seleksi masuk dilakukan melalui tahapan akademik dan administrasi yang ketat. Tidak semua pendaftar diterima. Model serupa juga ditempuh sejumlah pesantren lain demi menjaga rasio santri dan kapasitas ruang belajar.


Di sisi lain, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo tetap mempertahankan tradisi keterbukaan. Siapa pun yang ingin belajar agama dipersilakan mondok. Konsekuensinya: kepadatan hunian, ruang terbatas, hingga tantangan lain yang perlu effort bagi santrinya beradaptasi.


Di Surabaya, Pondok Pesantren Al-Amanah yang diasuh Kiai Nur Cholis memilih jalan tengah—seleksi diterapkan untuk menjaga kualitas pembelajaran sekaligus kapasitas asrama.
“Perbedaan ini bukan soal mana yang lebih baik, melainkan karakter dan filosofi pengelolaan,” kata Imam.

Ribuan santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan berzikir usai salat zuhur berjamaah, Minggu (1/3/2026). (IDN Times/Arifin)

Ribuan santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan berzikir usai salat zuhur berjamaah, Minggu (1/3/2026). (IDN Times/Arifin)

Perubahan lanskap pesantren juga dipicu teknologi. Jika dahulu telepon genggam dibatasi demi menjaga konsentrasi belajar, kini realitas digital sulit dihindari.


Imam mencontohkan ada seorang santri penghafal Al-Qur’an yang gagal dalam seleksi beasiswa ke Maroko—bukan karena kurang ilmu agama, melainkan belum terbiasa menggunakan perangkat ujian berbasis komputer. Setelah mendapat pelatihan teknologi, ia lolos dan menyelesaikan studi sarjananya.


“Problemnya bukan pada ilmu agama, tetapi literasi digital,” ujar Imam.

Perubahan lanskap pesantren juga dipicu teknologi. Jika dahulu telepon genggam dibatasi demi menjaga konsentrasi belajar, kini realitas digital sulit dihindari.


Imam mencontohkan ada seorang santri penghafal Al-Qur’an yang gagal dalam seleksi beasiswa ke Maroko—bukan karena kurang ilmu agama, melainkan belum terbiasa menggunakan perangkat ujian berbasis komputer. Setelah mendapat pelatihan teknologi, ia lolos dan menyelesaikan studi sarjananya.


“Problemnya bukan pada ilmu agama, tetapi literasi digital,” ujar Imam.

Perubahan lanskap pesantren juga dipicu teknologi. Jika dahulu telepon genggam dibatasi demi menjaga konsentrasi belajar, kini realitas digital sulit dihindari.


Imam mencontohkan ada seorang santri penghafal Al-Qur’an yang gagal dalam seleksi beasiswa ke Maroko—bukan karena kurang ilmu agama, melainkan belum terbiasa menggunakan perangkat ujian berbasis komputer. Setelah mendapat pelatihan teknologi, ia lolos dan menyelesaikan studi sarjananya.


“Problemnya bukan pada ilmu agama, tetapi literasi digital,” ujar Imam.

Integrasi antara kedalaman ilmu agama dan kecakapan teknologi, menurutnya, menjadi kebutuhan mendesak agar santri mampu bersaing secara global tanpa tercerabut dari identitas.


Tuntutan ini kemudian direspons oleh sebagian pesantren untuk memilih model integratif. Di Pondok Pesantren Lirboyo terdapat unit Ar-Risalah yang memadukan kurikulum agama dan umum. “Kitab kuning tetap diajarkan, ilmu sains juga didapat para santri,” kata Imam.


Sementara Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya mengembangkan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Sejumlah alumninya diterima di perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, termasuk di fakultas kedokteran.


“Tapi, integrasi semacam itu membutuhkan biaya lebih besar dibanding pesantren berbasis kesederhanaan,” ujar mantan Wakil Sekjen Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) ini.

Integrasi antara kedalaman ilmu agama dan kecakapan teknologi, menurutnya, menjadi kebutuhan mendesak agar santri mampu bersaing secara global tanpa tercerabut dari identitas.


Tuntutan ini kemudian direspons oleh sebagian pesantren untuk memilih model integratif. Di Pondok Pesantren Lirboyo terdapat unit Ar-Risalah yang memadukan kurikulum agama dan umum. “Kitab kuning tetap diajarkan, ilmu sains juga didapat para santri,” kata Imam.


Sementara Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya mengembangkan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Sejumlah alumninya diterima di perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, termasuk di fakultas kedokteran.


“Tapi, integrasi semacam itu membutuhkan biaya lebih besar dibanding pesantren berbasis kesederhanaan,” ujar mantan Wakil Sekjen Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) ini.

Integrasi antara kedalaman ilmu agama dan kecakapan teknologi, menurutnya, menjadi kebutuhan mendesak agar santri mampu bersaing secara global tanpa tercerabut dari identitas.


Tuntutan ini kemudian direspons oleh sebagian pesantren untuk memilih model integratif. Di Pondok Pesantren Lirboyo terdapat unit Ar-Risalah yang memadukan kurikulum agama dan umum. “Kitab kuning tetap diajarkan, ilmu sains juga didapat para santri,” kata Imam.


Sementara Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya mengembangkan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Sejumlah alumninya diterima di perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, termasuk di fakultas kedokteran.


“Tapi, integrasi semacam itu membutuhkan biaya lebih besar dibanding pesantren berbasis kesederhanaan,” ujar mantan Wakil Sekjen Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) ini.

Kurikulum Sunyi Santri Gen Z

Kurikulum Sunyi Santri Gen Z

Kurikulum Sunyi Santri Gen Z

Masa depan pesantren dipertaruhkan: bukan pada seberapa keras ia bertahan, melainkan pada seberapa jernih ia menjelaskan dirinya sendiri.
Masa depan pesantren dipertaruhkan: bukan pada seberapa keras ia bertahan, melainkan pada seberapa jernih ia menjelaskan dirinya sendiri.

Imam Ghozali juga menyoroti tentang adanya pergeseran pola relasi kiai dan santri dalam dunia pesantren. Di pesantren tradisional seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, dan Pondok Pesantren Langitan, figur kiai masih menjadi pusat otoritas spiritual. “Relasinya bukan sekadar akademik, melainkan emosional dan spiritual,” katanya.


Berbeda dengan pesantren yang telah mengalami modernisasi seperti Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang dan Perguruan Islam Al-Syafi'iyah, Jakarta. Di sana, otoritas tidak hanya bertumpu pada kharisma figur kiai, tetapi juga kapasitas manajerial dan sistem formal yang terukur.


“Perubahan bukan berarti hilangnya berkah. Ini adaptasi,” ujar Imam.

Imam Ghozali juga menyoroti tentang adanya pergeseran pola relasi kiai dan santri dalam dunia pesantren. Di pesantren tradisional seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, dan Pondok Pesantren Langitan, figur kiai masih menjadi pusat otoritas spiritual. “Relasinya bukan sekadar akademik, melainkan emosional dan spiritual,” katanya.


Berbeda dengan pesantren yang telah mengalami modernisasi seperti Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang dan Perguruan Islam Al-Syafi'iyah, Jakarta. Di sana, otoritas tidak hanya bertumpu pada kharisma figur kiai, tetapi juga kapasitas manajerial dan sistem formal yang terukur.


“Perubahan bukan berarti hilangnya berkah. Ini adaptasi,” ujar Imam.

Imam Ghozali juga menyoroti tentang adanya pergeseran pola relasi kiai dan santri dalam dunia pesantren. Di pesantren tradisional seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, dan Pondok Pesantren Langitan, figur kiai masih menjadi pusat otoritas spiritual. “Relasinya bukan sekadar akademik, melainkan emosional dan spiritual,” katanya.


Berbeda dengan pesantren yang telah mengalami modernisasi seperti Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang dan Perguruan Islam Al-Syafi'iyah, Jakarta. Di sana, otoritas tidak hanya bertumpu pada kharisma figur kiai, tetapi juga kapasitas manajerial dan sistem formal yang terukur.


“Perubahan bukan berarti hilangnya berkah. Ini adaptasi,” ujar Imam.

Gus Mihyal salah seorang santri Lirboyo berprestasi. (IDN TImes/Bramanta Pamungkas).

Gus Mihyal salah seorang santri Lirboyo berprestasi. (IDN TImes/Bramanta Pamungkas).

Tantangan lebih nyata juga perlu dijawab oleh pesantren dalam menghadapi santri generasi Z. Mereka lahir di zaman internet, tumbuh bersama media sosial, dan terbiasa mempertanyakan hampir segala hal.


Tantangan itu, menurut Ahmad Mihyal Manutho Muhammad—akrab disapa Gus Mihyal—tak bisa diabaikan. Kiai muda dari Lirboyo ini melihat pergeseran karakter generasi Z sebagai kenyataan yang harus dihadapi, bukan dikeluhkan.


“Gen Z tidak bisa disuruh A tanpa tahu alasan di baliknya,” katanya kepada IDN Times di Pondok yang terletak di Jalan Abdul Karim Kota Kediri itu.

Tantangan lebih nyata juga perlu dijawab oleh pesantren dalam menghadapi santri generasi Z. Mereka lahir di zaman internet, tumbuh bersama media sosial, dan terbiasa mempertanyakan hampir segala hal.


Tantangan itu, menurut Ahmad Mihyal Manutho Muhammad—akrab disapa Gus Mihyal—tak bisa diabaikan. Kiai muda dari Lirboyo ini melihat pergeseran karakter generasi Z sebagai kenyataan yang harus dihadapi, bukan dikeluhkan.


“Gen Z tidak bisa disuruh A tanpa tahu alasan di baliknya,” katanya kepada IDN Times di Pondok yang terletak di Jalan Abdul Karim Kota Kediri itu.

Tantangan lebih nyata juga perlu dijawab oleh pesantren dalam menghadapi santri generasi Z. Mereka lahir di zaman internet, tumbuh bersama media sosial, dan terbiasa mempertanyakan hampir segala hal.


Tantangan itu, menurut Ahmad Mihyal Manutho Muhammad—akrab disapa Gus Mihyal—tak bisa diabaikan. Kiai muda dari Lirboyo ini melihat pergeseran karakter generasi Z sebagai kenyataan yang harus dihadapi, bukan dikeluhkan.


“Gen Z tidak bisa disuruh A tanpa tahu alasan di baliknya,” katanya kepada IDN Times di Pondok yang terletak di Jalan Abdul Karim Kota Kediri itu.

Konsep ta'dzim kepada guru, misalnya, perlu diterangkan secara psikologis. Guru sebagai mental model—figur teladan—akan lebih mudah memengaruhi murid jika dijelaskan relevansinya. Tradisi mengantre di kamar mandi pun, kata dia, bukan sekadar keterbatasan fasilitas, melainkan latihan kesabaran dan pengendalian diri.


Kiai muda yang tumbuh dalam lanskap generasi Z ini tak menampik ada perubahan besar pada watak santri hari ini. Cara bertanya mereka berbeda. Cara menerima nasihat pun tak lagi sama.


“Sebagai sesama Gen Z, kami punya privilege karena seumuran. Pola pikir kami sebelas dua belas,” katanya. “Itu memudahkan pendekatan.”

Konsep ta'dzim kepada guru, misalnya, perlu diterangkan secara psikologis. Guru sebagai mental model—figur teladan—akan lebih mudah memengaruhi murid jika dijelaskan relevansinya. Tradisi mengantre di kamar mandi pun, kata dia, bukan sekadar keterbatasan fasilitas, melainkan latihan kesabaran dan pengendalian diri.


Kiai muda yang tumbuh dalam lanskap generasi Z ini tak menampik ada perubahan besar pada watak santri hari ini. Cara bertanya mereka berbeda. Cara menerima nasihat pun tak lagi sama.


“Sebagai sesama Gen Z, kami punya privilege karena seumuran. Pola pikir kami sebelas dua belas,” katanya. “Itu memudahkan pendekatan.”

Konsep ta'dzim kepada guru, misalnya, perlu diterangkan secara psikologis. Guru sebagai mental model—figur teladan—akan lebih mudah memengaruhi murid jika dijelaskan relevansinya. Tradisi mengantre di kamar mandi pun, kata dia, bukan sekadar keterbatasan fasilitas, melainkan latihan kesabaran dan pengendalian diri.


Kiai muda yang tumbuh dalam lanskap generasi Z ini tak menampik ada perubahan besar pada watak santri hari ini. Cara bertanya mereka berbeda. Cara menerima nasihat pun tak lagi sama.


“Sebagai sesama Gen Z, kami punya privilege karena seumuran. Pola pikir kami sebelas dua belas,” katanya. “Itu memudahkan pendekatan.”

Namun, kedekatan usia bukan sekadar keuntungan. Ia sekaligus menjadi jembatan—antara tradisi yang mapan dan generasi yang kritis.


Di pesantren, ada satu kata yang diwariskan turun-temurun: manut. Patuh pada guru, hormat pada kiai. Dalam kosmologi pendidikan klasik, keberkahan ilmu mengalir dari adab.


Tetapi bagi generasi yang tumbuh dengan mesin pencari di genggaman, kepatuhan tanpa penjelasan terasa ganjil.


“Gen Z tidak bisa disuruh A tanpa tahu alasan di baliknya. Harus ada penjelasan logis,” ujar Gus Mihyal.

Namun, kedekatan usia bukan sekadar keuntungan. Ia sekaligus menjadi jembatan—antara tradisi yang mapan dan generasi yang kritis.


Di pesantren, ada satu kata yang diwariskan turun-temurun: manut. Patuh pada guru, hormat pada kiai. Dalam kosmologi pendidikan klasik, keberkahan ilmu mengalir dari adab.


Tetapi bagi generasi yang tumbuh dengan mesin pencari di genggaman, kepatuhan tanpa penjelasan terasa ganjil.


“Gen Z tidak bisa disuruh A tanpa tahu alasan di baliknya. Harus ada penjelasan logis,” ujar Gus Mihyal.

Namun, kedekatan usia bukan sekadar keuntungan. Ia sekaligus menjadi jembatan—antara tradisi yang mapan dan generasi yang kritis.


Di pesantren, ada satu kata yang diwariskan turun-temurun: manut. Patuh pada guru, hormat pada kiai. Dalam kosmologi pendidikan klasik, keberkahan ilmu mengalir dari adab.


Tetapi bagi generasi yang tumbuh dengan mesin pencari di genggaman, kepatuhan tanpa penjelasan terasa ganjil.


“Gen Z tidak bisa disuruh A tanpa tahu alasan di baliknya. Harus ada penjelasan logis,” ujar Gus Mihyal.

Di sinilah, menurutnya, pola doktrinal tak lagi memadai. Tradisi bukan untuk diganti, melainkan diterangkan. Ia menyebut satu istilah dari psikologi populer: mental model. Guru, kata dia, perlu ditempatkan sebagai figur teladan yang rasional sekaligus inspiratif. Jika santri akhirnya memahami mengapa seorang guru layak dihormati, maka pengaruhnya akan lebih dalam.


“Kalau kamu menganggap gurumu baik dan patut diteladani, apa yang beliau sampaikan akan lebih menancap.”


Ia lalu mengibaratkan dengan “teori mobil merah”. Jika seseorang diminta menghitung mobil merah yang lewat di jalan, bisa jadi ia lupa. Tapi jika setiap mobil merah bernilai hadiah, perhatian berubah total. Dalam pendidikan, penjelasan tentang keutamaan ilmu dan guru adalah “hadiah” itu—yang membuat santri bukan sekadar mendengar, melainkan mencari-cari.

Di sinilah, menurutnya, pola doktrinal tak lagi memadai. Tradisi bukan untuk diganti, melainkan diterangkan. Ia menyebut satu istilah dari psikologi populer: mental model. Guru, kata dia, perlu ditempatkan sebagai figur teladan yang rasional sekaligus inspiratif. Jika santri akhirnya memahami mengapa seorang guru layak dihormati, maka pengaruhnya akan lebih dalam.


“Kalau kamu menganggap gurumu baik dan patut diteladani, apa yang beliau sampaikan akan lebih menancap.”


Ia lalu mengibaratkan dengan “teori mobil merah”. Jika seseorang diminta menghitung mobil merah yang lewat di jalan, bisa jadi ia lupa. Tapi jika setiap mobil merah bernilai hadiah, perhatian berubah total. Dalam pendidikan, penjelasan tentang keutamaan ilmu dan guru adalah “hadiah” itu—yang membuat santri bukan sekadar mendengar, melainkan mencari-cari.

Di sinilah, menurutnya, pola doktrinal tak lagi memadai. Tradisi bukan untuk diganti, melainkan diterangkan. Ia menyebut satu istilah dari psikologi populer: mental model. Guru, kata dia, perlu ditempatkan sebagai figur teladan yang rasional sekaligus inspiratif. Jika santri akhirnya memahami mengapa seorang guru layak dihormati, maka pengaruhnya akan lebih dalam.


“Kalau kamu menganggap gurumu baik dan patut diteladani, apa yang beliau sampaikan akan lebih menancap.”


Ia lalu mengibaratkan dengan “teori mobil merah”. Jika seseorang diminta menghitung mobil merah yang lewat di jalan, bisa jadi ia lupa. Tapi jika setiap mobil merah bernilai hadiah, perhatian berubah total. Dalam pendidikan, penjelasan tentang keutamaan ilmu dan guru adalah “hadiah” itu—yang membuat santri bukan sekadar mendengar, melainkan mencari-cari.

Di halaman pesantren, antre adalah pemandangan sehari-hari. Antre mandi. Antre makan. Antre setor hafalan. Bagi orang luar, itu mungkin sekadar konsekuensi jumlah santri yang banyak. Tapi di baliknya ada pelajaran yang tak tertulis dalam silabus.


Kesabaran. Pengendalian diri. Kesadaran bahwa tak semua hal bisa didahulukan.


“Gen Z tidak menolak tradisi. Tapi mereka menolak tradisi yang tidak dijelaskan,” katanya.


Maka tugas pesantren hari ini menerjemahkan makna praktik dari tradisi itu. Bahasa kesabaran harus bisa berdialog dengan istilah psikologi. Disiplin perlu dijelaskan sebagai manajemen diri. Hormat pada guru diterangkan sebagai fondasi transmisi ilmu.


“Ada pendidikan sabar, mau ke kamar mandi ngantri, mau ambil makan ngantri. Harus ada penjelasan-penjelasan ilmiah di balik tradisi-tradisi itu supaya bisa tetap terjaga.”

Di halaman pesantren, antre adalah pemandangan sehari-hari. Antre mandi. Antre makan. Antre setor hafalan. Bagi orang luar, itu mungkin sekadar konsekuensi jumlah santri yang banyak. Tapi di baliknya ada pelajaran yang tak tertulis dalam silabus.


Kesabaran. Pengendalian diri. Kesadaran bahwa tak semua hal bisa didahulukan.


“Gen Z tidak menolak tradisi. Tapi mereka menolak tradisi yang tidak dijelaskan,” katanya.


Maka tugas pesantren hari ini menerjemahkan makna praktik dari tradisi itu. Bahasa kesabaran harus bisa berdialog dengan istilah psikologi. Disiplin perlu dijelaskan sebagai manajemen diri. Hormat pada guru diterangkan sebagai fondasi transmisi ilmu.


“Ada pendidikan sabar, mau ke kamar mandi ngantri, mau ambil makan ngantri. Harus ada penjelasan-penjelasan ilmiah di balik tradisi-tradisi itu supaya bisa tetap terjaga.”

Di halaman pesantren, antre adalah pemandangan sehari-hari. Antre mandi. Antre makan. Antre setor hafalan. Bagi orang luar, itu mungkin sekadar konsekuensi jumlah santri yang banyak. Tapi di baliknya ada pelajaran yang tak tertulis dalam silabus.


Kesabaran. Pengendalian diri. Kesadaran bahwa tak semua hal bisa didahulukan.


“Gen Z tidak menolak tradisi. Tapi mereka menolak tradisi yang tidak dijelaskan,” katanya.


Maka tugas pesantren hari ini menerjemahkan makna praktik dari tradisi itu. Bahasa kesabaran harus bisa berdialog dengan istilah psikologi. Disiplin perlu dijelaskan sebagai manajemen diri. Hormat pada guru diterangkan sebagai fondasi transmisi ilmu.


“Ada pendidikan sabar, mau ke kamar mandi ngantri, mau ambil makan ngantri. Harus ada penjelasan-penjelasan ilmiah di balik tradisi-tradisi itu supaya bisa tetap terjaga.”

Mihyal menggambarkan bahwa di luar pagar pesantren, layar tak pernah benar-benar gelap. Media sosial menawarkan gulir tanpa akhir. Informasi datang tanpa jeda. Dalam lanskap seperti itu, ia justru melihat pesantren sebagai ruang yang makin relevan.


“Di luar itu banyak distraksi. Scroll media sosial tidak ada habisnya. Di pesantren, fokus belajar lebih terjaga.”


Ia membagi pendidikan pesantren dalam dua napas: ta'lim dan tarbiyah. Yang pertama mengasah intelektual; yang kedua membentuk watak. Dalam iklim publik yang kerap diramaikan kabar krisis moral di lembaga pendidikan formal, pesantren merasa memiliki keunggulan pada pembinaan karakter.

Mihyal menggambarkan bahwa di luar pagar pesantren, layar tak pernah benar-benar gelap. Media sosial menawarkan gulir tanpa akhir. Informasi datang tanpa jeda. Dalam lanskap seperti itu, ia justru melihat pesantren sebagai ruang yang makin relevan.


“Di luar itu banyak distraksi. Scroll media sosial tidak ada habisnya. Di pesantren, fokus belajar lebih terjaga.”


Ia membagi pendidikan pesantren dalam dua napas: ta'lim dan tarbiyah. Yang pertama mengasah intelektual; yang kedua membentuk watak. Dalam iklim publik yang kerap diramaikan kabar krisis moral di lembaga pendidikan formal, pesantren merasa memiliki keunggulan pada pembinaan karakter.

Mihyal menggambarkan bahwa di luar pagar pesantren, layar tak pernah benar-benar gelap. Media sosial menawarkan gulir tanpa akhir. Informasi datang tanpa jeda. Dalam lanskap seperti itu, ia justru melihat pesantren sebagai ruang yang makin relevan.


“Di luar itu banyak distraksi. Scroll media sosial tidak ada habisnya. Di pesantren, fokus belajar lebih terjaga.”


Ia membagi pendidikan pesantren dalam dua napas: ta'lim dan tarbiyah. Yang pertama mengasah intelektual; yang kedua membentuk watak. Dalam iklim publik yang kerap diramaikan kabar krisis moral di lembaga pendidikan formal, pesantren merasa memiliki keunggulan pada pembinaan karakter.

Tradisi diskusi seperti Bahtsul Masail—forum musyawarah untuk merumuskan jawaban atas persoalan kontemporer—menjadi bukti bahwa pesantren tak anti-perdebatan. Santri, bahkan di tingkat menengah, terbiasa menyodorkan dalil, menyanggah argumen, dan menerima koreksi.


“Secara intelektual kita sudah punya warisan diskusi yang sangat terbuka. Tinggal dikembangkan.”


Menghadapi tantangan 10–20 tahun mendatang, dunia pesantren menurut Gus Mihyal perlu berpegang pada satu kaidah klasik: al-muhafadlotu ‘ala al-qodim as-sholih wal akhdu bil-jadid al-aslah—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Tradisi diskusi seperti Bahtsul Masail—forum musyawarah untuk merumuskan jawaban atas persoalan kontemporer—menjadi bukti bahwa pesantren tak anti-perdebatan. Santri, bahkan di tingkat menengah, terbiasa menyodorkan dalil, menyanggah argumen, dan menerima koreksi.


“Secara intelektual kita sudah punya warisan diskusi yang sangat terbuka. Tinggal dikembangkan.”


Menghadapi tantangan 10–20 tahun mendatang, dunia pesantren menurut Gus Mihyal perlu berpegang pada satu kaidah klasik: al-muhafadlotu ‘ala al-qodim as-sholih wal akhdu bil-jadid al-aslah—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Tradisi diskusi seperti Bahtsul Masail—forum musyawarah untuk merumuskan jawaban atas persoalan kontemporer—menjadi bukti bahwa pesantren tak anti-perdebatan. Santri, bahkan di tingkat menengah, terbiasa menyodorkan dalil, menyanggah argumen, dan menerima koreksi.


“Secara intelektual kita sudah punya warisan diskusi yang sangat terbuka. Tinggal dikembangkan.”


Menghadapi tantangan 10–20 tahun mendatang, dunia pesantren menurut Gus Mihyal perlu berpegang pada satu kaidah klasik: al-muhafadlotu ‘ala al-qodim as-sholih wal akhdu bil-jadid al-aslah—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Fokus utama tetap at-tafaqquh fiddin, pendalaman ilmu agama. Teknologi, media sosial, bahkan kecerdasan buatan, ditempatkan sebagai penunjang. Santri yang memiliki minat di bidang editing, fotografi, atau dokumentasi dipersilakan berkembang. Namun tidak semua harus menjadi kreator konten dan menjadi editor.


“Fokus utama tetap tafaqquh fiddin.”


Lalu, dalam merespons terhadap isu-isu sosial seperti lingkungan hidup pun, menurutnya, penting selama menunjang misi utama dakwah. Dalam fiqih dikenal konsep hifdz al-bi’ah—menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Tapi pelaksanaannya cukup dilakukan sebagian santri yang memang didelegasikan.

Fokus utama tetap at-tafaqquh fiddin, pendalaman ilmu agama. Teknologi, media sosial, bahkan kecerdasan buatan, ditempatkan sebagai penunjang. Santri yang memiliki minat di bidang editing, fotografi, atau dokumentasi dipersilakan berkembang. Namun tidak semua harus menjadi kreator konten dan menjadi editor.


“Fokus utama tetap tafaqquh fiddin.”


Lalu, dalam merespons terhadap isu-isu sosial seperti lingkungan hidup pun, menurutnya, penting selama menunjang misi utama dakwah. Dalam fiqih dikenal konsep hifdz al-bi’ah—menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Tapi pelaksanaannya cukup dilakukan sebagian santri yang memang didelegasikan.

Fokus utama tetap at-tafaqquh fiddin, pendalaman ilmu agama. Teknologi, media sosial, bahkan kecerdasan buatan, ditempatkan sebagai penunjang. Santri yang memiliki minat di bidang editing, fotografi, atau dokumentasi dipersilakan berkembang. Namun tidak semua harus menjadi kreator konten dan menjadi editor.


“Fokus utama tetap tafaqquh fiddin.”


Lalu, dalam merespons terhadap isu-isu sosial seperti lingkungan hidup pun, menurutnya, penting selama menunjang misi utama dakwah. Dalam fiqih dikenal konsep hifdz al-bi’ah—menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Tapi pelaksanaannya cukup dilakukan sebagian santri yang memang didelegasikan.

Dialektika yang Niscaya

Dialektika yang Niscaya

Dialektika yang Niscaya

Pesantren tidak menjanjikan jalan hidup yang seragam. Ia menawarkan pondasi: takwa sebagai kompas, tawakal sebagai sandaran.
Pesantren tidak menjanjikan jalan hidup yang seragam. Ia menawarkan pondasi: takwa sebagai kompas, tawakal sebagai sandaran.

Di beranda pesantren itu, sore kembali turun. Santri-santri berjalan menuju masjid, kitab di tangan, beberapa di antaranya telepon genggam tersimpan di saku. Tradisi dan zaman tak lagi berdiri sebagai dua kutub yang saling meniadakan.


Bagi Gus Mihyal, pesantren tak boleh alergi terhadap perubahan. Namun, perubahan harus terukur, berakar, dan bisa dijelaskan.


“Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban.”

Di beranda pesantren itu, sore kembali turun. Santri-santri berjalan menuju masjid, kitab di tangan, beberapa di antaranya telepon genggam tersimpan di saku. Tradisi dan zaman tak lagi berdiri sebagai dua kutub yang saling meniadakan.


Bagi Gus Mihyal, pesantren tak boleh alergi terhadap perubahan. Namun, perubahan harus terukur, berakar, dan bisa dijelaskan.


“Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban.”

Di beranda pesantren itu, sore kembali turun. Santri-santri berjalan menuju masjid, kitab di tangan, beberapa di antaranya telepon genggam tersimpan di saku. Tradisi dan zaman tak lagi berdiri sebagai dua kutub yang saling meniadakan.


Bagi Gus Mihyal, pesantren tak boleh alergi terhadap perubahan. Namun, perubahan harus terukur, berakar, dan bisa dijelaskan.


“Supaya tetap relevan, pesantren harus bisa bernapas dengan zaman dan berdialektika dengan peradaban.”

Di tangan generasi yang gemar bertanya “mengapa”, warisan tak cukup diwariskan begitu saja. Ia harus dimaknai ulang, diterjemahkan, dan diyakini.


Mungkin, di situlah masa depan pesantren dipertaruhkan: bukan pada seberapa keras ia bertahan, melainkan pada seberapa jernih ia menjelaskan dirinya sendiri.


Di tengah kegelisahan sebagian orang tua tentang masa depan anaknya, pesantren kerap dipertanyakan dengan nada praktis: setelah mondok, jadi apa? Apakah harus menjadi ustaz? Apakah harus menjadi kiai? Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupannya?

Di tangan generasi yang gemar bertanya “mengapa”, warisan tak cukup diwariskan begitu saja. Ia harus dimaknai ulang, diterjemahkan, dan diyakini.


Mungkin, di situlah masa depan pesantren dipertaruhkan: bukan pada seberapa keras ia bertahan, melainkan pada seberapa jernih ia menjelaskan dirinya sendiri.


Di tengah kegelisahan sebagian orang tua tentang masa depan anaknya, pesantren kerap dipertanyakan dengan nada praktis: setelah mondok, jadi apa? Apakah harus menjadi ustaz? Apakah harus menjadi kiai? Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupannya?

Di tangan generasi yang gemar bertanya “mengapa”, warisan tak cukup diwariskan begitu saja. Ia harus dimaknai ulang, diterjemahkan, dan diyakini.


Mungkin, di situlah masa depan pesantren dipertaruhkan: bukan pada seberapa keras ia bertahan, melainkan pada seberapa jernih ia menjelaskan dirinya sendiri.


Di tengah kegelisahan sebagian orang tua tentang masa depan anaknya, pesantren kerap dipertanyakan dengan nada praktis: setelah mondok, jadi apa? Apakah harus menjadi ustaz? Apakah harus menjadi kiai? Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupannya?

Pengasuh di Pondok Pesantren Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Bagi mereka, tujuan pesantren sejak awal bukan mencetak profesi tertentu, melainkan membentuk manusia yang baik—rojulun sholihun.


“Pesantren mendidik anak didiknya menjadi anak yang saleh dan mandiri,” ujarnya. “Santri itu tentu tidak semuanya menjadi ustaz atau kiai. Minimal menjadi orang yang baik—pedagang yang baik, petani yang baik.”


Di dalam tembok pesantren, ukuran keberhasilan tidak selalu identik dengan jabatan atau gelar. Yang lebih utama adalah akhlak, adab, dan kemandirian. Seorang alumni boleh saja tidak mengenakan sorban atau berdiri di atas mimbar, tetapi jika ia jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, dan santun kepada orang tua, di situlah pendidikan itu menemukan maknanya.

Pengasuh di Pondok Pesantren Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Bagi mereka, tujuan pesantren sejak awal bukan mencetak profesi tertentu, melainkan membentuk manusia yang baik—rojulun sholihun.


“Pesantren mendidik anak didiknya menjadi anak yang saleh dan mandiri,” ujarnya. “Santri itu tentu tidak semuanya menjadi ustaz atau kiai. Minimal menjadi orang yang baik—pedagang yang baik, petani yang baik.”


Di dalam tembok pesantren, ukuran keberhasilan tidak selalu identik dengan jabatan atau gelar. Yang lebih utama adalah akhlak, adab, dan kemandirian. Seorang alumni boleh saja tidak mengenakan sorban atau berdiri di atas mimbar, tetapi jika ia jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, dan santun kepada orang tua, di situlah pendidikan itu menemukan maknanya.

Pengasuh di Pondok Pesantren Lirboyo, KH Kafabihi Mahrus menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Bagi mereka, tujuan pesantren sejak awal bukan mencetak profesi tertentu, melainkan membentuk manusia yang baik—rojulun sholihun.


“Pesantren mendidik anak didiknya menjadi anak yang saleh dan mandiri,” ujarnya. “Santri itu tentu tidak semuanya menjadi ustaz atau kiai. Minimal menjadi orang yang baik—pedagang yang baik, petani yang baik.”


Di dalam tembok pesantren, ukuran keberhasilan tidak selalu identik dengan jabatan atau gelar. Yang lebih utama adalah akhlak, adab, dan kemandirian. Seorang alumni boleh saja tidak mengenakan sorban atau berdiri di atas mimbar, tetapi jika ia jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, dan santun kepada orang tua, di situlah pendidikan itu menemukan maknanya.

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni

Santri mengikuti pengajian kitab kuning di kediaman KH Kafabihi Mahrus. (Lirboyo for IDN Times)

Santri mengikuti pengajian kitab kuning di kediaman KH Kafabihi Mahrus. (Lirboyo for IDN Times)

Soal rezeki, Kiai Kafabihi berbicara dengan nada keyakinan. Rezeki, katanya, bukan semata-mata urusan ijazah, bukan pula perkara keturunan atau kecerdasan akademik. “Rezeki itu hubungannya langsung dengan Allah SWT,” ujarnya. Ikhtiar manusia adalah bertakwa dan bertawakal; selebihnya adalah wilayah yang tak selalu bisa dihitung dengan logika administratif.


Karena itu, kekhawatiran sebagian masyarakat—bahwa menjadi santri berarti membatasi masa depan—menurutnya tidak berdasar. Justru, pesantren melatih kemandirian. Santri dibiasakan hidup sederhana, mengatur kebutuhan sendiri, menahan diri, dan beradaptasi. Dalam praktiknya, alumni pesantren relatif sedikit yang bergantung sepenuhnya pada negara sebagai pegawai negeri. Banyak yang berdikari di berbagai bidang, membangun usaha, bertani, berdagang, atau berdakwah di tempat-tempat yang jauh dari kampung halaman.


Ada pula perubahan yang sering kali tak kasat mata, tetapi terasa di rumah. Orang tua, katanya, bisa membedakan anak yang tumbuh tanpa sentuhan pesantren dan anak yang pernah mondok. “Ketika anak dipondokkan, ada perubahan—ada sopan santun, ada unggah-ungguh, ada penghormatan kepada orangtua.”

Soal rezeki, Kiai Kafabihi berbicara dengan nada keyakinan. Rezeki, katanya, bukan semata-mata urusan ijazah, bukan pula perkara keturunan atau kecerdasan akademik. “Rezeki itu hubungannya langsung dengan Allah SWT,” ujarnya. Ikhtiar manusia adalah bertakwa dan bertawakal; selebihnya adalah wilayah yang tak selalu bisa dihitung dengan logika administratif.


Karena itu, kekhawatiran sebagian masyarakat—bahwa menjadi santri berarti membatasi masa depan—menurutnya tidak berdasar. Justru, pesantren melatih kemandirian. Santri dibiasakan hidup sederhana, mengatur kebutuhan sendiri, menahan diri, dan beradaptasi. Dalam praktiknya, alumni pesantren relatif sedikit yang bergantung sepenuhnya pada negara sebagai pegawai negeri. Banyak yang berdikari di berbagai bidang, membangun usaha, bertani, berdagang, atau berdakwah di tempat-tempat yang jauh dari kampung halaman.


Ada pula perubahan yang sering kali tak kasat mata, tetapi terasa di rumah. Orang tua, katanya, bisa membedakan anak yang tumbuh tanpa sentuhan pesantren dan anak yang pernah mondok. “Ketika anak dipondokkan, ada perubahan—ada sopan santun, ada unggah-ungguh, ada penghormatan kepada orangtua.”

Soal rezeki, Kiai Kafabihi berbicara dengan nada keyakinan. Rezeki, katanya, bukan semata-mata urusan ijazah, bukan pula perkara keturunan atau kecerdasan akademik. “Rezeki itu hubungannya langsung dengan Allah SWT,” ujarnya. Ikhtiar manusia adalah bertakwa dan bertawakal; selebihnya adalah wilayah yang tak selalu bisa dihitung dengan logika administratif.


Karena itu, kekhawatiran sebagian masyarakat—bahwa menjadi santri berarti membatasi masa depan—menurutnya tidak berdasar. Justru, pesantren melatih kemandirian. Santri dibiasakan hidup sederhana, mengatur kebutuhan sendiri, menahan diri, dan beradaptasi. Dalam praktiknya, alumni pesantren relatif sedikit yang bergantung sepenuhnya pada negara sebagai pegawai negeri. Banyak yang berdikari di berbagai bidang, membangun usaha, bertani, berdagang, atau berdakwah di tempat-tempat yang jauh dari kampung halaman.


Ada pula perubahan yang sering kali tak kasat mata, tetapi terasa di rumah. Orang tua, katanya, bisa membedakan anak yang tumbuh tanpa sentuhan pesantren dan anak yang pernah mondok. “Ketika anak dipondokkan, ada perubahan—ada sopan santun, ada unggah-ungguh, ada penghormatan kepada orangtua.”

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni

Ribuan santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan membaca Alquran bersama dengan model melingkar, Minggu (1/3/2026). (IDN Times/Arifin)

Ribuan santri Ponpes Ar-Raudlatul Hasanah, Kota Medan membaca Alquran bersama dengan model melingkar, Minggu (1/3/2026). (IDN Times/Arifin)

Di situ letak yang disebutnya sebagai kelebihan santri: akhlak, ilmu, ikhtiar, tawakal, dan berdoa. Sebuah gerak lahir dan batin—zahiran wa bathinan—yang berjalan beriringan. Modal itu, dalam keyakinannya, cukup untuk membuat seorang santri hidup mandiri dan berkecukupan.


Maka jika ada orang tua yang ragu, ia menyarankan sederhana saja: jika memiliki dua anak, pesantrenkan salah satunya. Kelak, waktu yang akan menjawab perbedaannya.


Pada akhirnya, pesantren tidak menjanjikan jalan hidup yang seragam. Ia menawarkan pondasi: takwa sebagai kompas, tawakal sebagai sandaran. Dari sana, para santri berjalan ke mana pun rezeki membawa—tanpa kehilangan arah, dan tanpa merepotkan siapa pun.

Di situ letak yang disebutnya sebagai kelebihan santri: akhlak, ilmu, ikhtiar, tawakal, dan berdoa. Sebuah gerak lahir dan batin—zahiran wa bathinan—yang berjalan beriringan. Modal itu, dalam keyakinannya, cukup untuk membuat seorang santri hidup mandiri dan berkecukupan.


Maka jika ada orang tua yang ragu, ia menyarankan sederhana saja: jika memiliki dua anak, pesantrenkan salah satunya. Kelak, waktu yang akan menjawab perbedaannya.


Pada akhirnya, pesantren tidak menjanjikan jalan hidup yang seragam. Ia menawarkan pondasi: takwa sebagai kompas, tawakal sebagai sandaran. Dari sana, para santri berjalan ke mana pun rezeki membawa—tanpa kehilangan arah, dan tanpa merepotkan siapa pun.

Di situ letak yang disebutnya sebagai kelebihan santri: akhlak, ilmu, ikhtiar, tawakal, dan berdoa. Sebuah gerak lahir dan batin—zahiran wa bathinan—yang berjalan beriringan. Modal itu, dalam keyakinannya, cukup untuk membuat seorang santri hidup mandiri dan berkecukupan.


Maka jika ada orang tua yang ragu, ia menyarankan sederhana saja: jika memiliki dua anak, pesantrenkan salah satunya. Kelak, waktu yang akan menjawab perbedaannya.


Pada akhirnya, pesantren tidak menjanjikan jalan hidup yang seragam. Ia menawarkan pondasi: takwa sebagai kompas, tawakal sebagai sandaran. Dari sana, para santri berjalan ke mana pun rezeki membawa—tanpa kehilangan arah, dan tanpa merepotkan siapa pun.

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Yuk, lihat artikel lainnya yaaaa!

Disusun oleh

Tim Editorial

Zumrotul Abidin - Project Lead

Yogie Fadila - Editor

Faiz Nashrillah - Editor

Tim Penulis:

Bramanta Pamungkas

Rizal Adhi Pratama

Riyanto

Muhammad Nasir

Tama Yudha Wiguna

Fariz Fardianto

Herlambang Jati

Tim Riset:

Ardiansyah Fajar

Thoriq Achmad D.A

Putri Nailah

Gabriella Leony Navtalie

Savina Rizky Hamida

Editor Video:

Putri Nailah

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Zumrotul Abidin - Project Lead

Yogie Fadila - Editor

Faiz Nashrillah - Editor

Tim Penulis:

Bramanta Pamungkas

Rizal Adhi Pratama

Riyanto

Muhammad Nasir

Tama Yudha Wiguna

Fariz Fardianto

Herlambang Jati

Tim Riset:

Ardiansyah Fajar

Thoriq Achmad D.A

Putri Nailah

Gabriella Leony Navtalie

Savina Rizky Hamida

Editor Video:

Putri Nailah

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com

Disusun oleh

Tim Editorial

Zumrotul Abidin - Project Lead

Yogie Fadila - Editor

Faiz Nashrillah - Editor

Tim Penulis:

Bramanta Pamungkas

Rizal Adhi Pratama

Riyanto

Muhammad Nasir

Tama Yudha Wiguna

Fariz Fardianto

Herlambang Jati

Tim Riset:

Ardiansyah Fajar

Thoriq Achmad D.A

Putri Nailah

Gabriella Leony Navtalie

Savina Rizky Hamida

Editor Video:

Putri Nailah

Tim Product

Andzarrahim - Sr Product Manager

Rafiio Ardhika - Product Designer

Hanafi Halim - Web Specialist

Kembali ke IDNTimes.com